[SUHO BIRTHDAY PROJECT] Deja Vu-Pearlyrose🌸

[SUHO BIRTHDAY PROJECT] Deja Vu-Pearlyrose🌸
Suho & OC || Romance || Oneshoot || PG 15 ||

 

Berlari.
Itulah yang kulakukan sekarang. Berlari dari kelamnya hidupku. Sungguh pahit rasanya menjadi babu yang diperlakukan dengan tidak manusiawi. Bekerja dari pagi buta hingga larut malam untuk sebuah keluarga keji, dilontarkan caci dan makian sudah biasa bagiku. Sebagai upah, aku hanya memakan makanan sisa. Dan untuk beristirahat, aku tidur diatas tumpukan jerami, ditemani dinginnya malam hingga fajar menyingsing, di atas loteng sesak penuh debu dan jaring laba-laba.

Aku mengangkat pakaian lusuhku ini, demi dapat berlari leluasa. Berharap tidak ada yang mengejarku dan membawaku kembali ke tempat terkutuk itu.
Ketika merasa aman, aku pun memperlambat langkahku. Kelelahan, aku memilih untuk beristirahat sejenak dibawah pohon Ek lebat ini. Sambil memakan sedikit bekal yang kubawa dari rumah, maksudku tempat menyeramkan itu. Terpikir olehku, dimana aku akan tinggal? Jujur, aku agak takut dengan suasana hutan. Sudahlah, tempat itu lebih buruk lagi, pikirku.

.

Hangatnya sinar mentari membangunkanku dari tidur. Mwo? Berarti aku tertidur di bawah pohon ini. Lumayan nyaman.

“Sudah bangun nona?”

Terdengar suara seseorang dan membuatku terkejut. Akupun memberanikan diri menoleh ke belakang. Seorang lelaki tampan.

“Kau siapa?”, tanyaku.

“Namaku Kim Junmyeon, kau bisa memanggilku Suho.”,
Lelaki itu tersenyum padaku.

Aku tak membalas senyumannya, masih sibuk dengan pikiranku.

“Siapa namamu?”, tanyanya.

“Eugene.”, jawabku singkat.

“Hmm. Kajja ikutlah denganku.”

“Kemana?”, tanyaku bingung.

“Sudahlah ikut saja.”
Aku pun memilih untuk menurutinya saja dan menaiki kuda yang ia tunggangi.
Setelah menempuh perjalanan, aku dan lelaki bernama Suho itu pun tiba di sebuah gerbang raksasa.

“Istana?”, ujarku.

Ia tak menjawab. Mungkin saja ia petugas istana. Mengapa ia tak bilang? Ataukah ia kasihan melihat ku tertidur seperti semalam di bawah pohon dan membawaku kesini. Akankah aku dijadikan dayang? Huhh melelahkan. Tapi tak apa selama itu masih wajar. ‘Gomawo Suho-ssi’ seruku dalam hati.
Suho menghentikan kudanya. Ia turun lebih dulu, baru menolongku yang kesulitan dengan gaun ini. Dia namja baik. Aku mengikutinya memasuki salah satu pintu istana yang megah. Pandanganku tertuju pada semua ornament indah khas kerajaan. Namun Suho terlihat berjalan tergesa-gesa. Kupikir Suho mengerti. Aku pun memanggilnya

“Suho-ssi, Suho-ssi chakaman juseyo.”, panggilku. Namun ia tidak juga menoleh. Aku pun berusaha mengejarnya. Namun langkahku ditahan oleh dua orang wanita yang sepertinya mengenakan seragam kerajaan.

“Yakk kalian siapa? Lepaskan aku!”, ujarku.

“Nona, anda harus ikut kami.”, ujar salah satu wanita tersebut.

“Shireoyo! Aku tak mengenal kalian” , protesku.

“Nona, kami diperintahkan untuk mengurus nona.”, ujar yang satunya lagi.

“Mengurus apa? Jangan membuatku menjadi bodoh seperti ini.”

Tanpa mempedulikan keadaan lagi, kedua wanita itu membopongku. Aku terus meronta, namun sepertinya tak ada yang mendengarku.

“Nona, anda akan kami mandikan sekarang.”, ujar seseorang berpakaian sama seperti dua wanita tadi.

“Mwoya?? Ada apa ini?! Shireo!! Aku bisa mandi sendiri.”, seruku.

“Andwae….” rontaku, namun mereka tetap saja melakukan apa yang diperintahkan oleh ketuanya dan beginilah aku, mengikuti apa yang mereka perbuat.

“Yakk hentikan! Tinggalkan aku sendiri.”, ujarku.

“Mianhamnida nona, kau harus diberi perawatan dari kami. Kami mohon nikmatilah ramuan dan kesegaran ini, nona.”

