[EXOFFI FREELANCE] The One Person Is You [Re: Turn On] (Chapter 16)

IMG_20170305_172231

The One Person Is You [Re : Turn On]

Tittle                           : The One Person Is You [Re : Turn On] – Chapter 16

Author                       : Dancinglee_710117

Main Cast                 :

  • Park Chanyeol (EXO)
  • Lee Hyojin (OC)

Other Cast                :

  • Kang Rae Mi (OC)
  • Park Jiyeon (T-Ara)
  • Kim Myungsoo (Infinite)
  • Jung Yong Hwa (C.N.BLUE)
  • Bang Yongguk (B.A.P)
  • Choi Jun Hong / Zelo (B.A.P)
  • Kim Himchan (B.A.P)
  • Oh Sehun (EXO)
  • Kim Jong In / Kai (EXO)
  • Park Yoora (Chanyeol Sister)
  • Kim Hyoyeon (SNSD)
  • Lee Young Nae (OC)
  • Jang/Choi Mira (OC)
  • Kimberly Hyun (OC)
  • And other you can find in the story

Genre                        : Romance, Friendship, Comedy (a little bit), and other

Rating                        : T

Length                       : Chapter

~Happy Reading~

 

*Hyojin POV*

 

“Wuah! Hyojin-ah! Sudah lama sekali kita tidak bertemu ya kan?”

 

Tidak bertemu juga lebih baik.

 

“Bukankah ini takdir yang menakjubkan?”

 

Menakjubkan pantatmu robek!. Lagipula, kenapa dia dan teman-teman anehnya bisa ada disini sih?!. Takdir apanya? Jelas-jelas ini rencana Chanyeol! pasti dia memanggil anggota band-nya kemari. apalagi si genit itu terus melihat kearahku -ralat, tubuhku yang memakai gaun agak terbuka ini. Membuat orang tidak nyaman saja!.

 

“Kukira kalian akan putus karena tidak sanggup pacaran jarak jauh, ternyata masih awet sampai sekarang.” Ujar Baekhyun sambil mengambil potongan daging pertama yang baru matang diatas panggangan. Ku ulangi, dia mengambil potongan daging pertama yang baru matang…

 

Dasar tidak tahu diri! MEMANGNYA KAU YANG MEMBAYAR MAKANAN INI HUH?!.

 

“Jadi, kapan kalian menikah?”

 

‘BYUR!’

 

Chanyeol menyemburkan air yang baru saja memasuki mulutnya, membasahi empat orang pria yang duduk disebrangnya, serta daging diatas panggangan yang hampir matang, kini terciprat oleh air beserta ludah pria tinggi itu.

 

Haha, apa kubunuh saja pria itu sepulang dari sini?.

 

“Aisshh! Dasar jorok!” keluh D.O-ssi seraya membersihkan wajahnya dengan sapu tangan, mewakili kekesalan teman-temannya serta diriku, sang pemilik daging yang seharusnya kukunyah dengan khidmat itu. Ia segera mengosongkan daging dipanggangan, membuangnya ke tong sampah dekat meja kami lantas memanggang potongan-potongan daging mentah lainnya.

 

Uhuhuhuuuu dagingku sayang, dagingku malang…

 

“Maaf, maaf…” ucap Chanyeol setengah terpaksa, melepas jaketnya lalu ikut membersihkan sweater yang agak basah karena kelakuan bodohnya. Dia menatapku, yang sedang memberikannya tatapan tajam, berusaha mengatakan padanya bahwa dia adalah pria yang paling buruk didunia karena membuat daging panggang suci milikku diambil orang dan kotor olehnya… tanpa mengeluarkan suara atau bahkan menggerakkan bibirku sama sekali.

 

“Sedang apa kau?”

 

Dan dia masih tidak mengerti arti dari tatapanku?!.

 

“Kurasa dia mencoba menggodamu… hahaha!”

 

Bicara apa pria eyeliner ini, minta dihajar huh?!. Seharusnya tidak begini kan? Harusnya aku bisa bersenang-senang dengan uang yang kudapat barusan di pasar malam yang baru pertama kali kudatangi ini!. Arrghh menyebalkan!.

