Rooftop Romance (Chapter 28) – Shaekiran

rooftopromancehappy.jpeg

Rooftop Romance

By: Shaekiran

 

Main Cast

Wendy (RV), Chanyeol (EXO)

 

Other Cast

Sehun, Baekhyun (EXO), Kim Saeron, Irene (RV), Taeil, Taeyong (NCT), Jinwoo (WINNER), and others.

Genres

Romance? Family? Friendship? AU? Angst? Sad? School Life?

Length Chapter | Rating PG-15

Disclaimer

Idenya cerita ini murni datang dari otak author yang otaknya rada senglek banyak (?). Maaf untuk idenya yang mungkin pasaran dan cast yang itu-itu aja. Nama cast disini hanya minjam dari nama-nama member boy band dan girl band korea. Happy reading!

.

Poster by ByunHyunji @ Poster Channel

Previous Chapter

Teaser 1 | Teaser 2 | Teaser 3 | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Chapter 8 | Chapter 9 | Chapter 10 | Chapter 11 | Chapter 12 | Chapter 13 |Chapter 14 | Chapter 15 | Chapter 16 |Chapter 17 | Chapter 18 | Chapter 19 | Chapter 20 | Chapter 21 | Chapter 22 |Chapter 23 |Chapter 24 | Chapter 25 |Chapter 26 |Chapter 27| [NOW] Chapter 28

“11 years later.”

 

 

-Chapter 28-

 

In Author’s Eyes

 

Brakkkk!

Gebrakan di meja panjang itu terdengar mengaum memenuhi ruangan hingga beberapa orang kontak tersentak. Tapi diluar dugaan, gadis yang berdiri di tengah-tengah rapat itu bukannya takut, malah ia tersenyum tipis ketika salah seorang pria tua di sana mulai emosi dan berakhir menggebrak meja.

I’m sorry Mr. Kang, but it’s a decision from CEO Son and it can’t be contested. After all, Star Empire will attract investment from Hanguk Corp. (Maaf Tuan Kang, tapi ini adalah keputusan dari CEO Son dan itu tidak bisa diganggu gugat. Bagaimana pun juga, Star Empire akan menarik investasi dari Hanguk Corp.)” jelas gadis itu masih memasang senyum di wajah meski hatinya sebenarnya sudah mendidih sejak rapat itu dimulai. Pria tua bermarga Kang yang adalah CEO dari salah satu perusahaan ternama di Korea Selatan itu cukup membuatnya jengkel sejak awal.

“Harusnya dia menjelaskan langsung kepada ku kenapa dia menarik investasi dari proyek di Pulau Jeju! CEO Son sudah berjanji akan menjadi sponsor proyek ini sejak 2 tahun yang lalu, nona!”

Gadis itu hanya bisa tersenyum lagi sambil mengepalkan tangan di bawah meja. Ah, kenapa pria tua ini benar-benar menjengkelkan? batinnya, terlebih Tuan Kang menggunakan bahasa korea yang membuat beberapa peserta rapat yang lain menaruh curiga atas percakapan mereka berdua. Hei bung, ini rapat perusahan multinasional yang mencakup banyak perusahaan asing baik Eropa, Amerika bahkan Asia, tapi Tuang Kang membuatnya seolah-olah hanya mereka berdua saja yang boleh mengerti percakapan itu!

Hm, Mr. Kang? Can we continue the meeting, please? Let’s talk about it later when CEO Son come back to Washington. (Hm, Tuan Kang? Bisa kita lanjutkan rapatnya? Mari membicarakan masalah itu nanti ketika CEO Son kembali ke Washington.)” balas gadis itu lagi sambil mengukir senyum di bibir dengan terpaksa. Sungguh, jika saja ini bukan rapat para CEO pemilik kerajaan bisnis di dunia, Wendy tidak tau apa yang mungkin akan dia lakukan pada CEO Kang itu.

“Ladies and gentleman, sorry for this little annoyance. Okay, let’s continue our meeting first. (Hadirin sekalian, maaf karena gangguan kecil ini. Baiklah, mari kita lanjutkan rapatnya.)” lanjut gadis itu kemudian ketika keadaan rapat mulai semakin tenang dan CEO Kang nampak tidak berargumen lagi.

 

“Kau terlihat hebat ketika menyelesaikan kasus CEO Kang yang sedikit menjengkelkan tadi, Miss Son.” Gadis yang baru saja memasuki ruangannya itu segera memutar mata jengah, lalu segera membuat kepalan tangan bercanda yang pura-pura ia arahkan ke arah lelaki yang duduk di sofa ruangannya itu.

“Ahhh, ampun-ampun. Betapa ganasnya manusia ini. Ah iya…..ampun…” rengek si lelaki pura-pura kesakitan karena gadis itu mulai menyerangnya dengan pukulan-pukulan kecil di bahu. Merasa puas, gadis itu pun segera mendaratkan bokongnya di atas sofa yang bersebrangan dengan si lelaki, dan tanpa babibu segera meneguk secangkir kopi milik lelaki itu.

