[EXO FFI FREELANCE ]- LET ME IN – 5A: PAST pt 1

CYMERA_20170521_225525.jpg

Title | Let Me In [Sequel Hold Me Tight]

Author | RahayK

Lead Cast |Byun Baekhyun x Baekhyun / Dellion Foster

Yoon So hee x Baek Eun Ha

Irene Bae x Park Ae Ri

Song Yun Hyeong x Yun Hyeong

Kim Jong In x Kai Kim

Support Cast | Kim Dahyun x Dahyun

Wang Jackson x Jackson

Length |Chapter -Sequel

Genre | AU x Dark x Drama x Friendship x Sad x Bromance x Marriage -Life x Revenge

Disclaimer | Seluruh bagian dalam fiksi ini adalah milik penulis. Jika ada kesamaan dalam garis cerita, kejadian dan setting itu hanyalah kebetulan dan bukan bentuk PLAGIAT. Jika ada yang menemukan fiksi ini bukan di blog yang aku cantumkan dibawah tolong segera lapor ke penulis! Seluruh fiksi ini dilindungi oleh Hak Cipta @1005iyu.Aku mengijinkan baca tapi tidak untuk di co-paste apalagi dijadikan dokumen private. Thanks!

Keseluruhan cast hanya sebagai visualisasi, mohon untuk tidak men-judge secara negatif para pemain yang ada di fiksi penulis! Cast milik TUHAN YME, dan Ortu serta agensi masing-masing.

“Menuangkan pikiran dalam tulisan tidak semudah men-judge karya orang!So, jadilah bijak kawan.. makasih!” _RHYK, 2017

Poster | RahayK Poster

Summary |Karna,tanpa kau cari, dia akan datang padamu dan mau tak mau kau harus menghadapinya dengan berani, karena begitulah kita hidup. Dan begitulah manusia hidup, dengan Takdir yang ada ditangan Tuhan.

 

Summary this Chapter|

“Daripada balas dendam, aku akan melakukan sebuah pembuktian.”

 

:::LET ME IN:::

Dia seakan menitip sepotong kecil bagian hidupnya padaku. Bukan masalah untukku sebetulnya, hanya saja fakta bahwa lelaki itu tak kembali untuk yang ketiga kalinya membuatku seringkali termangu.

 

Termangu dalam dimensi fantasi dan realita bergejolak hingga aku tak dapat membedakan keduanya. Soal dia yang menitipkan sepotong hidupnya maksudnya seperti . . .

 

**

 

Lelaki itu sedikit memaparkan sebuah senyum begitu ia menempelkan ponselnya ditelinga. Mendengar suara yang sudah begitu lama ia rindukan rasanya sejenak membuat ia kembali. Ia juga tak bisa sering-sering mendengar suara itu bercerita bagaimana kemajuan usaha kuliner yang ia buka sejak beberapa waktu, sekitar hampir se-dekade mungkin. Ia tak bisa berbicara lama-lama dengannya karena selain alasan klise yaitu kesibukkan dan kepadatan jadwalnya, problema lainnya adalah masalah waktu. Bukan ia tak memiliki waktu karena kesibukkannya yang terdengar klise jika mendengarnya. Tapi, waktu dalam arti pembagian zona waktu yang berbeda 360 derajat seperti jika ia menelpon malam, maka disana mungkin sekitar pagi atau siang dimana dia pasti akan sibuk dan begitu juga sebaliknya.

 

“Jadi, kau akan kembali ke Korea dalam waktu dekat ini?” tanya seorang wanita diseberang telpon membuat lelaki itu tersenyum seraya melihat wanita yang sedang berbicara via telpon dari sudut lain.

 

“Baekhyun?kau masih disana ‘kan?apa kau sudah tidur?kalau begitu ibu matikan sambungannya.” suara wanita itu terdengar kecewa, karena tak ada jawaban apapun lagi dari sang putera. Ia kembali merapikan meja dimana tersisa mangkuk dan gelas-gelas milik para pelanggan yang telah selesai makan.

