[EXOFFI FREELANCE] When I Must Be Married (Chapter 4A)

When I Must be Married (Chapter 4A)

By El Byun

Chaptered

Romance||Comedy||Married Life||Mature||Angst

Rating    (PG-17)

Main Cast:

Baekhyun EXO || Song Hyo Hwa (OC)

Adittional Cast:

Sehun EXO || Song Shimin (OC)

etc

Summary:

Nasib kehidupan pernikahan kami selalu ditentukan oleh orang lain. Tapi perasaan yang kami miliki tidak bisa ditentukan oleh orang lain.

Disclaimer:

FF ini asli dari jerih payah pikiran author. Jika ada kesamaan cerita, alur dan tokoh itu hanya kebetulan. Tidak ada niat untuk meniru atau menjiplak karya orang lain. Sebaliknya, don’t be plagiarsm please! Be good readers! Lanjutan fanfic ini belum pernah dipost sebelumnya.

Part A “dongsaeng’s problem”

@7.30 am

Suasana sarapan pagi ini terlihat berbeda. Di rumah baekhyun berkumpul keluarga song yang menambah keakraban diantara mereka. Suasana hati para orangtua juga sedang berbunga sekarang ini. Pasalnya mereka merasa misi kali ini telah berhasil. Mereka bisa melihat dari gerak-gerik anak mereka yang canggung, terlebih wajah sumringah baekhyun yang begitu frontal menyiratkan keberhasilannya. Namun para orang tua tidak memperhatikan hyohwa yang sedari tadi cemberut.

“Kami senang kalian bisa akur lagi! Rasanya pernikahan kalian tidak sia-sia.” Ungkap appa Hyohwa bergurau. Baekhyun tersipu malu, sementara Hyohwa mencibir mulutnya diam-diam. “che.. apanya yang akur?” gumam Hyohwa.

Sementara itu giliran Shimin yang memecah suasana, “appa, eomma, aku berangkat. Jangan lupa minggu depan datang ke acara pelepasanku.” Jelasnya dengan raut muka datar dan dingin seolah terjadi suatu masalah dengannya. Dengan meninggalkan rumah ia kembali bergumam, “Pernikahan?? Seakan begitu mudah mereka mengatakannya, Ceh..” Ia menyeringai.

Kembali ke meja makan. “Ya, Baekhyun anakku. Auramu begitu terang hari ini. Aku senang melihatmu seperti ini.” Kata eomma Baekhyun sambil memberikan sepotong daging untuk lauk anaknya.

“Gomawo!” balas Baekhyun tersenyum lebar.

Kebahagian di meja makan tersebut membuat Hyohwa tidak nafsu makan lagi.

“Aku sudah kenyang.” Ucap Hyohwa singkat mengambil piringnya dan milik Shimin.

“Ya, kau baru makan sedikit.” Ungkap Baekhyun heran. Tanpa menghiraukan sindiran Baekhyun, Hyo pergi ke dapur sendirian.

Di tempat pencucian piring, Hyo kembali termenung dan melihat pergelangan tangannya. “Mwo.. dia bahkan tak memikirkan bagaimana perasaanku. Mempermainkanku dan melakukan seenaknya sendiri. Ku pikir bekas ini akan sulit untuk menghilangkannya. Aish…” gerutu Hyohwa kesal. Tiba-tiba seseorang meletakkan piring diatas piring-piringnya.

“Masih memikirkannya?” ujarnya santai.

Hyo yang menyadari kehadirannya langsung menyahut, “Kau pikir??” balasnya sinis. Baekhyun hanya mengangguk, “Mianhae!” lanjutnya. Deg.. Hyohwa terkejut dengan respon suaminya barusan dan menghentikan aktivitasnya menyuci sejenak.

“Tto.. “ Hyo hendak merespon tapi Baekhyun menyela lagi. “Kau tahu bagaimana rasanya ciuman rasa apel?” katanya sambil menggigit buah apel yang ada di tangannya. Sepertinya Baekhyun ingin merajuk. Hyo menelan ludahnya ketika Baekhyun memandanginya intens dan ia selalu terjebak dalam suasana itu. Setelah mengatakannya, Baekhyun enggan meninggalkan Hyo dan menungguinya mencuci piring sambil bersandar di meja sebelahnya.

