GAME OVER – Lv. 4 [Wild Rose] — IRISH

G    A   M   E       O   V   E   R

‘ Baekhyun x Jiho (known as HongJoo) ’

‘ AU x Adventure x Fantasy x Romance x Science Fiction ’

‘ Chapterred x Teenagers ’

‘ prompt from EXO`s — Can`t Bring Me Down & EXO CBX`s — Crush U

Game Level(s):

ForewordPrologue A SidePrologue B Side — Level 1 — Level 2 Level 3 — [PLAYING] Level 4

In the despair, deeply locked in the ocean, the red moon

2017 © GAME OVER created by IRISH

♫ ♪ ♫ ♪

Level 4 — Wild Rose

In Jiho’s Eyes…

Berdiam, adalah satu-satunya hal yang bisa kulakukan saat aku menunggu battle1 antara Baek-Hyun dan empat Country2 yang terjebak dalam lapisan plasma miliknya selesai. Aku tidak tahu weapon jenis apa yang sekarang ia gunakan untuk mengurungku, tapi yang jelas aku menjadi buta dan tuli pada semua hal.

Aku tidak bisa mengakses global chatting3, tidak juga bisa mengirimkan pesan pada player yang ada di dalam list pertemananku. Satu-satunya yang bisa kukirimi pesan hanyalah Baek-Hyun.

Tapi untuk apa aku mengirimkan pesan padanya di saat seperti ini? Diam adalah jalan keluar terbaik, bukan?

SRASH!

Argh!” kulihat Royal Thrope akhirnya ambruk.

Sekon itu aku sadar, bahwa hampir semua player dari empat Country yang menyerangnya, sudah dilumpuhkan oleh Baek-Hyun. Apa dia memang sehebat itu? Atau tingkat levelnya berpengaruh pada kemampuan battlenya juga?

Jika bukan kedua alasan itu, lantas bagaimana bisa ia memainkan weaponnya dengan begitu sempurna di dalam survival mode4?

Atensiku kembali beralih saat lapisan plasma berwarna hijau yang melingkupi tubuhku menghilang. Sekarang, saat aku bisa mengakses seluruh mode, kusadari serverku menjadi overload. Terbukti dengn bagaimana sulitnya aku berkonsentrasi dan menaruh fokus pada battle yang terjadi di depanku.

Urgh!” tatapanku seketika melebar ketika kudengar suara lantang di dekatku, begitu dekatnya hingga bisa kudengar bagaimana sound effect WorldWare menciptakan suara berkemeretak patah—yang mungkin bisa kami anggap sebagai patahnya tulang—dari player yang baru saja terhempas ke sebelahku.

Kini pandangku dan Baek-Hyun bertemu. Melihat aku sudah tidak terlindungi perisainya, segera ia merajut langkah—hal yang membuatku terhuyung mundur dan waspada—sementara beberapa player di dekat kami kembali melancarkan serangan pada Baek-Hyun.

Ministry swordku terayun, tapi gelengan samar Baek-Hyun tunjukkan, menyadarkanku kalau aku tidak boleh sedikit pun membantunya di dalam battle ini. Dalam satu sekon—yang begitu cepat—Baek-Hyun mengayunkan salah satu amulet5 berbentuk cambuk ke sekitarnya, dan empat player yang tadi sempat mengikis jarak dengannya, terhempas.

Aku membeku ketika Baek-Hyun berdiri di hadapanku, tangan kirinya terulur dan setangkai mawar berwarna merah muncul dari sela jemari pucatnya.

“Apa kau tahu arti dari Wild Rose6 ini?” Baekhyun bertanya, tidak di dalam pesan pribadi, tapi ia mengucapkannya di percakapan global.

Seketika, global chat meledak. Puluhan percakapan masuk ke dalam pendengaranku, tidak semuanya bisa kudengar dengan jelas karena overload yang menyerangku setelah plasma pelindung Baek-Hyun hilang tadi rupanya mengacak-acak koneksiku pada survival mode.

“Apa itu?”

“Wild Rose? Bukankah benda itu diberikan oleh seorang player pada player lain sebagai tanda bahwa ia akan mengikat janji pernikahan dengan player tersebut?”

“Apa-apaan ini? Apa HongJoo dari Enterprise mengenal Invisible Black?”

Mengabaikan keterkejutan sesaatku karena melihat Wild Rose itu, jemariku justru bergerak melawan logika yang ingin mendominasi. Seolah terhipnotis, jemariku bergerak meraih mawar merah tersebut, meski kudapati jariku berdarah karena duri dari tangkainya.

“Maaf. Aku harus membersihkan tempat ini.” sekon kemudian kudengar Baek-Hyun berucap di percakapan global. Semua orang mendengarnya. Semua orang tahu ia mengucapkan kata maaf padaku dan—

Akh!” aku tersentak saat rasa sakit menyerangku, tangan kiriku sekarang telah menggenggam mawar merah yang Baek-Hyun ulurkan sementara pandanganku mengelana mencari sumber rasa sakit di tubuhku.

Dengan tangan kanannya, Baek-Hyun tengah menancapkan hades sword miliknya ke tubuhku. Aneh. Aku tidak seharusnya merasakan rasa sesak seperti ini di dalam survival mode.

Bisa kulihat bagaimana health barku7 turun mengikuti gerakan tangan Baek-Hyun. Satu sekon sebelum tubuhku ambruk, Baek-Hyun mengambil Wild Rose yang ada di tanganku, dan membiarkanku terjatuh ke tanah.

Dia membunuhku. Dia benar-benar membunuhku.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Sudah lima hari berlalu sejak battle antara Enterprise dan Baek-Hyun, tapi aku masih enggan untuk muncul di dalam server. Bahkan, untuk memeriksa percakapan global, atau sedikit memperhatikan pengumuman di server saja aku enggan.

Mengetikkan ID dan passwordku saja aku tidak ingin.

Taehyung menilainya sebagai rasa malu karena sudah kalah dengan cara yang memalukan—karena ia ternyata menonton battle itu dan tahu benar bagaimana aku terkurung di dalam lapisan plasma sebagai seorang sandera dan terkena freeze8 saat lapisan plasma tersebut menghilang. Kemudian tanpa perlawanan apapun aku mati di tangan Baek-Hyun dalam jarak terlampau dekat.

