[EXOFFI FREELANCE] When I Must be Married (Chapter 6)

poster When I Must be Married chapter 6

When I Must be Married (Chapter 6)

By El Byun

Chaptered

Romance, Comedy, Married Life, Angst, Adult

Rating (PG-17)

Main Cast:

Baekhyun EXO | Song Hyohwa (OC)

Adittional Cast:

Sehun EXO | Song Shimin (OC)

EXO member and etc

Summary:

Nasib kehidupan pernikahan kami selalu ditentukan oleh orang lain. Tapi perasaan yang kami miliki tidak bisa ditentukan oleh orang lain.

Disclaimer:

FF ini asli dari jerih payah pikiran author. Jika ada kesamaan cerita, alur dan tokoh itu hanya kebetulan. Tidak ada niat untuk meniru atau menjiplak karya orang lain. Sebaliknya, don’t be plagiarsm please! Be good readers! Lanjutan fanfic ini belum pernah dipost sebelumnya.

– Pregnant quietly –

Sinar matahari belum mengintip dari persembunyiannya. Suara gemercik air terdengar dari arah wastafel kamar mandi milik Hyohwa. Ternyata dari pintu yang terkunci disana, Hyo tengah mengalami morning sick-nya yang pertama.

“Huek.. uhuk.. uhuk.. Huek!! Eotteokhae? Huek!”

Sudah 15 menit berlalu ia habiskan untuk mual muntah di sana. Di samping ia butuh teman, ia juga membutuhkan perhatian untuk membantunya mengatasi masalah-masalahnya. Tetapi ia tidak bisa membiarkan semua orang di belakangnya tahu. Segera saja Hyo mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang yang benar-benar ia butuhkan untuk membantunya.

“Jinji, apa aku harus menghubunginya? Tapi Baekhyun oppa lebih aku butuhkan saat ini. Jinji.. Oppa.. Jinji.. ani, oppa!”

tut tut.. “Kenapa tidak diangkat? Apa dia belum bangun?” karena tidak diangkat Hyo mencoba menghubunginya sekali lagi.

“Yeobseo?” akhirnya telepon itu diangkat.

“Oppa, tolong bantu aku! Aku sedang mual muntah sekarang, eotteokhae?” pinta Hyo merengek dengan gelisah menahan mualnya. Di sisi lain, Baekhyun dengan setengah sadar langsung bangkit dari posisi tidurnya.

“Mwo?” ia sedang berusaha mencari tempat aman untuk mengangkat teleponnya.

“Gidaryeo!”, umpatnya berbisik lalu berlari menuju kamar mandi dan menyalakan wastafel untuk menyamarkan suaranya.

“Mian, aku harus cari tempat aman untuk menghindari mereka. Wae??” Baekhyun mulai panik.

“Wae, Mwo? Kau tega membiarkanku seperti ini? Cepat katakan sesuatu supaya mual muntahku berhenti!” Hyohwa mulai tidak sabar.

“Bwo-hae?.. em, cobalah untuk menggosokkan minyak hangat atau menghirup aroma terapi supaya lebih relaks.” Akhirnya Baekhyun menemukan solusi yang bukan merupakan keinginan Hyo.

“Aniyo, bukan yang seperti itu yang aku maksud. Katakan sesuatu untukku atau nyanyikan sebuah lagu.” Sanggah Hyohwa menyalahkan solusi yang diberikan padanya.

“Menyanyi? Baiklah, mondeungeol geolgo neol durikin now ije dorikilsudo eobda..

“Ya, andwae!” pekik hyohwa

“Wae-yo?” baekhyun semakin geram. Di pagi buta seperti ini dan dalam posisi baru bangun, ide apa yang harus dikeluarkannya. Pikirannya buntu sekarang.

“Oppa, kau seharusnya menyanyi lagu anak-anak. Sekarang nyanyikan lagu ‘Tiga Beruang’ untukku!” pinta Hyo semakin emosi karena keinginannya belum terpenuhi. Baekhyun terpaku dengan permintaan Hyo yang aneh-aneh itu. Ini diluar dugaannya.

Gom semari ga, han chi-be-yi-so appa gom, omma gom, ae-gi gom…
Hyo mula cekikikan di sambungan teleponnya dan melupakan mual muntah yang ia alami.

“Stop!!” tiba-tiba ia menghentikannya.

“Apalagi?” Baekhyun menduga akan permintaan Hyo yang aneh lagi.

