[EXOFFI FREELANCE] Kupu-Kupu Malang (Chapter 4)

[Oh Sehun, Seravina (oc), Park Chanyeol]

 

[Another Cast you can find by your self, sorry]

 

[Romance, Drama, AU, Hurt? Friendship]

 

[PG-17]

 

[Chaptered]

 

[Storyline by Nano]

 

[Inspired from song “Kupu-kupu malam” by Noah]

 

[Desclaimer : Fanfic ini asli milik dan berasal dari Nano. Bila ada kesamaan alur, tokoh, tempat, dan lainnya, itu murni kebetulan. Hargai karya setiap orang, jangan pernah berniat memplagiat karya orang karena hal itu memalukan.]

 

[Summary : Kisah biasa di antara sejuta kisah klasik lainnya.

Tentang seorang adik yang mengingkar janjinya.

Tentang seorang gadis yang tidak dapat melindungi apa yang harus dilindungi.

Dan juga, tentang seorang pria yang menaruh dendam sekaligus cinta.

Semua itu, perjalanan hidup yang mereka tempuh … hanyalah buah dari penyesalan.]

 

 [Sorry for typo and happy reading…]

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

 

 

 

Several hours before Seravina talk about removal to Seoul.

 

 

 

 

 

Matahari mulai naik tinggi, jauh berada di puncak. Menyebarkan panas menyengat, menaburkan lelah dan keringat.

 

Siang ini jadwal pekerjaannya di kafe Kyungsoo. Biasanya, jika jadwalnya kosong, Kyungsoo akan dengan senang hati menampungnya sebagai pekerja. Walau sebenarnya Seravina merasa tidak enak karena bekerja tidak tetap, seakan Kyungsoo-lah yang menyesuaikan jadwal padanya. Karena itu, Seravina sangat bersyukur bisa bersahabat dengan Kyungsoo.

 

“Sera, istirahat dulu,” ajak Kyungsoo yang sedang menepuk tangannya, membersihkan sekaligus menjadi tanda bahwa pekerjaan telah selesai.

 

“Nanti,” balas Sera. Ia berjalan melewati Kyungsoo seraya melempar senyum. Tidak ia hiraukan Kyungsoo yang bertranformasi menjadi angry bird akibat menolak ajakannya.

 

“Dasar kepala batu.” Seravina menulikan telinga malah menatap Kyungsoo masih dengan senyumnya.

 

Heol.

 

Kyungsoo rasanya ingin sekali mencekik Seravina dengan bibirnya-eh? Keceplosan. Tidak. Tidak. Anggap saja Kyungsoo tidak memikirkan tadi, ia khilaf. Seravina sahabatnya, Kyungsoo tidak boleh berpikiran mesum seperti itu.

 

Memutar mata jengah, pada Seravina yang bersikap polos seakan tidak mendengar cercaannya yang tajam. Meski sebenarnya Kyungsoo memutar bola mata karena pikiran mesumnya.

 

Kyungsoo menggantungkan apron yang tadi ia lepas, lalu berjalan mendekati Seravina. Seravina ini bandel, kalau disuruh istirahat atau makan dia itu susahnya minta ampun. Kyungsoo terkadang kewalahan mengontrolnya, ia merasa mempunyai adik lagi setelah Candy. Yah, meski pada kenyataannya umur Kyungsoo lebih muda dua tahun dari Seravina. Namun walau begitu, satu hal yang biasa Kyungsoo lakukan agar dapat mengendalikan Seravina, MEMAKSANYA.

 

“Ai-ya! Kyungsoo~ berhenti menarikku. Oh! Lihat! Piringnya belum dicuci! Itu tanggung.”

 

Giliran Kyungsoo yang menghiraukan Seravina. Ia diam saja ketika Seravina memukulnya asal, membabi buta meminta dilepaskan.

 

Dwimanik Kyungsoo memberi aba pada pegawai lain agar mencuci peralatan kotor. Mengerti dengan perintah terselubung Kyungsoo, para pegawai lain yang melihatnya langsung melaksanakan perintah. Membuat Seravina melengos karena pekerjaan yang menurutnya harus ia lakukan dikerjakan oleh orang lain.

 

Para pegawai yang tersisa hanya bisa melihat kelakuan bos dan sahabatnya itu dengan gelengan kepala. Tidak berniat mendekat sama sekali karena tahu betul itu urusan dua insan itu.  Bosnya, terkadang galak jika siapa saja berani menggangu Seravina. Bahkan, membuat secuil goresan pada Seravina akan mendapat balasan yang lebih dari itu.

 

Bugh!

 

Seravina terduduk dihempas keras pada bangku. Ia melotot ganas pada Kyungsoo yang berwajah datar, duduk di seberangnya dengan santai meletakkan piring yang berisi makan siang.

 

“Makanlah,” tandas Kyungsoo. Ia mengambil sumpit lalu mulai memakan makanannya. Seravina terdiam. Tidak habis pikir dengan sikap Kyungsoo yang terkadang sewenangnya padanya. Kalau saja Kyungsoo bukan sahabat sekaligus bosnya, Seravina pastinya sudah membanjur Kyungsoo dengan jus jeruk di hadapannya.

