[EXOFFI FREELANCE] When I Must be Married-(Chapter 4B)

Poster When I Must Be Married Chapter 4B.jpg

When I Must be Married (Chapter 4B)

By El Byun

Chaptered

Romance||Comedy||Married Life||Mature||Angst

Rating (PG-17)

Main Cast:

Baekhyun EXO || Song Hyo Hwa (OC)

Adittional Cast:

Sehun EXO || Song Shimin (OC)

EXO member and etc

Summary:

Nasib kehidupan pernikahan kami selalu ditentukan oleh orang lain. Tapi perasaan yang kami miliki tidak bisa ditentukan oleh orang lain.

Disclaimer:

FF ini asli dari jerih payah pikiran author. Jika ada kesamaan cerita, alur dan tokoh itu hanya kebetulan. Tidak ada niat untuk meniru atau menjiplak karya orang lain. Sebaliknya, don’t be plagiarsm please! Be good readers! Lanjutan fanfic ini belum pernah dipost sebelumnya.

Part B “When I must be go”

@Song’s house

Aku… berjalan lemas, pandanganku tidak fokus. Pikiranku selalu terbayang-bayang pembicaraan kami di kantor beberapa saat yang lalu.

Bugg… abojhi menepuk pundakku mantap.

“Tegarlah, seorang namja haruslah memiliki wibawa dan tegap ketika berjalan. Buatlah Hyohwa bangga! Maafkan keserakahanku yang membuat semuanya jadi begini.” ungkap abojhi menyemangatiku. Senyumku terasa aneh ketika suasana hatiku sedang begini.

Setelah masuk ke dalam rumah, aku baru sadar kalau hari sudah gelap. Eommoni sedang menyiapkan makan malam untuk kami, akhirnya beliau sudah sadar dan kembali seperti biasanya.

“Omo! Kalian sudah pulang. Kemarilah makan bersama!” ajak eommoni bersemangat. Aku sedikit khawatir dengan kesehatannya. Apa dia sudah menerima kehamilan Shimin? Baguslah kalau eomma menyetujuinya. Hhuh…! Aku mendesah lega. Sebaiknya aku menemui hyohwa.

“Ne, eommoni!” kataku mengiyakan ajakannya. Kulihat Hyo dan Shimin ikut membantu menata makanan di meja.

Kami semua berkumpul di meja makan, Hyo mengambilkan makananku di piring. Aku sedari tadi hanya memandangi makananku begitu juga dengan abojhi sepertinya tidak nafsu makan malam ini.

“Kenapa kau tidak makan, yeobo?” Tanya eommani yang memperhatikan abojhi yang tak segera mengangkat sendoknya.

“Ah, ye. Aku akan makan. Nah menantu, kau juga makan. Ini semua buatan eommonimu lezat.” Ajak abojhi.

“Ne…” jawabku. Untuk menambah kekuatanku untuk makan, aku meraih tangan kiri Hyo yang duduk di sebelahku. Aku genggam terus sampai aku benar-benar menghabiskan makan malamku. “Baekhyun-ah?” lirihnya. Aku benar-benar sudah menghabiskan makan malamku bahkan sudah menghabiskan dua gelas air.

“Eommoni, terima kasih untuk makanannya. Abojhi, aku sudah selesai. Permisi!” pamitku buru-buru meninggalkan meja makan bersama kugandeng Hyohwa bersamaku.

“Ya, Bacon! Aku harus membersihkan piring-piring kotor itu.” Dia menolak ajakanku dengan memukul-mukul lenganku tidak keras, tapi aku tahan karena membersihkan piring-piring itu akan membuang waktu. Aku mengajaknya untuk pergi ke kamar. Mungkin sikapku kali ini terlihat seperti suami byuntae karena mengajak istrinya ke kamar bahkan hari belum terlalu larut. Ini masih jam 08.00 kst. Aku hanya ingin bersamanya, itu saja.

“Michin nampyeon!” umpatnya.

Aku hanya ingin menghabiskan waktu malam ini bersamanya saja. Hari ini, ah tidak. Malam ini kami menikmati indahnya langit malam bertabur bintang di balkon kamar kami. Angin bahkan berhembus pelan agar kami tak langsung pergi karena kedinginan.

“Oppa, kenapa tidak di dalam saja? Udaranya dingin dan kau malah ingin disini.”

