[EXOFFI FREELANCE] Love Journal (Chapter 1)

Tittle   : Love Journal

Author : Keiyeoni

Genre  : Romance, Campus life

Rating  : General

Length : Chaptered

Main Cast        :

            Kim Yunju (OC)

            Byun Baekhyun (EXO)

Additional Cast          :

            Xi Luhan (ex-EXO)

Kim Sojung (Gfriend)

Oh Seunghee (CLC)

Xiao Yi (OC)

Choi Jinni (OC)

Cameo             :

Kwon Jiyoung (Bigbang)

Summary :

Kim Yunju adalah gadis yang selalu terlibat dengan kisah cinta biasa. Namun kali ini, kisah cintanya menjadi berbeda saat ia mengenal Byun Baekhyun. Yunju merasa ini pertama kalinya ia benar-benar menginginkan seseorang.

Disclaimer :

Cerita ini adalah fiktif belaka yg murni dari otak author. Karakter dan tempat adalah imajinasi author sendiri. Jika ada kesamaan nama atau setting semata-mata karena unsur ketidak sengajaan. Pernah di publish di wattpad pribadiku >> keiyeoni

Author’s note :

Cast belongs to himself but Byun Baekhyun belongs to me ^^ No Plagiarism!

 

  1. Introducing the Candy

 

Senin, 29 Mei 2017

Universitas Seoul 09.00 a.m

 

Yunju

 

“Sojung-ah, sepertinya kita harus berjalan jauh hari ini”. Aku membanting setir ke kanan sambil mataku menelusuri area parkir kampus yang padat hari itu.

 

“Apa hari ini Presiden datang ke kampus kita? Aku rasa ini hari terpadat yang pernah ada”. Perkataan Sojung bukan omong kosong belaka. Sejak memasuki kawasan Universitas Seoul -tempat kami menuntut ilmu- jalan-jalan besar dipenuhi mobil yang menuju kampus dan ratusan mahasiswa yang berjejal di pedestrian.

 

Aku menemukan celah untuk memarkir mobilku, bukan, mobil Sojung yang kukendarai di dekat gedung Fakultas Seni dan langsung kubelokkan setir untuk parkir di sana. Namun tempat ini lumayan sempit, meskipun cukup untuk memarkir mobil Sojung, tapi hanya tersisa sedikit celah untuk membuka pintu.

 

“Oke Kim Yunju, kau benar-benar pandai memarkir mobil!” kulihat Sojung sedikit memiringkan badannya saat keluar mobil. Sebenarnya celah selebar itu sangat cukup untuk tubuh Sojung yang ramping tapi dia hanya melebih-lebihkan keadaan untuk membuatku kesal. Aku sedikit terkekeh melihatnya lalu aku pun keluar dari mobil.

 

Cuaca hari ini sangat cerah, seperti mood ku yang entah kenapa sejak bangun tidur tadi merasa gembira. Mungkin hari ini hari baikku? Entahlah. Sambil merapikan rambutku yang sedikit terkena angin aku mengedarkan pandanganku ke depan.

 

“Luhan sunbae!” teriakku keras sambil melambai ceria ke arah seorang pria yang ada di seberang tempatku memarkir mobil. Ia menoleh, lalu balas melambai kepadaku dengan senyumnya yang merekah. Luhan sunbae terlihat sangat tampan hari ini, seperti biasanya. Ia mengenakan kemeja flannel berwarna merah kotak-kotak dengan sedikit aksen coklat yang kontras dengan kulit putihnya. Rambutnya berwarna kecoklatan yang bisa ku tebak baru ia warnai, karena rambutnya masih hitam terakhir kali aku bertemu dengannya Sabtu lalu. Well, harus ku akui ia terlihat sepuluh kali lebih tampan dengan penampilan seperti itu. Benar-benar tipe lelaki musim semi, wkwk.

 

“Hai Yunju, hai Sojung!” sapanya ramah –masih dengan senyum manisnya- sambil berjalan ke arah kami.

 

“Sunbae kau mewarnai rambutmu? Wahh cocok sekali denganmu sunbae! Kau terlihat seratus kali lipat lebih tampan!” oke, Sojung memang bukan tipe orang yang bisa menyimpan kekaguman dalam hati dan selalu mengutarakan apa yang ada dipikirannya.

 

“Benarkah? Aku pikir tadinya sedikit terlihat aneh” Luhan sunbae menggaruk tengkuknya yang mungkin tidak terasa gatal, “Bagaimana menurutmu Yunju-ya?”