 

Menghela napas pelan, Seravina mengikuti apa yang Kyungsoo lakukan. Ia menyumpit makanannya lalu mengunyah pelan dan lamban, meniru siput. Biar saja seperti itu, toh Seravina merasa tidak lapar.

 

Keduanya makan dalam diam. Seravina sesekali menyumpit asal lalu memakannya dengan arah pandangan ke luar kafe. Memang, kafe berbentuk lingkaran itu berdinding jendela besar transparan, bukan dinding berbahan bata dan semen. Memudahkan setiap pengunjung menatap pemandangan luar; jalan raya ataupun halaman depan kafe yang asri ditumbuhi beberapa pohon dan tanaman hias.

 

Kyungsoo memang rajin. Mahasiswa semester empat jurusan bisnis management itu selain pandai mengelola perusahaan dan memasak, ia juga gemar menyehatkan lingkungan dengan menanam pohon di sekitar kafe. Bukan hanya berguna untuk ekosistem, tetapi berguna juga sebagai surplus pengunjung. Strategi yang pandai. Ibaratnya, satu kali mendayung, dua, tiga pulau terlampaui.

 

“Makan yang benar.”

 

Seravina menoleh pada Kyungsoo yang membuka konversasi. Dahinya mengerut, bibirnya mengerucut, menatap tidak suka pada Kyungsoo. Ia malah sengaja menggigit kasar makanannya, menolak perintah Kyungsoo.

 

Sementara Kyungsoo sendiri hanya terkekeh pelan mendapat respon itu. Seravina menggemaskan. Hanya pada Kyungsoo dan Candy saja ia mengeluarkan ekspresi selain senyum hangatnya. Yah, bertolak belakang dengan Kyungsoo yang selalu menatap datar miskin ekspresi.

 

“Jangan seperti itu. Nanti lama-lama aku cium loh.”

 

Brak!

 

Seravina menggebrak meja kencang, ia geram. Tidak terima dengan ucapan semena-mena Kyungsoo yang menjengkelkan. Mulutnya masih penuh dengan makanan. Sumpit yang ia pegang menuding di depan wajah Kyungsoo.

 

“Kamu-!”

 

“Telan dulu makanannya.”

 

Seravina tidak jadi meneruskan, ia mematuhi perintah Kyungsoo, menelan makanannya. Setelah tertelan, maniknya menubruk manik Kyungsoo. Ia ingin memarahi Kyungsoo namun Kyungsoo malah menyuruhnya lagi, mempermainkannya.

 

“Minum dulu, nanti tersedak.”

 

Seravina lagi-lagi menurut. Toh ia memang haus, kerongkongannya merasakan ada yang mengganjal di sana, dan ia harus menyingkirkannya dengan mengalirkan air melalui minum.

 

Ahh … lega. Kerongkongan Seravina telah bersih dari sisa makanan. Ia kemudian mengalihkan pandang pada Kyungsoo yang menunduk asik sendiri dengan makanannya. Bahunya sedikit bergetar.

 

Eh? Kok bergetar? Kyungsoo menangiskah?

 

“Kyungsoo-ya, gwaenchana?”

 

Tidak ada tanggapan. Kyungsoo hanya menyumpit makanannya kembali, tidak menjawab sepatah kata pun. Manik Seravina mengikuti tangan Kyungsoo yang juga bergetar saat menyumpit makanan itu. Seravina mulai khawatir.

 

Kyungsoo…

 

Tidak kerasukan hantu, ‘kan?

 

“Kyungsoo-ya … kamu tidak kerasukan, kan?” tanya Seravina kembali. Kyungsoo tidak menjawab, Seravina mulai panik.

 

Seravina tidak berani mendekat ataupun menjauh. Kakinya seperti tertancap di lantai, tidak bisa digerakkan. Napas Seravina mulai memburu, parno dengan pikirannya sendiri. Ia menatap sekeliling. Para pegawai lainnya juga sedang makan dan sibuk. Membuat Seravina tidak ingin mengganggu. Padahal, ia ingin meminta tolong kepada siapa saja untuk menepuk Kyungsoo yang mungkin saja sedang kerasukan. Oh, bagaimana ini? Pikir Seravina yang semakin melanglang buana. Terhanyut dalam asumsi-asumsi negatif.

 

“Hahaha….”

 

Tawa Kyungsoo menggelegar ke seluruh penjuru kafe, menjadi pusat perhatian. Tawa yang begitu lepas. Para pegawai menatap kagum. Pertama kali mendengar tawa bosnya. Kyungsoo, bos tegas dan kaku, untuk pertama kalinya tertawa tanpa beban. Bibir unik yang selalu simetris kini membentuk garis love, manis. Sungguh manis. Para pegawai yang dalam diam memuja bosnya sendiri, terpesona akan ketampanan kaku yang berbalut senyum manis.

 

“Kyungsoo … kamu jahat.”