Hyo selesai sampai mengeringkan piring dan meletakkan pada tempatnya kembali. “Kau selesai?” kata Baekhyun singkat lalu menggigit apel terakhirnya dan menarik Hyohwa dalam ciuman apelnya. Hyo yang kaget dengan perlakuan suaminya hanya pasrah apa yang hendak dilakukannya. Baekhyun menyesap sedikit apelnya lalu mentransfer seluruh sari beserta sisa apelnya pada Hyohwa. Hyo mau tak mau harus menerimanya dan membalas tautan bibirnya untuk merasakan manis-asamnya ciuman apel milik Baekhyun.

“Anak-anak, ibu akan pergi ke supermarket. Akankah kalian ikut…” kata Eomma Hyohwa terputus tak sengaja melihat kelakuan anaknya.

“OMO!!” teriak sang ibu. Mendengar ada suara orang lain Baek-Hyo segera menghentikan aktivitasnya.

“Eeoo.. Eomma?” gumam Hyo. Baekhyun pura-pura tidak melihat sambil garuk-garuk kepala segera Hyo menyadarkannya dengan memukul lengannya kesal.

“Melihat kalian seperti itu, sepertinya kalian tak perlu ikut. Eheh..” kata Eomma Hyo sambil menyeringai. Mereka berdua hanya tersenyum tersipu malu lalu sang Eomma pergi sambil menggelengkan kepalanya.

“Ini semua gara-gara kau!!” bisik Hyo sambil mencubit perut Baekhyun kesal.

“Aargh.. kau ini apa-apaan sih? Sakit!!” ringis Baekhyun.

“Setidaknya kau harus tahu sikon!” tukas Hyo lagi. Keromantisan mereka hanya bertahan beberapa menit dan sekarang mereka telah bertengkar lagi.

<1 minggu kemudian>

Kembali di rumah keluarga Song. Sebentar lagi mereka akan menghadiri pelepasan Shimin di sekolah menengah atasnya. Namun sampai pukul 9 pagi batang hidung shimin belum muncul dari balik pintu kamarnya.

“YA! Cepatlah sedikit, acara pelepasanmu akan segera dimulai. Apa kau mau melewatkan peristiwa penting ini eoh?” teriak sang Eomma dibalik pintu. Tak ada jawaban dari sang empunya kamar. Sudah setengah jam berlalu hanya untuk menunggu Shimin.

“YA, SHIMIN! KELUARLAH!” tambah sang Unni, Hyohwa. Tak sabar ia langsung membuka kamar dengan paksa. BRAKK…!!

“YA, kau kenapa menangis?” kata Hyo lalu menghampiri adiknya. Ia sedang meringkuk di bawah tempat tidur sambil menangis. Hyohwa begitu heran dengan adik satu-satunya ini.

“Hiks hiks…  ii..igo..!!” Shimin memberikan sesuatu pada kakaknya sambil menangis tersedu-sedu.

“Mwonde?” Hyohwa mengambil sebuah benda kecil di tangan adiknya yang disembunyikan di dalam genggamannya.

“TTO??!!” tiba-tiba ia berteriak. Nafasnya tersengal, kakinya seketika lemas dan jatuh bersimpuh sejajar dengan adiknya. Ia melihat adiknya nanar dengan mata merah seakan ingin menangis. Dadanya sakit melihat adiknya begitu menyedihkan.

“Aku ha.. hamil unnie. Hiks.. hiks..” tangisnya pecah kembali dengan linangan air mata yang semakin membanjiri wajah shimin.

“Nuguya shimin? Nugu?” tanya hyohwa memaksa, bahkan urat-urat lehernya menegang seperti kesusahan untuk mengatakannya. Terjadi introgasi rumit diantara kakak beradik ini. Mereka yang menunggu diluar tak sabar ingin segera tahu.

Hyo keluar beberapa saat kemudian dan menghampiri Baekhyun suaminya serta berunding.

“Hey, ada apa dengan wajahmu?” ekspresi baekhyun meyiratkan kekhawatiran.

“Igo..!” Hyo memberikannya sesuatu. Dan sebelum baekhyun salah paham ia menjelaskan bahwa tespack itu bukan miliknya tapi milik shimin. Baekhyun yang mendengar kejanggalan itu mengernyitkan dahi heran. Dan hyohwa membisikkan sebuah nama di telinga baekhyun pelan.

