[EXOFFI FREELANCE] When I Must Be Married (Chapter 5B)

When I Must be Married (Chapter 5B)

By El Byun

Chaptered

Romance, Comedy, Married Life

Rating (PG-17)

Main Cast:

Baekhyun EXO, Song Hyohwa (OC)

Adittional Cast:

Sehun EXO, Song Shimin (OC)

EXO member and etc

Summary:

Nasib kehidupan pernikahan kami selalu ditentukan oleh orang lain. Tapi perasaan yang kami miliki tidak bisa ditentukan oleh orang lain.

Disclaimer:

FF ini asli dari jerih payah pikiran author. Jika ada kesamaan cerita, alur dan tokoh itu hanya kebetulan. Tidak ada niat untuk meniru atau menjiplak karya orang lain. Sebaliknya, don’t be plagiarsm please! Be good readers! Lanjutan fanfic ini belum pernah dipost sebelumnya.

“Chapter 5: Backstreet Relationship”

@Hyo’s room

Hoam.. walaupun kejadiannya sudah lebih dari 2 minggu, setiap malam aku selalu memimpikannya. Bahkan pagi ini aku bisa bangun dengan posisi bibir tersenyum. Aneh bukan?

Senyumannya, wajahnya, bagaimana dia menatapku masih bisa terlihat dengan jelas. Apa ini yang dinamakan rindu tingkat akut? Selama aku belum bertemu dengannya lagi, mimpi itu akan terus menghantuiku.

Eungh.. aku meregangkan otot kaku ditubuhku. Kenapa pagi ini badanku terasa sakit semua? Kuraih dahiku lalu membolak-balikkan tanganku didepannya. Sepertinya aku sedikit demam.

“EOMMA!”

Aku langsung bergegas keluar kamar dan mendapatinya sedang menyiapkan sarapan. “Eomma, sepertinya aku sedang demam.” Dengan cekatan eomma mengecek sendiri suhu tubuhku.

“Hanya hangat, mungkin kau kedinginan AC semalaman.” Ungkap Eomma tenang seperti meremehkan kesakitanku.

“Jeongmal? Apa hanya perasaanku saja, aku merasakan ada yang aneh dengan tubuhku.” Rengekku. Aku benar-benar membutuhkan perhatian lebih saat ini.

“Kalau begitu minumlah obat. Kalau masih tidak enak badan pergilah ke dokter.” Kata eommaku dengan santai sambil menata piring di meja.

“Geurae!… eo, dongsaengku belum bangun eomma?” karena tak segera dijawab aku kembali mengumpat, “Bukankah mereka malu, ini sudah hampir siang.” Lalu dengan tidak aku sangka Shimin muncul dari arah dapur membawa sebuah mangkok besar.

‘Unnie, kau sudah bangun? Aku baru selesai membuat sup pedas kesukaanmu. Kau mau cicipi?”bibirku seperti tertampar sesuatu. Adikku bahkan tidak biasanya bangun pagi dan menyiapkan sarapan seperti ini. Kelakuannya aneh. Mungkin karena ia hamil, jadi naluri keibuannya muncul. Ceh, dasar gadis tomboy!

“Eo, dimana sehunnie?” aku menanyakan adik iparku juga. Aku duduk di salah satu kursi menghadap mangkuk besar berisi sup di depanku.

“Dia sudah berangkat ke dorm. Katanya nanti malam ada jadwal mengisi acara live.” Jawab adikku dengan rinci, dengan anggukan kecil dariku sepertinya cukup menyiratkan bahwa aku mengerti.

Shimin mulai memasukkan sup ke dalam mangkok-mangkok kecil, dan salah satu darinya diberikan padaku. “Cobalah!” suruhnya. Aku mulai mencicipi sendok demi sendok. Ternyata rasanya asam dan pedas. “Ah, tidak!!” aku menyingkirkan sup tadi. Bukan karena rasanya tidak enak, tapi aku tidak berselera untuk makan makanan seperti itu.

“Wae?? Bukankah kau suka ini?”

“Benar aku memang menyukainya. Tapi akhir-akhir ini lambungku bermasalah. Aku takut asam lambungku naik lagi.” Sepertinya mereka mengerti, karena hanya mengangguk saja.

“Tapi, aku rasa makan sedikit tidak akan menyebabkan asam lambung naik,” sanggah Shimin yang sok tahu itu.

“Geurae, sebaiknya aku makan roti selai saja.” Gumamku.

