[EXOFFI FREELANCE] Secret Wife (Chapter 19 END)

Tittle    : SECRET WIFE

Author    : Dwi Lestari

Genre     : Romance, Friendship, Marriage Life

Length     : Chaptered

Rating    : PG 17+

Main Cast :
Park Chan Yeol, Kim Jung Hae (Alissa)

Support Cast :

Kim Jung Ra, Oh Se Hun (Mickle), Byun Baekhyun, Kim Jong In, Kim Jong Dae, Cho Young Rin, and other cast. Cast dapat bertambah atau menghilang seiring berjalannya cerita.

Summary:

Junghae adalah putri terakhir dari pemilik Jeguk Group. Karena dijebak oleh seseorang, terpaksa dia harus menikah secara diam-diam dengan sesorang yang baru dikenalnya.

Disclaimer    : Cerita ini murni buatan saya, jika ada kesamaan nama, tokoh, dan lainnya itu adalah unsur ketidak sengajaan. Juga saya share di wattpad pribadiku: @dwi_lestari22

Author’s note    : Maaf jika alurnya gj. No kopas, no plagiat. Jangan lupa komennya. Gomawoyo. Sorry for Typo. Happy Reading.

Chapter 19 (END)  – 사랑해

BRAK………

Baekhyun seketika menoleh mendengar suara tersebut. Dia berharap itu bukan Junghae. Ya, dia sangat berharap demikian. Entah apa jadinya jika hal itu menimpanya. Dia tidak ingin kejadian 19 tahun yang lalu terulang lagi. Kejadian dimana dia harus kehilangan adik perempuan satu-satunya.

Baekhyun terpaku untuk beberapa detik. Tubuhnya mulai bergetar. Jantungnya berpacu lebih cepat. Sesak juga dapat ia rasakan. Dia harus menyaksikan kembali kejadian 19 tahun lalu. Gadis yang sudah ia anggap sebagai adiknya terbaring tak berdaya di jalan raya. Darah segar merembes keluar dari kepalanya.

Dia berlari sekuat tenaga menemui tubuh lemas adiknya. Dia mengangkat kepala Junghae kepangkuannya. “Junghae, kau baik-baik saja!”, tanyanya. Nada suaranya dipenuhi rasa khawatir. Air matanya kini bahkan mulai terjun bebas melewati pipinya. Dia menangis tentu saja. Dadanya terasa benar-benar sesak.

Tak ada sahutan dari Junghae, namun matanya masih terbuka. Dia masih sadar namun dengan taraf kecil. Tangannya terulur menuju wajah Baekhyun. Dia mencoba menghapus air mata pria itu. “Op~pa”, ucapnya terbata. Tangannya kini menyentuh permukaan pipi pria itu. “Kajima. Jangan katakan apapun pada mereka”, dengan susah payah gadis itu menyelesaikan kalimatnya.

Baekhyun ikut menyentuh tangan Junghae yang berada dipipinya. Air matanya tak kunjung berhenti mengalir. “Iya. Aku tak akan pergi. Aku tak akan mengatakan apapun pada mereka”, jawabnya sambil terisak. “Betahanlah, aku mohon. Maafkan aku”, lanjutnya yang masih terisak.

Junghae ingin mengatakan sesuatu, tapi tak ada kata yang dapat dia ucapkan. Rasa sakit dikepalanya semakin mendominasi. Pandangannya mulai kabur. Semakin lama semakin kabur, hingga semuanya menjadi gelap. Dia menutupkan matanya.

“Junghae, bangun. Aku mohon. Bangunlah! Junghae-ya, Junghae-ya”, Baekhyun menggucang sedikit kepala Junghae. Tak ada reaksi maupun sahutan dari gadis itu. “Junghae-ya”, Baekhyun berteriak keras pada akhirnya.

***

Suasana di ruang keluarga Kim tampak lengang. Setelah Park Chanyeol menceritakan semua kronologinya menikah dengan putri bungsu keluarga tersebut, mereka diam seribu bahasa. Seolah tak percaya dengan apa yang baru mereka dengar. Ini memang hal baru yang tak pernah muncul dalam pemikiran mereka. Selama ini putri bungsunya tampak biasa saja. Bagaimana bisa dia menyimpan rahasia serapat ini? Tak ada satupun dari mereka yang mencurigainya. Bahkan Jungra pun, baru mengetahui beberapa hari ini.

Chanyeol dan ibunya juga ikut terdiam. Dia tak menyangka jika reaksi keluarga istrinya akan seperti ini. Ya, ini jugalah yang diharapkannya. Mereka tak akan marah padanya karena telah menikahi salah satu putrinya tanpa meminta izin. Lihatlah sekarang, mereka semua terdiam. Sepertinya terkejut dengan apa yang baru saja diceritakannya. Sebenarnya ini wajar sih.

“Aku tak tahu harus berkata apa? Ini begitu mengejutkan”, kata tuan Kim memecah keheningan.

“Maafkan aku ahjussi”, hanya itu kata yang bisa Chanyeol katakan. Kepalanya juga ia tundukan untuk rasa penyesalannya. Menyesal karena tak mengatakan sejak awal.

“Mau bagaimana lagi, semuanya sudah terjadi. Tak ada yang pernah tahu takdir Tuhan, bukan. Kami berterima kasih karena kau sudah mau bertanggung jawab atasnya. Ku harap kau akan menjaganya sampai akhir”, nyonya Kim kini ikut bersuara. Nadanya begitu tulus. Ya, dia begitu terkejut mendengarnya. Putri bungsunya kini sudah menjadi istri orang. Ya Tuhan, waktu berjalan begitu cepat. Rasanya baru kemarin dia merasakan sakit saat melahirkannya, dan kini dia harus melepaskannya untuk orang lain setelah sebelumnya dia harus melepasnya untuk adiknya.

“Jadi karena ini. Pantas saja aku sering melihat kau mengantakannya pulang, hyung”, Jongin kini ikut bersuara.

“Astaga, bahkan kalian telah lebih dulu menikah dibandingkan kami”, Jongdae juga ikut bersuara. Kata kami yang dimaksudkannya adalah dia dan istrinya. Istrinya ikut mengangguk menyetujui pendapat Jongdae.

“Dimana dia sekarang?”, giliran nyonya Park yang kini bersuara. Sejak tadi memang dia tak melihat keberadaan Junghae.

“Dia belum pulang”, jawab Jungra.

“Tadi aku sudah menyuruhnya pulang lebih awal. Bagaimana bisa dia belum sampai di rumah?”, kata Jongdae. Ada nada tak percaya diucapannya. Tentu saja, dia memang menyuruh adiknya pulang lebih awal setelah melihat wajahnya yang masih tampak pucat.

PRANG…….

Sebuah figura jatuh begitu saja menimpa lantai. Suaranya begitu nyaring, hingga mampu membuat mereka semua menoleh. Begitu mengenaskan nasib figura itu yang sudah tak berbentuk lagi. Hanya menyisakan potret gadis yang tengah tersenyum. Gadis itu adalah gadis yang sedang mereka bicarakan. Ya, itu adalah foto Junghae.

Song ahjumma segera berlari menghampiri figura tersebut setelah sebelumnya membawa sapu. Dia mencoba membersihkan serpihan kaca dengan hati-hati.