“Sehun-ah???” Baekhyun mengumpat sebuah nama. Hyohwa hanya mengangguk pelan membenarkan kata-kata baekhyun.

“Wae, apa yang sedang terjadi?” Tanya sang Eomma penasaran. Hyo menunjukkan benda itu pada Eommanya dengan tangan yang gemetaran.

“Wah, apa secepat ini kau hamil hyohwa?” dan sang eomma hampir berpikiran sama dengan baekhyun pada awalnya.

“Itu milik shimin, eommoni.!” Setengah hati baekhyun mengatakannya dan di saat sebelumnya hyohwa mencubit pelan lengan baekhyun. Menandakan ia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya pada eommanya.

“Shimin HAMIL???? OMO!!” teriak Eommanya kemudian berlanjut pingsan ditempat segara Baekhyun menangkapnya. Semua orang yang ada dirumah tersebut ribut dengan sendirinya. Semua tak menyangka bahwa kehamilan yang diharapkan dari pasangan Baekhyun-Hyohwa yang jelas sudah menikah ternyata didahului oleh Shimin-Sehun yang statusnya belum menikah.

Akhirnya Shimin melewatkan hari pelepasan SMAnya. Hari itu pula terjadi perdebatan panas di keluarga Song. Untung saja keluarga Byun tidak hadir hari itu, sehingga tidak menambah banyak perdebatan mereka karena masalah ini.

@ruang keluarga

“Shimin, tolong ceritakan kebenarannya pada appa. Jangan hanya menangis saja kau ini.” Bentak sang Appa karena tidak sabar menghadapi putrinya yang cengeng itu. Hyo dan Baekhyun menunggu dengan cemas di sofa lain yang bersebelahan dengan appanya sambil menautkan tangan mereka karena saking tegangnya. Sementara sang Eomma tengah diistirahatkan di kamarnya karena belum sadar.

“YA, Baekhyun! Kenapa kau tidak membantu menghubungi rekanmu itu. Suruh dia kemari untuk menjelaskannya pada appa!” titah tuan Song tidak sabaran, ia mengkerutkan jidatnya karena depresi. Baekhyun dengan sigap mengambil ponselnya dan menghubungi Sehun untuk datang segera.

“Appa!” akhirnya Shimin bersuara. Dengan suara terisak dia mencoba menjelaskan pada appanya. “ii.. inii terjadi…  karena.. karena mi..minuman…” belum selesai Shimin menjelaskan appanya sudah menyela. “APA? MINUMAN? Apa kalian minum alkohol? Mabuk-mabukan? HAH!” tuan Song hendak menampar anaknya, untung saja Hyo langsung bertindak memegang lengan appanya dengan sedikit menunduk tanda penyesalan.

“APPA, jangan!… maaf atas kelancanganku. Biarkan Shimin yang menjelaskan lebih dulu. Sebaiknya appa berpikir dengan kepala dingin.” Cegah Hyohwa serta menasihati.

“Abojhi, dia akan segera datang kemari.” Sahut Baekhyun mencerahkan keadaan. Tn. Song segera duduk bersandar untuk mengistirahatkan pikirannya yang kacau. “huh..” beliau mendesah. Sementara itu Hyo mendekati adiknya dan menenangkan tangisnya. “Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja.” Katanya sambil memeluk Shimin.

Beberapa waktu kemudian pria yang dimaksud datang. Dengan langkah terburu, dia menghampiri tempat berkumpulnya anggota keluarga rumah ini.

“Annyeonghasimika.. Tn. Song, Hyung, noona,…” sapanya tanpa menyebut nama Shimin dan hanya memandangnya dalam penuh arti. “Anja!!” suruh Tn. Song pada pria itu. Setelah pria yang bernama Oh Sehun itu duduk, pertarungan akan dimulai.

Dongsaeng’s problem

Sehun POV

Setelah mendapat kabar dari baekhyun hyung bahwa shimin hamil aku langsung pergi. Aku melihatnya begitu ketakutan. Dan benar saja, ekspresi Tn Song sangat menyeramkan saat ini. Aku tahu dia pasti sudah membentak shimin sebelum aku datang

“Anja!!” aku dipersilahkan duduk dengan nada tinggi seakan aku adalah penjahat. Darahku berdesir, apa yang akan terjadi padaku. Mereka menatapku seolah semua memang salahku. “Kau! Apa yang sebenarnya kau perbuat dengan anakku?” Tanya Tn. Song. Deg!! Kulihat kemarahan di raut wajahnya yang begitu menakutkan, tetapi Shimin yang memandangku seolah memohon aku mengatakannya.