“Makanlah dulu, Jiho-ya. Kau akan sakit jika terus berdiam diri seperti itu.” Ashley—saudara tiri Taehyung—berucap. Well, ia juga salah satu pemain di WorldWare dan tentu tahu apa yang sudah terjadi tempo hari.

“Dia membunuhku, Ash.” aku berucap.

Ashley—gadis berambut cokelat sepanjang punggung itu—mengedikkan bahunya acuh, sementara ia menjatuhkan tubuh di kursi kosong yang ada di sebelahku, melirik ke arah Taehyung yang berdiri di pantry sebelum ia buka suara.

“Kau bagian dari Enterprise, tentu dia harus membunuhmu. Jangan katakan kalau kau berpikir macam-macam karena dia memberimu Wild Rose?” Taehyung terkekeh.

Hey, kau tidak tahu apa yang anggotaku katakan? PK9 pada HongJoo adalah yang paling dramatis. Hampir seperti drama Romeo-Juliet.” Ashley berusaha membela diri.

“Jangan bercanda, memangnya kau pikir kami sedang berperang atau apa?” aku berkeras, heran sekali bagaimana aku tidak sadar kalau Ashley dan Countrynya—House of Zeus—bisa menjadi penonton battle sengit itu.

“Sungguh, Jiho. Kau tahu, aku merekam turbulence10 itu, dan aku sungguh terkejut melihat bagaimana Invisible Black bisa menyerang player yang mengelilinginya sementara ia fokus padamu.

“Dan kau tahu apa? Aku hampir saja menangis saat melihat bagaimana ia memberikanmu Wild Rose dengan tangan kiri sementara tangan kanannya membunuhmu. Yang dia lakukan benar-benar seperti drama! Wah, aku bisa katakan aku salah seorang fansnya sekarang.”

Aku mendesah pelan. “Kau lagi-lagi mengingatkanku kalau dia membunuhku.”

Ashley terkekeh sebelum ia melanjutkan. “Tapi sungguh, apa hanya aku yang merasa jika Insivible Black sudah memikirkan cara untuk menyerangmu dengan cara yang paling mematikan tapi tidak menyakitkan?”

Aku menatap Ashley tidak mengerti. “Apa maksudmu?” tanyaku membuatnya membulatkan mata, ia bahkan memasang raut bak seorang pembawa berita internasional sekarang.

Hades sword adalah senjata paling langka, Jiho-ya. Hades sword hanya bisa digunakan untuk PK jarak dekat karena memiliki rasa sakit paling minimal.” Ashley menjelaskan.

“Tapi tetap saja dia membunuhku.” aku masih berkeras. Fakta bahwa Baek-Hyun membunuhku tidak akan menghapus kejadian ‘keren’ manapun yang orang-orang mungkin pikirkan dan ingat tentang diriku dan Baek-Hyun saat ini.

Dia sudah membunuhku. Mengingatnya saja sudah membuatku sanggup untuk merasa sangat kesal pada Baek-Hyun padahal tidak sepantasnya aku merasa kesal kepadanya.

“Memangnya apa yang kau harapkan? Ia tidak membunuhmu dan mengajakmu berkenalan lalu dia akan memintamu menjadi rekannya kemudian dia benar-benar memberikan Wild Rose padamu dan mengajakmu menikah dengannya dalam permainan? Jangan bercanda!” kini Taehyung bersuara, menuduhkan hal-hal tidak masuk akal padaku dan membuat rasa kesal kembali mendominasi.

“Ya, aku berharap begitu tapi ia mengecewakanku. Terima kasih atas pendapat luar biasamu, Kim Taehyung. Ash, aku ke kamar dulu. Berlama-lama berada di dekat Taehyung bisa merusak kontrol emosiku.” tidak menunggu waktu aku akhirnya melangkah pergi meninggalkan Ashley dan Taehyung yang sekarang saling menyalahkan.

Sempat kudengar bagaimana Ashley mengomel tentang Taehyung yang menyinggungku sementara Taehyung menuduh Ashley sebagai sosok yang membuatku berharap terlalu tinggi.

Ugh, keduanya sama-sama tidak membantu.

BRAK!

Tanpa sadar aku membanting pintu kamar, menguncinya sementara tatapanku tertuju pada tabung berwarna hitam yang ada di sebelah tempat tidur kecil di ruang sempit yang selalu kusebut sebagai kamar ini.

Haruskah aku online? Kurasa, ya. Terlalu lama menghilang juga akan menimbulkan pertanyaan di Countryku. Kupikir, Ashley bukan satu-satunya orang yang merekam turbulence kemarin, dan tentu saja Royal Thrope pasti sudah melihat bagaimana Baek-Hyun membunuhku di akhir.

Aku ingat Baek-Hyun memintaku—ralat, memerintahku—untuk segera online ketika aku terlogout otomatis saat kalah dalam turbulence. Tapi aku tidak melakukannya, secara otomatis… wajar saja bagiku untuk berpikir tentang kemungkinan bahwa ia mencariku, bukan?

Benar, online bukanlah keputusan yang salah saat ini.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Tidak banyak anggota Countryku online, dan kudapati fakta bahwa aku melewatkan sebuah turbulence malam tadi. Tantangan Baek-Hyun pada Clown dan Womanizer masih ada—tantangan untuk turbulence semalam—dan belum terlihat ada tantangan lainnya.

Aku menghabiskan waktu untuk menyibukkan diri dengan melakukan PK-PK kecil dan menaikkan level sedikit demi sedikit—meski sekarang PK tidak akan berarti banyak karena aku sudah menyelesaikan tiap stage di level normal dan hardnya untuk menaikkan levelku, dulu.

Human wealthku tidak dalam kondisi yang baik, karena pada kenyataannya keadaanku memang sedang tidak sehat. Mungkin Ashley benar, stres yang kuhadapi selama lima hari ini berpengaruh cukup besar di dalam survival mode.

“HongJoo.” aku baru saja akan masuk ke dalam sebuah PK lain ketika sebuah suara terdengar menyapa. Saat kualihkan pandangan, kulihat Baek-Hyun berdiri tidak jauh dariku.

“Mengapa kau menghilang?” pertanyaannya menyambut. Setelah aku dengan sengaja mengabaikan pesan yang ia kirim dan sengaja juga kutahan diriku untuk tidak merasa penasaran dengan maksud dari pesannya.

Aku tidak online dengan harapan akan bertemu dengannya, sungguh—ya walaupun sebagian kecil hatiku berharap begitu—tapi tidak kusangka secepat ini dia akan menemukanku.

