[SUHO BIRTHDAY PROJECT] Symphony – Jane PA

[SUHO BIRTHDAY PROJECT] Symphony – Jane PA || Suho & OC || Romance || PG – 15

 

Sore itu aku melangkah menuju tempat les piano. Bukan, aku bukan ingin les, melainkan aku lah guru disana. Ku buka pintu yang bernuansa lama itu. Sepi, tak ada seorang pun. Aku pun meletakkan tas di sebelah kursi, lalu menempatkan diriku pada kursi di depan piano dan memainkannya. Cukup lama aku memainkan piano sambil sesekali besenandung, sampai akhirnya ku dengar pintu terbuka dan menampilkan gadis kecil berjaket tebal bersama seorang lelaki yang kuyakini adalah ayahnya.

“Selamat sore, Hyeri-seonsaengnim” sapa anak itu kepadaku. Lalu menghampiriku bersama lelaki itu.

“Sore juga Jungra.” balasku menunduk, mensejajarkan tinggiku dengannya.

“Ehm. Kenalkan aku Kim Junmyeon, ayah Jungra.” kata lelaki itu sambil menjulurkan tangannya.

“Aku Choi Hyeri, guru les disini. Senang berkenalan dengamu, Junmyeon-ssi.” ujarku sambil menjabat tangannya.

“Aku menyukai permainan piano-mu. Rasanya sangat lembut dan damai.”

“Benarkah? Ah. Terimakasih. Sebenarnya aku tidak begitu bagus.”

Aku tersenyum mendengar pernyataannya. Meskipun ini bukan pertama kalinya aku disanjung seperti itu, tapi rasanya tetap saja senang sekali.

“Baiklah. Aku harus pulang dulu. Nanti aku kesini lagi untuk menjemput Jungra. Sampai jumpa Hyeri-ssi.” serunya sambil melambaikan tangannya dan tersenyum padaku.

Aku pun melanjutkan kegiatanku karena anak didikku sudah tiba semuanya.

❤❤❤❤❤❤❤

“Hyeri-seonsaengnim.” seru salah seorang muridku.

“Ada apa Jungra? Kenapa kau belum pulang?” tanyaku kepadanya.

“Ayah belum datang, dan aku sangat lapar.” katanya dengan begitu polos. Aku terkikik lalu mengelus rambutnya.

“Baiklah. Mari kita makan, sebelum ayahmu kesini.”

Takdir bekata lain, ternyata ayah Jungra sudah berada di depan tempat les. Aku pun menghampirinya dan menggandeng Jungra.

“Jungra, ayahmu sudah disini. Pulanglah, kapan-kapan kita makan bersama.”

“Tidak. Aku tidak mau.” katanya sambil menggelengkan kepalanya.

“Hyeri-ssi, kau bisa ikut bersama kami.” kata Junmyeon.

“Tidak usah. Aku berjalan kaki saja. Lagipula, rumahku tidak jauh dari sini.”

“Ayolah Hyeri-ssaem. Ayolah…” paksa Jungra sambil menggoyangkan lenganku.

“Baiklah. Apa kau tidak keberatan, Junmyeon-ssi?”

“Tentu saja tidak. Naiklah.” katanya. Ia membukakan pintu depan untukku.

“Aku di belakang saja. Bukankah Jungra duduk di depan?”

“Tidak ssaem. Aku di belakang.” seru Jungra lalu membuka pintu belakang dan masuk.

Akhirnya aku duduk di samping Junmyeon. Entah kenapa hatiku berdebar sekarang. Selama di perjalanan aku diam, hanya sesekali membalas jika Jungra atau Junmyeon bertanya padaku. Junmyeon juga bercerita padaku bahwa Jungra adalah anak piatu. Ibunya meninggal waktu melahirkannya.

“Sudah sampai. Ayo turun.” kata Junmyeon sambil membuka seatbelt nya.

Kami berada di restoran megah di tengah kota. Kami duduk bertiga. Jungra di sampingku dan Junmyeon di depanku. Bukankah ini terlalu berlebihan?

“Kau mau pesan apa Hyeri-ssi?”

“Mmm.. Bagaimana jika aku pulang saja? Ini berlebihan Junmyeon-ssi.”

“Tidak ssaem. Kau tidak boleh pulang dulu.” Timpal Jungra sambil mengerucutkan bibirnya.

Aku pun tersenyum kepada Jungra dan mengelus rambutnya. Dia sudah ku anggap anak sendiri. Bagaimana bisa aku menolak permintaannya?

Akhirnya kami selesai dan Junmyeon mengantarku pulang.

❤❤❤❤❤❤❤

Hari ini entah mengapa hatiku berdebar. Selesai les piano, Jungra mengajakku ke suatu tempat. Kami berjalan menuju sebuah taman. Di kiri kanan jalan banyak sekali bunga bertebaran yang diiringi cahaya lampu taman. Ku lihat disana berdiri Junmyeon sambil membawa serangkaian bunga. Jungra membawaku kesana dan meninggalkanku berdua dengan Junmyeon.

“Junmyeon-ssi. Ini, mengapa–” belum selesai melanjutkan kalimatku, Junmyeon meletakkan jari telunjuknya dibibirku, mengisyaratkan agar aku diam.

Ia mundur selangkah. Merendahkan tubuhnya sambil mencondongkan bunga yang ia bawa kepadaku.

“Hyeri-ah, aku telah jatuh cinta kepadamu sejak pertama kali mendengar permainan piano-mu. Saat ku melihatmu, aku langsung terpanah dan detik itu juga aku mengagumimu. Hari ini aku mau mengakui semuanya. Mau kah kau menjadi ibu dari Jungra dan anak-anakku kelak?”

Aku terpaku. Tak bisa berkata apa-apa.

“Hyeri-ah?”

Aku pun mengambil bunganya dan mengangguk.

“Jadi?” Tanyanya sekali lagi. Aku mendengus sebal.

“Yes. I will.” Ah. Rasanya pipiku terbakar.

Junmyeon berdiri dan memelukku.

“Terimakasih Hyeri-ah. Aku mencintaimu.”

Ia melepas dekapannya lalu mencium bibirku dengan lembut. Di bawah sinar bulan kami berciuman cukup lama sampai satu suara menginterupsi kami.

“Eomma, appa.”

Kami pun melepas pagutan kami dan beralih ke anak itu.

“Jungra-ya. Kau mengganggu Appa dan calon Eomma-mu. Aishh.” aku menyenggol lengan Junmyeon dan menatapnya.

Jungra menghampiri kami dan aku memeluknya. Junmyeon pun ikut memeluk kami.

“Aku menyayangi kalian.”

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s