[EXOFFI FREELANCE] Yakusoku (Promise)

20170525_165853.jpg

Yakusoku [Promise]

A story by Sháo Xī

One shot | Angst, hurt, romance, school life, age manipulation | PG-15

Huang Zitao x Lee Eun Ji (IU) as Aoi Ryūzaki

Summary:

Di mata orang, aku selalu salah walau sebenarnya aku benar. Tapi di matanya, untuk pertama kali, aku mendengar sendiri bahwa aku tidak bersalah. Dia perlahan menarikku, membuatku mengutarakan janji yang harus kutepati selama tiga belas tahun.

Disclaimer:

Cerita ini hanya fiksi belaka. Ide murni milik Tuhan Yang Maha Esa dan penulis. Para tokoh adalah milik Sang Pencipta. Tidak ada hubungannya dengan kehidupan nyata mereka. Dilarang keras meng-copy-paste tanpa seizin penulis. Plagiat adalah tindakan paling memalukan dalam dunia seni. Jangan lupa komentarnya karena itu akan membuat penulis merasa jadi orang paling bahagia 😀

Happy reading!!! 💕

.

.

.

Seoul, tiga belas tahun sebelumnya, saat aku pertama kali mengenalnya…

“Huang Zitao!!!”

Suasana langsung hening saat suara menggelegar itu terdengar. Suara riuh yang sedari tadi terdengar langsung lenyap tak berbekas. Bunyi hak yang beradu dengan lantai mengalun menakutkan, menghampiri dua anak laki-laki yang menjadi objek tontonan murid-murid. Beberapa murid langsung berlari menghindar saat bunyi sepatu itu berhenti. Seorang anak laki-laki tampak menahan tinjunya dengan tangan satunya yang mencengkram kerah baju murid lainnya, yang tampak sebagai korban. Dari bibir anak itu mengalir darah segar, bahkan beberapa tetes sudah mengotori lantai. Sedangkan anak satunya, pelipisnya hanya membiru.

“Huang Zitao, ikut ke ruanganku sekarang,” kata guru itu dengan nada rendah namun bisa membuat bulu kuduk siapapun berdiri.

Anak yang bernama Zitao itu hanya diam. Menatap lawannya dengan tatapan tajam, seolah-olah akan membunuh anak itu hanya dengan tatapannya. Tangannya masih teracung di udara, bisa melayang bebas kapanpun syaraf otaknya mengutus.

“Kim Jae Min, kau boleh pergi,”

Anak yang jadi korban itu langsung menarik dirinya, menatap Zitao takut-takut, lalu berlari sekencangnya ke kelas. Zitao sendiri hanya diam sambil perlahan menurunkan tangannya.

“Kau dengar aku, kan?”

Zitao menoleh lalu menatap gurunya berani. Tak takut sedikitpun dengan tatapan menusuk sang guru. Guru itu kembali melanjutkan langkahnya. Zitao sendiri masih bertahan di tempatnya, menekuri sepatunya dan berpikir bahwa di sini ada yang salah lagi. Lagi.

“Kenapa anak itu tak dibawa bersamaku juga?”

Langkah guru itu terhenti. Ia melirik sedikit ke belakang. “Aku tak ingin menghukummu di sini, jadi cepatlah berjalan.”

Zitao tetap bertahan. “Bukan aku yang salah.”

“Tapi bukan itu yang terlihat.”

“Kenapa yang terlihat harus dijadikan sebagai sasaran?”

“Karena itulah yang sebenarnya,” Guru itu berbalik. “Kita bicarakan ini di kantor saja. Kau tak mau terlihat lebih tidak sopan karena melawan gurumu, kan?”

Zitao menarik nafas perlahan lalu menghembuskannya dengan berat. Ia menarik kakinya lalu melangkah mendahului gurunya. Ia mengelap sudut bibirnya, meninggalkan bekas darah di seragamnya. Tapi ia tak peduli. Toh, siapa juga yang akan peduli padanya?

.

.

Perih. Sakit.

