[EXOFFI FREELANCE] Twin (Chapter 4)

POSTER TWIN

 

Twin (Chapter 4)

 

Author : Bacon14

Length : Chaptered

Genre : Romance, SchoolLife, Conflict, Hurt

Disclaimer : FF ini aku share di fbku sendiri Ayu Meylianawati Santoso, pageku EXO Fanfic Indo,https://www.fanfiction.net/u/8926667/, wattpad @AyuMeyliana dan blog EXO Fanfiction. So kalo ada yang pernah baca ff ini selain link” diatas itu namanya plagiat.

Main Cast :

– Kim Minseok

– Kim Xiumin

– Park Seori

Happy Reading😁

“Xiumin..” Seori mendekati Xiumin yang menatap mereka dengan emosi. Tangannya mencoba menahan lengan Xiumin yang hendak pergi tapi dihempaskan begitu saja.

“Begitukah kelakuanmu saat aku sedang sakit? Aku mencarimu di UKS tadi sedangkan kau asyik berdua dengan kembaranku.” sindir Xiumin. Minseok hanya berdiam diri, tidak berniat ikut campur. Kehadiran dirinya akan membuat runyam semuanya. Seori menggenggam erat tangan Xiumin dan menggelengkan kepalanya.

“Itu hanya tidak sengaja, sayang. Ada seseorang menabrak Minseok dan berakhir seperti itu. Tadi aku mencarikanmu roti karena kau bilang lapar, kan? Aku bertemu Minseok karena novelku dibawa olehnya.” Xiumin menaikkan alisnya curiga. Ia mendengar jelas suara cekikikan mereka. Tidak mungkin itu semua hanya membahas sebuah novel. Hal ini menambah kecurigaannya.

“Hanya sebuah novel? Kau berbohong. Aku mendengar suara tawamu, Seori. Kenapa kau sekarang suka sekali berbohong?” Seori menghela nafasnya panjang. Xiumin terlalu overprotective dan gampang curiga.

“Aku berteman dengannya, Xiu. Apa salah jika saling melempar canda dan tertawa? Apa aku hanya diperbolehkan dekat denganmu saja? Jangan jadikan aku pacarmu kalau begitu. Jadikan aku pembantumu saja kalau begitu.” Seori membalikkan tubuhnya dan pergi darisana. Ia lelah dengan sikap Xiumin yang kekanak-kanakan dan terlalu mudah curiga. Sedangkan Xiumin hanya terdiam. Ia memikirkan semua perkataan Seori.

“Sebegitu burukkah aku di matanya?”

*******

Seori menenggelamkan wajahnya di antara lipatan tangannya. Ia menghela nafas berkali-kali. Ia terbiasa bertengkar dengan Xiumin karena masalah sepele. Semua ini karena sikap Xiumin. Setiap pertengkaran yang timbul selalu saja berhubungan dengan Minseok. Apa salah dekat dengan Minseok? Padahal Minseok adalah saudara kembarnya.

“Hey…” Seori mengangkat wajahnya saat Minseok menaruh sekaleng soda di mejanya. Minseok duduk di depan meja Seori sambil memutar-mutar kaleng soda miliknya.

“Mianhae..aku tidak sengaja. Aku tidak bermaksud membuatmu bertengkar dengan Xiumin.” ucap Minseok. Seori menggelengkan kepalanya. Tangannya mengambil soda itu dan meminumnya seteguk demi seteguk.

“Thx ya minumannya.. But exactly itu bukan salahmu. Kita memang biasa bertengkar karena masalah sepele. Aku gak tau sama jalan pikirnya Xiumin. Dia terlalu kekanak-kanakan. Kau tau sendiri bagaimana kelakuan saudaramu itu.” Seori menaruh kaleng kosongnya di atas meja. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Lagi dan lagi ia menghela nafas.

“Walau begitu… Rasanya aku merasa bersalah dengan kalian. Harusnya kita tidak pernah berteman seperti dulu.” Minseok menundukkan wajahnya dan kembali memutari kaleng sodanya yang telah kosong.

“Jangan terlalu bersalah… Aku tidak pernah merasa kau bersalah. Ini hanya kesalahpahaman saja.” Seori menepuk bahu Minseok dan tersenyum manis.

