GAME OVER – Lv. 5 [Cosmic, Nebula, and Star] — IRISH

G    A   M   E       O   V   E   R

‘ Baekhyun x Jiho (known as HongJoo) ’

‘ AU x Adventure x Fantasy x Romance x Science Fiction ’

‘ Chapterred x Teenagers ’

‘ prompt from EXO`s — Can`t Bring Me Down & EXO CBX`s — Crush U

Game Level(s):

ForewordPrologue A SidePrologue B Side — Level 1 — Level 2 Level 3 — Level 4 — [PLAYING] Level 5

In the despair, deeply locked in the ocean, the red moon

2017 © GAME OVER created by IRISH

♫ ♪ ♫ ♪

Level 5 — Cosmic, Nebula, and Star

In Jiho’s Eyes…

“Gila! Aku sungguh tidak menyangka jika menaikkan tiga level bisa sangat mudah di stage itu. Tidak salah lagi kau disebut sebagai seorang master oleh player lain. Kau tahu banyak hal.”

Baek-Hyun benar. Tentang semua penjelasannya, ia memang benar dan sama sekali tidak berbohong padaku. Saat memulai sebuah battle di Despair Stage, kudapati aku berhasil naik tiga level sebelum akhirnya kalah dan keluar secara otomatis dan kembali ke Town1 asalku.

“Kau tidak pernah memberiku kesempatan untuk menjelaskan, kupikir membuktikan ucapanku adalah satu-satunya cara untuk membuatmu percaya.” Baek-Hyun menyahut.

Aku terkekeh tanpa sadar. Well, aku memang selalu menaruh curiga padanya dan menuduhkan hal-hal aneh. Tidak kusangka ia mengingatnya dengan baik. Beruntung saja, dia masih menawarkan bantuan padaku.

“Terima kasih.” aku akhirnya berucap.

Mengingat bagaimana selama beberapa kali ini aku pasti sudah menuduhnya dan menyudutkannya seolah dia adalah orang jahat yang seharusnya kuhindari entah mengapa membuatku merasa bersalah sekarang. Dia tidak seburuk yang kutuduhkan.

“Aku juga berterima kasih, HongJoo-ssi.”

“Berterima kasih padaku? Untuk apa?” aku menatap Baek-Hyun tidak mengerti. Untuk apa ia berterima kasih padaku sedangkan aku tidak berbuat apa-apa?

“Untuk semuanya. Kau tahu, karena pada akhirnya percaya padaku dan menerima bantuan dariku. Meski player lain menilaiku sebagai seorang hero2, tapi sebagian besar menganggapku kejam seperti villain3.”

Aku menyernyit. “Kau tidak kejam. Well, mungkin aku salah satu yang sempat berpikir jika kau kejam seperti villain juga. Tapi itu karena aku tidak tahu alasan di balik tindakanmu. Sekarang setelah aku mengetahuinya, kupikir kau seseorang yang baik.”

Baek-Hyun hanya tersenyum tipis. Kediamannya lantas membuatku diam-diam kembali memperhatikannya. Secara fisik, ia memang benar-benar menarik. Aku ingat Ashley pernah bicara tentang sosok ‘sempurna’ yang selalu ada di dalam sebuah RPG.

Seorang yang secara fisik cantik atau tampan, memilik rank baik dalam game, berasal dari Country yang terkenal. Dan kehidupan aslinya juga serba berkecukupan. Melihat bagaimana Baek-Hyun terlihat secara fisik, dan melihat bagaimana rank miliknya, kupikir Baek-Hyun bisa kukategorikan sebagai seorang perfect yang Ashley bicarakan.

“Mengapa menatapku seperti itu?” tiba-tiba Baek-Hyun bertanya.

“Tidak. Tidak ada. Aku hanya merasa terusik karena satu-dua hal tidak penting.” ucapku asal. Tidak mungkin aku katakan padanya kalau aku memperhatikannya, bukan?

“Hmm…” Baek-Hyun mengangguk-angguk pelan, tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya ia kembali berucap. “Aku selesai dengan misiku, omong-omong. Dan juga, masih ada beberapa jam sebelum tenggat waktu yang kubicarakan mengenai pertemuan kita. Apa kau sudah mengingatnya?” tanya Baek-Hyun kemudian.

Ah, benar. Semalaman aku terjaga karena berusaha memahami maksud ucapannya, dan melihat bagaimana ia sekarang menanyakan hal tersebut, aku kembali teringat pada kemungkinan yang Ashley ucapkan.

“Hmm, aku mencoba mengingatnya, tapi tidak banyak hal yang aku ingat dengan baik. Umm, mungkin kau tidak ingin tahu, tapi di kehidupan nyata aku bukan seseorang yang sering muncul di kehidupan sosial, dan di sini aku juga begitu. Jadi… kupikir tidak banyak kesempatan yang memunginkan kita bertemu.”

Ia mengangguk-angguk mendengar penuturanku.

“Jadi, dimana saja kemungkinan yang kau pikirkan?” tanyanya.

Turbulence? Aku sering terlibat di dalam turbulence yang sebenarnya tidak ada hubungannya denganku. Tapi… beberapa kali aku muncul di tengah turbulence orang lain dan membantu mereka.

“Atau mungkin custom match4? Aku selalu mengabaikan semua player yang berada dalam custom match yang sama denganku. Apa salah satu dari kemungkinan itu—”

“—Keduanya benar.”

“Apa?”

“Keduanya yang kau ucapkan, benar.” Baek-Hyun tersenyum. Ekspresinya tampak seolah merasa lega karena aku bisa mengingat dan menebak dengan benar tentang pertemuan kami.

“Kita bertemu sekitar delapan kali. Enam di antaranya adalah saat ketika kau membantu player baru yang dijebak untuk masuk dalam turbulence, dan salah satunya di custom match, di awal level survivalmu dulu. Apa kau tidak ingat pertemuan satunya?” aku menyernyit menatapnya.

Kami pernah bertemu sebanyak delapan kali dan aku sama sekali tidak mengenalinya? Bagaimana bisa?

“Tidak, aku tidak ingat. Memangnya dimana kita pernah bertemu?” aku balik bertanya padanya. Melihat bagaimana ia mengingatku dengan baik tentu membuatku merasa malu karena sudah mengutarakan pertanyaan semacam itu pada Baek-Hyun.