 

Seravina tidak bodoh. Ia tahu Kyungsoo mengerjainya. Alih-alih mengatakan Kyungsoo telah menggodanya, Seravina lebih suka menyebut kejahilan itu dengan kejahatan. Setelah bersusah payah atas kekhawatirannya, ternyata Kyungsoo sedang membodohinya. Seravina kesal? Tidak. Seravina tidak kesal. Ia hanya meyayangkan dirinya sendiri yang mudah dibodohi.

 

Ringisan kecil menjadi akhir dari tawanya sebelum berkata pada Seravina, “maaf.”

 

Hanya itu. Tanpa embel-embel apapun. Begitu singkat. Kyungsoo tidak mau mengulur kata busuk yang tidak ditepati hanya untuk meminta sebuah maaf.

 

“Kupertimbangkan,” jawab Seravina seraya duduk. Ia menghiraukan Kyungsoo dan mulai makan. Benar-benar memakannya, tidak memainkan makanan seperti tadi. Seravina mengerti, tingkah absurd Kyungsoo yang tadi adalah sindiran untuknya agar tidak menyia-nyiakan makanan. Tanpa kata gamblang, Seravina terbiasa dengan sindiran yang berbentuk kode dari Kyungsoo. Meski kodenya aneh dan menyebalkan.

 

“Nah, begitu. Kasihan makanannya dari tadi nangis minta dimakan.”

 

Seravina tersenyum. Terpaksa.

 

Setelah itu mereka berdua makan dalam diam, hanyut dalam pikiran masing-masing. Sebenarnya hanya Seravina sih, karena Kyungsoo makan sembari menatap lurus Seravina, memerhatikan cara makannya yang menawan seperti bangsawan. Persis seperti bangsawan, Kyungsoo heran. Dari mana Seravina tahu table maner? Bukannya apa. Keluarga bibi Seravina tergolong standar tapi tidak mungkin juga menggelar acara makan dengan table maner sedetail ini.

 

“Sera,” panggil Kyungsoo setelah meletakkan sumpitnya. Tangannya saling bertaut di atas meja, menatap Seravina heran.

 

“Hm?” Seravina mengangkat kepala, maniknya menubruk manik Kyungsoo.

 

“Kau tahu table maner?”

 

Mengangguk. Seravina menjawab polos.

 

“Tahu dari mana?”

 

Seravina berhenti mengunyah. Ia menatap lekat pemuda itu. Mengapa sahabatnya ini berubah cerewet?

 

Menelan makanan, meletakkan sumpitnya, Seravina menjeda makan. Prediksinya, percakapan ini akan berlangsung lama. Untuk itu, sebagai pencegahan dirinya mungkin akan tersedak, ia menghentikan makannya.

 

“Bibi dan Paman selalu makan seperti ini. Aku, Sehun dan juga Sena sejak kecil sudah diajarkan makan seperti ini.” Seravina tersenyum lembut saat Kyungsoo akan menyela namun tidak jadi. “Aku tahu, table maner mungkin hanya untuk mereka kalangan borjuis, tapi … Paman selalu berkata agar kami menjaga sikap saat makan walau bukan orang berada. Setidaknya, kami harus punya tata krama.”

 

Kyungsoo tertohok. Ia tidak bermaksud menyinggung Seravina.

 

“Sera. Aku tidak bermaksud seperti itu-”

 

“Aku tahu. Kamu tidak perlu cemas.” Seravina memotong perkataan Kyungsoo, “aku hanya merasa harus mengatakan itu. Sewaktu SMA dulu pun, aku selalu diejek karena tata kramaku seperti bangsawan namun penampilan anak jalanan. Aku tidak mengerti, aku hanya berusaha bersikap baik, tapi mengapa mereka membuliku?” Seravina mencicit di akhir kalimat.

 

Aduh.

 

Kyungsoo semakin feeling guilty, bahkan Seravina sampai curhat masa lalunya.

 

Noona-ya,” panggil Kyungsoo. Ia tidak akan memanggil seperti itu jika bukan dalam keadaan terdesak. “Maaf membuatmu tersinggung. Dan lupakan tentang masa lalumu. Jika masih ada yang bersikap buruk, katakan saja padaku.”

 

Seravina pikir Kyungsoo akan memohon maaf dengan beberapa kalimat berlebihan, nyatanya tidak. Pemuda itu malah mengalihkan topik.

 

“Untuk apa mengatakan padamu? Kamu memangnya akan melakukan apa? Membunuhnya?”

 

Kyungsoo melihat keheranan pada Seravina. Seakan tertarik dengan jawaban yang akan Kyungsoo beri.

 

“Tidak. Aku tidak akan membunuhnya.” Tertawa dalam hati ketika Seravina mengembus napas lega, Kyungsoo tersenyum tipis, “aku akan menyiksanya dulu, baru membunuhnya ketika napasnya di ujung tanduk.”

 

Tertegun.

 

Seravina terkejut. Kyungsoo berkata seolah sungguh-sungguh akan melakukannya, psikopat!

