[EXOFFI FREELANCE] LITTLE STAR (Chapter 3)

HEY!

 

Tittle: LITTLE STAR

Author: PinkyLinn

Length: Chaptered

Genre : Romance

Rating: PG-13

Main Cast:

Park Chanyeol & Jung Eun Ra

Additional Cast:

Do Kyungsoo, Kim Jongin, Han Soo Ri, Lee Dong Jae, Shin Ha Mi, personil EXO lain

Summary:

Bagaimana jadinya jika seorang gadis mengalami banyak hambatan untuk mewujudkan cita-citanya? Bertemu dengan member boyband yang menyebalkan, orangtua yang tidak setuju, cinta yang bertepuk sebelah tangan, dan beberapa masalah lain yang terjadi di dalam hidupnya.

Ikuti terus kisah seorang gadis bernama Eun Ra yang berusaha untuk mewujudkan cita-citanya walaupun banyak rintangan yang ada di depannya!

Disclaimer:

Cerita ini murni dari pemikiran aku dan (sedikit) pengalaman pribadi. Cerita ini juga pernah aku post di akun wattpad aku, silahkan mampir. Ini linknya: http://my.w.tt/UiNb/KbQ0BYucZC

Happy reading^^

Beberapa hari setelah acara fanmeeting pun berlalu, tapi kejadian itu masih terekam jelas di ingatanku. Aku tidak akan pernah melupakan si laki-laki gila itu. Aku sangat tidak suka dengannya, tapi Soo Ri seperti tidak mengerti denganku. Dia selalu membahas EXO semenjak acara fanmeeting itu. Mungkin dia menyangka bahwa aku akan suka dengan boyband itu setelah aku datang ke acara fanmeeting mereka. Soo Ri salah besar! Aku tidak akan pernah suka dengan EXO karena ada laki-laki gila itu di dalamnya.

“Soo Ri-ya, bagaimana kau mendapatkan 2 tiket fanmeeting itu?” Aku penasaran juga darimana Soo Ri mendapatkan tiketnya, bahkan sampai 2 tiket. Karena setauku mendapatkan tiket fanmeeting itu tidak mudah dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

“Oh itu, aku mendapatkan dari kenalanku,” jawabnya dengan enteng. “Waktu itu saat aku sedang berjalan pulang ke rumah, ada seseorang yang menghampiriku. Katanya dia adalah pencari bakat dari sebuah agensi dan menyuruhku untuk mengikuti audisinya. Tapi aku menolak karena aku tidak tertarik dengan hal-hal semacam itu.” Sudah ku bilang kan, kalau sahabatku ini sangat cantik. Pencari bakat saja sampai menyuruhnya untuk ikut audisi.

“Hmm.. memang kau masih berhubungan dengan pencari bakat itu?”

“Iya masih, dia baik sekali. Bahkan dia memberikan 2 tiket fanmeeting itu padaku.”

“Kau harus berhati-hati pada orang seperti itu. Bisa saja dia baik karena ada maksud tertentu padamu.”

“Tenang saja, kurcaci. Aku bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak kok.”

“Jangan panggil aku kurcaci!” Sudah berapa kali aku bilang padanya untuk tidak memanggilku seperti itu, huh.

“Hahaha kurcaci marah. Oh iya, sebentar lagi kan kita akan lulus dari sekolah. Apa kau akan tetap mewujudkan cita-citamu itu?” Tumben sekali Soo Ri membicarakan hal ini saat kami sedang istirahat dan sedang makan di kantin.

Aku berfikir sejenak sebelum menjawab. “Tentu saja, aku sangat ingin mewujudkan cita-citaku itu. Aku ingin menjadi idol, tapi kau tahu ada beberapa hambatan untuk mewujudkan  cita-citaku itu kan?”