“Dia benar-benar menyebalkan. Untung saja aku ini manusia sabar. Aish, harusnya aku tidak setuju untuk menggantikan appa dan membiarkan Jinwoo oppa fokus dengan SKY Group.” decak gadis itu sambil meletakkan cangkir kopi milik yang isinya sudah habis seperempat kembali ke atas meja.

Tsk, ini memang nasibmu kan? Sudah sepantasnya Jinwoo hyung fokus dengan perusahaan ibunya dan kau fokus dengan perusahaan ayahmu. Benar kan?” komentar lelaki itu santai yang membuat si gadis hanya memutar mata jengah.

“Sekretaris Moon, kau tau, akhir-akhir ini kau makin menyebalkan.” ucap gadis itu yang segera mengundang tawa si lelaki. “Wen, aku sudah menyebalkan sejak dulu. Baru sadar?” celotehnya lagi masih santai.

Ya! Moon Taeil!”

Lelaki itu hanya tertawa kecil melihat reaksi si gadis yang masih kesal. “Maaf Wen, aku hanya bercanda.” kekehnya kemudian yang hanya ditanggap oh panjang dari atasannya itu.

Gadis itu —Son Wendy— lantas menuju meja kerjanya, meninggalkan Taeil yang sekarang asyik membuka beberapa map di atas sofa.

“Aku punya berapa pertemuan lagi hari ini?” tanya Wendy sambil mengecek data proyek pembangunan Pulau Jeju CEO Kang —yang baru saja dikirim Taeil atas perintahnya setengah jam lalu— di layar komputer kerjanya.

“Masih ada 2 pertemuan makan malam bersama Mr.Fredicksen dari Global Corporation Amerika dan La Teur Business dari Perancis.”

Wendy berdecak pelan ketika mendengar jadwalnya dari Taeil yang sekarang sudah menjadi sekretaris sekaligus tangan kanannya. Oh, apa Wendy sudah bilang kalau dia serius memasukkan Taeil ke universitas? Sekarang Taeil berakhir bukan hanya sebagai bodyguard yang tau main otot, tapi juga sekretaris handal yang pandai berpikir cerdik dan tanggap. Keluarga Son rupanya sangat berpengaruh dalam hidup Taeil yang sebatang kara itu. What a lucky boy, isn’t he?

“Aku hanya punya satu perut, dan kau menyuruhkan makan malam dua kali dengan dua perusahaan berbeda?” kecam Wendy sambil menaikkan satu oktaf suaranya. Meski teman lama, Taeil masihlah bawahan Wendy dulu maupun sekarang.

“Kau harus makan dua kali kecuali kau mau menunda keberangkatanmu ke Seoul.” jelas Taeil ringan, tidak takut ataupun marah meski Wendy baru saja menaikkan satu oktaf suaranya. Taeil sudah terlalu biasa dengan tempramen gadis berusia 27 tahun itu.

“Kau sudah membatalkan semua jadwalku yang lain?” tanya Wendy kali ini sambil mengatur nafas, mengenyahkan emosinya jauh-jauh.

“Ya, aku sudah mengatur semuanya Miss.Son. Keberangkatanmu diatur nanti malam setelah acara makan malam dengan La Teur selesai. Tenang saja, aku sudah mengatur semua keperluanmu selama di Korea dan aku akan menyusul minggu depan.”

Wendy menganggukkan kepalanya ringan, mengerti dengan penjelasan Taeil yang masih saja apik bekerja. Tidak salah ia memperkerjakan lelaki itu menjadi orang kepercayaannya sejak 3 tahun lalu. Waktu seminggu sepertinya cukup untuk Taeil mengatur semuanya tetap berjalan baik selama ia pergi.

Hm, Taeil-ah.”

“Kenapa?” tanya Taeil cepat kepada Wendy yang sekarang tengah memangku tangannya di atas meja, kebiasaan gadis itu jika sedang bimbang.

“Mereka belum tau appa sakit kan?” tanya Wendy khawatir. Ya, dia sudah menggantikan pekerjaan appa-nya selama hampir 6 bulan ini, dan sedikit rasa takut hinggap di hati kecilnya. Bagaimana tidak, para pemegang saham dan CEO perusahaan serta kolega mereka sudah bertanya-tanya kemana CEO Son belakangan ini karena tidak pernah mengatur perusahaan lagi. Dalih bahwa Son Michael tengah liburan dan mengalihkan kekuasaannnya pada calon pewarisnya —yang tidak lain adalah Wendy—pun agaknya mulai diragukan.

“Mereka tidak tau, kau tenang saja Wen. Semuanya akan baik-baik saja.”

“Ya, aku harap begitu Taeil.” lirih Wendy kemudian sambil memijit pelipisnya yang mulai pening.