 

Tak ayal, para pegawai yang lainnya pun terdiam dan meneguk saliva kasar. Mereka tahu, bosnya itu bersungguh-sungguh mengucapkan itu dan sebagai peringatan kepada mereka yang memang tidak menyukai Seravina.

 

Tak!

 

Kyungsoo mengaduh pelan saat Seravina memukulnya menggunakan sumpit dan tertawa melihat raut cemas dalam wajah memerah Seravina.

 

“Jaga mulutmu, Kyungsoo. Aku, takut.”

 

Perlahan Seravina tertunduk, enggan menatap Kyungsoo. Gadis itu merasa, ia tidak pantas mendapat belaan dari Kyungsoo. Meski gurauan, Seravina tahu Kyungsoo akan melakukan hal seperti yang dikatakannya tadi jika saja Seravina mengadu. Tapi tidak. Seravina bukan orang yang seperti itu. Ia tidak ingin dikasihani.

 

Manik almond menatap sendu saat Kyungsoo menarik dagu Seravina. Kyungsoo … menyesal telah membuka luka Seravina.

 

“Maaf.”

 

Melepaskan tangan Kyungsoo di dagunya, ia lagi-lagi melontarkan senyum hangat. Senyum manis yang berdiri membelakangi luka.

 

“Gwaenchana.”

 

Kyungsoo menghela napas. Seravina kembali pada mode ‘aku tidak apa-apa’ padahal sebenarnya ‘aku terluka’. Mau bagaimana lagi, Kyungsoo tidak akan memaksa Seravina untuk tidak berlaku demikian walau sangat ingin. Ia tidak mau Seravina terbebani dengan sikap agar selalu jujur padanya. Cukup melihat dan berada di sampingnya. Kyungsoo menambatkan kata itu di hatinya.

 

Ting!

 

Suara denting bel menggema, tanda istirahat telah selesai dan pergantian shift. Kyungsoo yang memasangnya. Ia tidak ingin pegawainya korupsi waktu dengan alasan tidak menyadari waktu istirahat telah selesai. Meski begitu, ia juga mendengar selentingan yang mengatakan kafenya seperti lembaga formal sekolah. Siapa peduli? Toh kafe Kyungsoo tetap ramai walau dicela seperti itu.

 

Kyungsoo membereskan makanannya dan melirik Seravina yang terdiam dengan kepala menunduk, makanannya masih tersisa banyak.

 

“Sera?”

 

Diam. Seravina tetap diam.

 

Penasaran, Kyungsoo pun bangkit dan mendekatinya.

 

Rupanya Seravina sedang menggenggam ponselnya. Kyungsoo yang melihat keseriusan Seravina menggeleng pelan. Melihat apa sih sampai mengabaikannya?

 

“Sera—”

 

Kyungsoo tidak melanjutkan kalimatnya begitu melihat ekspresi Seravina, putih pucat pasi. Kyungsoo khawatir.

 

“Kyungsoo-ya….”

 

Bulir air mata mengumpul di pelupuk mata Seravina. Dan ketika ia melanjutkan kalimatnya, air mata itu mengalir membentuk anakan sungai.

 

“Sena … Sena dalam bahaya. Dan itu semua ulahku.” Bibirnya bergetar ketika berujar. Tangannya mengepal, dadanya sesak, “semua salahku.”

 

Kyungsoo yang tidak mengerti segera menepis tangan Seravina yang memukul tubuhnya sendiri. Apa yang membuat Seravina lepas kendali seperti ini?

 

“Sera, hentikan. Ada apa sebenarnya?”

 

Seakan tersadar, isak tangis berhenti seketika. Seravina tidak menyadari ia masih bersama Kyungsoo, seharusnya ia bisa menahan tangisnya.

 

Menggeleng pelan. Seravina mencoba tersenyum walau terlihat aneh. Tangannya perlahan menyembunyikan ponselnya demi keamanannya agar Kyungsoo tidak mengetahui hal yang sebenarnya, Seravina tidak ingin merepotkan Kyungsoo. Apalagi mengingat perkataan Kyungsoo yang sebelumnya.

 

“Bukan apa. Aku hanya akting.” Seravina meringis pelan saat Kyungsoo menatapnya tajam. “Kamu tertipu~”

 

Datar.

 

Kyungsoo tidak percaya begitu saja dengan keceriaan yang dipaksa. Ia merebut ponsel Seravina yang disembunyikan dipunggungnya.

 

Seravina tidak menyangka Kyungsoo merebut ponselnya tiba-tiba. Apalagi saat Kyungsoo berbalik dan berlari menjauhinya.

 

Tidak. Kyungsoo tidak boleh tahu.

 

Seravina segera mengikuti jejak Kyungsoo yang berlari ke lantai atas, ruangan kerja Kyungsoo.

 

Namun saat ia berada di anak tangga ketiga, langkahnya berhenti. Kyungsoo menatapnya tanpa ekspresi sembari mengulurkan ponsel miliknya. Berdiri di anak tangga kelima. Jangan katakan Kyungsoo telah melihat itu.

 

Seravina ragu. Tapi Kyungsoo masih mengulurkan tangan, menyodorkan ponselnya.