 

“Tapi, apa Soo Jin-ssi tidak kedinginan memakai gaun seperti itu?” tanya Lay gege yang seharusnya sudah ditanyakan sejak mereka datang bergabung dimeja kami begitu saja. Juga, Soo Jin itu siapa eoh?!.

 

“Yak!, namanya Hyojin! Lee Hyojin!, sulit sekali untuk mengingatnya ya?!” sahut Chanyeol jengkel.

 

Lay gege tertawa, “Oh iya, aku lupa. Maklum, kita kan sudah lama tidak bertemu lagi.” kilahnya, “Dojin-ssi mau pinjam jaketku?, bisa bahaya kalau terkena demam, nanti bisa-”

 

“LEE HYOJIN!” teriak teman-teman Lay gege bersamaan, membuat mereka -termasuk aku- menjadi pusat perhatian. Ah! Memalukan sekali!.

 

“Sudah, sudah, kalian membuat Hyojin makin tak nyaman.” D.O-ssi berdiri, melepas jaketnya lalu menyodorkannya padaku.

 

Nah! Ini baru namanya pria sejati, tak perlu banyak bicara tapi langsung bertindak!. Begitu aku mengulurkan tanganku untuk menerima bantuannya, sesuatu semacam kain tersampir dibahuku, mengeluarkan aroma wewangian yang sepertinya familiar. Aku menoleh, untuk mendapati jaket baseball warna hitam dengan garis putih milik Chanyeol kini menutupi pundakku yang terbuka.

 

Hah? Apa? Kenapa?

 

Tiba-tiba terasa panas padahal tadi begitu dingin disini. Apa ini karena jaketnya? Haha iya bi-bisa jadi. Atau… aku kena demam? Ka-kalau begitu aku harus minum obat kan ya?.

 

“Sepertinya Hyojin-ssi mulai tak enak badan, wajahnya merah se-”

 

“Woah! Lay gege sudah benar menyebut namaku!” potongku cepat. Tidak, tidak, kalau yang lain mendengar ucapan pria ini bisa gawat! Apalagi si telinga lebar Park Chanyeol atau si tukang bicara Byun Baekhyun!. Kumohon… kumohon… mereka tidak mendengarnya…

 

“Hooo, Lay sudah mulai pintar rupanya!” canda Baekhyun seraya menyenggol bahu Lay gege.

 

Aku menghela nafas lega, syukurlah… “Ma-mari bertepuk tangan! Hehe.”

 

“Yak! Lee Hyojin!”

 

Aku terkejut ketika Jong In dan Sehun tiba-tiba memanggil namaku dari depan pintu masuk kedai dengan nafas tak beraturan. Jangan-jangan, mereka berlari kemari? tapi kenapa? Untuk apa?. Kemudian pertanyaan itu terjawab sendiri olehku setelah mengingat kembali kejadian sebelumnya serta gaun putih pemberian Lee Dae Ryeong yang masih aku pakai ini. Senyumku mengembang, rupanya mereka memang sahabat sejatiku.

 

*Author POV*

 

“Sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk menemuinya.” Ujar Myungsoo kepada Jiyeon yang bahkan tak menyentuh makanan pesanannya sama sekali, sibuk mengamati seorang gadis bergaun yang kelihatan aneh diantara kerumunan pria-pria di meja yang tak jauh dari tempat mereka berdua duduk.

 

Jiyeon mengepalkan tangannya sekuat mungkin, sampai sumpit kayu yang dipegangnya patah menjadi dua bagian. Myungsoo bergurau dengan mengatakan bahwa dia adalah gadis kuat yang mungkin saja bisa menghabisi Hyojin dengan satu pukulan, tapi tak digubris oleh gadis yang sedang diliputi emosi itu.

 

“Dia bahkan bisa bersenang-senang seperti itu… dan aku harus bersusah payah mengendalikan diriku, akan kulakukan apapun agar dia bisa dikeluarkan dari kampus… gadis itu…”

 

Kepalan tangannya semakin kuat, Myungsoo bisa melihat tangan Jiyeon memerah. Pria itu turut memandang Hyojin yang sedang bersenda gurau dengan Sehun dan Jong In.