Dari balik pintu, Xiumin menatap semuanya. Niatnya ingin meminta maaf tidak jadi. Digantikan dengan pemandangan kekasihnya dan saudara kembarnya yang sedang berdua. Mereka tertawa walaupun Minseok masih canggung berdekatan dengan Seori. Seolah-olah mereka telah berhubungan sangat lama.

******

“Apa maumu hah?” Xiumin mendorong bahu Minseok dengan keras. Kepala Minseok membentur dinding aula sekolah dengan keras. Pusing langsung memenuhi kepalanya dan pandangannya mulai kabur.

“Aku tidak melakukan apa-apa. Apa masalahmu?”

BUGH…

Sebuah bogem mentah dipukulkan ke wajah Minseok. Berulang kali hingga wajah Minseok lebam di beberapa bagian.

“Sudah kubilang jangan dekati Seori. Apa peringatanku kurang jelas?” Xiumin lagi-lagi memukul wajah Minseok hingga dia terjatuh. Minseok mencoba berdiri tapi Xiumin telah menduduki perutnya dan menghadiahinya sebuah pukulan.

“Seori itu milikku. Apa kau suka merebut pacar orang lain hah?” Lagi dan Lagi Xiumin memukul wajah Minseok tanpa ampun.

“Apa salahku hah? Kau selalu mendapatkan segalanya dan aku selalu mengalah. Sejak kecil kau yang mendapatkan banyak perhatian dari orangtua. Sedangkan aku diperhatikan karena prestasi saja. Orangtua kita hanya melihatmu yang tampan, menarik, dan memiliki segudang bakat sedangkan aku diremehkan karena aku tidak bisa seperti dirimu. Sejak dulu kau itu egois, kau selalu saja mengambil apa yang kumiliki padahal kau mempunyai segalanya. Apa hal itu akan berlaku juga dengan Seori? Dia bukan mainanmu shit! Aku tahu benar dirimu. Kau mengencaninya hanya untuk menyatakan bahwa dia milikmu kan? Salahkah aku berusaha menyelamatkannya dari rasa egoismu itu?” Minseok mendorong tubuh Xiumin  dan memukul Xiumin balik.

“Kau tidak tahu bahwa aku sangat mencintai Seori. Dia bukan salah satu mainanku. Aku sangat mencintainya.. ” Ucap Xiumin lirih.

“KALAU KAU MENCINTAINYA JANGAN MENGEKANGNYA BODOH!” Minseok memukul Xiumin dengan keras hingga bibirnya berdarah. Minseok berdiri dan membaringkan tubuhnya di samping Xiumin sambil mengatur nafasnya yang tak beraturan.

“Haha… Kita bertengkar karena seorang yeoja sama seperti dahulu.. Haha.. ” Xiumin menatap langit-langit aula sambil tersenyum. Sesekali meringis akibat luka di bibirnya.

“Yeojin itu pacarku. Kau saja yang main-main dengannya. Ck..tapi setidaknya aku tahu Yeojin bukan yeoja yang tepat untukku.” Memang benar Minseok berpacaran dengan Yeojin. Tapi di balik itu Xiumin sempat berkencan dengan Yeojin walaupun hanya main-main saja. Xiumin tidak memiliki perasaan apapun pada Yeojin sayangnya Yeojin menyalahartikan semua perilaku baik Xiumin. Ia menganggap Xiumin menyukainya. Hingga Yeojin memutuskan Minseok begitu saja dan lebih memilih menyukai Xiumin. Hal itu membuat Minseok tidak berbicara sama sekali dengan Xiumin selama 3 bulan. Tapi Xiumin tidak pernah menganggap perasaan suka Yeojin bahkan ia mengabaikan Yeojin.

“Aku iri padamu… Setidaknya kau pernah merasakan mencintai dan menjalani hubungan yang indah dengan beberapa yeoja. Sedangkan aku… Semua yeoja hanya menyukai ketampananku ini.. Ah sial..” Minseok memukul tulang kering Xiumin dengan keras, menanggapi kenarsisan Xiumin.

