[EXOFFI FREELANCE] Little Star (Chapter 4)

Tittle: LITTLE STAR

Author: PinkyLinn

Length: Chaptered

Genre : Romance

Rating: PG-13

Main Cast:

Park Chanyeol & Jung Eun Ra

Additional Cast:

Do Kyungsoo, Kim Jongin, Han Soo Ri, Lee Dong Jae, Shin Ha Mi, personil EXO lain

Summary:

Bagaimana jadinya jika seorang gadis mengalami banyak hambatan untuk mewujudkan cita-citanya? Bertemu dengan member boyband yang menyebalkan, orangtua yang tidak setuju, cinta yang bertepuk sebelah tangan, dan beberapa masalah lain yang terjadi di dalam hidupnya.

Ikuti terus kisah seorang gadis bernama Eun Ra yang berusaha untuk mewujudkan cita-citanya walaupun banyak rintangan yang ada di depannya!

Disclaimer:

Cerita ini murni dari pemikiran aku dan (sedikit) pengalaman pribadi. Cerita ini juga pernah aku post di akun wattpad aku, silahkan mampir. Ini linknya: http://my.w.tt/UiNb/KbQ0BYucZC

Happy reading^^

Arghh!! Sudah aku bilang kan, aku sangat tidak suka membicarakan masa depan dengan kedua orangtuaku. Dan sekarang mereka menyuruhku untuk mengambil jurusan bisnis yang aku bahkan tidak tertarik dengan jurusan itu. Aku sudah bilang berkali-kali pada appa bahwa aku ingin menjadi idol. Tapi mereka tidak pernah mendukungku.

“Kau mau jadi idol? Lebih baik kau mencari pekerjaan yang lebih pasti. Apa kau yakin bisa menjadi idol?

Kedua orangtuaku selalu saja berkata seperti itu. Mereka tidak yakin kalau aku bisa menjadi idol. Apa itu karena tinggi badanku? Iya pasti karena itu mereka jadi tidak yakin dengan cita-citaku. Apa yang salah sih kalau tinggiku hanya segini dan aku ingin menjadi idol? Memang idol tidak boleh memiliki tinggi badan dibawah rata-rata seperti ini apa?

Aku jadi teringat lagi pembicaraanku dengan appa dan eomma yang baru saja terjadi 30 menit yang lalu.

Flashback ON

“Aku tidak mau.” Jelas saja aku tidak mau jika harus melanjutkan kuliah bisnis. Aku sama sekali tidak memiliki keinginan untuk kuliah di jurusan itu, cita-citaku hanya satu yaitu menjadi idol.

“Kau tetap ingin menjadi idol?” Kali ini giliran eomma yang bertanya padaku. Aku mengangguk dengan yakin, berharap dengan anggukanku yang mantap itu dapat membuat mereka mendukung cita-citaku.

“Eun Ra, maaf kami harus mengatakan ini. Kami tidak yakin kalau kau bisa menjadi idol, kami takut kalau kau akan kecewa nantinya. Kamu harus mendengarkan kami ya, Nak.” Appa masih berusaha untuk menghalangiku menjadi idol.

“Tidak appa. Aku sudah sangat yakin dengan cita-citaku, aku yakin kalau aku akan bisa menjadi idol.” Aku tidak main-main dengan perkataanku ini, karena cita-citaku itu sudah aku pikirkan dengan matang-matang sejak dulu.

“Maaf Eun Ra, kami tidak akan pernah setuju dengan cita-citamu. Kami memikirkan masa depanmu, dengan kuliah bisnis kau bisa menjadi sukses. Kita bisa membuat hotel kita sendiri setelah kau lulus dari kuliah bisnis. Bagaimana, kau tertarik?” Sampai kapanpun aku tidak akan pernah tertarik dengan dunia perbisnisan, apalagi tentang hotel yang menjadi bidang pekerjaan appa.

“Aku juga minta maaf¸ appa eomma. Sampai kapanpun cita-citaku hanya satu, aku ingin menjadi idol dan tidak ada yang bisa menghalangiku untuk mewujudkan cita-citaku.”

“Eun Ra! Kau harus mendengarkan kami!” Suara appa mulai meninggi. Bukannya aku tidak takut dengan appa, tapi aku sudah terlalu biasa dengan sikap tidak setujunya mereka dengan cita-citaku.

“Aku tidak mau.”

“Oke kalau begitu, appa tidak akan membiayai kamu lagi setelah kamu lulus dari sekolah!” Kenapa jadi seperti ini? Appa tidak akan membiayai aku lagi?

“Oke kalau mau appa seperti itu, aku akan memperlihatkan pada appa dan eomma kalau aku bisa menjadi idol dengan usahaku sendiri.” Aku beranjak dari tempat duduk dan berjalan meninggalkan kedua orangtuaku.

“Eun Ra.. Eun Ra..” Aku tidak menoleh ke belakang saat eomma memanggil namaku. Air mataku tidak dapat terbendung dan jatuh menetes di pipi saat aku sudah berada jauh dari ruang keluarga.