“HongJoo-ssi?” lagi-lagi ia memanggil.

Aku akhirnya menghembuskan nafas panjang, menatapnya sementara sekuat tenaga aku menahan keinginan untuk menyerangnya demi meluapkan rasa kesal.

“Kau membunuhku.”

Aku akhirnya berucap. Mendengar perkataanku—yang mungkin terdengar sangat konyol bagi Baek-Hyun—membuatnya berhasil memunculkan sebuah senyum samar di—ugh, apa dia tidak bisa untuk tidak memamerkan wajah sempurnanya itu? Tersenyum padaku dengan wajah sempurna itu tidak akan mengubah apapun, sungguh.

“Aku tak punya pilihan.”

“Kau bisa saja membiarkanku dieliminasi.” lagi-lagi aku membantah, meski sebenarnya jika aku kemarin menyerang White Lion, aku akan teriliminasi dengan sangat kentara.

“Apa kau melihat jalan yang lebih baik?” ia balik bertanya.

Tidak ada, memang. Tapi aku tidak mau kalah. “Kau bisa saja bertarung melawanku. Mengapa kau membuatnya terlihat jadi begitu dramatis?” tuturku tidak terima, mengingat bagaimana Ashley menilainya, aku sungguh merasa tersinggung.

“Aku tak punya pilihan lain, HongJoo-ssi.”

“Tapi kau membunuhku!” tanpa sadar suaraku meninggi, kurasa sudah lima hari ini aku menahan diri dari rasa malu dan marah karena perbuatan pemuda ini tempo hari.

Baek-Hyun, terdiam sejenak sebelum ia akhirnya mengangkat bahu acuh. “Kukatakan aku akan bertanggung jawab atas levelmu yang hilang. Aku menunggumu setelah turbulence berakhir tapi kau tidak muncul.”

“Kenapa aku harus muncul?” pertanyaanku kini membuatnya terdiam.

Ia mengangguk pelan dan lantas buka suara. “Benar, kau tidak harus muncul. Tapi setidaknya biarkan aku bertanggung jawab atas perbuatanku.”

“Bagaimana kau akan bertanggung jawab?” kini tanpa ragu aku melangkah ke arahnya, menantang.

Baek-Hyun bergeming. Ditatapnya aku seolah luapan emosi yang sekarang kulakukan padanya adalah hal tidak masuk akal yang seharusnya tidak kulakukan, mengingat kami ada di dalam game dan seharusnya semua hal dipikirkan dengan logis. Tapi aku tak mau berpikir logis, aku kesal. Jadi, kuputuskan untuk kembali memojokkannya.

“Kutanya padamu, bagaimana kau akan bertanggung jawab? Tidak pernah ada player yang bisa membantu player lain menaikkan levelnya. Lalu bagaimana kau akan melakukannya? Benar, kau seorang player master, tidak butuh waktu lama bagimu untuk menaikkan levelmu.

“Tapi bagaimana denganku? Bagaimana dengan player sepertiku? Karena keterbatasanku aku butuh waktu hampir satu bulan untuk menaikkan satu level. Lalu bagaimana kau akan bertanggung jawab?” tanyaku menuntut.

Sejenak, Baek-Hyun terdiam. Sekon kemudian dia menghembuskan nafas panjang dan buka mulut, menyahuti kemarahan tidak logis yang kuluapkan.

“Setidaknya aku tahu satu cara yang efektif, HongJoo-ssi. Lagipula, seharusnya aku tidak memiliki beban untuk mengembalikan levelmu, karena kau adalah bagian dari Enterprise. Aku ingin membantumu karena kupikir kau layak mendapatkan bantuan.”

“Layak mendapat bantuan atau karena kau merasa kasihan?” aku berucap.

“Untuk apa aku merasa kasihan padamu? Kau tidak pantas dikasihani karena aku tahu kau tidak ingin dikasihani.”

Kali ini aku terdiam. Memang, aku merasa malu karena ia sudah mempermalukanku, aku juga merasa marah karena ia telah mengacaukan rank milikku.

“Lupakan saja, kalau begitu. Kita juga tidak saling mengenal, mari kita jalani saja kehidupan masing-masing seperti biasanya. Kau dan kemisteriusanmu, dan aku dengan kehidupanku.” aku berbalik, merasa enggan untuk terus berdebat dengannya karena kuketahui aku tidak akan mendapatkan keuntungan apapun.

“Tapi kau sudah menarik perhatianku. Bagaimana aku bisa hidup invisible jika seseorang telah mengusik perhatianku?” langkahku terhenti saat mendengar Baek-Hyun bicara, sontak kubalikkan tubuhku, menatapnya tidak mengerti.

Apa yang ia maksud dengan tertarik? Apa di matanya aku seorang pemain yang ‘berbeda’ atau apa? Jangan bercanda.

“Kau merasa tertarik padaku karena aku menawarkan bantuan padamu tempo hari? Jangan salah sangka. Tawaran itu kulakukan karena kupikir aku bisa tahu bagaimana profilmu, karena kau misterius. Tidak lebih.”

Baek-Hyun tersenyum tipis.

“Aku tahu kau menawarkan bantuan padaku karena merasa penasaran. Saat itu, puluhan player juga menawarkan bantuan serupa, tapi aku memilihmu. Aku memilihmu… karena aku merasa tertarik padamu, HongJoo-ssi.”

Aku menatap Baek-Hyun, mencari-cari kebohongan dalam manik kelamnya, kebohongan yang tidak mungkin bisa kutemukan karena kami tidak sedang bicara dalam kehidupan normal melainkan melalui game. Sulit untuk membedakan kebohongan, bukan?

“Tertarik padaku? Mengapa? Aku tidak cantik, rankku juga buruk, aku tidak punya history yang bagus, dan aku tidak berasal dari Country yang kuat. Mengapa kau tertarik padaku?” sekarang aku mencecarnya, ia telah menuturkan kata tertarik dengan makna implisit yang tidak bisa kudefinisikan.

Kini, Baek-Hyun mengangguk-angguk pelan, ia melangkah mendekatiku seraya menatap sekeliling kami, seolah memastikan jika tidak ada player lain yang mungkin muncul di sana dan menginterupsi konversasi kami.

“Apa rasa tertarik harus selalu berasal dari hal yang baik?” ia bertanya.