 

Dengan berbagai hal yang berkecamuk di pikirannya, Seravina berangsur menerima uluran itu dan mengambil ponselnya.

 

Setelahnya mereka masih diam. Kyungsoo melipat tangannya di dada, seakan menunggu penjelasan Seravina.

 

Lagi dan lagi menunduk. Entah sudah yang kesekian kalinya. Seravina ngeri melihat tajamnya iris hitam dalam bola mata Kyungsoo yang besar.

 

“Kau anggap aku apa, Sera? Sahabat? Atau orang asing? Kau bisa meminta tolong padaku, apa susahnya?”

 

Bergetar. Bibir Sera bergetar tidak kuat menahan tangis. Ia menggigit keras bibirnya agar isakan tidak lolos keluar.

 

Tidak tahu harus menjawab apa. Yang gadis itu tahu, Kyungsoo telah melihat isi ponselnya. Artinya, Kyungsoo tahu konflik yang berkecamuk pada Seravina.

 

Seravina mendengar helaan napas Kyungsoo, seakan melepas beban berat. Seravina merasa bodoh. Tidak seharusnya Kyungsoo ikut campur karena ia tahu betapa sibuknya pekerjaannya. Tidak mudah menjalani hidup sebagai mahasiswa di Seoul yang harus pulang pergi ke kampung halaman. Belum lagi beberapa kafe yang Kyungsoo urus di berbagai kota. Seravina tahu bagaimana lelahnya menjalani hidup seperti itu. Dan dirinya, dengan tidak tahu diri menangis di depan Kyungsoo seakan meminta belas kasih agar terbantu masalahnya. Sungguh, bodoh.

 

“Maaf.”

 

“Untuk apa meminta maaf?” Kyungsoo bertanya akan pernyataan Seravina yang irasional.  Tangannya masih bersidekap sembari memandang Seravina yang menunduk meremas ujung kemejanya.

 

“Untuk semuanya. Aku hanya tidak ingin kamu repot, Kyungsoo. Aku terlalu banyak berutang padamu.”

 

Apa katanya?

 

Berutang?

 

Jadi semua bantuan tulus yang Kyungsoo beri ia anggap utang? Hah, jadi seperti itu?

 

“Ah, jadi semua itu utang ya?”

 

Sindiran Kyungsoo merasuk dalam benak si gadis. Wajar Kyungsoo marah, ia harus berani menanggung resiko itu. Karena bagaimana pun, Seravina tahu Kyungsoo pasti tersinggung dianggap bantuannya hanyalah utang yang harus dibayar. Padahal Seravina tahu, Kyungsoo tulus membantunya. Tetapi, ia tetap harus berkata seperti itu. Ia berharap dengan hal itu Kyungsoo tidak akan membantunya lagi.

 

“Aku akan mencari orang yang menerormu.”

 

Gumaman kecil Kyungsoo membuat Seravina terkejut. Tidak. Kyungsoo tidak boleh ikut campur.

 

“Kyungsoo-ya, kamu tidak perlu seperti itu. Aku tidak ingin menambah masalah, jadi aku akan pergi saja.” Seravina memelas menatap Kyungsoo. Ia sungguh lelah dan mencari jalan yang praktis saja.

 

“Memangnya kau mau pergi ke mana, hm? Aku tahu kau tidak bisa meninggalkan keluargamu.” Kyungsoo mengejek.

 

“Kumohon Kyungsoo … jangan berkata itu, jangan membuatku ragu. Mungkin aku akan pergi ke kota.”

 

Keputusan Seravina pergi menjauhi mereka. Itu artinya, Kyungsoo tidak bisa berbuat apa pada Seravina si keras kepala. Tapi, jika Seravina ia biarkan pergi begitu saja maka Kyungsoo duga Seravina akan dalam kondisi berbahaya. Sepertinya ia harus turun tangan. Seravina sahabatnya. Ia tidak akan membiarkan satu orang pun menyakitinya.

 

“Terserahmu saja, Sera. Dan ah! Mengenai utang itu … bukankah kau harus membayarnya?” Seravina mendongak menatap Kyungsoo. Kalimatnya tadi, membuatnya terkejut dan hatinya sedikit tercubit mendengar kalimat pedas Kyungsoo, “Seravina Oh, kau dipecat.”

 

Keputusan telah dibuat. Seravina tidak protes karena ia memang merasa salah.

 

Mengangguk pelan, menerima keputusan Kyungsoo. Lagi pula ia memang akan pergi. Seravina mundur selangkah, hendak berbalik namun suara rendah itu menginterupsi. “Dan diterima di kafeku yang berada di Seoul. Besok kau harus berkemas. Jangan khawatirkan tentang tempat tinggal, aku akan mengurus semuanya. Cukup pindah, mengerti?”

 

Membelalak menatap tidak percaya, Seravina menatap iris hitam Kyungsoo. Ia tidak mengerti.

 

“Tapi—”

 

“Tidak ada tapi. Kau ingin membayar utangmu, ‘kan? Begitulah caranya, turuti semua perintahku.”