Tapi mau bagaimana lagi, aku memang sama sekali tidak ingat tentang pertemuan kami, dan bahkan cukup yakin aku tidak pernah melihat wajah Baek-Hyun sebelumnya—karena ia tampan dan tentu saja jika secara tidak sengaja aku pernah bertemu dengannya aku pasti akan ingat, bukan? Hey, semua orang pasti ingat kalau pernah bertemu dengan orang-orang rupawan.

Sebagai jawaban, Baek-Hyun malah tersenyum simpul.

“Lupakan saja, kalau begitu. Setidaknya kau sudah menebak dengan benar, hanya saja melupakan salah satunya. Lagipula, kau memintaku untuk menjalani kehidupan di WorldWare seperti biasanya setelah aku selesai dengan tanggung jawabku mengembalikan levelmu, bukan?

“Kupikir setelah kau logout, kita tidak akan bertemu lagi. Aku rasa kau tidak ingin melibatkan diri denganku lagi, karena Countrymu sekarang banyak masalah, dan aku akan jadi orang paling diburu oleh player lainnya.

“Jadi, boleh aku membawamu ke sebuah tempat sebelum kita berpisah?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Mengapa kau membawaku ke sini?”

Aku tertegun saat Baek-Hyun membawaku ke Hall5, tempat terbuka di mana semua pemain bisa melakukan trade atau exchange dengan pemain lain. Dan di tempat ini juga mereka bisa bicara tentang kehidupan nyata, bertukar gambar tentang kehidupan mereka. Hall juga menjadi tempat di mana sepasang player mengikat janji pernikahan. Dimana, semua player bisa datang ke Hall untuk menyaksikan pernikahan tersebut.

Tapi mengapa ia membawaku ke sini?

“Untukmu.” tiba-tiba saja Baek-Hyun melemparkan sebuah amulet ke arahku. Sudah kukatakan kalau di Hall, player tidak butuh persetujuan player lain untuk memberi equipment tertentu, dan sekarang aku juga tidak bisa menolak amulet yang Baek-Hyun berikan padaku.

Cosmic Rings?” aku menyernyit bingung melihat amulet yang sekarang ada di tanganku. Aku tidak pernah melihatnya, dan WorldWare juga tidak memberikan keterangan tentang bagaimana amulet ini bekerja.

“Kau mungkin tidak membutuhkannya. Tapi menurutku, kau lebih pantas menjadi Nebula, HongJoo-ssi. Dan juga, CR—singkatan dari Cosmic Rings—bisa kau jual dengan harga tinggi. Dalam trading, harganya setara dengan amuletamulet bernilai sekitar… umm, enam atau tujuh ratus ribu pouch?”

“T-Tujuh ratus ribu pouch?” aku terbelalak, sungguh tidak menyangka amulet mungil seperti ini begitu berharga. Apa fungsinya begitu hebat sampai ia berharga mahal?

“Kau pasti begitu kaya.”

“Apa?” Baek-Hyun menatap tidak mengerti karena aku tiba-tiba saja berkata seperti itu. Mungkin, belum ada yang berani mengutarakan pujian itu padanya. Tapi aku sudah tidak cukup sabar untuk tidak mengatakannya.

“Kau bisa membeli invsible mode, dan equipmentmu juga semuanya mahal. Hanya ada dua kemungkinan, kau sudah begitu lama bertarung di sini, atau kau punya banyak uang untuk membeli pouch menggunakan billing.”

Baek-Hyun kini tertawa kecil.

“Aku lebih suka kemungkinan pertama. Bukankah kau bisa melihat profilku sekarang? Kau pasti tahu aku sudah melalui ratusan ribu battle dengan angka kematian yang minim.” ia berucap, kini Baek-Hyun sibuk memainkan salah satu amuletnya.

“Benar.” aku mengiyakan, “Kau tidak pernah kalah dalam battle. Kau juga tidak pernah muncul di Town sebelum menantang turbulence. Kau pasti sangat mahir menggunakan ability.” sambungku.

Sejenak aku dan Baek-Hyun sama-sama terdiam. Tubuhku mulai lelah, kusadari aku belum makan apapun sejak malam tadi dan sekarang aku kelaparan. Baek-Hyun juga tampaknya lelah. Kupikir, ia tadinya tengah beristirahat sampai aku mengusiknya karena masuk ke dalam maps yang ia kirimkan.

“Kudengar dari beberapa player master, akan ada event di musim selanjutnya. Jika kita tidak bisa bertemu lagi setelah ini… apa mungkin aku bisa melihatmu bertarung di dalam event itu?” tanyaku kemudian.

Baek-Hyun terdiam sejenak, sebelum ia kemudian mengangguk.

“Kita lihat saja event seperti apa yang akan datang.” lagi-lagi, keheningan mendominasi. Entah karena aku yang tidak pandai membuka pembicaraan dengan orang lain, atau karena Baek-Hyun memang pendiam sehingga aku merasa canggung untuk banyak bicara dengannya.

“Apa kau punya pair6, HongJoo-ya?”

Pair?” aku terkejut mendengar pertanyaan Baek-Hyun, sementara ia menatapku tenang, seolah pertanyaannya bukanlah hal aneh yang membuatku merasa semakin canggung.

“Ya, kau tahu… aku bisa melihat profilmu tapi tidak benar-benar tahu bagaimana kehidupanmu di WorldWare. Kau berasal dari Country yang cukup besar, dan kau juga player wanita yang cukup handal. Apa kau tidak punya pair? Atau setidaknya, seorang player yang dekat denganmu dan punya kemungkinan untuk menjadi pairmu.”

Aku terdiam. Memang, sebagian besar player menemukan kecocokan satu sama lain ketika mereka berada di survival mode. Selain karena mereka bisa bicara dengan player lain, mereka juga bisa tahu bagaimana keadaan fisik player tersebut.

Seperti Ashley saja contohnya. Di WorldWare ia mendapat julukan sebagai seorang Fairy—dewi—karena kecantikannya. Beberapa player pria pernah memberikan Wild Rose pada Ashley namun ditolaknya. Kupikir, Taeil—atau siapa namanya—itu adalah salah seorang player yang berhasil membuat Ashley menerima Wild Rosenya.

“Tidak, kurasa… ketertarikan yang muncul di sini tidaklah nyata.” akhirnya aku berucap. Memang benar, aku sering mengatakan bagaimana tidak masuk akalnya rasa suka dan tertarik yang Ashley berikan pada player lain hanya karena berlawan kata.