Author POV

Pagi itu tampak seperti keluarga yang harmonis, terlihat keceriaan di antara mereka. Tak lama menyusul sang appa yang baru saja selesai jogging di halaman rumah. “Wah, sepertinya sedang asik. Apa appa boleh bergabung?” sahut appa menyambung pembicaraan. Ia duduk di ujung meja untuk sarapan bersama. Melihat Hyo lahap menyantap roti selai, ia jadi teringat sesuatu.

“Yeobo, sepertinya persediaan selai di rumah ini semakin menipis. Kau tahu siapa yang menghabiskannya?” Tanya sang appa sambil menatap Hyohwa statis. Menerima sinyal itu sang eomma menjawabnya,

“Geurae, pertama beberapa minggu yang lalu pisang untuk bahan Banana Cake hilang secara misterius. Hari ini jatah selai satu minggu sepertinya juga akan menghilang.” Jelas sang Eomma kronologis. Merasa tuduhan itu mengarah padanya, Hyo menanggapi, “Nde, aku tahu siapa yang kalian maksud. Aku begini karena untuk menghilangkan strees.” Umpat Hyo emosi. Setelah perceraiannya song hyohwa memang suka uring-uringan tidak jelas. Ia jadi mudah tersinggung jika kegiatan yang ia sukai terusik. Karena kesal ia meninggalkan meja makan dan pergi ke kamarnya.

“Hyo, maafkan Eomma dan Appa sayang? Kami hanya bergurau.” Teriak sang Eomma pada Hyo yang telah berlalu pergi. Orang tuanya sepenuhnya mengerti perasaan anaknya. Mungkin kadang bercandaan mereka membuat hyohwa tersinggung dan berakhir ngambek seperti ini. Mereka bahkan menyayangkan kehidupan pernikahan yang seharusnya berakhir dengan bahagia. Namun dengan semua kejadian yang mereka alami, kebahagiaan itu hanyalah sebuah harapan yang tidak akan pernah terwujud.

Berselang satu jam, Hyo kembali keluar. Kali ini ia berdandan rapi dengan membawa tas selempang. Sepertinya ia akan keluar rumah. Sang appa yang duduk di sofa ruang tamu menyadari kedatangan anaknya.

“Kau mau kemana?” Tanya Appa sambil melipat Koran di tangannya.

“Aku akan mengunjungi Jinji hari ini, aku ada perlu dengannya dan sepertinya juga akan pulang agak malam.” Jelas Hyohwa ketus. Ia masih sakit hati dengan gurauan kedua orang tuanya di meja makan tadi pagi.

“Geurae, berhati-hatilah!” tukas appa menngijinkan. Namun langkah hyohwa terhenti dengan panggilan appanya lagi.

“Oh, Hyo! Apa kau sudah minum obat? Katamu kau sedang demam.” Tanya Eomma Hyo mengkhawatirkan. Hyohwa menggeleng dan menyematkan senyum di wajahnya walaupun sulit.

