[EXOFFI FREELANCE] Reason Why I Life (Chapter 18)

Tittle/judul fanfic                    : Reason Why I Life

Author                                     : Park Rin

Length                                     : Chaptered

Genre                                      : Romance, Family, Angst

Rating                                     : PG-13

Main Cast&Additional Cast   : Baekhyun

                                                  Park Sung Rin (OC)

                                                  Mingyu Seventeen

                                                  All EXO’s Members

                                                  Ect.

Summary                                 : Aku tidak bisa berbohong. Aku tidak bisa untuk tidak melihatmu.

Disclaimer                               : FF ini murni buatan author sendiri. Ada beberapa cerita yang mengisnpirasi author dalam membuat karakter disini. Namun, jalan cerita dan alur cerita murni buatan author sendiri. FF ini juga bisa kalian temukan di akun wattpad milik author. Id author @ParkRin98. Baca juga di blog milik author https://parkrin98.wordpress.com/

Chanyeol terdiam, ia kemudian melangkah mendekati sahabatnya yang tengah naik emosinya tersebut. “Aku tidak bisa memberimu jawaban apapun, Baek.” Ucap Chanyeol kemudian, melangkah pergi meninggalkan sahabatnya yang banyak menyimpan pertanyaan.

***

Rin masih mengadur bubur ayam itu dengan tatapan kosong. Wajahnya terlihat begitu pucat dengan mata bengkak khas orang menangis semalaman. Tak lama, gadis itu menaruh kembali garpunya lalu meminum beberapa teguk air.

“Makanlah sedikit lagi, Rin.” Ucap orang didepannya sedikit memohon.

“Aku sudah kenyang.” Jawab gadis itu kemudian melenggang pergi dari kakaknya.

Melihat adiknya seperti itu, ia segera menaruh juga sendoknya dan pergi mengikuti adiknya yang kini memilih tiduran di sofa sambil menekuk lututnya. Mingyu memandang adiknya kasihan, ia kemudian mendekati gadis itu dan mengelus kepalanya.

“Aku lelah, oppa. Kenapa hidupku semenyedihkan ini?” Tanya gadis sambil memejamkan matanya.

Mingyu menghembuskan nafasnya perlahan, entah kenapa dadanya terasa sesak. “Semuanya akan baik-baik saja, Rin. Setelah kau di operasi dan pulang ke Anyang semuanya akan kembali seperti semula.”

“Aku lelah, oppa. Sangat lelah.” Tangis gadis itu mulai pecah.

“Bertahanlah sebentar lagi, Rin. Aku berjanji akan membuat kau lebih bahagia setelah ini.” Ucap Mingyu menenangkan adiknya.

Mingyu mengelus kepala gadis itu hingga adiknya masuk kedalam mimpinya. Ia kemudian segera menghapus beberapa titik air mata yang tersisa di pipi putih adiknya dan beranjak mengambil selimut ke kamarnya.

Selepas Mingyu menyelimuti adiknya, tiba-tiba hpnya berdering. “Chanyeol Hyung” Nama itulah yang tertera disana. Mingyu kemudian segera melangkah ke dapur, menjauhi ruang tengah takut-takut mengganggu tidur adiknya.

“Ada apa, hyung?” Tanya Mingyu setelah telepon genggam itu menempel di telinganya.

“Ku kira kau sudah tahu apa yang ingin aku bicarakan, Gyu.”

“Sepertinya Baekhyun hyung sudah mengamuk.” Canda Mingyu. “Kita bertemu dua jam lagi di tempat biasanya ya hyung.” Ucap Mingyu lagi.

“Oke.” Jawab singkat Chanyeol disana.

Mingyu beranjak untuk mandi, kemudian mengganti bajunya menggunakan baju yang sedikt lebih rapi. Ia kemudian beranjak pergi sebelum manik matanya bertemu dengan adiknya yang masih tertidur di ruang tengah. Hati Mingyu sedikit sesak melihat tubuh ringkih adiknya yang semakin lama semakin mengurus, pipi chubby adiknya juga perlahan menghilang. Mingyu memejamkan matanya sejenak, berharap segala rasa sedih di hatinya dapat berkurang, ia kemudian menangkat pelan tubuh adiknya menuju kamar tidurnya.

“Aku pergi dulu, Rin.” Ucap Mingyu pelan, agar tidak membuat adiknya terbangun.

***

Chanyeol memandang Mingyu kesal, tangannya mengaduk-aduk es kopi dengan tergesa. Chanyeol sedang berusaha keras untuk tidak menumpahkan kekesalannya sekarang karena ia sama sekali tidak mengetahui rencana yang sedang di lakukan oleh duo kakak beradik yang akhir-akhir ini cukup menyita perhatiannya.