Telapak tangannya merah. Meski lukanya tak separah luka di wajahnya, tapi rasa sakit di tangannya ini berlipat ganda dari luka di wajah. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, tapi Zitao menahannya sekuat tenaga, sama seperti ia menahan rasa sakitnya.

Ia menghela nafas panjang, mencoba melupakan sakit yang ia rasakan. Tahu kenapa tangannya lebih sakit daripada bibirnya yang sudah terkoyak? Karena ia mendapatkannya bukan karena kesalahannya. Rasa sakit ini ia dapatkan karena menanggung kesalahan orang lain. Kesalahan yang orang lihat pada dirinya, meskipun bukan itu yang sebenarnya.

Tapi selama ini memang begitu. Semua orang selalu melihat bahwa Zitao yang salah. Bahwa dirinya yang nakal dan tak bertanggung jawab. Tapi kenapa? Kenapa orang selalu melihat bahwa ia yang salah? Apa yang aneh dari dirinya? Apa karena wajahnya yang menakutkan? Kalau memang begitu, apa ia yang meminta wajah ini? Kenapa ini begitu tidak adil?!

Zitao baru saja akan menendang sebuah tong sampah saat pintu ruang BK berderit nyaring. Ia menolehkan kepalanya lalu menatap seorang murid perempuan yang keluar dari sana. Wajah anak itu tertunduk. Rambutnya sedikit berantakan dan ia mendudukkan dirinya di tempat Zitao tadi. Tiba-tiba, Zitao melihat pundak anak itu bergetar. Awalnya cuma itu, tapi kemudian, suara tangis anak itu menggema. Tidak besar, namun cukup membuat orang di sekitarnya bisa mendengar.

“Hei,” kata Zitao. Saat ini hanya ada dirinya. Orang-orang bisa curiga kalau dia yang membuat anak ini menangis. Apalagi kalau masalah curiga mencurigai, Zitao adalah orang nomor satu yang akan dijadikan kandidat.

“Hei, kalau mau menangis jangan di sini. Aku yang nanti kena semprot.”

Bukannya mereda, tangis anak itu makin menjadi. Ia bahkan mulai sesegukan dan ini membuat Zitao mulai sedikit panik. Didekatinya anak itu, mencoba bicara baik-baik. Zitao melirik sedikit seragam anak itu. Garis dua pada lengan kanannya membuat Zitao langsung sadar bahwa anak ini murid kelas delapan—adik kelasnya.

“Hei, aku bukannya melarangmu menangis, tapi tolong jangan melakukannya di sini. Kau bisa ke toilet dan menangis sepuasnya di sana. Kalau kau terus menangis, aku akan kena sangsi dua kali lipat.”

Tangis anak itu sedikit mereda. Ia mengelap pipi dan hidungnya, lalu melirik Zitao. Matanya sedikit membesar saat ia tahu siapa yang ada di sampingnya.

“Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Zitao tak suka. “Kau takut aku pukul?”

Anak itu menggeleng. “Iie,”

Zitao mengerutkan keningnya sedikit. “Kau bukan orang Korea?”

Anak itu kembali menggeleng. “Namaku Aoi Ryūzaki.”

“Aku bukan tanya namamu,” kata Zitao kesal.

Aoi menunduk. “Gomennasai,”

“Bisakah kau bicara dalam bahasa Korea? Atau kalau bisa dalam bahasa Cina? Aku sama sekali tak mengerti kata-katamu,” sahut Zitao, membuat Aoi kembali menunduk, kali ini lebih dalam.

Zitao mendesah kesal. Harusnya sekarang ia ke kelas. Tapi ia tak mau melakukannya karena ia pasti akan dijadikan bulan-bulanan oleh teman sekelasnya, bahkan gurunya. Mungkin sebaiknya ia pulang saja. Toh, siapa yang peduli kalau dirinya menghilang?

“Kakak kena masalah lagi?”

Zitao menoleh dan mendapati anak itu tengah menatapnya. Ia bahkan bertanya tadi. “Bukan urusanmu.”

“Aku tahu, tapi tadi aku melihatmu,” kata Aoi pelan. “Kau tidak salah.”