“Memangnya apa lagi? Semua orang dalam game ini merasa tertarik pada player yang misterius, cantik, tampan, memiliki rank bagus, berasal dari Country yang besar, atau memiliki history yang baik. Menurutmu apa lagi—”

“—Aku tidak katakan aku tertarik padamu karena WorldWare, HongJoo-ssi. Dan juga, aku tidak pernah merasa tertarik pada playerplayer cantik, atau mereka yang berasal dari Country terkenal. Aku memutuskan untuk terus bicara padamu karena… aku merasa senang karena bisa bertemu denganmu lagi.”

“Bertemu denganku lagi?” aku menatap tidak mengerti.

Senyum kecil Baekhyun berikan sebagai jawaban. “Kau tidak mengingatnya? Kita pernah bertemu sebelumnya di dalam game ini, HongJoo-ssi. Aku mungkin tidak mengenalmu, dan kau tidak mengenalku. Tapi aku ingat benar wajahmu. Kurasa, sejak pertemuan pertama kita itu aku merasa tertarik padamu.”

“Kita… pernah bertemu? Dimana?”

Melihat bagaimana aku tertarik pada konversasi dan misteri yang sekarang dikuarkannya, Baek-Hyun menyunggingkan sebuah senyum penuh kemenangan.

“Kuberi kau waktu dua puluh empat jam untuk mengingatnya, HongJoo-ssi. Temui aku di maps yang sudah kutinggalkan di mailbox milikmu, dan aku akan membantumu untuk mendapatkan beberapa level dalam waktu satu hari.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“…Aku mungkin tidak mengenalmu, dan kau tidak mengenalku. Tapi aku ingat benar wajahmu.”

Ugh! Dia benar-benar membuatku gila!”

“Siapa yang membuatmu gila?” aku menoleh terkejut saat mendengar seseorang menyahuti gerutuanku.

Ashley sudah berdiri di ujung pintu, menatapku dengan alis berkerut sementara di tangannya terdapat dua buah gelas bening berisikan susu vanila. Apa ia mengendap-endap di malam hari untuk minum susu?

Hey, kau kan sedang dalam program diet, Ash!” aku menggerutu, lantaran mengetahui bahwa ia pasti tidak diperbolehkan mengkonsumsi susu sebanyak itu.

Segera, Ashley memasang ekspresi datar.

“Jangan mengalihkan pembicaraan, Song Jiho. Katakan padaku siapa yang membuatmu gila, huh?” ia malah melangkah ke arahku, duduk di kursi kosong yang ada di hadapanku dan menunggu.

“Ada, seorang player.” sahutku singkat.

Whoah, jarang sekali melihatmu berinteraksi dengan player lain.” Ashley terkekeh, lantas ia melanjutkan. “Setahuku, seorang HongJoo tidak pernah suka mengenal player lain. Aku dan Taehyung bahkan jadi teman pertamamu bukan? Bahkan, kau baru masuk ke dalam Country saat Royal Thrope meminta untuk keempat kalinya.”

Aku mendengus pelan. Meski Ashley tidak menyelesaikan sekolah menengah atas dan memilih untuk menjadi seorang model, tapi ia cukup cerdas. Well, keluarga Kim memang rata-rata menjadi orang sukses, tapi Ashley bahkan tidak punya hubungan darah dengan Taehyung dan ia sama pintarnya.

“Tentu saja ada, aku mengenal baik beberapa orang player, tapi yang satu ini tidak kukenal baik dan menyebalkan. Sangat menyebalkan.” ucapku akhirnya, percuma berdebat dengan Ashley dan keingin tahuannya, hanya membuang-buang waktu saja.

“Lalu? Sekarang apa masalahnya? Kalian bertengkar? Atau semacamnya?” Ashley bertanya, sementara ia sekarang menyeruput susu vanila dari salah satu gelas yang dibawanya.

“Hmm. Sejak pertama kali kami bertemu, dia sudah membuatku menyimpan begitu banyak pertanyaan yang tidak bisa kujawab.” terangku.

“Ah… Player yang misterius rupanya. Dari Country mana dia berasal?” pertanyaan Ashley berikutnya membuatku berjengit.

“Untuk apa kau ingin tahu?”

Hey, ayolah. Kau tahu Ashley, aku adalah Aphrodite dalam WorldWare, tentu saja aku bisa tahu apapun yang aku ingin tahu. Cukup beritahu aku dari Country mana dia berasal, dan aku akan urus sisanya. Termasuk rasa ingin tahu dan ketertarikanmu padanya.”

Ketertarikan?” alisku terangkat mendengar ucapan Ashley.

“Hmm, dia seorang player laki-laki bukan? Aku dulu juga seperti ini saat pertama kali mengenal Taeil.” sahutan Ashley sekarang membuatku ternganga.

“Apa kau pikir aku sedang jatuh cinta padanya atau apa? Hey, jangan samakan aku dengan dirimu, Ashley Kim. Lagipula, aku sudah punya Sehun.” aku berucap tidak terima.

Segera setelah mendengar perkataanku, Ashley tertawa meledek.

“Kau dan Oh Sehun-mu yang ada di Paris? Jangan bercanda. Kau bahkan tidak mendengar kabar darinya selama enam bulan terakhir, bukankah begitu?” Ashley menantangku.

“Lalu bagaimana denganmu dan Taehyung? Bukankah kalian sempat terlibat percintaan bodoh antar saudara? Lalu sekarang kau bicara tentang Taeil—yang bahkan tidak kuketahui bagaimana bentuknya—dan kuyakini besok kau akan bicara tentang orang lain lagi.” akhirnya aku membeberkan bagaimana kebiasaan Ashley selama ini.

Well, jika kalian belum mengenal Ashley, maka biarkan aku yang memperkenalkannya. Namanya adalah Ashley Kim, dia dua tahun lebih tua dari Taehyung, dan artinya, ia empat tahun lebih muda daripada aku.

Ia lahir di Chicago, dan selama Taehyung belajar di sana, mereka merajut hubungan kekasih sebelum dua tahun kemudian mereka menjadi keluarga. Meski hubungan mereka sudah berakhir, tapi aku tahu baik Taehyung maupun Ashley masih saling menaruh ketertarikan.

Biar kujelaskan, kalau Ashley tidak menyelesaikan sekolahnya untuk mengejar karir sebagai seorang model. Ia dan Taehyung bertemu di sebuah akademi, saat itu Ashley adalah model yang bekerja untuk mempromosikan akademi tersebut.