Perasaan nyonya Kim menjadi tak enak. Sepertinya sesuatu yang buruk telah menimpa putrinya. Dia terus berdoa agar pemikirannya tak benar. “Bagaimana bisa foto itu terjatuh?”, nyonya Kim bertanya entah pada siapa. “Perasaanku jadi tak enak. Junghae baik-baik sajakan!”, ucap nyonya Kim kembali.

Jungra yang melihat raut khawatir ibunya mencoba menenangkannya. Dia menyentuh lembut tangan ibunya. “Eomma tenanglah! Junghae pasti baik-baik saja. Mungkin foto itu terjatuh karena memang letaknya yang tak pas. Aku akan menghubunginya untuk memastikan”, ucapnya. Dia segera mengambil ponselnya. Mencari nomor untuk menghubungi adiknya.

Cukup lama dia menunggu. Tak ada yang menjawab, selain suara operator. Jungra mencoba menghubunginya kembali, lagi-lagi suara operator. Sampai yang kelima kalinya juga sama. Jungra hanya bisa menggeleng saat ibunya bertanya. “Ponselnya aktif, tapi dia tak mengangkatnya. Kemana sebenarnya dia?”.

Seketika suasana ruangan tersebut menjadi tegang. Ya, setelah foto Junghae terjatuh tiba-tiba mereka semua memikirkan hal yang macam-macam. Ditambah lagi gadis itu sekarang tak bisa dihubungi.

“Coba kau hubungi Baekhyun hyung. Mungkin dia sedang bersamanya”, Jongin kini bersuara.

Jungra mengikuti saran saudaranya. Dia segera menghubungi sepupunya itu. Cukup lama juga dia menunggu panggilan tersebut diangkat.

Baekhyun ikut berlari saat tubuh lemah Junghae dibawa ke ruang operasi. Genggaman tangannya tak lepas dari tangan Junghae. Gadis itu tak sadarkan diri sejak tadi. Bahkan untuk bernafaspun dia harus dibantu dengan alat.

Sampai di depan ruang operasi Baekhyun tak diperbolehkan masuk. Dia terpaksa menunggu di luar ruangan. Dengan sikap tak tenangnya dia terus melafalkan doa. Dia berharap Junghae akan baik-baik saja. Ini salahnya kenapa dia mengabaikan gadis itu tadi. Andai waktu bisa diulang dia akan memilih tinggal dan tak menuruti egonya. Mau bagaimana lagi semuanya sudah terjadi.

Dia hanya bisa berdoa pada Tuhan sekarang. Dia benar-benar tak bisa tenang. Dia terus berjalan kesana-kemari sambil menunggu. Waktu bahkan seolah berjalan sangat lambat. Dia juga tak memperdulikan penampilannya sekarang. Begitu kacau, rambutnya yang biasanya tertata rapi kini terlihat acak-acakan. Baju yang dikenakannya terlihat kotor dengan noda darah dimana-mana.

Dia kembali mengacak-acak rambutnya. Kemudian dia memilih duduk mencoba menenangkan diri. Dia mendengar ponselnya berbunyi. Dia merogoh saku jasnya, melihat layar sebentar sebelum menggeser layar jawab.

“Ra-ya. Junghae….. Junghae……”, dia menggantungkan kalimatnya. Dia tak sanggup mengatakannya.

“Dia bersamamu?”, tanya Jungra. Dia dapat mendengar nada panik dari suara sepupunya. Pria itu tak kunjung menjawab, hingga membuatnya harus kembali bertanya. “Kenapa dengan Junghae? Dia baik-baik sajakan? Kenapa kau diam Baekhyun?”, suara Jungra sangat keras.

Semua orang yang ada di ruangan tempatnya menelfon menoleh padanya. Mereka juga sedikit khawatir mendengarnya.

“Dia kecelakaaan”, dengan susah payah Baekhyun mengatakannya.

“Apa?”, Jungra berteriak terkejut. Suaranya membuat orang-orang yang bersamanya semakin cemas.

“Bagaimana keadaannya?”, lanjutnya setelah bisa menguasai dirinya.

“Aku belum tahu. Dia masih di ruang operasi”, jawab Baekhyun.

“Baiklah, kami akan kesana. Di rumah sakit mana?”, Jungra kembali bertanya.

Mendengar kata rumah sakit mereka semakin panik. Benar seperti dugaaan, pasti terjadi sesuatu dengan gadis itu.

“Rumah sakit Somin”, jawab Baekhyun kembali.

Jungra segera mematikan sambungan telfon setelahnya. Semua mata kini tertuju padanya minta penjelasan. Dia mengambil nafas panjang sebelum mengatakannya. “Junghae….”, dia tak meneruskan kalimatnya.

“Dia baik-baik saja kan sayang?”, nyonya Kim kini bersuara. Dia terlihat benar-benar khawatir.

“Dia kecelakaan eomma”, jawab Jungra akhirnya. Raut wajahnya tampak menyesal mengatakannya. Sebenarnya dia ingin mendengar kabar bahagia, tapi justru sebaliknya, kabar buruklah yang dia dengar. Dan dia harus menyampaikan kabar buruk tersebut. Itulah kenapa Jungra tampak menyesal menyampaikannya.

Semua orang yang mendengar terkejut, tanpa kecuali. Bahkan ada yang berteriak tak percaya sebagai ungkapan keterkejutannya.

Seperti Jongin, baru tadi pagi dia mengantarkan adiknya, tapi kini dia harus mendengar hal buruk menimpa adiknya. “Apa? Bagaimana bisa? Bagaimana keadaannya?”, ungkapnya.

Chanyeol masih termangu. Dadanya begitu sakit seolah ada yang tegah menusuknya. Sesak juga datang menghampirinya. Bagaimana tidak, sudah beberapa hari dia tak bertemu dengan istrinya, tiba-tiba dia harus mendengar kabar buruk tentangnya.

“Aku juga tak tahu bagaimana ini bisa menimpanya. Baekhyun tak memberitahuku. Dan dia juga belum tahu keadaannya, Junghae masih di ruang operasi”, jelas Jungra kembali.

“Kita harus kesana”, ajak nyonya Kim yang mulai panik.

Eomma, tenanglah! Iya kita akan kesana”, Jungra mencoba menenangkan ibunya. Dia tahu jika ibunya adalah tipe orang yang mudah panik, apalagi menyangkut soal anak-anaknya. Dia akan menjadi orang yang paling bersalah.

Mereka semua pergi setelahnya. Mereka ingin memastikan jika gadis yang mereka sayangi baik-baik saja.

Butuh waktu sekitar 20 menit untuk sampai di rumah sakit yang Baekhyun maksud. Mereka semua berjalan terburu-buru menuju ruang operasi. Hanya ada raut cemas di wajah mereka. Bahkan mereka tak henti melafalkan kalimat doa untuk keadaan Junghae. mereka dapat melihat Baekhyun tengah menundukan kepalanya. Penampilannya benar-benar terlihat kacau.

Suara langkah kaki terdengar mendekat ke arahnya. Baekhyun mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang tengah menghampirinya. Dia dapat melihat paman, bibi seta anak-anaknya, juga sahabatnya bersama ibunya. Dia sedikit terkejut, bagaimana bisa sahabatnya bersama keluarga bibinya. Itu bukan masalah sekarang, dia bisa menayakannya nanti. Yang terpenting adalah semoga keadaan Junghae baik.