Son Wendy menghela nafasnya pelan. Sekarang ia sudah berada di dalam pesawat kelas A menuju Korea Selatan. Pikirannya mulai berkecamuk padahal waktu sudah menunjukkan pukul 1 dini hari. Bayangannya kembali ke perbincangannya dengan Taeil tadi sore.

“Tuan Son akan menjalani operasi di Korea. Mungkin nona menentang pemindahan Tuan Son dari rumah sakit John Hopkins di Amerika beberapa waktu lalu karena alasan tenaga ahli, tapi tenang saja, Rumah sakit Universitas Seoul punya seorang dokter ahli yang pernah bekerja di John Hopkins. Dokter ini yang akan mengoperasi Tuan Son dan tingkat keberhasilannya di atas 50%. Jadi aku harap nona tenang saja dan jangan khawatir.”

Ya, Wendy memang menentang pemindahan diam-diam ayahnya dari salah satu rumah sakit terbaik di dunia itu yang beralasan bahwa kabar turunnya kesehatan CEO Son dapat mempengaruhi relasi dan saham Star Empire sehingga keberadaan Son Michael harus dirahasiakan, bahkan tidak boleh ada yang tau bahwa CEO itu dirawat di rumah sakit. Itu jugalah yang menjadi alasan hilangnya Son Michael dari Washington —kantor pusat Star Empire setelah dipindahkan dari Kanada 7 tahun lalu— dengan dalih Son Michael tengah liburan di suatu tempat dan keberadaannya sekarang adalah privasi keluarga.

“Semoga operasinya berhasil, appa.” batin Wendy setengah berdoa dalam hati. Setetes air mata turun dari sudut matanya. Ya, bagaimana pun juga, Wendy sangat menyanyangi ayahnya.

 

“Sudah 3 bulan ini nona hanya mengurung diri di kamar Tuan, saya takut nona akan jatuh sakit karena nona tidak pernah keluar ruangan dan bersosialisasi lagi.”

Son Michael menghela nafas panjang mendengar penuturan pembantu rumah tangganya itu. Lama-kelamaan ia berpikir bahwa mungkin keputusannya membawa paksa Wendy kembali ke Kanada setelah membatalkan perjodohan dengan Oh Sehun itu salah. Terlebih ia menarik paksa Wendy ketika gadis itu meraung menatap Chanyeol yang bersimbah darah di atas aspal.

Ya, Wendy tidak tau bagaimana keadaan Chanyeol setelah tabrakan itu terjadi karena Tuan Son segera memerintahkan para bodyguard-nya untuk membawa Wendy pulang dan mengurung gadis itu di dalam kamar serta menyita semua alat elektronik serta kontak menuju Korea. Esoknya, Wendy terbangun dan sudah berada di dalam pesawat pribadi keluarganya yang dalam perjalanan menuju Kanada. Ya, Wendy hanya tertidur sebentar karena kelelahan menangis, tapi saat ia terbangun ia sudah berada di Kanada. Bukankah ayahnya begitu tega padanya?

“Appa jahat! Aku ingin kembali ke Korea. Aku ingin melihat keadaan Chanyeol!”

“Tidak Wendy, kau tidak bisa kembali ke Korea. Chanyeol sudah mati, jadi jangan menangis laki-laki itu! Menetaplah di Kanada dan kembali bersekolah. Kau akan menjadi pewarisku beberapa tahun lagi!”

Son Michael pikir mengucapkan itu akan membuat putrinya sadar bahwa harapannya sia-sia, tapi ternyata itu makin membuat Wendy terpuruk. Tiga bulan pun berakhir dengan Wendy yang uring-uringan di kamar dan selalu mengurung diri.

“Wendy, kau harus sekolah!” pekik Son Michael untuk kali pertamanya dalam 3 bulan karena lelah menghadapi putrinya yang seperti mayat hidup.

“Aku tidak mau.”

“Tapi kau harus Son Wendy!”

Ya, dan Wendy pun berakhir menjadi mayat hidup di sekolah. Belajar tidak becus, mengecat rambut, membolos, dan bahkan mulai pergi ke klub malam untuk mabuk-mabukan. Wendy akan selalu tertawa sekuat-kuatnya di sekolah, seperti gadis yang periang padahal nyatanya tidak. Wendy akan menangis meraung ketika ia mabuk, lalu mulai menyumpah-serapahi dirinya sendiri karena dirinyalah Chanyeol harus bernasib sial seperti itu.

“Chanyeol sudah mati!”

Kalimat itu terngiang di pemikiran Wendy hampir setiap saat, dan itu membuat hatinya selalu terasa tercekik. Entah berapa banyak tangis yang ia keluarkan untuk memohon pada sang ayah agar mengijinkannya ke Korea barang sekali saja.

“Aku hanya ingin pergi ke tempat peristirahatannya dan meminta maaf appa. Tolong ijinkan aku pergi.”