“Kau juga sekarang sedang merasakannya kan bodoh.. Jangan sia-siakan Seori. Dia terlalu baik untukmu. Ck.. Kalau saja aku bisa memiliki hatinya, aku akan merebutnya darimu.” Minseok berdiri dan mengulurkan tangannya ke arah Xiumin. Xiumin menangkap uluran tangan Minseok dan berdiri.

“Jika kau menyakitinya.. Aku akan benar-benar merebutnya dan menjadikannya milikku. Pegang ucapanku.” Minseok mendorong tubuh Xiumin sekali dan mengambil tasnya lalu berjalan pergi. Ia memakai maskernya untuk menutupi luka di wajahnya.

Xiumin merenungi semua ucapan Minseok. Apa dia benar-benar jatuh cinta dengan Seori atau dia hanya menjadikan Seori sebagai pelampiasan rasa egoisnya saja? Apa Seori hanyalah pelampiasannya karena ia iri dengan Minseok yang bisa dicintai orang lain dengan mudah? Dia iri dengan Minseok karena Minseok dapat dengan mudah menjalin hubungan dengan seorang yeoja. Walaupun seringkali Minseok terluka karena ulahnya bermain-main dengan yeojachingu Minseok. Ia akui ia benar-benar iri dengan Minseok yang bisa mencintai dan dicintai dengan mudah. Sedangkan dia.. Dia perlu melakukan banyak hal untuk dicintai oleh orang lain. Sepasang saudara yang saling iri satu sama lain, menarik bukan?

Drrt..

Xiumin mengambil ponselnya dan membaca pesan dari Seori.

‘Aku ingin bicara, Min.’ Xiumin memasukkan ponselnya ke dalam saku dan mengambil tasnya yang tergeletak di lantai. Di perjalanan pun, ia selalu memikirkan ucapan Minseok. Ia harus memastikan perasaannya. Ia tidak mau kehilangan Seori tapi ia juga tidak mau menyakiti Seori jika ternyata semua perasaannya hanya kepalsuan atau rasa egois semata.

******

“Seori..” Seori menoleh dan mendapati Xiumin dengan masker di wajahnya dan hoodie hitam yang nyaris menutupi wajahnya. Ia mengernyitkan dahinya. Tidak biasanya Xiumin berpenampilan seperti itu. Xiumin biasanya berpenampilan kasual dan terbuka. Kaki Xiumin juga aneh. Ia menyeret kaki kirinya dengan perlahan sambil meringis kecil.

“Ada apa denganmu, Minnie?” Seori meraih lengan Xiumin dan menyuruhnya duduk di bangku. Dengan perlahan, Seori membuka hoodie Xiumin dan ia terkejut dengan beberapa luka lebam di pelipisnya. Tangannya juga membuka masker wajah Xiumin dan sebuah lebam berwarna biru tercetak di bibirnya. Wajah Xiumin bisa dibilang sangat mengenaskan.

“Ini kenapa.. Astaga.. Apa sangat sakit?” Seori menyentuh sedikit lebam di sudut bibir Minseok dan Minseok langsung meringis. Seori langsung menjauhkan tangannya dan berkata ‘mian’ berkali-kali.

“Apa kau bertengkar dengan Minseok? Wajahnya juga biru-biru sama sepertimu.” Xiumin ingin sekali marah ketika Seori mengucapkan nama Minseok. Rasanya sakit dan ia cemburu dengan kedekatan mereka berdua tapi ia berusaha menahannya. Ia tidak ingin Seori menjauh darinya karena sifat pencemburunya itu.

“Yah… Masalah lelaki biasa..” Xiumin memaksakan diri untuk tersenyum tapi bibirnya terasa nyeri sekali. Seori menjauhkan tubuhnya dan berlari ke arah apotik terdekat. Ia sangat mengkhawatirkan Xiumin karena lukanya bisa saja infeksi.

“Ck.. Sepertinya memang aku benar-benar mencintainya. Kau benar Minseok. Aku terlalu jauh mencintainya. Kukira ini hanyalah perasaan suka biasa.” ucap Xiumin. Matanya melihat Seori berlari-lari kecil ke arahnya dengan kotak P3K. Ia membuka kotak itu dan menempelkan kapas yang sudah diberi alkohol ke wajah Xiumin. Sesekali Xiumin meringis saat Seori menempelkannya terlalu keras.