“Oppa, ppoppo!” rengek Hyo meminta belas kasihan. Selain permintaan yang aneh, tingkat emosinya juga menjadi labil.

“Eotteokhae? Kita bicara saja lewat telepon.” Umpat  Baekhyun yang dibuat kesal. Terdengar isakan tangis dari lawan bicaranya.

“Nde.. Nde.. Chagi, aku akan memberikan ciuman dengan sepenuh hatiku. Muuaacchh.. muuuachh.. muach!” bibir baekhyun bahkan sampai monyong-monyong di depan ponselnya. Akhirnya kisseu yang diberikan Baekhyun membuatnya merasa lebih baik.

“Gomawo Oppa!” Hyo terhenyak menyadari keadaannya sekarang.

“Saranghae, aegy! Jangan buat eommamu mual muntah lagi, arrasseo?”
Tak disadari, Hyo meneteskan air mata haru mendengarnya. Ia bahagia di tengah pahitnya kisah asmaranya, walaupun begitu ia tahu pria yang dicintainya begitu menyayangi anak yang dikandungnya.

Mungkin sudah bosan dengan kata berpisah yang terus menempel pada mereka. Mereka harus memulainya lagi dari nol yang baru saja mereka jalani. Usia mereka terlalu dini untuk memutuskan sesuatu dan mengambil keputusan dengan resiko besar, mereka belum memiliki keberanian itu. SEMBUNYI! Hanya itu usaha yang bisa mereka lakukan saat ini dan juga menjadi tantangan berat bagi Hyo karena dialah yang membawa dan merawat buah cinta mereka. Saat itu telah diputuskan bersama, sehingga di usia kandungannya menginjak 3 bulan, Hyo harus meninggalkan rumah bahkan secepatnya.

Flashback on

“Oppa, apa yang harus kita lakukan?” rengek Hyo bergelayutan di lengan Baekhyun. Jinji yang berada di tengah mereka mencoba memberi solusi. “Oh, bagaimana dengan eomma-mu? Kau bisa cerita padanya.”

“Ya, kau gila. Mengetahui Shimin hamil saja dia sudah shock-nya setengah mati. Bagaimana kalau aku juga menceritakan hal ini padanya, ia pasti bisa mati berdiri.” Umpat Hyo menolak saran itu mentah-mentah.

“Kalau begitu, appamu juga tidak mungkin. Ia bisa dicabut dari kerjasama bisnisnya dengan SM.” Jinji merinci lagi.

“Orang tuaku juga tidak mungkin. Jujur saja mereka masih belum menerima keputusanku untuk bercerai.” Baekhyun mencoba untuk menambahkan. Hal ini membuat masalah semakin rumit, tidak ada siapapun yang mereka percaya untuk membantu mengatasi masalah ini.

“Oppa, eotteokhae?” Hyo terus mendesak.

Sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal Baekhyun menjawab, “Menurutku, untuk saat ini kita tidak bisa berbicara pada siapapun.”

“Huh, seharusnya aku tidak ikut campur dalam urusan ini. Aigoo.” Umpat Jinji mengendus kesal karena ikut depresi.

“Itu semua salahmu oppa!!” tuduh Hyo.

“Mwo? Kau kenapa menuduhku? Kau sendiri bagaimana? Masih tidak mengaku salah juga?” balas Baekhyun tidak mau kalah.

“Kau kan yang merayuku? Dasar Baekhyun oppa pabo!” umpat Hyo membalas.

“Ya, siapa yang meminta ini duluan? Itu kan kau, jangan mengelak!” balas Baekhyun lagi.
Jinji berdecak kesal melihat kelakuan mereka. Begitu terlihat tidak bisa dipisahkan satu sama lain, karena sama-sama tidak mau mengalah.

“Arra, tapi setelah itu kau memaksaku.” Balas Hyo juga tak mau kalah.

“Itu karena aku pikir kita tak akan pernah berhubungan lagi. Tapi akhirnya juga begini, jadi usahaku sia-sia begitu?” Baekhyun mulai menyesali dirinya sendiri.

“Neo arra Jinji, aku hampir mati menjadi korban kebrutalannya. Byuntae!” umpat Hyo mencoba mengajak Jinji memahami keadaannya. Jinji yang saat itu hanya geleng kepala sambil menelan ludahnya berkali-kali karena mendengar pembicaraan vulgar di antara mereka.