Michael tertawa nyaring ketika mendengar permintaan putrinya itu saat ia memarahi Wendy yang tertangkap tengah merokok di salah satu ruangan kosong di sekolahnya. Ya, merokok memang hal biasa di Eropa sana, tapi Michael sudah mewanti-wanti wali kelas Wendy agar melaporkan jika saja putrinya melakukan tindakan aneh seperti merokok, minuman keras, dan lain-lain.

“Kau tidak bisa ke Korea.”

Wendy menangis, lalu ia berkata lagi pada ayahnya. “Kalau begitu aku akan menyusulnya agar aku bisa meminta maaf padanya.”

Selesai dengan kalimatnya itu, malamnya Wendy mencoba bunuh diri yang membuat Michael takut bukan main. Untung saja percobaan bunuh diri dengan mengiris urat nadinya sendiri itu gagal karena pembantu rumah tangga mereka segera mengetahui tindak – tanduk mencurigakan dari nona mudanya itu.

“Rasanya menyakitkan appa, aku tidak bisa tidur tiap malam karena Chanyeol akan selalu meraung dan meringis dalam mimpiku! Kecelakaan itu menghantuiku! Chanyeol menuntut maaf dariku appa! Aku tidak bisa hidup dalam perasaan bersalah seperti ini! Hiks…….”

“Dia tidak pernah menyalahkanmu sayang, dia menyalahkan appa karena memisahkan kalian berdua.” batin Michael sambil memeluk putrinya yang menangis, mengelus pucuk kepalanya putrinya dengan sayang.

“Kalau begitu bangkitlah. Appa akan mengijikanmu menemuinya kalau kau sudah menjadi Wendy yang periang seperti dulu. Appa akan mengijinkanmu menjenguknya kalau kau sudah mampu berdiri sendiri dan menggantikan appa memimpin perusahaan.”

“Itu tidak adil.” tolak Wendy akan permintaan appa-nya.

“Ya, tapi bagi appa itu adil Son Wendy. Kau harus sadar siapa kau dan beban apa yang kau pegang di pundakmu. Kalau kau tidak bisa menjadi dewasa, appa tidak akan pernah mengijinkanmu menemui laki-laki itu.”

Wendy menghela nafasnya panjang. “Jadi, jika aku sudah menjadi Wendy dewasa seperti yang kau inginkan sebagai pewaris, kau akan mengijinkanku ke tempat Chanyeol?” tanyanya, dan Michael tersenyum.

“Ya, appa akan mengijinkanmu ketika waktu itu tiba.”

 

 

From: Sekretaris Moon.
Selamat pagi Miss Son. Jadwal anda hari ini adalah menghadiri rapat perusahaan cabang Star Empire di Empire.Corp Korea pukul 10 pagi dan mengunjungi Tuan Son di Rumah Sakit Universitas Seoul selepas jam makan siang.

Wendy mengerjapkan matanya yang masih kelelahan. Ia baru saja bangun tidur setelah kemarin mengalami jet lag parah karena penerbangan jarak jauh dari Amerika ke Korea dan sekarang ia sudah menerima jadwal dari Taeil yang seharusnya tengah terlelap di Amerika sana.

To: Sekretaris Moon
Aku mengerti. Sudahlah, tidur sana, aku yakin Amerika sekarang masih tengah malam. Pye-pye!

Tak berselang lama, sebuah pesan balasan masuk ke ponsel Wendy.

From : Sekretaris Moon
Aku sudah tidur.

Wendy berdecih pelan ketika membaca pesan balasan itu. Lalu dengan gerak cepat ia mulai mengetikkan pesan balasan dengan menggebu-gebu.

To: Sekretaris Moon.
Jadi yang membalas pesanku ini sekarang siapa? SETAN? HAHAHAHA ^_______^

Dan seperti dugaan Wendy, tidak ada balasan dari Taeil. “Dasar tidak bisa diajak bercanda,” ucap Wendy asal sambil bangkit dari atas tempat tidur dan mulai menuju kamar mandi setelah 15 menit Taeil tak kunjung membalas pesannya.

 

 

“Kami sangat senang Nona Son datang sendiri untuk meninjau perusaaan dan memimpin rapat hari ini.”

Wendy tersenyum tipis menanggapi ucapan terima kasih dari pemimpin perusahaan Empire Corp cabang Korea itu. Dengan cepat gadis itu pun menjabat tangan Tuan Cha —CEO perusahaan itu— dan langsung berpamitan pergi, tentunya setelah menolak ajakan makan siang dari Tuan Cha. Gadis itu ingin menikmati waktunya sendirian di Seoul.

Lantas Wendy pun dengan langkah santai melangkahkan kakinya keluar dari gedung Empire.Corp. Gadis itu melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, pukul 12 siang.

“Kalian pergilah cari makan siang dan beristrirahat sebentar, lalu berkumpul di depan rumah sakit Universitas Seoul pukul 2 siang nanti, arraseo?” perinta Wendy pada supir dan bodyguard-nya.

