[SUHO BIRTHDAY PROJECT] Imprévisible – ShalsaM

[SUHO BIRTHDAY PROJECT] Imprévisible – ShalsaM
Kim Junmyeom & OC || Romance, Angst || PG17

 

-Happy Reading-

 

Aku kecewa, sungguh. Dia yang membuatku bahagia, dia juga yang membuatku sengsara. Bukan maksudku menyalahkanmu, aku juga menyalahkan diriku sendiri, menyalahkan keadaan, menyalahkan takdir. Mungkin memang salahku— delusi ku berkata kau lah cahaya itu, cahaya yang mampu membawaku pergi meninggalkan kegelapan, kepedihan, dan juga kesengsaraan.

Tapi faktanya, kau lah yang menjerumuskanku ke kegelapan yang lebih pekat hingga tak ada harapanku untuk mencari setitik cahaya lagi. Ada sedikit rasa bersyukur di diriku, kau menyadarkanku bahwa apa yang ku cintai belum tentu baik bagiku.

Si bodoh itu, maksudku Kim junmyeon orang paling bodoh yang pernah aku temui sepanjang hidupku. Aku tidak habis pikir kenapa dia bisa bertahan dalam menyimpan rahasia ini semua, dia memang bodoh dalam pelajaran tapi setidaknya dia bisa berpikir cerdas dalam masalah ini.

Dua tahun berlalu, aku berdiri di sini menapaki jalan gelap untuk bertahan hidup selagi aku masih muda. Tidak lucu bukan jika di usia muda, aku mengeluh bahwa tulangku keropos akibat memikirkan dia?

Aku pindah ke Busan untuk menenangkan diriku yang terjebak dalam sebuah delusi, aku hanya ingin saja. Kedua orang tuaku pergi satu tahun yang lalu untuk selamanya, dan disinilah aku hidup sendiri tanpa bantuan siapapun.

Sebelumnya aku pergi ke Seoul untuk melanjutkan hidup dengan bantuan si bodoh itu juga, tapi setelah semuanya terjadi aku sepakat kepada diriku sendiri untuk menyelesaikan kepedihan di hatiku ini. Memaafkan itu susah, dendam itu manusiawi. Mereka yang menyakitiku akan berada di pikiranku, mungkin untuk jangka waktu yang lama jika aku masih terpuruk dan membiarkan kepedihan menggerogoti diriku. Aku tak meminta waktu untuk menyembuhkanku, aku lah yang akan mengobati diriku sendiri.

“JUNMYEON!”

Nama itu, setiap kali aku mendengarnya aku selalu mengindar walaupun aku tahu itu bukan dia. Si bodoh yang aku benci, aku tahu selama ini dia membuntutiku saat aku pergi dan pulang kerja. Walaupun dua tahun berlalu, kejadian masa itu masih belum bisa aku lupakan dari diriku.

Pun aku bingung pada diriku sendiri, apakah aku sudah memafkan dia atau belum. Aku bukanlah orang yang mudah memaafkan kesalah orang lain, tapi untuk dia…

 

 

 

Aku mendorong keras pintu minimarket yang jaraknya tak jauh dari tempat kerjaku, aku selalu menyempatkan membeli ramen atau sekadar secangkir kopi hangat di sana.

 

“Selamat datang” sapa kasir yang ramah itu ketika aku menginjakkan lantai minimarket, Baekhyun.

 

Aku membalasnya dengan seulas senyuman, aku berjalan ke arah rak kimbap dam kopi hangat yang bersebelahan. Tiga buah kimbap dengan dua gelas kopi hangat mungkin cukup untuk dia.

Aku berjalan ke arah kasir untuk membayar semuanya, aku tahu dia masih menungguku di ujung jalan sana, “Totalnya 20 won, nuuna” kata Baekhyun pelan.

Aku langsung mengeluarkan secarik kertas uang bernilai 30 won kepadanya tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun karena aku ingin mengirit energiku di saat cuaca dingin ini, “Tumben kau beli sebanyak ini, nuuna. Omong-omong untuk siapa? Aku yakin kau tidak mungkin menghabiskannya sendirian”

 

Ah, anak ini memang suka bertanya. Tak apa, aku menyukainya.

