I’m (not) Perfect – PROLOG (a) – Shaekiran

I'm (not) Perfect - poster.png

I’m (not) Perfect

A Fanfiction By Shaekiran

Main Cast(s)

Byun Baekhyun, Park Chanyeol, & Oh Sehun ft. Son Seungwan

Genre(s)

romance | family |bromance | hurt/comfort |friendship | angst | AU | worklife

Length Chaptered | Rating PG-15

Disclaimer

Standard disclaimer applied. Don’t copy or plagiarism without permisson. Happy reading~

.

previous chapter : Intro

.

Poster by ByunHyunji @ Poster Channel

.

PROLOG (a)

“Kau harus menjadi pewaris kekayaan Group Heongsuk!”

Pekikan keras itu tak ayal menghentak gendang telinga si bocah laki-laki. Dalam sekejap, badannya membiru seiring dengan cambuk yang mengenai kulitnya secepat kilat. Sedang telinganya kini berdengung karena teriakan yang sedari tadi mengaum di dalam ruangan berukuran 2 x 1 meter itu.

“Jawab aku! Kau harus menjadi pewaris harta kakekmu!”

Hiks.

“Jangan menangis bocah sialan! Aku tidak butuh air matamu, aku hanya butuh kau menjadi pewaris Group Heongsuk!”

“Ba-baiklah. A-aku akan menjadi pewaris.”

Dengan terbata, bibir mungil itu mengguman frasa lamat-lamat. Wajahnya membuang muka, takut bersitatap dengan mata nyalang milik pria dewasa di depannya itu.

“Bagus. Sekarang makan!”

Bocah itu menatap nampan berisi semangkuk bubur dingin dan segelas air putih di depannya tanpa minat. Namun melihat pria itu sudah memainkan cambuk di tangannya dan mengibas-ibaskan benda itu ke dinding sesekali, niatnya untuk menolak makan akhirnya urung juga. Badannya sudah terlalu sakit jika harus menerima cambukan lagi.

“Ba-baiklah. Se-selamat makan.” gumamnya sambil meraih nampan itu dan menyuapkan sesendok bubur ke dalam mulutnya. “Asin.” Gumamnya mengomentari dalam hati, tidak berani langsung bersuara kepada pria tinggi di depannya.

BRAKKK!

“Gelap. Aku takut gelap.” Ringis bocah itu tiba-tiba karena si pria baru saja keluar dari ruangan sempit itu, lalu menutup pintu dengan sangat keras. Satu-satunya pencahayaan dari luar ruangan pun akhirnya menghilang sudah, menyisakan gelap semata yang menyambut netra bocah itu.

Hiks.

Bocah itu menangis lagi sambil memeluk kakinya sendiri dengan tangan kurus miliknya, tidak peduli meski perutnya meronta minta diisi. Ia menganggurkan air putih dan bubur asin jatahnya hari ini. Bocah itu sudah kepalang ketakutan. 

DEG!

Ia memegangi dadanya yang mendadak sakit, jantungnya nampak berdenyut sangat nyeri.

“Kau harus menjadi pewaris kekayaan Group Heongsuk!”

“Arghhh!”

Pekiknya karena pendengarannya kini dipenuhi suara yang paling dibencinya itu. Dia benci kalimat itu, dia sangat membenci pria yang sudah mengurungnya itu. Bocah itu menutup kedua telinganya, berharap suara itu menghilang. Namun nyatanya suara-suara itu malah terdengar makin menjadi.

“Kau harus menjadi pewaris kekayaan Group Heongsuk!”

“Hentikan! Hentikan! Arghhhh!”

 

 

“Sayang.”

Bocah itu mendekat ketika seorang gadis ramping nan cantik memanggilnya sambil melambaikan tangan. Senyum wanita itu merekah dibalik bibir yang berbalut lipstick merah menyala, menyambut bocah berumur 5 tahun yang sekarang tengah berlari ke arahnya.

Eomma, lihat, tadi aku membuat pesawat kertas di sekolah.” ucap bocah itu semangat seketikanya sampai di depan sang wanita. Dengan gerakan cekatan bocah itu membuka tas ranselnya, lalu mengeluarkan sebuah pesawat kertas berwarna putih yang sudah hampir remuk.

“Wah, anak eomma memang pandai sekali.” puji wanita itu sambil menerima sodoran pesawat kertas dari putranya. Ia mengelus rambut bocah yang memasang tampang berseri-seri itu sambil tersenyum manis.

“Sayang, mau mengabulkan permintaan eomma kan?”

Hm, mau! Tentu saja mau. Kalau untuk eomma, aku akan melakukan apa saja!” ucap bocah itu super semangat, membuat gadis cantik itu semakin tersenyum lebar. Ia kembali mengelus surai hitam putranya. “Kau harus berjanji kepada eomma.” bisiknya yang segera mendapat persetujuan dari bocah itu.