“Baekhyun, bagaimana keadaan Junghae?”, bibinya bertanya padanya. nada bicaranya terdengar begitu cemas.

Baekhyun mendekat ke arah bibinya. Dia berlutut di depan bibinya yang masih berdiri. Air matanya semakin deras mengalir. “Imo, maafkan aku. Maafkan aku”, Baekhyun memeluk kaki bibinya sambil terisak. “Ini semua salahku. Seharusnya aku tak mengabaikan Junghae tadi. Hiks… Seharusnya aku menoleh saat dia memanggilku. Hiks… Seharusnya….”, Baekhyun semakin terisak, dia bahkan tak sangggup meneruskan kata-katanya.

Semua orang ikut meneteskan air mata melihat kelakukan Baekhyun. Pria ini terlihat benar-benar merasa bersalah.

Bibinya ikut menangis. Dia segera menunduk untuk melepaskan pelukan keponakannya pada kakinya. Dia mengangkat wajah Baekhyun, begitu menyedihkan. Nyonya Kim menggeleng. “Tidak sayang, ini bukan salahmu”, ucapnya. Dia mencoba menenangkan keponakannya.

Baekhyun masih terisak. “Hiks..hiks..hiks”, dia semakin terisak.

Bibinya segera memeluknya, menepuk-nepuk punggung keponakannya. “Junghae akan baik-baik saja. Tenanglah!”, ucap bibinya kembali.

Istri Jongdae tak tahan melihatnya. Dia menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya. Dia juga menangis melihatnya. Jongdae mencoba menenangkan istrinya dengan mengusap lembut rambutnya.

Jongin menepuk pelan pundak Jungra untuk menenangkannya. Dia juga bisa melihat adiknya tengah menangis.

Nyonya Park mengusap pelan punggung putranya. Tangan satunya ia gunakan untuk menggenggam erat tangan putranya. Dia mencoba memberi kekuatan pada putranya. Dia tahu jika putranya tengah hancur sekarang.

Nyonya Kim menuntun Baekhyun berdiri setelah terlihat tenang. Kemudian menuntunnya untuk duduk di kusi tunggu.

Pintu ruang operasi terbuka. Mereka semua menoleh. Seorang dokter keluar dengan baju khas operasi. Dokter itu berjalan sambil melepas maskernya.

“Bagaimana keadaan putri saya dokter?”, tanya tuan Kim yang paling dekat dengan keberadaan sang dokter.

“Operasinya berjalan lancar. Dia akan segera siuman. Kami akan memindahkannya ke ruang rawat”, jawab sang dokter.

Mereka semua dapat bernafas lega mendengarnya. Doa yang mereka minta dikabulkan.

Baekyun berdiri, dia berjalan lebih mendekat kepada dokter tersebut. “Bagaimana dengan bayinya dokter?”, tanyanya.

Otomatis semua mata tertuju pada Baekhyun. Ini hal mengejutkan kedua yang mereka dengar. Hari ini memang penuh dengan kejutan.

“Bayinya selamat”, jawab dokter itu kembali. Senyum ramah juga tercetak di wajah tampan dokter tersebut. “Saya permisi dulu”, ucapnya sopan. Dia menunduk hormat sebelum melangkah pergi.

Baekhyun baru bisa bernafas lega mendengarnya. Rasa bersalahnya sudah mulai berkurang. Meskipun belum hilang, tapi beban di dadanya seolah berkurang. Sakit yang tadi dirasanya juga perlahan memudar. Kini tatapan penuh tanya ditujukan padanya.

“Junghae hamil?”, tanya Chanyeol. “Kenapa dia tak memberitahuku?”, tanyanya kembali.

“Dia juga baru tahu tadi. Aku tak sengaja bertemu dengannya di depan rumah sakit. Kau tak bertengkar dengannya kan?”, ucap Baekhyun. Pandangannya kini tertuju pada sahabatnya.

“Tidak. Kami tidak bertengkar”, jawab Chanyeol yang disertai gelengan.

Baekhyun membuang kasar nafasnya. “Lalu kenapa dia memilih tak memberitahumu?”, Baekhyun sedikit berteriak. Dia sedikit kesal karena sebelumnya adiknya menangis.

Chanyeol terdiam dia tak memiliki kalimat yang tepat untuk ia ucapkan. Dia sendiri sebenarnya juga tak tahu.

“Kau tahu apa yang dikatanya saat aku bertanya alasannya tak memberitahumu. Dia justru menangis. Dan dia hanya berkata jika seharusnya dia bisa mengerti, tapi justru rasa sakit yang dirasakannya”, Baekhyun berusaha sekuat tenaga menahan emosinya.

Chanyeol membulatkan matanya. Dia mencoba mencari alasan maksud dari perkataan Baekhyun. Dia teringat kejadian tadi siang. Sepertinya istrinya memang melihatnya. Hanya itu alasan yang masuk akal untuk perkataan Baekhyun. Owh, dia benar-benar merasa menyesal karena terbawa perasaan tadi siang.

Chanyeol terduduk kemudian. Dia mengusap kasar rambutnya. “Kurasa dia melihatnya?”, ucapnya.

“Maksudmu?”, Baekhyun menaikan alisnya tak paham.

Mereka semua hanya terdiam mendengarkan dua sahabat itu bertengkar. Ah, bukan bertengkar, lebih tepatnya berbagi cerita. Atau apalah, terserah kalian menyebutnya apa.

“Tadi siang Youngrin menemuiku”, hanya itu yang dapat Chanyeol katakan. Dia ingin menjelaskan, tapi terlalu banyak orang di tempat tersebut. Dia tak ingin menambah luka mereka.

Baekhyun mengepalkan kuat tangannya. Ingin sekali dia memukul sahabatnya itu. Tapi dia tak memiliki alasan kuat untuk melakukannya. Dia hanya bisa menahan amarahnya. Mengambil nafas dalam untuk meredakannya. “Pantas saja. Ku rasa dia salah paham”, katanya akhirnya.

***

Chanyeol memejamkan mata sambil terus melafalkan kalimat doa. Dia juga menggenggam erat tangan istrinya. Ini sudah seminggu sejak istrinya kecelakaan. Dokter bilang jika operasinya berhasil dan dia akan segera siuman. Tapi nyatanya, sampai hari ini istrinya masih terbaring lemah. Belum ada tanda dia akan segera siuman.

Tidak ada kata yang tepat untuk menggambarkan keadaannya sekarang. Hati dan fikirannnya lebih dari sekedar kacau. Satu kata yang pasti dia rasakan adalah menyesal. Ya, dia belum berbuat banyak untuk gadis yang kini tengah mengandung anaknya. Sejak awal dia memang belum memberikan hatinya untuk gadis itu. Apa yang dia lakukan selama ini adalah bentuk dari rasa tanggung jawabnya.

Dia memang merasa nyaman bersama gadis itu. Tapi hanya rasa nyaman, ya hanya itu. Dia belum menganggap rasa itu sebagai rasa suka. Benarkah demikian? Entahlah! Sebenarnya dia juga tak paham dengan perasaan yang dimilikinya untuk gadis itu. Dia hanya menikmati setiap momen yang dia dapatkan bersama gadis itu. Sepertinya itu terdengar egois. Ya memang benar, selama ini dia bahkan tak memikirkan perasaan gadis itu.