“Eh, nae.. ga.. naega..” BBRRAKK..!!! aku tersentak hingga tak ku lanjutkan kata-kataku karena Tn Song menggebrak meja didepan kami dengan kerasnya. “CEPAT KATAKANLAH!! Shh.. apa yang harus ku katakan pada Presdir? Ck..” dia mengumpat sendiri. Presdir? Masalah ini akan rumit jika menyangkut dirinya. Lalu aku memutuskan akan mengatakannya segera.

Flashback on

Setelah lama berlarian dengan Shimin kami memutuskan untuk bersembunyi di suatu ruangan. “Shimin, ini kamar siapa?” tanyaku. “Ini kamar mereka tentu saja.”

Sepertinya dia mengatakannya tidak ikhlas. Matanya mengabsen seluruh sudut ruangan ini dengan penuh kebencian.

“Kenapa wajahmu seperti itu ketika mengatakannya?” tanyaku heran.

“Tentu, dia punya segalanya daripada aku. Perhatian ayah-ibu, fasilitas semuanya lengkap, bahkan dia punya Baekhyun oppa walaupun tak setiap hari bertemu tapi kelihatannya dia senang sekali.” Jawabnya ketus.

“Kau iri?” tebakku dia hanya mengangguk pelan. Aku baru menyadarinya hari ini, kalau hidupnya tak selalu seceria wajahnya.

Di ruangan ini dia menceritakan seluruh perasaannya pada keluarganya sendiri. Mulai dari ketidak hangatan sikap ayahnya dan ibunya. Mereka terlalu sibuk mengurus kakaknya yang manja. Sehingga dia memutuskan untuk tinggal di asrama agar ia bisa mendapatkan perhatian lebih dari orang lain. Mengingat status ayahnya adalah pemilik perusahaan yang menjadi salah satu investor utama SM entertainment, shimin malah semakin dijauhi oleh teman-temannya bahkan tak jarang memanfaatkannya hanya untuk sekedar numpang tenar atau uangnya saja. Ia capek berada di posisi atas tapi direndahkan sehingga dia memutuskan kembali tinggal di rumah. Ia tak sepenuhnya membenci kakaknya hanya saja ia menginginkan perhatian itu saja. Bahkan hanya kakaknya yang mengerti dirinya walaupun terkadang ia juga sering memarahi shimin karena tingkah jahilnya. Itulah kenapa dia selalu bersikap seenaknya sendiri. Tomboy? Itu alasan lain agar dia terlihat kuat di depan orang lain.

“Ah, Shimin! Apa kau tidak haus?” tanyaku sembari memegangi tenggorokanku yang sudah terasa kering itu. Mendengarnya bercerita panjang lebar seperti itu membuatku haus.

“Ne, tapi aku tak membawa minuman. Apa kita harus turun?” ajaknya. Aku melihat dua gelas air mineral di nakas dan ku panggil Shimin lagi.

“Oh, tunggu!” kemudian dia berbalik. “Disini ada dua gelas air, ku pikir tidak masalah kalau kita minum. Kan hanya air mineral dan mungkin kakakmu bisa mengambilnya lagi.” hanya itu tu yang sedang terlintas di pikirkan saat ini. Dia tersenyum dan berbalik mengambil salah satu gelas itu.

“Minumlah, unni tak mungkin mengambil sendiri kan?” suruhnya. Benar juga, noona dan Baekhyun hyung akan mengambilnya bersama. “Geurae!” tanpa persetujuan aku mengambil gelas satunya dan bersulang dengan Shimin lalu meminumnya bersama.

Kami duduk di lantai bersandar tempat tidur untuk melepas lelah kami bercanda dari tadi. Kami masih menyendiri di kamar. “Apa kau tak ingin keluar?” tanyaku memecah kesunyian. “Shireo!” jawabnya singkat. “Wae?” tanyaku mengapa. “Aku terlalu malas untuk bertemu mereka.” Jawabnya jujur. “Geurae, aku akan menemanimu. Bagaimana?” tawarku.