 

Lelaki itu tersenyum lebar dan berjalan mulai merapikan meja lain. “Silahkan duduk ditempat lain, meja yang Tuan duduki masih kotor.” ujar wanita itu masih sibuk membereskan meja lain. Lelaki itu masih membereskan meja yang ia duduki. “Sudah kubilang Tuan. .-‘

 

“Memang ada pelanggan yang membersihkan mejanya untuk dirinya sendiri, selain puteramu?” ujar lelaki itu menyengir menampilkan gigi rapihnya, matanya menyipit seketika membentuk seperti garis melengkung. Ia beranjak dari tempatnya duduk dan menghampiri sang wanita yang adalah ibunya.

Sementara nyonya Miyeon sudah termangu kaget melihat kehadiran puteranya yang baru saja berbincang singkat dengannya via telepon. Tentu, tatap rindu yang amat sangat diberikan pada putera satu-satunya.

 

“Baekhyun-ah!kau bilang baru akan berencana ke Korea-‘

 

Baekhyun tak berucap apa-apa lagi pada sang ibu dan segera memeluknya erat. “-bagaimana dengan perkerjaanmu? Kau bilang kau sangat sibuk. Ibu kira kau sudah tidur makanya telponnya ibu matikan karena tak ada jawaban darimu. Kau sudah makan?” tanya Miyeon memberikan pertanyaan yang berbondong yang hanya ditanggapi Baekhyun memeluknya sekali lagi, tentu saja memang siapa yang paling ia rindu selain Nyonya Miyeon jika yang orang yang begitu ia cintai telah pergi meninggalkan dirinya hanya untuk seutas tali kebahagiaan yang ia dapatkan dijalan.

 

“Rasanya aku sudah kenyang dengan pertanyaan ibu.”kekeh Baekhyun lalu duduk kembali dan mengajak sang Ibu melakukan hal yang sama. Miyeon tertawa mendengar jawaban Baekhyun, setidaknya ia sudah memastikan bahwa puteranya sudah berbaikkan dengan keadaan, walau ibunya tahu pasti begitu berat untuk Baekhyun karena bagi Miyeon juga sama.

 

“Begitu ya?Ya sudah, kalau begitu bantu ibu cuci piring bekas pelanggan tadi.” ucap Miyeon dan pergi membawa piring kotor ke bilik dapur. Baekhyun ikut mengekori nyonya Miyeon seraya melihat keadaan resto begitu rumit jika dilihat karena Ibu Baekhyun bekerja sendirian, sebetulnya beliau yang meminta begitu. Ia lebih senang bekerja sendiri katanya, lebih menenangkan, walau Baekhyun mulai mengkhawatirkan banyak hal mengingat usia Miyeon yang tidak lagi muda.

 

Ia menyanyangi nyonya Miyeon amat sangat, ia hanya tak mau terjadi sesuatu pada ibunya saat ia diluar negeri nanti. Rasa takut kehilangan serasa memuncak dibanding hormon dalam dirinya sejak Joo Eun pergi.

“Aku diudara 23 jam bu, tentu saja aku lapar. . berikan aku guksu dan juga bulgogi bersama japchae.” suara Baekhyun merajuk seketika, membuat nyonya Miyeon tertawa dibuatnya. “Baiklah. Bantu ibu setelah ini, setuju?” pinta sang ibu seperti menawari kesepakatan win-win yang membuat Baekhyun memutar matanya lalu ikut tertawa.

 

**

 

Baekhyun mengelap kaca karena sudah kotor menurutnya.Setelah berdebat dengan ibunya tentang apa yang ia kerjakan, akhirnya dirinya setuju untuk mengelap kaca, menyapu, dan juga mencuci piring sementara nyonya Miyeon melayani pelanggan.

 

Tak banyak yang ia perhatikan lewat pandangannya selain, beberapa anak sekolah yang lewat, orang-orang pulang kerja dan beberapa orang yang berkencan.  Persimpangan tak begitu ramai pada jam itu, karena bus dan kereta bawah tanah tentu lebih padat karena orang-orang cenderung malas membawa kendaraan.

