[SUHO BITRHDAY PROJECT] Sekolah – DieJungs88

timeline_20170608_005340

Suho EXO || School Life || G

.

.

Junmyun menatap sosok yang berdiri kaku di hadapannya. Kali itu menjadi pertemuan kesekian kali bagi mereka, tapi bukan mengacu pada hal yang akan membaik. Masalah tetap menjadi masalah dan mereka tetaplah diri mereka, sekalipun perbincangan menjelma menjadi omong kosong belaka. Aroma besi rongsokan menguar saat mereka memutuskan untuk saling melewati. Walau ada rasa ingin menghentikan, tapi nyatanya Junmyun hanya membiarkan anak itu pergi –duduk di bangku rapuh yang penuh akan coretan untuk menerima hujatan dunia.

Sohye hanya berdiri terpaku. Junmyun menatap perempuan itu yang juga menatap dirinya. Mereka saling bertatapan tapi pikiran mereka ada pada hal lain –bukan untuk satu sama lain. Bising-bising yang terdengar seakan hanya angin lalu saja, keramaian yang tercipta tidak terkendali menambah entitas pecundangan, dan anak itu tetap diam dalam dunia kejamnya.

“Suho.” Junmyun memanggil nama anak itu –yang sepertinya begitu terkejut, seperti ada tarikan kuat dari luar, seperti berpindah dari dimensi satu ke dimensi lainnya. “Ikutlah denganku.” Dia berusaha menanamkan keyakinan meski anak itu tak akan memercayainya.

Mereka berjalan dalam kelengangan. Saling tak acuh walau saling melirik, tapi tak jua berjujur-jujuran. Friksi-friksi kelamnya dunia yang mengancam kematian berkeliaran dengan senyuman maut yang kapanpun bisa membunuh. Takut menjadi rasa yang nyata, kebohongan menjadi landasan, sedang kesetiaan hilang bersama imajinasi. Sungguh persahabatan yang memuakkan.

“Masuklah.”

Suara Junmyun memecah keheningan. Suho menatap mata lelaki awal empat puluhan itu, memohon dengan segenap dirinya, memberikan keraguan yang bercampur-campur dengan ketidak inginannya. Meski Junmyun hanyalah diam membisu menatap dirinya, Suho tahu dia tak dapat menolak.

Junmyun pun begitu. Menatap ruangan itu seakan ajalnya bisa menjemput kapan saja. Hari-hari ruangan itu diisi oleh seorang teman yang menunggui. Dia duduk teratur dengan rotan yang semakin membengkok dari hari ke hari dengan bekas lecutan tak memudar. Dia pun ragu, tapi mau bagaimana pula dia harus bersikap sebagaimana seharusnya.

Sebenarnya bukan hal yang terlalu menakutkan, hanya kelihatannya saja yang begitu. Mereka duduk berhadapan dengan sebuah meja bundar dan dua kursi besi berkarat. Saling menatap hingga kemudian yang satunya membuang wajah ke tempat lain. Bukan Junmyun, dia ingin menatapi wajah Suho lamat-lamat. Pertemuan terakhir mereka adalah dua bulan yang lalu, bersamaan dengan sepucuk surat yang membawa berita duka.

“Suho.” Junmyun memanggil nama anak itu –lagi. Mata cekung menghitam dan gurat kelelahannya, sebegitu menderitakah? Bisakah dirinya yang menggantikan rasa pesakitan anak itu? “Kamu… Bagaimana kabarmu?”

Hanya ada gelengan putus asa sebelum kemudian anak itu mulai bermain dengan kuku-kuku jarinya yang terlihat kusam dan kering.

“Suho, cobalah untuk jujur kepadaku. Kamu bisa mengatakan segalanya.”

Suho tidak memiliki keinginan sekecil apapun untuk mengeluarkan suara. Dia malah terus sibuk dengan kuku-kukunya, –bermain dengan kesunyian hingga bunyi yang dihasilkannya seakan-akan pembunuhan terencana, merambati udara, masuk ke rongga telinga. Pandangannya tak beraturan, terus ke segala arah menatapi ruang kosong melompong dengan rotan berdiri mengejek di sudut ruangan.

