[SUHO BIRTHDAY PROJECT] 25 Minutes – Baerins

[SUHO BIRTHDAY PROJECT] 25 Minutes – Baerins
Suho EXO & Choi Minra (OC)|Romance, Angst|PG-15

 

 

Ada perasaan gelisah yang kurasa. Ini sudah sangat menggangguku sejak kemarin. Ah, tidak, tepatnya sejak sebulan yang lalu.

Aku memutar kursi yang kududuki menghadap jendela besar di belakangku. Pandanganku menerawang kosong.

Aku benar-benar tidak bisa mendeskripsikan perasaanku. Sedih, kecewa, gelisah. Entahlah.

Saat dia mengatakannya sebulan yang lalu, aku merasa ada sesuatu yang hilang dari diriku. Aku akui diriku ini benar-benar bodoh.

Kusandarkan kepalaku ke kursi yang kududuki. Tak ada yang bisa kuperbuat saat ini. Karena hari ini telah tiba. Hari dimana ia akan menemukan kebahagiaannya.

Kulirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Satu jam lagi, huh?

Kim Junmyeon, kau benar-benar payah!

Tidak! Masih ada waktu untukku. Ya, mungkin saja aku bisa memperbaikinya. Kuharap.

Aku berdiri dan meraih kunci mobil yang ada di atas meja, berlari tergesa-gesa agar waktu yang kumiliki ini tidak sia-sia.

Benar. Aku harus memperbaiki semuanya. Aku harus kembali mendapatkannya.

***
“Sial!”

Sudah berapa kali aku menekan klakson tapi mobil-mobil di depan itu tak kunjung berjalan. Kemacetan ini sungguh membuang waktuku.

Untunglah aku masih bisa memutar. Kuputuskan saja untuk memilih jalur lain. Waktuku tidak banyak, tinggal 20 menit lagi.

Tujuanku hanya satu. Memperbaiki kesalahanku. Aku ingin ia kembali kepadaku. Aku tak ingin lelaki lain yang memilikinya. Aku tau kesalahan yang kubuat sangat menorehkan luka di hatinya. Tapi aku akan melakukan apapun agar ia mau memaafkanku.

Kali ini keraguan tak lagi menyelimuti hati dan pikiranku. Aku telah menyakitinya karena keraguanku akan yang namanya cinta.

Sudah cukup 5 tahun untuk memikirkan dan menghilangkan rasa ragu itu. Ia benar-benar tulus, tetapi aku menaruh rasa ragu akan dirinya.

Sial. Aku terlambat. Hampir setengah jam.

Aku menepikan mobilku setelah sampai di tempat yang kutuju. Aku berlari menuju pintu gereja itu dan membukanya dengan kasar.

Pandanganku menelisik ke seluruh sudut gereja, dimana semua orang memperhatikanku. Persetan dengan orang itu. Bukan mereka tujuanku.

Tetapi tujuanku adalah dua orang yang saat ini berdiri di atas altar, yang awalnya sedang menghadap pastur tetapi perhatiannya teralih ke arahku.

And I was late.

Aku terlambat. Saat matanya menatapku, aku bisa melihat raut terkejut di wajahnya. Perlahan, kristal bening itu jatuh kembali di pipinya.

Sepertinya aku tak bisa berbuat apa-apa. Lalu, aku hanya tersenyum tipis ke arahnya. Kulangkahkan kaki menuju kursi paling belakang gereja.

Dadaku rasanya sesak. Perasaan bersalah itu semakin besar kurasakan. Aku hanya bisa menyatukan jari-jariku dan meremasnya untuk menahan rasa gemuruh di hatiku.

Kembali kutatap dua orang yang berdiri di altar. Matanya masih menatap mataku. Matanya yang indah itu masih mengeluarkan air mata yang sangat kubenci.

“Pengantin wanita, Choi Minra,” ia mengalihkan pandangan ke arah pstur, “apakah anda bersedia?” tanya pastur itu.

Namun, kini Minra kembali menatap ke arahku. Rasanya ingin aku berteriak agar ia menjawab ‘tidak’. Tapi itu tak mungkin kulakukan karena akulah penyebab pernikahan ini terjadi.

“Aku bersedia.”

Dua kata itu berhasil membuat air mataku jatuh. Sungguh rasanya aku benar-benar menyesal. Aku yang seharusnya menjadi pengantin prianya. Seandainya aku tak meragukan perasaannya, mungkin air matanya akan jatuh karena bahagia bukan karena kesedihan.