 

Aku tersenyum lima jari sambil mengacungkan kedua jempolku, “Ini yang terbaik!”. Luhan sunbae tertawa kecil saat mendengar komentarku. Kami berjalan bersama menuju gedung fakultas kami yang letaknya sekitar seratus meter dari tempat kami memarkir mobil tadi sambil berbincang-bincang.

 

Oh ya, aku, Sojung dan Luhan sunbae berada di jurusan yang sama yaitu Manajemen Bisnis. Luhan sunbae berada di tahun ke-empat sementara aku dan Sojung di tahun ketiga. Kami menjadi dekat karena sama-sama mengikuti klub tari dan ini tahun kedua Luhan sunbae menjadi ketua klub tersebut. Aku lebih dekat lagi dengan Luhan sunbae karena alasan yang lucu. Kami berdua sama-sama anak tunggal. Aku sangat mendambakan memiliki kakak laki-laki sedangkan Luhan sunbae ingin punya adik perempuan. Dan begitulah kami jadi sering pergi bersama, menonton film, ke taman bermain, atau sekedar pergi makan es krim di kedai seberang kampus. Luhan sunbae tipikal laki-laki yang positive thinking, aku merasa nyaman bersamanya. Dia orang yang gampang diajak bercanda dan berbagi keluh kesah. Benar-benar tipe kakak idamanku.

 

Tak terasa kami sampai di lobi Fakultas Ekonomi, “Kalian tidak lupa dengan pertemuan siang nanti kan?”

 

“Tidak, sunbae. Jam 2 siang di auditorium kan?” Sojung mengklarifikasi.

 

“Baiklah. Yunju-ya, aku ingin kau datang ke ruang klub tari nanti setelah pertemuan itu”. Aku memutar kedua bola mataku malas. Merasa menyesal telah menyetujui ajakan Luhan sunbae untuk menjadi sekretaris panitia pentas seni yang akan diadakan satu bulan lagi.

 

Sunbae bisakah aku pulang saja?” jawabku asal.

 

“Tidak, kau harus datang atau aku akan menghukummu!” ancamnya disertai tawa kecil darinya dan Sojung. Aku hanya berdecak pelan.

 

Arasseo, arasseo aku akan datang dengan be-rat-ha-ti” ucapku dengan penekanan dua kata terakhir. Luhan sunbae hanya tertawa lalu mengacak rambutku pelan sambil berjalan menuju kelasnya.

 

“Sampai bertemu nanti siang!” teriaknya saat sudah menjauh dari kami. Aku dan Sojung hanya mengiyakan dan melambaikan tangan ke arahnya.

 

***

 

Auditorium Universitas Seoul

02.00 p.m

 

Aku dan Sojung berjalan memasuki auditorium yang tanpa ku prediksikan akan ramai seperti ini. Setelah menyelesaikan kelas dan menyantap makan siang, kami berjalan ke sini dengan malas-malasan. Di dalam auditorium ada sekitar… seratus? Atau seratus lima puluh? Yang jelas banyak mahasiswa dari berbagai jurusan berkumpul di sini. Tiga hari lagi kampus kami mengadakan acara bakti sosial ke beberapa daerah dalam rangka merayakan ulang tahun kampus. Universitas Seoul adalah salah satu universitas terkemuka yang terkenal di seluruh penjuru Korea Selatan bahkan di Asia. Setiap tahun kami selalu mengadakan acara amal dalam berbagai bentuk yang intinya, mahasiswa turun langsung ke masyarakat untuk berbaur dengan masyarakat. Tahun ini peserta bakti sosial diambil dari mahasiswa anggota klub-klub yang ada di kampus.

 

“Sojung-ah~ Yunju-yaa~!”

 

Aku dan Sojung menoleh ke kiri dan mendapati seorang gadis China sedang melambai-lambai sambil melompat kegirangan ke arah kami. Dia adalah Xiao Yi, salah satu sahabatku dan Sojung. Di sampingnya sudah ada Seunghee dan Jinni, sahabat kami juga.

 

“Lama tidak bertemuu~” Xiao Yi langsung memeluk kami berdua saat sudah sampai di dekat mereka.

 

“Kau berlebihan” aku melepas pelukan Xiao Yi lalu memandangnya malas. Xiao Yi hanya merengut, lalu kami tertawa bersama.