Ya, memang sekarang ini kami sedang duduk di lantai dingin dan menggenakan selimut berdua, berpelukan dengan posisi Hyo di depanku. Aku merengkuhnya agar dia merasakan hangat.

“Chagi, apa kau merasa kesepian saat aku pergi bersama EXO?”

Kesepian? Aku tahu dia pasti kesepian. Mengingat hidupku banyak kuhabiskan untuk EXO, dan aku hanya memiliki sedikit waktu dengannya. Kalau dihitung, selama seminggu hanya 1-2 waktu aku pulang itupun jika tidak ada jadwal konser atau tour seperti waktu di Jepang kemarin, aku bahkan meninggalkannya sebulan penuh.

“Eo. Tapi, saat berkumpul dengan keluargamu aku merasa kau juga ada di antara kami. Apalagi abojhi dan eommoni, melihat wajah mereka, aku jadi teringat dirimu.” Jawabnya panjang lebar lalu hening sejenak.

“Tunggu, kau berencana pergi lagi dengan EXO?” tiba-tiba ia menyalak dan wajahnya dihadapkan tepat di depanku. Aku sedikit tersentak. Terbesit dipikiranku, apakah aku akan menyakitinya?

“Eo…” bibirku sedikit bergetar. Rasanya semua makanan yang telah aku telan tadi ingin keluar.

“Nappeun namja!!” umpatnya sambil memukul dadaku. Aku sedikit meringis kesakitan, tapi aku menahan tangannya yang begitu liar itu. Manik matanya menyiratkan kekesalan tapi juga kesedihan.

“Mian.. hae” ia berhenti memukulku setelah aku mulai menyematkan milikku pada bibir merah mudanya. Hanya sebuah kecupan tidak lebih. Nafas hangatnya membuat libidoku naik lagi. aku menyeringai dan membuat kontak kami terlepas. Dalam dekat aku katakan keinginanku.

“Sebelum aku pergi, maukah kau memberiku mimpi indah malam ini?”

Ia mendorongku sampai hampir terjengkang lalu berdiri. Aku melengkungkan senyum chessy padanya dan membusungkan dada bidangku untuk menggodanya.

“Ya, byuntae Oppa! Jadi ini tujuanmu membicarakan panjang lebar seperti tadi?” tuduhnya yang tak berkesudahan, dasar wanita ini! Namun seringkalinya aku merindukan omelan khas dirinya yang selalu mengundangku untuk menggodanya.

“Please chagi! Kau cantik malam ini.” Aku mulai beraegyo. Tak ada kesempatan sebaik malam ini. Kulihat dia sepertinya salah tingkah. Aku ikut berdiri dan mulai merengkuhnya lagi. kali ini aku bisa melihat wajah…. chubbynya. Yah, sedikit chubby mungkin?

“Kenapa kau diam, marhaebwa!” bujukku. “Ya! Membayangkannya saja rasanya sudah sakit.” Ungkapnya dengan blak-blakan. “Itulah gunanya aku sebagai dokter disini. Ayolah!” aku semakin menelik di dalam sorot matanya. Aku jadi teringat kata-kata abojhi saat di klinik di pulau jeju saat itu.

“Kalau kau ingin pergi dengan EXO untuk bekerja aku akan mengijinkanmu, tapi kalau kau pergi dengan EXO untuk meninggalkanku, aku tidak akan pernah mengijinkanmu.” ia mengatakannya dengan penuh arti. Aku tahu dia menangis saat ini.  “uljima!” aku kemudian memeluknya makin erat. “Gwaenchana?” tanyaku meyakinkan. “Ne, sudah sedikit lebih baik.” Jawabnya.

“Aku tak mau tidur dengan yeoja panda karena cengeng. Kau mengingatkan aku pada si panda Tao. Ckck…” godaku menghiburnya sambil ku hapus bulir-bulir di ujung kelopak matanya.

“Ya, aku tidak cengeng. Aku menangis karena kau, bukan untuk mau jadi Tao.” Yeojaku ini masih sanggup diajak bercanda rupanya.

“Matamu seperti Tao kalau sedang menangis. Haha…” godaku lagi. “Oh, berarti kau anggap istrimu ini seorang namja begitu??” dia berbalik mengejekku.

“Nde, mungkin selama ini aku tertipu. Kau ini seorang namja yang menyukaiku kemudian menjadi transgender dengan mengubah jenis kelaminmu untuk merayuku. Benar begitu?” ancamku sekaligus menggodanya. Dia terus berjalan mundur ketika aku mencoba untuk mendekatinya. Matanya tak berani menatapku. Hehe.. lucu sekali tingkahnya.