Ungkapan cinta justru semakin terdengar tidak masuk akal. Bagaimana dua orang bisa merasakan cinta saat mereka bahkan tidak pernah bertemu?

“Begitukah? Kupikir, jatuh cinta di dalam WorldWare justru lebih masuk akal.” aku terkesiap saat mendengar ucapan Baek-Hyun. Apa aku secara tidak sengaja telah mengutarakan pikiranku?

Tanpa mengizinkanku bicara, Baek-Hyun lagi-lagi buka suara.

“Tidakkah kau berpikir begitu? Mereka saling jatuh cinta, tanpa memandang keadaan fisik. Meski cinta mereka punya resiko yang besar untuk hancur saat masing-masing dari mereka mengenal secara nyata… tapi bukankah jatuh cinta saja sudah jadi hal yang indah?”

Aku terdiam. Ucapan Baek-Hyun tidak salah, tapi tidak juga ingin kubenarkan. Hatiku tetap berkeras jika jatuh cinta dalam game adalah hal tidak logis yang hanya akan berujung pada kesengsaraan.

Bagaimana jika pairmu tidak sesuai dengan type idealmu? Bukankah keduanya akan sama-sama merasa sedih dan patah hati pada akhirnya? Lagipula, mereka juga hanya dipertemukan karena kegiatan membuang waktu yang kebanyakan hanya akan dilakukan oleh orang-orang ‘kurang sibuk’ seperti aku, contohnya. Hey, aku tidak menghitung Taehyung dan Ashley dalam kategori yang sama denganku karena keduanya sama-sama sibuk.

Kalian tahu, Taehyung sibuk dengan ini-itu dan pekerjaan yang dia jalani—pekerjaan secara online maupun offline—dan Ashley juga sama sibuknya, sehingga mereka berdua tidak pernah punya banyak waktu untuk online. Tidak sepertiku, yang punya begitu banyak waktu luang sehingga bisa online sepanjang hari. Aku pengangguran, ingat?

“Kurasa, kau perlu sedikit sering online dan bicara dengan player lain di Town, HongJoo-ssi.”

“Memangnya kenapa?” aku menatap tidak mengerti. Terlepas dari seringnya aku meninggalkan Baek-Hyun dengan lamunan dan pemikiranku, kusadari dia sejak tadi menatapku dalam diam.

Baek-Hyun tersenyum penuh arti.

“Beberapa dari mereka tertarik untuk dekat denganmu. Mungkin juga, kau bisa membuka diri dan menemukan pair. Siapa yang tahu jika event selanjutnya mungkin melibatkan player yang berpasangan?” Baek-Hyun mengedikkan bahunya acuh, sekon kemudian ia lagi-lagi melemparkan sebuah botol kaca ke arahku.

“Kukembalikan live-charge7 yang kupinjam darimu, aku tidak suka berhutang pada orang lain—terutama pada wanita—karena aku takut aku tidak akan sempat membayarnya. Senang bicara denganmu, HongJoo-ssi.” Baek-Hyun mengacak rambutnya, sementara tatapannya tidak lagi berfokus padaku.

Tidak, dia tentu tidak berfokus padaku ketika melakukan hal sekeren—ah, sial. Bagaimana dia bisa terlihat begitu tampan hanya dengan mengacak rambutnya seperti itu? Dunia sungguh tidak adil, kadang-kadang.

Terlepas dari bagaimana dia mengumbar kesempurnaannya secara fisik dengan cara seperti itu, aku juga tahu kalau Baek-Hyun tengah mengucapkan selamat tinggal. Tapi mengapa rasanya begitu mengesalkan? Mengapa aku merasa tidak ingin berpisah dengan cara seperti ini dengannya? Apa ini yang Ashley katakan sebagai rasa tertarik? Karena ia misterius… aku jadi merasa tertarik dan penasaran?

“Oh, namaku Baek-Hyun, omong-omong.” Baek-Hyun mengulurkan tangannya ke arahku, mengajakku berjabat tangan.

“Aku tahu ID-mu Baek-Hyun.” tuturku.

Ia tertawa pelan. “Namaku, HongJoo-ssi. Namaku adalah Baekhyun, Byun Baekhyun. Boleh aku tahu siapa namamu?” tanyanya. Ia menanyakan namaku. Ia benar-benar bertanya siapa namaku dan bukannya hanya memanggilku dengan menggunakan ID.

“Aku—” tiba-tiba saja lidahku kelu. Suaraku tersangkut di tenggorokan sementara tatapanku berpaku padanya. Tangan kami telah saling berjabat tapi aku tidak bisa memberitahunya namaku.

Aku tidak terbiasa. Aku tidak pernah benar-benar memperkenalkan diri pada orang lain dan sekarang aku merasa begitu ragu untuk memberitahunya. Akankah sebuah perbedaan terjadi jika ia tahu namaku?

“Tidak masalah. Kau tidak harus memberitahuku namamu jika kau keberatan.” Baek-Hyun—ralat, Baekhyun. Namanya adalah Baekhyun dan Baek-Hyun adalah ID-nya—tangannya bergerak menjabat tanganku yang sedari tadi hanya terulur tanpa melakukan apapun, sementara ia tersenyum simpul.

“Sampai berjumpa lagi, HongJoo-ya.”

Dan satu sekon setelah Baekhyun mengucapkan selamat tinggal, ia menghilang.

Ia benar-benar hilang. Dari hadapanku, dari mailboxku, dari riwayat pesan privateku. Ia benar-benar menghilang dari kehidupanku, setidaknya dalam WorldWare.

Karena sekarang, ia sudah memenuhi pikiranku.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Kalau saja ada equipment yang mengizinkan seorang player untuk bisa tahu keberadaan player lain, meski harganya satu juta pouch kupikir aku akan rela mengeluarkan satu juta itu untuk membelinya.

Bagaimana tidak, Baekhyun benar-benar menghilang. Setelah turbulence terakhir—yang berlalu hampir dua pekan lalu—ia sama sekali tidak muncul dimanapun.

Dan selama beberapa hari ini juga kuputuskan untuk lebih sering online untuk mengikuti percakapan player lain. Kusadari, ada banyak hal yang tidak aku ketahui. Ya, ternyata Baekhyun pernah beberapa kali muncul secara tiba-tiba di tengah PK antara player pemula dengan mereka dari Country yang dengan sengaja menantang PK untuk mendapatkan pouch atau menaikkan level mereka.