Zitao mematung. Ia kembali memfokuskan matanya pada Aoi, membuat gadis itu sedikit takut karena tatapan Zitao yang berubah tajam. “Apa yang kau katakan?”

“Kakak tidak salah. Anak itu… siapa namanya?”

“Lupakan itu. Apa yang kau lihat?”

“Aku… tidak terlalu mendengarnya. Tapi samar-samar, aku mendengar anak itu bicara sesuatu tentang Kakak. Entahlah, nadanya seperti mengejek. Mungkin itu yang memicu Kakak memukulnya?”

Anak ini tahu kalau Zitao tidak salah. Anak ini saksinya!

“Siapa namamu?”

“Aoi Ryū—“

“Aoi, ikut aku ke ruang BK,”

Zitao langsung menarik tangan Aoi, membawa gadis itu kembali ke ruang BK. Zitao sedikit mendobrak pintunya, membuat guru di dalamnya sedikit tersentak. Guru itu menatap Zitao dan Aoi bergantian, kemudian melipat koran yang ia baca dan menatap kedua anak itu dengan pura-pura berminat.

“Ada apa, Huang Zitao?”

“Sudah kubilang bahwa aku tak salah. Anak ini tahu yang sebenarnya!”

Guru itu mengangkat alisnya. Pura-pura terkesan. “Oh, ya? Bisa kau ceritakan, Aoi?”

“Ah, itu…” Aoi tergagap. “Aku melihat kalau… Kak Zitao bukan yang memulainya. Kakak yang satunya… bicara sesuatu dengan nada yang mengejek. Mungkin itu—“

“Kau dengar apa yang dikatakan Kim Jae Min?” tanya guru itu.

“Tidak, tapi—“

“Kalau begitu, aku tak bisa percaya.”

Zitao menatap gurunya tak percaya. “Apa? Kau bahkan tak mau mendengar kata-katanya!”

“Maaf, tapi aku tak mau mendengar alasan yang masih belum pasti. Kalau kau bisa membawakan bukti yang akurat untukku, aku akan meminta maaf padamu,” Guru itu melirik Zitao tajam. “Di depan seluruh murid-murid.”

Aoi menatap Zitao yang rahangnya mengeras mendengar perkataan gurunya itu.

“Bukankah itu yang kau mau? Pengakuan dariku bahwa kau tak bersalah dan aku yang bersalah? Tenang saja, kau bisa mendapatkannya. Asal ada bukti yang kuat. Tapi darimana kau bisa mendapatkannya, sedangkan tak ada seorangpun yang percaya padamu?”

Tenggorokan Zitao tercekat. Sungguh, ia ingin meneriaki guru tak tahu diri di depannya ini. Namun bongkahan pahit menghalangi suaranya keluar.

“Kalian boleh keluar.”

Bahkan sebelum kata-kata itu terucap sempurna, Zitao sudah berbalik lalu membanting pintu itu sampai kembali membuka. Aoi hanya bisa diam sementara sang guru kembali membaca korannya. Tak tahu harus apa, Aoi memilih keluar. Matanya menatap ke segala arah, mencari Zitao yang tak tampak di manapun. Pundak Aoi merosot. Ia sungguh menyesal bahwa ia tak bisa membantu laki-laki itu. Melihat betapa semangatnya ia saat menatap Aoi yang tahu bahwa dirinya tak bersalah, membuat Aoi yakin bahwa laki-laki itu mengharapkan kata-kata darinya. Namun Aoi tak bisa melakukannya. Ia tak bisa membantu Zitao.

Bahkan satu orang pun tak bisa membantunya.

.

.

Aoi menghela nafas lega saat seluruh kelas sudah selesai ia sapu. Tugas piketnya sudah siap dan sekarang ia tak punya beban lagi. Baru saja ia hendak meletakkan sapunya, matanya menangkap seseorang yang berjalan di koridor. Aoi tersenyum kecil. Orang yang ia tunggu dari tadi akhirnya datang juga.