“Ya aku tahu, tapi aku yakin kau pasti bisa mewujudkan cita-citamu. Kita pasti akan pergi bersama-sama ke Seoul dan meraih mimpi kita!” katanya dengan penuh semangat. Sahabatku ini memang paling semangat kalau membicarakan cita-cita. Dan aku juga tahu cita-citanya yang ingin menjadi fashion designer dan dia ingin sekali kuliah di Seoul National University. Kami juga sudah berjanji akan pergi bersama ke Seoul untuk meraih mimpi kita.

“Hai, ladies!” sapa Dong Jae dengan wajah dan tubuh penuh keringat. Memang sudah kebiasaannya saat istirahat begini, dia pasti akan bermain sepak bola di lapangan bersama dengan teman-temannya. Oh my Gosh, kenapa dia tampak begitu hot dengan wajah dan tubuh penuh keringat begitu. Ah, aku mau memberitahukan sebuah rahasia nih. Sebenarnya…. Aku menyukai Dong Jae sejak lama. Dia adalah temanku sejak kecil karena kami selalu berada di sekolah yang sama. Aku sudah berteman dengannya jauh sebelum aku mengenal Soo Ri. Tapi karena aku memiliki jenis kelamin yang sama dengan Soo Ri, dan ada sebuah kejadian yang membuatku menjadi lebih dekat dengan Soo Ri sekarang.

Aku tidak pernah memberitahukan perasaanku ini pada siapapun, Soo Ri tidak tahu aku menyukai Dong Jae. Aku tidak mau membuat persahabatan kami menjadi canggung karena perasaanku ini. Aku juga tidak tahu apakah Dong Jae memiliki perasaan yang sama atau tidak denganku, karena aku merasa dia hanya menganggapku sebagai sahabatnya saja.

“Eun Ra-ya.. Eun Ra-ya!” Lamunanku buyar karena suara keras yang memanggilku. “Kenapa kau suka sekali melamun sih?” Ternyata itu Dong Jae yang memanggilku dengan suara keras.

“Ah.. Maaf maaf, tadi kau berbicara denganku Dong Jae?” tanyaku malu karena ketahuan sedang melamun. Kenapa sih aku punya kebiasaan melamun seperti tadi, aku kan jadi malu saat Dong Jae sedang memergoki melamun. Pasti mukaku gak banget deh pasti melamun tadi.

“Lihat, kau melamun sampai belepotan begitu makannya.” Aku tidak bisa bernapas sekarang. Tangan Dong Jae terulur ke arahku dan mengelap sesuatu yang ada di pinggir bibirku. Ternyata dia mengelap saus yang masih tersisa. Aku memang sedang makan sandwich dan tanpa sadar aku makan seperti anak kecil, belepotan saus di pinggir bibir. Aku langsung menunduk karena dapat merasakan aliran panas yang terus menjalar ke wajahku, terutama pipiku. Aku sangat yakin sekarang pipiku pasti sudah semerah tomat.

“Te.. Terimakasih,” kataku dengan terbata-bata karena aku masih berusaha untuk mengatur detak jantungku yang tidak normal. Jantungku seperti meloncat-loncat kegirangan karena sentuhan tangan Dong Jae pada wajahku beberapa waktu yang lalu.

“Eun Ra-ya, kau sakit? Kenapa pipimu sangat merah seperti itu?” Aduh kenapa Soo Ri bisa melihat pipiku sih. Aku harus bilang apa pada mereka?

“Ah tidak kok, aku hanya kepanasan saja.” Aku mengipas-ngipaskan kedua tanganku untuk membuat pipiku menjadi tidak berwarna merah lagi. Alasanku sangat tidak masuk akal, karena kantin sekolah kami memiliki jendela yang selalu terbuka. Saat aku mengatakan itu tadi, aku baru saja merasakan angin yang berhembus dari jendela yang ada di dekat meja kami. Aku sudah terlanjur mengatakan itu, dan aku tidak mungkin menarik kembali kata-kataku. Soo Ri dan Dong Jae juga terlihat bingung dengan perkataanku, tapi mereka tidak ambil pusing dan tidak membahas mengenai pipi merahku barusan.