Baekhyun juga sering muncul di tengah battle atau Villain’s Stage untuk membantu player lain. Well, mungkin dari awal aku sudah keliru. Karena terlalu berpikiran negatif tentangnya sementara ia nyatanya tidak seburuk yang aku pikir.

Dari mengikuti konversasi juga, aku tahu Baekhyun akan muncul malam ini. Karena sebuah tantangan turbulence diberikan WhiteTown padanya—usaha perbaikan nama baik, kupikir—dan aku sudah tahu, WhiteTown pasti tidak hanya memberi Baekhyun tantangan.

Meski Baekhyun seorang player yang handal, tapi karena strategi tertentu dia mungkin akan terkecoh dan akhirnya terjebak dalam keadaan genting yang tidak ia perkirakan.

Karena aku tahu mereka pasti merencanakan hal buruk, kuputuskan untuk offline sepanjang siang di hari minggu ini. Berkat seorang Kim Taehyung, keadaanku akhirnya benar-benar dropwell, kemarin dia memaksaku untuk keluar dari mess dan berujung pada kejadian mengerikan dimana aku menjadi korban dari hujan deras yang turun sepanjang sore dan hari ini akhirnya aku terserang flu.

Well, flu bukanlah penyakit yang begitu parah bagi orang lain yang sering berkegiatan. Tapi untukku? Seorang yang hanya melihat sinar matahari setidaknya dua minggu sekali? Flu adalah sebuah penyakit parah.

“Kau yakin sanggup online? Aku bisa merekam turbulence mereka nanti.” Ashley berucap, ia tahu aku memaksakan diri untuk online sekarang. Jangan ingatkan aku tentang perdebatannya bersama Taehyung sore tadi.

Mereka sibuk saling menyalahkan tentang penyebab aku sakit, dan saat mess begitu ramai rasanya aku ingin membenturkan kepala mereka berdua agar ketenangan kembali tercipta. Heran sekali, kenapa Kim bersaudara ini begitu betah ada di mess saat mereka punya rumah mewah untuk ditempati.

“Aku baik-baik saja, memangnya kau pikir aku selemah itu?” ucapku gusar, tidak nyaman juga saat tahu bagaimana Ashley mengkhawatirkanku.

“Baiklah. Anggap saja kau baik-baik saja, lalu apa tujuanmu online?” tanya Ashley curiga. Ugh, heran sekali mengapa ia punya tingkat keingin tahuan yang kelewat tinggi. Mengapa ia tidak abaikan saja aku dan keinginanku untuk online?

Tidak mungkin kukatakan kepadanya kalau aku berniat untuk melihat bagaimana seorang Baekhyun akan mengakhiri turbulence malam ini walaupun mereka semua punya rencana yang begitu mengerikan, bukan?

“Aku hanya… ingin tahu jika ada yang game over dengan cara yang lebih dramatis daripada aku.”

Dan ya, alasan kawakan barusan berhasil membuat Ashley tergelak sekaligus terbahak bersama Taehyung.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Human wealthku kacau. Aku baru online selama setengah jam dan tubuhku mulai terlihat transparan dalam mode survival. Sudah bisa kuketahui, jika kesehatanku memburuk aku akan secara otomatis logout dari WorldWare.

Aku sedikit berterima kasih pada programmernya karena telah mempedulikan kesehatan orang lain—terutama playernya—tapi tolong, sekarang bukanlah saat yang tepat untuk terlogout secara otomatis.

Lagipula, aku tidak akan ikut serta dalam PK, jadi bisakah permainan ini biarkan aku bertahan setidaknya selama lebih dari satu jam dengan human wealth yang tidak sampai lima puluh persen?

“Kau tidak terlihat baik, HongJoo.” kudengar suara Tarin—seorang player dengan ID Medusaria dan berasal dari House of Zeus Country—menyapa. Selain Ashley, setidaknya Tarin adalah salah seorang yang bisa kuanggap sebagai ‘teman’ di sini.

Untuk informasi, Tarin seusiaan dengan Ashley, mereka adalah teman satu akademi jadi kami pernah bertemu secara langsung.

“Flu menyerang,” sahutku singkat, memilih untuk duduk demi menghemat human wealthku dan menunggu jam sembilan, waktu yang WhiteTown berikan untuk tantangannya pada Baekhyun.

“Flu?” Tarin terkekeh, ia kibaskan rambut pirangnya dengan gaya super feminim sebelum ia duduk di sebelahku.

“Hanya karena flu human wealthmu jadi hancur seperti ini?” tanyanya setengah meledek. Ugh, tidakkah orang-orang mengerti jika sakit flu bagi seorang yang jarang keluar ruangan sepertiku adalah sebuah sakit parah?

“Kau bercanda? Flu adalah sakit parah, untukku.” aku membela diri.

Tarin hanya menyahuti dengan tawa ringan. Ia kemudian menghela nafas panjang. Kusadari, pasti ada sesuatu yang salah. Meski anggota House of Zeus terkenal setia pada Countrynya, tapi kepolosan Tarin dan sifat naifnya adalah hal yang berbeda.

“Ada masalah apa?” tanyaku akhirnya.

“Tidak ada,” Tarin menggeleng sebagai jawaban. Aku akhirnya memilih diam, tahu benar jika aku sudah bersikap acuh seperti ini, Tarin akan membuka cerita dengan sendirinya.

Kupikir Tarin punya masalah dengan kontrol emosinya, ia begitu mudah tertekan dan depresi. Sehingga ia cenderung menceritakan semua masalahnya pada siapapun yang ia temui.

“Aku sedikit merasa bersalah pada Invisible Black.”

“Mengapa?” tanyaku, mendapati dugaanku benar tentang sikap Tarin sekarang. Well, tentu ia tidak akan betah menyimpan sebuah rahasia besar sendirian.

“Kami akan menyerangnya malam ini.”

“Menyerangnya?” aku menyernyit, seingatku mereka juga melancarkan serangan serupa beberapa hari lalu, dan sebuah kekalahan yang memalukan jadi akhir bagi mereka. Tapi, mereka akan melakukan serangan yang sama?