“Ya, hentikan! Belum saatnya aku mengetahui pembicaraan yang seperti ini, arra. Kalian semua mesum!” umpat Jinji geram dengan pertengkaran yang tak berarti itu. Mendengar umpatannya, justru pasangan bertengkar itu malah diam dan melupakan debat yang sedang mereka lakukan.

~~~

Sejenak mereka berpikir dan merenung. “Oppa, jika usia kandunganku tiga bulan nanti kau harus mengantarku periksa ke dokter!” pinta Hyo merengek pada Baekhyun. Ternyata permintaan Hyo membuat Jinji terpikirkan sesuatu.

“Omo, tiga bulan nanti kau harus sudah pindah dari rumahmu. Karena semakin lama perutmu akan membesar maka akan semakin mudah ketahuan.” Jelas Jinji antusias. Memang rencana itu harus dipikirkan dengan matang, begitu pula dengan keputusan mereka untuk bersembunyi. Pada intinya hanyalah untuk menyembunyikan Hyohwa dari kerabat dan publik. Perdebatan terus berlangsung di antara Baekhyun, Hyohwa dan Jinji untuk mencari tempat yang aman.

“Oppa, kau kira membeli apartemen itu murah? Bagaimana kalau orang tuamu atau manajermu curiga kau tiba-tiba mengeluarkan uang yang cukup besar?” Hyo menyangsikan saran dari Baekhyun.

“Wae? Itu lebih aman daripada menginap di rumah orang lain. Kita bisa mencari lokasi yang dekat dengan dorm EXO, dengan begitu aku akan mudah untuk memantau keadaanmu.” Baekhyun masih kukuh dengan keputusannya. Hyo baru sadar bahwa pria di hadapannya mati-matian ingin melindunginya, bahkan ia hampir berkaca-kaca.

“Oppa, apa kau benar-benar mengkhawatirkanku? Aku jadi terharu.” Ungkap Hyo memeluk leher Baekhyun dengan mesranya. Jinji yang melihatnya menjadi risih sendiri, ia merasa kehadirannya tidak pada waktu dan tempatnya.

“Ya, kenapa jadi mellow drama begini? Ayo kita putuskan sekarang sebelum restoran ini tutup.” Ungkap Jinji yang sudah tidak sabar lagi.

“Hehe, sebenarnya aku juga tidak punya cukup uang untuk membeli apartemen sendiri. Tapi kita bisa menyewanya.” Gubrak, Jinji dan Hyo tidak percaya hal bodoh seperti ini akan terjadi. Baekhyun dengan polosnya mengaku tidak kuat membeli apartemen walaupun sebelumnya ngotot ingin membeli sebuah apartemen. Akhirnya keputusan diambil untuk menyewanya saja. (Waktu nulis ini masih awal februari 2015. Baekhyun juga bukan keturunan holkay laek Suho. Haha..)

“Oppa pabo.. pabo.. pabo..” Berkali-kali Hyo mencubit lengan Baekhyun yang berjalan di sampingnya. Mereka tengah dalam perjalanan pulang menuju pangkalan taksi. Walaupun hanya dengan berjalan kaki, Baekhyun dan Hyohwa tampak menikmati kebersamaannya. “Sudahlah, kalian jangan ribut di jalanan malam-malam begini.” Umpat Jinji yang terganggu dengan kebisingan akibat ulah sahabatnya.

“YA!”

BaekHyo tiba-tiba berteriak di kedua telinga Jinji dan membuatnya kaget. “Omo, apa kalian mau membuatku tuli eoh?” umpat Jinji yang masih mengusap telinganya.

“Jangan marah. Jika kau menjaga Hyo dengan baik aku akan tanggung kebutuhan kalian nanti.” Tawar Baekhyun yang membuat Jinji merekah memikirkan seberapa banyak uang dan barang yang akan dia dapatkan.

“Jeongmal? Ahh.. senangnya…” ungkap Jinji dengan girangnya dan berjalan semaunya sendiri. Melihatnya bahagia, BaekHyo melambatkan jalan mereka dan membiarkan Jinji jalan lebih dulu.

“Oppa, kau mau apa?” bisik Hyo bertanya karena Baekhyun terus menarik-narik lengan Hyo.