 

Aku memang jarang bertemu Xiao Yi. Meskipun kami di jurusan dan tahun yang sama, tapi dia mengambil kelas yang berbeda denganku. Berbeda dengan Sojung yang selalu menempel kemana-mana denganku. Aku dan Sojung mengambil kelas yang sama dan kami tinggal bersama di salah satu apartemen di daerah Gangnam. Oh ya, Sojung adalah saudara sepupuku yang telah bersamaku sejak lahir. Kami sama-sama lahir di bulan Desember, tapi Sojung lahir lebih dulu beberapa hari dariku. Orang tua kami tinggal di Jeju, menjalankan bisnis perkebunan dan beberapa restoran di sana. Sedangkan aku dan Sojung pindah ke Seoul sekitar 3 tahun lalu untuk kuliah.

 

Seunghee adalah anak jurusan Akuntansi Publik, tahun ketiga pula. Sedangkan Jinni adalah maknae diantara kami. Ia jurusan Pariwisata tahun kedua. Kami berlima menjadi sahabat karena sering bersama di klub tari. Ya, kami adalah kumpulan gadis-gadis yang suka menari.

 

Aku mengedarkan pandanganku ke sekitar. Banyak wajah asing yang tak ku kenal. Tapi aku bisa melihat sekumpulan laki-laki dari klub taekwondo karena memakai kaos yang sama dengan tulisan klub di bagian punggung. Oh, di sana ada Kai si atlet taekwondo nasional. Aku sudah lama memperhatikannya, bisa dibilang menjadi fansnya? Dia sangat keren saat bertanding taekwondo.

Dari kejauhan aku melihat Luhan sunbae melambai ke arah kami mengisyaratkan untuk menemuinya. Ternyata di dekatnya sudah banyak anggota klub tari yang lain. Setelah kami berkumpul ada seorang laki-laki yang mungkin berusia 30-an berdiri di atas panggung sambil memegang mikrofon. Yang ku tahu, laki-laki tersebut adalah salah satu staf bagian kemahasiswaan.

 

Sesaat kemudian laki-laki itu mengeluarkan beberapa lembar catatan lalu mulai membagi kami yang ada di auditorium ini ke dalam kelompok-kelompok bakti sosial. Yang aku dengar, masing-masing kelompok terdiri dari dua puluh anak campuran dari berbagai klub yang akan dikirim ke daerah-daerah tertentu. Aku, Sojung dan Luhan sunbae berada dalam satu kelompok yang akan dikirim ke daerah Gyeonggi. Ah, kami bertiga memang soulmate! Aku bersyukur bisa satu kelompok dengan orang-orang yang ku kenal.

 

Kami diberi instruksi untuk berkumpul dengan kelompok masing-masing. Kelompok kami diberi tempat di sisi kanan panggung. Aku melihat-lihat siapa yang ada di kelompokku. Selain Luhan sunbae dan Sojung, aku hanya tahu beberapa dari mereka. Park Jimin dari jurusan seni –yang aku tahu karena ia juga anggota klub tari- dan Jeon Wonwoo dari jurusan olahraga. Aku mengenal Wonwoo karena ialah orang pertama yang aku dan Sojung temui saat pertama kali menjadi mahasiswa di Universitas Seoul. Selebihnya, aku benar-benar tidak mengenal mereka.

 

Selanjutnya, kami diminta memilih satu koordinator kelompok kami dan aku mengajukan nama Luhan sunbae, tentu saja karena dia adalah sunbae favoritku. Gadis di depanku mengajukan nama lain, Byun Baekhyun, yang dari penjelasan gadis itu adalah laki-laki di sebelah kanannya yang memakai kemeja denim. Ternyata lelaki bernama Byun Baekhyun tadi adalah seniorku, dia ada di tahun yang sama dengan Luhan sunbae. Kami melakukan voting untuk menentukan siapa yang akan menjadi koordinator kelompok. Delapan orang diantara kami memilih Luhan sunbae dan Sepuluh lainnya memilih laki-laki bernama Baekhyun itu. Aku sedikit kaget dengan hasil yang ada. Jadi.. ada yang lebih populer dari Luhan sunbae?

 

Tanpa basa-basi, lelaki bernama Baekhyun itu segera membagi tugas untuk kami sesuai dengan instruksi dari bagian kemahasiswaan. Aku memandanginya yang sedang menyebutkan tugas-tugas kami itu. Dari ujung kepala sampai ujung kaki dia terlihat rapi. Kemeja denim biru muda dipadukan dengan celana jeans biru tua yang sedikit robek-robek. Sepatu sneakers hitam yang ku tahu itu adalah model terbaru, serta rambut hitamnya yang ditata sedemikian rupa dengan poni berbentuk koma, mirip aktor-aktor di tv. Secara keseluruhan, dia terlihat… tampan?