Pandangan Baekhyun terhenti saat melihat seorang gadis turun dari mobil sedan hitam dan tak perlu bertanya lagi ia segera menutup rolling-dor resto nyonya Miyeon. Dan, tak perlu bertanya siapa lagi yang datang, dan kemana arah wanita itu melenggangkan langkahnya yang begitu terlihat ringan dan percaya diri dibanding saat orang itu masih berada di sisinya.

 

“Baekhyun, kenapa kau menutup rolling-dornya?”

pertanyaan nyonya Miyeon tak digubris oleh sang putera, malahan Baekhyun menariknya kedalam bilik dan menuju pintu belakang resto yang menuju jalan raya lain dibalik bangunan itu.

 

“Bilang padanya aku tak akan kembali dalam waktu dekat. Tidak. Pokoknya apapun alasannya untuk bertemu denganku, ibu harus menolaknya. Alangkah baiknya jangan sampai ia melangkahkan kakinya masuk ke resto ini. Jika ia membahas Joo Eun. . sampaikan padanya apa yang ia inginkan. Aku mohon padamu, bu..” ujar Baekhyun dengan nada menekan, ia terdengar frustasi bahkan ia sama sekali tak menyebut nama mantan istrinya itu.

 

Nyonya Miyeon hanya menghela nafas pelan, ia mencoba mengerti puteranya. Meski beliau tahu sudah banyak sekali Baekhyun menghindari orang yang dulu begitu ia cintai. Ia bahkan tak tahu seberapa dalam lukanya dan seberapa parah sakit hati yang ia rasakan karena Ae Ri. Ia menepuk lengan Baekhyun dan menyuruh Baekhyun untuk menunggu disitu dan Ibunya yang akan menemui mantan menantunya itu.

 

Baekhyun hanya terduduk seraya merapatkan kedua tangannya dan menjadikan sebagai penopang dahinya, ia mencintai wanita itu tapi ia juga sama sekali tak bisa memaafkan wanita itu apapun alasannya. Karena, wanita itu meninggalkan dirinya demi orang lain disaat ia butuh dikuatkan, saat ia membutuhkan genggaman hangat tangan wanita itu untuk membangkitkan hidupnya yang runtuh.

 

Tak sadar, keadaan itu seakan meruntuhkan pertahanannya lagi, karena ia kembali meneteskan air matanya di mana gadis itu juga meneteskan air matanya setelah berulang kali meminta agar Baekhyun menemuinya dan mendengar penjelasannya.

 

“…aku mohon padamu, bu. .aku perlu menemui Baekhyun ada yang harus aku jelaskan padanya dan Ibu juga harus tahu.” ujar Ae Ri menahan tangan nyonya Miyeon, mantan mertuanya.

 

“Sudahlah Ae Ri, tak ada yang perlu dijelaskan lagi. Kau sudah bahagia dengan hidupmu, begitu juga Baekhyun. Kau sudah menyakiti puteraku begitu dalam dan begitu banyak. Kau juga yang meninggalkannya. Jadi, semua sudah selesai. Dan, sebaiknya kau kembali dan pulang ke rumah sebelum suamimu mencari tahu penyebab kau menghabiskan air matamu hanya untuk orang yang sudah menjadi asing dan bukan apa-apa lagi untukmu. mengerti?”

 

“Ibu. .sebentar saja. Aku tahu Baekhyun pasti akan mengunjungimu pada hari Chuseok.”

 

“Dia tidak disini. Bicaralah pada Baekhyun ketika Tuhan memberikan waktu dan kesempatan itu. Jadi, hingga waktu itu belum tiba, jangan pernah kesini dan nikmatilah hidup yang kau dambakan sejak lama.Ibu harap kau selalu bahagia. Jangan pernah mencoba untuk membuka luka lama lagi, Ae Ri. Ibu mendidikmu bukan untuk jadi orang yang senang melukai hati orang lain, apalagi sampai begitu dalam dan membuat rasanya mati. Pergi dari sini, ibu tidak ingin melihatmu.Kau tidak perlu datang tahun depan.Kau hanya perlu menjalani hidupmu yang sekarang dengan baik.” Nyonya Miyeon segera masuk kedalam toko dan mengunci pintu sehingga Ae Ri tak bisa masuk kedalam.

