[EXOFFI FREELANCE] Ending Scene (Chapter 4)

ENDING SCENE

Author :

Angeline

Main Cast :

Park Chanyeol x Wendy Son

Additional Cast :

Kim Saejong| Do Kyungsoo| (OC) Yoon Rae Na| Yook Sungjae a.k.a Park Sungjae|Amber Liu| Etc~

Rating : PG-17 |Length : Series Fic

Genre : Romance|AU|Angst|Sad

Disclaimer :

Ff ini murni karya tulis author. Jika ada kesamaan dalam cerita, tokoh atau apa pun, Itu semua bukan unsur plagiat melainkan ketidaksengajaan. Don’t copas without permission. Thankyou

Summary :

Bagaimana perasaanmu jika kekasihmu bukan hanya untukmu?. Melainkan kau harus rela membaginya dengan seorang gadis lumpuh?. Dan peranmu yang tadinya sebagai korban harus terganti menjadi peran penjahat, yang seakan-akan telah merebut kebahagiaan seseorang.

-Chapter 4-

“Apa yang harus aku buktikan?, apa perasaanku tidak cukup untuk meyakinkanmu?.” tanya Chanyeol menatap lurus pada sorot sedih milik Rae na. Gadis itu menggeleng.

“Aku ingin kita menikah.” ujar Rae na membuat Chanyeol menegang seketika.

Chanyeol seketika memalingkan wajahnya ke arah jendela. Demi Tuhan, bisakah Tuhan merenggutnya saat ini juga?, Chanyeol tahu hidup itu berharga, namun semua ini sudah di luar batas kendalinya. Chanyeol tidak pernah memikirkan, atau pun membayangkan akan memasuki sebuah pernikahan bersama gadis bernama Rae na ini.

Bahkan ia tidak mau menikah dengan Rae na, namun dengan gampangnya Rae na mengajaknya untuk menikah?, apa gadis ini sudah kehilangan kesadarannya?, apa Rae na lupa jika saat ini, Chanyeol masih memiliki Wendy, yang sampai kapan pun tidak akan pernah ia lepaskan?. Apa Rae na lupa akan hal itu?, lalu dengan entengnya ia mengatakan ingin menikah.

Tidak!, tentu saja tidak.

Chanyeol menghembuskan nafasnya kasar dan menatap Rae na dengan serius. Rae na masih dalam kegiatan awalnya, yaitu menangis.

“Kita tidak akan menikah. Dan aku mohon, jangan pernah membahas hal ini!, aku masih memiliki Wen–“

“Lihat?, selalu Wendy dan Wendy!. Kau tidak pernah mencintaiku Chanyeol!, kau hanya ingin bertanggung jawab saja!.” Rae na menyela ucapan Chanyeol. Kini pria itu tidak bisa lagi menahan amarahnya, sudah cukup selama 4 tahun ia selalu bersabar menghadapi kelakuan Rae na yang semakin menjadi-jadi rasanya.

“Bukankah itu perjanjiannya?, aku bertanggung jawab?, bahkan aku menuruti segala keinginanmu! Segalanya Rae na!, segalanya!.” Bentak Chanyeol sambil meremas stir mobilnya. “Bahkan aku mengikuti keinginanmu dengan mengorbankan kekasihku sendiri!. Tapi sekarang, kau semakin keterlaluan!, sangat keterlaluan!.” Bentak Chanyeol sekali lagi pada Rae na, membuat gadis itu terkejut dengan bentakan Chanyeol, yang sudah sangat lama tidak ia dengarkan.

“Lalu mengapa kau masih di sisiku kalau begitu?, mengapa tidak kau biarkan saja aku mati waktu itu huh?.” Kini suara Rae na bergetar membuat Chanyeol mengacak surainya dengan cukup kasar.

Sungguh, ia tidak tahan dengan semua ini!.

“HENTIKAN!, BERHENTI MEMBAHAS MASA LALU KITA!. AKU MEMBENCI HAL ITU.” Teriak Chanyeol frustasi, dan tanpa menunggu lama Chanyeol menekan gas mobilnya, membuat mobil itu melaju dengan kecepatan cukup tinggi.

Chanyeol menepikan mobilnya di depan rumah keluarga Park dengan asal. Di dalam mobil, gadis bernama Rae na itu masih setia menangis, dan untuk pertama kalinya, pria itu enggan menenangkan gadis Yoon itu. sungguh, Chanyeol sedang dalam suasana hati yang benar-benar tidak bersahabat, bahkan saat menutup pintu mobil itu, Chanyeol sedikit membantingnya dengan keras, membuat Rae na sangat terkejut.

Chanyeol mengeluarkan kursi roda Rae na dari dalam bagasi dengan kasar, lalu membuka pintu mobil untuk Rae na dan menggendong gadis itu untuk mendudukki kursi rodanya. Chanyeol mendorong kursi roda itu ke dalam rumah. Namun baru saja ia membuka pintu itu, Chanyeol tertegun saat melihat Wendy sedang berada di sana, mengobrol dengan kedua orang tuanya bersama Sungjae.

Mereka sedikit terkejut melihat Rae na masih menangis, lantas mereka menatap muka Chanyeol yang nampak dingin dan menahan amarah, Wendy berdiri dan hendak menghampiri keduanya, namun Sungjae menahan tangan gadis itu hingga kembali terjatuh ke atas sofa.