“Bagaimana bisa kalian merencanakan rencana sebesar itu, tanpa memberitahuku?” Kata Chanyeol kesal.

“Maafkan aku, hyung. Rin hanya tidak ingin merepotkan hyung lebih jauh lagi.” Jawab Mingyu menyesal.

Chanyeol menghembuskan nafasnya. “Rin sudah ku anggap adikku sendiri dan Baekhyun sudah ku anggap sebagai saudaraku sendiri, mana mungkin aku bisa duduk tenang sementara mereka berdua menderita.”

“Lalu bagaimana, hyung? Aku tidak bisa membuat mereka berdua terus-menerus mederita seperti ini. Kita harus melakukan sesuatu sebelum mereka menyesal.” Ucap Mingyu frustasi.

Chanyeol hanya mengangguk mengiyakan. “Kita harus mendapar jalan keluar secepatnya sebelum semuanya terlambat.” Ucap Chanyeol kemudian.

***

Satu bulan. Ya, sudah satu bulan Rin dan Baekhyun mengakhiri kisah mereka, dan selama waktu itu Rin dan Baekhyun tidak pernah menghubungi satu sama lain.

“Makanlah sedikit lagi, Rin.” Paksa Mingyu saat melihat adiknya menaruh sendoknya setelah dua suapan kecil.

Rin menggeleng. “Aku tidak nafsu.” Ucap gadis itu singkat, kemudian menjatuhkan kepalanya diatas kedua lengannya yang terlipat.

Mingyu menatap adiknya iba, “Makanlah satu suap lagi, Rin. Kau harus menjaga kondisimu agar tetap stabil sebelum melakukan operasi.” Kata Mingyu pelan.

Rin menangkat kepalanya, kemudian mengambil lagi sendoknya. Rin akan selalu menuruti setiap perkataan kakaknya jika itu menyangkut dengan operasi. Gadis itu ingin sembuh.

Mingyu sedikit tersenyum saat melihat adiknya memakan dua sendok nasi lagi. “Kau bisa berhenti jika sudah mual, Rin. Aku tidak ingin kau memuntahkan isi perutmu dan kau berakhir kembali dengan perut kosong.”

Rin menangguk. Ia kemudian menghentikan acara makannya pada suapan kelima, perutnya sudah sangat mual dan tidak sanggup lagi ia sesakkan makanan. Rin segera menaruh sendoknya kemudian bergegas meminum air putih disebelah mangkuknya.

“Sudah selesai?” Tanya Mingyu sambil memperhatikkan adiknya.

Rin menangguk. “Aku sudah tidak kuat.” Ucap gadis ringkih itu.

“Sekarang minumlah obatmu dan istriahat.” Pesan Mingyu sebelum Rin beranjak dari tempat duduknya.

“Hm… aku tahu.”

“Rin, nanti aku ada latihan setelah itu aku akan pulang ke dorm sebentar.” Ucap Mingyu lagi sambil memperhatikan adiknya minum obat.

“Ehm…” Jawabnya setengah-setengah. “Sebaiknya kau menginap saja di dorm oppa, comeback-mu sebentar lagi tidak baik jika kau terus menerus menginap disini.” Kata Rin kembali duduk ke kursinya.

“Tapi, kau sendiri disini, Rin.”

“Tidak apa-apa, oppa. Lagipula aku merasa masih sehat-sehat saja.” Ucap Rin menenangkan kakaknya.

Mingyu menatap Rin khawatir. Tapi, Mingyu tidak bisa membantah lagi. Comeback grupnya memang semakin dekat dan tidak mungkin ia harus izin terus menerus untuk pulang ke rumah.

“Baiklah, tetapi jika ada apa-apa segera telepon aku.” Ucap Mingyu pasrah.

Rin menangguk, kemudian tersenyum kepada kakaknya. “Aku tahu.”

Mingyu memandang khawatir adiknya, kemudian menaruh membawa mangkuk nasinya ke wastafel. Entah kenapa nafsu makannya menghilang, setitik kekhawatiran menghinggapinya sekarang.

Rin duduk malas di sofa ruang tengah dengan tv menyala dihadapannya. Sudah sepuluh menit semenjak Mingyu pergi dari apartemennya dan entah mengapa Rin merasa begitu sepi. Rin lupa kapan terakhir kalinya apartemennya begitu sepi. Semenjak Rin sakit, ia tidak pernah di tinggal sendirian seperti ini. Mingyu atau keluarganya akan selalu silih berganti menjaganya.

