[SUHO BIRTHDAY PROJECT] Cosmic Dust – elferis

[SUHO BIRTHDAY PROJECT] Cosmic Dust – elferis

Cast : Kim Joon Myeon (Suho), aku
Genre : slice of life
Rating : G

》enjoy with the story《

 

 

“Sebentar lagi aku akan debut.”

Begitu isi pesan singkat yang dikirimkan Joon Myeon padaku beberapa detik lalu.

Senang? Tentu saja. Bagaimana aku tidak memiliki perasaan seperti itu bila teman yang merangkap sahabat sedari kecilku ini memang memiliki talenta yang luar biasa. Aku bahkan kagum dengan pencapainnya itu. Dia benar-benar hebat dan memiliki tekad yang kuat untuk mencapai cita-citanya.

“Wahhh aku bahkan tidak sabar untuk menunggu debutmu, selamat ya …,” balasku pada Joon Myeon melalui pesan singkat yang dikirim lewat ponsel.

Aku senyum-senyum sendiri ketika membalas pesan darinya. Aku bahkan sangat rindu dengannya. Sudah hampir satu tahun aku tidak bertatap muka dengan Joon Myeon. Bermain piano bersama, berlari-larian di pantai, atau sekadar membaca novel-novel fantasiku yang jumlahnya sangat banyak.

Dulu, ketika kami masih duduk di bangku sekolah dasar, kami sering bermain. Bahkan sampai lupa akan waktu yang terus berlalu. Joon Myeon adalah orang yang baik, ia tidak seperti anak-anak lain yang sering mengejekku atau membully-ku dengan ocehan mereka yang terdengar pedas juga tajam.

Joon Myeon tidak memandang siapa aku, ia berteman denganku dengan tulus dan membuatku merasa dihargai.

Teringat akan satu hal, pertemuanku dengan Joon Myeon untuk pertama kali adalah saat dia menangis di bawah bayangan pohon maple seorang diri. Pipi kanannya terlihat memerah dan di sana juga tercetak sebuah telapak tangan dengan warna yang sama meski terlihat samar.

Tampak seperti orang yang baru mendapat tamparan cukup keras.

Aku yang sedang bermain di halaman rumah, segera menghampirinya dan meminta ia untuk berhenti menangis. Meski pada dasarnya, aku sangat ragu untuk melakukan hal itu. Mengingat bagaimana anak-anak lain selalu mengejekku dan tidak mau bermain denganku.

Namun siapa sangka? Ternyata Joon Myeon menerimaku dengan tangan terbuka. Rupanya ia juga memiliki minat yang sama denganku. Sama-sama mencintai musik.

“Kau bisa bermain piano? Hebat sekali. Sejak dulu, aku ingin sekali bisa bermain alat musik, tapi orang tuaku selalu melarangku, itu juga yang membuatku sering mendapat hukuman,” katanya ketika aku menunjukkan keahlian bermain pianoku. “Maukah kau mengajariku? Kumohon … aku ingin membuktikan pada mereka jika aku juga bisa menjadi orang sukses dengan bermusik.”

Tentu. Sejak saat itu, aku selalu bermain piano dengannya. Guru les pianoku juga tidak keberatan jika Joon Myeon ikut belajar. Apalagi orang tuaku, mereka malah senang dengan kehadiran Joon Myeon yang sudah dianggap seperti anak mereka sendiri.

Waktu pun berlalu. Kami berdua beranjak menjadi remaja. Joon Myeon semakin mahir dalam bermain piano, tetapi aku juga tidak kalah mahir dengannya. Hanya saja … keahliannya itu didukung dengan suara merdunya yang membuatku terpesona. Ia terlihat menawan, banyak pula remaja perempuan yang menyukainya. Memberinya banyak coklat ketika valentine, dan bahkan ada yang secara blak-blakan untuk meminta Joon Myeon menjadi pacarnya.

Aku juga menyukainya. Tentu saja. Perasaan berbunga ini entah kapan datang padaku. Mungkin juga karena faktor remaja yang memang baru mengenal apa itu cinta dan perasaan menyukai lawan jenis.

Pernah saat itu, ketika aku dan dia sudah memasuki masa sekolah menengah atas dan dia sudah mulai menjadi trainee agensi ternama, aku mencoba memberanikan diri untuk menyatakan perasaanku.

Ya, hanya sebuah pernyataan. Tidak lebih, meski aku memang berharap.

