Gotta Be You – [7] Revenge – Shaekiran & Shiraayuki

gottabeyouposter.png

Gotta be You

A Collaboration Fanfiction by Shaekiran and Shiraayuki

 

Maincast

EXO’s Park Chanyeol and RV’s Bae Irene

Genre

Romance, campus-life, action, AU, angst, sad, etc.

Length

Chaptered

Rating

PG-15

DISCLAIMER

Lagi-lagi dengan Shaekiran & Shiraayuki, ada yang kenal?

Cerita ini adalah hasil buah pikiran kami berdua, second project collaboration from us. Merupakan perpaduan karya sepasang neutron otak yang bersinergi merangkai kata hingga menjadi sebuah cerita utuh. Standard disclaimer applied. Hope you like the story. Happy reading!

.

Poster by ByunHyunji @ Poster Channel

.

Previous Chapter

Teaser | 00. Prolog | 01. The Girl |02. The Boy |03. First Impression |04. Bad Behaviour |[5] Let’s Play |06. Kill Her |[NOW] 07. Revenge |

.

[ PLAY]

                                      .                                     .

“You’re so intense. If it’s not me, no one can win you.”—Danger; Taemin

.

.

previous chapter

“Kenapa?” tanya Kai yang bingung dengan sikap gelisah Chanyeol yang tiba-tiba. Chanyeol masih tidak mengacuhkan Kai, ia terlalu sibuk untuk melacak lokasi Irene sekarang ini.

“Sial, dia benar-beanr pulang ke apartemen!” pekik Chanyeol dalam hati dan segera menutup ponselnya. Chanyeol segera berdiri dari duduknya hingga makin membuat Kai bingung.

“Aku ada keperluan mendadak. Tolong ijinkan aku, bilang saja aku sakit atau apa, arraseo? Terimakasih Kai.” Ujar Chanyeol sambil segera berlari secepat mungkin keluar dari arena kampus. Kai hanya memandang kepergian Chanyeol dengan raut bingung. “Dia benar-beanr aneh,” batin Kai sambil lanjut mengunyah bulgogi-nya.

“Semoga masih sempat,” batin Chanyeol sambil berlari secepat mungkin dan menstop sebuah taxi yang lewat.

“Ahjussi, tolong ke apartemen Sokcho.”

 

Author’s Side

Taxi yang ditumpangi Chanyeol melaju kencang di jalan raya. Chanyeol sedari tadi fokus melacak keberadaan Irene lewat ponselnya, dan deru nafasnya kembali semakin cepat ketika menemukan Irene sudah sampai di gedung apartemen.

“Ahjussi, tolong lebih cepat,” pinta Chanyeol kepada supir taxi itu yang hanya bisa mengangguk. Chanyeol lantas memijit pelipisnya. “Tolong jangan mati dulu,” batin Chanyeol ketar-ketir.

 

 

Irene melangkahkah kakinya gontai menuju apartemennya. Gadis itu berjalan begitu santai sambil meletakkan ponselnya di telinga.

“Kau sudah mengurusnya?” vokal Irene yang segera berubah menjadi senyum kemenangan sedetik setelah lawan bicaranya menjawab pertanyaan Irene.

“Baiklah, lanjutkan. Aku sedang berjalan menuju apartemen,” kata gadis itu sambil menutup panggilan telfonnya. Dengan cepat dia pun memasukkan kembali ponsel mahal itu ke sling bag-nya, lalu kembali melangkah memasuki lift dan menekan lantai tempat apartemennya berada.

 

 

“Kita sudah sampai di apartemen Sok—“

“—Ini uangnya. Terimakasih ahjussi.”

Tanpa menunggu lagi, Chanyeol segera menyerahkan beberapa lembar won dan langsung melesat keluar dari dalam taxi. Dengan langkah tergesa lelaki itu berlari menuju ke dalam gedung. Baru akan menaiki lift, Chanyeol harus mendesah pasrah karena pintu besi itu sudah tertutup rapat.

“Lantai 5.” batin Chanyeol melihat tujuan lift itu. Akhirnya, Chanyeol berbelok dari depan lift menuju tangga. Saat sudah sampai di lantai 5, Chanyeol keluar dari tangga dan segera menuju lift. Syukurlah dia tepat waktu dan sempat masuk ke dalam kotak besi itu. Dengan cepat dia menekan angka 23, lalu dengan harap-harap cemas menuggu lift sampai di lantai apartemennya dengan tidak sabaran.

Ting!

Chanyeol segera mengerjap ketika pintu itu terbuka. Dengan tidak menunggu lama, pria jangkung itu segera melesat keluar dan berlari ke arah apartemen Irene. Namun, langkah cepat Chanyeol yang berlari itu harus berhenti ketika dengan mata kepalanya sendiri ia melihat Irene di depan pintu apartemennya.

 

 

Irene memangku tangannya sambil tersenyum miring. Gadis itu baru saja sampai di apartemennya ketika orang suruhan Sekretaris Ahn sudah berdiri di sana dengan seorang gadis yang menggunakan masker hitam.

“Selamat pagi, Nona Irene,” sapa orang suruhannya yang sudah mengikat gadis bermasker hitam itu. Irene mengangguk singkat, lalu berjalan mendekati kedua orang itu. Dengan gerak cepat Irene menaikkan tangannya, lalu segera menarik masker gadis itu dengan kasar.

“Jadi ini yang namanya Al?” batinnya dalam diam, sementara matanya menatap tajam salah satu haters-nya yang tertangkap itu.