“Aniyo, sepertinya demamku sudah sembuh. Aku pergi dulu!” pamit Hyo berlalu pergi.

~~~

Sesampainya di rumah jinji. Begitu pintu dibuka Hyohwa langsung menghamburkan pelukkannya pada sahabatnya. Orang tua jinji memang jarang pulang ke rumah, sehingga hanya jinji yang ada di sana membukakan pintu.

“Hey, kau kenapa?”

Tidak ada jawaban dari hyohwa saat ini, tapi telinga jinji jelas mendengar isakkan seperti seseorang yang menangis. Akhir-akhir ini hyohwa sering mengeluh. Semenjak perceraiannya dengan baekhyun, hyohwa selalu mengajak ngobrol dengan topik yang sama. Baekhyun. Bahkan saat di dalam kelas perkuliahan mereka. Hanya baekhyun yang selalu menjadi kalimat pertamanya.

“Aku merindukan baekhyun oppa!”

Jinji melenguh, tebakannya benar. Ia hampir bosan mendengarnya. Ia sebenarnya juga bingung kenapa mereka dengan mudahnya bercerai. Sama halnya ketika pertama kali mendengar bahwa sahabatnya tiba-tiba akan menikah dengan salah seorang artis. Bahkan setelah hyohwa menjelaskan bahwa posisi baekhyun tergantikan dengan sehun, ia semakin bingung. Kadang ia merasa pernikahan seperti sedang mendapatkan lotre. Jika ia mendapat angkanya, maka ia akan menang. Dan betapa tidak beruntungnya ketika angka itu dipasang lagi, justru orang lain lah yang mendapatkannya.

Jinji kemudian membawa hyohwa masuk ke dalam rumahnya dan hyohwa memilih kamar jinji karena ia ingin mengatakan sesuatu pada sahabatnya secara pribadi.

Terdengar teriakan dan tangisan beradu menjadi satu di kamar Jinji. “Aaaa.. huhu, eotteokhae?” teriak Hyo histeris sambil menangis. Emosinya benar-benar meletup di depan sahabat sendiri.

“Oke, jangan yang berpikir yang tidak-tidak dulu. Belum tentu seperti itu. Mungkin saja kau hanya kelelahan atau tingkat hormonmu sedang tidak stabil. Itu kata sepupuku yang seorang perawat.” Jinji menasehati Hyohwa dengan wejangannya yang ia dapat dari orang lain. Dia juga mengkhawatirkan sahabatnya.

“Aaa.. itu tidak mungkin, aku sudah merasa aneh beberapa hari ini.” Kilah Hyohwa, tangisnya semakin menjadi dan membuat Jinji semakin bingung.

“Eh.. Eoh, mungkin saja karena kebiasaan makanmu. Perutmu jadi terasa aneh. Hehe.. Mungkin saja begitu bukan?” ujar Jinji mengamati kenyataan yang sebenarnya.

“Kau masih bisa tertawa? Semenjak bercerai aku selalu berkata bahwa aku kesepian. Setelah pesta pernikahan itu hingga pagi ini aku selalu memimpikan Baekhyun Oppa yang sama. Dan, pagi ini aku baru sadar sudah terlambat menstruasi 2 minggu. Bukankah berarti aku…” perkataan Hyo terpotong oleh tuduhan Jinji.

“Kau, tidak bercinta dengan pria lain kan?” Tanya Jinji memicingkan matanya mencurigai.

“Tentu saja, memangnya aku ini wanita murahan seperti gosip yang beredar?” tukas Hyo sambil mencubit Jinji kesal hingga ia meringis kesakitan.

“Aww, hentikan! Ok, kalau kau benar-benar ingin tahu kebenarannya, ayo kita pergi ke dokter!” ajak Jinji menarik tangan Hyo paksa.

~~~

@Restaurant

Hyohwa POV

Aku dan Jinji menunggu seseorang yang sangat amat berarti bagiku. Aku akan melepas rindu bersamanya nanti walaupun bukan sebagai pasangan suami istri. Kami memilih restaurant yang lumayan sepi. Di dekat meja kami ada taman yang indah karena lokasinya outdoor.

“Hyo, kau yakin akan makan malam disini?” Jinji celingukan memandang arah sekitar yang benar-benar sepi.

“Tentu saja. Lihatlah, tempat ini tidak ramai pengunjung. Aku juga menyuruhnya memakai masker saat datang kemari.” Aku yakin tempat ini sangatlah tepat.

“Aish, bukan itu maksudku! Lihatlah, makanan di menu ini mahal semua, pantas saja tak banyak orang memilih makan malam disini.” Ungkap Jinji terpesona dengan daftar menu yang sedang dibacanya.

Dari jauh, terlihat sosok hitam mendekat. Awalnya aku tidak mengenalinya, tapi setelah ia mendekat dan membuka maskernya aku baru sadar bahwa itu adalah Mr. B yang ku tunggu. Suasananya sangat canggung dan kami berdiri saling berhadapan tapi berjauhan tanpa sentuhan yang berarti.  Aku terus memainkan ujung bajuku karena saking gugupnya.

“Ya, kalian ini sebenarnya kenapa? Bertemu untuk saling diam? Euh,.. baiklah, aku akan pindah ke meja lain saja dan berpura-pura tidak melihatnya.” Ujar Jinji yang sudah tidak sabaran menunggu kami. Ia akhirnya pindah seperti yang ia ucapkan. Aku jadi merasa tidak enak dengannya.

Author POV

Hyo bingung harus memulainya dari mana. Ia juga memikirkan bagaimana ia harus bersikap di depan Baekhyun. Namun, Baekhyun justru bertambah bingung karena orang yang mengajaknya hanya diam saja. Dua orang ini terlihat seperti orang yang baru pertama kali berkenalan.

“Ya, apa sebenarnya tujuanmu mengajakku kemari? Atau setidaknya kau persilahkan aku duduk terlebih dahulu.” Ungkap Baekhyun mencolek lengan Hyo. Sebenarnya Hyo akan mengatakan hal tersebut, namun bibirnya terasa terkunci untuk mengatakannya. Ia merutuki sikapnya sendiri dengan menggigit ujung bibirnya.

Karena Baekhyun merasa gemas untuk menunggu, ia langsung mendekat dan mengecup kening Hyo mesra. Ketika itu juga Hyo membuka mata dari lamunannya. “Oppa!” ujar Hyo yang seketika pipinya memerah.

