Surrounded! (Chapter 04) – Shaekiran

SURROUNDEDcoverrrr

Surrounded!

A Fanfiction By Shaekiran

Main Cast

Park Chanyeol & Son Wendy

 

Other Cast

Lee Donghae, Kim Jinwoo, Bae Irene, Kim Yeri, Kim Jongdae, Byun Baekhyun and others.

Genres

Romance? Action? Family? Frienship? AU? Dark? Mystery?

Length Chapter | Rating PG-15

Disclaimer

Cerita ini merupakan sebuah hasil pengembangan ide yang tercipta di neutron otak manusia ambigu (Re:Shaekiran) yang anehnya sedang bekerja waktu itu. Hanya karangan fiksi yang jauh dari kata sempurna dan sarat akan cacat baik dalam penulisan, frasa, diksi dan banyak lagi. Selamat Membaca~

 

Previous Chapter

Prolog | Chapter 1 | Chapter 2 |Chapter 3| [NOW] Chapter 4 |

 

– 

Kenangan, memori atau apapun itu,

aku ingin melupakannya

  

 

 

— Chapter 04 —

In Author’s Eyes

Chanyeol memarkirkan Range Rover miliknya di depan rumah Wendy dengan sangat telaten. Lelaki itu melirik jam di pergelangan tangan kirinya, hampir pukul 12 malam. Rupanya Chanyeol sudah menghabiskan waktu yang cukup lama untuk bernostalgia dengan teman lamanya; Kim Jongdae. Lantas Chanyeol menatap keadaan rumah gadis saksi penting itu yang nampak sepi dan cukup gelap. Satu kesimpulan yang Chanyeol ambil, Wendy sudah tidur.

Satu helaan nafas akhirnya keluar dari mulut Chanyeol. Lelaki itu lantas mengatur posisi kursi mobilnya agar lebih nyaman, lalu merebahkan diri. Chanyeol sedikit mabuk, dan sekarang tidur adalah hal paling tepat di pikiran Chanyeol.

“Dia sudah kembali.”

Ya, Chanyeol tidak tau saja kalau Wendy masih terjaga pukul 12 malam.

“Cih, cepat sekali.” ucap lelaki yang masih asyik duduk di sofa sambil memainkan ponsel sementara Wendy mengoreksi naskah di laptopnya setelah beberapa detik lalu mengintip kedatangan Chanyeol dari jendela rumahnya. Tidak digubris oleh gadis pemilik rumah itu, si lelaki tamu tak diundang pun segera merubah posisi tidurnya menjadi duduk.

“Jangan tidur terlalu larut, kau bisa jatuh sakit kalau terlalu bekerja keras. Jangan lupa makan dan sering-sering olahraga di akhir pekan.”

“Berisik.” balas Wendy acuh tak acuh pada pria yang sedang melontarkan sederet kalimat perhatian itu, bahkan Wendy hanya berucap tanpa memandang orang yang berbicara kepadanya, fokusnya hanya kepada naskah yang harus ia kumpulkan besok –sebenarnya hari ini karena tanggal sudah berubah sejak pukul 00.00 tadi– kepada penulis Kim atasannya.

“Dasar jahat. Kalau begitu aku pulang dulu, Seungwan. Jaga dirimu baik-baik.”

Chanyeol terbangun tepat saat Wendy keluar dari rumahnya dengan sudah berpakaian rapi. Lelaki itu mengucek-ucek matanya pelan, lalu melirik jam tangannya. Sudah lewat pukul 8 pagi. Ah, harusnya aku tidak mabuk saat bertugas, batin Chanyeol merutuk diri karena pagi ini ia terlambat bangun.

Satu ketokan pelan di kaca mobilnya membuat Chanyeol dengan segera membuka kunci dan mempersilahkan Wendy masuk. Lelaki bermarga Park itu hanya cengar-cengir ketika mendapati Wendy sedikit menutup hidung karena aroma alkohol di badannya.

“Kau mabuk?” tanya Wendy sambil mendaratkan bokongnya di bangku penumpang. Tidak seperti kemarin-kemarin, Wendy sepertinya sudah terbiasa duduk di depan bersama Chanyeol. Yah, meski sudah seperti supir gadis itu karena selalu ikut kemanapun Wendy pergi, Chanyeol setidaknya tidak benar-benar terlihat seperti supir lagi karena gadis bermarga Son itu sudah memindah posisi duduknya menjadi di sebelah Chanyeol.