Flashback OFF

Aku sangat suka berada disini saat aku sedang galau seperti ini. Tempat ini adalah sebuah taman yang ada di belakang rumahku. Ada dua ayunan di taman ini, dan ayunan ini merupakan tempat favoritku saat perasaanku sedang gundah gulana. Aku tidak tahu sudah menarik nafas untuk keberapa kalinya semenjak aku duduk di ayunan ini.

Pikiranku masih saja terpaku pada pembicaraanku dengan appa dan eomma yang tidak berjalan mulus. Appa tidak akan membiayaiku lagi setelah aku lulus dari sekolah. Aku harus memikirkan dari sekarang rencana apa yang akan aku lakukan untuk mewujudkan cita-citaku. Otakku sangat buntu sekarang karena aku tidak dapat berpikir dengan jernih. Tiba-tiba ada tangan yang mengacak pelan rambutku dan aku tidak tahu siapa orang itu karena posisiku kepalaku sedang menunduk sekarang. Aku menaikkan kepala untuk mengetahui siapa orang itu.

“Dong Jae?” Aku lupa kalau rumah Dong Jae dekat dengan rumahku dan dia juga sering pergi ke taman ini.

“Eun Ra, ngapain kau malam-malam ke taman? Pasti kau sedang galau ya.” Dong Jae juga tahu kalau aku pergi ke taman malam-malam seperti ini hanya ketika perasaanku sedang galau.

Yap, aku sedang galau sekarang.”

“Galauin apa? Bukan galauin aku kan?” Aku memukul lengannya. Bisa-bisanya dia becanda denganku pada saat seperti ini. Tapi aku tidak dapat menyembunyikan senyumku juga karena perkataan Dong Jae barusan.

“Jangan geer ya kamu, mana mungkin aku galauin kamu. Biasa lah, aku baru bertengkar dengan appa dan eomma karena masalah cita-citaku.”

“Cita-citamu masih sama? Kamu masih ingin menjadi idol?” Kenapa aku tersinggung mendengar Dong Jae berkata seperti itu? Apa dia juga tidak yakin kalau aku bisa menjadi idol?

“K-kau juga tidak yakin kalau aku bisa menjadi idol?”

“Siapa yang bilang begitu? Aku hanya bertanya cita-citamu masih sama tidak dengan yang dulu. Aku masih ingat sekali saat SMP kau sudah bilang kalau setelah lulus SMA kau ingin menjadi idol.” Pikiranku jadi kembali ke jaman SMP dan aku ingat pernah berkata seperti itu pada Dong Jae. Tak ayal aku tersenyum dengan kepolosan waktu itu saat mengatakan cita-citaku pada dia.

“Iya cita-citaku masih sama dan tidak akan pernah berubah,” kataku dengan mantap. “Appa menyuruhku untuk kuliah di jurusan bisnis dan aku menolak. Appa juga bilang tidak akan membiayai aku lagi setelah aku lulus sekolah jika aku ingin terus menjadi idol.” Aku menceritakan pada Dong Jae dengan susah payah karena air mata sialan ini jatuh lagi. Kenapa malam ini aku cengeng sekali sih?

“Kalau kau yakin dengan cita-citamu, kau harus perjuangkan itu. Pasti banyak rintangan untuk mewujudkan cita-cita itu, tapi aku yakin kalau kau tidak pernah menyerah kau pasti akan berhasil. Soal appa mu yang tidak akan membiayaimu lagi, kita bisa memikirkan itu nanti. Sekarang kau harus fokus untuk lulus dari sekolah dulu, eo?” Dong Jae memegang kedua bahuku dan membuatku mau tidak mau harus menatap wajahnya yang kali ini berubah menjadi serius.

Eo, terimakasih Dong Jae. Kau memang sahabatku yang paling mengerti.” Aku memeluk dirinya, diantara kami memang sudah tidak canggung lagi untuk melakukan skinship seperti itu. Tapi terkadang pipiku suka tidak bisa berkompromi dan merah di saat-saat yang tidak tepat. Untung sekarang aku bisa mengontrol pipi ini supaya tidak memerah. Jika pipiku tidak bisa diajak kompromi pun, hari sudah gelap sehingga Dong Jae tidak akan bisa melihat pipiku.

“Ah Dong Jae, kau tetap ingin kuliah di luar negeri?” Tiba-tiba aku ingat dengan cita-cita Dong Jae yang sangat ingin kuliah di luar negeri dan melepaskan diri dari pelukanku sendiri.

“Iya, bahkan aku sedang mengambil kursus bahasa inggris sekarang dan sudah mempersiapkan kuliahku nanti.” Jadi dia akan meninggalkan aku beberapa bulan lagi.

“Kita akan jarang bertemu dong?”

“Yah, sekarang ini sudah jamannya teknologi. Aku bisa menghubungimu dan Soo Ri dengan hanya sekali tekan di laptop atau handphone kan? Jangan seperti orang jaman batu deh Eun Ra,” kata-kata Dong Jae tidak membuat diriku lega karena tetap saja aku tidak bisa bertemu dan menyentuh dia sesering sekarang.