“Tapi nona bagaimana?” tanya salah satu dari mereka yang segera dijawab dengan senyum santai dari Wendy.

“Aku akan berkeliling sebentar. Sudah 11 tahun aku tidak pulang dan sepertinya banyak yang berubah dari Seoul. Tenang saja, aku tidak akan kemana-mana. Aku akan ada di rumah sakit pukul 2 siang nanti.” ucapnya menyakinkan para bodyguard.

“Kalian tidak percaya padaku? Astaga, kalian mau dipecat?”

Dan setelah itu, semua bodyguard Wendy langsung menunduk hormat dan segera menjalankan perintah Wendy.

 

 

Wendy melangkahkan kakinya santai di trotoar Seoul. Ia tertawa kecil mengingat sekarang ia bebas berjalan-jalan santai di kota itu lagi. Pikirnya pun melayang ke 11 tahun silam dimana dia mencoba kabur dari appa-nya dan berakhir menemukan brosur sewa rumah atap saat berjalan di trotoar. Ia tertawa renyah ketika mengingat kalau brosur itulah awal dari segala kisahnya di Seoul 11 tahun yang lalu.

“Andai aku tidak menemukan brosur itu,” batinnya setengah meringis, namun Wendy segera menepis bayangan buruknya di Seoul. Dengan ceria gadis itu pun mulai melangkahkan kakinya dengan semangat.

Wendy mendatangi SMA Star Culture, tempat yang pernah menjadi setengah jiwanya ketika berada di Seoul. Meski hanya setahun, tapi Wendy cukup merindukan sekolah itu dan kisah-kisahnya yang terjadi di sana. Tidak banyak bangunan yang berubah kecuali tempat itu terlihat semakin luas dan warna cat gedungnya diganti. Wendy tersenyum lagi mengingat bagaimana ia terlambat dan Chanyeol menyelamatkannya dengan menyuruh ketua osis membuka gerbang belakang, ketika ia memaksa Chanyeol pacaran dengannya dan mencoba lompat dari atap sekolah sebagai ancaman. Sehun, Taeyong, dan Taeil, serta teman-teman sekelasnya yang lain, Bae Irene seniornya, Baekhyun dan Kim Sae Ron pasangan paling harmonis sedunia di mata Wendy. Ah, gadis itu merindukan masa-masa itu lagi.

Tak hanya sekolah, Wendy pun menyempatkan diri untuk mengunjungi rumah atapnya yang meninggalkan banyak kenangan itu. Ia sedikit meringis ketika menemukan bahwa pemilik tempat itu bukanlah keluarga Park lagi. Restoran tteokboki milik Nyonya Park pun sudah tutup dan diganti dengan usaha café yang lebih maju.

“Mereka pindah kemana?” tanya Wendy penasaran kepada sang pemilik café..

“Entahlah, mereka hanya menjual tempat ini tanpa memberitahu kemana mereka pindah.”

Wendy hanya tersenyum tipis dengan jawaban pemilik baru itu. “Ah, boleh aku melihat rumah atapnya sebentar? Tidak lama, hanya 5 menit saja. Boleh ya?” tanya Wendy lagi yang segera dijawab dengan anggukan ringan oleh sang pemilik.

Dengan tergesa-gesa Wendy naik ke atas rumah atap itu. Sekelebat ingatannya tentang tempat itu segera memenuhi tiap inchi otaknya bagaikan sebuah putaran film. Chanyeol yang menceritakan definisi bintang dan rindu, Chanyeol yang ia lempar dengan ramen dan cola karena salah sangka, Chanyeol yang ia sembunyikan di dalam rumah untuk menghindari Baekhyun, Chanyeol yang tertawa riang, Chanyeol yang menggandeng tangannya sebagai pacar pura-pura, Chanyeol yang menciumnya, Chanyeol yang mengumbar frasa cinta dan Chanyeol yang mengucapkan salam perpisahan.

Hiks.”

Tangis Wendy pecah secara perlahan. Dengan cepat gadis itu menyeka air matanya yang jatuh tanpa aba-aba. “Kenapa semuanya tentang Chanyeol? Sialan.” batinnya merutuk pada diri sendiri.

“Maafkan aku, sunbae.” lirihnya lagi sambil terus menangis.

Ya, dan jika kalian pikir 11 tahun cukup untuk membuat Wendy melepaskan hatinya yang sudah terbelenggu dengan satu nama bermarga Park itu, maka kalian salah besar. 11 tahun tidak cukup untuk Wendy melupakan lelaki yang sudah memporak-porandakan hatinya itu. 11 tahun tidak cukup untuk membuat Wendy berpaling dari seorang Park Chanyeol yang kini telah pergi.

Drttttt….

Suara dering ponsel Wendy membuat gadis itu segera tersadar dari lamunannya. Dengan cepat Wendy pun menyeka air matanya dan menjawab panggilan dari bodyguard-nya yang menanyai keberadaan Wendy sekarang ini.

