[SUHO BIRTHDAY PROJECT] Homesick – sleepingpanda

timeline_20170606_125330

Homesick – sleepingpanda

Kim Junmyeon, You | Romance, fluff | General

Baby, we’ve gone a long, long way

Sejujurnya kau sama sekali tidak keberatan berbagi udara dingin pada jam kritis macam pukul dua dini hari padahal hidungmu tengah berair sangat parah dan jangan lupakan tentang sensasi terbakar di tenggorokan yang sudah menjadi prioritas keluhanmu sejak dua hari kebelakang. Kantung matamu masih seluas lapangan bola basket tapi sungguh, kau bisa saja mengesampingkan hal-hal tersebut karena sensasi berada dalam rengkuhan Kim Junmyeon nyatanya jauh lebih menyenangkan.

Terakhir kali kau ingat, satu kikikan mengakhiri sambungan teleponmu lalu tiba-tiba saja kau sudah menemukan Junmyeon di pekarangan rumahmu dengan mantel hitam dan cengiran lebar. Kau selalu berpikir mungkin ia merupakan salah satu dari entitas paling gila yang pernah kau kenal sepanjang hidupmu, tapi kegilaanya merupakan satu dari banyak hal manis yang bisa membuatmu jatuh cinta berulang-ulang.

Kau menyukainya sebanyak apapun yang kau bisa bayangkan dalam kepalamu. Parahnya, seperti repetisi, hal-hal tentang Kim Junmyeon selalu menciptakan lentingan-lentingan menggelikan di seluruh perutmu tanpa pernah dikomando. Tapi toh kau tidak pernah protes karena tanpa hal itu, kau sadar jika hidupmu akan terlampau membosankan.

“So, how’s your day?” Vokalnya membelah udara malam, masih terselip sedikit kikikan favoritmu di sana. Kalau diasosiasikan, vokalnya seperti maringue yang baru dikocok dengan kelebihan esens vanila―lembut dan manis; masih sama seperti pertama kali kau mengenalnya. “Dasar, tiba-tiba saja pulang tanpa kabar. Kalau tahu begini kan setidaknya aku bisa menjemputmu di bandara.”

Akhirnya kau melontarkan tawa renyah di sela cuatan benang dari mantelnya, menghirup sebanyak-banyaknya wangi lavender dari sana. Untungnya Junmyeon masih punya mantel bersih dan diberi pewangi pakaian karena terakhir kali kau merengkuhnya, mantelnya berbau seperti daging bakar serta wangi-wangi parfum pria lajang berumur dua puluh tahunan―O, kau sadar, sih, jika lingkaran pergaulan Junmyeon hanya berpusat pada sebelas teman laki-lakinya, dan kau tentunya.

Terkadang menyebalkan, tapi tetap saja kau menyukainya.

“Crazy enough,” Timpalmu dengan suara terserak yang mampu keluar dari mulutmu. Crap this influenza, kau seharusnya minum berkardus-kardus vitamin kemarin. ”Setidaknya sampai kau datang.”

“Begitukah?” Sebuah anggukan pelan darimu menghadiahkan kurva manis di sepanjang bibirnya. Kau mungkin tak bisa melihatnya, tapi empat tahun yang kau habiskan dengan Junmyeon membuatmu bisa lebih dari sekadar merasakan. “Aku kira kau lebih mencintai Santorini ketimbang pacarmu sendiri.” Lanjutnya dengan sedikit cebikan.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan, hatimu kembali menghangat. Kau membiarkan hidungmu bermain lebih lama dengan kehangatan mantelnya, memyimpan sebanyak mungkin memori atas presensinya hari ini.

Yah, dia Kim Junmyeon. Kau menyukainya sebanyak apapun yang kau bisa bayangkan dalam kepalamu walaupun ia pelupa dan tidak romantis sama sekali. Ia bahkan selalu mengataimu norak ketika kau menyuarakan ide tentang perayaan anniversary. Tapi sekali lagi, sungguh, kau tidak pernah keberatan karena dia adalah Kim Junmyeon yang punya sejuta konstelasi merekah-rekah dalam obsidiannya ketika saat ini pandangan teduhnya bertemu dengan punyamu.