Aku pun hanya pasrah. Mereka memperlakukanku dengan sangat baik, layaknya seorang putri. Ternyata menyenangkan juga. Namun aku masih tak mengerti dengan apa yang terjadi.

.
.

“Yakk apakah tidak ada pakaian lain selain pakaian ini?”, tanyaku pada mereka.

“Mianhamni-

“Cukup meminta maaf padaku! Langsung saja katakan alasannya.”

“Ahh geureom, pangeran memerintahkan kami untuk memakaikan pakian ini kepada anda.”

Pangeran? Ada apalagi ini?
Akupun tak ingin memikirkannya lagi dan memilih untuk menurutinya saja.
Seorang dayang memintaku mengikutinya dan akupun dengan terpaksa menuruti.

“Disinilah tempat anda, saya tinggal dulu.”, ujar dayang tersebut lalu meninggalkanku. Aku yang masih kebingungan ini pun membuka pintu kamar yang dikatakan adalah tempatku.

Seperti pernah merasakan aura ini, pikirku. Aku mulai melangkah memasuki ruangan besar itu. Berkeliling sejenak hingga terkejut ketika seseorang menghampiriku entah dari mana. Namun seperti pernah melihat seseorang ini. Siapa gerangan?

“Suho-ssi?”

“Ne ini aku.”,ia tersenyum.

“Kau..kkau seorang pangeran??”

“Hmm.”

Bagaimana mungkin tak terpikirkan olehku? Kini, setelah ia mengenakan mahkota dan jubah yang megah, baru aku dapat mengetahuinya. Neomu baboya!.

“Bagaimana mungkin?”

“Ternyata kau memang benar gadisku.”

Aku terpaku, semakin tak mengerti.
Ia lalu melangkah menuju meja rias

“Yeppeun yeoja, kemarilah.”

“Pangeran, aku punya nama.”

“Aku tahu namamu bukan Eugene, dan oleh karena itu aku akan memanggilmu Eunra.”

Hey! Bagaimana ia bisa tahu bahwa.aku hanya mengira-ngira. Aku memilki kalung berleontin huruf “E” sehingga aku menamai diriku sendiri Eugene. Bahkan aku tak tahu namaku sendiri namun kejadian ini seperti pernah terjadi. Dan.. tunggu dulu, Eunra? Tak asing di telingaku.
Pangeran tersenyum kepadaku.

“Look at your reflection lady, have you ever felt like this?”, bisiknya ditelingaku yang membuat ku merinding.

“Ehmm.”, jawabku.

Pangeran pun tersenyum senang.

“You’re the real lady, yes you’re my lady.”, suara bassnya menggema di telingaku.

Aku tak tahu harus berbuat apa.
Detik berikutnya, pangeran lalu membalik tubuhku menghadapnya. Ia menatapku lekat-lekat dan begitu pun aku balas menatap manik coklat tua indah itu.

“Princess Eunra.” Ujarnya.

Deja vu! Aku benar-benar pernah merasakannya. Spontan, aku pun meraba wajahnya. Pangeran mendekatkan wajahnya padaku aku pun menutup mata, dan…
.
.
.

“Suho!”

Seorang gadis terbangun dari tidurnya kala petir menghiasi badai tengah malam itu. Sontak seorang lelaki yang tengah bermimpi indah ikut terbangun karena panggilan gadisnya.

“Eunra…benarkah itu kau, sayang? Kau sudah sadar?”

Lelaki itu pun langsung memeluk erat gadisnya dan mengelus rambut pirang kecoklatan milik sang gadis. Gadis yang diketahui bernama Eunra itu tak menjawab, ia masih saja memeluk erat lelakinya.

“Sayang…” panggil gadis itu lembut.

“Heumm?” Tanya lelaki yang berkali kali mengecup rambut beraroma strawberry itu.

“Kau akan selalu mengenaliku, kan?” Tanya Eunra polos.

“Tentu sayangku, whenever you’re.”

Jawaban Suho membuat Eunra merasa tenang.

“Aku mencintaimu.” -Eunra.

“Aku lebih mencintaimu, sayang.”
-Suho

“Aku paling mencintaimu”-Eunra.

“Kita saling mencintai, selamanya”
-Suho.

“You’re my prince, my only prince.”

Eunra pun menghadapkan wajahnya pada Suho dan mengecup bibirnya, masih sambil memeluk lelaki itu diatas pangkuannya. Mereka saling bertatapan satu sama lain lalu keduanya tersenyum bahagia.

“Sekarang, tidurlah.”
Suho mengecup kening Eunra dan mendekapnya dalam pelukan terhangatnya.

“I love you as always, Kim Eunra.”-Suho.

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s