“Kak!” Aoi keluar kelas lalu memanggilnya dari pintu. Namun orang itu tak mendengarnya, membuat Aoi mengejarnya. “Kak Zitao!”

Zitao berhenti. Ia melirik Aoi yang sudah sampai di sampingnya. Gadis itu tersenyum kecil. “Aku menunggu Kakak dari tadi.”

“Kenapa?” tanya Zitao.

“Tentang yang kemarin… maaf, aku tak bisa bantu banyak. Aku mungkin malah membuat suasana makin memburuk. Aku sungguh-sungguh minta maaf,” kata Aoi sambil membungkukkan badannya sembilan puluh derajat.

Zitao menatap Aoi tak peduli lalu melengos ke kelasnya yang bersebrangan dengan kelas Aoi. Gadis itu menghela nafasnya. Laki-laki itu patut merasa kesal bahkan marah padanya. Ia tak menyalahkannya. Namun Aoi merasa… bahwa kakak kelasnya itu sama sekali tidak bersalah. Ya, dia memang memukul anak itu kemarin, tapi awal dari semuanya bukanlah Zitao. Entah kenapa Aoi yakin, bahwa Zitao sebenarnya adalah orang yang baik.

.

.

Atau… tidak.

Saat ini, kerumunan murid-murid tampak berseru dengan hebohnya, meneriaki orang yang mereka kerumuni. Berkali-kali, Aoi mendengar kata-kata ‘lagi, lagi!’, ‘hajar terus!’, dan ‘jangan mau kalah!’. Tak seorangpun dari mereka tampak ingin memisahkan. Baru saat Aoi hendak bergerak, bunyi langkah kaki langsung terdengar, membuat anak-anak langsung hening. Dua orang guru tampak datang dari arah timur. Walau suara anak-anak sudah menghilang, tapi satu suara masih menggema.

“Katakan sekali lagi! Katakan kalau kau berani!”

Itu suara Zitao. Laki-laki itu kembali menyarangkan pukulannya ke wajah anak laki-laki yang tampak sudah lemas. Luka mereka sama-sama parah. Walaupun anak itu sudah mau pingsan, tapi sepertinya Zitao masih ingin terus memukulnya.

“HUANG ZITAO, HENTIKAN INI!!!”

Suara seorang guru menggema, namun Zitao tak mau berhenti. Jadi guru itu mendatanginya lalu menarik Zitao berdiri. “Kau mau buat dia mati, hah?!”

Zitao menatap gurunya berani. Ia menarik paksa tangannya lalu menatap guru satunya lagi dengan tatapan menantang. “Aku tak mau berhenti.”

“Hei, apa kau gila? Ayo, ikut kami ke kantor.”

Zitao masih bertahan di tempatnya dengan tatapan yang terpancang pada guru perempuan yang hanya menatapnya dengan tatapan kosong. “Kau tak mau menahanku, Wanita Tua?”

PLAK!

Satu tamparan mendarat di pipi Zitao. Bukan guru yang ia katai itu yang memukulnya. Zitao mengelap sudut bibirnya yang mulai mengalirkan darah segar. Luka itu bukan karena tamparan itu, tapi tamparan itu memperburuk lukanya. Guru itu sedikit kaget saat bibir Zitao berdarah, tapi entah kenapa, ia tetap menyeret anak itu dengan paksa ke kantor. Tapi Zitao mengelak. Ia menarik dirinya lalu berlari sekencang-kencangnya keluar. Guru itu sudah berteriak memanggilnya, tapi Zitao tak juga kembali.

Saat semua murid disuruh kembali ke kelas masing-masing, Aoi masih bertahan di tempatnya, menatap koridor yang menelan Zitao. Ia memacu langkahnya dan mencoba menerka ke mana menghilangnya Zitao. Aoi menaiki tangga lalu menuju lantai teratas. Matanya mencari-cari dan tanpa sengaja, ia melihat sekelebat bayangan. Aoi mendekat dan ternyata itu Zitao yang tengah duduk bersandar di bangunan paling pojok. Laki-laki itu tampak menatap ke depan dengan pandangan kosong.