“Ibu. . tidak bu, kau harus dengar penjelasanku.Tolong, buka pintunya..”

Ae Ri masih memohon, putus asa menghampirinya hingga pada akhirnya ia kembali ke mobil dengan tangan kosong.

 

:::Let Me In:::

 

Gadis itu menghela nafas penuh lelah, gurat wajahnya sudah tak perlu ditanya lagi seperti apa. Banyak hal yang membuat otaknya harus kerja ekstra ditambah dengan desas-desus yang mengatakan bahwa seorang atasan menyukai dirinya.

 

Tak perlu tanggung-tanggung bukan pangkat manajer lagi yang menyukai dirinya tetapi pangkat Presdir. Gila bukan?. Terdengarnya memang seperti khayalan dirinya belaka. Tapi, begitulah karyawan lain dan karyawan trainee membicarakan rumor tak masuk akal itu. Ia dulu begitu bersemangat begitu tahu bahwa ia diterima menjadi karyawan trainee selama 8 bulan di D Magazine, perusahaan percetakan majalah terbesar dan terbaik se-Korea selatan.

 

Selain atas rekomendasi Pak Kim, dosen universitasnya menimba ilmu tapi, nilai Eun Ha dan keterampilan yang Eunha punya juga membuat ia masuk dalam daftar setelah nyaris tak lolos karena . .

 

 

“Baek Eun Ha -ssi?” sebuah suara membuat lamunan Eunha buyar, begitu menoleh dan melihat sosok yang memanggil namanya begitu lengkap dan benar ia segera membulatkan matanya. Bukan tanpa sebab, karena menurut Eun Ha terlalu gila jika atasannya itu terus menghampiri dirinya ketika di atap kantor. Sebetulnya, atasannya itu adalah orang yang membuat Eunha lolos untuk masuk D Magazine.

 

Eun Ha segera membungkukkan badannya sebagai tanda hormat. “Selamat sore, Direktur Park ”

“Ada apa dengan rambutmu?-‘

Eun Ha tak menjawab dan memegang rambutnya yang sudah tak teratur lagi, selain terkena angin ada sebab lainnya namun Eunha hanya menyengir kecil.

 

Beberapa jam lalu. . .

 

“Sudahlah, kau pikir kau siapa bisa mendapatkan hati Direktur Park?huh?”

Beberapa orang gadis mendatangi Eun Ha dengan tatapan seperti ingin menerkam dan memakan dirinya hidup-hidup. Eun Ha tak cukup berpikir panjang sebelum menjawab pertanyaan itu gadis itu sudah diserang duluan oleh salah satu dari mereka membuat Eun Ha membalas menjambak rambut gadis yang menyerangnya.

Keduanya mengerang kesakitan. “Aku disini untuk bekerja sebagai editor trainee. Bukan untuk berurusan dengan polemik cinta dengan para petinggi disini!”

 

“Kau itu bisa lolos berkat bantuan Direktur Park!Jangan sok bangga kau sudah bisa di D Magazine karena kerja kerasmu itu, mengerti!”

 

“Kalian terlalu berlebihan. Jika kalian menyukainya silahkan saja. Aku tak menyukai beliau, aku tak punya perasaan apapun pada beliau.”

 

“Apa!? Kau mengejekku?!”

 

 

**

 

“Direktur Park?” Eunha tiba-tiba bersuara matanya sebentar melirik atasannya. “Ya?” jawabnya singkat lalu ikut melihat langit yang mulai menunjukkan senja. Eunha sempat berpikir apa harus ia bertanya soal perasaan sang direktur. Terdengar gila sih memang tapi kalau tak begitu, bisa panjang urusannya. Eunha membutuhkan uang untuk biaya hidupnya dan juga untuk biaya rumah sakit Eunki, adiknya.

“Seperti yang kau tau, aku nyaris tak lolos masuk D Magazine. Apa orang dibalik semua itu adalah kau?” tanya Eunha tegas. Sementara, Direktur Park hanya mengernyit sebentar dan memandang Eunha tak mengerti  “Apa maksudmu?” direktur Park bertanya balik.