“Dasar j*lang, kau pikir begitu mudahnya membunuhku, eoh?” sinis Irene ketika gadis dengan username Al itu hanya bisa menatap Irene sambil menahan air matanya.

Grep!

Akh!

Irene tersenyum puas saat gadis haters-nya itu meringis karena dia menjambak rambut ‘Al’ dengan sangat kuat. “Aku tidak sebodoh itu jatuh dalam jebakan. Gas? Kau pikir berapa harga apartemen ini sehingga bisa kebocoran gas, brengsek?!” bentak Irene masih menjambak gadis itu dengan sangat kuat hingga Al makin meringis.

Irene tersenyum puas ketika gadis itu hanya bisa meronta tanpa bisa melawan. Tawa kecilnya menguar ke udara ketika gadis berpakaian serba hitam di depannya memohon ampun. Ya, awalnya Irene merasa di atas awang, sebelum akhirnya ia berbalik dan mendapati sosok jangkung itu menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.

“Si Cupu?” beo Irene tiba-tiba karena melihat Chanyeol ada di sana, melihat semua yang dia lakukan pada Al.

“Cih.” Irene memalingkan mukanya, lalu melepas jambakannya pada Al dengan cepat. “Masukkan dia ke kantor polisi dan hukum seberat-beratnya, aku tidak peduli. Pergilah.” Titah Irene pada orang suruhannya yang segera mengangguk. Detik selanjutnya lelaki kekar bodyguard Irene itu sudah menarik gadis haters berkode Al tadi meninggalkan Irene yang kini diam mematung di tempat.

Selepas kepergian kedua orang itu, Irene menatap Chanyeol lamat-lamat. Ini aneh, Irene sudah terbiasa terpergok ketika sedang membully orang lain. Oh, dalam kasus ini Irene tidak membully karena gadis berkode Al itu sudah merencakan akan membunuhnya dengan gas beracun bersama teman-temannya. Tapi entah kenapa, saat Irene menangkap netra hitam Chanyeol disana menatapnya dengan begitu lekat, sedikit hati kecil Irene tercubit. Dia malu karena Chanyeol lagi-lagi melihatnya menjadi gadis semena-mena.

“Apa yang kau lakukan?” pertanyaan Chanyeol membuat gadis itu tersadar. Dengan cepat Irene menatap lelaki jangkung itu dengan nyalang. “Bukan urusanmu!” pekiknya lalu segera menekan digit password apartemennya. Lantas ketika pintu terbuka, Irene segera masuk dan membanting pintunya kuat-kuat. Irene memegangi dadanya yang berdetak sangat kencang.

Irene menyandarkan punggungnya di pintu yang sudah menutup. Perlahan tungkainya melemas hingga Irene yang tadinya dalam posisi berdiri kini sudah terduduk di atas lantai. Dia menangis. Dia ketakutan. Dia hampir saja mati untuk kesekian kalinya.

 

 

Chanyeol meremas rambutnya frustasi. Dia tidak habis pikir, bagaimana bisa Irene selamat begitu saja? Lantas pria jangkung itu melirik jam di pergelangan tangan kirinya, sudah hampir pukul 12 siang. Dia menghela nafasnya pelan, lalu segera meraih ponsel putihnya dan segera menghubungi Kai.

“Tolong amankan absentku di kelas Proffesor Song. Maaf, tapi aku ada urusan lain.”

Belum sempat Kai membalas ucapan Chanyeol, lelaki jangkung bermarga Park itu sudah memutus sambungan telfonnya secara sepihak. Chanyeol menghela nafasnya lalu memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku.

“Mencari tau apa yang terjadi itu lebih menyenangkan dan bermutu dibandingkan masuk kelas.” batin Chanyeol lalu mulai memasukkan password apartemennya. Lantas saat pintu itu sudah terbuka, Chanyeol langsung masuk ke dalam dan segera menuju ruang rahasianya; ruangan Zen.

Dengan gerak telaten Chanyeol segera menanggalkan tas ranselnya, lalu segera mengotak-atik komputer canggih di depannya—mengecek rekaman CCTV di dalam dan luar apartemen Irene. Satu helaan nafas pun lolos setelah Chanyeol tau apa yang baru saja terjadi. Irene benar-benar bukan gadis biasa.

Irene tau dia dijebak dan dia menghubungi Sekretaris Ahn yang segera mengirimkan seorang bodyguard untuk menangkap ‘Al’ —gadis haters yang ditugaskan kelompok anti Irene untuk meracuni gadis itu dengan beberapa zat kimia berbahaya. Melihat itu, Chanyeol merasa Irene benar-benar gadis yang awesome, mungkin? Gadis itu benar-benar berhati-hati, itu menurut Chanyeol.

“Dia pasti sering menghadapi haters,” ucap Chanyeol cukup terpesona bagaimana Irene menyelesaikan aksi rencana pembunuhannya itu. Tapi Chanyeol merasa aneh. Dia nampak berpikir sebentar. Lalu detik berikutnya dia segera membuka aplikasi hacker untuk meretas ID palsu yang dipakai masing-masing anggota haters Irene, termasuk dirinya sendiri yang memakai identitas Mrs.X

Dan betapa terkejutnya Chanyeol ketika menemukan satu ID disana adalah atas nama Irene. Ya, Xxxx ternyata adalah Irene. Gadis itu menggunakan ID yang disamarkan berasal dari Australia dan kode digit khas Selandia Baru yang sudah pasti dibeli gadis itu dengan harga sangat mahal dari salah satu hacker di luar sana. Chanyeol mendecih, meski penyamaran Irene sebagai Xxxx di grup haters-nya sendiri benar-benar terbilang perfect, itu belum bisa membodohi Chanyeol.