“Tidak, aku hanya minum sedikit. Sekarang mabukku juga sudah hilang. Oh, apa baunya begitu kentara?” tanya Chanyeol yang segera dihadiahi anggukan cepat dari Wendy. Aneh, gadis itu tidak terlalu cerewet seperti biasanya.

“Kau terlihat mengerikan saat baru bangun tidur ternyata Detektif Park.” Wendy lantas merogoh isi tasnya, lalu mengeluarkan sebuah kunci yang segera membuat Chanyeol melotot karena kaget. “Waktumu 10 menit untuk bersih-bersih. Kamar mandi ada di belokan sebelah kanan ruang tamu.” Ya, percaya atau tidak, Wendy baru saja menawarkan kunci rumahnya kepada Chanyeol.

Kesempatan masuk ke dalam rumah Wendy tentu saja tidak disia-siakan oleh Chanyeol. Sekarang ia berada sendirian di dalam rumah gadis itu karena Wendy lebih memilih menunggu di dalam mobil. Dan dibanding bersih-bersih, Chanyeol sepertinya lebih tertarik menggeledah rumah gadis yang berstasus sebagai saksi penting itu selama kurun waktu 10 menit yang diberikan Wendy.

Lantas Chanyeol dengan insting detektifnya segera mengedarkan pandang ke segala penjuru rumah Wendy. Ia segera menuju meja kerja Wendy, membuka laci meja itu dan mengeluarkan sebuah foto yang dalam keadaan terbalik di dalam sana dengan tangan yang sudah berlapis sarung tangan karet agar sidik jarinya tidak tertinggal.

Entahlah, Chanyeol juga bingung kenapa ia tertarik dengan foto itu. Dengan cepat Chanyeol memotret foto itu beberapa kali dan meletakkannya di tempat semula. Selesai dengan foto tadi dan beberapa foto lain yang terpajang di sana, Chanyeol pun segera beralih ke sudut rumah Wendy yang lain.

Chanyeol menuju dapur dan segera membuka laci persediaan bahan makanan Wendy lalu memotret isinya dengan cepat. Tidak lupa Chanyeol juga memotret semua seluk-beluk rumah gadis itu secara terperinci, lengkap dengan semua perabot dan isi lemari Wendy. Chanyeol lantas melirik jam tangannya, ternyata waktunya tinggal 3 menit lagi. Jadi dengan cepat Chanyeol segera menuju kamar tidur Wendy dan menggeledah ruang pribadi Wendy itu dengan hati-hati agar tidak meninggalkan bekas yang mungkin saja membuat Wendy curiga.

“Kenapa dia lama sekali?” dumel Wendy kepada dirinya sendiri, tepatnya kesal kepada Chanyeol namun berhubung polisi itu belum kembali ke mobil, Wendy hanya bisa bicara sendiri.

Tak sabaran lagi, Wendy pun hendak masuk ke dalam rumah dan mengecek sendiri apa yang sedang dilakukan Chanyeol hingga terlambat lebih dari satu menit batas waktu yang sudah ia tentukan. Namun saat si gadis hendak membuka pintu mobil, matanya malah menangkap sosok jangkung Chanyeol keluar dari dalam rumahnya dan tengah mengunci pintu sehingga niat awal Wendy masuk ke dalam rumah urung.

“Kau terlambat 1 menit 29 detik.”

Chanyeol hanya membulatkan mulutnya sembari menyerahkan kunci rumah gadis itu kepada sang pemilik. Wendy menatap memicing ke arah Chanyeol yang segera membuat detektif polisi itu mendengus. “Kau perhitungan sekali, itu bahkan tidak sampai dua menit.” balas Chanyeol sambil menghidupkan mesin mobilnya.

“Kenapa lama sekali, huh? Kau memangnya melakukan apa saja di kamar mandi? Konser?” Chanyeol kembali mendengus ketika mendengar amarah Wendy yang lebih mirip cerewet dimatanya. Lantas dengan santai Chanyeol menjawab omelan gadis itu. “Memangnya hanya wanita saja yang boleh lama di kamar mandi? Meski pria, aku ini juga butuh waktu untuk menggosok gigi, membasuh muka, mencuci rambut, dan juga buang air besar nona Son. Sebenarnya tadi aku berniat konser solo di kamaar mandi rumahmu, tapi karena mengingat nona rumahnya super galak jadi aku membatalkan konser solo ku itu. Asal kau tau, 11 menit 29 detik itu sudah sangat cepat!”