“Ya. Kau tahu sendiri kan bagaimana player WhiteTown? Mereka tidak akan mau kalah, terutama pada player master seperti Invisible Black itu. Enterprise juga kelihatannya menyimpan dendam.”

“Tapi Royal Thrope tidak bicara apapun padaku.” aku teringat, menyadari bahwa aku sama sekali tidak mendapat notice apapun dari Countryku dan sekarang semuanya jadi mencurigakan.

“Tidak, tidak. Aku tidak katakan Enterprise akan ikut dalam turbulence ini. Turbulence ini jadi sebuah ajang terbuka, malahan.”

“Apa maksudmu?” kini aku menatap tidak mengerti.

Tarin, menatapku sejenak sebelum akhirnya ia menghela nafas panjang.

“Siapapun boleh ikut dalam turbulence ini, HongJoo. Para leader kaya itu sudah menyiapkan sepuluh ribu pouch bagi tiap player yang ikut dalam turbulence nanti.”

“S-Sepuluh ribu pouch?” aku terbelalak, membayangkan satu orang mendapat sepuluh ribu pouch saja sudah membuatku menghitung berapa banyak orang yang akan datang dalam turbulence ini.

“Dan bagaimana mereka akan menarik player lain untuk ikut?”

Global broadcast system8.”

“Aku tidak dapat pesan apapun di sana.” kilahku berkeras.

Tarin tersenyum kecut. “Kau akan dapat informasinya langsung dari leadermu nanti, tunggu saja. Mereka mengirimkan pesan itu kepada semua pemain yang tidak berada dalam Country yang terlibat.”

“Dan apa strateginya?” tanyaku mendesak Tarin, melihat bagaimana caranya bicara dan menjelaskan padaku sekarang, aku yakini ia sudah tahu cukup banyak.

“Strateginya cukup simpel, membuat Invisible Black kehilangan health bar separah mungkin dengan dua metode. Pertama, turbulence dengan WhiteTown. Kedua, player bayaran. Dan puncaknya, Womanizer akan menyerang Invisible Black. Jika Womanizer tidak berhasil, Clown dan Enterprise yang akan ikut.”

Aku terkesiap. Strategi mereka kali ini cukup bagus. Well, mungin mereka menduga jika Baekhyun tidak punya simpanan live-charge karena ia tidak terkalahkan. Tapi—ugh! Mengapa mereka bisa menduga dengan benar? Aku melihat equipment milik Baekhyun dan dia memang tidak menyimpan potion apapun. Mengapa pula Baekhyun terlalu menganggap remeh semua orang sampai-sampai tidak menyimpan apapun?

Jika ia harus membeli potion tersebut di tengah battle, tidak akan mungkin. Karena proses pembelian live-charge memakan waktu dua puluh empat jam, itulah mengapa live-charge jadi potion paling menyusahkan. Selain mahal, proses pembeliannya juga tidak praktis.

“Aku tidak akan ikut serta dalam battle kotor mereka.” aku akhirnya berucap.

“Mereka tidak butuh banyak orang, cukup beberapa orang yang bisa memberi serangan pada Invisible Black, itu saja. Karena House of Zeus berdiri di baris belakang.”

“K-Kau juga ikut?” aku menatap terkejut.

Tarin tersenyum kecil. “Sudah kukatakan kalau aku merasa bersalah pada Invisible Black ini, bukan? White Lion menjanjikan satu juta pouch untuk Zeus jika malam ini Invisible Black kalah.”

“Dan kau tidak dapat apa-apa?” tanyaku.

“Lima puluh ribu pouch untuk masing-masing kami. Dan bonus dua ratus ribu pouch lagi untuk yang terakhir kali dikalahkan oleh Invisible Black.”

Aku ternganga. Jemariku kini sibuk menghitung berapa jumlah pouch yang White Lion habiskan untuk sekedar membalas dendam. Menang atau kalah, dia tetap harus memberikan pouchpouch itu untuk semua player yang terlibat.

Jika ada setidaknya sepuluh player terlibat dalam turbulence—meski sepuluh adalah angka minimum yang tidak mungkin karena setidaknya setiap malam ada sekitar empat puluh sampai seratus orang yang online di global chat, dan karena adanya broadcast kuyakini jumlahnya akan membengkak, ia setidaknya harus menyediakan kisaran seratus ribu sampai satu juta pouch.

Lalu menghitung jumlah anggota Enterprise—mungkin sembilan atau sepuluh, kemudian enam orang Womanizer dan delapan orang Clown, ia harus mengeluarkan sekitar satu juta pouch lagi.

Lalu… Zeus sendiri mendapatkan satu juta pouch, dan delapan anggota lainnya berarti empat ratus ribu pouch, dan bonus dua ratus ribu pouch lagi…

“Apa White Lion sudah gila? Darimana dia dapat empat juta pouch untuk dibagi-bagikan pada orang-orang secara gratis?!” netraku membelalak, menyadari jika White Lion pasti sudah gila karena mempertaruhkan begitu banyak uang untuk sebuah battle hanya karena dendam.

Menyadari jika aku sudah menghitung-hitung di dalam benakku, Tarin akhirnya terkekeh. “Kau bilang empat juta pouch? Astaga. Dengar, HongJoo. Pertama, bukan White Lion yang membayar semua pouch itu melainkan White Tiger. Ingat kan? White Tiger adalah musuh pertama Invisible Black di Countrynya. Dan juga, kudengar White Tiger bahkan sudah menyiapkan sepuluh juta pouch untuk malam ini.”

“Sepuluh juta?!” aku terpekik.

“Ya, sungguh. Sepuluh juta.”

“Dia pasti sudah gila! Sungguh. Tarin, coba pikirkan. Harga pouch premium adalah sembilan dolar untuk tiap seribu pouch. Darimana dia akan dapatkan uang senilai hampir seratus ribu dolar? Ugh! Dengan uang sebanyak itu aku bisa membeli gaming-set baru dan bahkan membeli sebuah apertemen dan memperbaiki kehidupanku.”

Tidak lagi bisa membendung tawanya, Tarin akhirnya tergelak. Begitu kerasnya sampai kupikir ia mungkin telah membohongiku dengan semua ucapannya.

“White Tiger itu seorang putra milyader, untuk informasi saja. Kau tahu Haneul Corporation? Dia adalah pewaris tunggal perusahaan itu.” kini Tarin menjelaskan dengan sedikit berbisik.