Seperti biasa, dia terpojok di dinding kamar kami. “Eotte? Apa yang harus aku lakukan?” tanyaku sekaligus mengancam.

“Kau menantangku atau mengancamku?” tanyanya menebak.

“Menurutmu?” aku membelai pipinya dari atas ke bawah. Blush… dia merona.

“Hem, I’ll give you what you like.” Ungkapnya, istriku ini malah berbalik menantangku. Dia tergidik melihatku.

“I’ll give you what you want!” balasku. Sekali tarikan di pinggangnyanya, aku mendapatkan bibir yang aku inginkan.

-When I Must To Be Go-

Author POV

TOK..TOK.. terdengar suara ketukan pintu di kamar BaekHyo, mereka yang tengah foreplay di tempat tidur terganggu dengan suara itu dan menghentikannya sejenak. Baekhyun bangkit dengan masih mengenakan celana panjangnya, ia mengambil dan memakai kausnya kembali lalu membukakan pintu.

“Shimin-ah? Apa yang sedang kau lakukan, bukankah ini sudah malam?” Tanya Baekhyun heran. Kondisi shimin saat ini sungguh tidak mengenakkan. Matanya sembab seperti habis menangis sama seperti ketika pagi tadi ia ketahuan hamil dengan sehun. Hyo yang tengah merapikan baju bagian atasnya mendengar percakapan itu. “Shimin? Ada apa?” hyohwa bergerak untuk mendekati.

“Oppa, jeongmal mianhae. Aku benar-benar menyesal. Unni, Jeongmal mianhae, aku tak bermaksud untuk membuatmu berpisah dengan Oppa. Mianhae shimshim…! Hiks… Hiks…” ungkap Shimin sambil menangis.

“Apa maksudmu berpisah?” hyohwa menatap adiknya bingung. Baekhyun hanya diam dan menunduk seolah menutupi semuanya.

“Oppa…” penjelasan Shimin terputus dengan teriakan panggilan dari appanya.

“Shimin, appa sudah bilang jangan berkeliaran di pintu kamar kakakmu. Kau akan mengganggu mereka.” Kata sang appa mengingatkan, lalu menuntun Shimin turun ke kamarnya. Baekhyun menutup pintunya kembali dan menguncinya.

“Oppa! Apa yang sedang kau sembunyikan dariku? Apa maksud ‘berpisah’ Shimin tadi? Bukankah kau hanya pergi dengan EXO karena panggilan kerja?” Tanya Hyo bertubi-tubi memaksa baekhyun untuk menjelaskan semuanya. Sebal karena tidak ada respon, ia pun berkacak pinggang menunggu jawaban dari suaminya. Tak lama Baekhyun menjawabnya, walaupun dengan berat dan tidak ikhlas.

“Nde, ini kesepakatan kami dengan Presdir. Aku harus pergi dengan EXO untuk meninggalkanmu. Tugasku disini sebagai Dokter sudah usai. Apalagi orang tuamu pasti akan mendapatkan keinginannya dari Shimin, jadi orangtuamu dan kau sudah tak membutuhkanku lagi.” Jelas Baekhyun yang selama ia menjelaskan Hyohwa menatapnya serius.

“Wae? Kenapa kau membuat kesepakatan bodoh itu.” Tanya Hyo tak percaya. Kini tatapan amarah yang diterima oleh baekhyun. Hyohwa membelalakkan matanya yang merah seakan-akan menangis tapi air mata itu tidak kunjung turun.

“Apa… kau akan menceraikanku?”

Ucapan hyohwa menyelesaikan semuanya. Ia tak habis pikir suaminya rela menukarkan dirinya dengan sehun hanya karena shimin hamil dan semua itu karena appanya.

Kembali pada kondisi hyohwa saat ini. Bulir-bulir tertahan itu sudah membanjiri pipi chubby yang tadi dielu-elukan baekhyun padanya.

“Nappeun Namja. Kau mencampakanku hanya karena Shimin hamil lebih dulu? Apa seharusnya kau harus melakukannya lebih awal?” sekali lagi hyohwa ingin memperjelas pikiran-pikirannya. Ia tidak sanggup menahan rasa sakit dan kecewa yang dideritanya.

