[SUHO BIRTHDAY PROJECT] Code – cedarpie24

[Suho Birthday Project] Code-cedarpie24
Junmyeon-OC | Angst | G

 

Seharusnya kemarin ia mati. Ya, seharusnya ketika Junmyeon membuka kedua matanya hari ini, ia tak menemukan dirinya masih berbaring di kamarnya. Seharusnya kini ia berada di surga, atau entahlah, di mana pun yang pasti bukan di kamarnya lagi—Junmyeon tak pernah mati jadi ia tak tahu apa yang akan terjadi setelahnya.

Dengan kening mengerut pemuda itu menyingkap lengan kausnya, menampakan pergelangan tangan pucatnya. Matanya memicing ketika ia berusaha membaca deretan angka mungil yang tertoreh di sana.

220517

Benar. Tanggal kematiannya tak berubah, dan memang tak mungkin berubah. Mestinya ia meninggal dunia kemarin, di tanggal 22 Mei, tepat di hari ulang tahunnya—agak menyedihkan, tanggal kematiannya sama dengan tanggal kelahirannya, namun bukan itu masalahnya. Bagaimana bisa jantungnya masih berdetak dengan sangat baik ketika seharusnya ia sudah tak bernyawa?

“Ini tidak benar ‘kan?” Junmyeon menukas cepat. “Seharusnya aku sudah meninggal dari kemarin.”

Di hadapannya Minseok terpekur. “Kau harusnya bersyukur masih diberi kehidupan.”

“Tapi ini tidak benar. Seharusnya aku tidak boleh ada di dunia lagi.” Junmyeon bergumam lesu, kepalanya tertunduk.

Sejenak Minseok hanya bergeming, memandang sedih kawannya itu. Kemudian, ia bertanya hati-hati, “Ini pasti karena Joo ‘kan?”

Perlahan Junmyeon mengangkat kepalanya, balas menatap Minseok dengan kedua mata berembun. Namun, tak sepatah kata pun lolos dari bibirnya.

“Kau tak mau melihat Joo bersanding dengan lelaki lain ‘kan?” Minseok kembali bertanya perlahan, ada segumpal rasa bersalah yang mengendap di hatinya. “Karena itu kau lebih ingin mati ketimbang diberi kesempatan untuk hidup.”

Lantas Junmyeon membuang wajahnya, melepas tawa kering yang kedengaran begitu muram. “Untuk apa bertanya kalau sudah tahu?”

Minseok tak menanggapi. Ia ikut mengalihkan pandangannya.

“Aku tidak memberitahu Joo kapan tanggal kematianku, kurasa karena itu ia juga tak pernah menunjukan tanggal kematiannya padaku.” Junmyeon tahu-tahu berujar. “Dia selalu mengenakan lengan panjang atau jam tangan untuk menutupi pergelangan tangannya.”

Minseok tahu tanggal kematian Joo, tahu alasan sebenarnya gadis itu tak ingin menunjukannya pada Junmyeon. Namun, ia lebih memilih diam. Dikerlingnya pergelangan tangannya sendiri. Dua digit terakhir merupakan 30. Itu artinya waktunya masih begitu lama, tahun 2030.

Semua orang memiliki kode kematian yang tertoreh di pergelangan tangan kiri mereka. Deretan angka berukuran kecil pada kulit, bagai tato permanen yang didapat sejak lahir. Kode itu, menunjukan kapan kehidupan seseorang akan berakhir. Namun hal ini jelas tak bekerja untuk Junmyeon.

“Kau tahu, Junmyeon, entah karena alasan apa mungkin Tuhan tengah memberimu satu kesempatan,” cetus Minseok. Ditatapnya Junmyeon lamat-lamat. “Temui Joo, Junmyeon. Temui dia, aku tahu dia akan senang melihatmu.”

Junmyeon agak terkejut, tak sangka Minseok akan berkata begitu. Lalu sebelum pemuda itu berubah pikiran, Junmyeon mengangguk. Tidak membuang waktu untuk mengikuti perkataan Minseok.

Sementara Minseok mengembuskan napas berat melihat kepergian Junmyeon. Setidaknya ini bisa menebus sedikit rasa bersalahnya pada Junmyeon. Ia telah memberi kesempatan terakhir untuk pemuda itu. Yang mungkin akan jadi kesempatan terakhir juga untuk Joo.

“Kita tidak seharusnya begini. Minseok takkan suka.”

Junmyeon menoleh ketika didengarnya suara lembut itu berujar ragu. Ia tersenyum pahit dan mengembalikan atensinya pada roda kemudi.