“Palliwa, sebelum dia berjalan lebih jauh.” Baekhyun mengisyaratkan dengan menepuk bibirnya dengan jari telunjuknya.

“Tapi ini di jalanan.” Ungkap Hyo ragu dan malu. Tak disangka dan diduga olehnya, Baekhyun menarik dagu Hyo pelan mengarah pada wajahnya. Setelah bibir itu bersentuhan, dengen cepat Baekhyun menarik pinggang Hyo hingga menempel padanya. Ciuman itu hanya sekedar lumatan-lumatan lembut tidak lebih. Mereka menyadari situasinya. Dari jauh Jinji sudah menduga ini akan terjadi, ia menunggu di bawah sinar lampu penerangan jalan. Mereka tidak khawatir orang-orang akan mengenali baekhyun sebagai member EXO. Karena jalan yang mereka lalui sungguh sepi, mungkin hanya 1-2 orang yang lewat. Dan mereka semua membawa mantel. Di akhir musim panas ini, suhu udara malam memang lumayan dingin.

Begitu mengetahui Jinji sedang menunggu, BaekHyo mempercepat langkah mereka menyusulnya. “Aigoo, aku seharusnya tahu ini akan terjadi. Kalian mau membodohiku eoh?” umpat Jinji kesal. “Mianhae!” sahut Hyo cepat. “Mianhae, Jinji. Ini belum seberapa, kami bahkan belum menyewa sebuah kamar. Tenang saja.” Sahut Baekhyun menggoda dengan memeluk pundak hyohwa dari samping. “Mwo!” umpat Jinji yang mulai merasa dipermainkan.

Hyohwa sadar hari semakin larut ia melepaskan pegangan baekhyun sebelum ia berulah lebih jauh lagi. “Ya, kau gila oppa. Ayo kita pulang chingu!” ajak Hyo menggandeng lengan sahabatnya menuju pintu taksi meninggalkan Baekhyun. “Ya.. ya.. ya..” Baekhyun mulai mengejar.

Flasback Off

Hyohwa sedang sarapan bersama keluarga Song lainnya. Di sana sedang ramai membicarakan Shimin. Sang eomma begitu antusias membicarakan kehamilan putrinya dengan terus membahas hasil USG yang dilakukan Shimin kemarin. “Omo! Hyo lihatlah, menarik sekali bukan? Kata dokter detak jantungnya sudah mulai berfungsi.” Hyo meresponnya dengan senyum dinginnya. Dalam hatinya ia juga merasa iri. Ia memegangi perutnya yang tersembunyi di balik meja besar itu.

Hyohwa mulai mengumpulkan nyalinya untuk berbicara. “Eomma, bolehkah aku bertanya sesuatu?” Hyo mencoba menyela pembicaraan di tengah kebersamaan keluarganya.

“Geurae, marhaebwa!” Eomma siap mendengarnya tapi hati Hyo mulai bergemuruh.

“Emm, aku akan pindah.” Mendengar pernyataan itu, semua menjadi melihat ke arah Hyo seduktif.

“Wae?” Tanya appanya penasaran.

“Kenapa harus pindah?” Tanya Eomma mulai cemas.

“Unnie, mianhae. Kau tak perlu menghindariku seperti ini. Eomma, jangan terlalu memperhatikanku pikirkan perasaan unnie juga.” Shimin merasa dirinya bersalah. Begitu banyak pertanyaan yang ditimbulkan, Hyo angkat bicara tentang kepindahannya.

“Eomma, appa, Shimin, mianhae. Aku pindah karena kuliah magang di tempat yang agak jauh dari rumah. Jadi aku akan pindah di dekat lokasi magangku.” Bohong Hyohwa. Wajah mereka terlihat percaya sekali kecuali Appa-nya.

“Kau kan bisa minta appa untuk memberikanmu mobil, jadi kau tidak usah repot-repot untuk pindah.” Jelas appa memberikan solusi dengan caranya. Hal inilah yang ia takutkan.

“Memangnya kapan kau akan pindah?” Tanya eomma mencari tahu.

“Secepatnya. Sebenarnya aku sudah mengemasi barang-barangku.” Jawab Hyo dengan senyum mengembang walaupun terkesan dipaksakan.