Kini, aku terdiam. “Dia bahkan tidak begitu tampan. Siapa yang menduga kalau dia akan punya uang sebanyak itu hanya untuk bermain game?”

Lagi-lagi Tarin terkekeh.

“Royal Thrope juga ikut melibatkan uangnya untuk membeli pouch. Ada rumor yang beredar kalau Royal Thrope adalah putra pemegang saham dari perusahaan game di Seoul, tapi itu hanya rumor. Royal Thrope sendiri mengatakan kalau dia hanya seorang mahasiswa teknik perkomputeran.”

“Tapi tetap saja dia punya banyak uang. Memangnya dia hanya menyumbang sepuluh ribu won saja? Lagipula, dengan pouch sebanyak itu mereka bisa membeli invsible mode. Mengapa tidak mereka lakukan saja hal itu?” aku berucap tidak senang, mengapa Tarin meremehkan rumor yang ada sementara faktanya dari rumor itu telah keluar sebuah bukti cukup otentik?

“Katanya, tidak semua player bisa membeli invsible mode.”

“Apa? Mengapa?” tanyaku tidak mengerti.

“Aku juga tidak tahu. Ah, sudahlah. Yang jelas, ini masih jam tujuh, dua jam lagi sebelum battle. Dan… kau berhutang penjelasan padaku.” Tarin bergerak merengkuh bahuku seolah beberapa menit lalu ia tidak membicarakan hal penting denganku.

“Penjelasan? Penjelasan apa?” tanyaku tidak mengerti.

Hey, kau sudah membuang waktuku, tahu. Kau bilang ingin meminta bantuan, bantuan apa?”

Ah, benar. Karena sibuk mendengarkan penuturannya tentang rencana curang lainnya di turbulence nanti aku bahkan tidak ingat jika aku meminta Tarin untuk menemuiku karena tujuan lain.

Cosmic Rings.

Sampai detik ini aku masih tidak tahu kegunaannya, dan kupikir Tarin punya beberapa rekan yang tahu dan bisa dipercaya untuk kutanyai tentang amulet ini.

Umm, kau tahu, aku ingat kau pernah bicara tentang seorang NPC menyebalkan yang banyak bicara dan pernah membeberkan semua kelemahanmu itu?”

Tarin tampak berusaha mengingat-ingat. “Ah, maksudmu Red Hair Witch?”

“Red Hair Witch?”

“Hmm, nama karakternya adalah Red Hair Witch. Dia Villain yang harus kau lawan untuk menyelesaikan bonus stage9 di… umm, di Tacenda Corner, jika aku tidak salah. Memangnya kenapa?”

Aku terdiam sejenak. “Waktu itu kau mengomel karena dia membeberkan kelemahanmu, bukan?”

“Ya. Dia begitu banyak bicara, tapi cantik—aku suka kostumnya.”

“Apa dia juga membeberkan kegunaan dari amulet yang kau gunakan?”

Tarin mengangguk-angguk pelan.

“Ya, dia bahkan menjelaskan kegunaan amulet yang tidak pernah kupakai. Memangnya kenapa?” Tarin kini menatap bingung.

“Tidak. Hanya saja, dia cukup unik. Sebagai NPC10, karena dia bisa tahu profil lawannya. Tidakkah kau pikir begitu?” aku menatap Tarin, menanti persetujuan darinya.

“Kupikir juga begitu,” Tarin mengangguk, “Tapi bukankah itu adalah kelebihan WorldWare? Kau tahu sendiri Darkpollo bahkan selalu bicara pada NPC wanita yang berdiri di sebelah roulette di Town, bukan? Heran sekali mengapa dia begitu bodoh karena bicara pada NPC, tapi menurutnya NPC wanita itu mengerti apa yang ia bicarakan.”

Kini, aku terdiam. Benar juga, tidak hanya Darkpollo, tapi Qian Yuan juga pernah mengatakan kalau dia sering berdebat dengan NPC wanita yang menjaga roulette di Town.

“Benar juga… Ashley dan Taehyung juga berkata kalau NPC WorldWare sangat pintar. Aku hanya penasaran tentang Red Hair Witch itu, omong-omong. Masih ada dua jam, katamu, kupikir aku sebaiknya logout dan beristirahat untuk memperbaiki human wealthku sebelum turbulence dimulai.”

“Hmm,” Tarin mengangguk setuju, “Aku tidak mau kau menghilang tiba-tiba di tengah battle. Oh, apa kau akan ikut menyerang Invisible Black nanti?” tanya Tarin kemudian.

“Dengan keadaan seperti ini? Terima kasih, aku lebih suka berdiri dan menonton saja atau jika nanti aku tertidur sampai esok hari, melihat video yang disebarkan melalui server akan lebih baik.”

Tarik terkekeh mendengar jawabanku.

“Baiklah, aku akan merekam battle nanti malam untukmu, selamat beristirahat, HongJoo!”

Medusaria telah keluar dari mode survival.’

Ya, setidaknya Tarin tidak tahu apa yang akan aku lakukan setelah ini.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Kulepaskan semua equipment yang kugunakan. Boots jadi satu-satunya equipment dengan rank tinggi yang kupakai karena aku tidak mungkin membuang waktu untuk berjalan dengan lambat.

Sisanya, semua equipmentku adalah milik level pemula. Aku bahkan melepaskan semua amulet yang kumiliki, menyisakan satu amulet yang ingin kudengar penjelasannya dari Red Hair Witch.

Mengingat bahwa ia kemungkinan besar akan membeberkan kelemahanku juga fungsi dari masing-masing equipment yang kugunakan, ia pasti butuh waktu untuk menerangkan semua equipment berlevel baik milikku.

Dan jika ia melihat bagaimana aku datang untuk menghadapinya, sebagai seorang NPC pandai ia pasti merasa janggal. Dan aku yakin, aku bisa mendapatkan penjelasan darinya tentang Cosmic Rings yang kubawa.

Aku sampai di bonus stage Tacenda Corner dalam waktu kurang dari lima belas menit—segera setelah mengakhiri pembicaraan dengan Tarin, aku berpindah ke sisi barat—dan dengan mengorbankan delapan synergy11 aku masuk ke dalam bonus stage.

Puluhan monster kecil segera mengelilingiku, karena aku belum menginjak start jadi mereka tidak bisa menyerangku dan aku juga tidak bisa menyerang mereka. Kuhabiskan waktu dengan berdiri dan menunggu kedatangan Red Hair Witch.