“Bagaimana Santorini?” Adalah kata pertama yang keluar dari mulutnya setelah ia melepas rengkuhan kalian. Mendengar hal itu, kekehan geli lepas begitu saja dari mulutmu.

“It’s such an amazing place , Junmyeon, believe me.” Kau sama sekali tidak bisa mengendalikan gelenyar aneh dalam perutmu, satu yang rancu dan sama sekali belum pernah kau rasakan seumur hidup. Yah, kau dan kecintaanmu akan petualangan. Si lelaki hanya bisa mengamini saja ketika kau dengan sepihak memutuskan untuk bertandang ke salah satu pulau di selatan laut Agaea tersebut dan well, empat bulan bukan waktu yang sebentar bagi Junmyeon untuk tahan tidak melihatmu berkeliaran di sekitarnya.

Junmyeon cukup tahu bahwa dirinya adalah poros abadimu.

“Mereka punya tempat terbaik untuk menghabiskan waktu. Aku bahkan bisa tinggal di sana lebih lama jika aku tak cepat sadar kalau aku dinantikan oleh London―dan kau.” Peganganmu pada mantelnya semakin erat ketika kau mencoba menyembunyikan rasa hangat dan rona merah di sebagian pipimu. “Kau harus tahu kalau aku hampir saja terpeleset saat mencoba memanjat sebuah mercusuar di Akrotiri, tapi demi bumi dan isinya, aku akan rela bayar berapapun jika bisa melihat pemandangan di atas sana untuk yang kedua kali.”

Kebiasaan Junmyeon untuk mendengus jika sedang kesal ketika kau berpikir ia mungkin merasa sedang di nomer dua kan. Udara semakin beku dengan kalian yang masih berdiri di ambang pintu rumahmu. Entah, baik kau ataupun Junmyeon sama sekali tak ada yang menawarkan ide tentang masuk ke dalam dan mencari apapun sumber kehangatan yang lebih baik. Kau masih bercericip ketika Junmyeon dengan hati-hati dan penuh pertimbangan mencibir pelan.

“Yasudah, tidak usah pulang saja sekalian. Aku bertaruh jika ada tempat yang lebih baik dari Santorini, kau pasti akan pergi selamanya.”

Itu gelak tawa pertamamu setelah kembali menjejakan kaki di London. Sangat menyenangkan ketika beberapa jam yang lalu kau tengah mengeluh tentang pengaruh jetlag dan jam tidur yang kacau serta virus flu yang bersarang di tubuhmu lantas kau bisa saja melupakannya dalam sekejap hanya karena Junmyeon memutuskan bertandang ke rumahmu. Mau tak mau kurva, sempurna terbentuk di sepanjang bibirmu saat kau berpikir bahwa presensinya benar-benar seperti magi. Kau mempererat rengkuhanmu sembari mendesis. “Tapi tempat seperti itu memang ada, kok.”

Tak ayal satu tepukan mendarat di dahi si lelaki, ia kira ia akan benar-benar ditinggal lagi olehmu. “Where?”

“Secret,” Kilauan jahil menempel lekat di manikmu sembari jemarimu yang berpindah menuju bibir. Sebenarnya kau tahu pasti bagaimana mendeskripsikan tempat paling mengagumkan yang pernah kau singgahi namun untuk saat ini, kau memutuskan untuk tidak akan membagi rahasia kecilmu dengan semua orang―termasuk Junmyeon sekalipun. “But I’ll let you know that It’s not even a damn place.”

Yah, dia Kim Junmyeon. Kau menyukainya sebanyak apapun yang kau bisa bayangkan dalam kepalamu karena dibalik semua ketidaksempurnaannya dan dari semua tempat terbaik yang bisa kau sebutkan, rengkuhannya adalah satu-satunya rumah bagimu.

And after such a long time, it feels so great to be home.

―End

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s