~~~

@Dorm

Para member EXO tengah bersiap-siap untuk pulang ke rumah. Selama seminggu ke depan EXO akan diliburkan dari semua kegiatan. Semua tampak sibuk dengan cara mereka masing-masing termasuk Baekhyun dan Sehun.

“Hyung, pulang ke rumah saja rapi sekali?” Tanya Chanyeol heran dengan penampilan Baekhyun yang tidak tampak seperti biasanya. Ia memasang banyak gaya dan sesekali merapikan pakaian dan menata rambutnya.

“Kau tidak bisa bayangkan rumah seperti apa yang akan ku kunjungi.” Ungkap Baekhyun berteka-teki.

“Mwo? Apa kau mau pergi ke club? Siang bolong begini, untuk mengencani yeoja-yeoja yang ada di sana?” tebak Chanyeol yang mulai liar. Akhir-akhir ini reputasi Baekhyun di mata member lain sedikit negatif. “Che..” umpat Baekhyun meremehkan tebakan itu. Ia tidak mengira bahwa reaksi yang ditimbulkan cukup ekstrem.

Tok.. tok..

”Hyung, apa kau mau titip salam lagi seperti biasanya?” ternyata Sehun datang untuk menawarkan jasanya. Semenjak bercerai, diam-diam baekhyun selalu menitipkan salam untuk hyohwa pada sehun sebelum sehun pulang. Hal itu menjadi rutinitas barunya.

“Ani. Kau pulanglah dengan selamat sampai di rumah.” Jawab Baekhyun santai dan masih sibuk dengan kegiatannya di depan cermin.

“Sehun, Hyung kita ini akan pergi ke club. Ia ingin mengencani yeoja cantik di sana. Jadi tidak perlu menawarkan diri. Lihat saja gayanya! Ck.. ck..” sahut Chanyeol yang terus menerocos saja.

“Ya, kau ini bicara apa? Aish..” umpat Baekhyun kesal.

Sehun akhirnya pulang lebih dulu. Sesampainya di depan rumah istrinya, ia mendengar keributan dari dalam rumah. Begitu ia akan membuka pintu justru Hyohwa kakak iparnya yang membuka pintu duluan dan pergi begitu saja mengacuhkan kehadiran Sehun yang sudah ada di depan pintu.

“Noona!” panggil Sehun.  Langkah Hyo terhenti mendengarnya dan segera berbalik dengan wajah yang kesal tentu saja.

“Kau mau kemana dengan koper sebesar itu?” Tanya Sehun yang juga memperhatikan bawaannya. Karena ia tak segera menjawab, Sehun bicara lagi dan kali ini ia menginformasikan sesuatu yang diketahuinya.

“Noona, hari ini Baekhyun Hyung tidak menitip salam untukmu. Katanya ia akan pergi ke club mencari hiburan dengan yeoja di sana.” Sehun memang polos. Dia bicara apa adanya yang telah ia dengar. Betapa geramnya Hyo mendengar berita itu, seperti disambar petir ia tidak menyangka Baekhyun mengingkari janjinya sendiri.

Di rumah, Sehun meminta penjelasan kepergian kakak iparnya dari rumah. “Mwo? Noona pindah?” Sehun tidak percaya. “Nde, sebenarnya Appa dan Eomma melarang tapi ia nekat untuk pergi.” Ungkap Shimin dengan sayu karena ditinggal saudaranya pergi dari rumah. “Wae, kasihan sekali noona. Hari ini bahkan Hyung tidak menitip salam padanya. Apa yang sedang terjadi sebenarnya?” sehun memandang pintu kepergian noona-nya dengan iba sambil memeluk Shimin yang sedang bersedih hati.

Hyo POV

‘Eoh, yang benar saja. Apa hari ini oppa pergi ke club dan melupakan janjinya bertemu denganku. Yeoja lain? Aarrgh.. apa dia sudah gila? Dia kan calon appa. Apa sikap seperti ini bisa menjadi panutan anaknya kelak? Keterlaluan..’ aku bergumam sendiri seperti orang gila di jalanan seperti ini. Sebaiknya kuhubungi dia secepatnya.

Tut.. “Yeob..” belum dijawab Hyo langsung mengoceh.

“Ya! Kenapa kau mengingkari janji kita dan pergi ke club seperti yang dikatakan Sehun tadi? Kau mau meracuni anakmu dengan nafsu kotormu itu?” Baru saja Baekhyun akan menanggapi, ia disela lagi oleh Hyo.

“Appa macam apa kau ini?…” belum selesai Hyo memaki, Baekhyun membalas.

“Ya! Kau ini bicara apa? Mengomel saja tanpa tahu kebenarannya. Ne, kau harus datang kemari secepatnya!” begitu selesai, sambungan pun langsung terputus diikuti pesan singkat dari Baekhyun.