“Uljima! Mianhae.” balas Baekhyun. Ia ingin menangkup wajah istrinya tapi justru hyohwa malah menghindar. Ia mundur beberapa langkah dan mulai berbicara pada calon mantan suaminya.

“Neo arra? Hatiku lebih sakit daripada sakit yang aku derita selama ini. Kau bukan dokter tapi seorang br*ngs*k.” berkali-kali umpatan kasar Hyo ungkapkan disela tangisnya. Kemudian baekhyun memaksa menarik Hyo kepelukannya

“Mianhaesseo! Saranghae Song Hyohwa-ssi.”

Deg… Hyohwa tercekat dan berhentilah ia menangis. Selama pernikahannya dan peristiwa yang ia alami bersama suaminya, belum pernah kata itu muncul dari mulut mereka. Walaupun selalu ditunjukkan oleh sikap mereka, tapi tak seorangpun berani mengungkapkannya.

“You’re my world Byun Baekhyun-ssi. Nado Saranghae!”

Hyohwa bergumam dan mengeratkan pelukannya di dada Baekhyun. Ciuman penuh nafsu diterima Hyohwa dari bibir Baekhyun yang selalu membuatnya candu. Malam ini menjadi malam terakhir dan dua sejoli itu melakukan malam keduanya di kala langit menampakkan sinar bulan purnama tanpa hamparan awan sebutir pun. Dan dari jauh tampak setitik cahaya melesat seperti bintang jatuh di samping bulan itu, terlihat dari jendela kamar mereka yang tak tertutup sehelai gordyn.

-When I Must To Be Go-

@ruang tengah 09.00 am Kst

Sedang menunggu Tn dan Ny Song serta Shimin. Mereka berharap sesuatu yang akan terjadi tidak membuat putri tertua keluarga itu dalam masalah. Khususnya pada kondisi mentalnya. Mereka yakin baekhyun melakukan hal lebih baik ketika menjelaskan semua keputusan yang telah mereka ambil sebelumnya.

“Appa, apa mereka baik-baik saja?” Tanya Shimin yang khawatir.

“Ne, kita lihat saja nanti.” Jawab Tn Song yang juga khawatir sambil mondar-mandir di hilir tangga rumah mereka.

“Aiggo, kasihan Hyo anakku. Kenapa jadi seperti ini hidup anak-anakku?”. Gumam sang eomma juga gelisah.

Terlihat dari jauh, Baekhyun menenteng kopernya turun ke ruang tengah. Tak luput Hyohwa mengekorinya yang juga menenteng tas kecil milik Baekhyun menampakan wajah yang tak kalah sedihnya.

“Abojhi, Eommoni…” panggil Baekhyun lalu memeluk mereka satu per satu.

“Jeoseohamnida, Baekhyun-ssi. Aku telah menjadi mertua yang bersikap busuk di belakangmu. Aku berhutang banyak padamu.”

“ Khamsahamnida untuk selama ini menjadi menantu kami dan suami yang baik untuk Hyohwa.” tambah Ny Song.

“Nde! Kalian juga selalu baik padaku. Ehm, Shimin. Aku titip unni-mu, ne?” Baekhyun berpesan pada adik iparnya. Shimin hanya mengangguk dalam diam. Hyo yang memandangi pergerakan Baekhyun sudah hampir meneteskan air matanya lagi.

“Kau jaga dirimu baik-baik! Sampaikan maaf dan terima kasihku pada orangtuamu.” Pesan Tn Song yang juga tengah berkaca-kaca. “Nde!” jawabnya dengan sekali anggukan mantap lalu mengalihkan pandangan pada Hyohwa, sang istri yang akan segera menjadi Eks-nya.

“Hyo, kembalikan tas itu. Kau ingin aku dipecat gara-gara terlambat kerja?” goda Baekhyun yang sama sekali tidak lucu. Bibir hyohwa semakin mengkerucut. Ia kembali menahan tangisnya. Tangannya masih erat mencengkeram tas selempang milik baekhyun

“Bisakah kau tidak pergi?” hyohwa kembali terisak. Ia hanya menunduk memandangi dan memeluk barang terakhir milik suaminya

Shimin yang kala itu mendengar permintaan unnie-nya merasa semakin terpukul. Ia begitu merasa bersalah melihat unnie-nya tersakiti karenanya. Ia juga ingin menangis. Tapi apa boleh buat, semuanya sudah terlanjur terjadi.