“Gadis yang benar-benar tidak bisa ditebak. Menyamar jadi haters-mu sendiri, eoh? Benar-benar menarik,” gumamnya sambil terkekeh pelan. Lantas Chanyeol pun beralih ke CCTV di dalam kamar Irene dimana dia bisa melihat sosok Irene yang menangis di belakang pintu.

“Dia pura-pura kuat di luar padahal rapuh di dalam ternyata,” ucap Chanyeol menyimpulkan sambil tersenyum miring. Lantas lelaki itu melihat kalender di atas meja, dan tertawa lagi.

“Aku punya rencana hebat Irene, dan aku rasa rencana ini sangat cocok untuk gadis naif sepertimu. Selamat bersenang-senang selama 26 hari ke depan, sayang.”

Chanyeol tertawa lebar, lalu segera meraih sesuatu dari dalam lacinya. “Bersiaplah, gadis manis.” Kekehnya sambil menyeringai sinis.

 

 

Irene membuka matanya yang menutup sejak tadi, lalu menyeka sisa-sisa air matanya sambil melirik jam Rolex di pergelangan tangan kirinya. Sudah hampir pukul 8 malam, pantas saja dia mulai merasa lapar. Eoh, tunggu, sudah berapa jam dia menangis hingga berakhir tertidur di atas lantai seperti ini? “Benar-benar memalukan,” batin gadis itu sambil bangkit berdiri.

Gadis bermarga Bae itu pun segera menuju dapur apartemennya. Dengan sedikit memutari minibar yang ada di dapurnya, Irene segera menuju kulkas dan membuka benda besar itu. Dengan cepat Irene mengeluarkan seplastik besar sereal gandum dan sebotol sedang jus jeruk dalam kemasan. Irene pun menyantap makan malamnya itu dengan lahap sambil membuka ponselnya, tertarik bagaimana reaksi group haters sialan itu ketika tau Al kini sudah mendekam di penjara.

 

Lee991 : Dasar gadis jalang!

Lala_97 : Bagaimana dengan Al eonnie? Astaga, Irene membuatku muak!

Lee991 : Ya, gadis itu benar-benar bedebah. Dia memasukkan Al ke dalam penjara. Bagaimana dia bisa tau kalau telefon mengenai gas bocoh itu adalah jebakan? Sialan!

 

Irene tertawa lebar melihat kekesalan dua orang yang tidak dia tau siapa itu, yang pasti mereka adalah kumpulan haters Irene. Lantas dengan cepat gadis itu mulai mengetikkan sesuatu di atas ponselnya, tersenyum miring lalu segera menekan tombol send.

 

Xxxx : Bukankah gadis itu benar-benar sesuatu?

 

Irene terkekeh. Bukankah sekarang dia terkesan memuji dirinya sendiri? Lantas tawanya makin menjadi-jadi ketika melihat balasan pesan dari haters-nya itu yang mengatakan tidak setuju dan kembali mengumpat kepada Irene.

“Ah, dasar manusia-manusia bodoh,” ucap Irene sambil mengunyah serealnya dengan nikmat. Irene kemudian menuang jus jeruknya ke dalam gelas, lalu menenggaknya dengan sekali tegukan.

Ting Tong!

Irene meletakkan gelasnya kembali ke atas meja, mematikan ponselnya lalu segera menoleh ke arah pintu apartemennya. “Siapa yang datang malam-malam seperti ini?” batinnya bingung. Namun gadis itu tetap berdiri dan mulai berjalan menuju pintu apartemennya.

Irene melirik interkom-nya, lalu menatap bingung seorang jangkung berpakaian serba hitam yang berdiri di luar sana menggunakan masker.

“Siapa?” tanya Irene, dan tamunya itu langsung menjawab dengan suara yang sangat berat. “Pengantar barang.”

Irene memicingkan matanya. Pikirnya dia tidak memesan apapun malam ini. Tapi Irene masa bodoh, dengan cepat gadis itu membuka pintu apartemennya hingga kini sosok sang pengantar barang sudah ada di depannya.

“Tanda tangan di sini, nona,” ucap orang itu sambil menyodorkan sebuah kotak kepada Irene. Gadis itu pun segera membubuhkan tanda-tangannya dan menerima benda seukuran kotak sepatu itu.

“Terima Ka—Uhmmmp” Irene membelalakkan matanya dan berontak ketika sosok pengantar barang di depannya tiba-tiba membekapnya dengan sapu tangan. Perlahan rontaan Irene berhenti. Mata gadis itu mengabur hingga akhirnya semua pandangannya berubah menjadi gelap. Dia pingsan.

 

 

Xxxx : Bukankah gadis itu benar-benar sesuatu?

 

Chanyeol tertawa kecil ketika membaca pesan itu. “Oh, dia gadis yang narsis,” kekeh Chanyeol sambil mengelap kamera kecil di tangannya. Lantas setelah merasa persiapannya selesai, lelaki jangkung itu segera berdiri dan keluar dari apartemennya dengan mengenakan pakaian pengantar barang serta masker hitam.

Ting tong!

Chanyeol menekan bel apartemen Irene beberapa kali hingga akhirnya gadis itu bertanya lewat interkom.