“Kak,”

Mata Zitao bergerak dan melirik Aoi yang menjulang di sampingnya. Tapi laki-laki itu hanya diam dan kembali memandang ke depan. Aoi duduk di sampingnya dan memindai Zitao. Luka laki-laki itu begitu parah. Gara-gara ia berantem tadi, luka yang seharusnya sembuh malah kembali terbuka. Aoi bahkan melihat pelipis Zitao yang membiru.

“Kakak enggak mau ke UKS? Lukanya cukup parah.”

“Sedang apa kau di sini? Pergi sana!” usir Zitao tanpa perasaan.

“Mungkin Kakak mau cerita?”

Zitao melirik Aoi dengan tatapan apa-kau-gila lalu kembali mendesah. Ia tak mau peduli dengan anak ini.

Tiba-tiba, hujan turun. Untunglah mereka berlindung di bangunan yang ada kanopinya. Ya, walau terkena sedikit cipratan, tapi tak apalah.

Aoi sedikit melengkungkan bibirnya. Ia suka hujan dan rasanya hujan selalu bisa meringankan bebannya. Aoi menoleh dan menatap Zitao yang masih menatap ke depan dengan pandangan kosong. Aoi menarik headphone yang sedari tadi ia kalungkan lalu memasangnya di telinga Zitao. Laki-laki sudah mau melepasnya, tapi Aoi menahannya.

“Kakak mungkin akan suka kalau dengar ini. Perasaanku jadi lebih ringan kalau mendengarnya, apalagi saat hujan. Dengarkan sebentar saja, oke?”

Aoi memencet tombol play lalu tersenyum pada Zitao yang menatapnya kesal. Walaupun kesal pada gadis ini karena mengganggunya, tapi Zitao tetap mendengarkan lagu itu. Lagu klasik entah siapa pengarangnya ini mengalun lembut di telinganya. Lagu penuh perasaan ini mendadak membuat hatinya sedikit terenyuh. Beban Zitao sedikit terangkat, tapi entah kenapa lagu ini membuatnya ingin menangis. Air mata sudah menggenang di pelupuk matanya lalu mengalir pelan tanpa bisa ia cegah. Zitao berdeham untuk mencegah dirinya sesegukan, sementara ia juga menunduk agar gadis di sampingnya tak bisa melihatnya. Hatinya sakit, beban ini terlalu perih…

Saat lagunya berhenti, Zitao tetap tak melepas headphone-nya. Ia mengelap pipinya dengan cepat lalu melirik Aoi yang sudah menatapnya. “Kenapa kau di sini?”

“Aku cuma mau menemani Kakak.”

“Kenapa kau peduli padaku?”

“Karena aku tahu… perasaan ketidakadilan yang Kakak rasakan,” Zitao menatap Aoi dengan sorot bingung, sementara Aoi hanya tersenyum. “Ingat kan, saat pertama kalinya kita bicara di ruang BK? Saat itu aku juga sedang ada masalah. Aku berantem dengan teman sekelasku. Mungkin saat itu aku tak sengaja memukulnya. Sebenarnya tak bisa dibilang memukul menurutku. Aku hanya ingin melindungi diriku sendiri saat ia hendak memukulku. Lalu tanpa aku sadari, tanganku sudah teracung dan memukul wajahnya. Wajahnya tergores dan berdarah karena kukuku.”

“Ada masalah apa di antara kalian?”

Aoi tersenyum kecil. “Sebelum itu ada ujian matematika. Dia sudah mengancamku dari awal, kalau aku tak memberikannya contekan, ia akan membuat perhitungan padaku. Aku tak mau melakukannya dan benar, ia membawaku ke belakang sekolah dan istilahnyalah, menghabisiku. Awalnya aku masih tahan akan pukulannya lalu tiba-tiba ia mulai berkomentar tentang keluargaku. Aku tidak suka itu. Ia boleh mengataiku habis-habisan, tapi tidak jika itu menyangkut keluargaku. Saat ia hendak memukulku lagi, aku balas memukulnya.”