Setelah sekian lama kami duduk, aku merasakan ada sesuatu yang aneh pada tubuhku. Suhu  tubuhku yang semakin tidak menentu, kadang terlalu panas kadang terlalu dingin sehingga seakan membutuhkan sentuhan. Kulihat Shimin mengusap lengannya, entah mungkin kedinginan atau merasakan hal yang sama denganku.

“Sepertinya ada yang aneh dengan minuman itu.” Tanyaku. “Nde, aku sedikit tidak enak badan.” Jawabnya polos. Mataku sedikit berkunang-kunang, tapi aku paksakan untuk tetap fokus. Ku mencoba membuka pintu kamar tapi tak bisa. “Aiggo, tidak bisa dibuka.” Gerutuku. Lalu Shimin mendekat dan mencoba membukanya. Berada di dekatnya saat ini aku merasakan ada suatu yang menarikku untuk lebih dekat dengannya. Aroma tubuhnya seakan menusuk syaraf otakku. Sebelumnya aku merasakan biasa saja, tapi sekarang aku harus mengumpat bahwa tubuhku sudah tidak kuat untuk menolaknya.

Kubalik tubuhnya dan mulai menciumnya. Tubuhnya meronta tapi bibirnya menginginkan lebih. Baru kali ini aku merasa gadis tomboy ini sepenuhnya adalah feminim. Tangannya menggelayut lembut di leherku. Bahkan aku bisa merasakan gerakan tubuhnya tak lebih dari sekedar nafsu. Dan selanjutnya aku melakukannya dengan setengah sadar. Seperti di alam mimpi, seperti tidak nyata.

Shimin menyadarkanku yang masih bernafas tersengal-sengal setelah kegiatan tadi dan ia menyuruhku pergi lewat pintu belakang rumah ini bahkan gaunnya sudah terpasang lengkap ditubuhnya kembali. “Kha, sebelum kakakku kemari.” Suruhnya. Aku hanya diam dan mengangguk. Dia mengantarku hanya sampai pintu, sepertinya dia ketakutan sekali. Aku segera memanggil taksi. Walaupun sebenarnya mereka akan kaget ketika aku sampai di dorm lebih dulu.

Flashback off

Mereka yang mendengar ceritaku langsung bergumam sendiri, kecuali Shimin yang hanya diam. “Aku yakin, minuman yang di gelas itu kosong pasti seseorang meminumnya.” Kata Baekhyun hyung meyakinkan Hyo noona. “Arra.. arra.. namanya gelas kosong pasti seseorang telah meminumnya. Mana ada gelas itu kosong sendiri Baekhyun-ah.” Sahut Hyo noona.

“Aigoo.. Aigoo.. eotheokhae!! Haranim, mengapa jadi salah sasaran begini?” Gumam Tn song membuat semua orang melihat hanya tertuju padanya. “Appa?/Abojhi?” guman Baekhyun hyung dan Hyo noona bersamaan. “Appa?” akhirnya Shimin mengeluarkan suaranya.

“Jangan katakan itu adalah ulahmu?” tuduh noona pada appanya.

“Tunggu Hyo, appa..”

“Itu bukan minuman perangsang kan, abojhi?” Tanya Baekhyun hyung menuduh Tn. Song.

“Oppa, apa itu minuman perangsang?” Tanya Shiminku yang polos.

“Igo, untuk mempercepat proses itu.. eh.. itu..” penjelasan Baekhyun hyung terlalu berbelit-belit membuat Hyo noona harus menutup mulut suaminya paksa.

“YA, apa yang sedang kau bicarakan? Bla..bla..bla..” noona berbisik pada hyung tentang sesuatu yang tak dapat aku dengar.

Baekhyun POV

“Oppa, apa itu minuman perangsang?” Tanya dongsaengku yang polos itu.

“Igo, untuk mempercepat proses itu.. eh.. itu..” aku menggerakkan tanganku tak tentu supaya lebih jelas tapi malah Hyo membekapku dengan kasar.

“YA, apa yang sedang kau bicarakan? Shimin bahkan baru dapat KTP-nya tahun ini. Kau mau meracuni dongsaeng-dongsaengmu dengan pikiran mesummu itu? Michin!” bisik Hyo yang dengan marah-marah itu membuat kupingku terasa panas. Tapi, hembusan nafasnya membuatku tidak sabar untuk menunggu hari menjadi gelap.