“Ada apa Rae na-ah?.” Tanya nyonya Park sembari berjalan kea rah Rae na dan Chanyeol. Rae na menggeleng sambil terus menangis tersedu-sedu. Mereka lantas bingung dengan apa yang sedang terjadi pada Rae na, bahkan Chanyeol juga enggan bersuara untuk menjelaskan sesuatu.

“Yeol-ah, ada apa ini sayang?.” Ujar sang ibu sembari menatap putera sulungnya itu.

“Tidak ada apa-apa eomma, aku harus pulang sekarang. Ayo wendy!.” ucap Chanyeol setengah berteriak, membuat mereka kaget dengan hal itu.

Wendy segera berdiri tanpa mau bertanya apa pun lagi, Wendy mengambil tasnya dan juga beberapa peralatan alat lukis yang ia beli. Chanyeol ikut membantu menaikan semua barang belanjaan Wendy ke mobilnya, dan masih membiarkan Rae na menangis. Jujur, ia tidak mood untuk berbaikan dengan gadis itu. Sudah cukup kali ini.

Wendy ingin sekali menanyakannya, namun ia rasa sebaiknya menanyakannya di rumah. Chanyeol akan lebih tenang saat berbicara berdua dengannya kan?.

Setelah semua beres, Wendy dan Chanyeol yang hendak memasuki mobil beralih fokus saat nyonya Park berlari keluar mendapatkan keduanya dengan wajah cemasnya.

“Yeol-ah!.” Panggil nyonya Park

“Ada apa eomma?.” Tanya Chanyeol ikut penasaran

“Rae na– Rae na mau bunuh diri!. Cepat!.” Seru nyonya Park, seketika membuat Chanyeol dan Wendy terkejut dan segera berlari masuk.

Kini pandangan mereka tertuju pada gadis yang sedang berada di dapur sambil memegang pisau dengan mengarahkannya pada urat nadi di tangannya. Rae na menangis sejadi-jadinya, Sungjae yang memanggilnya dari tadi pun, tidak dihiraukannya. Tuan Park juga meneriaki Rae na pun, tidak digubris oleh sang pemilik nama. Chanyeol benar-benar kaku dan jujur, ia lebih memilik hilang saat ini.

‘Rae na, apa yang sudah kau lakukan ini?’, batin Chanyeol.

“Hyung!, lakukan sesuatu jebal.” Pinta Sungjae sudah buntu dengan pikirannya sendiri untuk menghentikan aksi Rae na ini.

Chanyeol menghela nafasnya sambil memijat keningnya. Oh, tidak ada hal lain yang lebih membuatnya frustasi ketimbang permasalahannya dengan Rae na. Wendy ikut terdiam dan tidak bisa berbuat apa-apa, mau bicara pun, Rae na tidak mungkin mau mendengarkannya. Rae na sangat tidak menyukai Wendy.

“Rae na-ah, hentikan ini. Letakkan pisau itu, aku mohon padamu.” Pinta Chanyeol dengan nada lembut sambil mendekati gadis itu perlahan. Namun Rae na menggeleng cepat sambil menangis,

“Tidak Yeol!, jika memang aku tidak bisa memilikimu, maka lebih baik aku menghilang dari dunia ini.”

“Apa yang kau bicarakan ini Yoon Rae na?!. Hentikan sekarang juga!” Bentak Chanyeol pada gadis itu

“Yeol, ada apa sebenarnya ini?.” Tanya tuan Park pada anak pertamanya itu.

Chanyeol terlihat ragu mengatakan yang sejujurnya, bagaimana nanti jika Wendy shock mendengar bahwa Rae na memintanya untuk menikahi gadis itu?, apa yang harus Chanyeol lakukan sekarang?. Bukankah lebih baik ia lenyap saja dari muka bumi ini?.

Chanyeol sudah tidak bisa berpikir apa-apa, semua buntu, dan segala kosakatanya hilang sudah. Ia tidak mampu berucap, dan tidak mampu untuk berpikir, sekarang semua menunggu jawaban darinya. Bahkan gadisnya ikut menatap Chanyeol dengan pandangan bertanya-tanya.

Ya Tuhan

“Aku meminta Chanyeol menikah denganku!.”

“APA?.” Seru semua orang di sana, kecuali Wendy yang shock dengan ucapan Rae na barusan, apa Wendy tidak salah dengar tentang permintaan Rae na pada kekasihnya ini?.

“Kau sudah gila?!.” Bentak Sungjae pada gadis bermarga Yoon itu. Dan Rae na tertawa masam sambil menggeleng,

“Mungkin?.” Ucap Rae na dengan senyumannya

“Rae na-ah, hidup itu hanya satu kali, jika kau mati, bagaimana dengan orang tuamu yang berada di Busan huh?. Mereka belum mendengar kabarmu selama 4 tahun, yang mereka tahu hanyalah puterinya baik-baik saja di Seoul.” Tegas Sungjae pada gadis itu.

“AKU TIDAK PEDULI!, AKU HANYA INGIN CHANYEOLKU.” Teriak Rae na menjerit.

Wendy masih diam, bahkan Chanyeol bisa menatap wajah kecewa dan kesedihan gadis itu yang semakin memuncak. Ingin rasanya Chanyeol membawa Wendy kabur dari sini, dan hilang selamanya dari dunia ini. Dimana, tidak ada Rae na yang menjadi penghalang kisah cinta mereka.

