[EXOFFI FREELANCE] You Can Call Me ‘Monster’? (Chapter 2)

Tittle : You Can Call Me ‘Monster’?

Author : NaMiPark

Length : Chaptered

Rating : PG

Cast   : Han Jina , Park Chanyeol (Exo), Byun Baekhyun (Exo) and other cast.

Summary   : “Memiliki mu adalah satu-satunya jalan ku untuk tetap hidup.”

Chanyeol Park, Seorang pemimpin sindikat kelompok mafia bernama DARK MÀRVOS. Lelaki tak berperasaan yang membawa takdirnya bertemu dengan Han Jina. Seorang gadis yang membuat Chanyeol sangat mengagumi mata indah Jina. Dan sialannya gadis itu adalah adiknya! Oh, Shit!

“Kau terlalu sialan berani membuat ku kehilangan akal sehat ku!”

Desclaimer   : Fanfiction ini murni berdasarkan hasil pemikiran saya. Tanpa ada unsur penjiplakan. So, Don’t Copast. Please !

Fanfiction ini juga di publish di satu-satunya akun wattpad pribadi saya (NaMiPark). Selain di sana dan di EXOFFI, adalah penjiplakan. Bila ada yang melihat FF ini di publish di lain tempat, mohon hubungi saya. Terimakasih.

Author Note’s   : Bagi ku cinta yang sebenarnya harus memiliki. Berjuang untuk membuat ‘dia’ bahagia di sisi ku adalah keharusan. Bagaimanapun caranya. Bukan membiarkannya pergi dengan dalih berfikir; “Dia tidak bahagia bersama ku.”

🍁Chapter 2🍁

Chanyeol masih menatapi foto gadis yang di bawa ayahnya satu jam lalu. Meneliti wajah gadis itu. Gadis yang terlihat berbeda dengan orang asia lainnya. Surai berwarna pirang dengan mata almond beriris biru safir. Mengenakan dress soft pink selutut. Tersenyum ke arah kamera. Tampak manis dan begitu cantik. Kecantikan yang berbeda.

Tiba-tiba saja kalimat ayahnya beberapa saat lalu sebelum beranjak pergi dari ruangannya kembali terngiang di telinganya.

“Dia anak ku dari Han Ji Eun. Beberapa waktu lalu aku mendengar kabar Ji Eun sudah meninggal dan memintaku merawat Jina lewat surat yang di tinggalkannya untukku. Dan sialnya, aku tidak bisa menemukan keberadaan Jina. Aku tentu tahu bagaimana koneksi mu, jadi bantu aku menemukannya.”

“Cih! Menyuruhku untuk mencari anak dari wanita jalang mu itu?,” Chanyeol tertawa hambar, menjeda ucapannya. “Yang benar saja!.”

Chanyeol masih ingat jelas bagaimana wanita bernama Han Ji Eun itu pernah di bawa ayahnya ke rumah. Yang membuat ibunya menangis seharian di dalam kamar hingga di temukan tidak sadarkan diri.

Chanyeol tidak akan mungkin melupakan siapa saja yang sudah membuat ibunya terluka dan menderita. Jika saja saat itu ia sudah dewasa seperti sekarang, ia tidak akan mungkin hanya berdiam diri menatapi kelakuan ayahnya yang menyakiti ibunya. Sayangnya, ibu nya tidak bisa menunggu hingga Chanyeol memiliki kekuatan untuk melindunginya. Memilih kematian sebagai jalan terakhir.

Sebuah pemikiran terlintas di kepalanya. Pemikiran yang entah berasal dari mana, pemikiran gila yang menciptakan Satu sudut bibirnya terangkat tinggi. Membentuk seringaian yang selalu berhasil membuat nya tampak terlihat semakin gelap.

Chanyeol menyandarkan punggungnya di sandaran soffa. Mengangkat tinggi-tinggi foto gadis itu di hadapannya. Jari-jarinya mengelus pelan dagunya sebelum bergumam,

“Kita akan segera bertemu, Han Jina.”