 

 

To: Taeil-ah.
Taeil, aku ingin merengek padamu. Lihat, aku mengirim pesan padamu sebegai teman dan bahkan aku mengirimkan pesannya ke nomor pirbadimu. Jadi ini bukan urusan pekerjaan,arraseo? Bisa aku meminta tolong padamu? Hanya kau yang ku percaya. Bisa aku tau diama kediaman keluarga Park sekarang dan dimana tempat peristirahatan Chanyeol sunbae? Aku ingin mengunjunginya. Ayah tidak akan marah, jadi cepat beritahu aku. Kumohon, jangan keras kepala sialan. Harusnya kau membantu temanmu ini karena aku sudah di Seoul. Aku sudah menunggu hari ini selama 11 tahun.

Wendy menekan tombol send bersamaan dengan taksi yang ditumpanginya berhenti di sebuah café dekat rumah sakit. Setelah membayar nominal ongkos taksi dan memasukkan ponselnya ke dalam tas, gadis itu pun segera turun dari kendaraan berwarna biru muda itu. Dengan ditemani high heels 7 senti miliknya, Wendy pun menyusuri café itu untuk memesan segelas americano. Ya, gadis itu cukup haus sekarang, dan jam tangannya yang masih menunnjukkan pukul 2 kurang 5 menit itu membuat si gadis mantap membeli minuman terlebih dahulu sebelum pergi ke rumah sakit.

“Pesanan no.27”

Itu nomor antrian Wendy.

Wendy yang nampak duduk di salah satu bangku di café itu segera mengerjap. Dengan segera gadis itu menuju meja kasir untuk mengambil pesanannya.

Brukkh.

Namun siapa sangka, Wendy malah bertabrakan dengan seseorang.

“Ah, maafkan aku.” ucap sosok yang menabraknya itu. Wendy ingin mengatakan ‘gwenchana’ , namun orang yang ia tabrak malah dengan cepat berlari keluar café tanpa memperdulikan Wendy. Sepertinya orang itu cukup terburu-buru hingga tidak menggubris gadis yang baru saja bertrabrakan dengannya.

“Suaranya mirip seseorang.” batin Wendy mencari-cari sosok yang baru saja menabraknya, namun kerumunan pengunjung café yang padat membuat Wendy tidak mengenali siapa oknum penabrak yang sekarang sudah berada di luar cafe. Gadis itu hanya ingat orang yang menabraknya tadi menggunakan jeans hitam dengan model robek di bagian lutut dan sepatu kets berwarna merah menyala.

“Pesananan no 27” pekikan nyaring itu akhirnya kembali menyadarkan Wendy yang masih melamun. Dengan segera Wendy pun menuju sumber suara dan mengambil coffee pesanannya.

 

“Nona, anda dari mana saja?” Wendy mengerlingkan matanya ketika salah seorang bodyguard menyambutnya yang baru saja tiba di rumah sakit, sementara bodyguard yang lain nampak sudah berbaris berjejer di depan rumah sakit. “Mirip gangster saja,” batin Wendy melihat bodyguard-bodyguard yang menggunakan pakaian serba hitam itu sudah mengubah aura rumah sakit menjadi sedikit mencekam.

“Aku hanya terlambat 5 menit Kim-ssi, dan tolong atur anak buahmu agar tidak membuat takut para pasien. Ini rumah sakit, dan ini bukan di Amerika ataupun Kanada. Kau membuatku menjadi terlihat seperti putri gangster.”

Bodyguard yang Wendy panggil Kim-ssi itu sedikit menoleh ke belakang dan melihat keadaan anak buahnya yang dengan berat hati harus ia benarkan mirip kumpulan gangster. “Maaf nona, saya akan mengaturnya segera.” jawabnya sambil menunduk 90 derajat.

Wendy hanya mengendikkan bahunya sambil menyerahkan beberapa coffee yang sudah disusun di dalam pack kotak itu kepada si bodyguard. “Bagikan pada bodyguard yang lain. Anggap saja hadiah karena aku terlambat 5 menit.” jawab Wendy santai sambil berjalan masuk ke dalam rumah sakit diikuti para bodyguard-nya yang lain.

Di dalam rumah sakit, Wendy rupanya disambut lagi oleh petinggi-petinggi rumah sakit yang lainnya. Bahkan direktur rumah sakit secara khusus menyambut Wendy beserta para ketua tim medis dan dokter spesialis.

“Kalian tidak perlu repot-repot menyambutku Pofessor Jang, aku datang hanya untuk menjenguk appa saja. Oh, dan identitas appa juga harus dirahasiakan, jadi kalian tidak perlu menyambutku seperti ini.” terang Wendy ketika melihat barisan dokter yang menunduk 90 derajat kepadanya. Ayolah, ia tidak pernah menduga kalau kedatangannya akan membuat geger rumah sakit seperti sekarang.

