[SUHO BIRTHDAY PROJECT] She Would Not – Presiousca

[SUHO BIRTHDAY PROJECT] She Would Not – Presiousca || Suho-Nana || Romance Angst || G
.
.

Pada perputaran waktu yang terus berjalan, berputarlah pula nasib para manusia.

Karena detik yang memakan menit, lalu menelan jam demi menghasilkan hari. Ada banyak peraduan takdir manusia yang terlewat sudah. Bak roda yang terus berputar, bagai air yang berproses menjadi hujan.

Semuanya pergi dan kembali. Tumbuh dengan baik lalu berujung mati. Karena semua yang dimulai, pasti akan bertemu dengan akhir.

Tapi tidak untuk cinta pemuda ini.

Cinta yang masih menggantung di dalam tenggorokan. Kasih yang masih betah disimpan di dalam relung perasaan.
Suho, begitulah mereka memanggilnya.

Si pemuda dengan berjuta cinta yang hanya berani dia simpan sendirian. Lebih banyak memiliki takut untuk menyampaikan kepada gadis manis beritikad yang duduk di dalam toko bunga, ketimbang mengatakannya.

“Dia didekati banyak lelaki yang lebih kaya dariku.” Itulah alasan pertama saat seorang kerabat bertanya.

Mengapa tak kau katakan saja rasa cintamu itu? Kenapa terlalu takut untuk menerima sebuah jawaban?

“Nana, mengenal banyak pria yang lebih tampan dariku.” Itulah alasan kedua, kenapa Suho enggan mengungkapkannya.

Nana. Gadis yang sudah dia jadikan teman selama lima tahun belakangan. Si paras ayu yang bekerja di toko bunga milik keluarganya yang dianugerahi perilaku lembut nan ceria.

Si rambut coklat tua yang memikat hatinya sejak pertama berjumpa.

“Kau terlalu takut. Aku ragu kalau dia akan menolakmu.” Ucap salah seorang kerabat saat Suho meminta saran.

“Tapi, hampir setiap bulan dia didekati oleh laki-laki yang berbeda. Semuanya memiliki kendaraan mewah dan wajah tampan. Nana, pastilah memiliki banyak pilihan selain aku.”

Suho, si pemuda dengan berjuta cinta yang selalu diliputi ketakutan.

Terlalu lama tenggelam dalam keraguannya untuk menyampaikan. Terlalu takut untuk bersaing dengan mereka yang mendekati Nana dengan giat.

Terlalu sibuk dengan rasa rendah dirinya, hingga tidak bisa mengalahkan takut untuk patah hati. Sampai lupa kalau di dunia ini masih ada hukum sebab-akibat.

Bahwa sebab apa Nana bertahan untuk menolak para lelaki hebat di luar sana.

Bahwa sebenarnya, Nana menyimpan hati hanya untuk siapa? Siapa sangka kalau sepotong berharga itu diberikan untuk Suho? Anak dari pemilik toko bunga tempat gadis cantik itu bekerja. Pemuda yang pertama kali mengajarkan padanya cara membuat sebuket bunga.

Sayangnya, Nana tidak tahu kalau si pemuda dengan berjuta cinta itu berhati lemah. Dengan mirisnya, ribuan rasa itu berhasil dikalahkan hanya dengan sepuluh kegundahan.

Maka akibatnya adalah, dua insan yang diliputi cinta itu serasa buta. Tidak tahu kalau keduanya telah jatuh kepada satu sama lain. Tidak tahu kalau baik Nana maupun Suho selalu menahan tatapan memuja itu dibalik wajah dingin masing-masing.

“Nana pasti, tidak mau menerima cintaku.”

Terlalu takut untuk menerima jawaban yang bahkan belum pernah Suho tanyakan. Dan lebih memilih untuk diam di tempat, selagi perputaran takdir di sekitar terus berjalan.

Maka biarlah.

Biarkanlah rasa tidak tahu dan takut terus menggerogoti perasaan keduanya. Menuakan rasa cinta yang seharusnya bisa saling melengkapi.

Karena detik yang memakan menit, lalu menelan jam demi menghasilkan hari. Ada banyak peraduan takdir manusia yang terlewat sudah. Bak roda yang terus berputar, bagai air yang berproses menjadi hujan.

Semuanya pergi dan kembali. Tumbuh dengan baik lalu berujung mati. Karena semua yang dimulai, pasti akan bertemu dengan akhir.
Tapi tidak untuk cinta pemuda ini.
.
.
.
END

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s