Wendy mendengus. “Dasar jorok.” kesal Wendy sambil membuang muka dari Chanyeol.

“Ah, terserahmu saja. Yang pasti, sekarang kau mau diantar kemana, huh?” balas Chanyeol tidak terlalu ambil pusing. Memangnya untuk apa dia menjaga image di depan Wendy? Begitu pikir Chanyeol.

“Antar aku ke gedung agensi.” jawab Wendy akhirnya, dan detik berikutnya kendaraan roda empat itu sudah melaju cepat di atas jalanan beraspal.

Hyung, aku sudah mengirim beberapa file ke email-mu. Bisa hyung cek kan? Aku tidak yakin, tapi entah kenapa instingku mengatakan bahwa ada yang aneh dari gadis itu dan isi rumahnya.”

Chanyeol menunggu beberapa detik sebelum akhirnya Lee Donghae —Ketua Divisinya—mengangguk dan setuju memeriksa data random yang dikirim Chanyeol.

“Bagaimana dengan file di kantor pos Busan kemarin?” 

Chanyeol menghembuskan nafasnya lelah. “Aku sudah meminta bantuan salah satu temanku di kejaksaan, dan semakin ke sini aku semakin yakin kalau gadis itu memang pembunuhnya hyung. Tapi entahlah, aku sendiri bimbang. Mungkin aku harus menunggu hasil penyelidikan lebih lengkap kantor kejaksaan itu hyung.” jawab Chanyeol sambil melirik ke dalam gedung agensi pencakar langit tempat Wendy—gadis yang ia maksud—sekarang berada.

“Baiklah, kalau begitu aku menungu berita baik darimu, Detektif Park.”

Setelah sedikit tersenyum dan menggumam tentu saja Ketua Lee, Chanyeol pun segera mematikan panggilan telfonnya. Chanyeol sedikit membuka isi laci dashboard mobilnya, menatap salinan file yang dimaksud atasannya itu. Kenapa semakin rumit? batin Chanyeol sambil mengacak rambutnya sendiri karena merasa frustasi.

Sebenarnya mau Wendy jujur atau tidak kalau dia itu memang Son Wendy yang Chanyeol kenal semasa SMA, Chanyeol sudah tau kalau gadis itu adalah benar orang yang sama. Chanyeol sudah tau sedikit latar belakang Wendy dari Jongdae yang menghubunginya beberapa jam yang lalu dan hasil penyelidkan sahabatnya itu membuat Chanyeol sedikit tercengang. Tapi Chanyeol tidak mau asal mengambil kesimpulan saja, ia masih harus menunggu kabar berikutnya dari Jongdae yang sudah berjanji akan menyelidiki lebih lanjut mengenai berkas yang diberikan Chanyeol kemarin padanya juga latar belakang keluarga Wendy.

“Aku ingin mempercayaimu, tapi semua buktinya mengarah kepadamu, Wen.” lirih Chanyeol sambil menutup kembali laci dashboard mobilnya. Lantas Chanyeol mengacak rambutnya lagi, lalu detik berikutnya ia menenggelamkan kepalanya di atas stir mobil. Dia butuh sedikit istirahat sekarang karena rasanya kepalanya ingin pecah saja.

Tok Tok.

Tapi Detektif Park itu sepertinya tidak pernah bisa istirahat kan?

Chanyeol segera mengangkat kepalanya dari atas stir dan dengan cepat menurunkan kaca mobilnya, sepertinya Wendy memang sangat suka datang sambil mengetuk kaca jendelanya.

“Kenapa?” tanya Chanyeol dengan tampang datar.

“Ayo makan siang.”

“Hah?” refleks, Chanyeol membuka mulutnya cukup lebar.

Tsk, aku bilang ayo makan siang.” ulang Wendy lagi sambil tersenyum kaku.

Sungguh, sebenarnya apa yang terjadi dengan Wendy hari ini? Chanyeol benar-benar bingung.

“Aku mau makan sushi.”

Tsk, kenapa harus sushi?” tanya balik Chanyeol sambil menyetir mobilnya. Sebenarnya itu hanya basa-basi saja karena toh nyatanya Chanyeol memang tengah mengarahkan mobilnya menuju restoran sushi.

“Ya karena suka saja. Aku suka ikan, dan aku suka sekali sushi.”

“Aku sangat suka ikan, dan aku ingin sekali makan sushi. Aku pernah makan sushi sewaktu masih kanak-kanak dan rasanya benar-benar luar biasa! Sejak itu aku sangat menyukai sushi. Sayangnya aku tidak punya cukup uang untuk memakan sushi.”