Di tempat lain Jinji yang katanya tidak melihat mengetahui kejadian itu. “Aigoo, sebenarnya hubungan apa yang sedang mereka jalani?” begitu umpat Jinji sinis lalu beralih pandang kearah lain. Seperti tidak percaya sahabatnya menjalani hidup yang penuh dengan teka-teki seperti sebuah harta karun tersembunyi. Dan peta itu juga terkubur di dalamnya.

Dengan mengumpulkan segala rasa rindunya, Hyo memeluk Baekhyun erat melepaskan perasaannya yang selama ini ia pendam, “Kenapa kau seperti ini?” umpat Baekhyun terkejut tiba-tiba ia dipeluk erat, lalu mulai membalas pelukkannya.

“Aku tahu, kau pasti merindukanku. Emh, mianhae aku meninggalkanmu. Aku juga merindukanmu.” Ungkap Baekhyun sambil mengeratkan pelukannya.

Akhirnya, Hyohwa dan Baekhyun duduk setelah pesanan datang. Karena Baekhyun merasa jarak duduk diantara mereka jauh, ia menggeser tempat duduknya mendekati Hyo. “Chagi, kau baik-baik saja kan?” rayu Baekhyun sambil menggenggam tangan Hyo erat. Dengan status yang sekarang, Hyo merasa aneh dengan panggilan Chagi, itu membuatnya teringat masa-masa yang lalu.

“Aku sedang tidak dalam keadaan yang baik-baik saja.” Ungkap Hyo sedikit lesu dan tidak bersemangat. Baekhyun yang mendengarnya panik dan langsung menyentuh kening Hyo bolak-balik menyamakan suhu tubuh dengannya.

“Kau sakit? Suhu tubuhmu lebih panas dariku.” Ia menerangkan keadaannya. Kepanikan Baekhyun yang sedikit berlebihan membuat Hyo sedikit terhibur.

“Bahkan lebih dari itu.” Hyo menambahkan lalu diselimutkannya mantel Baekhyun padanya yang membuatnya lebih hangat.

“Kau kedinginan? Ini akan menghangatkanmu.” Ia mengira Hyo kedinginan.

“Oppa, apa baik kita menjalani hubungan yang diam-diam seperti ini?” ungkap Hyo setelah beberapa saat terhenyak.

“Molla, tetapi yang pasti selama-lama pun kita menyembunyikannya pasti ketahuan juga.” Balasnya lalu menyeruput kopi hitamnya. Ia benar-benar kelelahan hari ini. Jadwalnya semakin padat.

“Geurae.. setelah aku pikirkan, keputusanmu untuk mengalah pada Sehun karena ia akan memiliki anak itu sangat tidak adil.” Ungkap Hyo yang menyesali keputusan Baekhyun sebelumnya.

“Nado. Kau tahu, presdir kami benar-benar menyebalkan. Kalau aku tidak mengalah, anak adikmu tidak akan punya ayah. Seandainya kontrak itu tidak terjadi, kita pasti sudah menjalani kehidupan yang normal.” Jelas Baekhyun menyetujuinya. Ia menyesali keputusan mendadaknya waktu itu.

“Aku bisa mengerti. Tetapi.. anak lain mungkin akan merasa iri.”ungkap Hyo yang tidak dimengerti oleh Baekhyun.

“Apa maksudmu?”

Untuk meyakinkan hatinya menyatakan yang sebenarnya, Hyo mengajukan beberapa pertanyaan.

“Oppa, aku hanya ingin tahu. Apa kau mencintaiku saat ini, besok dan seterusnya?” Baekhyun terhenyak sesaat.

“Molla, tapi untuk saat ini aku benar-benar mencintaimu.” goda Baekhyun kembali menampilkan senyum chessy-nya khas miliknya.

“Aish. Oppa, apa kau berencana untuk mengkhianatiku? “ umpat Hyo kesal. Ia menyilangkan kedua tangan di dadanya.

“Jangan ngambek! Ah.. Song Hyohwa selalu terkunci di dalam hatiku. Klek-klek.. Ups, aku kehilangan kuncinya. Hehe..” gurau Baekhyun menghibur dengan memperagakannya. Sejenak mereka tertawa lalu memulai pembicaraan lagi karena ia masih belum yakin.

“Oppa, kau harus berjanji padaku untuk tidak meninggalkanku. Maksudku, meninggalkanku untuk wanita lain. Yaksok!” hyohwa memberikan jari kelingkingnya.

“Shireo! Kalau kau yang meninggalkanku bagaimana?” umpat Baekhyun menggoda Hyo lagi. Tak henti dan bosan ia menggodanya, ia benar-benar merindukan saat-saat Hyo marah dan ekspresi lainnya yang ia timbulkan.