Tepukan di pundaknya menyadarkan lamunannya. Dia menoleh untuk melihat siapa yang melakukannya. Dia kembali menatap istrinya setelah tahu siapa yang telah datang.

“Kau sudah makan?”, tanya orang itu.

Chanyeol hanya menggeleng sebagai jawaban. Dia melepaskan genggaman tangannya.

“Makanlah! Kau juga perlu makan untuk bertahan. Biar aku yang menjaga Junghae”, kata orang itu lagi.

Chanyeol masih terdiam. Sejak gadis itu terbaring lemah di rumah sakit selera makannya juga menghilang.

“Kau baik-baik sajakan?”, orang itu kembali bertanya karena Chanyeol tak kunjung menjawab.

Chanyeol membuang nafas beratnya. “Aku benar-benar seperti pria brengsek. Aku tak bisa berbuat apa-apa untuknya. Aku bahkan tak memikirkan bagaimana perasaannya selama ini. Yang aku fikirkan hanya diriku sendiri. Dia pasti menderita selama ini”, nada bicaranya terdengar pasrah. Dia mengusap kasar wajahnya.

“Kau salah jika menganggapnya menderita selama ini. Meski tak mengatakannya, tapi aku tahu jika ada cinta dimatanya. Kau menyembuhkan luka lama yang dipendamnya. Jika tidak, maka dia tak akan bertahan selama ini. Dia paham apa yang baru kau rasakan kala itu. Meskipun cara perpisahan kalian berbeda, tapi dia paham betul bagaimana rasanya ditinggal orang yang kalian cintai. Jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri! Percayalah, dia akan bertahan untukmu”, ucap orang itu kembali. Dia tahu jika sahabatnya sedang terluka, karena itu dia mencoba menguatkannya. Meskipun sebenarnya dialah yang paling terluka. Dia yang sudah membuat gadis itu seperti sekarang dengan mengabaikannya kala itu.

“Apa aku pantas mendapatkannya? Aku bahkan tak tahu makanan kesukaannya”, Chanyeol tersenyum mengejek. Ya, apa yang dikatakannya memang benar. Hingga kini dia belum tahu makanan kesukaan gadis itu.

“Astaga Chanyeol. Cinta bukan hanya tahu soal makanan disukainya. Cinta itu apa yang dirasakan hati. Jika memang sekarang kau belum merasakan apapun padanya, maka kau harus belajar mulai sekarang. Kau percaya takdirkan! Aku yakin dia adalah takdir yang Tuhan berikan untukmu. Coba saja kau ingat bagaimana kalian bertemu. Itu bukan suatu kebetulan, itu memang takdir Tuhan yang digariskan untukmu”.

“Terima kasih Baekhyun. Semoga apa yang kau katakan benar”.

***

Six Month Later

Terlihat seorang dokter bersama seorang suster tengaan berlari menuju ruang inap salah satu pasiennya setelah mendapat panggilan jika pasien tersebut mengalami kritis. Ya, dari ruang tersebut terdengar bunyi berisik dari alat pendeteksi detak jantung. Dengan cekatan dokter dan suster tersebut menangani pasiennya, mencoba meredakan bunyi berisik dari salah satu alatnya. Bagi mereka hal ini sudah biasa. Tapi bagi keluarga pasien, ini merupakan musibah.

Sudah sekitar enam bulan gadis itu masih terbaring lemah di rumah sakit. Menurut dokter, ini adalah kasus langka yang pernah mereka tangani. Seharusnya gadis itu sudah sadar jauh-jauh hari setelah operasi, tapi justru kebalikannya. Semakin hari kondisinya semakin menurun. Meski begitu, perut yang tadinya rata kini sudah nampak membuncit. Bayi yang dikandungnya dalam keadaan baik. Sangat baik, setidaknya menurut dokter kandungan.

“Bagaimana keadaannya dokter?”, tanya seorang pria.

Dokter itu terlihat membuang pasrah nafasnya. Untuk kesekian kalianya dia harus mengatakan kabar buruk. Ini memang bukan hal pertama yang dilakukannya, tapi dia tahu jika ini adalah berita paling buruk yang harus disampaikannya. Keluarga pasien sudah menunggu selama enam bulan untuknya, tapi tak ada kabar baik yang bisa dia sampaikan.

“Untuk saat ini, kondisinya sudah stabil”, jawab sang dokter.

Terlihat raut lega dari pria itu.

“Tapi….”, dokter itu terlihat ragu saat akan melanjutkan kalimatnya.

Pria itu kembali menegang, dia berharap semoga apa yang akan dokter katakan bukanlah hal buruk, meski dia tahu itu hanyalah kemungkinan kecil. “Tapi apa dokter?”, pria itu terlihat tak sabar mendengarnya.

“Anda tahukan jika semakin hari kondisi pasien semakin memburuk!”, ucap dokter itu kembali. Itu lebih tepat disebut pertanyaan.

“Iya, aku tahu dokter”, jawab pria itu kembali.

“Kita harus melakukan operasi caesar untuk bayinya dalam minggu ini. Jika tidak, aku tak yakin bayinya akan bertahan lebih lama. Bayinya sudah berumur lebih dari 24 minggu, dia akan bisa bertahan di luar kandungan”, dengan berat hati dokter itu mencoba menjelaskan.

“Bagaimana dengan ibunya?”.

“Anda harus merelakannya! Dia sudah tak memiliki harapan lagi”.

Pria itu menundukkan kepalanya. Mengusap kasar wajahnya, untuk mengurangi rasa frustasinya. Dia terlihat semakin bersalah mendengarnya.

Dokter itu menepuk-nepuk pundak pria tersebut, mencoba menguatkannya. “Maafkan kami, kami sudah berusaha semaksimal yang kami bisa. Berdoa saja, semoga ada keajaiban yang Tuhan berikan pada kalian. Saya permisi dulu”, ucap dokter itu kembali.

“Terima kasih dokter”, ucap pria itu lagi.

“Pikirkanlah baik-baik. Anda harus segera membuat keputusan”, setelah mengatakan itu, dokter itu pergi yang diikuti oleh suster yang tadi datang bersamanya.

Pria itu kembali terduduk lemas di kursi tunggu. Dia menunduk kepalanya. Menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Fikirannya semakin kacau mendengar pernyataan dokter tadi. Dia harus membuat keputusan yang sulit. Ya, ini memang sulit, bahkan teramat sulit. Merelakan kepergiannya demi menyelamatkan anaknya. Tapi jika dia tetap kukuh mempertahankan gadis itu, maka dia akan kehilangan keduanya. Apa yang harus dilakukannya? Dia benar-benar merasa bingung.

“Kau baik-baik saja nak?”, kata nyonya Kim. Dia juga menepuk pelan punggung menantunya. Dia tahu jika pria itu tengah kacau. Dia juga mendengar pernyataan dokter tadi. Jadi dia bisa tahu bagaimana sakitnya pria itu sekarang. Meskipun dia tak tahu bagaimana hubungan mereka saat putrinya masih sehat dulu, tapi dia yakin jika pria itu sungguh-sungguh dengan pernikahannya. Dia dapat melihat itu dari perilaku pria itu selama enam bulan terakhir ini. Bagaimana sabarnya dia menjaga serta merawat putrinya.