 

Kyungsoo pergi melengos begitu saja. Merajut langkah menaiki satu persatu anak tangga. Tidak mengacuhkan keberadaan gadis itu, yang pastinya akan menolak mentah-mentah.

 

Bukannya lega, Seravina lebih merasa utangnya semakin bertambah.

 

Kyungsoo…

 

Membantunya mengurangi peliknya hidup.

 

Jika Kyungsoo terus seperti ini, bagaimana Seravina membalas semuanya?

 

Ah, semua ini ulah ceroboh dirinya. Jika saja ia membalas satu kali saja pesan di ponselnya, ia tidak akan seperti ini.

 

Tidak tahu diri! Seravina merasa tidak berguna untuk siapapun.

 

Ponsel yang ia pegang diremasnya pelan. Kesal dan benci pada dirinya sendiri.

 

Seravina menatap ponselnya. Mengingat kembali pesan masuk beberapa menit yang lalu.

 

‘Menjauhlah atau keluargamu yang akan pergi selamanya.’

 

By xx

 

*****

 

Manik tajamnya tertutupi kacamata hitam. Mulutnya juga ditutup masker. Kemudi ia pegang erat. Duduk dalam sedan hitam dengan berlapis kaca riben. Kaca yang hanya tembus pandang satu sisi saja.

 

Bibirnya menyeringai ketika melihat target di depan. Bersenda gurau menghampiri gerbang tanpa tahu bahaya sedang mengancam.

 

Sena melambai pada Sehun yang berdiri di seberang. Bibirnya menyunggingkan senyum manis. Ia terburu-buru pamit pada temannya hendak pulang bersama Sehun. Mereka tertawa bahagia menggoda Sena yang centil dan manja terhadap Sehun, Sena menjulurkan lidah. Ia berjalan mundur masih betah bersenda gurau dengan teman-temannya.

 

Cih. Sehun mendengus. Ia jengah harus menunggu Sena. Maniknya beralih, menatap sedan hitam yang mencurigakan. Sebelumnya Sehun tidak pernah melihat sedan hitam seperti itu. Entah itu milik murid ataupun guru. Apalagi saat kendaraan roda empat itu mulai melaju dengan cepat. Tatapan Sehun segera beralih pada tujuan si mobil.

 

Oh, tidak.

 

“SENA! AWAS!”

 

.

 

 

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

To be continued

 

.

 

 

 

.

 

 

 

 

.

 

 

 

 

 

.

 

 

.

 

 

 

 

 

 

 

Tapi bohong 😁

 

*****

 

Seravina menunggu cemas kedua adiknya pulang. Duduk di sofa gugup. Kyungsoo mengijinkannya pulang lebih awal setelah mengatakan ultimatumnya. Makanya ia dapat menunggu Sehun dan Sena pulang.

 

Lima menit lagi. Harusnya lima menit lagi mereka datang.

 

Seravina berharap agar Sena dan Sehun dalam kondisi baik pasca kejadian itu.

 

Bibirnya tak kunjung berhenti melantunkan doa keselamatan untuk adik-adiknya tersayang. Seravina khawatir setengah mati setelah melihat rekaman yang dikirimkan seorang penerror.

 

Cklek.

 

Omma…”

 

Rengekan khas Sena terdengar ke ruang tamu. Seravina yang duduk di kursi segera beringsut berdiri dan berjalan tergesa ke arah pintu masuk, sang sumber suara.

 

Uljima.”

 

Itu suara Sehun.

 

Langkah gadis itu semakin cepat menghampiri mereka.

 

“Astaga Sena!”

 

Seravina terkejut dengan kondisi Sena yang dipapah oleh Sehun, menggelayut lemah lunglai tidak berdaya. Wajahnya pucat seperti syok. Matanya sembab masih mengeluarkan bulir air mata.

 

“Tolong buatkan teh hangat untuk Sena, noona. Antar ke ruang keluarga.”

 

Dingin. Sehun menatap sekilas kakaknya setelah mengucapkan tolong. Ia menggendong Sena yang semakin tidak berdaya, melewati begitu saja kakaknya. Sehun rupanya masih marah pada kakaknya.

 

Meski sedikit sakit akan perilaku Sehun, Seravina langsung bergegas ke dapur untuk membuat teh hangat seperti yang diminta oleh Sehun.

 

Masalah perang dinginnya dengan Sehun harus ia abaikan dulu, Sena lebih penting sekarang.

 

Dengan cekatan ia menyajikan teh hijau hangat. Sengaja memilih teh hijau, meski rasanya pahit, kandungan penenang dalam teh hijau lebih kuat walau hanya mencium aromanya.

 

Seravina juga menambahkan sedikit madu, antisipasi jika Sena rewel menolak minum teh pahit.

 

Setelah selesai, ia segera bergegas membawa teh ke ruang keluarga, seperti yang tadi dikatakan Sehun.

 

Omma~” Seravina terdiam melihat bagaimana lemahnya Sena. Tapi, ia juga tersenyum karena Sehun menjadi lebih peduli pada Sena. Bukannya ia tidak tahu, Sehun entah mengapa begitu membenci Sena dan Bibi, tapi kali ini lihatlah. Akhirnya Sehun peduli pada keluargannya, seperti yang seharusnya.