Jadi ini akhirnya?.

Rasanya sangat sakit, hingga mau mati rasanya. Wendy tidak kuat lagi, mengapa kisah cintanya begitu menyakitkan seperti ini?.

“Apa aku tidak salah dengar?.” Seru seseorang dari belakang mereka, membuat beberapa orang langsung memutar kepalanya menoleh ke arah belakangnya.

Mereka kini terpaku dan menegang sempurna, kecuali Wendy yang cukup menghafal suara siapa itu, Wendy yang tahu akan suara misterius tersebut tidak ikut menoleh ke belakang, meski ia juga cukup terkejut mengetahui orang bersuara misterius itu berada di rumah Chanyeol. Wendy lebih terkejut dengan hal menyakitkan yang baru saja ia dengar, mengapa rasanya kemungkinan besar Chanyeol dan Rae na akan menikah?.  Apa ia sanggup menjalani hidupnya dan menatap saat itu, Chanyeol yang ia cintai adalah suami Rae na?.

Tuhan, aku mohon jangan biarkan itu terjadi, lirih Wendy dalam hatinya.

“Tu– an Son?.” Ujar tuan Park dengan kekejutannya, lantas pria bermarga Park itu segera menghampiri pria yang notabene ayah Wendy itu dengan salah tingkah, bahkan di sana ada nyonya Son dan juga Amber.

Entah sejak kapan mereka tiba di korea, dan berpikir untuk datang ke rumah keluarga Park, mereka tidak tahu. Yang jelas saat ini, beberapa orang dari keluarga Chanyeol tengah berpikir untuk merangkai kebohongan yang akan disampaikan untuk mengurangi rasa curiga tuan Son dan istrinya.

“Apa yang sedang terjadi?.” Tanya tuan Son pada tuan Park

“Ini– hanya salah– paham tuan, tidak ada yang perlu di khawatirkan.” Ucap tuan Park berbohong dengan kalimat yang seperti tidak jelas, karena ia gugup sejujurnya. Tuan Son sangat bisa membaca mimic seseorang, apalagi yang sedang berbohong seperti yang mereka lakukan saat ini. Berusaha tersenyum meski sebenarnya keadaan tidak memungkin untuk tersenyum.

Namun sialnya, tuan Son lebih dulu mendengar teriakan Rae na dari awal, tuan dan nyonya Son juga Amber dengan jelas mendengar jika gadis di kursi roda itu meminta Chanyeol untuk menikahinya. Ayolah, mereka sudah cukup lama berada di belakang orang-orang itu dan mendengar gadis Yoon itu berteriak, mereka memilih diam dan tidak memberitahukan jika mereka sudah datang, karena ingin mendengar pertengkaran kecil itu.

Dan, bukankah selama ini yang mereka tahu adalah, hubungan Chanyeol dan Wendy baik-baik saja?, tidak ada masalah?, tapi mengapa yang mereka temukan malah sebaliknya?, sebuah pertengkaran yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Ya, nyonya dan tuan Son memang tidak tahu menahu tentang permasalahan antara Chanyeol dan Wendy yang sudah terjadi selama 4 tahun ini. Sang puteri Wendy Son menyembunyikan rapat-rapat dari kedua orang tuanya, dan hanya menceritakannya pada Amber dan Kyungsoo.

“Wendy!, apa yang terjadi ini?!. Siapa gadis yang meminta Chanyeol untuk menikahinya itu?.” Bentak tuan Son pada puterinya itu. Namun Wendy hanya tertunduk sambil menjatuhkan bulir-bulir air matanya, yang seperti sudah habis di keluarkan selama 4 tahun.

“WENDY SON! JAWAB APPA!.” Bentak tuan Son pada puterinya itu.

“Abeonim, aku akan menjelaskannya.” Ucap Chanyeol namun Wendy menahan tangan Chanyeol dan menggeleng dengan kepala yang tertunduk, Chanyeol seakan paham makdus gadis itu.

‘jangan menjelaskan apa-apa pada Appaku’

“Nikahi Rae na Yeol, aku tidak apa– apa.” Ucap Wendy dengan lirihnya sambil mengangkat wajahnya menatap beberapa pasang muka yang ikut terkejut dengan ucapan Wendy barusan.

BOHONG!, KAU SEDANG TERLUKA SAAT INI WENDY!. BATINNYA BERTERIAK

“YAK!.” Bentak Chanyeol pada gadisnya itu, serasa tidak percaya dengan apa yang Wendy ucapkan barusan. Apa Chanyeol baru saja mendengar gadisnya memintanya untuk menikahi Rae na?, apa Wendy sudah gila meminta hal di luar logika itu?.

“Apa maksudmu meminta Chanyeol menikahi Rae na Wendy?, dan siapa itu Rae na?, tolong jelaskan pada kami sayang.” Kata nyonya Son

“Wendy, kita bisa bicarakan ini baik-baik sayang, aku mohon padamu.” Ujar Chanyeol berusaha menggapai tangan Wendy namun gadis itu menepisnya. Chanyeol sangat tertekan saat ini. Wendynya serasa berbeda dan benar-benar asing di matanya.

“Wendy-ah, tolong jangan seperti ini sayang.” Ucap tuan Park berusaha membujuk gadis yang sudah ia anggap sebagai puteri kandungnya sendiri itu.