 

 

“He, untuk temanku. Dia sedang menungguku di ujung jalan sana. Sudah ya aku duluan, kopi nya nanti keburu dingin” ucapku sambil menenteng sekantung kimbap dan dua gelas kopi hangat di tangan.

 

 

Aku berjalan keluar dan kulihat dia sedang berlari kecil berusha menyembunyikan dirinya dari pandangan mataku, dasar si bodoh itu!

 

“Hei bodoh!”

 

 

Sepertinya aku mengagetkan dia, nampak raut wajah kecemasan di setiap titiknya, kantung mata yang menghitam bahkan kumis tipis mulai bermunculan di atas bibirnya. Anak itu, sudah dewasa sepertinya.

“Kenapa? Terkejut?” Tanyaku.

Aku menyodorkan segelas kopi hangat dan dua bungkus kimbap favoritnya kehadapanya, dia mengambilnya dengan lembut sambil tersenyum sedikit.

Namun aku tahu. Dia sedang kebingungan sekarang.

 

“Berhenti mengikutiku!” pintaku.

 

 

Dia tergelak, terkejut mendengar ucapanku sepertinya.

 

“Sudah kubilang aku bisa menyelesaiakan masalah ini sendiri, bukan? Mulai sekarang berhenti mengikutiku dan kembalilah.”

 

Aku berbalik meninggalkannya, bayangan tubuhnya perlahan menghilang dari sudut pandang mataku. Harus ku akui ada sedikit rasa perih menghantan dadaku, tapi aku bisa menngendalikannya.

Rasa hangatan menyentuh kulitku lalu menjalar ke seluruh punggung ku kala seseorang memelukku dari belakang dan berbisik, “Beri aku kesempatan”

Aku merasakan deru nafas yang tak terkendali di balik ucapan itu di bahuku. Tubuhku terlalu kecil untuk menghajarnya, berani beraninya si bodoh ini memelukku di tempat umum.

“Maafkan aku, Kita mulai dari awal. Aku merindukanmu.” Lirihnya sekali lagi.

 

 

Kali ini aku tak bisa mengendalikan perasaan yang ku tahan selama bertahun-tahun. Jujur, aku merindukannya. Tapi aku terlalu bodoh dan tak pantas karena telah meninggalkan luka yang cukup dalam di benaknya.

 

 

“Bodoh! Jangan seperti ini, di tempat umum.” Aku berbalik badan dan kini aku bisa melihat mata indah dan lengkungan wajah yang aku rindukan itu.

 

“Jangan pernah berkata seperti itu lagi, aku sudah melupakan itu semua.”

“Jadi, kau mau?”

 

 

 

Tuhan

 

 

Sepasang mata coklatnya seketika menyihirku, membuatku terdiam tak bisa menjawab pertanyaan bodohnya, dasar!

 

“Apa? Apa jawabannya?” Tanya nya.

“Yaaa itu” kataku,
Aku melirik ke arah lain, berusaha menutupi rasa gugup yang merasuki tubuhku. Tak pernah ku sangka jika setelah dua tahun berlalu, ia masih bisa membuatku merasa seperti ini.

 

 

“Jadi apa?” Tanyanya lagi untuk memperjelas jawabanku.

 

 

 

 

 

 

Aku terdiam. Mata hitamnya yang hangat menatapku intens, seakan meraba-raba menulusuriku, membuatku terhanyut.
Aku bergerak maju, dan wajahku begitu dekat dengannya. Aku bisa merasakan hembusan nafasnya di wajahku. Aku membeku.
Jantungku berdesir, sangat kuat. Aku tidak tahu perasaan aneh macam apalagi yang melandaku saat ini, tapi aju tidak bisa mengelak debaran di jantungku. Aku menatap bibir dan kedua matanya bergantian. Berdebar-debar.

Mendongak, aku meraih wajahnya.

 

 

 

 

 

CUP

 

 

 

 

 

Aku tidak tahu kenapa aku bisa berani seperti ini menariknya untuk kucium, aku merasa sesuatu yang menghilang dari diriku kembali seketika. Dan ternyata aku tahu apa yang aku cari itu ….

END

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s