 

Aku terlalu asik memandangi lelaki itu sampai tidak sadar kalau ia memanggil namaku.

 

“Kim Yunju? Kim Yunju-ssi?

 

Barulah aku kembali sadar saat Sojung menyenggol lenganku. “Eh, i-iya..?” jawabku sedikit terbata.

 

“Nanti kau bersamaku akan membersihkan sampah di lingkungan 1 dan lingkungan 2 lalu kita juga membagikan buah-buahan kepada warga sekitar” ucapnya sambil menunjukkan peta daerah Gyeonggi lokasi bakti sosial kami.

 

“Kenapa harus aku?” pertanyaan macam apa ini? Aku merutuki diriku sendiri. Karena pertanyaan bodoh itu, semua orang di kelompok kami jadi memandangiku.

 

“Karena kau yang tersisa di kelompok kita sementara yang lain sudah mendapat tugasnya masing-masing”, jawab Baekhyun dengan santai tapi penuh penegasan di setiap kalimatnya.

 

“B-baiklah..” kenapa aku jadi terbata-bata seperti ini? Mungkin efek karena tertangkap basah sedang melamun?

 

***

 

1 Juni 2017

Gyeonggi-do, 10.00 a.m

 

Yunju

 

Rombongan bakti sosial kami sampai di  daerah Gyeonggi setelah melalui perjalanan yang melelahkan, menurutku. Kami menaiki bus universitas untuk sampai di sana dan aku tidak suka naik bus. Terkadang, aroma aneh di dalam bus membuatku mual seperti mabuk darat. Untungnya tadi pagi Sojung memberiku obat anti mabuk sebelum berangkat.

 

Kelompok kami langsung berpencar ke lokasi-lokasi sesuai instruksi dari koordinator kami, Baekhyun sunbae, oh aku memanggilnya sunbae sekarang. Aku dan Baekhyun sunbae menuju ke lingkungan 1. Baekhyun sunbae mendorong troli yang berisi buah-buahan dan beberapa alat kebersihan sedangkan aku hanya berjalan santai sambil memotret keadaan sekitar dengan kamera poket yang kubawa.

 

“Yunju, kau satu jurusan dengan Luhan?” Tanya Baekhyun sunbae tiba-tiba.

 

Aku menolehkan kepalaku ke belakang karena sedari tadi aku berjalan sedikit di depannya. “Iya… sunbae kau mengenal Luhan sunbae?

 

“Kami sering bertanding futsal dulu” jawabnya. Aku ingat, selain pandai menari Luhan sunbae juga sport addict. Dia jago bermain sepak bola dan renang.

 

“Ooh, kau dari jurusan apa sunbae?” tanyaku dengan santai. Sebenarnya aku hanya ingin memecah kecanggungan diantara kami. Kami hanya berjalan berdua di sini.

 

“Kedokteran umum”

 

What?? Seorang Byun Baekhyun adalah mahasiswa jurusan kedokteran? Aku sama sekali tidak menyangka, penampilannya lebih seperti mahasiswa jurusan hukum. Tanpa sadar aku membelalakkan mataku.

 

“Kkk~ kau terlihat terkejut. Kenapa? Tidak percaya?” tanyanya diiringi tawa kecil.

 

Ani, hanya saja.. kau tidak terlihat seperti mahasiswa kedokteran, sunbae” jawabku ragu-ragu. Aku takut ia akan tersinggung tapi nyatanya malah tertawa.

 

“Kau bukan orang pertama yang bilang seperti itu, Yunju-ya.. eh, boleh kupanggil seperti itu”

 

Aku mengangguk. “Kurasa memang kita perlu sedikit mengakrabkan diri, sunbae”. Aku paling malas berada di situasi canggung bersama seseorang. Jadi aku memilih untuk mengakrabkan diri dengan orang-orang di sekitarku. Apalagi Baekhyun sunbae akan menjadi partnerku seharian ini.

 

“Kalau begitu panggil aku oppa?” Baekhyun sunbae menunjukkan senyum lima jarinya. Oh, aku baru sadar kalau senyumnya berbentuk kotak, imut sekali. Tidak, kenapa aku bilang senyumnya imut? Pasti aku salah lihat.