🍁🍁🍁

Suara gelak tawa terdengar dari dalam ruang tengah sebuah panti asuhan. Tawa dari anak-anak penghuni panti itu selalu terdengar riang, seolah mereka melupakan fakta bahwa mereka tidak memiliki orang tua kandung yang seharusnya merawat selayaknya seseorang yang sudah melahirkan mereka ke dunia.

Seorang gadis yang memperhatikan tingkah anak-anak itu sesekali ikut tertawa. Membuat hazel bermanik biru safirnya harus sedikit menyipit karena bibirnya yang tertarik tinggi. Sepertinya gadis itu juga ikut sejenak melupakan fakta tentang dirinya yang sudah sebatangkara.

Empat bulan yang lalu, saat ia menemukan ibunya sekarat di dalam kamarnya dengan darah yang terus merembes dari luka tusukan di perutnya, saat itu sang ibu menyuruhnya untuk segera lari dari sana dan menyuruhnya untuk tidak kembali lagi ke rumah. Tentu saja ia menolak keras, ia tidak mungkin membiarkan ibunya meninggal saat itu juga. Sampai suara seorang lelaki berteriak dari arah luar kamar, tepat saat ia mendapati ibunya sudah berhenti bernafas. Detik itu ia menyadari nyawanya juga terancam, ia mengikuti perintah ibunya dengan berat hati untuk segera pergi dari sana. Dengan langkah berat ia meninggalkan rumahnya. Dan di sinilah dia sekarang, berada di sebuah panti asuhan yang bersedia menampungnya.

Oh, tuhan. Tidak pernah terfikir sebelumnya jika ia juga akan menjadi salah satu dari penghuni panti asuhan. Tempat dimana para anak yang tidak memiliki orangtua.

“Jina noona, mainkan ini lagi untuk kami.”

Gadis itu tersadar dari lamunannya. Mendapati Kim Soo Jun, yang berdiri menatapnya seraya menunjuk sebuah piano di sudut ruangan. Gadis bernama Jina itu tersenyum, mendekati anak lelaki berumur lima tahun itu. “Kau ingin aku bermain piano lagi?.” Kim Soo Jun mengangguk di ikuti anak-anak lainnya. “Baiklah, aku akan memainkannya untuk kalian.” Pekikan senang terdengar seketika. Jina mendekati piano itu. Duduk di atas kursi yang menghadap piano. Lalu jari-jarinya bermain di atas tuts-tuts nada, memperdengarkan alunan musik yang mengalun lembut. Semuanya ikut terhanyut symphoni yang mengudara.

Tepukan tangan seseorang mengalihkan perhatian mereka ketika Jina sudah selesai memainkan satu lagu. Seorang lelaki berambut cokelat terang berdiri di ambang pintu dengan satu tangan bertolak pinggang, “Wah, kalian bersenang-senang tanpa aku, huh?.”

“Aishh….Oppa. Salah mu sendiri yang keluar terlalu lama.” Nam Yura, salah satu anak panti berucap.

“Ck, aku keluar untuk membelikan ice cream untuk kalian, tahu tidak?!.” Tukas lelaki itu seraya menunjukan satu tangannya yang menenteng kantung plastik putih berukuran sedang. “Ya sudah, aku makan sendiri saja ice cream ini.”

Semua anak-anak mendekati lelaki itu dengan cepat. Merayunya untuk memberikan ice cream. Lelaki itu tertawa sebelum membagikan apa yang ia bawa. Lalu ia menolehkan kepalanya ke arah Jina. Menghampiri gadis itu serauya tersenyum. “Ini untuk mu.” Ucap lelaki itu seraya menyodorkan satu bungkus cone ice cream ke arah Jina. Jina menerimanya dengan balas tersenyum, “Terimakasih, Baekhyun.”

Lelaki dengan nama lengkap Byun Baekhyun itu mengangguk. Lalu membuka bungkus ice cream miliknya. “Kau sudah mulai terbiasa disini?” Tanyanya sebelum menjilati ice cream cokelatnya.

