[SUHO BIRTHDAY PROJECT] When Suho Becomes a Father – hyerassi

timeline_20170606_202845

When Suho Becomes a Father – hyerassi
Kim Suho & Kim Emily || Family – AU || PG-13

Suho turun dari mobilnya dengan tergesa-gesa. Dia sedikit berlari menghampiri putri semata wayangnya yang tengah duduk ditemani seorang wanita. Namun meskipun begitu, Emily ㅡputrinyaㅡ terlihat sedikit murung.

Wanita tersebut adalah guru Emily. Dia kemudian menjelaskan apa yang telah terjadi pada Suho kala pria itu sampai di depan mereka. Hingga pada akhirnya wanita itu pamit untuk masuk kembali ke gedung sekolah Emily.

Emily masih siswa Taman Kanak-kanak. Tapi karena sekolahnya elit, Emily terbiasa naik bus antar-jemput milik sekolah ketika pulang. Iya, ketika pulang saja, karena Suho selalu mengantarnya setiap pagi.

Tetapi hari ini Suho menerima pesan dari guru Emily

yang mengatakan bahwa putrinya tidak mau pulang dengan naik bus. Hal itu tentu saja membuat Suho khawatir, Emily tidak biasanya seperti ini. Maka dari itu dia segera pergi meninggalkan kantornya di jam kerja. Lagipula tak akan ada yang berani memarahinya karena dia seorang CEO.

Catat, seorang CEO.

Suho memilih duduk di samping Emily daripada langsung mengajaknya ke mobil. “Kenapa putri appa tidak mau pulang?”

“Aku tidak mau bersama teman-teman,” bibir cherry milik Emily mengerucut lantaran sebal. Kebiasaan ini mengingatkan Suho pada mendiang istrinya. Dia sangat bersyukur karena Emily benar-benar mewarisi wajah Joohyun ㅡsang istri.

Suho seperti melihat sosok Joohyun versi kecil tiap kali melihat Emily. Setidaknya hal itu bisa mengobati kerinduannya akan Joohyun.

Jika saja Joohyun tak meninggal saat melahirkan Emily, kebahagiaan Suho pasti akan terasa benar-benar lengkap.

“Ada apa?” Suho mengusap surai hitam Emily.

Emily akhirnya menegakkan kepalanya dan menoleh ke arah Suho dengan mata berkaca-kaca. “Appa, bisakah kita menghidupkan orang yang telah mati seperti di film yang aku tonton?”

Kening Suho berkerut, dia berhenti mengusap rambut Emily dan menatap putrinya dengan sayang. “Tentu tidak, sayang. Itu hanyaㅡ”

“Tapi… Aku ingin eomma hidup lagi,” mata Emily mulai berair. “Bisakah kita bangunkan eomma sebentar saja?”

“Apa yang membuatmu berkata seperti itu, sayang?” tanya Suho dengan sabar. Mendengar ucapan putrinya baru saja entah mengapa dia merasa sedih.

Emily mengusap matanya dan mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah kertas. Dia lalu memberikannya kepada Suho.

Mata Suho membaca dengan seksama kalimat demi kalimat yang tertera di atas kertas tersebut. Rupanya sebuah acara kecil sekolah yang ditujukan kepada para ibu. Suho menelan ludahnya dengan berat.

“Teman-teman mengejekku karena aku tidak punya eomma…” gumam Emily. Gadis itu akhirnya menangis.

Suho mengambil posisi berlutut di depan Emily. Dia memeluk putrinya dengan erat dan menepuk punggungnya untuk berusaha membuatnya lebih tenang. Suho mengusap air mata putri semata wayangnya. “Kau punya eomma yang paling baik dan paling cantik sedunia.”

“Benarkah?”

“Tentu saja. Putri appa sangat cantik, sama seperti eommanya.”

Emily masih sesenggukan kala Suho mengecup hidungnya.

“Eomma akan sedih jika kau menangis seperti ini. Eomma akan memarahi appa jika membiarkan kau menangis. Jadi, bisakah putri appa berhenti menangis?”

“Aku rindu eomma…”

Dalam hati Suho juga berkata demikian. Dia tersenyum. “Tidak peduli apapun yang dikatakan orang lain, kau akan selalu menjadi putri kesayangan eomma dan appa. Apakah kau tahu jika eomma selalu bersama kita?”

Emily menggeleng. “Memangnya eomma ada di mana?”

“Di sini,” Suho menggenggam tangan kanan Emily dan mengarahkan tangan tersebut di dada bagian kiri. Menandakan sebuah hati. “Eomma selalu di sini.”

Perlahan senyum Emily merekah.

“Hey, bagaimana kalau kita membolos saja dari acara itu?” tanya Suho.

“Memangnya boleh?”

“Tentu saja! Tapi kau harus berjanji untuk memaafkan teman-temanmu.”

“Tidak mau.”

“Kau yakin? Bahkan untuk es krim rasa vanilla kesukaanmu?”

“Appa!!!” Emily merengek. Gadis itu akan menurut jika Suho sudah mulai menyinggung es krim favoritnya.

Suho tertawa kecil memandangi malaikat kecilnya. “Seburuk apapun orang lain memperlakukan kita, kita harus selalu memaafkan mereka meskipun mereka tidak meminta maaf. Bukankah appa selalu bilang seperti itu?”

Emily memanyunkan bibirnya lalu mengangguk.

Suho mencubit pipi chubby Emily dengan gemas. Dia lalu mengecup bibir cherry putrinya, membuat Emily terkekeh geli. Detik berikutnya Suho menggendong Emily dan berjalan ke arah mobilnya.

“Aku ingin es krim!” kata Emily dengan semangat.

“Apapun untuk putri appa,” Suho tersenyum di akhir kalimat.

Saat itu Suho menyadari sesuatu. Keinginan apalagi yang dia harapkan selain melihat putrinya tersenyum seperti sekarang? Untuk sekarang… Mungkin belum ada.

Maka izinkan dia menarik dan mengubah pikiran tentang kebahagiannya yang belum lengkap. Karena baginya, kehadiran Kim Emily adalah anugerah yang tak bisa digantikan oleh apapun dan sudah cukup untuk melengkapi kehidupannya.

Ya, melihat putrinya bahagia saja sudah lebih dari cukup bagi seorang Kim Suho.

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s