[SUHO BIRTHDAY PROJECT] Torso – ANS

timeline_20170604_203011

Torso – ANS
Suho & OC ║General ║T

Ting.
‘Selamat datang di toko kami.’

Dentingan itu baru saja terdengar dari arah pintu masuk. Seorang pria berambut coklat gelap baru saja memasuki ruangan. Serta merta gadis dengan pakaian merah muda di meja kasir beranjak berdiri menyambutnya dengan ramah. Ia kembali duduk setelah memastikan pelanggannya itu sudah memasuki ruangan tokonya lebih dalam.

Toko sedang sepi, untuk itu birama sepatu pantofel hitamnya yang beradu dengan lantai senada warna kayu ini terdengar di seluruh ruangan. Musik instrumental lagu salah satu boygroup ternama di Korea mulai terdengar. Lucky versi ballad yang menenangkan. Sudah pukul 4 sore ternyata, satu jam lagi maka playlist instumen lagu Close To You yang akan terputar secara otomatis.

Kali ini actorfigure Iron Man seri terbaru yang disentuhnya pertama kali. Kemarin yang beruntung si pendek berkacamata Detektif Conan dan dua hari yang lalu adalah si hijau dengan postur tubuh tidak jelas, Hulk. Tiga hari yang lalu siluman laba-laba sok tampan yang berdiri di atap apartemen buatan itu ikut disentuhnya. Beruntung sekali mereka para pahlawan palsu itu ditempatkan di etalase yang mudah sekali dijangkau.

Ia tak melewatkan untuk melihat Kuda Hitam Australi yang baru saja datang tadi pagi. Apa kuda itu tidak pegal? Ia belum mendapat jatah untuk menurunkan kaki kanannya barang sedetik dari pose sok gagah itu. Tapi, kuakui dia memang cukup gagah. Dibandingkan dengan siluman laba-laba di sana yang selalu mengeluh setiap malam.

“Aku tidak melihat Airin,” kalimat pertama yang keluar dari mulutnya sore ini.

Gadis dengan kemeja merah muda di sana sejenak menghentikan aktivitasnya. “Lima anak perempuan membelinya tadi siang. Pemotretan IU dengan gaya boneka itu memang cukup mempengaruhi banyak orang.”

Pria itu menaikkan sebelah alisnya tak percaya. “Itu berarti seharusnya masih ada sekitar tiga buah di sini.”

Gadis penjaga kasir itu terdiam. Pria itu mengingatnya. Jumlah barang yang dipajang, harga dan bahkan posisi mereka ditempatkan pun pria itu pasti mengingatnya secara detail.

“Seorang gadis muda datang dan membeli semuanya. Hadiah untuk adik kembarnya, maklum anak-anak perempuan.” Gadis dengan name tag Jung Krystal itu melanjutkan.

“Sialan!” gerutu sang pria. Ia bahkan tak sengaja membuat barisan para siluman laba-laba itu terkejut dengan umpatan kerasnya.

“Kupikir kekasihmu akan bosan jika kau memberikan barang yang sama terus menerus.”

Tampaknya saran dari Krystal tak sedikitpun mempengaruhinya. Garis muka yang masih menyimpan rasa kesal itu begitu jelas terlihat dari wajah sang pria. Lagipula, apa yang dikatakan Krystal tidak ada salahnya. Gadis mana yang suka menerima boneka Barbie sebagai hadiah kencan mereka setiap hari?

“Dia menyukainya.”

Krystal melangkah mendekat. “Bagaimana jika Airin diganti dengan …”

“Bagaimana bisa kau mengganti kekasihku?” suaranya kian meninggi. Ia sudah pasti marah dengan saran-saran Krystal yang sama sekali tidak ingin didengarnya. Matanya yang setajam elang itu berkilat ketika fokus untuk menemui kebohongan di mata Krystal.

Yang dimaksud Airin olehnya adalah boneka cantik di etalase dua, Barbie yang umumnya disukai anak-anak. Alasan bahwa Airin adalah nama kekasihnya yang amat sangat menyukai Barbie adalah satu alasan yang paling bisa diterima. Alasan lainnya ialah bahwa Airin –kekasihnya tersebut memang secantik boneka Barbie.