“Siapa?”

Chanyeol terkekeh pelan di dalam masker lalu segera menjawab dengan cepat, “Pengantar barang.”

Tak lama, pintu rumah Irene pun terbuka dan menampilkan sosok Irene yang masih mengenakan pakaian yang sama dengan yang tadi gadis itu kenakan. Chanyeol merapatkan topi hitamnya, sedikit menunduk, berusaha menghindar dari kontak mata langsung dengan Irene.

“Tanda tangan di sini, nona,” ucap Chanyeol kemudian sambil menyerahkan sebuah kotak kepada Irene. Dengan cepat gadis itu pun mengangguk dan mulai menandatangi sebuah kertas yang disodorkan oleh Chanyeol.

“Terima Ka—Uhmmmp” dengan cepat Chanyeol membekap mulut Irene dengan sapu tangan yang sebelumnya sudah ia masukkan obat bius dosisi tinggi. Chanyeol makin menyeringai ketika tak berapa lama kemudian Irene yang tadinya berontak berubah diam dan akhirnya pingsan.

Dengan cekatan Chanyeol pun mengangkat gadis itu dengan gaya bridal ke dalam apartemen Irene, menidurkan gadis itu di atas sofa dan mulai menjalankan rencananya.

 

 

Irene membuka matanya dengan susah payah. Lalu setelah matanya bisa membuka, ia mengerjap berkali-kali sambil melihat langit-langit tinggi yang asing di matanya. “Eh, aku dimana?” batin Irene sambil memegangi pelipisnya yang berdenyut, merasakan pusing yang masih menjalar di kepalanya. Dengan paksa Irene membuka selimut putih yang membungkusnya dan mendudukkan dirinya di atas sofa.

“Oh, kau sudah sadar?” Ditengah kebingungan yang melanda Irene, suara berat khas lelaki itu membuat Irene segera menoleh. Sosok Chanyeol dengan rambut basah segera memenuhi netra Irene, hingga dengan spontan gadis itu menutup bagian depan tubuhnya dengan selimut.

“Ke—kenapa kau disini?!” gugup Irene pada Chanyeol yang masih asyik melap rambutnya dengan handuk. “Bicara apa kau? Tentu saja aku di sini. Ini kan apartemenku, nona konglomerat.” jawab Chanyeol dengan santai dan mulai menghampiri Irene.

“Lalu kenapa aku bisa ada di apartemenmu, huh?” tanya Irene lagi tidak mau kalah. Tapi bukannya menjawab, Chanyeol malah berdiri di depan sofa yang diduduki Irene, sedikit membungkuk lalu meletakkan telapak tangan kanannya di dahi Irene sementara tangan kirinya di dahinya sendiri.

Irene terdiam, merasakan getar aneh yang kini memacu detak jantungnya secara mendadak.

Brugh.

Dengan kasar, Irene pun mendorong Chanyeol hingga lelaki itu hampir saja terjatuh ke lantai. “Apa yang kau lakukan? Jangan sentuh aku!” pekiknya lagi dengan pipi semerah tomat.

Bukannya tersinggung dengan perlakuan kasar Irene, Chanyeol malah tersenyum tipis. “Syukurlah kau tidak demam lagi. Kemarin aku benar-benar khawatir.” Ucapnya yang membuat detak Irene semakin menjadi dan rasa bingung yang meninggkat di saat bersamaan.

“A—apa maksudmu?” tanya Irene yang segera membuat Chanyeol menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.

“Bae Irene, kau benar-benar tidak mengingat apa yang terjadi kemarin?” gadis itu mengerjap, meneliti setiap pertanyaan Chanyeol. Kemarin katanya? Memangnya apa yang— Irene berhenti membatin ketika sekelebat bayangan seorang pengantar barang yang membiusnya hadir di memori. Gadis itu bergidik ngeri sambil membulatkan matanya takut.

“Kau sudah mengingatnya?” tanya Chanyeol yang segera membuat lamunan Irene terhenti. Gadis itu memandang Chanyeol dengan raut tidak percaya. Dia bahkan baru sadar kalau ujung bibir Chanyeol robek. Melihat itu entah kenapa detak jantung Irene semakin tidak sikron. Gadis Bae itu memandang seniornya di kampus itu lagi untuk kedua kalinya. “Jadi, si cupu ini menolongku?” batinnya yang tanpa sadar membuat pipinya memerah, terlebih Chanyeol sekarang tersenyum sangat manis kepadanya.

 

 

Chanyeol membuka maskernya, lalu melepaskan alat pengubah suara yang tadi dia pasang di balik telinganya untuk mengelabui Irene. Lelaki itu pun membuka kotak yang tadi dia dalihkan sebagai barang kiriman Irene dan mengeluarkan beberapa peralatan di dalam sana yang sudah dia susun di bawah boneka tedyy bear berdarah yang sudah dia siapkan.

Setelah mengambil dan memakai sarung tangan karetnya yang biasanya, Chanyeol pun mengecek setiap kamera pengintai yang sudah dia pasang di tempat Irene. Setelah merasa semuanya masih berfungi dengan baik, Chanyeol pun segera menuju kamar gadis itu dan melakukan hal yang sama. Dia memasang kamera pengintai super kecil di beberapa sudut kamar gadis itu yang bernuansa soft, jauh dari kepribadian Irene yang garang—menurut Chanyeol.  