“Aku pulang!” Aku langsung membuka sepatuku saat sampai di rumah dan menaruhnya di rak sepatu yang ada di dekat pintu masuk. Aku melangkah masuk ke dalam rumah setelah memakai sandal rumah yang ada di dekat pintu masuk. Rumahku terlihat sepi sekali, padahal hari sudah sore dan menunjukkan pukul 4. Kemana orang-orang rumahku? Aku tinggal berempat dengan appa, eomma, dan adik laki-lakiku. Mungkin appa belum pulang, dia bekerja sebagai seorang manajer di salah satu hotel yang ada di sini. Aku tidak tahu manajer apa dan aku tidak tertarik untuk mencari tahu.

Eomma hanya seorang ibu rumah tangga biasa yang setiap hari kerjaannya adalah membersihkan rumah, menyiapkan makanan mulai dari makan pagi sampai makan malam, dan marah-marah jika aku atau Eun Hwa, adik laki-lakiku, bertengkar atau pulang diluar jam yang ditentukan olehnya.

Eun Hwa, adik laki-lakiku yang berbeda 3 tahun dariku, sekarang sudah duduk di kelas 3 SMP dan dia juga akan mengikuti ujian nasional sama sepertiku. Dia juga akan bersekolah di SMA yang sama denganku, karena sekolah ini dekat dengan rumahku dan tidak memakan ongkos dan waktu untuk sampai kesana. Dia itu sangat menyebalkan, dia suka sekali menjahiliku karena tubuh pendekku ini. Jelas saja, adikku itu sangat tinggi. Untuk ukuran anak SMP, tingginya sudah mencapai 179 cm hampir 180 cm. Bagaimana kalau nanti dia sudah SMA, dia kan masih dalam masa pertumbuhan dan aku yakin dia masih akan tinggi lagi.

Padahal appa dan eomma tidak bisa dibilang pendek, appa memiliki tinggi 183 cm dan eomma 165 cm. Kenapa tinggiku hanya 150 cm? Padahal aku sudah banyak minum susu dan dulu Eun Hwa suka menarik-narik kakiku supaya kakiku menjadi panjang, tapi sama sekali tidak ada hasil. Di saat orang-orang lain sedang dalam masa pertumbuhan yang cepat, aku tidak bertambah tinggi sejak SMP.

Aku mencium bau masakan yang sangat enak. Eomma pasti ada di dapur. Aku melangkahkan kakiku ke dapur dengan langkah hati-hati. Ternyata benar eomma sedang ada di dapur dan sedang sibuk memasak sesuatu. Eomma masak apa ya hari ini?

Eomma!!” Aku sengaja berteriak pada eomma dan dia kaget setengah mati.

“Eun Ra! Kamu ngangetin aja sih, kalau eomma punya penyakit jantung bagaimana?” katanya sambil memukul bahuku pelan. Aku memang paling suka mengangetkan eomma seperti itu, mukanya lucu sekali kalau sedang kaget. Aku memang anak durhaka ya. Aku mendekat ke arah eomma dan menggesek-gesekkan kepalaku di punggung eomma. Aku memang manja sekali kalau sudah ada di dekat eomma.

“Hehe, maaf eomma. Eomma sedang bikin apa?”

“Kamu tidak bisa lihat sendiri apa? Eomma sedang bikin sundubu jjigae.” Oh iya benar, aku melihat eomma sedang memasukkan tofu ke dalam mangkuk yang ada di atas kompor. Baunya enak sekali. Ini adalah salah satu makanan favoritku. “Kamu ganti baju dulu sana, lalu kita tunggu appa dan Eun Hwa untuk makan bersama-sama.”