“Di tempat ini?” umpat Hyo.

“Mwo, tempat apa ini? Benar besar dan tinggi. Memang benar lokasinya dekat dengan dorm EXO. Omo, inikah apartemen yang dimaksud?” ungkap Hyo berjingkrak tapi tidak berlebihan.

Walaupun Hyo anak yang berkecukupan, belum pernah sekalipun ia menyambangi apartemen. Ia hanya melihatnya lewat iklan televisi atau drama korea yang ia tonton sehari-hari. “21.. 21..” angka itu yang terus ia gumamkan saat melewati pintu lift sambil celingukan. Ia berhenti sejenak ketika angka itu sudah ada di depan matanya. Lalu ia membuka dengan pelan pintu yang sengaja tidak terkunci karena sedikit terbuka. Ia menduga Baekhyun telah mengetahui kapan kehadirannya kemudian ia ingin menunjukkannya dengan tanda itu. Begitu ia masuk, semua terasa hening tapi pemandangan di depannya membuatnya takjub. Semua terlihat berkelip dengan pancaran sinar matahari yang terang tapi temperature ruangan itu tidak terlalu hangat. Sinar yang menembus dinding kaca luar apartemen membuat semua dekorasi ruangan itu terlihar jelas. Seperti apartemen ini memang didedikasikan untuknya.

“Oppa, eodiga??”

Ia baru menyadari bahwa orang yang sangat penting dalam hal ini tidak ditemuinya di sana. Lalu sekelebat bayangan muncul di hadapannya dan menyambar bibirnya dan melekatkan tubuhnya erat, hal itu membuat Hyo tercekat dan tak sadar melepaskan genggaman tangannya dari koper yang sedari tadi ia pegangi. Merasa cumbuan itu semakin gila, Hyo berusaha melepaskannya dengan mendorong. Akhirnya terengah-engahlah nafas dua insan itu.

“Ya! Neo, michoseo?” umpat Hyo kesal dan masih berusaha menstabilkan nafasnya.

“Kau yang gila! Kenapa kau percaya dengan omongan sehun yang masih ingusan itu? Cerita itu hanya bualan Chanyeol. Neo arra?” Baekhyun membalas karena juga tersulut emosi. Hyohwa terhenyak mendengar dan melihat ekspresi Baekhyun yang marah untuk pertama kalinya.

“Oppa, aku…” Hyo mencoba untuk menjelaskan.

“Kau tahu betapa sulitnya aku untuk mendapatkan apartemen ini? Aku harus menyembunyikan identitasku, menawarnya hingga menguras tabungan pribadiku untuk menyewanya 6 bulan ke depan.” Baekhyun tidak sadar akan kemarahannya yang terus menekan Hyo. Ia yang sedang mengandung tiba-tiba saja tersungkur lemas tak berdaya. Begitu banyak tekanan yang ia hadapi karena ulahnya hari ini. Hati Baekhyun mencelos melihat wanitanya jatuh begitu saja.

“Ya, gwaenchana?” Baekhyun memegangi lengan Hyo untuk membantunya berdiri tegak.

“Oppa, mianhae! Aku tidak bermaksud begitu. Jeongmal mianhae!” pinta Hyo merengek. Dengan sikap seperti itu Baekhyun sungguh tidak bisa menolak.

“Arrasseo. Aku memaafkanmu. Tapi kau juga bodoh sekali mempercayai bualan murahan seperti itu.” Baekhyun kembali mengungkitnya setelah emosi mulai mereda.

“Kau pikir aku serius? Kekanak-kanakkan sekali, kau kan bisa mengganggapnya sebagai gurauan. Tak perlu marah-marah seperti itu di depanku.” bohong Hyo membalas. Ternyata emosi Baekhyun tersulut lagi.

“Kekanak-kanakan? Kau menuduhku selingkuh, mana mungkin aku tidak marah.. Apa aku harus benar-benar selingkuh agar kau bisa bergurau seperti itu? Keterlaluan sekali.” Umpat Baekhyun tak mau kalah seakan-akan ia sudah tidak takut lagi dengan omelan Hyohwa yang biasa ia dengar.

“Aku mengkhawatirkanmu. Aku takut kau meninggalkanku, arghh.. aish!!” ungkap Hyo sambil menahan sakit diperutnya.

