[SUHO BIRTHDAY PROJECT] Letter – ksbaby

timeline_20170604_202927

Letter – ksbaby || Suho & original character || Romance & Slight Angst || G

*

Pagi itu, aku tidak mengira aku akan jatuh cinta pada sepasang mata yang ramah. Sama sekali tidak terlintas di benakku bahwa ternyata jantungku bisa berdetak sekencang ini hanya karena sesimpul senyuman.

Pagi itu, di dalam ruang uks yang serba putih dengan aroma obat yang kental; aku yang sedang merengkuh dada karena jantungku yang lemah, jatuh hati pada kata-kata dan perlakuan lembutmu padaku.

“Kau akan baik-baik saja,” begitu katamu pagi itu.

Dan aku percaya itu.

Dari sekian dokter yang sudah pernah menangkanku di luar ruang operasi, hanya kata-katamu pagi itu yang benar-benar aku percaya. Baru kali itu aku benar-benar percaya pada kalimat klise tersebut.

Tapi, Junmyeon, jantung yang lemah dan beberapa komplikasi penyakit lainnya tidak bisa langsung disembuhkan dan semangat hidupku tidak bisa spontan kembali hanya karena satu kalimat, ‘kan?

Mungkin karena itu, kau selalu ada di sampingku sejak aku pingsan ketika upacara penerimaan murid baru.

Aku masih ingat kali kedua kau bicara padaku. Rasanya masih segar di ingatanku ketika kau lewat dengan kotak P3K di tanganmu. Senyummu saat itu, dan pertanyaan simpel itu, masih aku ingat sampai sekarang.

“Kau sudah baik-baik saja, ‘kan?”

Aku, yang masih kaget karena tidak menyangka kau akan mengingatku, hanya bisa mengangguk. Di tengah-tengah koridor yang sepi dan ditemani angin hangat musim semi, aku baru tahu jantungku bisa berdetak sekeras itu.

Semuanya lalu berawal dari sana, bukan, Junmyeon? Ah, semoga aku tidak salah mengingat. Akan memalukan sekali jika aku salah ingat ketika tanganku sudah pegal sekali karena menulis surat ini.

Banyak hal mulai terjadi setelah itu. Kau yang menyapaku tiap kita bertemu di depan loker, ajakan makan siang yang kau lontarkan saat melihatku makan sendirian di taman, hingga pesan-pesan singkat ketika tengah malam yang sampai sekarang masih tersimpan di ponselku.

Kau ingat tidak ketika kita terjebak di depan gerbang sekolah saat hujan? Sore itu sangat dingin dan hanya kau yang membawa payung kecil bersamamu. Kau bersikeras agar aku menggunakan payung itu, memaksaku untuk pulang lebih dulu dan meninggalkanmu berhujan-hujanan tanpa jaket.

Junmyeon, aku masih kesal padamu karena itu. Kau harus beristirahat tiga hari di rumah karena aku dan ketika aku datang menjenguk, aku berpikir kau akan menyalahkanku karena itu.

Tapi aku salah.

“Kau tidak kebasahan, ‘kan?”

Alih-alih menyalahkanku, kau malah balik mengkhawatirkan keadaanku dan apakah aku sampai ke rumah dengan selamat. Kau bahkan sempat bertanya apakah aku sudah makan atau belum.

Aku benci sekali sifatmu yang satu itu, Junmyeon. Kau terlalu peduli pada orang lain, bahkan ketika kau sendiri tengah berbaring di tempat tidur karena demam tinggi. Kau sering berlaku seperti itu.

Terutama saat kondisiku sedang memburuk.

Kau tahu benar aku paling benci rumah sakit dan ruangannya yang di dominasi warna putih. Tidak benci sebenarnya, aku belajar untuk menyukainya sejak kita bertemu di ruang uks dengan cat tembok dan perban putih yang bertebaran. Aku juga belajar menyukai bau obat-obatan karena kau, Junmyeon.

Kau membuatku menyukai ruangan rumah sakit yang membosankan. Membuatku belajar untuk menerima keadaanku yang harus bolak balik rumah sakit tiap minggu. Membantuku mengatur jadwal sekolah, mengingatkanku untuk tidak memaksakan diriku sendiri.

Oh, ngomong-ngomong soal rumah sakit, aku merasa malu setiap memori akan kau yang membujukku untuk check-up ke rumah sakit muncul di benakku. Aku ingat sekali kau bicara apa kala itu.

“Jagiya, kau harus check-up hari ini. Jadi—”

“Kau bilang apa barusan?” potongku saat itu.

Iya, aku tidak percaya akan pendengaranku hari itu. Itu kali pertama kau memanggilku ‘sayang’. Dan itu juga bukan kali terakhir kau mengatakannya. Faktanya, kau tahu bagaimana aku menyukai panggilan itu. Hanya saja, aku tidak pernah mengatakannya. Kau menyadarinya, entah bagaimana.

“Jagiya, ayo kesana!”

“Jagi, badanmu panas lagi?”

“Jagiya—”

Banyak kata Jagiya yang kau katakan padaku dan aku tidak pernah bosan mendengarnya. Aku tidak mau mengakui ini, tapi ini mungkin kesempatan terakhir aku dapat mengatakannya—atau menulisnya, lebih tepatnya. Aku suka ketika kau memanggilku Jagiya dan bukan namaku, entah kenapa.

Ya, Junmyeon, ini mungkin adalah bagian terakhir dari surat ini. Aku tidak mau mengenang memori dulu kita lebih jauh lagi. Aku tahu, kau pasti bertanya-tanya kenapa aku bahkan menulis surat ini. Apa tujuanku, apa mauku. Jawabannya hanya satu, sebenarnya.

Aku ingin menjawab pertanyaanmu sore itu lewat surat ini. Kau pasti tahu dari sekian banyak sore yang kita habiskan bersama, sore mana yang kumaksud.

Kalau kau masih belum bisa mengerti, coba baca ulang surat ini, Junmyeon. Kalau masih belum bisa, aku akan mengatakannya dengan simpel sekarang.

Aku sayang kau, bodoh.

Aku sayang kau yang selalu ada untukku, kau yang menolongku saat upacara, kau yang selalu tersenyum dan menenangkanku saat aku terbaring di ranjang rumah sakit, kau yang menyayangiku dengan tulus dan jujur.

Maaf aku tidak bisa mengatakan ini langsung di depan wajahmu. Maaf aku meninggalkanmu dengan sepi dan perasaan kacau sore itu. Maaf aku tidak bisa bersamamu lebih jauh. Aku minta maaf, Junmyeon.

Aku sayang kau, sangat. Hanya saja, aku takut. Aku takut kalau sore itu aku balik menciummu dan memberitahumu perasaanku, aku takut kau akan lebih kacau nantinya saat aku pergi. Aku takut meninggalkanmu.

Mianhae, kertas ini basah dengan airmataku. Semoga saja kau tidak menangis saat membaca ini. Itu, kalau kau benar-benar membacanya. Meskipun aku tidak yakin kau masih mau membacanya setelah semua yang aku lakukan.

Sekali lagi, Junmyeon, aku minta maaf. Saranghae, Jagiya. Aku sayang kau, tolong jangan lupakan itu.

P.S. Ngomong-ngomong, apa operasinya berhasil dan selesai? Jika iya, aku janji aku akan mengatakan semua ini padamu dengan lisanku nanti.

—neoui jagiya.

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s