[SUHO BIRTHDAY PROJECT] MONOCHROME – khofiyana putri

[ SUHO BIRTHDAY PROJECT] MONOCHROME- khofiyana putri
Cast : Suho
Genre : ff
Rating : g

 

 

Angin berhembus kencang, udara kota Seoul nampaknya akan jauh lehih dingin dalam dua jam kedepan. Namun hal itu nampaknya tidak sama sekali mempengaruhi lelaki yang saat ini terduduk di bawah pohon akasia tua dengan sebotol soju ditangannya. Ditenggaknya botol itu dengan cepat, berharap agar rasa sesak yang seakan menikam dadanya itu cepat hilang. Atau barangkali ia akan lupa akan setumpuk masalah yang mengganjal pikirannya. Atau kalau bisa, masalahnya akan hilang seiring dengan kesadarannya yang mulai menghilang juga. Dengan hoodie hitam yang saat ini dikenakannya nampaknya cukup untuk membuat ia tidak dikenali, oh tapi orang-orang bahkan tidak mempunyai alasan untuk berjalan-jalan di tepi sungai han dengan udara minus satu derajat.

 

Sudah botol kelima ketika seorang gadis dengan coat coklat berlari-lari kecil menuju pohon akasia tua itu, tempat yang sama dengan Suho saat ini berada. Ia tersenyum kecil, namun hanya dibalas Suho dengan tatapan datar. Kemudian ia ikut terduduk di samping Suho dan mengulurkan tangannya, “saya Oh Ha Neul” gadis itu memperkenalkan diri. Suho memperhatikannya lekat, gadis dengan rambut hitam sebahu dan kacamata bulatnya itu tampak tidak berbahaya. Iapun menjabat uluran tangannya dan berujar, “saya Suho”

“oh tentu. Siapa yang tidak mengenal kamu? Saya bahkan melihatmu hampir setiap hari di televisi”, ucap Oh Ha Neul “barusanpun saya lihat wajah kamu di poster yang ada di tempat pemberhentian bus” lanjut gadis itu.

 

Suho masih tetap diam. Oh, memangnya siapa yang tidak kenal Suho? Leader dari boy grup Exo yang terkenal dimana-mana.

 

“kamu sekarang sudah sangat terkanal. kamu bahagia? Oh, benar. Sekarang kamu sudah bersinar terang seperti bintang di langit. Ah tapi tunggu dulu, sebenarnya seperti apa warna langit itu? nama saya berarti langit, tapi saya tidak pernah tau warna langit itu seperti apa. Apa benar-benar indah?” tanya Ha Neul. Suho menyerngitkan dahi. Rasa pusing sudah semakin menyerangnya yang berarti ia sudah semakin mabuk. Tapi nampaknya gadis di sampingnya ini jauh lebih mabuk. Dengan mabuk ia pun menatap Ha Neul, “apa sebenarnya yang kamu bicarakan?”

 

“orang-orang selalu menyalahkan dan memandang rendah saya. Tidakkah mereka mengerti keadaan saya yang hanya melihat hitam dan putih?” ucap Oh ha Neul lemah. Ia menunduk, memeluk erat kedua lututnya.

“apa bedanya kamu dengan saya? Hidup saya bahkan sudah kehilangan warnanya. Hanya ada hitam, tanpa ada lagi putih” balas Suho.

 

Oh Ha Neul menghembuskan napasnya pelan, mengerti apa maksud dari perkataan Suho barusan. Kemudian ia kembali menatap Suho, “tidak, Suho. Apa yang saya lihat hanya sebatas hitam dan putih. Saya tidak pernah tau seperti apa warna merah itu, saya tidak pernah tau seperti apa warna biru itu” terangnya.

 

Suho dengan cepat menoleh, alisnya saling bertautan menatap Ha Neul dengan keterkejutan. Namun gadis itu masih tampak tenang. “ya, saya memang mengidap achromatopsia” ucapnya. “saya memang tidak bisa melihat warna. Tapi saya berusaha untuk melihat warna-warna dalam hidup saya. Berbeda dengan kamu, hanya ada hitam karena kamu tidak pernah mencoba untuk melihat warna lain”

 

“berhenti bertindak seolah kamu mengenal saya” ucap Suho datar.