“..kau adalah satu-satunya orang yang mengatakan bahwa aku dapat lolos di D Magazine..” lanjut Eunha lagi, ia mengangkat kedua alisnya menunggu jawaban apa yang akan diberikan oleh sang direktur. “Itu rahasia perusahaan.Yang aku tahu kau punya potensi, Baek Eunha.” jelas Direktur Park santai saja, sepertinya ia tahu apa maksud percakapan Eunha namun ia tak bertanya lebih banyak.

Eunhapun kembali bersuara “Maka, jadikan perasaanmu juga sebuah rahasia ya?direktur..siapapun yang kau sukai tidak perlu kan semua orang mengetahuinya?” Direktur Park hanya tertawa renyah lalu menyedekapkan tangannya  “Memangnya, kau siapa mengaturku?”

Eunha kemudian terdiam, benar juga apa yang direktur katakan tentangnya. Namun, bagaimana lagi dengan begitu ia bisa menjelaskan ke orang-orang bahwa ia tak ada hububgan apa-apa dengan direktur.

“Karena, kurasa hanya dengan begitu aku dapat bertahan di D Magazine.. seseorang mungkin menantikanku untuk menjadi seorang reporter.”

 

:::LET ME IN:::

 

1 Tahun Kemudian..

 

Baekhyun berdiri memandang pigura yang terletak didalam sebuah kotak kaca. “Appa rindu padamu, Joo Eun..sudah tiga tahun..” gumamnya seraya mengusap kaca itu. Seseorang menepuk bahu Baekhyun dan menaruh sebuah karangan bunga dendallion disana. “Hyung -kau harus segera pergi, aku melihat Aeri baru saja memarkirkan mobilnya.” ujar Jackson. Baekhyun tak berkata apapun lagi dan segera pergi kebagian sisi gedung yang lain, lelaki itu berdiri dibalik sebuah pilar besar dan melihat gadis itu yang datang sendirian dengan seikat bunga baby breath. Penampilannya berbalut kemewahan yang tak bisa Baekhyun berikan saat mereka bersama.Aeri memakai kacamata hitam sehingga Baekhyun merasa bersyukur karena tak perlu melihat bagaimana binar bahagia wanita itu dengan hidupnya sekarang.

 

“Jackson, kau datang?” sapa Aeri yang hanya disambut sebuah salam singkat dari lelaki yang dulu begitu akrab dengannya. Aeri memandang sebentar karangan bunga dendallion yang terletak didepan kotak kaca Joo Eun. “Apa Baekhyun datang kesini, Jackson?.. atau kau mungkin bertemu dengannya disini?”

Pertanyaan Aeri hanya disambut helaan nafas berat oleh Jackson. “Jangan berharap untuk bertemu dengannya, noona. Dia mengganti seluruh kontaknya.Kurasa sudah saatnya kau berhenti untuk tetap membawa masa lalumu kehidupmu yang sekarang.” jawab Jackson membuat Aeri terdiam. “Jangan begitu, Jackson.” lirih Aeri yang menahan lengan Jackson yang baru saja ingin pergi. “Maka jangan berlaga seperti, hanya kau yang terluka, noona. Kalaupun ia datang kemari, itu untuk menemui Joo Eun dan bukan untuk menemuimu.” ketus Jackson dan pergi dari sana. Sepeninggal Jackson, Aeri hanya terduduk dan terisak. Dan, Baekhyun yang melihat itu hanya segera keluar lalu pergi dari pintu keluar yang lain.

 

:::LET ME IN:::

 

Lelaki itu berdiri tegak memandang barisan gedung lain dengan tinggi yang tak beraturan, netranya yang terkena sinar matahari menjadikannya warna cokelat terang.Dan, lelaki itu pemilik gedung yang sedang ia pijaki sekarang. Namun, seramai apapun dunia yang ia tempati, seluruh bagian yang ada di gedung ini selalu ada tempat kosong didalamnya.