 

“Sebenarnya kenapa kau begitu ingin dia menghilang?. Dia bahkan tak mengetahui kasusmu di masa lalu apabila Park Chanyeol tak menceritakannya pada Lee Hyojin. Kau tidak sedang mencari korban secara acak kan?”

 

Jiyeon tidak menjawab, ia berdiri dan berjalan menuju toilet sambil membawa ponselnya setelah menyalakan aplikasi perekam suara.

 

“Padahal baru saja kutemukan…” lirih pria itu memainkan gelas kecil berisi soju, kemudian meminumnya dalam sekali tenggak.

 

***

 

“Lee Hyojin.”

 

Hyojin yang sedang mencuci tangan sontak menatap pantulan Jiyeon pada cermin besar didepannya, agak terkejut namun mulai terbiasa karena sejak tadi selalu ada kejutan tak terduga untuknya.

 

“Apa?” tanyanya dengan dingin, “Mau bilang kalau pertemuan ini adalah takdir menakjubkan?”

 

“Aku sedang tidak ingin bermain-main denganmu.”

 

“Kau pikir aku ingin?” balas Hyojin. “Oh iya, sudahkah kau mengatakan yang sebenarnya pada professor?. Aku tak mau memperpanjang masalah sepele seperti ini, tapi kalau kau memaksa-”

 

“Kita gunakan cara lain.”

 

“Hah?”

 

Jiyeon mendekat, menyembunyikan mode perekam di ponselnya dari Hyojin. “Aku akan berhenti, jika kau mengikuti kemauanku.”

 

Hyojin mendengus, “Ini bukan saatnya untuk tawar-menawar, Park Jiyeon.” Tegasnya. Hyojin pikir Jiyeon akan menyerah tapi ternyata gadis itu masih kokoh akan pendiriannya. Padahal, Hyojin tidak benar-benar berniat melaporkan Jiyeon jika saja dia mau menghentikan tuduhannya soal mencuri kalung tersebut. Hanya itu, setelahnya Hyojin berjanji tak akan ikut campur atau menemui Jiyeon lagi atas dasar apapun.

 

Sayangnya Jiyeon terus saja memperumit segalanya.

 

“Apa maksudmu? Cara lain apa?”

 

“Battle dance.”

 

Sekali lagi Hyojin mendengus, “Kau bilang tidak ingin main-main?” sindirnya.

 

“Ikuti saja, kau tinggal mengikuti lomba tari yang akan diadakan saat festival berlangsung. Jika kau bisa menjadi juara satu dalam lomba itu, aku akan mengakhiri semuanya dan mengatakan yang sejujurnya pada professor, bahkan mahasiswa lainnya. Bagaimana?”

 

“Aiissh!” gerutu Hyojin seraya mengacak rambutnya sebal, “Kau ini sudah tidak waras ya?! memangnya aku sudah gila mau melakukan apa yang kau mau?. Tidak, tidak ada battle apapun itu dan ucapkan selamat datang pada kantor polisi.” Hyojin beranjak pergi meninggalkan Jiyeon, membawa segala kekesalannya pada sikap keras kepala gadis cantik itu.

 

“Bagaimana kabar bibimu, Kang Rae Mi?”

 

Langkah Hyojin terhenti, tidak begitu mengejutkan kalau Jiyeon tahu status Rae Mi sebagai anak dari kakeknya, namun perasaannya menjadi tak nyaman karena Jiyeon yang mengatakannya, gadis yang menaruh kalungnya sendiri diransel Hyojin lantas menuduh Hyojin sebagai seorang pencuri hingga kehidupan kampusnya mulai terusik lagi.

 

“Apa?”

 

Hyojin berbalik, Jiyeon mematikan aplikasi perekam suara di ponselnya, merasa bahwa pembicaraan mereka setelah ini tak perlu untuk direkam, salah-salah, dia yang akan terlibat masalah akibat kecerobohannya sendiri.