Jina menarik nafas sebelum menjawabnya, “Yah, begitulah.”

“Aku tahu itu tidak akan mudah, kehilangan ibu mu itu pasti sangat berat.” Tutur Baekhyun, “Tapi setidaknya kau tahu seperti apa wajah orang tua mu. Wajah seseorang yang melahirkan mu. Tidak seperti kami yang bahkan tidak tahu siapa nama orang tua kami.” Lanjutnya. Jina tertegun. Membalas tatapan Baekhyun dengan tatapan yang sulit di artikan. “Kau harus selalu tersenyum dan tertawa seperti tadi. Ibu mu di surga pasti akan senang.”

Jina tersenyum. Ya, Baekhyun benar. Ia lebih beruntung karena ibunya pernah ada dan membesarkannya. Ia jauh lebih beruntung dari pada anak-anak lainnya di panti ini yang bahkan tidak pernah tahu seperti apa rupa orang tuanya.

“Dan juga…” Baekhyun menggantung kalimatnya, membuat Jina menunggu Baekhyun melanjutkan ucapan nya. “Kau terlihat sangat cantik jika tersenyum,” lanjut Baekhyun. Yang entah bagaimana membuat Jina menahan nafasnya untuk beberapa saat.

🍁🍁🍁

Kim Jong In menyadari satu hal. Bekerja pada Park Chanyeol harus membuatnya membuang jauh-jauh rasa manusiawinya. Dengan mata kepalanya, lelaki berkulit sedikit gelap itu sudah menyaksikan ratusan kali kekejaman yang di lakukan Chanyeol. Dan yang paling sangat menggetarkan naluri manusiawinya adalah pemandangan dimana Chanyeol menyuruh anak buahnya untuk menarik paksa seorang gadis belia dari keluarga yang memiliki hutang besar padanya yang tidak mampu terlunasi.

Seperti saat ini. Jeritan ketakutan masih terdengar dari gadis yang mengenakan seragam sekolah menengah atas itu. Pria dan wanita paruh baya yang Kim Jong In yakini adalah orang tua gadis itu mencoba menyelamatkan putri mereka. Sayangnya anak buah Chanyeol menghalanginya.

Dan Chanyeol?

Jangan tanyakan apa yang sedang di lakukan lelaki kejam itu sekarang. Chanyeol hanya menyedekapkan tangannya di depan dada. Tatapannya tidak berubah, selalu datar. Bahkan melihat pemandangan yang seharusnya menyentuh hati itu.

Kim Jong In tidak tahu, apa lelaki Park yang sudah di kenalnya sejak bangku sekolah itu masih memiliki hati?

Jong In lebih memilih melihat Chanyeol membunuh orang seperti kegiatan kesukaan Chanyeol. Dari pada harus melihat seorang gadis belia di rampas dari orangtuanya. Terlebih ia tahu dengan benar, hutang yang membesar itu adalah hasil dari permainan otak licik Chanyeol.

“Sialan !” Chanyeol mengumpat ketika menyadari wanita paruh baya itu mengeluarkan ponsel di dalam saku. Chanyeol bisa menebak dengan pasti siapa yang akan wanita itu hubungi. Polisi!

“Singkirkan mereka!” Perintah Chanyeol. Ia tidak takut jika harus berurusan dengan pihak berwajib. Toh, sudah puluhan kali ia membuktikan uangnya mampu menguasai jajaran penegak hukum. Hanya saja ia malas untuk berbelit-belit. Tawar menawar dengan orang-orang bermuka dua seperti mereka sangat tidak disukainya.

Lagi pula jika ada jalan yang lebih mudah kenapa harus melalui yang berbelit? Membungkam ke dua orang tua gadis itu dengan membunuhnya, Terlihat lebih mudah bukan?!