Baekhyun menangkap wajah hyohwa dan mendongakkannya agar melihat ke arahnya. Ia menggelengkan kepalanya dan merebut paksa miliknya. Seketika membuat wanita tercintanya kembali melakukan aktivitas tangisnya yang baru usai kurang dari 10 menit yang lalu.

Ketika Baekhyun berjalan melewati pintu rumah, Hyohwa pergi menyusulnya sambil berlari sedikit terhuyung terbawa emosi. “Khajima!” Baekhyun yang merasakan pelukan itu dari belakang hanya diam di tempat menahan tangis yang akan membuat dirinya semakin terhipnotis untuk tidak pergi. Tn dan Ny Song datang untuk menarik Hyohwa kembali ke dalam rumah. “Jangan seperti ini Hyo! Biarkan dia pergi.” titah sang appa.

Flashback

Hyo POV

Pagi ini Baekhyun akan meninggalkan rumah sekaligus meninggalkanku. Dia mengepak semua barangnya termasuk hatiku yang direnggut olehnya. “Oppa, apa kau harus melakukan semua ini dengan terpaksa?” tanyaku meyakinkannya. Aku harap dia tidak benar-benar serius,

“Aniyo, ini kulakukan demi kebaikan.” Jawabnya datar sambil terus mengepak barang.

“Kebaikan apa yang kau lakukan? Tak bisakah kau memikirkan perasaanku?” tanyaku menyanggah pernyataannya. Dia berhenti sejenak.

“Apa kau juga tak memikirkan bagaimana perasaanku?” tanyanya berbalik.

“Mwo?” gumamku.

“Aku juga sakit, bahkan bebanku lebih berat dari yang kau bayangkan? Orang tuaku, orang tuamu, kontrakku dengan SM, EXO, fansku, dan KAU. Apa kau bisa memikirkan semua itu sekaligus?” dia memberi penekanan di setiap katanya. Ini membuatku merasakan ada yang berbeda dari Baekhyun yang aku kenal selama ini. Dia dewasa, serius, seperti benar-benar menjadi seorang kepala rumah tangga. Aku terkagum melihatnya.

Dia melambaikan tangannya ke wajahku, “oh?” aku baru tersadar. “Apa yang kau pikirkan?” tanyanya heran.

“Aniyo, aku akan sangat merindukanmu.” Ungkapku.

“Nado bogoshipta. Jaga dirimu baik-baik!” jawabnya lalu mengusap rambutku pelan.

Blush… Oh God! Aku benar-benar akan mati rindu jika kehilangannya. “Kau tak mau mengantarku?” tawarnya ditengah lamunanku. Ternyata dia sudah selesai dan bersiap di depan pintu. “Eo, aku akan membawakan tas ini.” Aku mengikutinya dari belakang.

Di tengah adegan pamitannya pada Appa dan Eomma aku hanya memandanginya dari belakang. Mengingatnya lebih dalam dan menyimpannya jauh-jauh. Tak lama kemudian ia memandangku.

“Hyo, kembalikan tas itu. Kau ingin aku dipecat gara-gara terlambat kerja?” kumohon baekhyun jangan bercanda. Baru saja aku berpikir bagaimana caranya untuk menculikmu sayang.

“Bisakah kau tidak pergi?”

Ia menangkap wajahku dan hanya menggelengkan kepalanya dan berbalik pergi. Nappeun namja! Bagaimana dia dengan santai terus berjalan hingga melewati pintu rumah. aku menyusulnya sambil sedikit berlari.

“Khajima!” teriakku lalu kupeluk punggungnya erat, seakan tak mampu membiarkannya pergi. Aroma tubuh dan pelukannya yang tak bisa aku lupakan ini harus pergi sekarang juga. Kudengar Appa dan Eomma datang dan menarikku kembali ke dalam rumah. “Jangan seperti ini Hyo! Biarkan dia pergi.” titah appa.

Dia sama sekali tidak berbalik dan langsung pergi saja setelah aku melepaskan pelukanku. Tangisku pecah diantara appa dan eomma. Hiks…Hiks…! Aku tak pernah berharap kisah cintaku berakhir seperti ini.

Baekhyun POV

Saat ia melepas pelukkannya, hatiku terasa loss, hilang, dan sakit bersamaan. Bagaimanapun aku harus pergi, mianhae! Aku tak bisa. Sambil menahan air mata aku berjalan menemui taksiku. Memandang penuh harap agar suatu hari nanti aku bisa kembali ke rumah ini untuk terus bersamamu hyo.