Selesai dengan masalah kamera pengintai, Chanyeol pun keluar dari dalam kamar gadis itu dan menghampiri Irene yang masih pingsan efek obat biusnya. Akhirnya setelah memastikan keadaan masih aman, Chanyeol meraih ponsel Irene yang tergeletak begitu saja di atas meja dan mulai membuka ponsel canggih itu. 

Oh, kalian bertanya bagaimana caranya Chanyeol membuka ponsel Irene yang terkunci? Pertanyaan bodoh. Tentu saja Chanyeol bisa dengan mudah melakukannya. Dia itu hacker yang super handal.

“Ternyata benar dia,” kekeh Chanyeol ketika menemukan chat group haters Irene di ponsel gadis itu. bahkan Irene benar-benar mengirimkan pesan dari username Xxxx.

Tak mau berlama-lama, Chanyeol pun dengan cepat meretas ponsel Irene dengan memasukkan semacam flashdisk yang secara otomatis bisa menyalin semua data di dalam ponsel Irene. Setelah selesai dengan flashdisk-nya, Chanyeol pun memasukan semacam virus jinak buatannya yang juga berfungis meretas ponsel Irene. Dengan begini, Chanyeol bisa tau dimana keberadaan Irene dan siapa saja yang menghubungi gadis itu lewat ponselnya.

Selesai dengan ponsel yang kembali dia letakkan di atas meja seperti keadaan semula —disebelah mangkuk berisi sereal dan jus jeruk—Chanyeol kemudian mengambil kursi meja belajar Irene dan meletakkannya di tengah ruangan. Tak ketinggalan Chanyeol pun mengambil tali yang sudah dia seludupkan lewat kotak kiriman Irene tadi, dan mulai melingkari benda putih itu di atas kursi dan membuatnya secara alamiah seperti pernah mengikat seseorang disana.

Chanyeol menatap hasil karyanya malam ini. Terlihat hampir sempurna seperti asli. Dia pun terkekeh, lalu meraih kotak yang sekarang tinggal berisi boneka berdarah itu dan meletakkannya di bawah kursi. “Sekarang sempurna,” batinnya sambil tersenyum senang dan menatap Irene dengan tatapan penuh kemenangan.

Chanyeol pun mendekat ke arah Irene yang masih pingsan di atas sofa. Setelah memastikan tidak ada barangnya yang tertinggal, Chanyeol pun segera mengangkat Irene menuju apartemennya. Sesampainya di apartemen, Chanyeol segera meletakkan gadis itu di atas sofa putih lebarnya yang nyaman, lalu menyelimuti Irene dengan selimut putih yang dia ambil dari dalam kamarnya. 

“Tidur yang nyenyak, nona konglomerat,” batin Chanyeol meninggalkan Irene yang terlelap menuju ruangan rahasianya.  

Sesampainya di ruangan itu, Chanyeol segera membuka pakaian pengantar barangnya dan memasukkannya ke dalam lemari dengan rapi. Setelah itu Chanyeol segera mendudukkan dirinya di atas kursi dan mulai mengotak-atik komputernya. Sebuah senyum terukir di bibir Chanyeol setelah ia selesai mengganti rekaman CCTV dengan rekaman yang sudah dia siapkan secara sempurna. Setelah ini tugasnya selesai. Besok dia hanya perlu memoles diri dan Irene akan jatuh ke tangannya.

 

 

“Kau sudah mengingatnya?” pertanyaan Chanyeol untuk yang kedua kalinya segera membuat gadis itu tersentak. Dengan cepat Irene mengangguk, yang segera membuat Chanyeol bernafas lega. “Syukurlah. Apa yang terjadi kemarin? Kenapa kau bisa terikat seperti itu?” tanya Chanyeol kemudian dengan penasaran. Irene menatap Chanyeol dengan bingung, apa dia harus menceritakannya pada sunbae sekaligus tetangga yang sangat ia benci ini?

“Kenapa kau bisa menolongku?” tanya Irene kemudian balik bertanya, membuat Chanyeol kini harus menyerngitkan pelipisnya. “Ah, kemarin aku keluar apartemen dan berniat berbelanja di supermarket, tapi saat aku keluar aku merasakan hal aneh dengan apartemenmu.” jawab Chanyeol sambil menggaruk tengkuknya dengan asal.

“Hal aneh?” tanya Irene bingung, dan Chanyeol dengan cepat mengangguk.

“Oh, aku menemukan sebuah kotak yang sepertinya terjatuh di depan apartemenmu. Karena penasaran, aku mendekatinya dan ternyata isinya sebuah boneka berdarah. Karena kaget sekaligus khawatir padamu, aku menekan bel berkali-kali tapi kau tidak menjawab. Akhirnya aku nekat menerobos masuk dan malah menemukan ada seseorang yang tengah berusaha mengikatmu di kursi. Dia panik melihatku datang tiba-tiba dan segera berlari kabur. Aku berusaha menahannya tapi dia sangat kuat. Lihat, dia menghajarku di sini dan berhasil kabur.” jelas Chanyeol sambil menunjuk ujung bibirnya yang robek—robek hasil make-up buatan Chanyeol— dan tersenyum tipis.

“Maafkan aku. Seharusnya aku mengejar penjahatnya, tapi aku lebih mengkhawatirkanmu dan membiarkannya pergi begitu saja. Kemarin kau bahkan demam tinggi dan aku panik bukan main. Syukurlah sekarang kau baik-baik saja.”

Dan jantung Irene kembali berdetak di luar nalar gadis itu sendiri. Ayolah, apa yang terjadi dengan Irene sekarang?