Akhirnya aku menceritakan kejadian semalam pada Soo Ri. Reaksi pertama Soo Ri adalah… “Hah?? Benar appamu bilang seperti itu padamu? Oh my God!!” Oke, dia lebay sekali. Aku hanya menjawabnya dengan anggukan. Dan kalau kalian mau tahu, sejak pagi tadi saat kami sarapan aku tidak berbicara sepatah katapun pada appa. Aku masih sangat kesal dengan dirinya.

“Pasti appamu hanya menakuti-nakutimu supaya kau mau kuliah di jurusan bisnis deh. Kau tenang saja, mana mungkin dia beneran tidak akan membiayaimu.”

“Kau tidak tahu appaku, Soo Ri-ya. Dia tidak akan pernah menarik kembali perkataannya. Saat dia bilang tidak akan membiayaiku setelah aku lulus sekolah, dia benar-benar tidak akan membiayaiku.”

“Hmm.. Kau tenang saja, aku akan terus membantumu untuk mewujudkan cita-citamu, ya? Kau pasti bisa!” Soo Ri tidak pernah gagal untuk menenangkanku dan membuatku sedikit lebih lega. Aku sangat bersyukur memiliki dia dan juga Dong Jae, dua sahabat di dalam hidupku. Yang harus aku lakukan sekarang fokus belajar untuk lulus ujian nasional. Kalau aku tidak lulus ujian nasional, itu artinya aku tidak akan bisa mewujudkan cita-citaku.

“Terimakasi Soo Ri-ya! Kau memang sahabatku yang terbaik!” kataku sambil memeluk Soo Ri yang ada di sebelahku. Untungnya kami sedang duduk sekarang, sehingga aku tidak perlu kesusahan untuk memeluknya. Jika saja kami sedang berdiri, aku pasti hanya dapat memeluk pinggangnya. Oke, mungkin aku agak lebay tapi memang aku sependek itu jika dibandingkan dengan Soo Ri.

“Ah, kau sudah tahu kalau Dong Jae akan kuliah di luar negeri?” Seketika itu aku teringat dengan pembicaraanku dengan Dong Jae semalam.

“Ya, aku tahu,” jawab Soo Ri sambil melepaskan pelukanku. “Katanya dia mau kuliah di Harvard ya? Memang dia sepintar itu?” Woah, Soo Ri meremehkan Dong Jae. Walaupun Dong Jae terlihat tidak pernah memperhatikan saat di kelas, itu karena dia sudah menguasai sebagian besar materi yang diajarkan oleh guru. Dong Jae itu seorang yang jenius walau terlihat agak urakan.

“Wah, kamu meremehkan Dong Jae? Jangan sesekali meremehkan dia, Soo Ri-ya! Dia bisa masuk dengan mudah ke universitas manapun,” kataku membela Dong Jae. Jelas saja aku membela laki-laki yang aku suka dong. Soo Ri hanya manggut-manggut, tanda dia tidak mau melanjutkan perdebatan denganku.

Aku lelah sekali hari ini, lelah hati dan lelah fisik. Seharian ini aku terus memikirkan pembicaraanku dengan appa dan eomma semalam. Walaupun sudah menceritakannya dengan Soo Ri dan Dong Jae, tetap saja beban itu masih bergelayut di dadaku. Kok bisa-bisanya appa bicara begitu padaku? Apa dia sudah tidak sayang lagi padaku? Apa memang akunya saja yang terlalu bebal dan seharusnya mengikuti kemauan mereka? Tapi menjadi idol adalah cita-citaku sejak dulu, dan aku tidak ingin menjadi apapun selain idol. Entah kenapa aku sangat terobsesi dengan cita-citaku ini.

Tiba-tiba saja aku merasa ada yang mengikutiku dari belakang. Aku langsung menoleh ke belakang dan ternyata di belakangku tidak ada siapa-siapa. Hari ini aku pulang agak malam karena aku malas bertemu dengan appa. Sedari tadi aku bermain dengan Soo Ri. Aku melihat jam tangan yang melingkar manis di tangan kiriku. Jam tanganku memperlihatkan pukul 8 malam. Aku lupa kalau untuk sampai ke rumahku, aku harus melewati lorong yang memiliki pencahayaan minim. Jantungku berdebar-debar tidak karuan dan aku mempercepat langkahku.

Aku melihat ke belakang lagi, dan di belakangku terdapat tembok yang memantulkan sebuah bayangan berwarna hitam. Aku dapat melihat itu adalah bayangan seorang laki-laki. Aku belum mau mati sekarang, aku masih mau mewujudkan cita-citaku dulu. Aku juga mau menikah dan punya anak kembar yang lucu. Huhu eomma!!

Hai chingudeul!~~ Chapter 4 update juga nih. Gimana sejauh ini sama ceritaku, kalian suka gak?

Btw, itu Eun Ra diikutin sama siapa ya? Dan apa yang bakal terjadi sama dirinya? Ikutin terus ya kisahnya dia!

Jangan lupa komen ya! Kalian juga boleh banget kasih kritik dan saran ke aku. Karena kritik dan saran bakal bikin aku lebih baik lagi dalam menulis dan bikin ff. Sampai ketemu lagi di chapter 5!

 

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s