 

“Sushi ya?” ulang Chanyeol sambil tersenyum kecil karena merasa déjà vu. Tiba-tiba saja ia teringat Wendy adik kelasnya semasa SMA yang punya senyuman manis itu. Wendy yang ada di sebelah Chanyeol sekarang mengangguk dengan semangat sementara Chanyeol hanya melirik gadis itu sebentar. “Kau masih pecinta ikan, sayangnya kau tidak punya senyuman yang manis lagi karena kau lebih sering marah-marah dan mengomel tidak jelas. Kau tidak ceria seperti dulu tapi entah kenapa kau terlihat semakin cantik meski tidak pernah tersenyum dan hanya memasang ekspresi datar.” gumam Chanyeol dalam hati sambil tetap mencuri-curi pandang ke arah Wendy yang hari ini bersikap cukup bersahabat kepadanya.

“Tapi kau punya uang kan untuk bayar sushi?” Wendy menatap Chanyeol tajam dalam hitungan detik setelah Chanyeol mengucapkan pertanyaan itu.”Kau pikir aku ini begitu miskin dan tidak punya modal untuk makan siang? Cih.” dengus Wendy tanpa tau kalau Chanyeol hanya sedang menggodanya. Ya, Chanyeol masih sangat ingat bagaimana dulu Wendy merengek minta ditraktir makan sushi sepuasnya di akhir pekan di Mokpo. Tapi sekarang, jangankan merengek, gadis di sebelahnya itu bahkan mengaku tidak mengenal Chanyeol.

“Omong-omong kulihat kau sedikit ceria hari ini. Kau jadi banyak bicara Wen.” kata Chanyeol lagi sambil tetap fokus dengan kemudi mobil. Tak lama, satu dengusan kembali terdengar di telinga Chanyeol. “Aku tidak ceria, dan tolong jangan sok akrab kepadaku. Wen? Kapan aku mengijinkanmu menyingkat namaku seperti itu, huh?” Chanyeol menunggu lanjutan kalimat Wendy lagi. “Dan tolong jangan banyak bicara Detektif Park, fokus saja dengan stir mobilmu.”

Ah, harusnya Chanyeol tidak membuat sisi dingin dan arogan Wendy naik ke permukaan. Padahal sebelumnya Wendy bersikap cukup baik kepadanya, tapi sekarang Wendy kembali terlihat menjadi gadis menyebalkan yang pemarah.

“Kita sudah sampai.”

Akhirnya Wendy tidak membuang muka lagi setelah Chanyeol menghentikan mobilnya di depan restoran sushi. Gadis itu melepas sabuk pengamannya, lalu keluar dari dalam mobil. Namun melihat Chanyeol yang tidak kunjung keluar, Wendy segera memangku tangannya garang dan menatap laki-laki dengan pandangan memicing. “Kenapa kau tidak keluar?” tanyanya, membuat Chanyeol harus mengerjapkan matanya cepat karena gadis bermarga Son itu secara ajaib kembali berbicara kepadanya.

“Ah, bukankah aku hanya mengantarmu ke sini?” tanya Chanyeol bingung. Dia lantas menggaruk tengkuknya dengan posisi masih duduk di belakang kemudi. “Ku pikir kau mau makan dengan rekan kerjamu atau mungkin temanmu yang lain.” lanjut Chanyeol dengan canggung.

Wendy menghentakkan kakinya sekali ketika mendengar kalimat memuakkan itu keluar dari Chanyeol. “Aku tidak memintamu mengantarku, tadi aku mengatakan ayo makan siang, jadi aku ini sedang mengajakmu makan siang bukan menyuruhmu menjadi supir pribadiku. Paham tidak sih Detektif Park yang pandai?” sarkas Wendy sambil tetap memangku tangannya. Namun melihat Chanyeol yang masih mengerjapkan mata bingung di tempat akhirnya membuat gadis itu lagi-lagi mendengus.

“Baiklah, temani aku makan siang, boleh?” pinta Wendy akhirnya menyerah.

“Jangan salah paham. Aku mengajakmu makan siang karena ini jam makan siang dan aku tidak mau repot karena harus mengurusmu yang nanti jatuh sakit karena tidak makan.” ucap Wendy lantang sembari berjalan di sebelah Detektif Park itu.