Pria itu mengangkat wajahnya. Dia mencoba melihat siapa yang tengah berbicara dengannya. Hanya anggukan yang akhirnya dapat dilakukannya sebagai jawaban.

“Aku tahu ini menyakitkan. Tapi bukankah lebih menyakitkan melihatnya hanya terbaring lemas disana?”, nyonya Kim kembali bersuara. Dia mencoba memberi pengertian pada menantunya. Meski dia tahu ini sangat sulit, tapi akan lebih sulit jika nanti dia harus kehilangan keduanya. Bukan hanya istrinya, tapi juga anaknya.

“Apa yang harus aku lakukan ommonim? Ini sangat sulit, sungguh!”, setelah lama terdiam pria itu akhirnya bersuara.

“Jika kau meminta pendapatku, maka aku akan menyuruhmu merelakannya. Dia sudah bertahan selama ini. Mungkin ini memang yang Tuhan gariskan untuk kalian”, ucap nyonya Kim kembali. Dia kembali menepuk pelan punggung menantunya. “Pulanglah! Aku tahu sejak kemarin kau belum tidur. Jernihkan fikiranmu terlebih dulu. Kembalilah setelah kau membuat keputusan. Biar aku yang menjaga Junghae”, lanjutnya.

Pria itu masih terdiam. Dia masih bergulat dengan fikirannya. Mungkin memang benar yang dikatakan mertuanya, dia harus menjernihkan fikirannya terlebih dulu. Bukankah selalu ada jalah di setiap masalah. Mungkin untuk sekarang sulit, semoga setelah fikirannya benar-benar jernih dia mendapat solusi terbaik. Ya, solusi yang tak menyakitinya maupun keluarganya. “Iya, sepertinya aku memang harus melakukannya. Terima kasih ommonim. Aku titip Junghae”, pasrahnya akhirnya.

“Hati-hati nak”.

Pria itu membungkuk hormat sebelum meninggalkan mertuanya.

***

“Aku berangkat dulu ommonim”, pamit Sehun pada bibinya. Dia menenteng kotak makanan dan juga tas.

“Jangan lupa pesanku tadi”, kata sang bibi.

“Iya, akan aku sampaikan pada hyung nanti”, jawan Sehun kembali. Dia berjalan menuju halaman yang diikuti oleh bibinya. Belum sampai di pintu utama, pintu itu sudah terlebih dulu terbuka. Dari sana muncul sosok yang dibicarakan mereka tadi.

Hyung, kau sudah pulang. Aku baru mau mengantarkan makanan dan baju gantimu”, kata Sehun sambil mengangkat barang yang dibawanya. Dia dapat melihat raut lelah di wajah kakaknya. “Siapa yang menjaga Junghae?”, tanya Sehun.

“Ommonim”, jawab Chanyeol singkat. Dia berjalan melewati mereka begitu saja. Dia benar-benar dalam keadaan tak baik sekarang.

“Kim ahjumma?”, ucap Sehun kembali.

“Iya”, jawab Chanyeol sedikit berteriak. Dia sudah berjalan melewati tangga menuju kamarnya.

“Kenapa dengan hyung?”, tanya Sehun kembali. Kini pertanyaannya ia tunjukan pada bibinya. Mereka berjalan kembali ke ruang makan untuk menaruh kembali barang bawaan Sehun tadi. Orang yang akan mereka kirim barang-barang itu sudah pulang, jadi otomatis Sehun juga batal berangkat.

“Seharusnya kau sudah tahu’, jawab bibinya. Tapi sepertinya memang putranya sedang menyimpan sesuatu. Tak biasanya wajahnya sesuntuk itu.

“Iya, aku tahu. Tapi kali ini lain ommonim. Raut wajahnya tak seperti biasanya”, ucap Sehun kembali.

“Aku akan menemuinya dan bertanya padanya. Kau taruh itu kembali”, bibinya menunjuk ke arah barang yang dipegang Sehun. Dia beralih menuju kamar putranya.

Hal pertama yang dia lihat saat membuaka pintu kamar putranya adalah kosong. Tak ada siapapun di kamar tersebut. Nyonya Park berjalan masuk, mencari keberadaan putranya. Di kamar mandi juga tak ada. Dia melihat pintu balkon kamar putranya terbuka, pasti putranya disana. Karena hanya itu satu-satunya tempat yang belum dilihatnya.

Benar saja, putranya tengah duduk. Pandangannya lurus ke depan. Entah apa yang dilihatnya, sampai tak sadar jika ibunya kini sudah duduk di sampingnya. Dia dapat melihat cairan bening mengalir di pipi putranya. Putranya sedang menangis, ya Tuhan. Rasanya sesak melihatnya seperti itu.

“Kau baik-baik saja sayang”, ucap nyonya Park. Dia menggenggam tangan putranya mencoba menguatkan.

Putranya kini menoleh.

Pelukan erat langsung ia dapatkan dari putranya.

Eomma, kenapa harus Junghae yang menerima semua ini. Dia adalah gadis yang baik. Seharusnya aku saja yang mengalami itu semua”, ucap putranya dipenuhi dengan isakan.

Nyonya Park mengusap pelan rambut putranya. Setetes air mata juga ikut meluncur dari pipinya. Rasanya benar-benar sakit melihat putranya seperti itu. Dia ingin sekali melihat putranya bahagia. Ya, itu adalah harapan semua ibu. Tapi kenapa putranya tak juga mendapatkannya. Apa ini hukuman dari Tuhan untuknya? Jika memang demikian seharusnya dia yang menerimanya, bukan putrannya. Putranya terlalu baik untuk menerima ini semua.

“Dia baik-baik sajakan?”, hanya itu yang bisa di ucapkannya.

Gelengan kecil dilakukan putranya sebagai jawaban.

“Apa yang terjadi dengannya? Katakan sayang!”, ucap nyonya Park kembali.

Putranya masih terdiam.

Nyonya Park tahu jika ini berat untuk dikatakan. Karena itu, dengan sabar dia menanti jawaban putranya.

Putranya melepaskan pelukannya. Dia menatap tajam mata ibunya.

Nyonya Park dapat melihat sorot luka di mata putranya.

“Sudah tidak ada harapan untuknya. Jika dalam minggu ini tidak dilakukan operasi caesar untuk bayinya, maka aku akan kehilangan keduanya. Bahkan jika operasi ini dilakukan, aku juga akan tetap kehilangan Junghae. Apa yang harus aku lakukan eomma? Aku benar-benar tak ingin kehilangannya. Aku belum berbuat banyak untuknya”, jawab putranya.

“Bersihkan dirimu, setelah itu makan dan istirahatlah. Aku tahu ini berat, tapi kau juga harus memperhatikan kesehatanmu. Setelah itu, kau bisa mengambil keputusan apapun. Eomma akan mendukung semua keputusanmu”, ucap nyonya Park. Dia tak ingin memberikan jawaban untuk putranya. Untuk sekarang keadaannya tak memungkinkan, hanya akan ada keputusan yang salah jika pembicaraan itu dilanjutkan.

Tanpa sadar ada sepasang mata yang sejak tadi mengawasi mereka. Ya, setelah menaruh barang yang dibawanya, Sehun memutuskan untuk melihat keadaan kakaknya. Dan yah, dia mendengar semuanya.