 

“Kau akan terkejut atas apa yang aku ketahui soal Kang Rae Mi, baik dan… buruknya.”

 

“Apapun yang kau katakan soal temanku, aku tak akan mempercayainya.” Ujar Hyojin dengan penuh keyakinan. Berharap Jiyeon akan berhenti dan menyerah.

 

Tapi sayangnya tidak.

 

“Memang, tapi Hae Ra dan biang gossip lainnya akan sangat senang mendengar cerita ini. Kira-kira, seberapa cepat cerita tentang Rae Mi menyebar? Sebulan? Seminggu?, ah, mengingat bahwa dia adalah anak seorang presdir Jaeguk, mungkin cukup satu hari untuk menyebarkan berita bahwa temanmu itu dulunya seorang penindas yang membunuh temannya sendiri.” Jiyeon tersenyum sinis, “Menarik bukan?”

 

Hyojin menahan emosinya sebisa mungkin. Ia tak ingin terpancing emosinya lalu menghajar Jiyeon di kamar mandi kedai. Bisa-bisa, dia yang dilaporkan oleh gadis itu. Tapi memang, dia sudah berhasil membuat Hyojin naik pitam dan mempertimbangkan tawarannya soal battle dance festival kampus. Meskipun Hyojin yakin dia tak akan mampu bahkan untuk berdiri diatas panggung, dia tak memiliki bakat menari sama sekali!.

 

Maka dari itu dia mencoba untuk mengalahkan Jiyeon dalam kata-kata.

 

“Kau sendiri yang mengatakan bahwa Rae Mi adalah orang yang berpengaruh. Menurutmu, setelah rumor menyebar, kau bisa hidup tenang?. Aku yakin si tua bangka Lee Dae Ryeong tak akan tinggal diam ketika putri kesayangannya diganggu oleh serangga kecil sepertimu.”

 

“Benarkah?” Jiyeon pura-pura terkejut, “Mungkin dia bisa, tapi yakin Kang Rae Mi akan baik-baik saja setelah segala rahasianya terkuak?, apa dia bisa bertahan jika semua orang mulai menjauhinya?. Kau tahu Hyojin, penindas juga bisa ditindas.”

 

“Yak Park Jiyeon! Apa mengganggu orang lain adalah kebahagiaanmu?. Apa tak cukup berurusan denganku, kini kau hendak mengacaukan orang yang tak punya salah padamu?! HAH?!”

 

Jiyeon terkekeh, “Lucu sekali ketika seseorang mengomentari cara hidupmu. Seolah mereka… sudah hidup dengan cara yang benar.” Senyumannya berubah menjadi tatapan dingin yang mengintimidasi.

 

“Terserah padamu, kau boleh melaporkanku ke kantor polisi atau memanggil pengacara bila perlu. Tapi aku juga boleh kan, menyebarkan berita yang sudah kuketahui dengan baik?”

 

Jiyeon berjalan keluar toilet dengan puas. Hyojin membeku selama beberapa detik, menguasai emosinya dan memikirkan cara lain untuk membalas Jiyeon, membuatnya berhenti membuat masalah lagi, tapi Hyojin tak bisa memikirkan ide apapun selain menerima tawaran Jiyeon. Walau sudah jelas dia pasti kalah dan tak ada cara untuk menghentikan tuduhan sebagai pencuri terhadapnya.

 

Karena itu, dengan pikiran yang masih kacau, Hyojin pergi mengejar Jiyeon. Namun saat keluar dari pintu toilet, bukan gadis berparas cantik yang dia temui, melainkan pria berlesung pipi, seniornya yang kini bersandar pada tembok seraya menghalangi langkahnya untuk menemui Jiyeon yang sedang membereskan barang-barangnya, hendak keluar kedai.

 

“Menyingkir dari jalanku!”

 

“Oh ya? jadi kau sudah membeli jalan ini?, bisa tunjukkan surat kepemilikannya?” gurau Myungsoo yang semakin mendekatkan dirinya dengan Hyojin. Sehingga pandangannya teralihkan pada pria itu.