“Berjanjilah, kau akan menghadiahi eomma sesuatu yang sangat besar.”

“Memangnya eomma ingin hadiah apa?” tanya bocah itu polos yang segera membuat wanita itu gemas. Ia mencubit pelan pipi putranya.

Sstt…jangan keras-keras. Ini rahasia kita berdua.”

“Baiklah eomma. Aku akan merahasiakannya, hanya rahasia kita berdua.” Senyum wanita itu makin merekah ketika mendengar kalimat persetujuan dari si bocah. Lantas ia membantu membuka tas ransel yang masih bertengger di punggung putranya, lalu menggenggam kedua tangan mungil itu dengan hangat.

“Berjanjilah kepada eomma, kau akan menjadi pewaris kekayaan kakek. Kau akan menjadi pewaris Group Heongsuk.”

Ne! Kalau itu membuat eomma senang, aku akan melakukannya.” vokal mungil itu dihadiahi elusan lagi di kepalanya, membuat senyum kecilnya merekah tanpa tau apa yang ada di balik senyum merah menyala milik sang ibu.

“Nah, sekarang kau ganti baju dan makan siang dulu, oke?” pinta sang ibu kemudian yang segera dijawab dengan anggukan kepala semangat bocah di depannya. “Baik eomma!” lantangnya sambil mulai berlari-lari kecil ke dalam kamar.

Wanita itu menatap punggung mungil yang perlahan menjauh dalam diam. Senyumnya merekah sempurna. Lantas dengan cepat ia memposisikan dirinya berdiri, lelah berjongkok sedari tadi demi menyejajarkan tingginya dengan bocah itu.

Tubuh rampingnya perlahan melangkah santai menuju sudut ruangan. Hentakan hak high heels yang ia pakai kini memenuhi ruang tamu yang didesain modern itu.

“Aku tidak butuh hadiah lain.” gumamnya kemudian ketika sampai di sudut ruangan dan menemukan sebuah tong sampah di sana.

Pluk.

“Aku hanya butuh kau menghadiahiku Group Heongsuk, sayang.” lanjutnya kemudian sambil membuang pesawat kertas yang diberikan bocah tadi kepadanya. Gadis itu lantas tertawa kecil, hampir mirip menyeringai.

“Group Heongsuk akan menjadi milikku, ya, hanya millikku seorang.”

 

 

“Dasar yatim piatu!”

“Lihat, dia tidak punya orangtua!”

“Dasar anak pungut!”

“Aku bukan anak pungut! Aku punya eomma dan appa, hanya saja mereka sedang pergi jauh!” pekik bocah itu tidak terima dengan ejekan bocah-bocah lain yang seumuran dengannya itu. Ia menutup telinganya rapat-rapat karena semua bocah itu nampak tidak peduli dengan pembelaan dirinya, ia benci kehidupan semacam ini.

“Anak pungut!”

“Orangtuanya membuangnya, haha!”

“Tidak ada yang menjemputnya, hanya babysitter saja setiap hari. Dasar bocah kesepian!”

“Tidak, tidak! Aku bukan anak pungut! Aku punya appa dan eomma. Tidak!” teriak bocah itu lagi membela diri, tetap menutup kedua gendang telinganya dan menutup mata ketakutan sambil berjongkok di tengah lapangan sementara bocah-bocah itu mengelilinginya dan mengeluarkan kalimat-kalimat hinaan lainnya yang membuat telinganya hampir pecah karena muak.

Hiks.

Ya! Kenapa kalian menghinanya?!”

Bocah itu membuka matanya, merasakan sesuatu yang hangat kini menyentuh kulitnya. Sebuah lengan kekar nampak menarik bocah itu ke dalam pelukannya, menolong bocah itu tanpa ragu.

“Kenapa menghinanya?! Dia bukan anak pungut! Dia anak yang berharga, jangan mengejeknya!”

Hiks.

Tangis bocah itu kembali pecah. Awalnya ia menangis karena dadanya sesak akan ejekan yang semakin menjadi, namun kali ini air matanya kembali turun karena kalimat pembelaan sederhana itu. Seseorang baru saja membelanya. Seseorang baru saja mempercayainya. Seseorang baru saja menganggapnya berharga.

Gwenchana, kau akan baik-baik saja bersamaku. Semuanya akan baik-baik saja.”

Mata bocah itu melebar ketika menemukan senyum yang merekah di wajah pria dewasa yang memeluknya itu. Bocah-bocah yang tadi menghinanya sudah pergi berlari terbirit-birit, meninggalkan bocah itu dan seorang asing yang baru saja memberikan harapan baru kepadanya. Bagikan seorang pahlawan yang muncul di siang bolong.