“Sebenarnya aku bisa makan siang di tempat lain sembari menunggumu selesai makan sushi.” racau Chanyeol pelan namun Wendy masih bisa mendengarnya. Untung saja Chanyeol menghadap ke depan, kalau tidak Wendy mungkin sudah malu setengah mati karena wajah Wendy sekarang benar-benar memerah seperti kepiting rebus.

Dengan kaku keduanya berjalan santai memasuki restoran sushi itu. Keduanya memilih duduk di sebuah meja kayu yang menghadap ke jendela dengan cukup canggung. Setelah memesan sushi mereka masing-masing, keduanya kembali saling membuang muka, tidak tau harus berbicara apa.

“Errr, tempat ini bagus. Aku pernah beberapa kali makan sushi disini bersama beberapa temanku.” Chanyeol membuka suara pertama kali yang segera dijawab antusias oleh Wendy, tidak seperti biasanya. “Benarkah? Aku belum pernah ke restoran sushi yang ini.” kelakar gadis itu.

“Pasti benar, kan aku sudah mencobanya dengan lidahku sendiri.” balas Chanyeol dengan cukup bersemangat. “Apalagi daging ikan salmon di sini, kau harus mencobanya. Itu benar-benar recommended. Pokoknya rasanya jjang sekali.” lanjut Chanyeol sambil menunjukkan kedua jari jempolnya ke pada Wendy.

“Tapi Detektif Park—“

“—Panggil Chanyeol saja. Aku tidak setua itu.” Wendy tersenyum samar, lalu segera mengoreksi kalimatnya sendiri.

“Chanyeol-ssi, aku sedari tadi hanya mengajakmu makan sushi. Tapi, kau tidak alergi dengan ikan kan?”

“Ayolah sunbae, kau kan baik hati dan tidak sombong. Cepat traktir aku sushi akhir pekan ini~”

“Mentraktirmu? Ayolah, aku ini alergi ikan. Untuk apa aku ke tempat sushi?”

 

Chanyeol lantas tersenyum mendengar pertanyaan Wendy, seperti ingat kebohongan lama yang sudah ia buat semasa SMA. “Aku tidak alergi ikan, tenang saja. Aku bisa makan sushi, jangan khawatir.” jawab Chanyeol kemudian sambil menebak-nebak bagaimana reaksi Wendy.

“A—ah, benarkah? Itu bagus.” Chanyeol menyadari sesuatu. Wendy baru saja membulatkan matanya kaget karena ia mengaku tidak alergi ikan. Bahkan kalimat Wendy barusan seperti tergagap. Chanyeol lantas menyunggingkan senyum tipisnya.

“Wen, sebenarnya ada yang ingin aku—“

“—Asisten penulis naskah Son Wendy?”

Chanyeol menghentikan kalimatnya yang terpotong tiba-tiba karena sapaan mendadak itu. Lantas ia mengikuti pergerakan Wendy yang menatap seorang pria berjas lengkap dan rambut sedikit beruban yang entah sejak kapan sudah berdiri di sebelah meja mereka. “Ah, sutradara Song. Anyeonghaseyo.” ucap Wendy sambil bangkit dari duduknya dan sedikit membungkuk, hal yang tentu saja membuat Chanyeol segera ikut berdiri dengan kikuk dan membungkuk hormat.

Sutradara Song sedikit tertawa melihat kelakuan dua orang di depannya. Melihat betapa kikuk kedua orang itu setelah kedatangannya, sang sutradara pun berniat sedikit menggoda Wendy. “Kau sedang kencan dengan pacarmu?” tanyanya dengan santai yang segera membuat Wendy maupun Chanyeol membulatkan mata.

“A—ah, tidak. Sutradara Song, dia ini—“

“—Anyeonghaseyo, sepertinya aku terlambat memperkenalkan diri Sutradara Song. Saya Park Chanyeol, Detektif Polisi yang bertugas menjaga saksi Son Wendy.” Chanyeol dengan cepat mengambil alih pembicaraan dan memperkenalkan dirinya sehingga Wendy dapat bernafas lega. Sutradara Song nampak kaget karena pemuda di depannya ternyata seorang polisi —dia memang tau kalau Wendy menjadi saksi kasus pembunuhan dan dijaga oleh seorang detektif polisi, tapi Sutradara Song tidak tau rupa polisi yang menjaga Wendy. Alhasil, Sutradara berumur 50 tahunan itu hanya mengangguk dan tertawa kecil.