Akhirnya, mau tidak mau Wendy masuk ke ruangan VVIP ayahnya bersama dengan para dokter yang rata-rata sudah menyandang gelar proffesor serta para bodyguard-nya di barisan paling belakang. Sungguh, gadis itu benar-benar tidak habis pikir harus menjenguk ayahnya dengan seheboh ini.

Tak butuh waktu lama, Wendy pun masuk sampai di ruangan ayahnya. Hanya beberapa orang proffessor yang ikut masuk ke dalam ruangan bersamaWendy. Gadis itu pun tidak terlalu peduli dengan para orang dewasa cukup berumur yang mulai berbicara dengan bahasa khas dokter untuk menerangkan keadaan CEO Son sekarang ini kepadanya.

Wendy duduk di bangku sebelah tempat tidur dimana ayahnya terbaring dalam keadaan koma. Gadis itu meraih telapak tangan ayahnya, lalu meremasnya dengan sayang. “Appa, aku datang menjengukmu,” lirih gadis itu sambil mencium tangan ayahnya, lalu mengelus rambut ayahnya yang mulai memutih dengan sangat hati-hati.

“Nona Son, Tuan Son mengalami beberapa peradangan di bagian otaknya, dan kami pikir operasi darurat harus dilaksanakan sekarang, tapi….”

“Tapi apa? Aku akan memberikan persetujuan jika memang itu yang terbaik bagi appa-ku.” jawab Wendy pada Direktur Jang —direktur rumah sakit itu— tanpa mengalihkan satu senti pun pandangannya dari rupa sang ayah yang terbaring lemah.

“Dokter yang bertanggung jawab atas Tuan Son Jung Hwan tidak mau melakukan operasi kecuali Tuan Son dalam keadaan sadar. Dia ingin Tuan Son siuman terlebih dahulu sebelum melaksanakan operasi padahal persentase Tuan Son sadar dari koma hanya sekitar 20% nona.”

Wendy menghela nafasnya panjang. Jujur, bidang kedokteran bukan keahliannya dan ia sendiri tidak tau mana yang benar antara Professor Jung atau dokter yang bertanggung jawab atas ayahnya itu.

“Lalu, mana dokter—“

“SUDAH KU BILANG AKU INI DOKTER YANG BERTANGGUNG JAWAB ATAS PASIEN DI DALAM SANA!”

Atensi semua orang di dalam ruangan segera teralih ke arah keributan yang tiba-tiba saja di luar ruang VVIP itu.

“Ada apa?” tanya Wendy penasaran yang segera dijawab cepat oleh Professor Jang.

“Ah, sepertinya ada kesalahpahaman antara bodyguard dengan dokter nona. Proffesor Peter memang sering berpenampilan tidak seperti dokter pada umumnya,” terang dokter itu sambil tertawa renyah yang hanya dibalas satu anggukan paham dari si gadis.

Wendy sudah mendengar itu dari Taeil. Proffesor Peter —dokter dari John Hopkins—yang bertanggung jawab atas ayahnya itu memang tidak seperti dokter pada umumnya. Penampilan dokter berusia 29 tahun itu cukup nyentrik dan jauh dari kesan ‘berpendidikan’ semacam dokter kebanyakan sehingga banyak orang yang sering salah paham.

“Urus dia.” perintah Wendy santai lalu kembali memegang tangan ayahnya yang kurus dan mulai memijat-mijat kecil lengan ayahnya dengan hati-hati dan penuh perasaan. Professor Jang pun segera menganguk dan memerintahkan salah satu dokter bawahannya untuk keluar ruangan dan menjemput Proffesor Peter.

 

 

“Bukankah sudah ku bilang pakai kemeja dan celana seperti dokter, Professor Peter? Kau malah membuat bodyguard Tuan Son salah paham.” ucap Proffesor Jang saat dokter yang bertanggung jawab atas ayah Wendy itu sudah masuk ke dalam ruangan setelah sempat bersitegang di luar.

“Aku tidak nyaman berpakaia formal jika tidak penting.” jawab Proffesor Peter santai dan mulai memakai jas dokter yang sedari tadi hanya ia sampirkan di bahu setelah salah seorang rekan dokter memberikan jasnya yang tadi ketinggalan di dalam ruangan sehingga ia tidak punya tanda pengenal bahwa ia memang adalah seorang dokter dan berakhir adu mulut dengan bodyguard-bodyguard tadi.

Mendengar suara yang cukup familiar di telinganya, Wendy pun dengan cepat berbalik dan melihat pakaian dokter yang bisa membuat salah paham bodyguard-nya itu. Sepatu kets merah, celana jeans hitam dengan model robek di lutut, kaos oblong berwarna putih polos yang untungnya dimasukkan ke dalam celana namun terlihat sangat trendi.

“Wah, dokter muda yang tau fashion sekali. Kenapa begitu casual padahal dia sudah professor?” batin Wendy setengah tertawa melihat penampilan dokter itu.