Sekarang, Ashley bergabung dengan salah satu agensi model yang ada di Seoul, dan tinggal bersama Taehyung. Meski begitu, Ashley cukup terkenal di Seoul.

Terbukti dengan bagaimana ia memiliki banyak followers di akun SNS miliknya. Dan jangan tanya bagaimana kehidupan Ashley. Semua orang bisa tahu kehidupannya hanya dengan melirik SNS saja. Ashley adalah seorang yang sangat terbuka, tapi terkadang terlampau terbuka hingga membuat Taehyung terpaksa meretas akun SNS gadis itu untuk mengatasi masalah yang sudah Ashley lakukan.

“Kau tahu sendiri aku dan Taehyung masih menjalin hubungan kakak-adik yang begitu mesra, bukan?” nah, kukatakan ia seringkali membuat masalah karena ia kerapkali diam-diam mengambil foto Taehyung dan memberi keterangan dengan embel-embel ‘cinta’ atau ‘sayang’ yang membuat Taehyung kesal setengah mati.

“Kakak-adik mesra apanya? Setiap hari kalian selalu bertengkar.” ucapku membantahnya, meski sebenarnya aku tahu dari cara mereka saling menatap, masih ada perasaan kentara yang berusaha mereka tekan.

“Jangan meremehkan pertengkaran. Kau pasti tidak tahu kalau pertengkaran biasanya jadi awal dari sebuah rasa suka, bukan? Ah…” Ashley menggeleng-geleng pasrah, seolah keadaanku sekarang terlihat menyedihkan di matanya.

 “…Itulah mengapa kau tidak boleh jatuh cinta pada satu orang saja. Lihat hubungan selama lima tahun dan terpaut lima tahun milikmu bersama Sehun. Ck, ck. Aku heran bagaimana dia bisa tertarik pada wanita yang jauh lebih tua darinya.”

“Sialan, kau!” aku menepuk pelan lengan Ashley karena kesal. Memang, usiaku dengan Sehun terpaut lima tahun. Tapi hubungan kami baik-baik saja, sungguh. Well, sebelum enam bulan lalu kami terlibat pertengkaran yang cukup parah.

“Tidak apa. Sudah wajar kalau kau menaruh ketertarikan pada lelaki lain. Itu normal, sungguh. Lagipula, Sehun terlalu muda untukmu. Dan dia juga belum hidup dengan mapan. Jadi wajar saja jika kau berharap untuk bertemu dengan seseorang yang berkecukupan dan—”

“Ashley, hentikan.” aku lekas memotong. Diam-diam aku merasa tidak nyaman juga saat Ashley mengungkit-ungkit perkara kemapanan ketika ia bicara denganku mengenai sebuah game.

Hey, aku tidak sedang membicarakan rekan kerja atau semacamnya. Hanya seorang player yang bahkan tidak kuketahui namanya atau darimana ia berasal. Ashley sendiri bahkan tidak tahu tentang siapa yang kubicarakan.

“Baiklah, maaf. Jadi, siapa Mr. Mysterious ini?” tanya Ashley dengan mata berbinar dan senyum manis yang selalu ia pasang ketika ia ingin tahu tentang sesuatu yang berhubungan dengan orang lain.

“Kurasa… sekarang bukan waktu yang tepat untuk membicarakan tentang siapa dia, Ash. Aku justru merasa kesal karena ia membicarakan hal yang membingungkanku.”

Ashley mengangguk-angguk pelan.

“Begitu, ya? Memangnya apa yang ia katakan?” tanya Ashley.

“Ia katakan, kami pernah bertemu sebelumnya di dalam game. Padahal kami tidak saling mengenal, Ash. Dia katakan kalau dia ingat benar wajahku, tapi tidak mengenalku. Dan aku juga tidak mengenalnya. Kami pernah bertemu, itu sebabnya dia ingat wajahku. Apa tidak aneh?” aku menatap Ashley yang sekarang memasang raut begitu serius.

“Dia ingat wajahmu? Padahal tidak mengenalmu? Wah, dia pasti seorang yang sangat jenius kalau begitu. Kau tahu, ada banyak kemungkinan. Tapi yang paling masuk akal adalah… kalian pernah bertemu di suatu tempat, entah kau atau dia… melakukan sesuatu yang ‘menarik’ atau terlibat dalam hal menarik, atau mungkin sama-sama melihat hal menarik dan membuat kalian saling menatap atau melihat satu sama lain.

“Jadi, dia tahu wajahmu, dan seharusnya jika kau ingat kau juga akan tahu wajahnya. Tapi kalian tidak saling mengenal. Masalahnya, kau tidak pernah memperhatikan playerplayer yang terlibat di setiap tempat yang kau datangi, Nona Song.”

Aku terdiam mendengar pendapat Ashley sekarang. Benar, aku tak pernah memperhatikan keberadaan player lain di dalam WorldWare. Dalam tiap custom match11 yang kulakukan di dalam game juga, aku tidak pernah peduli siapa saja yang berada dalam tim yang sama denganku.

Lalu dimana ia pernah melihatku?

“Aku tidak mengerti… ia katakan ia tertarik padaku karena pertemuan itu. Tidakkah membingungkan?”

“Apa mungkin kalian pernah bertemu di tengah turbulence atau match? Selain kemungkinan itu, tidak ada hal lain yang masuk akal untuk jadi pertemuanmu dengannya.” Ashley mengangguk-angguk yakin, ia sekarang bicara seolah ia sudah mengenal baik diriku.

“Benar, tidak ada kemungkinan lain. Apa menurutmu aku harus mengingat-ingat semua battle yang pernah kuikuti? Atau… haruskah aku meminta Taehyung untuk meretas WorldWare agar aku bisa mengakses historyku sendiri?” Ashley sekarang tergelak mendengar perkataanku.

“Jangan bodoh, Jiho-ya. Kau hanya perlu menemuinya dan tanyakan tentang dua kemungkinan itu. Lagipula, dari cara kau membicarakannya kupikir dia seseorang yang mengenalmu dalam hal ‘baik’ jadi… jika dua kemungkinan itu salah, tanyakan saja padanya.”

“Menanyakan padanya?” aku tergelak mendengar saran dari Ashley, bertanya pada seorang Baek-Hyun yang bahkan membingungkanku karena ucapannya? Yang benar saja.