“Ah, begitu rupanya? Padahal tadi kupikir kalian berdua sepasang kekasih.” tawa sutradara Song lagi yang membuat pipi Wendy maupun Chanyeol kembali bersemu merah. “Sudah, jangan terlalu formal padaku.” lanjut Sutradara Song sambil menepuk bahu Chanyeol pelan.

“Omong-omong, apa kalian sedang membicarakan kasus itu?” tanya Sutradara Song lagi dengan penasaran yang segera membuat Chanyeol menggeleng dengan cepat. “Tidak, kami hanya makan siang biasa.” jelas Detektif Park itu.

“Benarkah? Kalau begitu kalian tidak keberatan kan kalau kami bergabung makan di sini? Sebenarnya aku tidak ingin mengganggu kalian berdua, tapi semua meja disini penuh.” pinta Sutradara itu kemudian yang segera membuat Wendy melirik Chanyeol yang kemudian mengangguk dengan cepat.

Gwenchana Sutradara Song, silahkan bergabung dengan kami.” ucap Wendy kemudian sambil menyunggingkan senyum di bibirnya. Memang semua meja di restoran itu penuh dan hanya meja mereka berdua yang masih tersisa 4 kursi karena mereka mengambil tempat dengan kuota 6 kursi.

“Ah, bagus kalau begitu.” senyum Sutdrara Song, lalu segera berbalik dan nampak melambaikan tangannya ke arah deretan orang yang berbaris menunggu antrian—karena restoran penuh— di pintu masuk.

“Produser Kang, Penulis Kim, kemari.” ucap Sutrada Song pelan—karena tidak mungkin dia berteriak sesuka hati di restoran—sambil melambai-lambaikan tangan ke arah deretan orang yang berbaris. Wendy melirik ke arah orang yang berbaris, dan hanya mengangguk-anggukkan kepalanya kecil ketika tau kalau ternyata Sutradara Song datang ke restoran ini bersama para petinggi di belakang layar drama ‘Surrounded’ yang sedang diproduksi.

“Ah, terima kasih.” ucap Chanyeol dan Wendy serentak saat seorang pelayan meletakkan pesanan mereka di atas meja.

“Kita punya tempat duduk, haha. Lihat, asisten penulis Son sepertinya sengaja meninggalkan empat bangku kosong di mejanya.” kata Sutradara Song setengah bercanda kepada dua orang yang sudah ada di depannya.

“Ah, anyeonghaseyo Produser Kang, Penulis Kim.” sapa Wendy sedang Chanyeol hanya membungkuk sedikit dan mulai menyantap satu sushi di piringnya karena sudah kelaparan.

Mereka bertiga lantas mengisu bangku kosong yang ada di meja Chanyeol dan Wendy. “Apa Wakil Presdir belum datang?” tanya Sutradara Song yang sekarang duduk berjarak satu bangku kosong dengan Wendy. “Ah, tadi dia pamit ke toilet sebentar.” jawab penulis Kim sambil tersenyum.

“Ah, itu dia datang.” lanjut penulis Kim sambil menunjuk seseorang berjas hitam yang sedang melambai ke arahnya.

“Ah, maafkan aku karena terlambat. Kalian sudah memesan? Oh, dapat kursi darimana?” pria muda berjas hitam yang baru saja sampai di meja itu segera duduk di salah satu bangku kosong yang masih bersisa, bangku yang ada di sebelah Wendy.

“Ini bangku yang bersisa di meja staff kru drama yang kebetulan sedang makan siang di sini, tidak apa-apa kan Wakil Presdir Byun?” jawab Sutradara Song sambil tersenyum tipis.

“Astaga, gwenchana, justru itu jauh lebih bagus daripada mengantri hingga pegal di sana. Oh, omong-omong terima kasih sudah mengijinkan kami duduk di—“

Wakil Presdir Byun itu menghentikan kalimatnya karena cukup kaget saat tau siapa orang yang duduk di sebelahnya, terlebih saat sadar siapa pemuda yang duduk di depan gadis itu.

“Wakil Presdir Byun, gadis di sebelah anda itu adalah asisten penulis naskah, nona Son—“

“—Wendy? Oh astaga, aku tidak tau kalau Korea Selatan sesempit ini. Sekarang kau di Seoul, huh?” Ketiga orang tua di sana membulatkan mata kaget karena ternyata Wakil Presdir yang berinvestasi dalam drama yang mereka produksi itu mengenal asisten penulis naskah mereka.

Wendy mengangguk pelan sambil tetap memakan sushi-nya, sedang Chanyeol kini menatap Wakil Presdir Byun itu dengan pandangan tidak percaya dan kaget luar biasa.

