[SUHO BIRTHDAY PROJECT] Prince – Annonly

timeline_20170608_091108

Prince – Annonly

Suho & OC || Romance || G

.

.

.

Sepertinya detik-detik terakhir baginya sudah dimulai. Namun dengan konversasi kecil yang dibuatnya beberapa menit lalu membuat ia tidak menyadarinya. Seseorang harus memberitahunya lantaran ia tengah dibuai oleh obrolan malam berserta dentingan gelas wine yang dipadukan dengan musik klasik yang menggema lembut, itupun kalau mereka tahu, sebab_bukannya aku sombong, tapi memang benar hanya aku yang mengetahui apa yang sedang perempuan itu hadapi malam ini.

Oh tidak! Sudah mulai.

Ku lihat ia melebarkan matanya kala mendengar dentangan dari jam dinding besar yang ia awasi ketika pertamakali datang dengan anggunnya. Waktu itu jam menunjukan pukul sepuluh malam, dan sekarang_perempuan itu meringis_jarum panjangnya telah menyentuh angka duabelas dengan detik yang nyaris melangkah menuju angka duabelas pula.

Dengan setengah hati ia menyingsing gaun birunya yang mengembang indah, lalu berlari ditengah orang-orang yang sedang bercengkrama hangat, cepat-cepat menyisiri jalan yang didiami para undangan. Tentu saja hal yang dilakukan perempuan itu menarik sebagian orang disini, dan dia pun menarik perhatianku. Aku tersenyum lebar. Akhirnya.

Sambil menuruni tangga aku meneguk wine kembali seraya memperhatikan wajah menawannya yang kecemasan. Langkahnya terhenti mendadak lantaran aku telah ditemukan, matanya memandangku dengan binar kecil, dia terkesima kah?

Aku pun mendatanginya.

“Pa-pangeran?” Nada gugup dan cemasnya tersampaikan dengan baik ditelingaku. Aku lantas memasang wajah serupa dengannya.

“Putri, ada apa denganmu? Kau baik-baik saja?”

Parasnya memang tak secantik para wanita disini, namun mereka yang cantik adalah perihal yang lumrah. Sang Putri sangat sederhana, polesan tak berlebihannya membuatku gemas ingin mencubit pipinya. Rambutnya yang jatuh bergelombang membuat ia terlihat lebih menawan. Aku tak berlebihan memuja, memang realitanya seorang Putri begitu, bukan?

“Putri, mengapa kau melamun?” Tertangkap basah, sang Putri memang tengah memandangku. Entah peristiwa apa yang tengah berkeliaran dalam kepala mungilnya, tapi yang jelas, aku mulai tersenyum tatkala mata beningnya diam-diam memandangku takjub. Tidak terlalu lama kami terlarut dalam diam, setelah Putri sadar bahwa ia seharusnya pergi, maka ia pun berlari lagi.

.

.

.

.

“Tidak Putri, kau jangan pergi.”

Aku menarik lengannya lembut tanpa berpikir membuatnya terjengkang sedikitpun. Melihat ia berlarian sambil menjunjung gaunnya saja aku merasa iba, apalagi membuatnya tersandung karena tarikanku. Putri menatapku bingung ketika aku menarik tubuhnya mendekat “Pa-pangeran, apa maksudmu?” Kami ada di lorong koridor, omong-omong.

Aku membuka telapak tangannya dan memberikan sebuah jepit rambut, sehingga saat itulah ia mulai mengeluarkan suara pekikan. Dia melebarkan matanya seraya menutup mulut. Mungkin karena kejadian ini tidak dapat dipercaya dengan baik jadi Putri mulai melangkah mundur sedikit demi sedikit.

Inilah yang dinamakan takdir.

“Malam itu, hanya sekedar melihat punggungmu yang berlari, aku sudah jatuh hati padamu.” Aku perlahan menghampirinya, ingin melihat lebih dekat wajahnya, pula ingin menggenggam tangannya yang mulai jahil memainkan kuku-kuku.

“Ti-tidak Pangeran.” Wajahnya pucat pasi, tubuhnya menggigil, kosa kata yang diluncurkannya pun agak membingungkan untuk dicerna. Putri mulai membalikan badan ingin berlari, namun aku segera menghalanginya.

“Putri tolong dengarkan penjelasanku. Sebentar saja, maka kau akan mengerti.”

“Tidak bisa Pangeran.”

Dahiku mengerut.

“Ma-maksudku, bagaimna kalau aku bukan perempuan yang Pangeran maksud. Dan lagi pula namaku bukan Putri, aku Ri An. Han Ri An.”

Aku terkekeh mendengar kalimatnya yang begitu lucu “Kau perempuan yang kumaksud, Putri.”

“Bagaimana Pangeran tahu kalau aku perempuan yang Pangeran maksud?”

“Sederhana. Dua bulan yang lalu kau meninggalkan jepit rambut itu ketika hampir pukul duabelas. Satu bulan kemudian aku melihat mu berlari keluar pesta pukul duabelas malam. Dan sekarang kau meninggalkan pesta untuk ketiga kalinya hampir pukul duabelas malam lagi. Kau mempunyai keunikan tersendiri. Dan itu cukup meyakinkan kalau kau memang pemilik jepit rambut itu. Aku telah menunggu tiga bulan hanya untuk memastikan bahwa itu kamu.”

Perempuan itu menunduk. Ada kilatan kaku di sudut matanya. “Percayalah padaku, kalau selama ini aku mencarimu dan mencintaimu.”

Putri dihadapanku tersenyum, dipelupuknya ada air mata yang tertahan. Dan itu membuatku ingin segera memeluk tubuhnya. Namun tidak, aku hanya menggenggam tangannya, dia pun tidak menghindar seperti sebelumnya. Itu melegakan lantaran memang perempuan ini yang aku cari.

“Dan tolong jelaskan kepadaku Putri. Apa maksudnya dengan kau yang selalu pulang pukul duabelas malam? Ada apa sebenarnya?”

Seakan tersadar dari mimpi buruk, Putri mulai gelagapan.

“Aku harus segera pergi, Pangeran. Ibu tiri sudah menungguku, dia pasti akan marah, kalau aku pulang terlambat maka aku tidak bisa pergi kepesta lagi. Selamanya.”

Coba bilang padaku kalau ada yang lebih menyebalkan dibandingkan ini. Kelakuan bodoh apalagi sekarang. Padahal baru saja kebahagiaanku memuncak malah sekarang sudah berubah menjadi hangus. Apakah di dunia ini masih ada perlakuan yang tidak layak kepada anaknya sendiri?

“Aku harus pergi. Sekarang sudah lewat jam duabelas, berarti ini adalah pertemuan terakhir kita. Dan aku berterimakasih karena Pangeran mau mengembalikan jepit rambut peninggalan ibu kandungku. Ini sangat berharga.”

Sebelum dia berbalik pergi, aku menarik tubuhnya kepelukanku. Mendekap erat bahunya yang terbuka dan menghirup aroma yang menguar dibalik tubuhnya yang mungil. Kuberitahu, aku sangat mencintainya.

“Panger-“

“Aku bisa membuatmu pergi kepesta lagi.”

Aku melepas pelukan dan menatap matanya dalam. Sang Putri pun tengah menanti kelanjutannya.

“Aku akan menikahimu, Putri Ri An.”

Putri Ri An tersenyum penuh haru.

FIN.

Note: mengutip dari kisah cinderella tapi aku plesetin. Terimakasih ^^

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s