“Ya. Tanyakan saja. Kau bilang dia banyak membuatmu merasa penasaran, jadi jangan ragu dan tanyakan saja padanya.”

Benar, lagipula aku memang menyimpan banyak pertanyaan untuknya. Mungkin saran Ashley ada benarnya. Aku juga tidak pernah mencoba untuk bertanya pada Baek-Hyun atau bicara cukup lama dengannya. Kupikir bertanya bukanlah hal yang salah.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In the despair. Deeply locked in the ocean. The red moon.”

Aku terdiam saat membaca tiga deret kalimat yang Baek-Hyun tinggalkan di dalam mailbox milikku. Mengapa ia begitu senang bermain teka-teki? Apa ia pikir aku adalah seorang jenius yang bisa menebak dalam hitungan detik?

Tunggu, kupikir tidak ada salahnya mencoba untuk menebak-nebak. Baek-Hyun juga tidak online jadi aku tidak bisa bertanya secara langsung padanya. Kukira, dia akan online selama dua puluh empat jam dalam sehari, tapi ternyata dia punya waktu untuk istirahat juga.

Red moon. France adalah satu-satunya tempat yang memiliki view red moon di dalam game ini. Mungkinkah ia bicara tentang France? Baiklah, aku pernah masuk ke dalam mode international stage jadi aku punya akses untuk berpijak di negara lain.

Sampailah aku pada maps France. Tapi aku masih tidak menemukan apapun selain—ah. Laut. Ada tiga section yang ada di France, dan satu diantaranya adalah laut. Deep ocean mungkin berarti sebuah tempat di bawah laut.

Lekas aku masuk ke dalam satu-satunya section yang berlatar laut di France. Mengingat aku tidak masuk dalam survival mode jadi aku masih bisa melihat-lihat sekeliling tanpa harus bergerak dari tempat avatarku berada.

Pintu masuk menuju sebuah museum bawah laut kutemukan. Well, kupikir Baek-Hyun tidak sedang bermain teka-teki denganku tapi hanya memberiku petunjuk tentang tempat pertemuan kami.

Despair. Ugh, sekarang ia membingungkanku karena—oh. Tunggu.

Aku sudah masuk di dalam sebuah lorong bawah laut yang gelap. Bisa kulihat ada tiga buah anak panah di ujung lorong itu.

Happiness. Despair. Survival.

Apa maksudnya? Aku tak pernah mendatangi tempat ini jadi aku sama sekali tidak—oh Tuhan. Tidak tidak tidak. Baek-Hyun online. Ugh! Jantungku hampir saja melompat keluar dari persinggahannya ketika kulihat noktah kecil di profil Baek-Hyun yang seharusnya berwarna merah sekarang berubah menjadi hijau.

Sedikit ragu-ragu dan waspada, aku mengetuk keyboard agar avatar milikku segera masuk ke dalam lorong Despair yang ada di depan sana. Kudapati avatarku mengalami freeze. Ia tidak bisa masuk dan—ah, apa aku harus ada di dalam survival mode?

Diam-diam, kuperhatikan sekali lagi profile Baek-Hyun yang masih menunjukkan noktah hijau. Ia benar-benar online. Pukul dua dini hari, dia online. Tidakkah aneh? Ya, selain aku dan keseharianku yang kuhabiskan dengan bermain game, memangnya ada orang lain yang mau membuang waktu istirahat mereka untuk online di jam ini?

Mengabaikan rasa penasaranku tentang Baekhyun, aku akhirnya melangkah untuk menyalakan tabung hitam yang ada di sebelah tempat tidur. Menghubungkan nirkabelnya dengan permainan yang berlangsung dalam PC-ku sebelum aku akhirnya membiarkan laser berwarna merah dari tabung ini melakukan scanning terhadap tubuhku.

Survival Tube12 namanya. Benda ini adalah gaming-set khusus milik WorldWare yang dijual dengan potongan enam puluh persen untuk semua gamer yang datang di demo dari WorldWare. Berkat Taehyung, aku setidaknya mendapatkan kursi di antara seratus orang gamer.

Well, Taehyung melakukan sedikit aksi jemari di sana sini dan berhasil memasukkan identitasku dalam list gamer yang masuk dalam seleksi player demo WorldWare.

Segera setelah kupastikan keadaanku cukup sehat untuk masuk ke dalam survival mode, aku berbaring di atas kasur tipis survival tube itu, dan memejamkan mata. Tubuhku akan tertidur di sini tapi pikiranku akan hidup di dalam survival mode.

Aku membuka mata saat keheningan menyambut. Cahaya minim segera mendominasi saat aku sadar aku sudah berdiri di antara tiga lorong gelap yang tadi kulihat di layar PC.

Tanpa pikir panjang aku segera melangkah masuk ke dalam lorong Despair. Tubuhku segera berpindah ke dalam sebuah arena yang—

“Apa kau ingat tempat ini?”

—kukenali.

Aku berbalik, kutemukan Baek-Hyun berdiri tak jauh di belakangku dengan kedua tangan terlipat di depan dada dan senyum kecil di wajahnya. Tuhan, haruskah aku beritahu pada Baek-Hyun untuk tidak sering-sering tersenyum? Dia kelewat membius dengan keadaan fisiknya.

“Ini adalah arena trial yang kudapatkan saat demo WorldWare…” aku menggumam. Ingat saat kukatakan aku masuk dalam seratus player yang diperbolehkan mencoba survival mode?

Seratus orang itu dimasukkan dalam survival mode WorldWare dan diujicobakan untuk melakukan battle di dalam sebuah arena. Tempat ini, tempat sekarang aku berdiri, adalah tempat yang kudapatkan saat trial.

“Bagaimana kau bisa tahu?” aku bertanya pada Baek-Hyun, tidak masuk akal ia bisa tahu tentang tempat yang kudapatkan kecuali ia adalah salah seorang programmer WorldWare yang mengawasi—

“Apa kau programmer WorldWare?” seketika itu aku tersadar. Benar, kemungkinan besar ia adalah seorang programmer game. Melihat bagaimana ia menguasai permainan ini dengan sangat baik.

Tidak menyahutiku, Baek-Hyun malah tertawa.

“Jangan bercanda, kau pikir programmer akan punya banyak waktu luang untuk online? Aku melihatnya di dalam historymu. Tempat ini adalah tempat pertama yang ID-mu datangi, dan waktunya sangat berbeda dengan waktu milik player lain.”