***

Chanyeol membuka mata saat dia merasakan ada yang mengusap lembut kepalanya. Samar-samar dia melihat siapa yang gerangan melakukannya. Pandangannya seketika menjadi jelas saat tahu siapa yang melakukannya. Ya, seorang wanita dengan pakaian putihnya sedang duduk di tepian ranjang miliknya. Wanita yang selama ini dirindukannya, kini duduk di sampingnya. Apa ini mimpi? Jika ini mimpi, maka dia tak ingin bangun dulu.

Dia ikut terduduk berhadapan dengan wanita tersebut. Wanita itu tersenyum. Manis, sangat manis, tepat seperti yang diingatnya. Senyum khas yang hanya wanita itu miliki. Kedua tangannya terulur manangkup kedua pipi wanita tersebut.

“Junghae, kau benar-benar Junghae kan?”, suara itu tiba-tiba muncul dari mulutnya. Ya, dia begitu terkejut melihatnya. Dia bertanya untuk memastikan jika dia tak sedang berkhayal.

Wanita itu mengangguk. Kedua tangannya juga terulur menyentuh tangan Chanyeol.

Dia melepas tangkupan tangannya. Dan beralih ke pinggang wanita tersebut, lalu menariknya. Dia memeluk wanita tersebut. Betapa dia sangat merindukan wanita ini. “Aku merindukanmu Junghae, sangat”, ucapnya lagi.

“Aku tahu”, ucap wanita itu.

Bahkan suaranya terdengar sangat indah di telinga Chanyeol. Mereka terdiam untuk beberapa saat. Menikmati setiap momen yang mereka dapat hari ini. Tangan wanita itu juga terulur membalas pelukan Chanyeol. Kenapa semua terasa indah?

“Jangan pernah pergi lagi. Jangan tinggalkan aku lagi, Junghae”, ucap Chanyeol kembali setelah dia melepaskan pelukannya.

“Aku tak akan kemanapun. Dan aku tak akan pergi kemanapun. Memangnya kemana aku harus pergi. Bukankah rumahku ada disini!”, jawab wanita itu. Senyum manis juga tercetak di wajah cantiknya.

“Iya kau benar”.

Mereka hanya saling diam sambil terus menatap. Tak ada yang tahu arti dari tatapan mereka. Tapi yang pasti itu adalah tatapan cinta. Mereka benar-benar terlihat canggung satu sama lain. Ya, seperti pasangan yang sudah lama tak bertemu. Tapi memang benar, mereka sudah lama tak bertemu. Meski pria itu dapat melihat raga wanita itu setiap hari, tapi untuk berbicara maupun melihat senyum wanita itu, sudah sangat lama.

Chanyeol menyelipkan rambut wanita itu ke belakang telinga, saat pandangannya terhalangi. Dia masih betah berlama-lama menatap wanita tersebut. Ya, dia sudah berjanji pada dirinya sendiri, saat wanita ini terbangun dia akan melakukan apapun untuk tetap melihat senyum khas miliknya.

“Berhentilah menatapku seperti itu oppa. Kau membuatku malu”, ucap wanita itu kembali. Kini dia menundukan wajahnya. Ada semu merah muda di pipinya, sepertinya dia memang merasa malu.

Chanyeol mengulurkan tangannya, menyentuh dagu wanitanya. Mengangkat wajahnya, hingga pandangan mata mereka bertemu. Wanita itu membuang pandangannya. Chanyeol tersenyum senang. Ya, dia berhasil membuat wanita itu malu.

Kini wajahnya mendekat, semakin dekat. Menghapus jarak diantara mereka. Hingga akhirnya dia mendaratkat bibirnya pada bibir wanitanya. Melumatnya dengan lembut, sangat lembut. Tangannya kini beralih ke tengkuk wanita itu untuk semakin membuatnya mendekat.

Chanyeol melepaskan pagutannya saat merasa udara disekitarnya semakin menipis. Dia sedikit terengah. Ciumannya cukup lama memang. Mereka saling tersenyum akhirnya.

“Aku mencintaimu oppa, sangat. Saranghae”, wanita itu kembali bersuara. Dia juga menggenggam erat tangan Chanyeol.

‘Saranghae’, bahkan Chanyeol tak pernah mengatakan kata itu pada wanita tersebut. Ya, dia ingat sekarang. Dia tak pernah mengucapkan kata suci itu. Itu adalah satu dari sekian banyak penyesalan yang dirasakannya.

“Aku bahkan tak pernah mengatakan itu padamu”, jawabnya.

Wanita itu tersenyum. Dia semakin mengeratkan genggaman tangannya. “Aku tahu. Karena itu, kau harus mengatakannya mulai sekarang. Katakanlah apa yang ingin kau katakan”, ucap wanita itu kembali. Dia mengulurkan tangan satunya untuk menyentuh pipi Chanyeol.

.

.

Chanyeol terbangun begitu saja. Setitik air mata mengalir melewati pipinya. Jadi semua yang dialaminya tadi hanyalah mimpi. Tapi kenapa rasanya begitu nyata. Dia memejamkan kembali matanya, mencoba mendapat kesadaran penuh. Dia memilih duduk kemudian, menyandarkan kepalanya pada dasbor ranjangnya.

Dia harus segera membuat keputusan. Atau dia akan menyesalinya nanti. Mungkin memang berat, tapi dia tak punya banyak pilihan. Semoga apa yang dipilihnya nanti akan berdampak baik baginya, keluarganya dan juga keluarga istrinya. Ya, dia hanya bisa berharap. Tak akan pernah ada yang tahukan rahasia Tuhan.

***

“Chanyeol belum kemari?”, tanya nyonya Kim pada nyonya Park.

Nyonya Park menggeleng. Dia yang baru datang bersama keponakannya ikut duduk di samping nyonya Kim. “Kurasa dia masih butuh sedikit waktu untuk berfikir. Kau pasti mengertikan perasaannya kan!”, jawab nyonya Park.

Nyonya Kim mengangguk. Dia menyentuh tangan putrinya. “Aku selalu berharap untuk kebahagiannya. Tapi kenapa Tuhan harus memanggilnya dengan cara seperti ini?”, setetes air mata jatuh begitu saja melewati pipinya.

Nyonya Park menepuk pelan punggung sahabatnya. Mencoba menguatkan sahabatnya. Pasti sangat sulit untuk sahabatnya itu. Dia yang hanya ibu mertuanya pun merasa sakit melihat menantunya seperti itu, apalagi sahabatnya itu. Jika dia dalam posisi itu, mungkin dia tak akan sanggup menanggungnya.

Sehun yang melihatnya juga merasa sedikit sesak. Bagaimana tidak, wanita yang pernah menjadi kekasih pura-puranya harus terbaring lemah disana. Dia yang sudah pernah menyukainya merasa sakit, apalagi kakaknya yang notabenya adalah suaminya. Sebenarnya dia sedikit terkejut mendengar jika ternyata wanita itu sudah menikah dengan kakaknya. Tapi akhirnya dia bisa mengerti kenapa saat dia kembali ke Korea wanita itu menjadi sedikit berbeda. Pasti karena ikatan yang bahkan baru diketahui keluarganya sesaat sebelum kecelakaan maut yang menimpanya.