“Harusnya kau tidak bertengkar dengannya. Sebenarnya aku ingin bertemu denganmu karena aku ingin minta maaf. Aku minta maaf atas ucapanku tadi. Aku tidak suka jika kau marah padaku. Aku tidak suka kau tidak berbicara padaku. Aku merindukanmu, Min.” Seori menghapus air matanya dengan kasar. Ia berusaha untuk fokus mengobati Xiumin.

“Mianhae.. Aku juga terlalu kekanak-kanakan. Mian..” Xiumin menahan tangan Seori yang masih berusaha mengobatinya. Ia menurunkan tangan itu perlahan. Wajahnya semakin dekat hingga bibinya menyentuh bibir plum Seori. Awalnya hanya menempel saja tapi lama kelamaan Xiumin mulai bergerak liar. Bibirnya melumat bibir atas dan bawah Seori secara bergantian, tidak membiarkan Seori bernafas sekalipun.

“Ssh.. Xiu..” Dengan susah payah, Seori mendorong tubuh Xiumin. Pipinya memerah samar. Ia berusaha menutup kedua pipinya tapi tangannya ditahan oleh Xiumin.

“Aku menyukaimu saat pipimu memerah untukku.” Xiumin mengecup dahi Seori lama dan membiarkan sengatan-sengatan listrik itu mengalir dalam tubuh Xiumin.

“Aku mencintaimu…”

*******

Setelah Xiumin menyadari semua perasaannya, hubungan mereka kembali seperti semula. Hanya ada tawa dan senyuman dalam hubungan mereka. Sayangnya sifat Xiumin yang suka ‘tebar pesona’ itu seringkali membuat Seori kesal. Xiumin itu bisa dibilang sangat baik pada semua yeoja sehingga seringkali yeoja itu salah sangka akan sikap baik Xiumin. Misalnya Xiumin mengambilkan kotak pensil seseorang dan mengembalikannya sambil tersenyum. Hal-hal kecil tapi lumayan mengesalkan juga untuk Seori.

Seperti saat ini…

“Ya! Apa kau marah padaku? Aku tadi hanya mengobrol biasa pada Yeojin.” Seori menghiraukan keberadaan Xiumin dan membalik-balikkan bukunya dengan malas. Seori tadi melihat Xiumin berduaan dengan Yeojin yang notabene sangat-sangat menyukai Xiumin. Beberapa tingkah Yeojin yang berlebihan juga ditangkap oleh mata Seori misalnya Yeojin pura-pura memegang tangan Xiumin atau dia pura-pura pusing agar dipeluk Xiumin. Hal kecil yang dimaksudkan untuk menggoda Xiumin.

“Aku tidak bodoh untuk mengetahui kalau Yeojin sangat tertarik padamu..” sindir Seori. Xiumin tersenyum penuh arti melihat yeojachingunya sedang dilanda cemburu.

“Kalau kau cemburu kau bisa mengatakannya.. Kau tahu aku suka kau cemburu seperti ini. Kau terlihat imut?” Pipi Seori memerah sekilas sebelum poker facenya dipasang lagi. Ia tidak mempedulikan ocehan Xiumin yang semakin menjadi-jadi demi menarik perhatiannya.

“Yasudah…kau mengabaikanku kan? Aku dengan Yeojin saja. Dia lebih perhatian denganku kan?” Xiumin beranjak berdiri namun tangannya ditahan oleh Seori. Wajah Seori memerah sempurna termasuk kedua telinganya.

“Di depan yeojachingumu kau mau bersama yeoja lain. Ya! Ya! Silahkan saja, Xiumin-ssi. Aku akan pergi.” Seori membereskan semua bukunya dan memasukkannya ke dalam tas. Ia melirik sinis Xiumin yang masih bingung. Padahal Xiumin hanya bercanda.