 

Derap langkah lain yang mendekat membuat lelaki itu segera menoleh, lelaki itu tersenyum dan orang yang menghampirinya juga melakukan hal yang sama. “Sudah kuduga, pasti kita akan sukses besar Byun Baekhyun! Kau hebat!”puji lelaki itu lalu bertepuk tangan hingga suaranya menggema seruangan itu. Sedangkan yang dipuji hanya tersenyum kecil “Bukan hanya aku yang berkerja tapi semua orang termasuk juga kau, Nam Joon.” ujarnya merendah membuat Nam Joon hanya menggeleng tak percaya. “Baiklah, tapi aku penasaran bagaimana reaksi mantan istrimu jika melihatmu seperti sekarang..”

Mendengar itu Baekhyun terdiam, namun ia ingat tentang tujuan awal dirinya bisa seperti sekarang.

“…jadi, apa yang kau lakukan setelah ini? balas dendam pada mantan istrimu?”

Baekhyun tertawa keras mendengar ucapan Nam Joon ia bahkan tak pernah mempunyai niat untuk itu.

“Aku bahkan tak pernah berniat untuk itu…”jawabnya, lalu menunduk ia tersenyum sakartik pada dirinya sendiri.

“Lalu, kau mau melakukan apa?”tanya Nam Joon lagi dengan tatapan penuh tanya. Baekhyun hanya menggedikkan bahu lalu berkata

“Daripada balas dendam, aku akan melakukan sebuah pembuktian.”katanya dengan senyum kecil.

“Pembuktian apa maksudmu?”

“Bahwa aku akan berada ditingkat tangga dimana ia berdiri.dan, mengelilingi hidupnya dengan rasa bersalah tanpa aku harus melakukan apa-apa. Mungkin, saat itu tiba dia akan menyesal karena di masa lalu dia tidak ingin menaiki tangga itu bersamaku..” terang Baekhyun dengan nada serius, Nam Joon sampai merinding mendengarnya dan hanya mengangguk saja.

“..dan menghukum orang yang telah menghancurkan kehidupan pernikahanku, persahabatanku..”tambah Baekhyun lagi dengan memasukkan tangannya kesaku celana.

“Jika aku jadi kau aku akan balas dendam pada orang yang telah meninggalkanku. Aku tebak, kau masih mencintainya sampai sekarang ‘kan?Bahkan, setelah tiga tahun..kau masih memakai cincin pernikahanmu.”singgung Nam Joon dengan nada canda yang hanya membuat Baekhyun tersenyum sakartik lagi, dirinyapun tak mengerti mengapa ia harus mencintai wanita hina itu begitu besar?

“Cinta membuat orang menjadi bodoh.”

 

:::LET ME IN:::

 

Seorang lelaki mengetuk pintu yang menuju sebuah ruangan dimana lelaki itu berada. Melihat kehadiran lelaki itu, Nam Joon segera tersenyum dan menginstruksikan untuk segera menghampiri mereka.

“Apa kau yang mengirim CV padaku kemarin?” tanya Namjoon yang segera disambut anggukkan gugup namun ia tetap mengeluarkan suara. “Ye, tuan.”

 

“Panggil aku Nam Joon, dan ini adalah bos barumu -panggil saja Tuan Foster..’ jelas Nam Joon sementara lelaki muda itu hanya mengiyakan. Ia memberi salam hormat “Senang bertemu denganmu, Tuan Foster.. Namaku Lee Jae Bum.”

 

Sementara Baekhyun segera berlalu dari sana tanpa pamit ataupun menyapa sang bawahan yang masih baru, setelah ia berganti sekretaris -dan ini yang keempat kalinya. Salah satu alasannya -karena Baekhyun yang kelewat dingin dan galaknya bukan main. Pria itu terlalu misterius untuk mereka.

 

Nam Joon hanya tertawa melihat Jae Bum yang membeku melihat Baekhyun. “Kau akan terbiasa dengannya. Kau hanya harus fokus padanya -oh ya soal kontrak dan detail mengenai bos barumu mari ikuti aku..”

 

“B-baiklah..”

 

:::Let Me In:::

 

Aeri tampak ragu begitu tangannya mengetikan alamat surel sebagai penerima dari email yang akan ia kirim.