Chanyeol masuk ke dalam Chrysler Limousine hitamnya. Meninggalkan Jong In yang masih menatap pemandangan itu dengan sedikit meringis. Anak buah Chanyeol tidak main-main ketika Chanyeol memberi perintah untuk membunuh. Seperti sudah sangat terlatih dan terbiasa, mereka membunuh kedua orang itu dengan sekali gerakan yang mematahkan tulang leher dan kerongkongan mereka. Membuat jalur pasokan udara tidak memenuhi paru-parunya. Beberapa detik lagi Jong In yakin nyawa keduanya akan melayang begitu saja.

Kim Jong In melirik gadis yang semakin menjerit histeris itu, sebelum memutuskan untuk menghampiri gadis itu. Namun langkahnya tertahan ketika Chanyeol membuka pintu mobilnya, “Kau berani membuat ku menunggu, huh?.” Chanyeol menatap tajam Jong In yang sepertinya tidak terpengaruh dengan tatapan Chanyeol.

Oh, ayolah. Kim Jong In sudah terbiasa dengan tatapan tajam Chanyeol. Sudah menjadi hidangannya sehari-hari.

“Chan, bolehkah ak—“

“Masuk Kim Jong In!” Perintah Chanyeol dengan nada penekanan penuh peringatan. Jong In menghela nafas sebelum masuk ke dalam mobil mengikuti perintah Chanyeol.

Berani menentang lelaki Park itu, nyawanya melayang secara cuma-cuma. Dan Jong In masih ingin hidup untuk beberapa tahun ke depan.

🍁🍁🍁

OCTAGON, merupakan klub malam terbesar di korea yang sukses menempati posisi sembilan klub terbesar di tingkat international. Menjadi tempat hiburan malam yang memberikan fasilitas memuaskan bagi para pencari kesenangan malam. Alkohol-alkohol terbaik, disc jockey terbaik, penari striptease terbaik, bahkan sampai wanita-wanita panggilan terbaik yang tersedia di dalam klub itu. Jika kau ingin membooking seorang wanita namun takut akan terjangkit penyakit mematikan seperti AIDS, maka di sanalah tempat satu-satunya yang menjamin para wanita malamnya terbebas dari penyakit mematikan itu. Tentu itu tidak lepas dari pemilik klub yang mewajibkan pemeriksaan rutin bagi para wanita miliknya. Bahkan sampai satu minggu sekali. Tidak tanggung-tanggung, pemiliknya mendatangkan langsung salah satu dokter terbaik untuk pemeriksaan rutin itu.

Sejak tiga tahun lalu Octagon bahkan mengadakan penggalangan dana satu minggu sekali untuk di sumbangkan pada sebuah yayasan.

Pemiliknya?

tentu saja si mafia yang berada di antara iblis dan malaikat, Dark màrvos.

Penghuni klub yang tidak pernah sepi setiap harinya itu, satu tahun terakhir menjadi semakin ramai di datangi para kaum hawa. Bukan tanpa alasan. Mereka tentu ingin melihat langsung seorang pewaris muda Dark Màrvos yang sudah menjabat posisi pemimpin. Desas desus ketampanan yang di miliki si ‘ketua muda’ menarik banyak perhatian para wanita yang mengabaikan rasa takutnya untuk mencoba mendekati lelaki itu.

Chanyeol Park, lelaki itu selalu menjadi sorotan utama di setiap langkahnya menginjakan kaki di dalam Octagon, klub yang satu tahun terakhir ini sudah resmi menjadi miliknya.

Chanyeol mendudukan tubuhnya di atas soffa, di apit oleh ke empat temannya. Huang Zitao, Zhang Yixing, Kris Wu adalah lelaki berkewarganegaraan china yang merupakan kaki tangan Chanyeol dari negara tirai bambu itu. Sedangkan Oh Sehun, lelaki yang mewarnai rambutnya menjadi warna grey itu adalah seorang korea yang juga merupakan salah satu anggota kepercayaan Chanyeol.

Mereka berlima kerap terlihat bersama duduk di salah satu set soffa VVIP yang di sediakan di dalam klub. Menyita perhatian pengunjung terutama para wanita yang memuja hasil karya ciptaan tuhan pada garis wajah kelimanya.