Satu kelemahan WorldWare yang kusadari adalah, semua villain utama selalu muncul sekitar satu sampai satu setengah menit setelah pemain memasuki arena.

Alasan mengapa aku bisa dengan mudah mengalahkan villain di mode survival adalah karena aku seringkali mengulur waktu sampai villain utama muncul, lalu menginjak start dan berlari ke arah villain utama—yang pasti membuat semua monster-monster NPC pendukung mengekoriku juga—lalu sedikit mengitari mereka dan menghindari serangan sebelum aku mengeluarkan satu atau dua main attack yang akan menghabisi mereka semua sekaligus.

“Wah, wah!”

Benar, bukan? Dia akan muncul jika aku menghabiskan waktu. Aku melirik digiwatch yang selalu mengekori tiap player, dari lama kemunculannya, Red Hair Witch tergolong dalam villain utama dengan kekuatan intermediet.

Dia membutuhkan waktu tiga menit untuk muncul.

“Lihat siapa yang sudah menantangku.” aku segera bergerak memutar—tanpa menginjak start—dan tidak jauh di belakangku, seorang wanita duduk angkuh di atas salah satu dahan pohon besar.

Kostumnya terbuat dari lilitan dedaunan dan bunga, begitu cantik—persis seperti bagaimana Tarin kagum pada kostumnya, kusadari aku juga terkagum-kagum—sementara ia sendiri juga merupakan seorang NPC rupawan dengan kulit pucat dan rambut merah sebatas punggung.

Ia tengah sibuk memainkan jemarinya di antara burung-burung kecil—namanya adalah Lylth, burung itu akan berubah menjadi ukuran ketika player berhasil mengalahkan monster di sekelilingnya—yang menari.

Musik menenangkan juga muncul sebagai background battle—yang masih belum kumulai—sementara tatapan Red Hair Witch sekarang tertuju padaku.

“Mengapa tidak kunjung memulainya, HongJoo?” ia bahkan menyebut namaku, sekon kemudian ia melangkah turun—dengan gaya begitu anggun—ke tanah, dan bisa kulihat bagaimana rumput liar berjalan mengikutinya.

“Seorang dari level 87 datang dengan equipment milik level 4, apa yang kau cari di stage ini? Ingin mengurangi level?” ia berkata, tawa kecil bahkan ia selipkan di akhir kalimatnya.

Armor, robe, helmet, dan gloves yang kau kenakan bahkan akan hancur terkena serangan Orch di sini. Meski kau membawa ministry sword tapi benda itu ada di level 8 jadi dia bukan tandingan untuk para Orch. Satu-satunya yang sepadan dengan levelmu hanya boots. Apa kau berniat untuk berlarian di arena?”

Aku bergeming. Bicara menyahutinya hanya akan membuatnya mengalihkan perhatiannya dari equipment yang kugunakan. Ia toh akhirnya akan sampai pada—

“Ah, jadi kau adalah salah satu Nebula rupanya. Pantas saja kau tidak khawatir saat datang dengan equipment seperti itu.” aku menatapnya ketika akhirnya ia bicara tentang Nebula.

Nebula? Ia seharusnya bicara tentang Cosmic Rings, mengapa ia lantas bicara mengenai Nebula?

“Apa maksudmu? Mengapa aku tidak perlu khawatir karena aku seorang Nebula?”

Ya, Baekhyun berkata jika aku pantas menjadi Nebula, itulah sebabnya ia memberikan Cosmic Rings padaku. Tapi sepertinya Red Hair Witch tahu lebih banyak hal lagi tentang Cosmic Rings.

Ia menatapku sejenak. “Kau adalah Nebula, dan Cosmic Rings ada di tanganmu. Bukan hal sulit untuk meminta Star untuk membantumu dalam battle ini, bukan?”

“Star?” tanpa sadar aku berucap, sungguh tidak mengerti dengan maksud ucapannya sekarang.

“Tidak salah lagi…” kudengar ia menggumam, lantas ia menyunggingkan sebuah senyum kecil. “Kau pasti datang ke sini hanya untuk menggodaku. Kau tidak mengaktifkan Cosmic Rings itu… dan pasti tidak tahu apa fungsinya. Apa tebakanku benar?”

Ia memang tidak salah, dan aku juga tidak bisa terus bertahan dengan ketidak tahuanku. Red Hair Witch jelas tahu informasi tentang Cosmic Rings, akankah terjadi perbedaan jika aku bertanya padanya?

“Benar, aku memang tidak tahu. Kudengar kau akan membeberkan semua tentang player yang datang ke stage ini jadi aku sengaja datang tanpa menggunakan equipment yang layak. Aku mendapatkan Cosmic Rings ini dari seorang player, dia juga mengatakan bahwa aku pantas menjadi Nebula, tapi aku tidak tahu maksud ucapannya.”

Ia kini berdiri dengan menyadarkan diri di pohon, sebuah isyarat dari jemarinya membuat Orch yang ada di sekitarku menjauh, meninggalkan arena, sementara Lylth yang ada di sekitarnya juga bergerak pergi.

“Banyak player yang sudah tahu apa fungsinya, mengapa kau tidak bertanya pada mereka?” tanyanya menguji kesabaranku. Aku tidak tahu system apa yang sudah programmer tanamkan pada NPC, dan aku juga tidak pernah mencoba bicara pada mereka, jadi aku terus merasa takjub karena kemampuan NPC.

“Aku tidak bisa mempercayai mereka. Mengetahui banyak player menginginkan kekuasaan dan kemewahan, kupikir bertanya pada mereka hanya akan membuatku terjebak dalam masalah. Jadi—”

“—Jadi kau merasa bahwa kami bisa kau percaya?” ia memotong, lihat? Aku sekarang merasa seolah tengah bicara dengan player lainnya. Ia bahkan bisa menyebut istilah ‘kami’ yang pasti ia tujukan pada semua NPC sepertinya.

“Setidaknya aku percaya apa yang kau katakan, untuk saat ini.”

Tawa kecil lolos dari bibirnya, sementara ia masih menatapku seolah aku adalah seorang player yang mengajaknya berputar-putar sebelum permainan.

“Baiklah, jika kau bersedia memulai battle, akan kujelaskan padamu.”

“Kau akan jelaskan tentang fungsi amulet ini?”