Ahjussi siapa?” tanyanya kemudian memberanikan diri yang segera dibalas dengan senyum yang makin merekah lebar.

“Siapa ahjussi? Ah, aku adalah pamanmu. Aku adik appa-mu. Dengar, aku akan melindungimu mulai sekarang. Ahjussi akan menjadi pengganti appa-mu. Mengerti?”

Mata bocah mungil itu makin melebar ketika mendengar penuturan pria yang masih betah memeluknya itu. Perlahan ia merasakan pandanganya makin meninggi. Rupanya, pria yang mengaku pamannya itu sudah menggendongnya di atas pundak.

“Kau suka digendong?” tanya pria itu yang segera dijawab dengan anggukan cepat.

“Ini pertama kalinya aku digendong seperti ini. Ahjussi yang pertama kali mengakuiku dan bahkan mau menggendongku.” Senyum pria itu kian melebar ketika mendapati jawaban jujur dari bocah polos itu.

“Mulai sekarang ahjussi akan menjadi harapanmu. Ahjussi akan menjagamu.”

Ne! Terimakasih ahjussi!” jawab bocah itu girang bukan main. Akhirnya, ada yang akan mengakuinya dan menganggapnya berharga.

“Aku menyayangi ahjussi.”

“Ya, aku juga sangat menyayangimu.”

“Sangat menyanyangimu, karena dengan memilikimu, kau akan membuatku menjadi pemilik Group Heongsuk.”

 

 

[to be continue]

 

Note :

Ada yang menebak yang mana Baekhyun, Chanyeol dan Sehun di prolog ini? >.<

Iklan

14 pemikiran pada “I’m (not) Perfect – PROLOG (a) – Shaekiran

  1. Ping balik: I’m (not) Perfect – PROLOG (b) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  2. In my opinion…
    Pertama chan. Secara dia kaya d teaser tumbuh jd anak depresi dan ambisius gitu menurutku.
    Kedua sehun, karena dia serasa disayang gitu sm ortunya makanya tumbuh jadi manja dan playboy
    Ketiga baek.
    Ditunggu chap 1 nya!

  3. Yang pertama Cy deh kayaknya..
    Soalnya kmren di Intro, dia yg pling dominan gtu utk mewarisi Kekayaan.
    Trus yg kedua sehun, soalnya dia sukanya kelayapan?😂😂 #plak
    Yg ke 4 baekhyun, iya kan?😞😁..

    Entahlah. Nunggu chapter 1nya keluar aja..
    Ditunggu yah eki😊

  4. Mungkin yg pertama itu chanyeol krm di teaser dia ambisius bangt buat dpt itu. Yg kedua sehun krn di teaser dia antar mau gk mau gitu buat jd pewaris. Di teaser karakternya yg palng gk keliatan tertekan juga. Trs yg terakhir baekhyun. Krn ahjussi nya bilang seolah” tu anak potensinya besar banget buat dpt warisan. Berarti kemungkinan baekhyun. Secara dia yg tertua antar tuh tiga anak.
    Itu sih cuman prediksiku aja…kutak sabar membaca lanjutannya~

  5. Yang pertama sehun krna ‘antara mau dan tidak mau’ dy kn dipaksa, yang kedua chanyeol krna ‘yg paling ambisius jdi pewaris'(hadiah buat ibunya), yg ketiga baekhyun krna ‘salah satu pewaris’ berarti mau diapain jg dy ttep pewaris, n tiap hari djemput baby sitter, kn cucu pemilik grup, ortunya sibuk ngurusin perusahaan(ato klo ga emg uda mninggal makanya pda pngen nguasai grup),,
    itulah hipotesis ku :v
    neexxxxttttt ><

  6. Chan yang pertama,mungkin karena iti dia berambisi banget jadi pemiliknya
    Kedua sih baek,mungkin karna iti dia ogah2an
    Terus ketiga sih magnae….
    Maybe…
    Lanjut ki….
    Plus satu yang aku minta,aku lupa judulnya pokoknya yang arestal itu kapan kamu upload ki pengen lanjut baca ceritanya,ma’af…
    Semangat nulisnya ki….

  7. Wahhhh kerennn, pasti ceritanya bakalan seruuuu.smua dgn tujuan yg sama.
    Tebakanku Baek yg pertama, Chanyeol kedua dan sehun ketiga. Maybe.wkwk.

  8. Ah kereeeenn, susah nebak mereka yang mana:( kayaknya yang di marahin itu chanyeol deeh. Terus yang di gendong itu.. baekhyun? Entah laaahh. Intinya aku udah gak sabaaarrrr mau baca iniiii hihihi ditunggu sekali nextnyaaa💜

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s