 

Tertampil sebuah nama begitu ia usai menuliskan domain belakang alamat surelnya. Tangannya dengan ragu menggeser kursor mengklik tombol ‘kirim’ sebagai tanda bahwa email yang ia kirim akan diterima oleh si penerima yang ia tuju.

Setelah sejenak memerhatikan ulang isi emailnya tangannya baru mengklik tombol virtual bertuliskan ‘kirim’ tak lama, layar berganti pada daftar ‘Inbox’, tak sempat ia melihat lagi seseorang yang mendatanginya membuat Aeri menutup layar PC miliknya dengan tergesa.

 

Namun, isi email itu akan selalu ia ingat dalam pikirannya sampai kapanpun.

 

Sampai orang yang menerima surelnya itu memaafkan dirinya.

 

Bahkan, sampai bisa jadi hingga gadis itu mati ia akan tetap mengingatnya.

 

 

To; bbaekhyun_1212[Byun Baekhyun]

 

‘Aku tau.. tak sepantasnya aku menuliskan surel ini untukmu. Tak sepantasnya aku meninggalkan orang yang baik, hangat dan sangat mencintaiku walau dalam waktu sulit sekalipun. Dan, tak sepantasnya aku memohon padamu agar maafku diterima olehmu setelah semua yang terjadi, setelah semua yang aku lakukan padamu. Aku mungkin kini hanyalah wanita hina, pengkhianat dan naif dimatamu tapi, aku sama sekali tak berniat untuk menyakitimu lebih dalam lewat permintaanku agar kau menemuiku ataupun lewat surel ini. Aku hanya ingin menjelaskan beberapa hal padamu, Baekhyun.

 

Aku tak pernah memaafkan diriku sendiri atas semua kejadian setelah putri kita tiada, itu adalah kesalahanku. Aku yang salah karena aku tak menjawab panggilanmu saat Jooeun membutuhkanku.

Maafkan aku yang tidak bisa menjadi ibu yang baik saat Joo Eun membutuhkanku.

Maaf atas pengkhianatan yang telah aku lakukan dibelakangmu.

Maaf atas aku yang telah lancang terus menyalahkanmu atas semua yang terjadi.

Maaf atas aku yang tidak bersedia saat kau ingin membicarakan semuanya baik-baik dan meninggalkanmu dalam duka.

Aku tau, dengan begitu aku melukaimu begitu dalam, Baekhyun.

Dan, ketahuilah.. Kini aku sama sekali tak pantas untuk menerima cinta seorang Byun Baekhyun. Aku tak layak untuk itu.

Aku tau, aku akan dihukum oleh Tuhan suatu saat nanti, namun inilah keputusanku, untuk itu aku pergi dari sisimu.

 

Bertemulah dengan seseorang yang layak untuk menerima cintamu, dan kau layak untuk mendapatkan cinta lagi, namun bukan dari gadis pengkhianat yang hina seperti diriku, Aeri.

 

Lupakan Park Aeri.

Hapus kenangan yang kau lalui bersama Park Aeri.

Karena, meski aku tak bisa membayar itu semua.. mencintai orang sepertiku bukanlah pilihan terbaik.

Aku harap, kau hidup dengan baik..

Byun Baekhyun.

Dari,

Park Aeri.

 

 

:::Let Me In:::

 

Baekhyun sedang menandatangani dokumen-dokumen persetujuan untuk perusahaan farmasinya yang baru saja berdiri satu tahun belakangan yang berpusat di Amerika.

 

Sebuah ketukkan dari balik pintu kayu berwarna cokelat terdengar dari dalam ruang kerja lelaki itu yang membuatnya menginterupsikan untuk segera masuk ke kamarnya.

 

“Ada email dari alamat surel yang sama, Presdir..” ujar sang sekretaris menyerahkan sebuah benda datar nan tipis itu ke meja Baekhyun. Lelaki itu sempat meliriknya sejenak, lalu melanjutkan perkerjaannya kembali, ia bahkan enggan untuk menyentuh bahkan menghapus notif surel yang baru saja masuk itu dengan jarinya sendiri. Itu terlalu menjijikan untuk Baekhyun.

 

“Letakkan saja di spam. Aku tak ingin membacanya. Dan tak akan aku baca.”