Wendy kini mencoba tersenyum, meskipun senyuman itu hampa dan kosong. Bahkan tidak menyiratkan sedikit kebahagiaan dari senyumannya saat ini, Wendy menatap Chanyeol dengan sendunya. Chanyeol ingin berbicara berdua dengan Wendynya, namun saat ini Wendy sudah tidak mau mendengar apa pun, gadis di depannya itu sudah cukup lelah, secara batin dan secara fisik. Ia lelah menanggung semua penderitaan, ia lelah menanggung semua ujian dari Tuhan, ia lelah menanggung semua peran penjahat yang sekarang sedang ia sandang di mata Rae na.

Wendy lelah akan semua itu, tidakkah kalian melihat ia sudah cukup hancur saat ini?.

Ia tidak bisa memiliki Chanyeol seperti dulu, Chanyeolnya sudah semakin menjauh, dan Wendy memilih untuk melepaskannya.

Bukankah, sudah cukup pengorbanannya ini?, apa kalian masih mau menambahnya?. Ini sudah 4 tahun, apakah menahan rasa sakit selama itu kurang cukup untuk membuat Wendy hancur?.

Tidak!, aku rasa semua sudah cukup saat ini. Bahkan melepaskan Chanyeol adalah pilihan yang sangat tepat jika dibilang.

“Hubunganku dan Chanyeol sudah berakhir. Itulah yang terjadi Appa.” Jawab Wendy tanpa mengalihkan atensinya pada manik mata Chanyeol.

Rasanya seperti Chanyeol terjatuh dari lantai tertinggi, dan berakhir mengenaskan di lantai dasar. Sungguh sakit, dan teramat sakit, bahkan rasanya ia tidak pernah sesakit ini sebelumnya. Ia juga sama-sama hancurnya dengan Wendy, meski mungkin Wendy lebih menderita dibanding dengannya.

Tapi hatinya juga hancur saat mendengar, gadisnya berkata jika hubungan keduanya telah usai.

Tangan Chanyeol terkepal kuat, kini pikirannya menjelajah pada hal tersial dalam hidupnya 4 tahun yang lalu, dimana jika saat itu ia tidak mengikuti ajakan bodoh seorang sahabatnya untuk datang ke Club, ia tidak akan berakhir menyedihkan seperti ini. Dan hubungannya dan Wendy masih akan baik-baik saja, bahkan mereka mungkin akan menikah.

Namun semua sudah terjadi, nasi sudah menjadi bubur, dan masa lalu yang Chanyeol sesali tetaplah masa lalu yang sampai kapan pun tidak bisa diubah lagi. Sungguh, penyesalan akan selalu dirasa belakangan. Chanyeol tidak sanggup lagi menatap Wendy yang begitu hancur dan rapuh di depannya.

Ia tidak kuasa menahan gejolak hatinya yang ingin memeluk gadis itu saat ini, lalu membisikkan sebuah hal gila yang kini menghampiri otak kecilnya. ‘Ayo kabur dari sini, dan menghilang dari mereka semua’. Itulah yang chanyeol ingin bisikan, bahkan ia yakin wendynya akan menyetujui ide gilanya.

”Apa maksudmu sudah berkahir huh?.” Bentak tuan Son.

“Sudah berkahir, ya sudah berkahir Appa!.” Tegas Wendy pada ayahnya itu.

“Maksudmu, kau putus dengan Chanyeol?, tapi kenapa?.” Ujar tuan Son sambil memegang bahu Wendy untuk menatapnya

“Kami banyak masalah, dan tidak cocok dalam hal apa pun. Jadi kami memutuskan untuk berpisah. Dan juga, aku sudah tidak men– cintainya.” Ujar Wendy tanpa keraguan sedikit pun. Rasanya  gadis ini sudah menyiapkannya dengan matang, karena ia tahu hari ini akan datang. Dimana semua terungkap, dan ia harus merangkai sebuah kebohongan untuk membohongi orang tuanya sendiri, bahkan membohongi perasaannya yang sudah hancur berkeping-keping. Semua tidak bisa kembali seperti semula, adegan yang Wendy harapkan berakhir dengan bahagia, nyatanya harus berakhir menyakitkan dan bahkan membunuhnya rasanya.

Wendy menatap Amber sekilas, dan gadis tomboy itu hanya membuang nafasnya sambil menggeleng pelan. Gadis tomboy itu terlihat santai dengan menyilangkan tangannya di dada. Seperti Amber juga tahu, hari ini akan datang cepat atau lambat. Amber manatap Rae na sekilas yang hanya ikut diam melihat pertengkaran Wendy dengan kedua orang tuanya. Jika saja hanya ada mereka berdua saat ini –Amber dan Rae na–, sudah pasti Amber akan menghajar gadis itu, tidak peduli ia sedang lumpuh, rasanya kesabarannya juga sudah menembus batasnya. Ia sungguh tidak tahan menatap wajah polos tanpa dosa itu, yang dengan gampangnya menghancurkan kehidupan sahabat baiknya.

‘Argh, melihat wajahnya saja aku sudah kesal setengah mati, BITCH!. Umpat Amber dalam hati

“APA GARA-GARA GADIS ITU HUH?!.” Teriak tuan Son sambil menunjuk Rae na, yang akhirnya membuat gadis itu terkejut mendapat tatapan tajam nan membunuh dan teriakan keras dari ayah Wendy.