 

“Engg… mungkin lebih baik aku panggil sunbae saja”

 

Baekhyun sunbae tertawa keras. Apa tadi perkataanku lucu? Lucu dari sebelah mana?

 

“Baiklah, baiklah, terserah kau nona Kim Yunju, kkk”

 

Aku rasa Baekhyun sunbae memilki selera humor yang receh -_-

 

***

 

Gyeonggi-do, 01.00 p.m

 

Aku sudah berkeliling lingkungan ini selama tiga jam. Aku dan Baekhyun sunbae membantu warga yang menyambut kami dengan antusias untuk membersihkan lingkungan mereka. Membuang sampah, sambil beberapa kali bersenda gurau, lalu aku dan Baekhyun sunbae membagikan buah-buahan kepada mereka. Kalau dipikir lagi aku tidak menyesal mengikuti acara ini, hitung-hitung sebagai penyegaran otak.

 

Kami sampai di ujung lingkungan 2. Kebanyakan warga yang menyambut kami dalah ahjumma-ahjumma dan beberpa nenek yang masih terlihat segar bugar. Sontak ahjumma-ahjumma tersebut langsung mengelilingi Baekhyun sunbae sambil membawakan makanan, minuman dan beberapa kue. Cih, sudah bersuami tapi masih jeli kalau melihat lelaki tampan. Pikirku dalam hati. Tunggu, secara tidak langsung aku mengatai Baekhyun sunbae tampan? Otakku mungkin sedang konslet.

 

Setelah membersihkan lingkungan, kami berbincang-bincang sambil beristirahat di salah satu pelataran rumah warga yang cukup luas. Bisa kulihat Baekhyun sunbae yang masih dikelilingi ahjumma-ahjumma genit itu sambil disodorkan berbagai macam camilan, bahkan ada yang menyuapinya segala. Baekhyun sunbae hanya tersenyum kaku menanggapi ahjumma-ahjumma itu sambil sesekali melihat ke arahku dengan pandangan minta tolong. Aku hanya bisa terkekeh melihatnya. Ku biarkan saja ahjumma-ahjumma itu menggoda Baekhyun sunbae agar mereka senang, sekaligus aku ingin mengerjainya.

 

Sambil terus memperhatikan Baekhyun sunbae, aku menyuapkan sepotong kue beras ke mulutku. Seorang nenek menghampiriku lalu duduk di sebelahku.

 

“Kau pasti lelah, nak” nenek itu menyedorkan gelas kepadaku, langsung kuterima dengan sopan.

 

“Terima kasih, halmeoni” ucapku seraya meneguk air dalam gelas itu.

 

“Pacarmu pasti kesusahan meladeni wanita-wanita itu” ucapnya melihat ke arah Bekhyun sunbae.

 

Tapi.. apa yang nenek itu bilang tadi? Pacar?

Aku menelan air yang barusan ku minum dengan susah payah.

 

“Tidak nek, dia bukan pacarku”

 

“Benarkah? tapi kalian terlihat sangat manis saat bersama. Dia memberimu minuman, membawakan alat kebersihanmu, mengangkat buah-buahan untukmu, bahkan membersihkan kotoran yang ada di pipimu.”

 

Benarkah? Tadi Baekhyun sunbae melakukan itu semua? Membersihkan kotoran di pipiku? Kapan? Bahkan aku tidak sadar.

 

“Aku bersungguh-sungguh, halmeoni. Bahkan kami baru bertemu tiga hari yang lalu”. Nenek itu terlihat mengangguk-anggukkan kepala. Sambil memasukkan sepotong lagi kue beras ke mulutku, aku memandangi Baekhyun sunbae. Apa kami terlihat dekat? Ah, mungkin hanya perasaan nenek itu saja.

 

***

 

Gyeonggi-do, 08.00 p.m

 

Ada dua kelompok yang ditugaskan ke daerah Gyeonggi. Malam ini kami menginap di sebuah penginapan bergaya klasik karena besok masih ada acara lagi di sini. Aku baru selesai mencuci rambut. Saat memasuki kamar, aku melihat Sojung sedang asik dengan ponselnya. Tak lama aku mendengar lagu ‘Lucky One’ dari EXO diputar. Ah, ternyata itu ringtone ponselku. Aku melihat nama yang tertera di layar.

 

Deg!