Tiba-tiba Chanyeol mendekat dan itu membuat detak Irene semakin tidak karuan. “Hm, kompresmu. Err….kau sudah tidak demam lagi, jadi kau tidak butuh kain ini lagi.” kekeh Chanyeol kemudian sambil meraih sebuah kain putih basah —yang sepertinya jatuh saat Irene bangun— di belakang tubuh Irene dan memasukkan benda putih itu ke dalam baskom kecil yang ada di meja ruang tamu. Dengan cekatan Chayeol pun bangkit berdiri dan membawa baskom itu ke dapur, meninggalkan Irene yang sekarang merasa jantungnya mungkin saja copot karena deg-degan.

Tak berapa lama kemudian Chanyeol datang sambil membawa sebuah nampan berisi bubur, obat dan teh hangat. “Makanlah, aku rasa kau kelaparan karena kemarin aku hanya melihat sereal dan jus jeruk di dapurmu. Oh, dan setelah makan minum obat agar pusingmu hilang, arrraseo?”

Oh tolong Irene, jantungnya hampir meledak karena berdetak sangat cepat!

 

 

Gadis bermarga Bae itu menarik nafasnya dalam-dalam. Sekarang dia berada di dalam kamarnya di apartemen. Gadis itu sudah mandi dan mengenakan baju lengan panjang berwarna putih dengan liris ungu, celana jeans navy pendek setengah paha dan rambutnya dibiarkan tergerai begitu saja. Kali ini Irene tidak mengenakan high heels-nya, hanya menggunakan sepatu sport dari merk terkenal yang harganya mencapai puluhan juta won.

irenegby.jpg

Gadis itu lantas membuka pintu kamarnya dengan pelan, lalu menarik nafas panjang ketika menemukan sosok pria jangkung itu duduk dengan santai di atas sofa. Ya, Chanyeol ada disana.

 

“Kau mau kemana?” tanya Chanyeol ketika Irene berdiri dari posisi duduknya di atas sofa setelah selesai melahap bubur dan obat yang diberikan Chanyeol.  

“Mandi dan berganti pakaian di apartemenku, nerd. Aku punya jadwal kuliah hari ini.” jawab Irene masih ketus. Namun bukannya tersinggung, Chanyeol malah ikut berdiri dan tersenyum sangat lebar.

“Kajja, aku akan menemanimu. Aku takut orang jahat itu masih ada di apartemenmu atau bagaimana. Bahaya kalau kau sampai kenapa-kenapa karena sendirian.” Irene menatap Chanyeol tidak suka. “Memangnya apa pedulimu, eoh? Lebih baik kau pergi ke kampu saja sana!” bentak gadis itu meski hatinya masih berdetak tak karuan. 

“Entahlah, hanya saja aku selalu khawatir padamu” Chanyeol lantas melirik jam tangannya. “Sekarang masih pukul 8, tenang saja, aku tidak punya kelas pagi. Jadi biarkan aku menemanimu, arraseo?” lanjutnya lagi sambil tersenyum sangat manis. Entahlah, nerd itu benar-benar berbeda hari ini.

 

Irene menarik nafasnya lagi. Detik berikutnya gadis itu pun keluar dari dalam kamar sambil menenteng sling bag-nya seperti biasa. Irene mengibaskan rambut ungunya, lalu berdehem sebentar yang segera membuat Chanyeol menoleh. “Aku sudah selesai.” vokalnya kemudian yang hanya ditanggapi oleh anggukan pelan oleh Chanyeol.

Detik berikutnya kedua orang itu keluar bersama-sama dari dalam apartemen Irene. Hari ini Chanyeol menggunakan pakaian yang sangat santai, jeans hitam, kaos putih, dan kacamata serta ranselnya seperti biasanya. Irene tidak terlalu banyak bicara, begitu pula Chanyeol. Jadilah keduanya hanya diam membisu meski hanya ada mereka berdua di dalam lift.

194f1dbd7f8dad0af1955f18d337e501.jpeg

Sesampainya di lantai bawah, Irene dan Chanyeol berpisah. Lelaki bermarga Park itu lebih memilih keluar dari gedung apartemen dan berjalan menuju halte, sementara Irene kini menaiki mobil Mercedes mewahnya.

Harusnya Irene terus memacu mobil mewahnya itu di jalan raya dan melewati Chanyeol begitu saja, tapi entah kenapa hari ini Irene memberhentikan mobilnya tepat di sebelah Chanyeol yang berjalan di trotoar. Irene menekan klaksonnya dua kali yang segera membuat Chanyeol berhenti berjalan dan menoleh ke arah mobil hitam Irene. Gadis itu lalu membuka kaca gelap yang melapisi mobilnya.

“Naiklah nerd, anggap saja ini sebagai bayaran hutangku karena kau menolongku.”

 

 

Irene menghentikan laju mobilnya dan segera keluar dari kendaraan mewah itu sesampainya dia di arena kampus Universitas Seoul. Anehnya, gadis itu kini memasang raut cemberut, bahkan dia menutup pintu mobilnya dengan kasar.

“Cih, dia pikir dia siapa bisa menolak ajakanku? Padahal aku hanya bermurah hati padanya!” batinnya sambil menghentak-hentak sepatu sport putih yang gadis itu pakai dengan kesal. Oh, Irene sendiri heran bagaimana bisa dia mempunyai niatan untuk memberi tumpangan pada Chanyeol, dan sialnya lelaki itu menolak niat baik Irene. Gadis bermarga Bae itu bahkan bingung kenapa dia sekesal ini hanya karena Chanyeol menolaknya.