“Tidak Appa, dia tidak salah apa-apa. Aku yang salah, jadi aku mohon luapakan ini, dan ayo kembali ke Canada.”

Seketika tubuh Chanyeol seperti mati mendadak, gadis itu mau kembali lagi ke Canada meninggalkannya?, apa Wendy mau membunuhnya secara perlahan?, apa Wendy sudah tidak mencintainya lagi.

Tolong, lakukan apa pun itu, asal jangan menghilang lagi dari pandangan Chanyeol. Pria itu tidak bisa melewatinya seorang diri Wendy, mengertilah.

“TIDAK BISA!.” Bentak tuan Son membuat mereka terkejut.

“Appa sudah banyak mengatakan pada rekan bisnis Appa, jika kau akan menikah dengan anak dari pemilik perusahaan Majalah terkenal di Korea. Appa tidak ingin menanggung malu, begitu pun Appa tidak ingin kau menanggung malu sayang.” Ucap Tuan Son lirih pada puterinya.

Wendy tahu akan hal itu, ia cukup tahu ayahnya selalu mebanggakan Chanyeol dengan semua teman bisnisnya, mengingat tuan Park memang pemilik LOEY Magazine Corporation, sebagai perusahaan Majalah paling terkenal di Korea. Ia juga tahu jika keluarganya sangat senang saat mendengar hubungan Wendy dengan Chanyeol, bahkan mengharapkan hubungan yang lebih serius, kalian tahu?, menikah. Mereka mengharapkan semua itu. Bahkan Halmeoninya yang meninggal 3 tahun lalu sangat mendukung hubungan mereka.

Wendy pun tahu, jika ia putus dengan Chanyeol, appanya akan malu, bahkan seluruh keluarganya akan menanggung malu. Tapi, ia juga tidak bisa berbuat apa-apa.

Demi Tuhan, Wendy lelah tersiksa terus menerus.

Tapi tidak bisakah kalian mengerti?. Semua ini sudah selesai!

It’s Over!

“Maafkan aku jika aku mengecewakan kalian. Namun semua ini sudah tidak bisa diperbaiki.” Ucap Wendy tertunduk lesuh sambil menggeleng lemah. Sungguh semangatnya sudah hilang entah sejak kapan, ia hanya mau merebahkan dirinya di kasur dan segera tidur. Berharap ini mimpi buruk, dan saat besok Wendy bangun, ia menemukan sosok dirinya yang masih menggunakan seragam sekolah, dan tahun kembali pada 2011 silam, dimana ia tidak bertemu Chanyeol saat di Mall itu.

Bisakah semua kembali terputar?.

“Tidak!, semua ini masih bisa diperbaiki.” Jawab tuan Son membuat mata mereka menatap pria bermarga Son itu secara bersama-sama.

Entah mengapa di perasaan Wendy maupun Chanyeol, solusi yang akan diberikan oleh ayah Wendy itu adalah sesuatu yang tidak mengenakkan keduanya. Mereka mencurigai sesuatu, begitu juga dengan yang lain.

Apa yang bisa diperbaiki lagi?, jangan bilang tuan Son menyuruh Chanyeol menikahi keduanya?.

Tidak!, tuan Son tidak segila itu, dan lagi pula, ia tidak mau puteri satu-satunya itu, diduakan oleh Chanyeol. Ia mau puterinya mendapatkan kebahagiaan yang pantas.

“Semua baik-baik saja, karena kau akan tetap menikah.” Ucap tuan Son menatap puterinya.

Sontak Wendy melotot pada ayahnya itu, menikah?, tidakkah ayahnya melihat jika mereka sudah berkahir?, tidakkah ayahnya mendengar perkataan Wendy tadi?, apa semua itu kurang jelas diucapkan oleh Wendy?, apa perlu Wendy memakai pengeras suara agar ayahnya mengerti dan mau mendengarkannya?.

“Appa!, apa perkataanku kurang jelas barusan?. Aku dan Chanyeol sudah berpisah!.” Bentak Wendy pada ayahnya itu

Tuan Son lantas tersenyum tipis dan memegang bahu anak perempuannya itu dengan sedikit meremasnya sayang.

“Appa mendengarnya Wendy, tapi maksud Appa adalah, kau akan tetap menikah dengan salah satu anak tuan Park. Dan itu bukan Chanyeol, tapi– Sungjae.”

“APA?!.”

Seoul, June 5th 2012

Kota Seoul sedang menjalani musim panasnya, tak pelak banyak masyarakat korea yang memilih baju berbahan kaos. Begitu juga dengan seorang pria yang berada disalah satu kantin kampusnya, dengan beberapa tumpuk buku di atas meja, dan juga lantob berwarna abu-abu yang diletakkan di depannya.

Sesekali pria itu mengibas-ngibaskan tangannya didekat wajahnya, hanya untuk mendapatkan beberapa hembusan angin agar sedikit menghilangkan rasa panas yang sedang dirasanya saat ini. Park Chanyeol, mahasiswa The Bachelor of Arts, jurusan photography, yang sangat tergila-gila mengabdikan bentuk-bentuk serta peristiwa-peristiwa, baik alami maupun buatan, dan mengabdikannya dalam bentuk fotografi yang indah.