Tetapi,tekad itu aku urungkan cepat ketika Joon Myeon membuatkanku sebuah lagu. Dengan melodi indah dan juga suaranya yang sangat aku suka itu, ia menyanyikan lagu ciptaannya yang mengatakan bahwa aku adalah sahabat terbaik yang pernah dimilikinya.

“Kau menyukainya? Aku tidak tahu berapa persen kebahagiaanku saat ini,” ujarnya ketika selesai bernyanyi. “Berkat bantuanmu, aku bisa lebih dekat untuk mencapai cita-citaku. Rasanya beberapa langkah lagi dan aku akan meledak seperti ledakan supernova, hahaha.”

Aku hanya tersenyum, ia memakai kata pengandaian yang bagus. ‘Seperti ledakan supernova’ aku menyukai kalimat itu, karena aku juga menyukai hal-hal yang berbau astronomi. Namun, aku tidak membalas apa yang ia ucapkan. Perasaanku campur aduk, entah harus senang, sedih atau … kecewa karena perasaanku tak terbalas. Tapi yang pasti, aku tidak mau membuat dia merasa tidak enak hati dan merubah sikapnya padaku. Biarlah tetap begini asalkan Joon Myeon selalu menganggapku ada.

“Kau juga bekerja keraslah. Aku yakin kita akan sama-sama menjadi bintang terkenal. Maksudku … menjadi seseorang yang dapat meraih impian kita layaknya bintang yang selalu bersinar di angkasa tanpa mengenal siang ataupun malam.”

Aku tersentuh mendengar ucapannya itu. Tentu. Aku juga akan berusaha menjadi seorang pianis terkenal yang karyanya dapat dinikmati dan diapresiasi banyak orang. Karena itu memang sudah menjadi cita-citaku sejak kecil.

Joon Myeon dan aku memang saling mendukung. Kami selalu berbagi motivasi untuk terus bergerak maju dalam mencapai mimpi kami.

Hingga saat ini pun, ketika aku sedang menunggu balasan pesan darinya, beberapa menit lagi aku akan tampil dalam sebuah kompetisi yang sudah mencapai babak final.

Kompetisi cipta lagu piano yang bisa mengantarkanku untuk mencapai cita-citaku.

Mendengar namaku terpanggil, aku segera melangkah menghadap para juri yang telah duduk dan bersiap menyaksikan juga menilai penampilanku. Tubuhku sedikit gemetar dan jantungku rasanya mau copot. Namun aku harus bisa menguasai diri. Demi mimpiku, demi orang-orang yang mendukungku, dan demi sahabatku, Joon Myeon.

Setelah dipersilakan, aku segera duduk di depan paino besar dengan tutsnya yang berbaris horizontal. Menghela napas sebentar, kemudian memulai aksi yang selama ini telah kulatih sebaik mungkin.

Mempersembahkan apa yang seharusnya aku lakukan dengan sekuat tenaga. Menyenandungkan melodi merdu dan menukik ketika mencapai puncak, membuat hatiku larut dalam alunannya.

Hingga suara itu terdengar menusuk telingaku.

Suara riuh tepuk tangan yang membuat perasaanku lega dan bahagia. Kurasa aku telah berhasil. Melihat bagaimana reaksi para juri yang memberi standing applause dengan wajah berbinar.

Dan yang lebih membuatku kaget sekaligus tersentuh, dia, Kim Joon Myeon, telah hadir dan menyaksikan penampilanku dengan duduk di pojok bangku penonton. Ia tersenyum sangat cerah. Membuat perasaan yang selama ini aku pendam kembali hadir.

“Kau berhasil.” Begitu kira-kira apa yang dikatakan Joon Myeon melalui gerakan mulutnya.

Ya, meski aku memiliki perasaan itu, perasaan menginginkan dirinya, tapi aku sadar dengan segala kekuranganku. Joon Myeon pantas untuk mendapat seseorang yang lebih baik dari aku. Dan sudah sepatutnya perasaan ini kusimpan rapi dalam hatiku.

Karena aku, hanya seorang gadis bisu yang beruntung memiliki sahabat seperti Joon Myeon. Tanpa menuntutnya untuk memberikan lebih banyak hal.

Karena aku, hanya debu kosmik di angkasa sana yang berukuran sangat kecil dan jarang dianggap namun turut andil dalam pembentukan sebuah bintang.

[]

The End

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s