[SUHO BIRTHDAY PROJECT] Last Cigarette – haneul88

timeline_20170606_125155

Last Cigarette – haneul88

Suho & Hyun-Ae (OC) || AU, Romance || T

“Joonmyun itu pecandu. Ia candu akan 2 hal. Wanita, dan rokok. Dan ia tak menyadari perasaannya hingga pembicaraan dengan rokok terakhir malam itu.”

Joonmyun itu tipe-tipe lelaki kurang ajar yang punya kegemaran memainkan wanita. Dia memang tidak menyukai alkohol, namun kenyataannya ia merusak tubuhnya dengan cara lain. Ia pecandu rokok. Sehari ia bisa menghabiskan satu setengah pak rokok. Dan saat ini, pria itu sedang menikmati suasana kota Seoul malam hari di teras apartemennya. Tak lupa dengan sebatang rokok yang ia apit pada jari telunjuk dan tengah pada tangan kanannya. Asap menggepul keluar ketika Joonmyun menghembuskan nafas melalui mulutnya. Kepulan yang membuat beberapa orang terbatuk karenanya. Tapi Joonmyun suka itu.

Seorang wanita datang menghampiri Joonmyun yang terduduk pada kursi panjang dengan matanya yang tertutup. Wanita itu adalah kekasih Joonmyun, ya setidaknya wanita itu yang terlama dibanding yang lainnya. Tiga bulan. Cukup lama bukan? Dan hingga saat ini belum ada tanda-tanda untuk Joonmyun memutuskan wanita itu.

Dara itu membelai perlahan permukaan paras Joonmyun. Kemudian ketika sampai pada ujung hidung pria itu, sang wanita menarik rokok masih setengah yang terapit pada belahan bibir Joonmyun itu dengan kasar. Ketika batangan nikotin tersebut telah berpindah pada wanita itu, Joonmyun sontak membuka kedua matanya.

“Apa yang kau lakukan?” desis Joonmyun dengan dirinya yang menegakkan tubuhnya kemudian. Batangan penyakit itu berpindah pada belahan bibir sang wanita.

Wanita itu –Hyun-Ae tersenyum meremehkan dan menyesap batangan nikotin itu dalam-dalam. “Hanya mencoba menikmati hidup.” Ucapnya bersamaan dengan kepulan asap yang menguar.

“Menyebalkan. Bagaimana bisa aku mempertahankanmu hingga saat ini?” Joonmyun menggerutu kamudian menjulurkan tangannya pada meja didekatnya untuk mengambil bungkus rokok yang tergeletak. Ketika ia membukanya, kosong. Sialan! umpat Joonmyun. Sedangkan wanita disebelahnya hanya tersenyum penuh kemenangan.

“Kau menginginkan ini bukan?” Hyun-Ae menggoyangkan rokok tersebut dihadapan Joonmyun. Pria itu tidak menggubris. Rahangnya mengeras menahan emosi dan egonya. Ia mempunyai harga diri dan ego yang tinggi. Merasa tidak ada pergerakan pada lawan jenisnya, Hyun-Ae menarik kembali tangannya. “Kalau tidak mau ya sudah,” namun Joonmyun menarik batangan nikotin itu tiba-tiba. Hyun-Ae menarik sudut bibirnya. Menyeringai atas apa yang Joonmyun lakukan.

Hyun-Ae meletakkan pantatnya pada kursi samping Joonmyun merebahkan tubuhnya. Wanita itu menghela nafas beratnya yang menggeluarkan suara cukup keras kemudian melihat bintang-bintang yang bertebaran pada langit malam. Tampak indah. Joonmyun menolehkan kepalanya melihat wanita itu sekilas kemudian berujar. “Apa yang kau lakukan disini?” lantas Pria itu ikut melihat langit diatas sana sebelum menyerahkan rokok itu pada Hyun-Ae.

“Memastikan kau tidak terus-terusan menghisap tembakau gulung itu.” Hyun-Ae menghisap rokok ditangannya dalam-dalam kemudian mengembuskannya dengan berat.

“Cih! Kau berkata seakan kau sesuci itu sedangkan kau juga melakukan hal yang sama” Joonmyun merebut rokok terakhir itu pada apitan tangan lawan jenisnya sebelum menghisap lalu menghembuskannya.

“Setidaknya kau yang terparah!” dengus Hyun-Ae dengan menghisap batangan nikotin yang Joonmyun sodorkan padanya.

Selanjutnya yang berlangsung hanyalan adu argumen antar keduanya. Selalu begitu ketika ada hal yang terjadi antara mereka dan tidak sepikiran.