 

“Aku sedang ada urusan penting, jadi tolong biarkan aku lewat.” Hyojin berusaha sopan dan meluluhkan hati Myungsoo agar berkenan membiarkannya mengejar Jiyeon.

 

“Menurutmu aku tidak penting?. Padahal aku menganggapmu sebagai gadis yang istimewa selama ini.”

 

Sebelum Myungsoo semakin membuatnya kehilangan jejak Jiyeon. Hyojin menginjak kaki pria itu dan melenggang pergi, mengabaikan rintihan kesakitan senior dikampusnya itu. Sayangnya Myungsoo belum menyerah, dengan sigap dia menahan Hyojin pergi terlalu jauh dari jangkauannya.

 

“Tidak bisa kau ikuti saja permainannya?. Toh, jika memang kau gagal nantinya, kau masih bisa mengancamnya lagi kan?”

 

Hyojin terdiam, dan tanpa sadar menatap mata Myungsoo secara langsung.

 

“Ikuti saja kemauannya, menurut seperti anak anjing, lalu mengigit seperti singa buas. Cara terbaik yang kusarankan padamu sejak pertemuan kita di rumah Presdir Lee, ingat?”

 

Hyojin berdecak sambil berusaha melepas tautan tangan Myungsoo pada lengannya, tidak berhasil.

 

“Bukankah kau perlu mengendalikan emosimu lebih baik lagi?, Jin-ah?”

 

“Jin-ah?”

 

Sebelum Hyojin dapat mengutarakan rasa penasarannya pada Myungsoo yang memanggilnya dengan panggilan yang terasa tak asing tersebut, sebuah tangan lain menarik lengan kanannya yang bebas. Membuatnya sedikit tersentak.

 

“Lee Hyojin, apa yang kau lakukan dengannya?” tanya Chanyeol tanpa menatap gadis yang dia ajak bicara, melainkan memandang Myungsoo tajam.

 

“Memangnya aneh ya kalau senior dan junior saling mengobrol setelah tak sengaja bertemu disebuah kedai makanan?” Myungsoo membalas dengan santainya, tanpa melepas pegangannya pada Hyojin.

 

Chanyeol kembali menarik tangan Hyojin supaya bisa lepas dari Myungsoo, tapi yang terjadi gadis itu justru kesakitan karena Myungsoo tak mau melepaskannya.

 

“Jadi senior, bisa bicara biasa saja tanpa perlu menyentuhnya?”

 

Kini giliran Myungsoo yang menarik Hyojin agar lebih dekat padanya. “Kenapa?, dan siapa kau berani mengatur Lee Hyojin?”

 

Chanyeol melepas tautan tangannya dari Hyojin, lantas menghampiri Myungsoo seraya menarik kerah baju pria yang tidak lebih tinggi darinya itu, mendekatkan wajahnya supaya pria berlesung pipi itu bisa melihat betapa tidak sukanya Chanyeol terhadapnya. Beberapa orang yang melihat kejadian itu mulai saling berbisik, bahkan hampir memekik ketakutan, takut terjadi perkelahian ditempat mereka makan.

 

Myungsoo masih tampak santai menghadapi Chanyeol, bahkan tak melepas pegangannya pada Hyojin.

 

“Seharusnya aku yang bertanya, siapa kau sampai berani membuat Hyojin tak nyaman?”

 

“Aku?, aku adalah cinta pertama-”

 

“Yak! Park Chanyeol! apa-apaan kau ini?!”

 

Seruan Baekhyun menyadarkan kedua pria yang sibuk dengan dunianya sendiri itu, lalu, dengan sekali sentakan Hyojin berhasil meloloskan diri dari Myungsoo sekaligus menendang tulang kering keduanya setelah menyerah untuk memukul kepala mereka, mengingat perbedaan tinggi yang jauh berbeda antara Hyojin, Chanyeol, dan Myungsoo.

 

“Dasar pria gila!” umpatnya tak mengacuhkan rintih kesakitan Myungsoo dan Chanyeol, “Lain kali lakukan lagi sampai tanganku putus sekalian!” gerutunya kemudian sambil berbalik kearah mejanya.