“Gwaenchana? Terjadi sesuatu dengan aegy kita?” Tanya Baekhyun cemas. Hyo berusaha untuk menjawabnya sambil meremas perutnya.

“Nde, aku dari tadi pagi belum makan. Hiks..” rengek Hyo beraegyo.

“Ck, aigoo. Seharusnya aku tahu itu. Ini yang membuatku lebih takut kehilangan dirimu.” Umpat Baekhyun terkekeh. Ia tidak menyangka hal ini akan terjadi.

Baekhyun memapah Hyo ke meja makan di dekat dapur mungilnya. Segera saja ia memberikan makanan yang sudah ia siapkan tadi untuk Hyo makan. “Omo, masita! Kau harus mencobanya oppa!” ungkap Hyo kegirangan. Setelah menghabiskan beberapa makanan, Hyo mulai ceria lagi dan bertenaga.

“Kau sudah merasa lebih baik sekarang?” Baekhyun kagum dengan perubahan yang dialami Hyo saat ini.

“Nde, tapi aku merasa bersalah sekarang.” Balas Hyo dengan wajah yang murung berbeda dari sebelumnya.

“Wae?” Tanya Baekhyun penasaran.

“Sebenarnya, kepindahanku yang sudah direncanakan ini tidak direstui appa dan eomma.” Ungkap Hyo mengendus lemas.

“Mwo, kau..” tiba-tiba ponsel Baekhyun berdering.

“Yeobseo? Nde, eomma!” sahutnya. Begitu sambungan ditutup, Baekhyun bergegas untuk pergi.

“Eodi?” Tanya Hyo heran dengan sikap Baekhyun yang terburu-buru.

“Aku pulang ke rumah sebentar. Akhir-akhir ini kondisi appa menurun. Nanti aku pasti kembali. Bye!” pamit Baekhyun sambil mengecup kening Hyohwa sesaat.

“Aku juga mengkhawatirkannya. Hati-hati di jalan.”  Sahut Hyo lalu Baekhyun membalasnya dengan anggukan dan senyuman kecil kemudian pergi meninggalkannya sendiri di apartemennya.

TBC

Asekk, udah lebih dari setengah jalan nih. Siapkah readers untuk cerita yang berkonflik lagi? (kan, spoiler). Chapter ini memang pendek sekitar 3000-an kata. Tapi mungkin chapter2 berikutnya tidak akan kubagi 2 lagi. Biar readers pada puas dan nggak bingung baca per part-nya. (perhatian kali author nih?) #dijitakreaders.

Sampai jumpa di chapter 7. Readers harus siap imajinasi, otak, pikiran, dan yang pasti matanya. Well, chapter 7 full nanti bakalan panjang banget. Pastikan kalian tetep komen, yah!! Bye2 ^.^

 

Iklan

14 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] When I Must be Married (Chapter 6)

  1. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] Unforgettable Family (Prologue) | EXO FanFiction Indonesia

  2. Lotto La La La La 😹😹
    Cihinguuuu aku mau kasih saran nama Anak BaekHyo boleh kah???😚😚
    Kalo boleh aku minta email mu, nanti akan aku kirim lewat email 😊😊

    Kalo ga ada email… Fb pun bisa, Ig juga bisa, Twitter juga bisa, Line juga bisa
    Terserah cinguu aja😂😂

    Btw ff nya bikin gregetan loooh, jangan sampai anak yang dikandung Hyoo keguguran 😨😨

    Bikin yang lebih fantasi lagi ching, misalnya Baekhyun selingkuh sama Taeyeon Kek 😱😱

    Kann jadi tambah fantasitic 😂😂😂

    • hahay.. liat aja ntar critanya. kan belom sampe konflik. ini chap santai soalnya. hehe.. klo mau chat lngsung author bisa lwat line aja. di elizabeth_ikaa

  3. Gak papa deh sembunyi2 gtu..
    Yg pnting baekhyo tetap bersama.
    Ahh, manis banget moment mereka..
    Nextnya ditnggu ya kak el💕😘..

    Btw, aku kok gak setuju sehun polos yah😂😂 #gubrak
    Fighting.

    • maap ya sehun jd polos disini. soalnya dulu exo-l jaman jadul banget. gw ngertinya sehun nggak sebangsad sekarang. wkwkwk..

      yg sabar ya nunggu lanjutannya! makasih udah komen. kekekeke.. ^.^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s