 

Meletakkan teh di meja. Seravina duduk di samping Sena yang menangis tersedu dalam pelukan Sehun. Ia mengelus surai hitam legam Sena yang lembut.

 

“Minum dulu tehnya.”

 

Sena menolak ucapan Seravina. Ia masih betah menangis dalam pelukan Sehun. Bagi Sena, bersandar pada Sehun bagai bersandar pada seorang kakak. Rasanya sangat nyaman.

 

“Sena.” Sehun menjauhkan pelan kepala Sena di dadanya, “minum tehnya, ya?”

 

Sena mendongak menatap Sehun. Air matanya masih mengalir, manik hitam Sena menatap polos Sehun seakan linglung. Namun karena Sehun yang bertanya, Sena mengangguk saja seolah mengerti.

 

Tersenyum. Sebuah senyum tulus dari Sehun. Sena tertegun. Sehun~ tidak pernah tersenyum tulus sebelumnya pada Sena. Air mata Sena semakin deras, terharu.

 

“Sena, mengapa tangismu semakin deras, hm?”

 

Seravina bahagia saat Sehun menyeka air mata di pipi Sena, begitu tulus kasih sayang yang Sehun lakukan. Karena sebenci apapun, darah tetap lebih kental dari air.

 

Uljima, mengerti?” pinta Sehun karena tangis Sena tak kunjung berhenti.

 

Lucu sebenarnya melihat aksi Sena yang sekuat tenaga menghentikan tangisnya hingga hanya tersisa senggukan. Seravina tersenyum tipis. Yah, setidaknya di balik musibah ada hikmah yang dapat diambil.

 

Sena meminum teh pelan, Sehun masih mengelus surai hitam Sena.

 

Helaan napas Sehun memecah hening. Ia tidak sanggup berada di situasi yang entah mengapa menjadi canggung. Ia berdeham membersihkan tenggorokan sebelum bertanya, “Bibi di mana?”

 

Mengerjap pelan, Seravina sedang memahami pertanyaan Sehun. Ia tadi melamun. “Ah, Bibi. Bi-Bibi belum pulang. Mungkin masih mengurus butik.”

 

Sehun, Sena dan Seravina tercenung. Mengingat Joohyun-ibu Sena-yang baru-baru ini mendirikan butik dan sedang gencar menggaet pelanggan. Apakah tidak apa jika Sehun menghubungi bibi untuk pulang demi Sena? Tapi ia ragu, takut mengganggu. Sementara paman atau ayah Sena bekerja sebagai polisi. Waktu baru menunjukkan petang hari, masih beberapa jam menuju datangnya malam dan datangnya sang paman yang artinya beberapa jam lagi paman akan datang.

 

Melirik menggunakan sudut mata, Sehun memerhatikan emosi naik turunnya emosi sang kakak. Sejak kedatangan mereka tadi, kakaknya itu seakan memang menunggu kedatangan mereka. Padahal dari yang ia dengar pagi tadi, kakaknya itu meminta ijin  pada paman dan bibi untuk kerja di kafe Kyungsoo hingga menjelang malam. Matahari belum berubah jingga sepenuhnya, masih seperempat di atas sana. Dan kakaknya berada di sini. Fix, Sehun curiga pada kakaknya. Apalagi, diamnya kakaknya seakan telah mengetahui kejadian yang menimpa Sena. Ia ingin bertanya, tetapi ego memenangkan segalanya. Hey, Sehun sedang merajuk pada Seravina, ingat?

 

Oppa…,” ujar Sena. Nadanya penuh aegyo, berharap Sehun masih luluh. Padahal tidak perlu seperti itu pun Sehun akan tetap peduli. Melihat gelagat Sehun yang menunggu, Sena meneruskan, “aku ingin ke kamar.”

 

Sehun mengernyit. “Sena tidak ingin menghubungi omma?”

 

Menggeleng. Sena menjawab dengan tatapan kosong, ibunya~ tidak suka jika diusik kesibukannya. “Tidak. Sena ingin tidur, oppa. Ah, jangan katakan kejadian ini pada omma appa, ne?”

 

“Kejadian?” tanya Seravina. Ini waktu yang pas untuk bertanya meski sebenarnya ia sudah tahu.

 

Sehun dan Sena saling tatap. Ragu memberi tahu. Memalingkan wajah, Sena menunduk. Tidak ada tanda-tanda penolakan. Sehun pun menceritakan musibah Sena yang hampir ditabrak mobil. Untungnya, kecepatan lari Sehun mampu menyelamatkan nyawa Sena.

 

Setelah dipaparkan peristiwa sepulang sekolah tadi, Seravina terkejut. Lebih tepatnya berpura-pura. Ia tidak ingin memancing rasa curiga Sehun. Dan Sehun tidak sebodoh itu untuk mengetahui kakaknya sedang berbohong. Ia telah lama hidup satu atap bahkan satu kamar dengan Seravina, semua gelagatnya sudah Sehun hafal.