Aoi melirik Zitao yang masih mendengar ceritanya. “Kalau menurutku, itu tidak salah. Baiklah, mungkin aku salah karena memukulnya, tapi tidak bisakah para guru itu melihat alasan di baliknya? Luka di wajahku lebih banyak daripadanya, tapi tetap aku yang disalahkan. Berulang kali kukatakan pada mereka bahwa bukan aku yang memulainya, tapi mereka tak mau mendengarkannya. Jadi aku berpikir, apakah melindungi diri sendiri itu sebuah kejahatan?”

Aoi menghela nafas. “Aku marah akan semuanya. Semuanya bersikap tak adil padaku. Lalu aku bertemu Kakak yang masalahnya juga hampir serupa denganku. Aku baru merasakan ketidakadilan ini sekali, tapi rasanya sudah ingin menghancurkan semua yang ada di depanku. Lalu bagaimana dengan Kakak? Yang setiap saat disalahkan atas perbuatan yang sebenarnya tak Kakak lakukan?”

Zitao diam. Mata tajamnya terpancang pada mata polos nan jernih Aoi. Ia melepas headphone Aoi, meletakkan itu di pangkuannya lalu beranjak pergi. “Kalau kau di sini hanya ingin mengasihaniku, jangan pernah muncul di hadapanku lagi.”

Setelah mengatakannya, Zitao melangkah pergi, meninggalkan Aoi yang bingung atas sikapnya. Ia membanting pintu lalu bersandar di baliknya. Di saat ia merasa ada orang untuknya, tapi kemudian ia ditarik oleh kenyataan bahwa tak akan ada orang untuknya. Yang mengerti akan dirinya atau setidaknya peduli padanya.

.

.

Hujan.

Jam sekolah sudah berakhir dari tadi, menyisakan ruangan yang kosong dengan bunyi hujan yang menghiasinya. Zitao bertahan di belakang sekolah, membiarkan seluruh dirinya basah. Matanya ia pejamkan kuat-kuat, sementara pundaknya naik turun dengan hebat. Ia menangis. Tapi tak ada yang tahu itu karena air matanya tersamarkan oleh hujan. Air hujan menusuk-nusuk badannya, membuat ia harus merasakan rasa sakit luar biasa di tubuhnya.

Tadi ia habis bertengkar lagi. Tapi tetap saja bahwa ia yang salah, bahwa ia yang memulainya, bahwa semuanya adalah kesalahannya! Tetap tak ada yang mau mendengarnya dan ia harus kembali merasakan pukulan rotan di tangannya.

Tiba-tiba hujan berhenti. Atau begitu menurut Zitao. Tapi sebenarnya, sebuah payung merah besar tengah menaunginya, membuat air hujan tak lagi menghujamnya. Ia menoleh ke samping dan mendapati seorang gadis dengan rambut panjang yang tengah tersenyum lembut padanya. Gadis itu—Aoi—meraih tangan Zitao agar laki-laki itu memegang payungnya sebentar. Sementara dirinya mengalungkan syal di leher Zitao dan menyampirkan mantel di badan laki-laki itu. Aoi mengambil alih payungnya lalu menarik tangan Zitao dan membawanya masuk ke dalam.

Aoi mendudukkan laki-laki itu di ranjang UKS, melepas mantel serta syalnya lalu menyerahkan handuk ke Zitao. “Kakak bisa mengeringkan diri Kakak dulu sementara aku mencari obat.”

Gadis itu langsung sibuk mencari kotak P3K sementara Zitao mematuhi perintahnya. Setelah mendapatkannya, Aoi langsung menarik satu kursi dan duduk berhadapan dengan Zitao. Ia menuangkan obat merah ke atas kapas lalu menutul-nutulkannya ke sudut bibir Zitao. Laki-laki itu sedikit meringis, membuat Aoi menghentikan gerakannya dan ikutan meringis. Saat ia sudah selesai menempelkan perekat luka di pelipis laki-laki itu, Aoi bangkit dan tanpa sengaja, dirinya menatap punggung Zitao. Seragam laki-laki itu basah, membuat punggungnya tercetak jelas. Ada sesuatu di sana.