“Bukan, HongJoo. Aku akan jelaskan padamu tentang legenda yang tidak player lain ketahui—Cosmic, Nebula, and Star.”

“Tidakkah kau hanya akan menghabisiku ketika aku menginjak start?”

Ia menyunggingkan sebuah senyum di paras sempurnanya.

“Bukankah kau percaya padaku?”

— 계속 —

Footnotes:

Town: Istilah untuk menyebut ‘hall’ dimana semua pemain bisa berkumpul dan berkomunikasi. Town tidak menyediakan fasilitas untuk melakukan trading—jual-beli antar player—atau exchange—penukaran benda-benda tertentu—antar player, tapi hanya sekedar menjadi tempat saling berkomunikasi atau mengadakan battle/PK/turbulence.

Hero: NPC protagonis yang diciptakan untuk menjadi karakter pembantu bagi pemain game untuk menyelesaikan suatu level dan/atau mendapatkan bonus tertentu dalam game.

Villain: NPC antagonis yang diciptakan untuk menjadi karakter musuh/lawan bagi pemain game untuk menyelesaikan suatu level dan/atau mendapatkan bonus tertentu dalam game.

Custom match: battle/PK yang dilakukan secara berpasangan.

Hall: suatu tempat serupa dengan Town dimana semua player bebas saling melakukan exchange atau trade tanpa harus menerima persetujuan dari player lain yang akan menerimanya.

Pair: pasangan yang didapatkan dari memberikan/menerima Wild Rose player lainnya.

Live charge: potion yang berfungsi untuk mengembalikan health bar milik seorang player.

Global broadcast system: sistem broadcast melalui global chatting yang bisa dilakukan dengan memilih maksimal 200 orang player yang akan muncul dalam satu list penerima pesan broadcast.

Bonus stage: babak bonus yang hanya bisa diakses satu kali oleh masing-masing player.

NPC: Non-Player Character, sebuah karakter yang diciptakan oleh programmer sebagai karakter pembantu/pendukung untuk game tersebut.

Synergy: satuan untuk menyatakan poin power/health bar dari seorang player dalam permainan. Berbeda dengan health bar, synergy menggambarkan jumlah poin yang dapat digunakan untuk memulai sebuah PK/battle/turbulence.

IRISH’s Fingernotes:

SAY WELCOME TO WENDY! HURRAY!

Ya ampun, tiadanya lembur ternyata ngebalikin jiwa ini buat terus-terusan ngoceh :v di level empat udah ada bacotan, sekarang ane engga mau banyak-banyak berkata, ini epepnya doang udah nembus 5000an kata. WKWK. Tumben diriku rajin ngetik sampe bisa nembus segini banyak.

Sedikit oot, diriku abis baca Switch /kakaknya Game Over, enggak sejenis tapi mendasari dibuatnya Game Over/ dan terhura karena di sana berhasil bikin seorang Kim Jongdae jadi vangsatable sekali. Terus di sini si Baekhyun yang jadi vangsatable. Tunggu aja nanti, giliran siapa yang bakal memikat hati terus ngebuat diriku jadi bikin epep model Switch sama Game Over buat salah satu member EXO lagi. Gatau… siapa bias yang bakal dinistain berikutnya.

Oot lagi, Lonelynya Sistar enak :’) dengerable /kemudian ditampol/ soalnya pas ngedit-edit part lima ini sambil dengerin Lonely dan engga hancur gitu mood ane (fyi, biasanya  diriku kalo tengah-tengah ngetik/ngedit epep terus mencungul lagu yang engga mengena di hati yang keplay di playlist laptop, pasti ujung-ujungnya engga jadi ngedit/ngetik karena moodnya ilang, LABIL KAN YA, WKWK) jadi berhasil deh ngedit sampe level lima ini.

Dun, dun, dun, Wendy udah muncul, yang lain-lain juga udah. Tinggal Seana sama Chen yang belum kebagian—karena mereka nanti munculnya mungkin di atas level 15 /keburu kelar, Rish/ eh engga, engga keburu kelar, cuma spoiler aja kalo mereka mencungul di atas level itu—dan ya, nanti kehidupan mereka engga cuma sekedar main login logout doang kok, tenang aja.

Bagian gregetnya itu udah terselubung di tengah-tengah, YAAMPON KUGREGETAN SENDIRI KALO INGET BAGIAN DI GAME OVER YANG PALING BUAT DIRIKU JATUH CINTA, NANTI AJA TAU SENDIRI YANG MANA BAGIANNYA.

Sekedar mengingatkan aja, kalau untuk Game Over diriku kayaknya enggak ngemasukin cerita-cerita cinta segitiga segiempat apalagi segilima. It’s too complicated. This story’s complicated enough. Tapi diriku juga engga ngejanjiin happy ending. Dan endingnya udah enggak negoable, emangnya diriku grosiran, bisa di nego-nego?

Etapi diriku engga bilang kalo bakal ada yang metong so don’t worry WKWK.

Sekian, see you next Friday, fellas!

Salam, Irish.

hold me on: Instagram | Wattpad | WordPress

 

Iklan

22 pemikiran pada “GAME OVER – Lv. 5 [Cosmic, Nebula, and Star] — IRISH

  1. Well, awalnya pas baca chapter ini, aku penasarannya seabrek, buat apa sih cosmic rings itu…
    Ada gak cosmic rings buat aku?
    /pengen atuuu ajaa… (atu pasang maksudnya)… hhehe/

    Himneyo Miss Bidannim…
    Sincerely,
    Shannon

  2. Ping balik: GAME OVER – Lv. 10 [Betrayed Betrayal] — IRISH | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping balik: GAME OVER – Lv. 9 [After Effect] — IRISH | EXO FanFiction Indonesia

  4. Ping balik: GAME OVER – Lv. 8 [Girl In The Mousetrap] — IRISH | EXO FanFiction Indonesia

  5. Ping balik: GAME OVER – Lv. 7 [Black Label] — IRISH | EXO FanFiction Indonesia

  6. Ping balik: GAME OVER – Lv. 6 [Inside, Tacenda] — IRISH | EXO FanFiction Indonesia

  7. padahal biasanya kak rish doyan bunuhin cast ff :’)) TAPI ALHAMDULILLAH SEENGGANYA CABE GABAKAL MATI SOALNYA DIA KENA BULLY MULU SEKARANG GARA GARA BLACKHAIRNYA 😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s