“Ya! Sayang, aku hanya bercanda. Astaga… Apa kau PMS?” Seori menghentikan langkahnya saat Xiumin bertanya dengan suara keras. Beberapa orang menoleh ke arah mereka sambil terkikik kecil. Seori membalikkan tubuhnya dengan perasaan malu. Ia berjalan ke arah Xiumin dan memukul kepalanya dengan buku.

“Tidak bisakah suaramu itu dikecilkan sedikit? Kau membuatku malu, bodoh.” Xiumin memegang kepalanya yang dipukul buku oleh Seori. Bukunya lumayan tebal dan cukup sakit.

“Astaga… Aku tadi hanya bercanda.. Please… Mianhae..” Seori masih melipat tangannya, tidak peduli dengan ucapan Xiumin.

CUP

Xiumin mengecup bibir Seori lalu tersenyum. Hal ini mengundang kekesalan Seori pada Xiumin.

“Jika kau terus kesal denganku, aku akan terus menciummu sampai bibirmu bengkak.” Seori langsung menutup bibirnya dan menggeleng keras.

“Ya! Ya! Aku maafkan.” Xiumin tersenyum kecil lalu mencium satu buah kecupan darinya.

“Terimakasih, chagiya.” Sebelum Seori memukulnya, Xiumin sudah berlari menjauh. Seori hanya mendengus sebal sambil mengejar Xiumin yang sudah jauh di depannya.

*******

“Oh aku tidak tahu Xiumin bisa sebahagia itu ya..” ucap seorang yeoja. Yeoja berkalung J itu melihat Xiumin dan Seori saling tertawa satu sama lain.

“Dia membuangmu seperti itu lalu bisa bahagia seperti ini? Wow.. Aku kagum dengan Xiumin.” Seorang namja dengan rambut coklat yang ditutupi topi ikut menimpali yeoja tersebut.

“Baek, kau bisa membantuku kan?” Namja bernama Baekhyun itu langsung mengangguk.

“Apa kau bisa merusak hubungan mereka? Aku ingin Xiumin menjadi milikku lagi.” Baekhyun sedikit merengut mendengar permintaan yeoja yang bisa dibilang dekat dengannya.

“Aku ini namjachingumu dan kau memintaku seperti itu. Wow.. Kau hebat Jaeri.” Jaeri melihat ke arah Baekhyun yang sedikit kesal. Tangannya menarik dagu Baekhyun dan mengecupnya sekilas. Baekhyun menanggapinya dan melumat bibirnya pelan. Setelah beberapa menit, mereka melepaskan tautan bibirnya.

“Hatiku memang milikmu, Baek. Aku hanya ingin memiliki ‘mainan’ baru. Sudah lama aku mencari dia dan akhirnya aku menemukannya. Sayang kan kalau dilewatkan begitu saja?” Jaeri tersenyum miring. Matanya masih menatap lurus ke arah Xiumin dan Seori yang mulai menjauh.

“Yah… Aku juga boleh kan bermain sebentar dengan Seori? Tidak adil jika hanya kau yang bermain dengan Xiumin.” Jaeri mengangguk. Pasangan ini bisa dibilang pasangan gila.

“Asal jangan sampai tertarik saja dengannya. Aku mengijinkannya, chagi. Aku tidak akan mengekangmu.” Jaeri tersenyum menyeringai. Ia teringat beberapa ingatan dengan Xiumin di masa lalu. Masa lalunya yang penuh tawa. Masa lalunya yang penuh kebahagiaan. Semua kebahagiaan itu berkat Xiumin tapi karena Xiumin pula kebahagiaan itu hilang.

“Aku tidak akan pernah melupakan apa yang diperbuat Xiumin.” gumam Jaeri. Baekhyun yang juga mengetahui seluk beluk kehidupan Jaeri di masa lalu merangkul bahu Jaeri dan menguatkannya.

“Jika.. Aku tidak bisa bahagia lagi… Dia juga tidak boleh bahagia. Aku tidak akan membiarkan dia tersenyum di atas semua penderitaan yang aku alami.” Mata Jaeri berkilat-kilat penuh amarah. Semua kenangan itu seakan menyerbu otaknya dan membuatnya sakit. Baekhyun memeluk tubuh yeojachingunya dan mengecup keningnya.

“Ini baru awal, Xiumin..”

TBC

 

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s