 

Jaebum segera mengambil kembali tablet yang ia letakkan sejenak dimeja kerja atasannya itu tadi, ia segera menjalani perintah Baekhyun namun karena penasaran tanpa sengaja ia melontarkan sebuah pertanyaan.

 

“Apa suatu saat anda akan membacanya?”

 

“Sesuatu yang tidak berguna, tidak perlu dibahas lebih jauh bukan?” kata Baekhyun dengan ekspresi dingin dan tak perduli. Ia menutup dokumen-dokumen itu dan bangkit dari tempatnya duduk.

 

Jaebum hanya menunduk lalu menjawab pelan. “Nde..”

Ia sempat melirik atasannya yang sedang berjalan dan mengeluarkan sesuatu dari laci di nakas dan membuangnya. Merasa diperhatikan, Baekhyun segera berbalik lalu memberikan sebuah perumpamaan yang pantas untuk menilai orang yang membuatnya menjadi jijik pada seorang wanita.

 

“Karena sampah harus dibuang pada tempatnya. Begitu juga dengan isi email itu dan pengirimnya, keduanya sampah bagiku.”rutuknya terdengar murka, membuat sekretarisnya hanya menunduk dan segera izin untuk keluar dari ruang kerja atasannya.

 

 

 

Bersambung..

 

A/N

 

Halo semua?!! Apa kabar? Oh ya, pertama RHY mau ngucapin selamat bulan ramadhan dan menjalankan puasa bagi yang menjalankan yaa

Oh ya, sebetulnya chapter ini tidak begitu perlu karena ini hanya menjelaskan kilas balik dari Chapter 4 yang bagian sebelum bersambung. Jadi, harap jangan kecewa sama saya, karena menurut saya Chapter ini perlu dipublish agar dijelaskan gimana perjalanan mereka selama 5 tahun ini.

So, bagi yang masih nunggu gimana 5 tahun kemudian ditunggu di Chapter 6 ya gaes.. Semoga ada yang nunggu FF abal ini

Oh ya, cerita ini hanya sedikit pengeditan jadi kalo typo, berantakan maaf yaa 🙂

Buat Adorable Love dan Everything has Changed silahkan ditunggu updatenyaa entah kapan hahaha

Makasih yang udah baca dan komennya

Udah deh gitu aja cuap” gajenyaa

 

Anyeong!!

 

28/05/17

 

RHYK

 

 

Iklan

20 pemikiran pada “[EXO FFI FREELANCE ]- LET ME IN – 5A: PAST pt 1

  1. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] LET ME IN (Chapter 11) | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] LET ME IN (Chapter 10) | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] Let Me In (Chapter 9) | EXO FanFiction Indonesia

  4. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] LET ME IN 7: FOOLS LOVE | EXO FanFiction Indonesia

  5. Wahh ternyata aku kelewatan bacaaa hehe trus balik lagi ke chapter ini aku mulai sedikit mengertii.. dan masih terus penasarann. semngatt yaaa

  6. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] Let Me In (Chapter 6) | EXO FanFiction Indonesia

  7. Iihhh presdir park siapa kaaa ? Plis jangan chanyeol -___- btw gak sabar pengen liat baek eun ha ketemu baekhyun 😊😊😊😊 jadi kesel gimana gitu pas liat nama aeri 😑😑😑😑 kalo aku jadi ibunya baekhyun aku udah jambak kali ka si aeri, untungnya bukan aku wkwkwk 😅😅 dinabti banget kaa cerita berikutnya, menggebu gebu abis wkwkwk
    Semangat kaaa 💪💪💪💪💪👏👏👏👏👏

    • Presdir park itu adalah Park Seojun, yang main drama fight my way, kamu tau? Iya soalnya aku mengambil peran dia yg di she was pretty karena disana dia jadi presdir majalah juga heheh

      Silahkan nanti update selanjutnyaa makasihb

    • Kekekek serius kamu kangen? Unch akhirnya ada yg kangen.. Makasih udh meninggalkan jejak, so ikuti terus yaa apdatenyaa makasih banyak.. Baca juga storyku yang ehc dan adorable love thxx

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s