 

Oppa, antar ke kamar…,” rengek Sena mengalihkan atensi Sehun. Sena tidak suka jika Sehun menaruh perhatian pada Seravina.

 

“Baiklah. Ayo.” Sehun memapah Sena ke kamar. Pergi begitu saja membuat Sena mengernyit menatap Seravina dan Sehun berulang kali. Ah, sepertinya Sehun sedang merajuk, pikir Sena dengan tersenyum diam-diam.

 

Seravina menatap sendu. Batinnya berkonflik ria. Semua berkecamuk menjadi satu. Kepalanya berdenyut sakit. Hatinya pun jauh lebih sakit. Semua ini, berada dalam batas toleransinya.

 

Ponsel bergetar. Satu pesan masuk dari Kyungsoo. Seravina langsung mengetik balasan.

 

Kyungsoo :

 

‘Aku telah mengurus kepindahanmu. Apartemen yang akan kau tinggali tidak mahal dan sederhana. Besok aku menjemputmu.’

 

Seravina :

 

‘Aku mengerti.’

 

Jika ini goresan takdir yang diperuntukkan oleh tuhan, Seravina tidak bisa berbuat apa selain menerima. Ia percaya, tuhan telah merencanakan yang terbaik untuknya. Meski harus merasakan sakit yang tiada tara. Seravina~ terlalu menyayangi keluarganya. Berpisah dengan mereka bagai jantung yang tidak berfungsi, mati rasa.

 

Seravina menghapus air mata yang tanpa sadar mengalir. Tidak boleh seperti ini. Ia harus tegar. Tidak boleh cengeng karena ini bukan tujuan hidupnya, bukan cara untuk bertahan hidup, bukan juga hal yang dapat menyelesaikan masalah.

 

Menepuk kedua pipinya pelan, Seravina menyemangati dirinya, “Kamu pasti bisa Seravina!”

 

 

 

.

 

.

 

.

 

.

 

.

 

To be continue

 

Nano’s note :

 

 

Aloha semuanya…. marhaban ya ramadhan….

Alhamdulillah setelah mengalami beberapa kendala, fanfic ini berhasil di up kembali. Saya nepatin janji kan bakal di up satu bulan kemudian? Saya sangat berterima kasih pada kalian yang mau nunggu updetan ini fic bahkan selalu meninggalkan jejaknya. Saya sangat menghargai apresiasi kalian sekaligus sangat-sangat berterima kasih. Oleh karena itu, mulai dari updetan ini, jadwal fanfic ini akan diubah dari satu bulan sekali menjadi satu minggu sekali(yeay!)*tiupterompet/tapi gak jadi  takut pipi kembung dan batal puasa

 

See you…

Iklan

4 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Kupu-Kupu Malang (Chapter 4)

  1. ohh jadi bener yaa kk klo seravina itu pindah ke seoul gegara dipindahin kerja d.o ,,aku kira cuma alibi seravina aja biar diijinin pergi ke kota..syukurlah seenggaknya disana tujuannya jelas.
    pengen bgt hubungan sehun seravina ituu bukan kakak adik wekekeke..
    mereka tuh beneran sodara kandung yaa kk..?? jangann dong *ehh
    skali” tlng bahagiain seravina yaa kk, 😂😂😂 nyesekk akuu.. klo liat dia yg sllu berusaha utk terlihat kuat.

    ayeeeeeee…up seminggu sekali…??? serius..??
    Alhamdulillah 😀😀

    • Buakaka kamu kenapa bisa mikir si seravina boong? Dia kan orangnya gak bisa boong? :v
      Ngebet banget sih pengen si seravina supaya gak sodara kandung. Padahal saya sudah berusaha bangun relation sibling loh, apa mungkin saya gagal sehingga reader salah tangkap perhatian sehun sama seravina?

      Iya deh saya nanti bikin seravina bahagia, tapi mungkin di chap 8 HAHAHA(ketawa setan)

      Serius, saya bakal update seminggu sekali. Itu pun kalo gak ada halangan ya, bisa aja saya gak update karena gak punya kuota(curhat😂)
      Terimakasih telah meninggalkan jejaknya^^

  2. Masih bingung sama alurnya thor ? Apa alurnya maju-mundur ya ?
    Siapa yang neror seravina ? Apa itu chanyeol ? Terus yang nabrak sena, apa itu juga chanyeol ? Tapi kenapa harus seravina ? Apa dia punya dendam ? Disini kasihan sama seravina, dia jadi tokoh yang tersakiti terus.
    Ditunggu next chapter nya thor, semoga alur nya gak buat aku bingung lagi. Fighting terus ya thor

    • Di chapter tiga saya sudah bilang kalo chap 3 dan 4 itu adegan sebelum kakaknya sehun ngomong mau pindah. Alurnya emang maju-mundur. Sebenernya saya gak bermaksud untuk mengabaikan pertanyaan kamu, cuma saya gak mau spoiler, toh jawabannya ada di next chapter.

      Terima kasih ya telah menunggu bahkan mengapresiasi karya saya ^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s