 

‘Jiyoung oppa is calling’

 

Sudah dua minggu ini aku tidak menghubunginya dan dia juga tidak menghubungiku. Aku mengangkat panggilan itu ragu-ragu.

 

Yeoboseyo?

 

“Oh, Yunju-yaa” suara Jiyoung oppa terdengar di ujung sana. Aku menggigit bibirku, tidak siap dengan panggilan yang tiba-tiba ini.

 

“Untuk apa oppa menghubungiku lagi? Aku kan sudah bilang kalau kita… berpisah”. Sojung menoleh kepadaku, sepertinya dia bisa menebak aku sedang berbicara dengan siapa.

 

“Ya, aku tau, aku tidak akan memaksamu untuk tetap bersamaku. Tapi, bukankah kita harus berpisah secara langsung? Kau hanya mengirim pesan singkat waktu itu”

 

Dua minggu lalu, aku aku mengirim pesan singkat yang isinya aku ingin berpisah dengan Jiyoung oppa karena tidak tahan harus menunggunya lagi. Sudah satu bulan terakhir aku tidak bertemu dengaannya karena dia sibuk dengan pekerjaannya sebagai CEO muda, dan dalam kurun waktu itu dia hanya menghubungiku dua kali. Aku tipe yang selalu ingin kepastian, tidak suka hubungan yang digantung seperti itu, jadi aku memilih untuk mengakhirinya.

 

Oppa tau alasannya kenapa aku mengirim pesan singkat? Itu karena aku sama sekali tidak bisa menemuimu! Jadi aku rasa kita tidak perlu bertemu lagi karena dalam pesan itu sudah tertulis jelas keinginanku dan… aku tidak ingin mengganggu waktu berhargamu!” aku mengucapkannya dalam sekali tarikan nafas. Oh tidak, udara di sekitarku tiba-tiba menjadi sesak.

 

Setelah itu, ku dengar Jiyoung oppa meminta maaf padaku karena tidak bisa menjadi kekasih yang baik untukku. Aku mengiyakannya dan segera menutup telfonnya. Aku melemparkan ponselku ke sela-sela bantal lalu Sojung memelukku. Beberapa detik kemudian aku melepaskan pelukan Sojung, berkata bahwa aku baik-baik saja, lalu berjalan keluar kamar. Aku butuh udara segar.

 

Aku duduk di beranda kamarku dan Sojung lalu menelungkupkan wajah di sela-sela lipatan kakiku. Dadaku terasa sesak, tapi anehnya aku tidak menangis. Entah kenapa aku merasa lega setelah berpisah dengan Jiyoung oppa. Kami menjalani hubungan hanya dua bulan, yang selalu berakhir dengan aku yang kesepian karena Jiyoung oppa terlalu sibuk dengan pekerjaannya.

 

Kurasakan ada langkah kaki yang mendekat ke arahku tapi aku hanya diam saja.

 

“Yunju-ya..”

 

Suara lembut itu…

 

“Kau menangis?”

 

Kali ini aku mengangkat kepalaku dan pemandangan pertama yang ku lihat adalah Baekhyun sunbae sedang duduk disampingku dengan mengenakan piyama tidurnya. Dalam suasana sepi yang minim pencahayaan ini dapat ku lihat wajah kelelahan Baekhyun sunbae. Oh, pasti dia lelah karena seharian ini menanggung pekerjaan yang lebih banyak dariku.

 

Sunbae…” kenapa suaraku jadi serak begini?

 

“Kau kenapa?” Baekhyun sunbae lebih mendekatkan diri kepadaku lalu memandang wajahku penuh tanya.

 

“Aku putus dengan pacarku…” aku merasakan air mataku menetes. Air mata yang tidak mau keluar sedari tadi, tapi bisa langsung lolos karena satu pertanyaan dari Baekhyun sunbae. Tapi, air mata itu tidak berlangsung lama. Karena sedetik kemudian Baekhyun sunbae memelukku.

 

 

 

TBC

 

 

Annyeong~ ini memang bukan fanfic pertamaku, tapi menjadi fanfic pertama yang dipublish di SKF. Karena author ini masih amatir di dunia per-fanfic-an, so author mohon dengan sangat kritik dan sarannya buat memperbaiki chapter selanjutnya ^^

Iklan

2 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Love Journal (Chapter 1)

  1. Uuuhh baekhyunnn cuco deh ih calon dokter 😍😍😍😍😍
    Ditunggu chapter berikutnya kaaa, penasara liat baekhyun pake jas putih 😍😍😍😍

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s