“Mwo? Kau ini benar-benar! Aku serius…!” umpatnya menyumpal mulut Baekhyun dengan kentang goreng di depannya.

“Ya! Apa yang kau lakukan?” ia balas mengumpat walaupun suaranya sudah hampir tidak jelas terdengar.  Keseriusan yang ia harapkan yang hanya dibuat permainan membuatnya geram.

“Kau GILA! Mana mungkin aku meninggalkanmu di saat aku sedang mengandung anakmu!!” ungkap Hyo keceplosan. Sekejap ia membungkam mulutnya yang ember itu.

“Uhuk..! MWO, anakku? Kau hamil?” Baekhyun tersedak makanannya sendiri, ia tidak percaya hal yang selama ini ditakutkannya terjadi di saat-saat seperti ini.

“N… nde, aku sedang hamil satu bulan. Kau ingat satu bulan perceraian kita?” jelas Hyo memperjelas keadaannya. Sambil berusaha menelan makanannya dengan air, kemudian Baekhyun merespon,  “Jinja?? Ini keajaiban, aku baru ingat tujuanku bertemu denganmu juga ingin mempertanyakan hal itu. Kau bisa ambil di saku mantelku, ada test pack milikmu yang ikut terbawa olehku sewaktu pindahan.” Ungkap Baekhyun panjang lebar. Hal ini merupakan berita besar sepanjang hidupnya. Berita membahagiakan sekaligus mengkhawatirkan.

“Lalu kita harus bagaimana?” Tanya Hyo kebingungan.

TBC 1

Flashback on

Jinji tengah menunggu dengan cemas di luar. Pemeriksaannya baru berlangsung 5 menit yang lalu. Mereka tidak pergi ke dokter rumah sakit besar karena mungkin seseorang akan mencurigainya. Ini adalah sebuah klinik dokter umum biasa, namun mereka memiliki peralatan USG yang lengkap.

BLAM!

Terdengar suara pintu yang baru saja ditutup, jinji menengok ke arahnya. Ia berdiri dan menghampiri hyohwa yang menurutnya aneh. Tersenyum? Tapi ekspresinya kagok seperti orang bingung.

“Jadi kau hamil atau tidak?”

Hyohwa tidak merespon jinji, ia meraih ponselnya dan mengetikkan sesuatu.

“Hey, apa yang kau lakukan?”

“Aku ingin bertemu baekhyun oppa!”

“Kau masih berhubungan dengannya? Aku kira… Ceh!”

Hyohwa masih sibuk menghubungi baekhyun, ia berdecak kesal karena panggilan keluarnya tidak diangkat. Jinji terus memperhatikan sahabatnya yang sibuk. Hyohwa bersikap lebih aneh saat ini. Kekhawatiran tersirat di wajahnya. Tangannya gemetaran kala memegang dan mengetik di ponsel layar LCD-nya.

“Hyo, kau benar-benar hamil? Kau hamil anak baekhyun? Hah!” Jinji terperangah tidak percaya. Pada awalnya ia mengira pernikahan mereka berakhir dengan mudah karena baekhyun tidak pernah menyentuhnya.

“Daebak, sahabatku akan memiliki bayi dari seorang idol!!!”

TBC 2

Ada ngaku pacar sama suaminya bias? Mana suaranya! Haha.. Yah, sayang kalah cepet sama OC-nya author. Sengaja TBC-nya 2, itu part tambahan. Nggak ngeh ya? Bingung dengan alur + bahasanya? Ya udah author tidur dulu aja deh.. #pasrah

Free coret-coret. Silahkan komen dibawah!

 

Iklan

9 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] When I Must Be Married (Chapter 5B)

  1. Tuh kannn!!! Apa ak kata hyo hamil, moga moga aja mereka kembali bersama demi aku, eh salah demi anak mereka –___– (apaansih lo han^∆^abaikan). Wkwk nice ka author gak sabar mau baca lnjutn ny… Next bye bye!!!

  2. Baekhyun nyium kening hyo kok gue kezzelll yak?? 😂😂 abaikan kak el…*lagi-lagiSKSD *gakpeduli #plakkk😂😂😂
    Dri yg part 1 komenanx ginian trus, absurd…
    Tapi kak el, pliss kembalikan mrk brsamaaa
    Jebaaalllllllllllll😢💔
    Itu apalagi hyo hamil ank bacon..
    Yah kak ya??

    Oke sekian komenan absurd dari manusia abnormal 😂
    Dtnggu nextnya kak

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s