“Kalian saling mengenal?” tanya Produser Kang penasaran yang segera dijawab dengan anggukan cepat dari Wakil Presdir itu.

“Oh tentu saja kami saling mengenal. Dan kau, ya! Park Chanyeol, kenapa diam saja, huh? Kau tidak mau lagi menyapaku?”

Merasa terpanggil, Chanyeol pun segera mengalihkan atensinya dari piring sushi yang tengah ia santap, lalu menatap Wakil Presdir itu dengan canggung. “Ah, anyeonghaseyo, Byun Baekhyun-ssi.”

Suasana hening memuhi meja beriskan 6 orang itu. Entah kenapa suasana benar-benar mejadi canggung karena Wendy, Baekhyun dan Chanyeol dipertemukan di tempat yang sama, terlebih harus di sebuah meja yang sama.

Baekhyun menatap Chanyeol yang asyik menyantap sushi sambil membuang muka ke arah jendela, terksesan menghindar dari kemungkinan bersitatap dengan Baekhyun yang ternyata adalah seorang investor di drama yang tengah digarap tim produksi tempat Wendy bekerja itu.

Lantas Baekhyun melirik Wendy yang nampak menundukkan kepalanya dalam-dalam sambil menyantap sushi. Satu helaan nafas panjang pun dikeluarkan oleh pemuda Byun itu. Hei, memangnya kenapa mereka harus canggung?

“Kabarmu baik, Son Wendy?” tanya Baekhyun akhirnya sambil meletakkan sumpitnya, merasa kenyang karena suasana hening yang ada di meja itu.

Ne, sa—saya baik Wakil Presdir Byun Baekhyun.” jawab Wendy begitu formal dan kaku yang lantas membuat Baekhyun tertawa kecil. Lelaki bermarga Byun itu lantas meletakkan tangannya di kepala Wendy, mengacak surai kecoklatan gadis itu pelan.

“Kenapa tegang begitu, huh? Jangan memanggilku seperti kita adalah orang asing Wen-ah. Itu menyebalkan, seperti seseorang di sana.” Chanyeol sama sekali tidak menggubris sindiran Baekhyun kepadanya, lelaki bermarga Park itu malah tidak memalingkan mukanya sama sekali dari aksi menatap kosong kaca jendela restoran itu.

“Kalian saling mengenal dengan baik?” tanya Sutradara Song penasaran karena Baekhyun yang nampak bercanda akrab dengan Wendy—meski sebenarnya Wendy agak sedikit risih dengan tangan Baekhyun yang bermain di rambutnya.

“Oh, tentu saja. Wendy adik kelasku saat SMA, dan juga dia—“

Grep!

Baekhyun merangkul Wendy dengan cepat hingga sumpit gadis itu terjatuh sakin kagetnya. “Dia mantan pacarku, hahaha..” tawa Baekhyun yang segera membuat ketiga pempin produksi drama itu membulatkan mata kaget. Mereka bertiga segera menatap Wendy dengan pandangan bertanya agar Wendy segera menjelaskan hubungannya dengan Wakil Presdir itu.

“Ah, kami sudah putus saat SMA, hanya kisah lama, haha..” ucap Wendy dengan canggung dan tawa yang terkesan dipaksakan. Gadis itu pun dengan cepat menurunkan tangan Baekhyun yang merangkul bahunya dan segera menunduk untuk mengambil sumpitnya yang terjatuh.

“Pakai punyaku saja, punyamu sudah kotor. Maaf merangkulmu tiba-tiba.” kata Baekhyun sambil mengganti sumpit di tangan Wendy dengan sumpit sushi-nya yang masih bersih karena belum dipakai sama sekali. Baekhyun bahkan tidak menyentuh sushi ikan salmon di piringnya.

“Terima kasih sunbae, “ jawab Wendy kaku dan mulai memakan sushi-nya lagi. Tiba-tiba saja Baekhyun mendorong piring sushi-nya ke arah Wendy. “Makanlah, aku sudah kenyang dan sepertinya sushi ini mau menangis saja kalau tidak ada yang memakannya. Kau masih suka ikan salmon seperti dulu kan?” ucapnya lagi sambil menyunggingkan senyum lebar yang seketika membuat mata Wendy melebar.

“Ah, aku—“

Trakk!