“Tidak, kau yang salah. tidak seharusnya kau begitu.” Hyun-Ae mencebikkan bibirnya kemudian Joonmyun merebut puntung rokok yang semakin pendek dari Hyun-Ae.

“Terserah! Kau selalu menganggu hariku.” Joonmyun memutar bola matanya kesal atas perdebatannya dengan Hyun-Ae. “Sialan sudah habis!” Joonmyun mengumpat untuk batangan nikotin itu yang sudah mencapai batas terpendeknya.

“Sudah kukatakan. Kurangi konsumsimu pada batangan itu Joonmyun-ssi. Atau itu akan semakin memperburuk kinerja tubuhmu.” Hyun-Ae menyilangkan kakinya lantas menoleh pada Pria disampingnya. “Lagi pula, jika kau berfikir aku sungguh menganggu untukmu, kenapa kau masih mengikatku padamu?” Hyun-Ae menyeringai atas pertanyaannya. Kena kau!

Joonmyun mendengus. Ia selalu balik termakan oleh pertanyaannya. “Well, sejujurnya aku hanya memanfaatkanmu asal kau tahu. Kau membersihkan tiap sela apartemenku jadi aku tak perlu lelah untuk membersihkannya setiap hari. Kau saja yang terlalu bodoh untuk tidak menyadarinya.”

“Begitukah? Benarkah? Uhhh aku terluka.” Hyun-Ae mengucapkannya dengan tampang memelas pura-puranya. “Tapi asal kau sadari, aku bahkan hanya membereskan kasurmu yang berantakan, dan tidak semua sela apartemen lebarmu ini. Gila saja jika aku sampai melakukannnya.”

Sayangnya Joonmyun kalah lagi untuk perdebatan ini. Ya, Hyun-Ae hanya menata kasurnya yang selalu berantakan, tidak dengan bagian maupun ruang lainnya. Seorang Office Boy yang akan melakukan untuknya. Namun sebuah ingatan melintas pada otak Joonmyun. “Ah iya, kau tidak lebih sebagai seorang koki pribadiku yang tak ku gaji disini. Kau harusnya mengingat itu dengan jelas, kau selalu yang memasakkan untukku makanan setiap hari di pagi, siang, dan sore. Aku tidak melepaskanmu karena.. yeahh akan sulit mencari pengganti yang mau tidak digaji sepertimu.” Joonmyun mengangkat kedua bahunya tersenyum meremehkan dan bangga atas ide perkataannya barusan.

“Terserah, carilah alasan sesukamu. Aku tak peduli, hah!” Hyun-Ae berdiri dari duduknya lalu melambaikan tangannya pada Joonmyun. “Aku akan pergi. Selamat tinggal! Nikmati malammu,” teriak Hyun-Ae diakhir kalimat karena ia sudah memakan jarak cukup jauh dari Joonmyun.

Pria dengan pahatan rupa yang terbentuk sempurnya itu memiringkan kepalanya sebelum kemudian berdiri dan berteriak “Tunggu!” menuju Hyun-Ae berada. Wanita itu, yang sedang membalikkan tubuhnya terkejut ketika secara tiba-tiba Joonmyun membenturkan tubuh kekarnya pada tubuhnya. Memeluknya. “Aku mencintaimu,” dan itu kata yang membuat Hyun-Ae menaikkan satu alisnya. Apa aku salah dengar?

“Aku membutuhkanmu melebihi batang nikotin yang selalu kau beri sumpah serapah. Melebihi betapa candunya diriku untuk menyampakkan wanita. Aku menyukaimu. Um, tidak aku mencintaimu, aku menyayangimu.” Tanggapan yang Hyun-Ae berikan hanya dengusan menganggap ucapan Joonmyun hanyalah sebuah lelucon garing, yang membuat pria itu melepaskan pelukannya. “Aku serius.” ujarnya meyakinkan.

“Iyakah? Aku tak percaya. Kau bahkan baru saja menghinaku tadi.”

Joonmyun menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. “Eum, itu tadi. Tidak dengan sekarang. Berbeda. Yang aku sadari, aku membutuhkanmu. Selalu saja, dan baru kusadari tiba-tiba, aku nyatanya bergantung padamu.”

“Pembual!” Hyun-Ae menarik gagang pintu dibelakangnya. Kemudian berjalan keluar. Dan sebelum menutup pintu kembali wanita itu menyembulkan wajahnya. “Tapi sialnya aku mencintaimu.” Lantas suara dembuman keras berasal dari pintu yang tertutup terdengar. Sedangkan Joonmyun, dengan tampang bodohnya hanya mengedipkan matanya beberapa kali. “Apa yang ia katakan barusan?”

_END_

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s