PUK

Chanyeol tersentak saat seseorang menepuk pundaknya, sontak pria itu menoleh ke belakang dan menemukan seorang sahabatnya bernama Mino di sana. Chanyeol menghela nafasnya sebentar dan kembali pada aktifitas awalnya, yaitu mengetik. Sejujurnya pria itu sedang mengerjakan sebuah tugas dari seorang dosen killer dalam mata kuliah The Expression of Photography, yang dimana dalam mata kuliah ini, mengajarkan kepada mahasiswa untuk menekankan aspek seni, kreativitas, dan inovasi yang berorientasi pada expresi pribadi penciptanya.

Mino yang merasa diacuhkan lantas meneguk secara sengaja minuman berjenis air mineral di samping Chanyeol, dan hanya menyisakan sangat sedikit air dari botol mineral itu. Chanyeol masih membiarkannya, dan berfokus pada tugas kuliahnya, tangannya pun terangkat dan memesan kembali jenis air yang sama.

“Yeol!, kau tidak lelah huh?. Ini sudah 2 jam kau duduk di kantin!.” tegas Mino sembari tersenyum pada seorang penjaga kantin yang baru saja membawa minuman Chanyeol.

Mino hendak membuka botol mineral itu, namun Chanyeol dengan tangkas merebut air miliknya dan menjauhkannya dari Mino.

“Aku masih sibuk, jangan mengangguku.” Ucap Chanyeol tanpa menatap teman kuliahnya itu.

“Heol!– Oh, lihat?, ini Wendy!.” seru Mino sambil memegang ponsel Chanyeol yang terlihat bergetar di atas meja. Dan Mino tidak bohong, memang benar Wendy –kekasih Chanyeol– sedang menelfon pria Park itu.

Sontak Chanyeol merebut ponselnya dari Mino dan menggeser symbol berwarna hijau di layar ponselnya, dan menempelkan ponsel itu ke telinga kanannya.

“Yeobeoseyo?.” Seru Chanyeol sembari tersenyum

“Apa aku menganggu?.” Suara lembut milik Wendy membuat Chanyeol tersenyum

“Tentu tidak, kau tidak sedang menggangguku.”

Mino mencibir pelan mendengar ucapan Chanyeol, pria ini benar-benar pilih kasih, jika bersama Wendy, ia akan sangat lembut, namun jika bersama temannya yang lain, pria itu akan terlihat menyebalkan tingkat akut.

“Yeolie, aku hanya ingin bilang jika hari ini aku akan pergi bersama kyungsoo dan amber untuk kerja kelompok, tidak apa kan?.”

Chanyeol menghela nafasnya,

“Ya, tidak masalah. Asalkan kau menghubungiku jika sudah pulang ke rumah. Mengerti kekasihku?.”

“Terimakasih Yeol, em– aku–“ ucap Wendy terbata, membuat Chanyeol mengerutkan keningnya

“Ya?.” Seru Chanyeol

“Aku men–cintaimu” suara malu-malu Wendy membuat Chanyeol terkekeh geli, namun membuat hatinya berbunga-bunga

“Aku juga, hati-hati sayang.”

Teet

Sambungan terputus, dan Chanyeol masih setia melihat ponselnya. Meski hari ini, janji kencannya dengan gadisnya batal, namun tetap saja ia bahagia hanya mendengar suara Wendy melalui via suara ini.

“Kau tidak jadi kencan kan dengannya?.” Tanya Mino tiba-tiba, yang sedari tadi terus menempelkan telinganya juga pada ponsel Chanyeol, untuk mendengar percakapan sepasang kekasih itu.

Chanyeol menatap Mino sambil mengangguk, lalu memasukkan ponselnya dalam saku celananya.

“Assa!, kalau begitu kau bisa ikut ke Club malam ini?. Ayolah Yeol!, salah satu anggota –jurusan Photography– kita sedang berulang tahun. Kau tahu, Hoya kan?. Dia mengundang seluruh mahasiswa jurusan Photography ke Octagon Club.” Papar Mino dengan suara bersemangat, juga mendesak Chanyeol agar ikut dalam Party itu.

Chanyeol menggeleng pelan, sembari melanjutkan pekerjaannya. Seakan ia tuli dengan penjelasan Mino mengenai Club yang berada di daerah Gangnam itu.

“Yeol, lagi pula malam ini akan sangat special, karena mahasiswa jurusan Kedokteran juga akan ikut. Kau tahulah, kekasih Hoya adalah salah satu mahasiswa dari sana. Jadi bagaimana?, kau ikut kan?.”

“Aku tidak bisa Song Mino!, aku banyak tugas!. Kau juga harus mengerjakan tugas bodoh!.” Umpat Chanyeol kesal pada sahabatnya itu.

“Aish, kau tidak menyenangkan. Bagaimana jika– aku memberitahu Wendy, kalau minggu lalu Yuna menciummu?.” Mino kini tersenyum kemenangan, berbeda dengan Chanyeol yang melongo mendengar ucapan Mino.

Heol!, pria ini memang tidak pernah mau kalah. Padahal ciuman itu bukan salah Chanyeol, melainkan Yuna saja yang terlalu berlebihan menyukai Chanyeol, dan itu pun hanya ciuman di pipi, Mino memang menyebalkan.

Lantas Chanyeol menghela nafas, dan menutup buku tebalnya dengan kasar di depan wajah Mino, yang sudah tersenyum senang dari tadi.