Aku mengangguk dan berjalan ke arah kamarku yang ada di bagian belakang rumah. Kamarku tidak terlalu besar tapi aku sangat nyaman berada di kamarku. Kalau sedang libur atau tidak ada kerjaan, aku bisa saja seharian tidak keluar kamar. Dominasi warna kamarku adalah putih, aku memang orangnya sangat simple dan tidak suka dengan warna yang aneh-aneh. Di kamarku dapat dilihat ada gitar di pojok sebelah kanan, lemari di seberang gitar, meja belajar yang ada di dekat lemari, dan tentunya tempat tidur. Tidak lupa juga ada rak di dekat meja belajar yang berisi banyak buku, bukan buku pelajaran tentunya. Aku lebih suka mengoleksi buku tentang alat musik atau tentang nyanyian. Aku juga punya banyak buku yang isinya adalah not balok.

“Eun Ra, ayo kita makan.” Eomma memanggilku dari luar kamar. Aku yang telah berganti baju dengan baju rumah, kaos bergambar pororo dan celana pendek, langsung berjalan ke luar kamar untuk menuju ke meja makan yang menjadi satu dengan dapur.

Appa!” Aku memanggil appa yang sudah duduk di meja makan dan masih mengenakan kemeja kerja.

“Hai Eun Ra, ayo duduk,” kata appa padaku. Aku juga melihat Eun Hwa yang sudah duduk di meja makan dan berusaha mengambil kimchi yang sudah ada di meja. Tapi tangannya ditepis oleh eomma. Rasakan kau Eun Hwa, jadi orang tidak sabaran sekali sih.

“Eun Ra, setelah makan ada yang mau kami bicarakan denganmu.” Wah, aku tidak suka dengan nada bicara yang serius dari eomma barusan. Aku tahu pasti mereka akan membicarakan tentang masa depanku. Tapi aku tidak dapat menolak dan hanya dapat mengangguk, lalu memasukkan nasi ke dalam mulutku. Memikirkan apa yang akan dibicarakan oleh appa dan eomma membuatku kehilangan nafsu makan. Tapi karena aku lapar, jadi aku tetap saja memasukkan nasi dan sundubu jjigae yang telah dibuat eomma ke dalam mulutku. Rasa sundubu jjigae bikinan eomma memang yang terbaik!

30 menit kemudian.

Aku, appa, dan eomma sudah duduk di sofa yang ada di ruang keluarga. Sementara itu Eun Hwa sudah balik ke kamarnya dengan alasan mau belajar untuk ulangan besok. Aku tahu itu pasti hanya alasan saja, dia pasti tidak mau ikut campur dengan pembicaraan kami. Mendadak suasana di antara kami bertiga menjadi canggung, tidak ada yang mau untuk membuka suara terlebih dahulu. Aku memilih duduk di sofa yang berseberangan dengan sofa yang diduduki appa dan eomma.

“Ehem,” appa memilih untuk membuka suara terlebih dahulu, mungkin appa berpikir kalau dirinya adalah kepala keluarga sehingga dia harus mengatasi suasana canggung yang ada di antara kami bertiga. “Jadi sekarang appa pikir kita harus membicarakan masa depanmu.”

Sudah ku duga, mereka pasti akan membicarakan ini. Aku paling tidak suka membicarakan masa depan dan cita-cita di hadapan appa dan eomma. Kalian bisa lihat sendiri nanti akan jadi apa pembicaraan tentang masa depanku ini.

“Kami ingin kamu melanjutkan kuliah di jurusan bisnis.” Appa masih melanjutkan perkataannya dan membuatku kaget setengah mati. Selama ini mereka hanya tidak mendukung cita-citaku yang ingin menjadi idol, tetapi sekarang bahkan mereka menyuruhku untuk melanjutkan kuliah di jurusan bisnis?

“Aku tidak mau.”

-Tbc-

Hai, aku kembali lagi dengan chapter 3^^ Sedih gak sih kalo cita-cita kita gak direstuin orang tua dan malah disuruh ngambil jurusan lain?

Oh iya, yang nunggu member EXO nanti juga bakal muncul kok. Ditunggu aja yaa J

Sampai ketemu di chapter 4!

 

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s