[SUHO BIRTHDAY PROJECT] Feeling-Samdeer

[SUHO BIRTHDAY PROJECT] Feeling-Samdeer

Kim Junmyeon, Seulgi (RV), Kim Jaemin (OC) | Romance | PG-15 |

Supported by Ooh Sehun

 

FEELING

 

“Seul, kita akhiri saja ya?”

 

Untung saja aku tidak sedang mengunyah roti isiku. Jadi, aku tidak perlu khawatir tentang memuntahkan kunyahanku tepat di wajah Jaemin–pasti akan sangat memalukan.

 

Aku segera menjauhkan roti isiku, membiarkannya kembali ke kotak makan siang dan menutupnya agar tidak dihinggapi lalat.

 

“Ini untukmu,” katanya.

 

Aku menatapnya bingung. Setelah mengatakan putus, ia memberiku sebuah bunga? –Oh, Come on! Jangan pikir aku akan menangis setelah ini. Hatiku memang sakit, sih. Tapi, aku tidak mau Jaemin malah berpikir kalau dia sudah berhasil membuatku tergila-gila padanya–walau itu memang benar adanya.

 

“Aku ada urusan, aku pergi dulu ya.”

 

Aku terpaku. Aku butuh penjelasan; mengapa dia memutuskanku, mengapa dia memberiku bunga, mengapa dia pergi, dan mengapa aku tidak bertanya sebelum dia pergi. Dia bahkan tidak memberiku kesempatan untuk mengucapkan kalimat perpisahan padanya.

 

Aku menatap punggungnya yang perlahan menjauh. Bahkan dari belakang saja, ia tampak tampan. Jae, kuharap hidupku bisa bahagia setelah ini.

 

===

 

Membuang bunga di tempat sampah memang belum pernah aku lakukan. Jadi, ini pertama kalinya aku membuang bunga ke tempat sampah; buket bunga tulip pemberian Jaemin tadi siang.

 

Sore ini, menghabiskan waktu di Cafe Bubble menjadi pilihanku. Mungkin menghabiskan segelas Bubble Tea akan membuat pikiranku jadi lebih segar.

 

“Sore Seulgi.” Suara Sehun -si pemilik Cafe- yang pertama menyambutku setelah aku berada di dalam Cafe.

 

“Expresso,” ucapku pada Sehun saat ia menghampiriku dengan pulpen dan buku catatan yang selalu dibawanya untuk melayani.

 

“Coffee?” tanyanya heran. Wajar saja ia heran. Setahunya, aku tak pernah meminum kopi di sini. Bukannya aku suka kopi. Aku hanya ingin tahu saja, seperti apa sih rasa minuman kesukaan Jaemin itu.

 

Aku mengangguk meyakinkan; dan Sehun mengangguk mengerti, lalu pergi.

 

===

 

Kopiku sudah tiba 5 menit yang lalu. Dan aku belum menyentuhnya sama sekali. Lagi-lagi Jaemin membuatku tidak bisa menikmati waktuku. Haha! Lucu juga ya, mengingat ekspresi bodohku sewaktu menatapnya kemarin. Mata hijau keabu-abuannya yang tajam, kulit tannya yang terlihat seksi, dan bibirnya yang-Astaga, apa yang aku pikirkan?! Ah! Jaemin benar-benar membuatku frustasi. Rasanya aku ingin membenturkan kepalaku ke meja putih milik Sehun ini sampai terbelah dua dan aku kehilangan kesadaran lalu saat terbangun besoknya, aku amnesia dan hidup bahagia tanpa harus mengenal atau mengingat Jaemin lagi. Tapi batal saat aku melihat seseorang menarik kursi di depanku.

 

Jaemin?

 

Tunggu, aku salah lihat. Dia bukan Jaemin. Ternyata dia orang lain yang punya wajah mirip dengan Jaemin. Ia terlihat lebih muda dari Jaemin. Matanya juga bukan mata hijau keabu-abuan milik Jaemin. Atau… Jaemin habis dari salon, lalu mengganti lensa matanya, berpura-pura jadi orang lain untuk bertemu denganku?! Yah, setidaknya itulah yang kupikirkan saat ini. Intinya aku merasa seperti melihat Jaemin saat ini –lebih tepatnya berharap melihat Jaemin. Hahaha!

 

Kupikir sebentar lagi Jaemin benar-benar membuatku gila.

 

“Junmyeon.” Ucapnya tiba-tiba.

 

Aku tersadar dari lamunanku. Ah, ternyata dia sedang memperkenalkan dirinya.

 

“Seulgi.”

 

Aku menyeruput kopiku. Pahit (ternyata).

 

“Kenapa minum kopi, kalau tidak suka?”

 

Aku refleks menatapnya. Aku tahu aku tidak bisa meyembunyikan ekspresiku -yang memalukan ini-. Sebisa mungkin aku tersenyum sambil mengangkat cangkir kopiku, berharap bisa menyembunyikan rasa maluku ini.

 

Junmyeon tertawa. “Minum bubble tea saja, Nona.”

 

“Seulgi.” Interupsiku cepat-cepat.

 

“Iya, Seulgi.” Junmyeon melambai-lambai, memanggil Sehun. “Bubble tea, Hun!”