 

“Hyojin-ah! Kau tak apa? Ada yang sakit?” cemas Jong In seraya berjalan disamping Hyojin, sementara Sehun memperhatikan keadaan tangan sahabat wanitanya itu dari belakang.

 

“Mau kemana?” tanya Jong In setelah Hyojin membereskan barang-barangnya, -ralat maksudnya meminta pelayan untuk membungkus daging pesanannya baik yang masih mentah maupun yang sudah matang diatas panggangan.

 

“Kita pesta barbeque dirumah Sehun saja. Ayo! Aku yang traktir!” serunya sambil menenteng tas kertas dengan logo kedai yang mereka datangi tersebut.

 

***

 

“Aku baru tahu kalau kekasihmu itu orang yang pelit.” Ucap Baekhyun yang sedang tiduran diatas sofa, mengganti tiap saluran televisi untuk mencari acara kegemarannya seraya menikmati masa santainya berkunjung di apartemen baru Chanyeol.

 

“Sangat.” Jawab Chanyeol sembari mengaduk sup buatannya, “Juga, kami bukan kekasih lagi.”

 

“Ya, ya, ya, terserahlah. Heran, ada ya pacaran demi balas dendam dan tujuan, memangnya ini drama, novel romansa atau fanfiction begitu?” sindir Baekhyun, namun sepertinya Chanyeol terlalu sibuk memasak sup rumput laut. Sudah dua kali dia gagal memasaknya dengan enak hingga membuat Baekhyun harus menghabiskan semuanya sebagai bayaran menginap.

 

“Akh! Susah sekali sih -ah panas!”

 

Baekhyun berdecak dan merubah posisi tidurnya menjadi tengkurap untuk melihat wajah frustasi Chanyeol.

 

“Kenapa tidak menyerah saja huh?. Kau memang punya bakat memasak tapi paling payah membuat sup rumput laut kan?!. Kalau kau begitu ingin, beli saja di toko depan gang daripada menghabiskan gaji bulananmu untuk membeli bahan yang tak jadi makanan itu!”

 

“Cerewet!” kesal Chanyeol, “Sudah diam saja dan nonton televisi sana sampai pingsan!” ia melanjutkan acara memasaknya.

 

“Panggil saja Hyojin kalau sedang ngidam.” Ledek Baekhyun yang kemudian berbalik supaya tak mendapat cibiran dari temannya tersebut.

 

“Kenapa juga harus memanggil gadis itu.” Wajah Chanyeol makin cemberut, apalagi kejadian kemarin malam masih membekas diingatannya. Bagaimana Hyojin berduaan dengan senior yang Chanyeol bilang berbahaya, tapi Hyojin tak mendengar dan masih dekat-dekat dengan pria itu.

 

Apalagi setelah mendapat teguran dari pemilik kedai, Hyojin pergi begitu saja dengan Jong In dan Sehun tanpa menjelaskan apapun pada Chanyeol soal apa yang dia lakukan dengan Myungsoo waktu itu. Terlebih belum menghubunginya lagi sejak kepulangannya dari kedai.

 

“Aku mencium bau gosong.” Celetuk Baekhyun yang menyadarkan Chanyeol dari lamunannya. Menghadapi kenyataan kalau sup yang dia masak berubah warna jadi menghitam dan berbau tak sedap.

 

“Dasar! Kalau rumahmu kebakaran bagaimana huh?!” sentak Baekhyun yang sudah berada disamping Chanyeol untuk mematikan kompor. “Kan sudah kubilang, panggil saja Hyojin kemari!”

 

“Untuk apa?!” balas Chanyeol ikut kesal.

 

Baekhyun mendengus lantas kembali berbaring diatas sofa.

 

“Kau itu merindukannya dasar bodoh!” ujarnya sebelum tertawa dan hanyut pada siaran acara komedi kegemarannya.

 

“Ma-mana mungkin…” sanggah Chanyeol.

 

Ponselnya berdering, layarnya terpampang nama ‘Yoora noona’  dan Chanyeol pun segera mengangkatnya.