“Aku tak bermaksud begitu.” Belaku. Abojhi bangkit dari bersandar dan memulai pembicaraan.

“Ini memang salahku. Mianhae!! Tapi, bisakah kalian memberi solusi daripada bertengkar seperti itu?” kami semua hanya menggeleng.

“Ok, kalau begitu Baekhyun dan Kau (?) harus ikut aku menemui presdir untuk menjelaskan semua ini dan bernegoisasi dengannya.” Jelas abojhi seperti sedang putus asa kalau dia datang pada presdir sendirian tanpa mengajak kami.

Siang itu juga kami menemui presdir Lee Sooman di kantornya. Berharap keajaiban datang dalam kehidupan kami. Terlebih adik iparku shimin yang nasibnya sudah diujung tanduk.

Beberapa jam kemudian sampailah kami di kantor SM Entertainment. Kami sedang berada di ruang presdir berlima dengan sekretarisnya. Tn song ayah mertuaku menjelaskan kalau sehun telah menghamili anaknya karena kecerobohannya. Dia orang yang jujur. Ia juga meminta ijin untuk sehun agar segera menikahi anak bungsunya.

“Apa? Kau ingin bernegoisasi lagi? Artisku ini bukan mainan yang bebas untuk diminta dan diperjualbelikan, arrata?” tolak Tn Lee Sooman. Bernegoisasi? Apa maksud perkataan mereka? Membuat aku bingung. Abojhi bahkan tidak pernah bercerita tentang perjualbelian artis. Apa aku sedang dibeli untuk menikah dengan putrinya?

“Tunggu, apa maksudnya diperjualbelikan? Aku benar-benar tidak mengerti.” Kuberanikan diri untuk bertanya. Hal itu memang mengganjalku.

Mereka menjelaskan bahwa tuan song memberikan kontrak dengan jaminan saham sebanyak 5% untuk SM Entertainment untuk memberikan ijin salah satu artisnya untuk menikah dengan putri tertuanya hyohwa. Awalnya aku kecewa dengan kelakuan mertuaku ini, tapi melihat kondisinya sekarang aku jadi kasihan. Aku tahu tujuan utamanya hanyalah membahagiakan anaknya.

“Tuan, bagaimana kalau rumor ini terdengar oleh paparazzi? Akan sangat membahayakan bagi karir EXO kedepannya.” Jelas sang sekretarisnya.

“Benar, mereka akan memandang artis kita sebagai tukang mesum. Dan itu semua salahmu Tn Song.” Tuduh presdir kejam. Aku merasa iba dengan abojhi yang dikucilkan seperti ini. Tetapi, kalau dipikirkan lagi semua ini bukan sepenuhnya salah abojhi. Sehun dan Shimin juga salah. Sebagai seorang menantu, suami, dan hyung aku ingin melakukan sesuatu yang berarti. Terlintas dipikiranku untuk melakukan ide gila ini. Arrata, mungkin aku atau seseorang akan terluka karena keputusanku ini.

“Tn Presdir…”

TBC

Asik, ngeditnya nggak terlalu banyak. Ceritanya pasaran banget kan? Minuman apa itu, pe*ang*ang? Maaf ya yang puasa, author gk bermaksud kok! Bahasanya gk terlalu frontal kan? ^.^

Yang masih kesulitan/belum mendapatkan password untuk Chapter 3, silahkan check

Pre-Chapter 3, untuk informasi kontak dari author!

Like or comment dong! Biar author bisa semangat buat kirim sampai selesai. Nggak mau kan ceritanya tiba-tiba di cut kayak sinetron india? Wkwk.. curhat

Iklan

9 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] When I Must Be Married (Chapter 4A)

  1. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] Unforgettable Family (Chapter 4) | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] Unforgettable Family (Prologue) | EXO FanFiction Indonesia

  3. kerenn author tadi nya ak penasaran siapa yg menghamili adik ny hyo. eh ternyata hunnie. lanjut ya author, momen baekhyo ny sweet bgt thor, maaf ya ak baru bisa komen, ijin baca chpt selanjut ny ya author, eh btw pw chpt 3 apaan thor? penasarn nih.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s