Sehun memilih meninggalkan ruang itu. Dia tak sanggup melihat lebih lama keadaan wanita itu. Dia memilih duduk di kursi tunggu depan ruang wanita itu terbaring.

Dari arah lain datanglah Baekhyun. Dia adalah orang kedua yang rajin datang setelah Chanyeol. Ya, dia masih merasa bersalah atas apa yang menimpa wanita itu. Meskipun semua orang berkata itu bukan salahnya, tapi tetap saja dia tak merasa demikian. Jika saat itu dia mau menoleh ketika wanita itu memanggilnya, kecelakaan itu pasti tak akan terjadi.

Baekhyun melihat Sehun tengah duduk merunduk di depan ruang rawat adiknya. Dia menghampirinya, dan ikut duduk di sampingnya. “Kau sudah lama?”, tanyanya berbasa-basi.

Sehun menoleh, dia baru tersadar jika sudah ada seseorang yang duduk di sampingnya. Jika orang itu tak menyapanya, mungkin dia tak akan sadar jika ada orang di sampingnya. “Belum. Aku hanya tak tahan melihat Kim ahjumma menangis”, jawabnya.

“Apa dia sendirian di dalam?”, tanya Baekhyun kembali.

“Dia bersama ommonim”.

Untuk beberapa saat mereka saling terdiam. Tenggelam dalam pemikiran masing-masing. Sebenarnya Baekhyun ingin melihat adiknya, hanya saja waktunya tak tepat. Dia membiarkan dua bersahabat itu untuk saling menguatkan, mungkin. Dia tahu jika mereka membutuhkan waktu untuk bersama lebih lama.

“Kau sudah dengar tentang Junghae, Baekhyun hyung?”, kata Sehun memecah keheningan.

Baekhyun mengangguk. Dia sudah diberitahu bibinya, karena itulah dia ada disitu sekarang. “Aku tak pernah menyangka akan jadi seburuk ini”, ucapnya kemudian.

“Aku bahkan merasa sakit melihatnya. Bagaimana dengan Chanyeol hyung, apa dia bik-baik saja. Pasti sulit untuknya. Tak ada pilihan yang menguntungkan untuknya”, ucap Sehun panjang lebar.

“Iya, ini memang sulit. Dia juga tak punya banyak pilihan. Tapi aku yakin dia akan memilih pilihan yang tepat nantinya”.

“Ya, semoga saja”.

.

.

.

“Bagaimana keadaannya dokter?”, tanya nyonya Kim.

Ini adalah jam  kunjungan dokter yang merawat putrinya. Dokter itu juga bersama dokter kandungan dan seorang perawat.

Nyonya Kim tak sendirian, dia bersama sahabatnya yang tak lain adalah besannya. Sehun dan Baekhyun juga ikut masuk ke ruang itu. Ditambah Jungra yang baru datang ssaat sebelum dokter itu datang.

Kedua dokter itu saling menatap. Salah satu dari mereka menggelengkan kepala. “Jika sampai besok kita tidak mengambil bayinya, aku tak yakin bayinya bisa bertahan. Denyut jantungnya semakin melemah. Kalian harus segera membuat keputusan”, kata salah satu dokter tersebut. Sepertinya itu dokter kandungan, karena dokter itu berbeda dengan dokter yang memeriksa Junghae saat dia kritis beberapa waktu lalu.

“Bukankah tadi pagi dokter bilang dalam minggu ini. Tapi kenapa harus besok?”, ucap nyonya Kim.

“Keadaan pasien semakin memburuk nyonya. Dimana suaminya? Kita harus cepat mengambil keputusan”, jawab dokter satunya.

“Lakukan apapun yang terbaik untuknya dokter. Saya suaminya”, dari arah pintu terdengar suara Chanyeol. Ya, dia sudah datang sejak dua menit lalu, namun tak ada yang menyadarinya karena mereka sibuk memperhatikan pernyataan dokter. Dia berjalan mendekat ke ranjang Junghae, berdiri di samping ibunya.

Semua mata kini tertuju padanya. Seperti yang di harapkan. Pria itu membuat keputusan yang tepat. Ada rasa lega dan iba secara bersamaan. Lega karena pria yang notabenya menjadi suami dari wanita yang kini berbaring, mengambil keputusan yang tepat. Iba karena harus melihatnya kehilangan wanita yang mereka sayangi.

“Baiklah, kami akan segera menjadwalkan operasinya. Bagaimana dokter Song?”, kata dokter laki-laki itu.

“Karena aku sendiri yang akan mengoperasinya, maka aku akan melakukannya besok. Pagi sekitar pukul delapan”, kini dokter Song yang berbicara.

“Kami permisi dulu”, dokter laki-laki itu berpamitan. Mereka menunduk hormat sebelum meninggalkan ruangan.

“Aku tahu kau akan membuat keputusan yang tepat, nak”, ucap nyonya Kim setelah kepergian dokter-dokter tersebut. “Terima kasih”, lanjutnya. Dia mencoba tersenyum, namun justru itu terlihat aneh.

Nyonya Kim berjalan keluar ruang inap putrinya setelah memberi kode pada mereka semua untuk ikut keluar bersamanya. Dia memberikan waktu sendiri untuk menantunya. Dia rasa itu diperlukan, sebelum dia benar-benar kelhilangan putrinya.

Chanyeol menggenggam tangan istrinya. “Junghae, semoga apa yang aku pilih benar. Terima kasih untuk semuanya. Maafkan aku karena belum memberimu banyak kebahagiaan. Terima kasih sudah menghadirkan malaikat kecil untuk kami”, dia kini mengusap pelan perut istrinya. Setetes air mata jatuh melewati pipinya.

“Aku mencintaimu Junghae. Saranghae”, dia mencium lembut kening istrinya. Pada akhirnya, dia mengatakan perasannya. Ya, seperti yang Junghae katakan dalam mimpinya, dia memang harus mengatakan apa yang ingin dikatakannya.

to be continue……..

Ada yang merasa aneh?

Tentunya, katanya sudah END, tapi kenapa masih TBC, hahaha…

.

.

.

Saya kembali lagi dengan chapter 19. Gimana menurut kalian? Semoga tak buruk ya.

Kenapa masih TBC? Karena akan ada part 2 nya. Karena terlalu panjang jadi aku penggal disini.

Ada yang mau nebak endingnya?

Jangan deh, kalian tunggu saja ya.

.

Tetap tinggalkan jejak kalian.

Terima kasih.

Salam hangat dariku. Love you all   ❤  ❤  ❤

.

.

.

Satu lagi deh, selamat puasa bagi yang menjalankan.

Iklan

90 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Secret Wife (Chapter 19 END)

  1. Aq kira chapter ini bakal end gk taunya masih tbc, semoga aja junghae n baby nya selamat, di tunggu next chapter nya ….

    • terima kasih pujiannya,
      aku juga nangis pas nulis,
      gk nyaka saja kalian juga bakalan terbawa….
      ditunggu saja ya … 🙂

  2. Hai aku readers barumu. Slam kenal ya. Oh ya ceritanya bagus, jd penasaran sm lanjutannya. Aku kira ini part terakhir jd aku sempet ngira” gimana endingnya, eh ternyata masih ketemu tbc lg hehe. Buat junghae ayo dong bangun, biarpun katanya uda gak ada harapan. Jangan biarin bang CY jd duda dadakan kan sayang :D. Hehe abaikan yg barusan. Ok sampe ketemu di chap selanjutnya yuaa.