 

“Aku sudah ada dibandara, dimana kau?”

 

“Su-sudah sampai?!” seru Chanyeol tak percaya.

 

“Kau pikir aku bercanda kalau bilang akan menyusul ke Korea?. Jadi kau masih bersantai dirumah huh?!. Jadi kau benar-benar ingin berhenti melakukan rencana kita huh?!. Yak Park Chanyeol-“

 

“Ah berisik! Iya, iya aku berangkat sekarang!”

 

Chanyeol mematikan sambungan telepon secepatnya, lebih cepat dari bagaimana ia mengangkat panggilan dari kakaknya.

 

“Siapa?” tanya Baekhyun yang sedikit mencuri dengar.

 

“Kakakku.” Sahut Chanyeol seraya menyambar jaket dan kunci motor Baekhyun diatas meja makan. “Pinjam motor sebentar untuk menjemput kakakku!” teriaknya sambil keluar rumah.

 

“Memangnya kakakmu mau naik motor apa?”

 

Hening, tak ada jawaban. Chanyeol sudah pergi tanpa sempat mendengar pertanyaan Baekhyun, apalagi menjawabnya.

 

***

 

“Ah berisik! Iya, iya aku berangkat sekarang!”

 

Yoora berdecak sebal ketika suara Chanyeol berdenging ditelinganya.

 

“Sopan sekali bicara begitu pada kakak huh?!. Halo? Park Chanyeol? Yak!”

 

Ia semakin marah begitu mendapati sambungan teleponnya terputus secara sepihak.

 

“Ah menyebalkan!” gerutunya, “Jadi aku harus menunggu atau berangkat sendiri?!. Dasar adik tak tahu sopan santun!”

 

Yoora terdiam beberapa saat, berpikir apakah ia harus menunggu Chanyeol yang tidak pasti atau menghubungi Hyoyeon untuk menjemputnya sekaligus melepas rindu setelah lama tak jumpa.

 

“Opsi kedua.” Lirihnya sambil menarik kopernya juga membuat panggilan pada sahabat lamanya itu.  Tapi seseorang merebut ponselnya.  Yoora hendak berteriak ‘maling’ jika orang tersebut pergi setelah mengambil ponsel Yoora.

 

Namun anehnya, orang itu tetap disana, berdiri dihadapan Yoora, berpakaian simpel namun bermerek, tampan pula. Mana ada pencopet seperti itu?.

 

“Kau…”

 

“Oh Sehun.” Orang itu memperkenalkan diri, “Dan ya, aku stalker mu. Salam kenal.”

 

Padahal Yoora punya sedikit kemampuan meramal yang benar-benar terwujud apalagi soal hubungan cinta adiknya. Tapi ia heran, mengapa ia tak punya petunjuk apapun soal Sehun, teman Hyojin yang pernah dia temui beberapa kali, akan menjadi seseorang yang mengusik kehidupannya dengan cara menjadi seorang penguntit. Penguntit tampan yang tak terduga.

 

 

~TBC~

 

Huwaaaa maaf sekali atas keterlambatan ff TOPIY ini pembaca T.T dikarenakan laptop saya rusak plus hape juga eror jadilah puasa ngetik ff dulu. Apalagi sekarang lagi waktu sibuk-sibuknya buat saya jadi susah ngatur waktunya -_-

 

Mungkin ff ini agak pendek. Tadi niatnya dibikin dua part karena takut gasanggup ngetiknya, tapi untung ada waktu luang, laptop dah beres di servis plus hape udah kembali seperti semula.

 

Oiya, selamat menjalankan ibadah puasa buat yang merayakannya! Kayaknya ga kerasa ya udah setahun lebih mungkin ff ini saya kirim ke exoffi dan menghibur para pembaca sekalian, kayaknya musti syukuran nih!. Doakan saya punya waktu bikin chapter bonus selanjutnya ya!

 

Okedeh RCL juseyooo~~~~

Iklan

Satu pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] The One Person Is You [Re: Turn On] (Chapter 16)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s