“Kak, ada sesuatu di punggung Kakak. Boleh aku lihat?”

Zitao mengangkat pandangannya dengan cepat. Matanya membesar mendengar perkataan Aoi, membuat Aoi yakin bahwa ada sesuatu yang salah. Ia kembali duduk, menatap Zitao dengan pandangan minta maaf. “Aku minta maaf, ya,”

Aoi membuka satu per satu kancing kemeja Zitao lalu melepas seragam itu dari badannya. Aoi terkesiap kaget saat melihat beberapa luka panjang di punggung Zitao. Bentuknya seperti sayatan dan masih memerah. Beberapa masih terbuka, membuat kemeja Zitao sedikit terkena nodanya.

“Kakak kenapa?” tanyanya panik.

Zitao diam. Ia hanya menunduk tanpa menjawab pertanyaan Aoi.

“Guru itu yang melakukannya pada Kakak?”

Zitao diam, tapi kepalanya menggeleng pelan.

“Lalu siapa?”

Zitao tetap diam. Tapi kemudian satu air mata jatuh ke pangkuannya. Rasa sakit di punggungnya itu kemudian beralih ke hatinya, membuat ia ingin berteriak sekuat tenaga sampai rasa sakit ini hilang. Tapi tenggorokan Zitao tercekat. Air matanya makin deras tapi ia tetap tak bisa bersuara. Bongkahan pahit itu mencegah suaranya keluar.

Lalu tiba-tiba, wajahnya terangkat dan pandangannya bertemu dengan mata besar Aoi. Gadis itu menatap Zitao dengan pandangan yang selama ini disalahartikan oleh Zitao. Gadis ini bukan merasa kasihan padanya, tapi peduli padanya.

Aoi tersenyum menenangkan lalu perlahan meraih Zitao, memeluknya sambil sesekali mengelus kepalanya. Jujur, Aoi ingin menangis. Ia tak tahu kalau rasa sakit laki-laki itu ternyata sebesar ini. Tapi ia tak bisa menangis. Zitao butuh orang yang bisa dijadikannya sebagai sandaran, bukan orang yang ikut menangis bersamanya.

Zitao sendiri hanya diam saat Aoi memeluknya. Ia memejamkan matanya, merasakan kehangatan dari tubuh Aoi. Rasa hangat itu kembali membuatnya meneteskan air mata. Belum ada orang yang peduli padanya dan ini pertama kalinya. Hatinya tersentuh dan tiba-tiba saja satu sesegukannya keluar. Badan Zitao berguncang dan Aoi semakin memperketat pelukannya, sementara dirinya menggigit bibirnya kuat-kuat untuk mencegah dirinya menangis.

Zitao mengangkat tangannya, balas memeluk Aoi sementara dirinya menenggelamkan kepalanya di bahu mungil Aoi. Tangisnya keluar dan ini juga pertama kali baginya menangis di depan orang yang baru ia kenal. Tapi Zitao tak ingin memikirkan itu. Gadis ini mampu membuatnya merasa lemah sekaligus mampu membuatnya merasa lebih baik. Dan Zitao butuh itu.

Dia butuh gadis ini.

.

.

Sekolah sudah sepi, tapi Zitao masih bertahan di sana. Ia menatap langit yang sedikit mendung lalu menghela nafas perlahan. Ia harus segera pulang kalau tidak mau air hujan membuat lukanya terasa perih. Baru saja ia melangkah, tiba-tiba tangannya tertahan. Ia menoleh lalu mendapati Aoi yang tersenyum ceria.

“Kakak belum pulang?”

“Kau bisa melihat kalau aku di sini, kan?”

Aoi menggaruk keningnya yang tak gatal. “Ah, benar juga.”

“Ada apa memangnya?”

Senyum Aoi kembali terbit. “Karena Kakak belum mau pulang, aku mau menunjukkan sesuatu padamu. Kakak ikut aku, ya!”

“Siapa bilang kalau aku—“

“Ah, sudah ikut saja!”