Memori itu masih tercetak jelas di otakku.

[Flashback 1 bulan yang lalu]

-Author POV-

Minra menandang kekasihnya yang sibuk dengan lembaran berkas di meja kerjanya. Selalu saja begini setiap ia datang ke kantor lelaki yang dicintainya itu. Ia merasa seperti diabaikan.

“Oppa, kau masih sibuk?” tanya Minra.

Junmyeon mengadahkan kepala memandang Minra. “Tinggal beberapa berkas lagi. Ada apa?”

“Hmm, sebenarnya ada yang ingin kubicarakan.”

“Katakanlah.” Junmyeon menutup berkasnya dan mulai fokus kepada Minra.

“Soal pernikahan—” Minra tampak ragu melanjutkannya.

“Kita sudah membicarakannya, Minra,” jawab Junmyeon.

Minra menghela napas. “Tapi kenapa oppa? Kenapa kau belum bisa memutuskan untuk menikahiku atau tidak?”

“Aku masih ragu.”

“Apa yang kau ragukan, oppa? Sudah 5 tahun kita berpacaran. Selama itu aku selalu berusaha membuatmu untuk percaya lagi dengan cinta. Dan sudah dua tahun belakangan ini aku meyakinkanmu untuk menikahiku. Tapi kau—”

“Kau tau tentang masa laluku, kan? Aku tak ingin dikhianati lagi,” ujar Junmyeon memotong perkataan Minra.

“Apa waktu 5 tahun ini tak cukup? Apa yang kuperbuat masih meragukanmu?” Air mata Minra lolos begitu saja.

Entah sudah berapa kali ia mencoba meyakinkan Junmyeon. Selama 5 tahun ini ia menunggu kepecayaan lelaki itu akan perasaannya. Sekarang Minra sudah sangat lelah. Ia hanya ingin dipercaya.

“Jika kau ragu, lalu kenapa kau menjadikanku kekasihmu?” Pertanyaan Minra membuat Junmyeon tertohok. Ia tak bisa menjawab apa-apa.

“Sepertinya kau tidak benar-benar mencintaiku. Aku lelah oppa. Sungguh.” Minra menghapus air matanya dan menatap Junmyeon tepat di matanya.

“Aku sudah menerima lamaran Chanyeol.”

Dunia Junmyeon rasanya runtuh seketika. Ia tak menyangka perkataan itu keluar dari mulut Minra.

“Apa maksudmu?” tanya Junmyeon.

“Aku lelah oppa. Aku hanya ingin dipercaya. Chanyeol percaya aku akan membuaka hati untuknya, walaupun perasaanku masih seutuhnya untukmu.”

“Minra, dengar. Aku tak ingin kita berakhir,” ujar Junmyeon lirih. Ia memegang kedua bahu Minra.

Kepala Minra masih tertunduk. Minra menyerahkan sesuatu kepadanya setelah merogoh tasnya.

Junmyeon menerimanya dan melihat yang tertera di atas kertas itu.

‘WEDDING PARTY, PARK CHANYEOL & CHOI MINRA’

Junmyeon menatap Minra lurus. “Apa ini? Kenapa sudah ada undangan pernikahan?”

“Karena aku sudah menerimanya. Dan orangtua Chanyeol langsung mempersiapkan semuanya. Orang tuaku juga menyerahkan keputusan kepadaku,” jelas Minra dengan kepala yang masih tertunduk dan masih terisak.

“Kau yakin?”

Minra mengangguk. “Kurasa kita sampai disini saja, oppa.” Lalu Minra mundur selangkah menajuhi Junmyeon.

“Terimakasih karena aku pernah jadi bagian hidupmu. Aku hanya ingin yang terbaik untukku dan juga untukmu. Aku berharap hatimu tidak meragukanku lagi.”

[Flashback off]

-Junmyeon POV-

Kini hanya penyesalan teramat dalam yang kurasakan. Jadi beginikah karma?

Aku kembali menatap ke depan. Kembali mata kamu bertemu. Tatapan Minra begitu sendu. Acara tukar cincin baru saja selesai.

Aku melihat ia mengucapkan sesuatu tanpa suara kepadaku. Tapi aku bisa menangkap apa yang dikatakannya.

“Andai kau lebih cepat 25 menit.”

—***—

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s