“Minseok yang memberiku izin menemuimu. Jangan khawatir,” sahut Junmyeon, berhasil membuat Joo terkejut mendengarnya.

Meski Joo dan Minseok menikah karena perjodohan, pemuda itu tak pernah suka jika ia bertemu Junmyeon—mantan kekasihnya sekaligus sahabat Minseok sendiri. Joo lantas mengembuskan napas berat. Pasti karena Minseok tahu tentang hari ini, pikirnya muram.

“Kita sudah sampai,” tukas Junmyeon kemudian. Ia telah mematikan mesin mobilnya dan menatap Joo sembari tersenyum hangat.

Joo lalu memandang ke luar jendela. Rupanya Junmyeon telah membawanya ke tempat kesukaan mereka dahulu. Di tepian sungai Han inilah keduanya sering menghabiskan waktu untuk sekadar mengobrol hangat.

“Kemarin ulang tahunmu. Maaf terlambat mengucapkannya,” ujar Joo ketika mereka telah berdiri di luar, memandangi arus sungai yang tenang. “Selamat ulang tahun, Junmyeon.”

Junmyeon menanggapinya dengan senyum samar. “Kemarin juga tanggal kematianku. Tapi aku masih di sini.”

Untuk kedua kalinya Joo dibuat terkejut. Gadis itu menekap mulutnya tak percaya, tanpa sadar kedua kakinya mengambil satu langkah mundur. “Junmyeon ….”

Junmyeon menoleh untuk menatap Joo. Ia tersentak ketika menemukan kedua manik gadis itu telah berkaca-kaca. Ia berusaha meraih Joo, namun segera tersadar tak seharusnya ia melakukan itu. Joo bukan lagi miliknya untuk disentuh. “Joo, kenapa—”

“Kalau saja aku tahu! Kalau saja aku tahu kemarin saat terakhirmu ….” Kini Joo benar-benar terisak, ia mengubur wajahnya di kedua tangan, menangis sejadi-jadinya di sana. “Aku takkan mengabaikanmu, takkan membuang kesempatan terakhir kita untuk bersama.”

Junmyeon tercenung mendengar ini. Kesempatan terakhir kita, katanya? Tentu saja ini jadi kesempatan terakhir untuk Junmyeon, tapi Joo?

“Joo, apa maksudmu?”

Perlahan Joo menurunkan kedua tangannya dari wajahnya yang basah. Ia mendekat pada Junmyeon, dan menyingkap lengan panjang blouse-nya. Untuk pertama kalinya membiarkan pemuda itu melihat kode kematiannya.

Junmyeon merasakan napasnya menyesak begitu ia membaca deret angka di kulit Joo. Jantungnya terasa mencelus sampai ke dasar perut.

230517

“Jadi—hari ini …?”

“Aku tak pernah mau menunjukannya padamu karena tanggalku tepat sehari setelah ulang tahunmu. Aku tak mau merusak hari istimewamu karena ini,” ujar Joo di sela tangisnya. “Tapi aku tak pernah tahu tanggal itu juga merupakan tanggal kematianmu.”

Junmyeon tak bisa menahan dirinya lagi. Detik selanjutnya ia segera merengkuh Joo, membawa gadis yang masih terisak itu ke dalam pelukan hangatnya. Ia juga menangis, membasahi pundak mungil Joo dengan air matanya.

“Tidak apa-apa. Setidaknya kita bersama di saat terakhir.” Junmyeon berbisik pedih, mengeratkan pelukannya pada Joo.

Junmyeon tak tahu berapa lama mereka bertahan seperti itu. Keduanya saling merengkuh, berbicara dalam bisikan sehingga hanya satu sama lain yang bisa mendengar. Lalu ketika matahari telah menggelincir jatuh, meninggalkan langit dalam kegelapan, baik Junmyeon maupun Joo tahu inilah saatnya mereka mengakhiri semuanya.

Jemari mereka saling bertaut ketika keduanya perlahan memanjat pagar pembatas di tepian. Tautan itu belum juga terlepas ketika mereka melompat jatuh, meninggalkan suara ceburan keras di keheningan malam.

Tautan itu, baru terlepas ketika Junmyeon merasakan kesadarannya mulai memudar dan seisi sungai menariknya semakin jatuh ke dasar. Di saat terakhirnya, dilihatnya Joo yang juga tenggelam di sisinya, mengulas senyum samar. Sebelum perlahan, kegelapan menyelimutinya.

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s