Irene lantas melangkah cepat-cepat menuju kelasnya, malas memikirkan Chanyeol yang tiba-tiba saja membuat emosinya naik.

 

 

“Kau kemana saja? Kenapa tidak hadir tadi pagi di kelas Proffesor jung? Dia menanyaimu, bodoh!” Kai berucap dengan cepat kepada Chanyeol yang baru tiba saat jam istirahat makan siang. Pemuda jangkung itu lantas mendudukkan bokongnya di kursi sebelah Kai dan dengan sepihak segera meminum jus jeruk milik pemuda tan itu.

“Ada urusan, tapi eoh, kau menyelamatkan absent-ku kan? Kau jawab apa tadi saat Proffseor menanyaiku?” balas Chanyeol dengan cepat sambil mengelap keringat di pelipisnya.

“Aku bilang saja kau ada urusan keluarga.” Chanyeol terdiam ketika mendengar jawaban sederhana dari Kai itu. Ah, keluarga?

“Oh, begitukah? Terimakasih Kai-ah.” jawab Chanyeol kemudian sambil tersenyum canggung.

“Omong-omong kenapa kau berkeringat? Kau berlari ke sini?” tanya Kai lagi dengan penasaran. Chanyeol dengan cepat mengangguk. “Tadi bis-nya benar-benar padat. Oh, panasnya. Rasanya aku ingin buka baju saja sekarang.” kata Chanyeol sambil terkekeh pelan dan mulai tertawa kecil. Mendengar itu Kai pun dengan cepat ikut tertawa entah kenapa meski jawaban Chanyeol sebenarnya tidak lucu sama sekali.

Mereka tidak tau saja kalau sedari tadi ada seorang gadis yang memandangi mereka berdua dari kejauhan. Irene, gadis itu meremas tissue di tangannya dengan kesal. “Kenapa dia harus membolos demi aku?” batin gadis itu mengingat tadi Chanyeol mengatakan tidak ada kelas pagi, tapi nyatanya lelaki itu berbohong demi menemani Irene.

Oh ayolah, Irene harus mengakui dia sangat takut kembali ke apartemennya untuk berganti pakaian, tapi mengingat ada Chanyeol bersamanya, Irene menjadi sedikit merasa tenang dan aman. Tapi kenapa Chanyeol harus membolos demi seorang Bae Irene yang selalu berkata kasar dan tidak pernah ramah padanya? Memangnya apa hubungan mereka selain tetangga dan senior-junior yang tidak akur?

Irene lantas mengumpat dalam hati kepada Chanyeol yang diam-diam berbuat baik padanya. Tolong ingatkan Irene kalau sekarang pipinya bersemu karena mengingat tingkah Chanyeol seharian ini kepadanya.

Oh, jangan bilang kalau Irene mulai menyukai Chanyeol cupu yang menyebalkan itu?

 

 

Minum obatmu—CY

Irene menyerngitkan keningnya ketika menemukan satu sebuah sticky note kuning di atas sekotak susu cokelat dan seplastik bening obat yang tadi pagi ia makan di rumah Chanyeol. “Tunggu, CY? Jangan bilang kalau ini dari si nerd itu!” batin Irene histeris karena menemukan sesuatu yang tidak dia sangka-sangka di atas meja belajarnya di dalam kelas.

Gadis itu melirik seisi kelasnya. Kosong. Oh, meski tanpa bertanya pun Irene sangat yakin kalau itu memang dari Chanyeol.

Deg. Deg.

Ayolah, sudah berapa kali jantung Irene berdetak kencang hanya karena perlakuan kecil dari Chanyeol?

Ting!

Suara nyaring dari ponsel gadis itu akhirnya menyelamatkan Irene dari detak jantungnya yang gila-gilaan. Dengan cepat gadis itu kemudian membuka sling bag-nya dan mengeluarkan ponselnya dari dalam sana.

 

Sekretaris Ahn : Ini rekaman CCTV yang nona minta. Apa saya perlu melaporkan ini ke pihak berwajib, nona?

 

Irene menghela nafasnya, lalu membalas pesan singkat itu dengan cepat.

 

To Sekretaris Ahn: Tidak perlu, pasti ulah haters lagi. Aku sudah bosan memasukan mereka ke penjara. Pastikan saja appa tau kalau aku diserang tadi malam.

 

Selesai mengirim pesan balasannya, Irene segera membuka video yang memang dia minta pada sekretarisnya itu tadi pagi —video rekaman CCTV saat orang yang menyamar sebagai pengantar barang itu membiusnya.

Irene terdiam sejenak. Tidak ada yang ganjal. Semua sama seperti yang diceritakan Chanyeol. Dan diam-diam, Irene merasakan hatinya menghangat.

 

 

Irene pulang ke apartemennya sekitar pukul 7 malam. Dia sampai di lantai 23 dan segera menekan nomor digit password-nya, dan—

Ting!

—Pintu apartemen Irene terbuka.

Harusnya gadis itu masuk saja ke dalam, kalau saja dia tidak melihat bercak darah di atas lantai apartemennya. Irene bergidik ngeri ketika melihat darah yang mengukir sesuatu itu. REVENGE—balas dendam.

Kyaaaa!

Irene berteriak sejadi-jadinya hingga sebuah rengkuhan hangat kini membuat Irene sedikit tenang. Bahu itu ada untuknya. Dada itu siap untuk menjadi sandarannya. Tangan itu dengan cepat memeluknya. Dan deru nafas itu berada dekat dengannya.