“Baiklah!, tapi hanya malam ini!.” Kata Chanyeol tajam pada Mino, dan pria Song itu tersenyum sambil mengangguk setuju.

~

Octagon Club, 22.00 p.m

Chanyeol dengan jeans hitam panjang dan juga kaos berwarna putih yang dilapisi dengan sebuah hoodie berwarna biru Navy, hanya menatap enggan para mahasiswa dan mahasisiwa K’ARTS (Korea National University of Arts), yang tengah asik menggoyangkan badan mereka dengan para lawan jenis. Hal ini membuat Chanyeol mau muntah saja rasanya. Jangan salah mengira jika Chanyeol tidak mengerti akan dunia malam ini. Chanyeol cukup tahu, hanya saja malam ini, ia tidak semangat menatap dunia malam ini.

Chanyeol pun juga hanya meneguk minuman Whiskeynya sedikit sekali, pasalnya ia pasti yang akan menyetir mobil jika sahabatnya Mino itu mabuk. Chanyeol yang enggan berada dikerumunan itu, lantas memisahkan dirinya menuju balkon untuk menghirup udara segar. Sungguh, di dalam sana, bernafas saja rasanya sulit, terlalu sesak.

Chanyeol memegang tiang pembatas dengan tangan kananya, dan yang satunya lagi ia pakai memegang gelas minuman. Chanyeol merogoh kantong celananya dan menyalakan ponsel itu. Kini di layar ponsel itu terdapat wallpaper gadisnya –Wendy–, pria ini sedang merindukan gadis bermarga Son itu.

‘Sedang apa kau sekarang?’ batin Chanyeol

Chanyeol yang bosan, lantas hanya duduk disebuah kursi panjang di balkon itu, sambil menatap arah kota Seoul yang sudah terbungkus dengan gelapnya malam hari. Chanyeol kembali meneguk secara sedikit minumannya, hingga matanya tertuju pada seorang gadis yang kini juga sudah berposisi duduk di sampingnya.

Gadis dengan dress yang memperlihatkan lengan mulus, dengan panjang selutut yang cukup ketat berwarna merah marun itu, menggosok lengannya dengan kedua telapak tangannya secara menyilang, Chanyeol menyadari jika gadis itu kedinginan, namun Chanyeol mau apa? memberikan hoodienya pada gadis tidak dikenalinya ini?. Chanyeol tidak memusingkannya lagi dan berfokus pada kegiatannya semula, memandangi kota Seoul.

“Bisakah aku meminjam hoodiemu?, maaf sudah lancang. Tapi aku sangat kedinginan sekarang.” Chanyeol yang cukup berpikir sejenak, dengan sebuah senyuman kikuk membuka hoodienya dan memberikannya pada gadis tersebut.

“Terimakasih.” Ujarnya pelan lalu memakai hoodie milik Chanyeol. Kini pria itu hanya berlapis sebuah Kaos berwarna hitam polos, Chanyeol cukup kuat menahan rasa dingin, sehingga tidak begitu masalah suhu malam ini. Toh, bulan ini juga musim panas kan?.

“Aku Rae na, Yoon Rae na.” ucap gadis itu sembari mengulurkan tangannya pada Chanyeol. Dengan reflex, Chanyeol menyambar jabatan tangan gadis bernama Rae na itu.

“Park Chanyeol.” Kata Chanyeol dengan cepat.

Bukankah sudah pernah aku katakan?, jika Sungjae akan memerankan sesuatu yang penting di sini?. Dan saat ini, inilah peran yang sesungguhnya ia mainkan. Sebuah peran yang mungkin kalian kaget mendengarnya, dan tidak pernah membayangkan, saat peran itu sudah berhasil merasuk dalam kepribadiannya.

Ya, seorang Park Sungjae adalah pemain baru dalam adegan akhir ini, kau bisa menyebutnya apa pun yang kau pikirkan sekarang.

Bahkan jika kau mau menebaknya lagi, tebaklah…

Akankah, Sungjae tidak cocok dengan peran ini?, atau sebaliknya?, ia sangat terbawa dalam peran baru dalam sebuah drama yang mereka ciptakan.

Bahkan mereka masih belum menentukan siapa penjahatnya, dan bagaimana adegan ini–

Berkahir…

-To Be Continued-

Yang ngeship WENYEOL, mana suaranya?? Wkwk. Terus yang ngeship RAEYEOL mana tendangannya?? Haha. #somplakauthornya. Sekedar masukan aja untuk yang WENYEOL shiper, siapkan tisu satu dos di samping. #plak. Plis yah readers, tolong ninggalin jejak, jangan jadi silent reader dong yah T_T. Author yang membaca setiap komen kalian itu pasti bahagia banget, komenan kalian kayak vitamin gitu. #apaansih #abaikan. Ya udah mau ngomong itu aja.