“Ahjushi, jalankan mobilnya!” titahku.

Di tengah perjalanan menuju dorm, aku menangis bahkan mengalir begitu saja. Aku menangis dalam diam tak bersuara. Kuarahkan pandanganku pada jalanan dan gedung-gedung tinggi selama perjalananku. Damn!! Apa aku terlalu egois kali ini?

-When I Must To Be Go-

Author POV

Sidang perceraian Baekhyun dan Hyo berlangsung lancar walaupun pihak perempuan hanya diwakili oleh pengacara dan appa-nya saja. Konferensi pers akan segera dilakukan, hal ini dilakukan karena SM ingin Baekhyun menjelaskan pada publik bahwa perceraiannya tidak bersangkut paut dengan SM. Ini berarti, SM sembunyi tangan yang sebenarnya mengorbankan perasaan artisnya yang sedang mengalami masalah.

Pertanyaan bertubi-tubi dilancarkan untuk Baekhyun dan pengacaranya serta Tn Song yang juga didampingi pengacaranya. Banyak yang mengklaim bahwa pernikahan mereka untuk mendongkrak popularitas EXO. Ada pula yang berasumsi bahwa Baekhyun hanya main-main dengan pernikahan yang selama ini dianggap semua orang adalah sakral. Banyak lagi yang menyatakan bahwa keluarga Song hanya ingin memanfaatkan ketenaran Baekhyun untuk meningkatkan saham perusahaannya. Terlebih lagi, menganggap Hyo sebagai seorang penggoda dan tukang selingkuh. Ini membuat Baekhyun dan Tn Song geram.

“Kami tekankan sekali lagi, bahwa perceraian ini dilakukan dengan baik-baik. Tidak ada campur tangan dari SM Entertainment dan keluarga, ini keputusan kami berdua saya dan Nn Song. Khamsahamnida.” Jelas Baekhyun panjang lebar meyakinkan wartawan kepo itu.

Akhirnya konferensi pers itu berakhir dan membuat mereka bernafas lega. “Ajusshi, kenapa Hyo tidak datang?” Tanya Baekhyun penasaran.

“Mianhamnida, dia sedang tak ingin keluar. Tapi dia menitipkan salam padamu.” Jawab Tn Song. “Ne?” gumam Baekhyun. “oh, dia bilang: Annyeong! Nan bogoshipda. Muach…!” ungkap Tn Song kecentilan menirukan anaknya. Baekhyun yang melihatnya terperangah lalu tersenyum di udara sambil berkacak pinggang.

“Aish, jinja! Abojhi, bilang padanya aku sudah menerimanya. Eo.. aku lupa, jeoseohamnida Ajhussi! Aku benar-benar lancang terhadapmu.” Ungkap Baekhyun dengan penyesalan menundukkan badannya.

“Gwaenchana, kau sudah aku anggap anakku Baekhyun-ssi. Aku bersalah telah membuat kalian begini, maafkan aku!” sekali lagi Tn song menepuk-nepuk pundak baekhyun untuk meyakinkannya.

“Jangan terlalu dipikirkan, tolong jaga dia untukku abojhi. Bagaimanapun, karena dirimu aku bisa mencintainya. Khamsahamnida!” kata baekhyun mengakhiri perbincangannya. Kemudian ia pergi kembali ke dorm.

-When I Must To Be Go-

@Dormitory

Baekhyun baru saja datang dan ia disambut haru oleh rekannya. “Kau pasti sangat terpukul Hyung?” ungkap Chanyeol. Baekhyun membalasnya dengan senyuman saja lalu beranjak pergi ke dapur untuk mencari minum.

“Baekhyun-ah! Eoooh.. perutku sakit sekali!” teriak DO setelah keluar dari kamar mandi.

“Wae-yo?” Tanya Baekhyun sedikit khawatir.

“Kau punya obat sakit perut tidak, sepertinya aku salah makan tadi.” Ungkap Do sambil meringis kesakitan memegangi perutnya.

“Gidaryeo! Sepertinya aku punya. Kau bisa ambil kotak obat warna putih di laci nakasku.” Jawab Baekhyun memberi solusi. Tanpa basa-basi, DO pergi ke kamar BaekYeol sesuai petunjuknya.