“Itu karena aku masuk dalam trial mode13, dulu.” aku mengerjap cepat, penjelasan Baek-Hyun sekarang terdengar masuk akal. Ia memang punya akses untuk membolak-balik history milik pemain lain. Masuk akal jika ia bisa tahu dengan mudah history battle pertamaku, bukan?

“Dan bagaimana kau bisa online di jam dua dini hari?” tanyaku kemudian.

“Ah, aku mendapat notifikasi. Saat kau mendekati tempat yang kutentukan, ada notifikasi untukku.” ia menjelaskan dengan enteng.

“Apa alasannya sesimpel itu?”

“Memangnya alasan apa yang kau ingin dengar?” ia balik bertanya.

Mengabaikan puluhan pertanyaan yang ingin aku utarakan, akhirnya aku memilih bungkam. Kami tidak saling mengenal, untuk saat ini dan entah sampai kapan. Tapi setidaknya aku harus menjaga attitudeku di depan orang lain.

Meski ia adalah seorang player misterius yang sekarang dihindari player lain—atau justru dicari-cari karena dikagumi?—tapi tetap saja, kami tidak saling mengenal.

“Kau katakan kau akan membantuku.”

“Ya, memang. Bukankah aku sudah membawamu ke tempat yang bisa membantu?” Baek-Hyun berucap.

“Apa maksudmu?”

Mendengar bagaimana ‘lambat’-nya aku ketika harus menangkap maksud dari penjelasannya, Baek-Hyun sedikit menggigit sudut bibir bawahnya—ugh, bagaimana dia bisa melakukan hal semenggoda—tidak, Jiho, sadarkan dirimu, dia hanya terlihat semakin menarik karena kau ada di dalam game di mana secara virtual semua orang pasti terlihat lebih menarik dari keadaan sesungguhnya—sebelum akhirnya berucap.

“Melihat dari history milikmu, di tempat ini kau mendapatkan dua level, sebelum akhirnya mendapat game over dan beberapa menit kemudian historymu di reset. Lalu beberapa bulan kemudian kau login lagi dan memulai semua level dari awal.

“Kau belum menyelesaikan stage ini, HongJoo-ssi. Jika kau menyelesaikannya dengan menggunakan ability14 yang kau miliki sekarang, menurutmu berapa level yang bisa kaudapatkan?”

— 계속 —

Footnotes:

Battle: istilah untuk menyebut sebuah pertandingan/pertarungan di dalam sebuah game, melibatkan dua sampai sepuluh player dengan rules terikat yang sudah diciptakan oleh game itu sendiri dan tidak bisa melibatkan player lain secara tiba-tiba di tengah battle tersebut.

Country: Sebutan bagi sebuah aliansi/kelompok yang diikuti oleh seorang pemain di dalam game. Kadang juga disebut sebagai fraksi, home, dsb.

Global Chatting: Fasilitas bicara melalui lisan/tulisan yang disediakan oleh WorldWare sebagai fasilitas komunikasi yang ada di dalam permainan.

Survival Mode: sebuah mode dalam WorldWare dimana dengan bantuan gaming-set tertentu, seseorang bisa masuk dalam mode survival dengan cara tertidur di kehidupan nyata namun ‘terbangun’ dalam permainan. Survival mode tidak membutuhkan PC set, tapi semua pergerakan dan kehidupan dalam game dikendalikan oleh sinergi otak.

Amulet: salah satu bagian dari equipment, amulet bisa disebut sebagai ‘pegangan’ yaitu senjata tidak terlihat namun bisa digunakan oleh pemiliknya.

Wild Rose: salah satu amulet yang fungsinya sebagai suatu pengikat antara dua player dalam pernikahan virtual.

Health Bar: status kesehatan/kehidupan/daya hidup seorang pemain game di dalam permainan.

Freeze: lost connection, koneksi yang tiba-tiba saja ‘membeku’ tanpa alasan yang jelas.

PK: Player Kill adalah sebuah tindakan ‘membunuh’ player lain di dalam sebuah permainan online.

Turbulence: istilah untuk menyebut suatu battle besar dimana semua player bebas melibatkan diri dalam battle dan turbulence bisa berlangsung berdasarkan rules yang dibuat oleh pemilik turbulence tersebut.

Custom match: battle/PK yang dilakukan secara berpasangan.

Survival Tube: sebuah mode dalam WorldWare dimana dengan bantuan gaming-set tertentu, seseorang bisa masuk dalam mode survival dengan cara tertidur di kehidupan nyata namun ‘terbangun’ dalam permainan. Survival mode tidak membutuhkan PC set, tapi semua pergerakan dan kehidupan dalam game dikendalikan oleh sinergi otak.

Trial mode: mode permainan yang disediakan WorldWare sebelum permainan WorldWare benar-benar diluncurkan dan diperjual-belikan secara resmi.

Ability: kemampuan yang dimiliki player baik kelebihan secara fisik, material, maupun keuntungan lainnya yang membuat seorang player lebih unggul dibandingkan dengan player lain.

IRISH’s Fingernotes:

FOR THE GOD’S SAKE, TOLONG KASIH TAU BAEKHYUN SUPAYA KEBENINGAN DIA KALO PAS RAMBUTNYA WARNA ITEM ITU TOLONG DIKONDISIKAN. JIWA PERAWAN INI LOH ENGGA KUAT NGEJALANIN PUASA KALO HARUS DICEKOKIN PENAMPAKAN (?) SEBENING BAEKHYUN RAMBUT ITEM (PLUS HIS ABS, SOMETIMES) PAS PUASA.

Tarik nafas, hembuskan, tarik nafas, hembuskan, bersihkan pikiran dari hal-hal kotor karena bias dan abs hanya akan membuat puasa jadi makruh. Meskipun diri ini belum dapet puasa, tapi tetep aja entah kenapa terlalu banyak mantengin Baekhyun di galeri justru bikin diri ini nyebut ‘astagfirullah’ berulang kali seolah piku-piku beningnya si calon misua ini adalah sumber dosa paling laknat di dunia.