Chanyeol sudah hendak meneguk bir keenamnya ketika tiba-tiba suara Tao menghentikan gerakannya, “Aku tidak melihat Jong In sejak hari kemarin.”

“Aku sedang memberi tugas padanya.” Jawab Chanyeol. Kemudian meneguk sedikit birnya.

Tao mengangguk.

“Tugas? Kau tidak memberitahu kami?” Tanya kris dengan alis bertautan. Biasanya Chanyeol akan memberi tahu mereka berlima jika ada sesuatu yang harus di urusi. Jadi wajar saja jika Kris sedikit terkejut karena kali ini Chanyeol tidak melibatkan dirinya.

Chanyeol menggendikan bahunya, “Bukan sesuatu yang penting. Hanya mencari gadis ingusan yang di cari Tuan Park.” Chanyeol memang selalu enggan memanggil sebutan ‘ayah’ pada lelaki yang darahnya mengalir di tubuhnya itu, jika di depan orang lain selain ayahnya sendiri dan Kim Jong In, tentu saja.

“Seorang gadis? Siapa?.” Tanya Sehun.

“Anak dari salah satu jalang Tuan Park.” Tukas Chanyeol, asal.

“Aku ingin lihat gadis itu,” timpal Yixing.

Chanyeol merogoh saku celananya. Mengeluarkan dompet kulitnya, lalu menarik satu foto yang terselip di antara kartu-kartu black cardnya.

Yixing meraih lembaran foto itu dengan semangat. Tao yang duduk di sebelahnya memiringkan kepalanya untuk ikut melihatnya.

“Wow. she’s a beautiful girl.” Komentar Yixing dan Tao bersamaan. Kris yang penasaran dengan cepat menarik lembaran foto itu. Melihat potret gadis yang Chanyeol maksud, kepalanya mengangguk menyetujui gadis itu memang cantik. “Dia type mu Chan. Sayang sekali dia adik mu.” Ucap Kris dengan senyum yang menggoda Chanyeol.

Chanyeol mendengus, “Cih, jangan karena aku dan gadis itu berasal dari darah yang sama, lantas kau menyebut dia adik ku, sialan!” Kris terkekeh mendengar gerutuan Chanyeol. Kebencian Chanyeol terhadap ayahnya ternyata sudah pada titik tak termaafkan rupanya.

“Kau tidak ingin melihatnya?.” Tanya Kris, menoleh pada Sehun.

“Aku tidak tertarik.” Balas lelaki grey itu, malas.

“Kau yakin? Gadis ini benar-benar menarik.” Ucap Kris seraya menyodorkan lembaran foto itu di depan Sehun. Sehun yang sedari tadi sedang menikmati pemandangan lantai dansa menoleh. Mendapati gambar seorang gadis di depannya. Keningnya berkerut, ia terdiam sejenak. Sehun merasa tidak asing dengan wajah itu. Tangannya terangkat menarik foto itu dari tangan Kris. Sedikit memutar mundur memorinya. Dan ia kemudian menemukan gadis itu di dalam ingatannya.

“Gadis ini….”

🍁TBC🍁

Iklan

4 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] You Can Call Me ‘Monster’? (Chapter 2)

  1. Annyeong authornim slam knal yak. aku udh bca dr chapter 1 tp bru comment maapkeeuun yaah. Aduuh thor demi kaos kaki jongin yg pling buluk ini kereeen pliis next chapter jgn lama2 yaaah #maksa. Aku ngguin looh update tan nyaaaah. Btw aku stju sma author’s note nya. Daebakk lah pkony. Dtggu next chap tor…

    Slam tjivok basah :-*

    • Hallo readersnim^^ salam kenal juga sayang ^^ makasih udh baca dan komen positif

      Aku usahain setiap minggu update. Apa lagi ada tanggapan positif ^^ seneng deh

      Salam peluk tempel ({})

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s