  3. sepertinya junghae bakal sadar setelah chanyeol blg saranghae… semangat author!!! aku sangat menanti next chapternya><

  4. Annyeong chingu 😁
    Sebelmnya maaf ne bru ninggalin komentar skrng, soalny aku baca ngebut dri chapt 1 sampe chapt ini 😂
    Fanfiction ini keren, bagus, alur ceritanya jga menarik 😆👍 oh ya, ngomong-ngomong kpn lanjutannya keluar?! Udh pnasaran bnget ni ama kisah JungChan selanjutny 😭 please jgn buat Junghae meninggal ya 😭
    Tetap semangat ya nulisnya, chapter selanjutnya slalu ditunggu, tpi jgn lama-lama ya 😂 hehehe..
    FIGHTING AUTHOR!!!!!!!!!!!

    • ff ini ada prolognya lho,
      iya, gak papa kok, terima kasih karena sudah nyempetin baca….
      terima kasih juga sudah bilang ni ff keren, aku gak pernah nyangka lho, hahaha…..
      ditunggu saja ya kelanjutannya,
      tapi aku gak janji bakalan cepat…..
      fighthing!!! 🙂

  5. Huhuhu sedihhh… aku tau chapter ini berakhir dengan sedihh tapi aku harap untuk kedepannya di part 2 akan menjadi akhir yang bahagia.. semngat teruss yaa !!😘😘

  6. Chapter ini nyesek banget,sempet kaget katanya udah end tapi kok tbc,ternyata ada chap 2 nya,ditunggu segera chap 2 nya

    • maksudnya itu untuk chapter 19,
      aku gak yakin akan buat season 2 untuk ff ini..

      terima kasih ya… 🙂

  7. Hufh… kirain beneran End.
    udah siap2 ketemu End. deg-degan. eh, mlah masih ketemu tbc.
    semoga aja junghae+bayinya selamat.
    fighting eonni… ku tunggu ya. pengen happy ending. semangat menulis author nim.

    • belum masih satu part lagi mungkin!
      semoga sesuai harapan ya…..

      terima kasih banyak… 🙂
      fighthing!

    • hikzs, hiksz…
      aku juga nangis lho pas nulis….
      ditunggu saja ya,
      semoga sesuai harapan.. hohoho…

      terima kasih…. 🙂

  8. Ya ampunnn kirain beneran end ku udah deg deg kan baca ini
    Lama banget updatenya thor
    Kok jadi angst gini bacanya semoga happy ending ya suka sama couple ini madak belom bahagia udah sad ending
    Pokok nya harus happy ending ya
    Semangat yjor ditunggu kelanjutannya

  9. Hah kirain udah end beneran thor, udah sempat kecewa tadi tapi pas baca tbc and author bilang ada part 2 nya jadi seneng hehe
    Dan aku yakin ini bakalan happy ending, ya kan thor?
    ditunggu next chapnya ya thor, fighting

    • iya, aku juga makasih sudah nyempetin baca…
      aku juga masih baru di dunia tulis menulis…..

      maaf ya, aku gak punya IG, dah keblokir karena tak pernah ku buka…
      🙂

  10. hhhuuuuaaaaaaaaaaaaaaa kenapa jadi lama sampe 6 bln, pdahal oprasinya berhasil.. itu dokter becus ngoprasinya gk sih.. herannnn deh..
    anak orang sampe blm sadar gtu,, ini lagi malah harus pilih salah satu, salah dua gk boleh?
    gk rela kalo sad ending.. berasa gk adil buat junghae..
    please happy ending… pas mau operasi tiba” mak bedunduk junghae sadar gtu yaaa… walaupun gk mungkin tapi di dunia per ff an itu jadi mungkin kan…

    wkwkwkw ngmong apa aku ini…
    cepat selesaikan ini, aku sudah gk sabar…
    semangat buat authornya.. and thank you!!!

    • namanya dunia kesehatan, pasti ada hal-hal tak terduga terjadi…

      aku tak tahu harus ngomong apa?

      ditunggu saja ya,
      terima kasih….. 🙂

  11. Kenapa chapter ini nyesek banget 😢😢😢😢
    Sedih banget bacanya,,,harus bahan air mata biar ga keluar 😢😢😢
    Chanyeol yg kuat yaaa,,, moga ada keajaiban dan 22nya bisa selamat 😭😭😭😭

  12. aku petama liat judulnya END sedih ceritanya udh slesai😢 tpi pas di scroll kebawah TBC 😂 authornya sukses bikin baper anak orang 😅

    tuhkan junghaenya keclakaan disaat CHY ngaku udh nikah sama junghae ke kluarganya gak tau harus sedih atau seneng 😐 seneng bayi Chan-Hae selamat tpi sedihnya junhae gak sadar2 kan kasian chanyeolnya.. semoga stelah chanyeol bilang “saranghae” ke junghae, dianya sadar dari “tidur panjang” walaupun harapannya kecil buat sadar.. Dan semoga akhir ceritanya happy ending kalo sad ending kasian CHY nya baru ngerasain bahagia lgi.. stelah masa lalu yg sdikit menyakitkn skrng harus ditinggal junghae..

    diatas itu hnya opiniku tpi semua ceritnya dikmbalikan ke authornya.. di tunggu kelanjutannya (akhir cerita)..
    fighting author..

    • niat awalnya gak gitu, tapi entah dapet ide dari mana aku bikin saja seperti itu, huhuhu…

      makasih buat opininya, (gak tahu harus bilang apa? dah kehabisan kata-kata)
      tapi karena ini ff milikku jadi nanti terserah aku ya,
      ditunggu saja kelanjutannya…
      terima kasih… 🙂

    • iya, kasiat bang Chanyeol…
      semog dia tetap tabah ya…

      terima kasih banya, 🙂
      ditunggu ya kelanjutannya

  13. Padahal udh sedih duluan pas baca judulnya ‘end’.. makin gamau bacaaaa. Tp setelah di baca jd tbc. Serius yaaa ini sedih bgt…. Tega ih ya bikin aku baper…. Sedihhhh bangettttt

    • beneran nih! jadi terharu……..

      ini memang sedih banget, aku aja nangis pas nulis….
      ditunggu saja ya…

      terima kasih… 🙂

  14. Ya ampun ku sedih bgt kak author bacanya hiks 😥 #peluk baekhyun , junghae semoga baik” aja. Aku kira tadi beneran udh mau end loh kak, ternyata belum. Jadi dag dig dug gini deh. Semoga aja happy ending, ditunggu kelanjutannya fighting 🙂

    • sama, aku juga nangis pas nulis…
      semoga saja ya mbak Junghae baik, hohoho…
      sebenarnya memang sudah end,
      cuman terlalu panjang, jadi dipenggal…
      biar tamabh penasaran ja…

      terima kasih ya.. 🙂

  15. Thor please jgn buat sad ending😢😢
    Please jgn sad….
    TD qw dh deg Regan krn ada tulisan END…
    Ehhhh ternyata msih ad klanjutan.a
    Tp Thor please jgn sad end pokok.a jgan….

    • nulisnya pakai air mata lho,
      aku juga nyesek pas nulis, hohoho…..

      tunggu saja ya,
      terima kasih… 🙂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s