 

“Sip!” Sehun membentuk tanda ‘OK’ dengan tangannya, kemudian menjauh dari meja kami.

 

Aku mengernyit. Lelaki ini –Junmyeon, maksudku, mengenal Sehun?

 

===

 

Di sinilah aku sekarang, menunggu Cafe Bubble sepi, agar aku bisa bicara empat mata dengan pemiliknya. Aku harus meminta penjelasan tentang apa yang kulihat kemarin. Dan satu-satunya orang yang kupikir tahu adalah Sehun. Karena faktanya, Sehun adalah sahabat Jaemin, dan Sehun juga mengenal Junmyeon. Jadi, kupikir Sehun tahu semuanya.

 

“Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?” Sehun yang baru saja kembali dari meja terakhir yang ia bersihkan, menarik kursi di depanku dan segera duduk.

 

“Begini, aku ingin bertanya satu hal.” Kulihat Sehun mulai mendengarkan dengan serius. “Sebenarnya, apa hubungan Junmyeon dengan… ekhm, Jaemin?” tanyaku dengan sengaja memelankan suara saat menyebut nama ‘Jaemin’. Astaga, biasa saja Seulgi!

 

“Memangnya mereka kenapa?”

 

“Entahlah, aku hanya penasaran. Kemarin aku tak sengaja melihat mereka keluar dari mobil yang sama, saat aku sedang berada di kampus. Dan juga, dua hari yang lalu, aku melihat ayah Jaemin sedang berbincang-bincang dengan Junmyeon. Mereka sangat akrab, sampai-sampai aku berpikir kalau mereka itu ayah dan anak!” Aku yakin aku terdengar sangat antusias. Jadi, cepat-cepat aku berdehem agar Sehun tidak memerhatikan keantusiasanku.

 

Sehun terkekeh pelan. “Antusias sekali,” ya, Sehun memang tidak mudah dimanipulasi. “Mengapa kau tidak bertanya sendiri pada mereka?”

 

“Kau tahu sendiri kan, aku mengenal Junmyeon baru dua bulan.”

 

“Jaemin?”

 

Aku menatapnya tajam. Aku bahkan tidak berani bicara dengan Jaemin semenjak 2 bulan -kami putus- itu.

 

“Jangan marah, Seul. Aku hanya bercanda. Ngomong-ngomong, aku juga ingin tahu. Memangnya apa yang kau pikirkan saat pertama kali melihat Junmyeon?”

 

Aku mengingat-ingat. “Junmyeon? Wajahnya mirip Jaemin.” Miripkah? Ah, aku tidak terlalu ingat.

 

“Itulah jawabannya.”

 

===

 

Aku sedang memasukkan lolipop berukuran sedang ke mulutku saat Jaemin melintas dengan tampannya di hadapanku. Tanpa sadar aku menahan napas dan mengekori langkah Jaemin yang seolah sedang dalam mode slow motion itu.

 

“Hei!”

 

Aku menoleh, mendapati Junmyeon yang sedang mencari-cari kemana arahnya pandangan mataku tadi. Buru-buru aku menyapanya,”hai!”

 

Junmyeon memicingkan matanya. “Ada apa kau melihat-lihat hyungku? Kau naksir ya?”

 

“Seperti yang kau pikirkan, mereka -Jaemin dan bocah tengik itu memang saudara.”

 

“Benarkah? Jadi, siapa yang lebih dekat denganmu?”

 

“Yang lebih dekat denganku? Junmyeon. Lalu, calon pacarmu itulah yang memperkenalkan mantan pacarmu kepadaku.”

 

“Yak! Apa-apaan dengan calon dan mantan pacar itu?!”

 

“Tak usah malu, kau menyukai Junmyeon kan?”

 

“Hm… Seulgi!” Tanpa sadar, aku memang hanya memandang Junmyeon dengan tatapan datar sejak tadi. Sibuk memikirkan percakapanku dengan Sehun kemarin. Apa aku benar-benar menyukai Junmyeon? Menyukainya disaat kakaknya adalah mantan pacarku?

 

“Tidak.” Jawabku datar.

 

“Itu karena kau mantan pacarnya.”

 

“Tahu darimana?”

 

“Sehun.”

 

“Sehun? Dia bilang apa lagi padamu?”

 

“Tenang saja, calon pacarmu ini tidak akan percaya sepenuhnya dengan perkataan bocah tengik itu.”

 

“Calon pacar?!”

 

“Ya, dan sekarang akan menjadi pacar. Benarkan?”

 

“Mimpi.”

 

“Iya, mimpi yang jadi kenyataan.”

 

“Kau gila.”

 

“Tidak, aku menyukaimu.”

 

Aku terkekeh geli. Setidaknya aku sudah tahu perasaanku padanya. Aku menyukai Junmyeon. Karena dia, aku tidak jadi gila memikirkan Jaemin. (Ini berlebihan dan aku tahu itu.) Dan Jaemin, sebaiknya aku harus menghilangkan rasa canggungku terhadapnya. Karena sepertinya, aku akan sering-sering bertemu dia mulai hari ini. Oh iya, mengenai perkataanku waktu itu (yang aku bilang aku berharap bisa bahagia setelah putus dari Jaemin) kupikir aku memiliki secercah harapan baru. Hm… Siapa yang tahu rencana Tuhan ke depannya?

 

END.

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s