Ceritanya ini waktu ngetik level empat ini agak-agak overload… enggak sadar diri kalo ngetiknya udah nembus empat ribu kata padahal ceritanya njelimet kayak ftv /kemudian ditendang/ tapi mau dikurangin juga engga greget, harus di mana ‘to be continued’ itu ditaruh… /kembali ditendang/

Berhubung bulan udah masuk bulan Juni dan diriku sudah menjalani hari-hari dengan santai /kecuali tugas lapangan yang memaksa diri ini ngabisin duit buat beli tabir surya dan ujung-ujungnya tabir surya pun menjerit ketakutan sama ultraviolet dan ya sama aja ujung-ujungnya kulit jadi belang juga, menggelap/ jadi waktu buat ngetik ff juga semakin ada, ayeah!

Bahagia itu simpel sebenernya, selain berhasil nyelesein epep, terlepas dari lembur dan laporan bulanan juga terlepas dari posyandu, udah jadi sumber kebahagiaan hakiki yang engga ada duanya. Ditambah lagi puasa, masuk kerja setengah jam lebih lambat dan pulang satu setengah jam lebih cepet. DUA JAM YANG PUASA AKIBATKAN DI TEMPAT KERJA ITU BENER-BENER GOLDEN TIMES.

Kembali ke Baek-Hyun-HongJoo yang mungkin bikin diriku sebel sendiri. Jiho itu terlalu naif, dan introvert, LOOOOL. Sering suudzon, lagi. Kasian si cabe yang disuudzonin mulu sama dia. Padahal cabenya baik—ahem, baik, ahem.

Masih ada puluhan level yang harus mereka lalui sebelum akhirnya beneran game over. Harus gimana diriku membawa jiwa labil Jiho? Dia bahkan udah mulai tanda-tanda mau ngeduain Sehun. Eits, ada Sehun di sini juga, loh, he’s White Tiger who’s having a trouble with Invisible Black in the first time Jiho meets Baek-Hyun. Kenapa engga ada yang nanya ‘kenapa Jiho engga tanda sama muka Sehun’ sih? )): /kemudian ditampol, orang-orang aja belum pada komen/

Yah, intinya sebelum pada nanya, ane jelasin duluan aja. Penjelasan tentang kenapa Jiho engga tau sama Sehun di dalem game ini ada di level-level berikutnya /PENTING BANGET INI INFORMASI, YHA/ dan nanti akan ketauan sendiri kok dari orok-oroknya hubungan Jiho-Sehun sampe sejarah kenapa Sehun-Baekhyun dulu kena cekcok /emang kapan mereka perang? Ituloh, ada di level awal/.

Nah, sekian dariku. Selamat bersahur! Salam, Irish.

Contact Me  ]

instagram wattpad wordpress

Iklan

27 pemikiran pada “GAME OVER – Lv. 4 [Wild Rose] — IRISH

  1. Ping balik: GAME OVER – Lv. 10 [Betrayed Betrayal] — IRISH | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: GAME OVER – Lv. 9 [After Effect] — IRISH | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping balik: GAME OVER – Lv. 8 [Girl In The Mousetrap] — IRISH | EXO FanFiction Indonesia

  4. Kusuka bagian yg Baekhyun ngasih wild rose ke Jiho, terus dia bunuh Jiho.
    Kayak perpaduan antara manis dan pahit(?)
    /ngomong apa sih/

  5. Ping balik: GAME OVER – Lv. 7 [Black Label] — IRISH | EXO FanFiction Indonesia

  6. Ping balik: GAME OVER – Lv. 6 [Inside, Tacenda] — IRISH | EXO FanFiction Indonesia

  7. riiiisssh, sepuluh ribu words pun kujabani bacanya karna demi Tuhan ak lagi kesengsem lagi ama si cabe (gak) manly. fix black hairnya dia SESUATU bangetlah yaaaa
    wajar kalo jiho labil, orang ak jadi jadi labil gegara cabe with his sexy abs WAKAKAKAK
    cius deeeh ak malah lagi gak napsu liat sehun

    oouuh pantes aja si baek pernah bilang kalo jiho dekat sama white tiger a.k.a sehun. ini fix pikiran ak.

    eeeh btw cara bunuh baekhyun romantis sekaligus tragis yaaaaa jadi terhura akunyaaaa

    okay level selanjutnya juga bakal di tunggu

    mangaaaaat risssssssh

    • Eh jangan XD kalo sepuluh ribu words nanti ilang satu chapter dong /alasan ae rish/ wkwkwkwkwkwk XD
      FIKS, FIKS, KITA SELALU JADI KAUM HAWA YANG KEGODA SAMA RAMBUT ITEMNYA CABE, YA LORD!!!
      DAN YA, kubaru kepikiran gimana abs kalo dibuat versi game? /pikiran mesum mulai berkuasa/ XD wkwkwkwkwkw

      gitulah si cabe, engga cuma kita yang mau dia buat baper, Jiho juga mau dia buat baper ceritanya XD

  8. OMG kak ini aku beneran nangis ini waktu to be continued-nya. Bukan karena sedih atau apa ya, tapi karena aku nggak rela secepat itu tbc 😦 btw ini aku baru baca eheh, sumpah disini signal susah bet. Kudu naik-naik gitu, dapetnya satu dua lagi -_- Ya Allah, tabahkanlah hatiku T.T

    • XD jangan nangis…. itu ngetiknya lumayan perjuangannya loh XD wkwkwkwkwkwkwkwk apaan banget kudu naik atep atau naik pohon tuh? XD engga apa-apa, ngebaca epep bisa dipending, tapi jangan lama-lama pendingnya /apaan rish

  9. Wkwkwkwkwk….
    Kepikiran juga nih authornya bikin ide pernikahan virtual.. Ngastral bener (atau mungkin diriq yg emg g romantis?? /Nge game mah nge game aja.. G usah jatuh cinta ma avatar.. Gt)
    Yah yg penting bikin ceritanya jd so sweet, aq mah terima ajah..
    Daebak…

    • maklum, jiwanya astral jadi cerita-ceritanya juga pada astral semua XD wkwkwkwkwk itu jos banget konsepnya, ngegame mah ngegame aja XD

  10. sumpah!?? jatuh cinta sama ceritanya duh aku bisa byangin baekhyun dalam mode game akk love yaaa, cerita nya bener bener anti mainstream

  11. Daebak!! kk gw sempet terkecoh waktu baek ngasih wild flower ke jiho,daaaan ternyata cuma jebakan lol padahal udah baper 😂😂
    fighting thorr!! ff ini yg slalu kutunggu updatenya

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s