Bye bye (Kiss jauh dari bini orang gahol #PCY)

 

 

Iklan

24 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Ending Scene (Chapter 4)

  1. Mau bunuh diri cuman buat akal akalan aja biar di iyain.
    Mentalnya lagi kacau ya jadi gitu. Gak sayang nyawa 🙂
    ya allah raena, demi dah pengen bat gua gaplok pake talenan nih 😭😭😭
    Itu gimana ikh ko jadi sama sungjae, ah gila aq pusying😭

  2. Gilaa tuh sih raena. Lu pkir lu yg paling menderita apa.. Ahhh klo jdi chanyeol udh gua lenyapin tuh cewek.
    hehe.. Sorry thor. Gua baper bnget. Ksian wendy yg udh brkorban bnyak. Happy ending plss! jan pisahin wenyeol yahh 🙂

  3. jijik banget sama raena bersikap seolah olah dia yang paling menderita. kalo gw jadi chanyeol ga bakal dihalangin buat bunuh diri kalo perlu gw sendiri yg bantu nyayat nadinya. pasti gw bantu kalo amber mau ngehajar tuh orang

  4. Btw kim saejong belum keluar ya? Itu siapa thor? Apakah bakalan plot twist? 😨 Wendy udah banyak berkorban jangan buat wendy jadi tambah sakit ya thor 😂😂😂 aku serahkan ceritanya kepadamu thor !! Wkwk hwaiting 👍

  5. benci banget deh sama raena!!! ka author berhasil bikin anak org mewek terus marah-marah. thor plis happy ending ya… kalo perlu matiin aja tuh si raena, biar yeoli bahagia ama wendy. dn sungjae itu apa maksud ny thor? sung jae jahat ya? fighting author ditunggu lanjutnny…

  6. benci banget deh sama raena!!! ka author berhasil bikin anak org mewek terus marah-marah. thor plis happy ending ya… kali perlu matiin aja tuh si raena, biar yeoli bahagia ama wendy. dn sungjae itu apa maksud ny thor? sung jae jahat ya? fighting author ditunggu lanjutnny…

  7. Baper bacanya ya ampun
    Tiap bagian Wendy cemburu dan sakit hati itu nohok banget
    Kata” nya ngeresap sampe ubun”
    Gak pernah ngalamin tapi kyk ngerti aja gimana sakitnya yang dirasain Wendy
    Chanyeol kasian juga dia kyk buah simalakama
    Antara Wendy dan si rae na nih
    Si rae na disini nyebelin banget rada” psycho??
    Tapi ceritanya bagus banget Thor 😆
    Nyentuh sedih gregetin campur aduk bacanya
    Yang semangat lanjutin cerita nya kak author 🙌🙌
    Pengen Wendy sama Chanyeol happy endingnya 🙏🙏

  8. Annyeong aku udah baca dari part 1 tp bru comment skrg maapkeuun. Aduuh itu si rena mnta dihempas dr 63 building yak? Saolooh emosi saiah emosiiiiii!!! Next ya thor jgn lama2 updatenyaa kepoo niiih.

    Salam tjivok basah :-*

  9. Huh itu Raena knp lagi sih? Gak usah lindungi dia deh, biarin aja dia mati. Aku sebagai wenyeol ship gak rela wenyeol pisah 😭 Tolong jangan pisahin wenyeol dong kak.

  10. Sumpah gw mw ikutan amber ngehajar si sengklek raena >:
    tu org bner” kterlaluan, mgkin next chap chanyeol yg bnuh diri 😥 #digamparWendy
    woo, sungjae terbawa arus yaa, berarti nnti dy bsa protektif bgt sma Wendy,, aduh penasaran bgt ih, bner” pngen ngeroyok raena 😥 g pnya hati bgt sih tu org, biarin aj dy matiii haaarrgghh emosi gw >:
    dtnggu next chapter authornim, fighting!!! :*

  11. AKU GAK IKHLAS……..
    WOY rae na stress,sumpah pengen gua umpat pake bahasa daerah itu cewek,kalo dia di dunia nyata bolehkah aku mutilasi dia kak,gak apa2 dah kejam yang penting adem ayem dah hatinya chanwen.
    Aku chanwen shipper jadi jangan pernah pisahkan chanwen apapun alasannya.
    Oh sungjae kumohon jangan terima itu.
    Untui masih tbc bukan fin,alhamdulillah.
    Next kak….

    • Wkwkwk, dimutilasi?😂 sadis yah kamu
      Dinantikan yah chapter selanjutnya.
      Kalau fin, entar aku di lemparin pake emas batangan suho dama readers #plak. 😂
      Terimaksih utk komentarnya😍💕

  12. kenapa gk biarin raena mati aja sih!! sebel gitu.
    maaf, aku bukan wenyeol ship nih. gpp kan? haha #zadiz
    tp aku suka ceritanya, gedeg gitu.
    sungjae?????
    gw ramalkan bakalan jd saingan berat chanyeol. pasti! #soktaubangetsih!!

    fighting!!!! mumuach..

  13. hallo author angeline. aku reader baru disini. mianhae jeongmal neomu mianhae baru komen disini yaa? authornya ga gigit kann? /hehe/ buat selanjut selanjutnya aku bakalan aktif komen deh,, semangat nulis kelanjutnya authornim. btw ini chapter bikin hati ikut degdegan tau -,-

  14. Heol ini apa lagi coba, huaahh sedih bacanya 😥 terlalu rumit maslhmu nak T_T. Yaudahlah drpd wendy korban perasaan mulu, mgkin apa yg dikatain papanya wendy bener, kali aja bsa bahagia sm sungjae tapi ku wenyeol shipper trs musti eottokhe coba? Jadi gegana sendiri *plakk. Udah sono si rena mati aja ikhlas lahir batin, lagian kebangetan bgt sih jadi orng bikin orng emosi. Ceritanya makin bikin orng emosi, sedih, baper ahhh pokoknya kerenlah. Fighting 🙂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s