 

“kamu mungkin tidak mengingat saya. Tapi saya cukup mengenal kamu, Kim Jun Myeon” jawab Ha Neul. Matanya menatap lurus kedalam iris cokelat tua yang ada di hadapannya. “berhenti menyalahkan dirimu sendiri Suho, semua ini bukan murni kesalahanmu. Soal album terbaru kalian yang bocor itu bukan salahmu. Apa dengan manjadi mabuk dapat menyembuhkan cedera yang kamu alami sekarang? berhenti bertindak bodoh dengan menyalahkan diri sendiri,Suho. Itu seperti bukan dirimu”

 

Suho kemudian menatap Ha Neul tajam. tatapan tajam yang dapat membuat pertahanan seseorang runtuh dengan mudahnya. Namun tidak dengan gadis itu, ia justru balik menatap Suho sama tajamnya. Tanpa ada ragu sedikitpun. “Jun Myeon yang aku kenal tidak akan menyerah dan lari dari masalah dengan bertindak bodoh seperti ini. Jun Myeon yang aku kenal sudah terbiasa menjadi seorang pemimpin sejak ia kecil. Jadi ia tidak akan jadi pengecut”

 

“siapa kamu sebenarnya?” tanya Suho akhirnya.

 

“satu hal, Suho. Hidup itu seperti roda yang berputar. Setiap orang pasti pernah berada di puncak atau sebaliknya. Dan saat ini kamu sedang berada di titik terendah, bukankah saat ini juga kamu harus bangkit dan berlari? Apa kamu tidak ingin mengejar kembali apa yang sudah susah payah kamu dapatkan? Ada begitu banyak fans yang selalu mendukungmu diluar sana Suho, jangan beranggapan bahwa kamu sendirian.” Ujar Ha Neul. “saya bertanya siapa kamu. Tapi kenapa kamu justru bertindak seolah tau kondisi saya?” balas Suho.

 

“kamu mungkin tidak ingat. Jadi siapa saya apa masih penting sekarang ini? buka matamu Suho, coba lihat warna-warna yang sempat kamu torehkan. Berhenti untuk merutuki diri sendiri. Semua member mengkhawatirkanmu. Apa kamu juga ingin menghancurkan kepercayaan fans yang selalu mendukungmu diluar sana?” usai berujar, Ha Neulpun bangkit berdiri, menepuk bagian belakang jeansnya yang kotor. Tanpa kata pamit, iapun perlahan melangkahkan kaki menjauh.

 

Suho memperhatikan punggung kecil itu yang perlahan semakin mengecil yang kemudian hilang dari pandangan. otaknya masih sibuk menimbang nimbang, mata almond itu, bagaimana cara gadis itu memandangnya terasa tidak asing. Iapun sama sekali tidak gentar dengan tatapannya. Siapa sebenarnya dia?

 

Pandangan Suhopun tiba-tiba teralihkan pada sebuah benda yang tampak berkilauan. Iapun mengambil benda tersebut yang ternyata adalah sebuah kalung berbentuk burung angsa. Suho memandangnya dalam-dalam. dan seketika itupula kenangan akan masa lalu seakan menghantam ingatannya. Menari-nari dalam benak seperti sebuah kaset rusak. Perlahan potongan pazzle pun kembali tersusun. Ia mendesah, kemudian membawa kedua tangannya untuk mengacak rambutnya. Baru sekarang ia menyadari betapa bodohnya dirinya. Kenapa ia tidak mengenali sahabat kecilnya meski ia sudah memperkenalkan namanya?

 

Kemudian ia bangkit berdiri, membuang botol soju yang masih ada digenggamannya dengan asal. dengan langkah lebarnya ia berlari. Berusaha mengejar ketertinggalannya.

 

 

(A/N): Achromatopsia, mengacu pada ketidakmampuan mata untuk melihat warna sama sekali.

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s