“Ini adalah putri dari Tuan Son, nona Son— “

“—Wendy?” ucap Proffseor Peter memotong perkataan Professor Jang. Mendengar namanya disebut, Wendy pun dengan segera mendongak karena masih memandang kaos lelaki itu, dan betapa kagetnya dia ketika melihat rupa dokter yang akan mengoperasi ayahnya itu.

“Ternyata memang Wendy. Astaga, kenapa dunia ini begitu sempit?” Wendy mengerjapkan matanya dua kali kedipan, masih tidak percaya dengan sosok dokter di depannya.

“Hei, kau seperti melihat hantu saja. Apa kabar, Son Wendy?” tanyanya sambil tersenyum sumringah, Satu air mata Wendy menetes tanpa aba-aba, membuat para dokter yang melihat itu kaget bukan main.

“Ya, aku memang melihat hantu, dan hantunya itu kau, brengsek!”

 

To Be continued

 

Iklan

32 pemikiran pada “Rooftop Romance (Chapter 28) – Shaekiran

  1. Ping balik: Rooftop Romance (Special Chapter – When it Rains) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 34) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 33) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  4. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 32) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  5. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 31) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  6. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 30) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  7. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 29) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  8. Hai ka eki
    Mian ya baru coment dichap 28
    Nunggu bngt ff ini dri kmrin
    Btw. . . Tu dokter chanyeol ya?
    Trus dy Gak jdi msuk akademi polisi dong?

  9. Lah…lah…lah…
    Tumben amet ya si wendy baik ama abang ceye…..jgn-jgn?????lupakan
    Wah…..abang ceye trllu pandai buat ngeboongin si wendy mah.
    Adeh…..jdi bang ceye musuhan nih ceritanya sama abang bacon disini….(ga mungkin coba😆😆😆😆😆),aduh….bacon mau ngejelasin apaan sih sama abang ceye ampe mau ketoilet aj dicegat-cegat.
    Lah tuh kn wen dr sini aj kamu udh ketahuan kalau kamu adalah Wendy yang Ceye kenal dulu,wendy si adik kelas ceye dan bacon.

    Adeh…makin kepo deh sm kelanjutan nih ff.
    Sllu ditunggu ff in eki. 😍😍😍😍😍

  10. Ditunggu kelanjutannya thor,
    Mian baru komen di chapter ini,
    Aku ngarep benget g ada yg di protect buat chapter selanjutnya,
    FF ini adalah ff yg bikin aku jatuh cinta sama chanyeol thor, ff ini tuh ff pertama yg aku suka,
    Jadi aku nunggu banget next chapternya thor,
    Makasih lho mau dengerin curahan hatiku

  11. Chanyeol kah itu? Please mudah-mdahan chan..tpi perasaan chanyeol ngedaftar jd polisi deh krna pengen jd kyk ayahx
    tpi ttap berharap si peter itu chanyeol

    pengen chanwen dpat happy ending kyk sehun-irene

  12. Bentar,ega nangis dulu..
    Kenapa ega slalu lebay kalo ngoment ff ini,aduhhhh ega baper lagi….
    Chanwen,apa yang yang terjadi dengan kalian berdua hah…???
    Kapan kalian bersatu hah…???
    Kapan kalian bakal bikin baper karna cinta kalian bukan karna kisah tragis kalian…???
    Aduh,aku udah nunggu lama,padahal belum lama ff kemarin di upload,,,,
    Thanks eki buat ff nya….
    Nunggu next nya,plus bikin sequwl ataun gak dari pandangan chanyeol nya karna selama ini cuman perasaannya wendy yang selalu ke ekspos bukan chanyeol palingan dia nyempil dikit2….
    Cepat upload next chapternya ki…
    Love rooftop romance love eki…

  13. 1000.000 jempol untuk ff ini.yah CY hidup lagi apa dia jadi goblin untuk mencari pengantinnya?.ff ini bikin senyum sendiri.Eh,yang paling oarah sampe nangis

  14. Lah, lah, ini chanyeol bangkit dari kematian ? 😂 #abaikan
    Plisss katakan jika peter itu cy,😃.
    Jdi skrg bukan mas Cy, tapi mas peter yah😂
    Semoga ini happy ending..
    Jebal✊
    Fighting 💕

  15. *le gue pas baca : “lah kok? Lah? Hah? Kok? Ehh? Lah?”

    Wkwkwkwkwkk the best dah nih ff

    Lanjutannya ditunggu thor, semangat~

  16. Dokternya chanyeol ya…..😅😅😅😅😅 hah….dunia emang ga selebar daun kelor mah…..
    wendy appamu it ga sekejam ap y kmu pikirkn kok,aku tau kalo appanya wendy menyelamatkan ceye…
    tpi mana tau wendy wong dia sdh di kanada waktu it….

    Ya allah udh lama banget nih ff ga dipost…reder y lebai….

    Ditunggu sllu ff in eki

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s