“Tenang Irene, aku ada di sini.”

Chanyeol ada untuknya.

Hiks, aku takut..” lirih Irene sambil menyembunyikan wajahnya di pelukan Chanyeol. Dia bahkan lupa seberapa bencinya dia dengan lelaki jangkung yang sekarang ada untuknya itu.

Stttgwenchana. Malam ini jangan tidur di apartemenmu. Tinggallah bersamaku dan aku akan menjagamu, Irene.” bisik lelaki itu kemudian yang seketika membuat Irene terhenyak.

Apa katanya tadi? Tingga bersama Chanyeol?

 

 

[to be continue]

 

Author’s Note

Maafkan kami berdua karena gak update sejak sebulan yg lalu. Maklum, authornya masih anak sekolah dan sebulan yang lalu musimnya UKK.

Salam kethcup ❤

Shaekiran & Shiraayuki

 

Iklan

24 pemikiran pada “Gotta Be You – [7] Revenge – Shaekiran & Shiraayuki

  1. Jadi takut sama orang yang baik di depan 😅 kalo di belakang kan kita gatau tuh orang gimana 😐
    Satu pelajaran berharga! Jangan mudah percaya sama orang yang baru dikenal tp langsung baik banget 😅 tp sebenernya jangan mudah percaya sama siapa aja sekalipun itu orang udah deket banget sama kita 😅

  2. Ping balik: Gotta Be You – [8] Kiss – Shaekiran & Shiraayuki | EXO FanFiction Indonesia

  3. Akhirnya dipost juga, kangen bgt ama nih ff,,

    sbetulnya chanyeol mau apa sih?? Apa dia mau buat supaya irene jatuh cinta trus nantinya dia bakal nyakitin irene gitu?? Hati hati loh yeol, entar lo juga jatuh cinta lagi ama irene,,! Kkkkk
    ntu yg bercak darah pasti kelakuan chanyeol lagi deh*sok tahu bgt sih lo*,, kkkk chanyeol MODUS hahahaha
    owh jadi authornya masih skolah? Btw udah pada kelas berapa?*kepo mode on*,, aku fikir authornya udah kuliah loh, soalnya jago bgt bkin ff kkkkk
    next yahh mian baru komen, baru slesai baca soalnya

    • Ffnya cuma dikangenin nih? Kakinya enggak nih? Hihiy 😄😄

      Hehe baca next chapternya aja, biar tahu hehey 😂 si chanyeol sama Irene penuh misteri~~ kami gak bisa jelasin apa-apa eaaq 😄😄

      Iya, masih sekolah nih, kami berdua naik kelas sebelas 😄😄

      wkwk, kami masih muda, dan ffnya astral gini, hehe 😂😂😂

      Thankyouuu for reading chingu-yaaa 😘

    • Hehe, belum waktunya mesra-mesraan masih bulan puasa nihh ahh 😄😄

      sudah di update ~ thankyou yaa 😍

    • wkwk, si Ceye bisa jadi kali, ya, jatuh cinta sama mba Irene 😄 soalnya ‘kan mba Irene ‘kan cakep gitu 😍

      hehe, Irene gak mungkin gak baper, ya? 😂

      Thankyouuu for reading chingu-yaaa 😘

    • Wkwkw, si Ceye bisa jadi kali, ya, jilat ludah sendiri 😄😄 siapa sih yang gak kesem-sem sama mba Irene yang goddes gitu 😍

      Thankyouuu ya chinguu 😘

    • Wkwk bisa jadi kali, ya? 😄😄 Siapa yang tahu hati seorang Ceye? Nerd tampan, hehey 😄😄

      Thankyouuu for reading chingu-yaaa 😘

  4. Huah ka eki ka Yuki Ak lngsung komen sini aja yak
    Soalnya lngsung Bca full dri chap1
    Aku penasaran Sma kematian Appa Sma eommanya chanyeol Kya ada yg janggal.
    Next klo ending2nya chanyeol Gk Jdi bnuh Irene
    Ko Kya mainstream ya, tpi aku percaya ko Sma ka eki & Yuki ff klian selalu menarik, fighting ka

    • Hihi gak apa-apa, slow aja eaa 😄
      janggal gimana nih? masih misteri dan bakal ketahuan di chapter-chapter selanjutnya yashh 😆

      Eh-eh, endingnya udah disusun secara rapi loh, jangan kaget nanti yaaa 😋

      Thankyouuu for reading chingu-yaaa 😘

    • *amiin* wkwkwk… ceye bisa-bisa senjata makan tuan nanti 😂

      Thankyouuu for reading chinguuuu~ 😘

  5. Yaammppuuunnn ini apaaa?? >< tp itu smua sandiwaranya ceye kn,,
    trus rkaman cctv yg dlaporin skretaris ahn tu cctv yg dmna? Gmna ceye bkin copyannya trus diedit?
    Woo jdi kek gtu yaa visualnya ceye wktu d kampus, hehe cupu bgt :3 skalian dnk wktu dy jdi zen hihii psti cakep
    Dtnggu lnjutannya tgl 23 eki n yuuki :* FIGTHING!!!

    • Wkwk jawabannya nanti ketahuan di chapter-chapter selanjutnya, ya *ketawa jahat* Ceye mah mau cupu mau gimana aja tetep ganss😍😍

      Thanks yaa 😘

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s