Atensi lima orang di meja itu segera teralih ke arah Chanyeol yang tiba-tiba saja meletakkan sumpitnya dengan sedikit menghentak ke atas meja. Lelaki bermarga Park itu lantas berdiri dari duduknya dan sedikit membungkuk kecil. “Maaf, saya ke toilet sebentar,” pamitnya.

Wendy menatap Chanyeol dengan sedikit rasa bersalah, sementara kini Baekhyun menatap teman lamanya itu sambil sedikit berdecak.

Kajima.” ucap Baekhyun tiba-tiba.

Kajima. Jangan pergi ke toilet Chanyeol.” lanjutnya sambil menatap langsung ke arah mata Chanyeol. Keduanya berpandangan intens sebelum akhirnya Chanyeol yang pertama kali memutus kontak mata keduanya setelah beberapa tahun tidak bertemu itu.

“Maaf Wakil Presdir Byun Baekhyun, tapi saya harus—“

Kajima! Ku bilang tetap di sini dan tatap aku!” suara Baekhyun naik satu oktaf, membuat semua orang di meja itu membulatkan mata kaget karena teriakan Baekhyun, pun beberapa orang di restoran mulai menaruh atensi kepada pemuda Byun yang berteriak cukup keras beberapa detik yang lalu.

Mendengar teriakan Baekhyun, Chanyeol akhirnya berkacak pinggang sebentar sambil terkekeh pelan. Lantas Chanyeol menundukkan badannya, menumpu kedua telapak tangannya di atas meja, lalu menyejajarkan pandangannya dengan Baekhyun, menatap lelaki Byun itu dengan tajam.

“Memangnya apa hakmu, Byun?” sarkas Chanyeol tidak mau kalah.

“Kau kekanak-kanakan Chanyeol. Apa kau benar-benar membenciku, huh? Kau membuatku seperti orang asing dan itu membuatku tidak nyaman!”

“Aku mau ke toilet.” bukannya menggubris Baekhyun, Chanyeol malah mulai menegakkan posisinya dan berniat pergi dari meja itu.

“CHANYEOL!” teriak Baekhyun lagi hingga Chanyeol terpaksa harus menghentikan langkahnya. Pemuda Park itu lantas berbalik menghadap teman lamanya itu. “Apalagi?” tanya Chanyeol tidak suka. Bahkan sekarang ia menatap Baekhyun dengan sangat tajam.

“Duduklah, kita perlu bicara. Jangan mencoba kabur atau aku akan membunuhmu Chanyeol. Dengar, kita harus menyelesaikan masalah sialan itu sekarang. Suka atau tidak suka, kau harus duduk dan membiarkanku menjelaskan semuanya Titik. Aku tidak menerima penolakan.”

To Be Continued

Iklan

10 pemikiran pada “Surrounded! (Chapter 04) – Shaekiran

  1. Ping balik: Surrounded! (Chapter 05) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  2. jangan lama lama ya posting next episode nya. keren bgt ceritanya. udah keburu penasaran apalagi biasku udah keluar… so please butuan postingnyaa . jeballl….

  3. Uhhhh hidup wendy tuh barokah bangey sih..
    Dikelilingi dengan bnyam cogan ya Lord bkin aing iriiii skallleee😂. #abaikan
    .
    Penasaran banget smpah, ffnya eki mah selalu dabess banget😍
    Next ekii😊

  4. Woo cowok misteriusnya bkan baekhyun yaa, apa jngan” jinwoo?? Ato jngan” adik cowoknya wendy?? Aaaaaa penasaran :’ kpan update lgi eki?
    Pnasaran bgt, knpa jga baekhyun ama chanyeol jdi kek gtu? Bneran cinta segitiga kan??
    Apa aj yg dtemui chanyeol d rumah wendy? Gelas bkas kopi kah??
    Next next neexxtt >.<
    fighting eki!!! :*

  5. Akhirnga update juga nih ff udah lama nunggunya loh thor.
    Siapa laki-laki yang ada dirumah wendy apa dia pembunuh yang dicari-cari chanyeol ? Masa iya wendy yang pembunuh sih.
    Akhirnya wendy, chanyeol dan baekhyun ketemu juga dengan cara tak terduga, masalah apa yang harus diselesaikan oleh baekhyun ya ? Ditunggu kelanjutan nya thor.

  6. Readers baru thor~~ baru komen disini,, maaf kan saya yah thor,. Maaf
    Aku slalu dibikin ketagihan sama ff krya mu thor,. Keren. .
    Pnasaran nih,
    Sbnernya masalah apa yah yg trjdi antara baek, cy n wendy d Msa SMA ny?

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s