Ada sesuatu yang tercermin dalam pribadi anak itu. Junmyun menyadari hal tersebut saat netranya menelusuri manik redup yang kian mengeruh milik Suho. Sesuatu seperti salah satu jiwa Hittler yang terkekang dan memberontak untuk dibebaskan. Seperti bom waktu, anak itu menunggu untuk segalanya hingga terasa mantap bagi dirinya –untuk memberontak dan melawan. Junmyun juga melihat ada cerminan dirinya. Benar-benar cerminan dirinya, seperti bagaimana dia hidup di kala kecilnya yang begitu miris hingga ingin membuatnya menangis.

“Aku tidak membunuh mereka.” Suaranya terdengar begitu ambigu –antara nyata dan ilusi, antara iya dan tidak, karena terperangkap untuk waktu yang lama.

Junmyun menghela napasnya pelan, mengambil kedua tangan Suho, dan menggenggam keduanya dengan begitu hati-hati. “Kami tahu, Suho. Semua orang tahu.”

Seketika wajah anak itu berladung air mata. Junmyun tak dapat melihat cerminan dirinya lagi, apalagi Hittler yang telah bersembunyi. “Tapi orang-orang menyalahkanku.” Suho menarik kedua tangannya, beralih untuk menghapus air mata yang semakin deras daripada menerima ketenangan yang disalurkan oleh Junmyun.

“Suho…” Junmyun berusaha untuk menenangkan Suho, tapi dia gagal.

Anak itu dengan cepat langsung memotong pembicaraannya. “Aku tak ingin sekolah lagi.” Hingga rasanya Junmyun telah menemui titik baliknya. Dia tak dapat membiarkan hal tersebut untuk terjadi.

“Sekolah tidak menolakmu, Suho. Peraturan membuatmu tak bersalah.”

“Tapi peraturan tak dapat membelaku, orang-orang yang melakukannya!” Persetan dengan demokrasi yang katanya memakmurkan. Faktanya liberalisasi seakan mencekik, sedangkan komunisme menggencat diri. Egalitarian yang diagung-agungkan entah pergi ke mana, komisi-komisi tindak hukum tak memberi kepastian, kaum minoritas memilih menutup mata, di lain sisi kaum mayoritas merajai segalanya. “Sekolah hanya sebagai tempat pembunuhan.”

“Kau punya teman-temanmu.”

“Mereka menolakku. Anda pikir, siapa yang mengolokku? Siapa yang mencemoohku?”

Tangisnya kembali terdengar, lebih terasa seperti penyerahan diri, kepasrahan, dan menyiksa batin. Mereka kembali terdiam dan meresapi nilai-nilai kehidupan satu sama lainnya –mencoba mencari apa hal yang menghilang hingga rasanya begitu menyesakkan. Mereka kehilangan kebahagiaan, keadilan, dan kepercayaan.

“Dunia luar tidak menerima seorang rendahan. Jika kamu tidak memiliki pegangan, lalu kamu anggap apa diriku ini?”

Suho terlihat bimbang, menimbang-ningbang apa pula yang harus diberatkan olehnya. “Anda tidak tahu apa yang saya rasakan, Pak.” Suaranya terdengar lebih serak dan seperti tersangkut di pangkal tenggorokannya.

“Saya tahu, karena itu saya di sini.” Junmyun rasa dia telah menemukan akhir sebagai awal yang dia tunggu-tunggu. Walau tak sama dengan apa yang diinginkannya, itu bukanlah masalah utamanya untuk saat ini. “Karena itu saya menjadi guru bagi kamu.”

Mereka kembali terdiam, tapi tak berselang lama. Suho berdiri, masih dengan air mata yang enggan terhenti, dia membungkukkan tubuhnya. “Terima kasih. Terima kasih telah menjadi guru saya, Pak.”

Anak itu berlalu pergi. Dia membuka pintu yang tak sepenuhnya tertutup dengan tangan bergetar. Pasti berat baginya. Hidup di dunia yang terus menolak dan mencemooh dirinya, entah anak itu akan bisa atau tidak. Tapi Junmyun masih ada, dia akan berusaha menjadi sandaran dan alasan bagi anak itu untuk terus bertahan.

Karena dunia adalah bagaimana seseorang memandang hal tersebut, maka dia akan membimbing anak itu menuju dunia yang lebih baik.

Karena dia adalah seorang guru, yang bertanggung jawab kepada muridnya.

END

Note: Konflik sosial, bullying, konseling.

Iklan

Satu pemikiran pada “[SUHO BITRHDAY PROJECT] Sekolah – DieJungs88

  1. Ping balik: [SUHO BITRHDAY PROJECT] Sekolah – DieJungs88 – diejungs88

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s