Begitu DO menemukan kotak obat milik Baekhyun, selain obat yang dimaksud ia menemukan sesuatu yang lain. “Mwo-e?” dipegangnya benda itu sembari menganalisis. Tiba-tiba Baekhyun menyusul masuk bersama sang leader Suho.

“Do, bukankah itu alat pendeteksi kehamilan?” tebak Suho.

“Ya! Kenapa kau mengacak-acak kotak obatku?” tukas Baekhyun.

“Ne, sepertinya belum pernah dipakai…”

“Oh, kau juga memiliki benda ini? Haha…” teriak DO dengan girangnya. Baekhyun seperti sedang dipermalukan, dia merebut kembali apa yang ditemukan DO di sana.

“Kau memakai kontrasepsi?” Tanya Suho pada Baekhyun.

“Tidak juga, aku hanya menyimpannya. Aish, sepertinya obat-obatku tercampur dengan barang pribadi Hyo.” Jawab baekhyun menyanggah kepemilikannya karena merasa malu. DO dan Suho saling berpandang mata lalu melihat Baekhyun lagi.

“Bagaimana kalau ternyata Song Hyohwa hamil? Apa yang akan kau lakukan?” Tanya DO serius. Baekhyun berhenti sejenak dan berpikir.

“Nde, kalian sudah bercerai. Eotteokhae?” tambah Suho sang Leader.

“Aku tak berpikir sampai ke situ. Jangan bercanda terlalu serius.” Pembicaraan itu disanggah oleh Baekhyun.

“Kami hanya bercanda! Haha…” jawab DO dan Suho cekikikan.

Baekhyun POV

“Bagaimana kalau ternyata Song Hyo Hwa Hamil? Apa yang akan kau lakukan?” pertanyaan DO mengagetkanku.

“Nde, kalian sudah bercerai. Eotteokhae?” tambah Suho hyung yang semakin menggalaukanku. Aku diantara percaya dan tidak percaya. Aku tak pernah memikirkan hal itu akan terjadi.

“Aku tak berpikir sampai ke situ. Jangan bercanda terlalu serius.” Aku mencoba menyanggahnya melihat realita.

“Kami hanya bercanda! Haha…” dasar menyebalkan.

“Aish, kalian ini membuatku panik saja. Pergilah, kau sudah mendapat obatnya bukan?” ungkapku mengusir mereka pergi.

Setelah mereka pergi, aku terduduk dan kembali termenung dengan dua benda di tanganku. Benda-benda ini membuatku terpikirkan kembali kata-kata mereka. Kedua benda ini sama sekali belum terpakai. HAMIL?? Awalnya aku begitu takut dengan hal ini sehingga waktu itu aku membelinya (Kontrasepsi). Tapi, sepertinya Hyo-lah yang menginginkannya sehingga ia membeli benda ini (Testpack).

OMO! Malam itu kami???…….

TBC

Yey, chapter 4 dah selesai. Part B ini lebih panjang dari Part A. Sebenarnya yang bagian sidang perceraian ke bawah itu aku mau cut ke chapter 5, tapi nggak jadi soalnya nggak nyambung, udah beda problem.

Please komen, jangan kacang mulu. Satu dua kata komen kalian sangat berarti bagi author. Baik buruknya aku terima banget kok! ^.^

Sampai jumpa di Chapter 5!! Maaf nggak ada spoiler.. haha

 

Iklan

6 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] When I Must be Married-(Chapter 4B)

  1. yaahhh kok jadi cerai sih?? kesepakatan? ak masih rada kaga ngerti sih… masalah ny ngebingungin banget dah”_”. tapi tetep mangat ya thor pokok ny ak akn terus dukung kamu oke!! mudhn aja su hyo bunting jadi mereka bisa kembali dn gk ada yg nama kontrak/kesepaktn atau apalah nama ny. baekhyo fighting!!!

    • yah. belum paham ya? inget chap 1A ya, kenapa si bapaknya hyo nikahin mereka. sbnernya aku tipe org yg misterius. cieh.. plak!
      nggak semua kejadian diceritain dgn detile. beberapa kejadian cuma aku kasih clue atau sinyal2 aja. kalo nangkep sih.

      tunggu chap berikutnya ya!! ^.^

  2. ihh, ya ampun gimana kalau hyo hamill?? terus nnt mrk kembali bersama kan? hing TT 😥
    ditnggu nextnya ya kak el..
    eh manggil kak el boleh gak sih? aku sksd banget wkwk.. 😂😂
    fighting

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s