Sekalipun aku tak pernah melihat gadis tersebut. Dia pernah sekali datang bersama seorang wanita separuh baya yang lebih terlihat seperti ibunya dibanding kekasihnya.

“Kau menyembunyikannya?”

Krystal yang terlihat sedikit ketakutan itu menggeleng. “Besok pagi barangku datang lagi. Hari ini berikan saja dia .. em .. tas. Bagaimana? Di sebrang sana …” Pria itu tidak mempedulikan saran Krystal yang menurutnya tidak berguna. Ia tak ingin mendengarkan omong kosongnya yang masih terus berlangsung. Matanya mulai sibuk mengedar mencari barangkali ada Airin yang disembunyikan Krystal.

Tapi, oh tidak!

Mataku baru saja menemui pandangan matanya. Kami bertatapan sekitar … 2 detik. Aku cepat meluruskan kembali pandanganku kearah tiang listrik tak menarik di luar sana. Aku tak tahu bagaimana menjelaskannya tapi rasanya ada sebuah benda yang bergerak begitu cepat di dadaku. Aku tak memiliki jantung, jadi aku tak bisa mengatakan bahwa ini adalah debaran orang jatuh cinta.

Lupakan hal itu. Apa mungkin Kim Jun Myeon melihatku tadi? Apa dia masih melihatku sekarang? Apa gerakan mataku tertangkap oleh …

Ckiiit!
Ah tunggu!
Tiba-tiba saja posisiku yang sudah sekitar tiga bulan di tempat yang sama ini kehilangan keseimbangan. Aku terhuyung ke depan ketika sebuah tangan memaksa tubuhku keluar. Kakiku sempat terantuk kaca etalase dan Krystal tak peduli.

“Aku akan membawanya.” Pria bersurai coklat ini membawaku menuju meja kasir untuk melakukan transaksi.

Untuk pertama kalinya Jun Myeon menyadari eksistensiku di toko ini. Dia menyentuhku. Aku tak bisa menyembunyikan rasa senang ketika dia akhirnya memindahkan tubuhku dari tangannya ke dalam paperbag dengan hati-hati. Aku akan pulang bersamanya. Keluar dari etalase berdebu itu dan meninggalkan teman-teman sepermainanku yang kadang menyebalkan.

^

Aku tidak tahu seberapa jauh jarak yang kami lewati sampai di pemberhentian mobil Jun Myeon saat ini. Aku terlalu senang, membayangkan sekarang aku milik Jun Myeon. Tapi, bukankah aku ini pengganti Airin? Apa mungkin aku akan diberikan pada kekasih Jun Myeon? Ada sedikit rasa sakit ketika mengingat bahwa pria yang (dengan tidak tahu diri) kucintai itu sudah memiliki kekasih.

Aku bukan boneka cantik seperti Airin, aku hanya sebuah boneka yang kerap kali dipanggil Susan. Tidak banyak yang menyukaiku, anak-anak manis itu mengatakan bahwa wajahku terlalu buruk untuk sebuah boneka. Bahkan mungkin aku juga terlalu buruk untuk diberikan pada Airin. Jadi, jangan berikan aku pada Airin, Jun Myeon. Aku cukup menjadi milikmu saja.

Tapi, begitu terkejutnya aku ketika mataku yang sedikit demi sedikit terbuka kini melihat puluh .. em ratusan boneka Barbie di sini. Kupikir ini kamar Jun Myeon. Ada sebuah tempat tidur di tengah ruangan yang juga dipenuhi Airin. Kenapa mereka ada di sini? Aku semakin takut ketika menemukan kepala-kepala Airin bergeletakan. Dia hanya memajang boneka tanpa kepala di lemari kaca super besar itu.

Tunggu, apa mungkin aku juga …

“Kau Airin ke 412. Wajahmu terlalu buruk untuk tubuhmu yang cukup seksi.”

Trak! Baru saja dia mematahkan leherku dengan mudahnya. Kepalaku di lempar tak tentu arah sampai akhirnya aku merasa kepalaku terantuk benda tumpul begitu keras. Mata biruku terlepas begitu saja dan kurasa hidungku patah. Tapi masih dapat kulihat tubuhku dipajang di samping tubuh Airin yang dibelinya minggu lalu.

Kkeut~

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s