Mata gadis itu hampir saja tertutup, jika saja bel pintu tidak berdering. Rin melangkah malas ke pintu dan tanpa berpikir panjang ia membuka pintu itu lebar.

“Siapa?” Tanya gadis itu santai.

Sedetik kemudian, gadis itu menyesal karena tidak mengecek terlebih dahulu orang yang bertamu ke rumahnya siang itu. Otaknya memerintahkannya untuk segera menutup pintu dan tidak membiarkan laki-laki itu masuk, namun hatinya berkata lain ia malah menatap lelaki itu tanpa berkedip.

“Ini aku.” Jawab lelaki itu dengan senyum yang gadis itu sangat rindukan.

Rin masih memperhatikan wajah itu hingga beberapa detik sebelum ia membuka lagi pembicaraan di antara mereka yang sudah lama hilang. “Ada apa?” Ucap gadis itu terbata, setengah dari tubuhnya masih luluh dalam kerinduan.

Lelaki itu masih tersenyum, “Hanya ingin tahu keadaanmu. Kita sudah lama tidak betemu bukan?” Kata lelaki itu.

“Ahh… aku baik-baik saja. Silahkan masuk.” Ujar Rin asal, dan sedetik kemudian ia menyesal.

Baekhyun terlihat sedikit terkejut, namun ia segera mengembalikan ekspresi wajahnya lagi. “Baiklah.” Kata lelaki itu kemudian melangkah masuk. Sedangkan Rin? Ia membiarkan lelaki itu masuk tanpa perlawanan.

“Kau benar-benar bodoh, Rin.” Bisik gadis itu kesal, kemudian mengikuti mantan kekasihnya masuk ke dalam.

“Ingin minum apa?” Tanya Rin kikuk saat Baekhyun mendudukan dirinya di sofa.

Baekhyun tersenyum. “Apa saja.” Kata laki-laki itu santai.

Rin dengan cepat melangkahkan kakinya ke dapur. Setelah sampai di dapur, otaknya langsung berputar cepat memikirkan minuman yang membutuhkan waktu lama untuk dibuat. Ia membuka kulkas dan pantry-nya berharap ada bahan minuman yang bisa membuatnya lebih lama berada di dapur. Namun, kenyataan berkata lain saat ia tidak mendapati apapun selain dua bungkus minuman yogurt strawberry. Tiba-tiba ia ingin kesal kepada kakaknya yang belum belanja keperluan bulan ini.

Gadis itu melangkah gontai menuju ruang tengah. Tangannya segera memberikan minuman yogurt strawberry itu. “Maaf hanya ini yang tersisa.” Kata gadis itu.

“Tidak masalah.” Ucap Baekhyun sambil mengambil minuman yogurt itu dari Rin.

Saat itu mata Rin tidak sengaja bertemu dengan jam tangan antik yang melingkar di tangan mantan kekasihnya, dan seketika dada Rin terasa sesak. Kenangan masa lalunya bersama lelaki itu terputar lagi dalam benaknya.

“Kau masih menyimpannya.” Kata Rin terbawa suasana hatinya.

Baekhyun menoleh kea rah gadis itu, kemudian mengikuti arah mata gadis yang tertuju pada jam tangannya. “Tentu saja, kado ini sangat berarti untukku.” Kata Baekhyun tersenyum kecut. “Sepertinya kau juga mempunyai kado yang berarti untukmu.” Ucap lelaki itu lagi, matanya tertuju pada boneka pororo di sudut sofa. Boneka pororo kumal yang entah kapan terakhir kalinya menyentuh air dan sabun.

Rin terdiam, lidahnya terasa kelu saat Baekhyun mendapati barangnya masih disimpan olehnya dengan baik.

“Aku sangat merindukanmu, Rin.” Ucap lelaki itu pelan.

Gadis itu masih terdiam saat telinganya menangkap suara kekasihnya itu. Saat Rin masih terdiam, Tiba-tiba Baekhyun memeluk gadis itu erat, membuat gadis yang sedang dilemma itu kaget.

Oppa…” Kata gadis itu saat merasakan bahunya basah.

“Lima menit saja, Rin. Biarkan aku memelukmu lima menit saja.” Kata Lelaki itu serak.

Gadis itu tak berkutik, meskipun otaknya menolak hal yang terjadi sekarang. Hati gadis itu tidak bisa bohong, ia masih merindukan pelukan hangat ini. Sedetik kemudian air mata gadis itu turun.

 

Iklan

2 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Reason Why I Life (Chapter 18)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s