Aoi langsung menarik Zitao, membawanya kembali ke sekolah. Saat sampai di lantai tiga, Aoi langsung berlari menuju ruangan berpintu kayu. Ia mendorong ruangan itu dan langsung dihadapkan pada beberapa alat musik. Aoi melepas tangannya dan langsung duduk di bangku piano setelah menyibak kain pembungkus piano. Ia menepuk spasi kosong di sampingnya, menyuruh Zitao duduk. Zitao langsung duduk walau sebenarnya ia bingung. Untuk apa gadis ini membawanya ke sini?

“Aku sudah berlatih dari kemarin untuk ambil nilai seni musik besok. Tapi aku ingin menunjukkannya pertama kali pada Kakak. Enggak keberatan kan, kalau Kakak jadi pendengar pertamanya?”

Zitao mengangguk kecil. “Ayo, kita lihat seberapa hebat dirimu.”

Aoi tersenyum lebar. Ia menarik nafas sesaat sebelum mulai menarikan jarinya dengan lembut di tuts piano. Dentingan indah langsung mengalun, membuat Zitao terpana melihat Aoi yang dengan santainya memainkan musik yang tak asing bagi Zitao. Benar, ini lagu klasik yang Zitao dengar di lantai teratas saat itu. Mendengar lagu ini sekali lagi, bersama dengan gadis yang sama, mampu membuat sudut bibir Zitao sedikit terangkat. Tidak sempurna memang, tapi ia benar-benar tersenyum.

Aoi menyudahi permainannya lalu menatap Zitao dengan matanya yang berbinar indah. “Bagaimana? Apakah bagus?”

“Indah,”

Senyum Aoi merekah. Syukurlah, tak sia-sia ia berlatih sampai larut kemarin. Zitao menekan satu tuts, membuat dentingan monoton bergaung.

“Kau mau tahu… tentang apa yang kau lihat kemarin?” tanya Zitao pelan.

“Tentang apa?” Zitao menatap Aoi penuh arti, membuat gadis itu langsung paham. “Tidak perlu memaksakan untuk bercerita.”

“Tidak apa-apa,” kata Zitao. “Luka itu… dari ayahku.”

Mata Aoi membulat. Dari ayahnya? Ayah mana yang sungguh kejam membuat luka mengerikan itu pada putranya yang baru kelas sembilan?

“Ia ingin aku seperti dia, seperti kakakku, seperti semua orang pintar di dunia ini. Ia ingin aku belajar sekeras mungkin, tak peduli bahwa itu melampaui kemampuanku. Andaikan aku tak bisa menjawab satu soal, badanku akan dijadikannya sebagai buku untuk menjawab soal itu. Sakit, itu sungguh sakit. Tapi lebih sakit lagi saat ia menatapku dengan mata tajamnya, sama sekali tak mengasihaniku yang terus meraung kesakitan.

“Lalu guru sialan itu menambah kesakitanku saat di sekolah. Kau tahu siapa dia? Dia ibu tiriku,” Zitao berkata pelan tapi penuh penderitaan, membuat Aoi terkesiap kaget. “Dia hanya melampiaskan kekesalannya padaku, memukulku walau tahu kalau aku sebenarnya tak salah. Ya, wanita tua itu tahu kalau aku tak bersalah, tapi dia membuatku seolah-olah selalu salah.

“Aku berusaha meyakinkan semua orang, menahan setiap pukulan yang orang itu sarangkan di wajahku. Tapi kemudian mereka membuatku meledak dengan mengejek ibuku di sana. Apa aku harus tinggal diam seperti itu? Aku pasti melawan, bukan? Sepertimu saat itu, kau pasti marah, kan?”

Zitao menghela nafas berat. Ia tak tahu kenapa ia menceritakan semuanya pada Aoi. Tapi biarlah. Menceritakannya pada gadis itu terasa benar saat ini.

“Ibu Kakak ada di mana memangnya?”

Zitao menoleh. “Andaikan aku tahu di mana dia.”

Aoi diam. Mata bulatnya memandang Zitao yang juga menatapnya. “Kakak hanya perlu membuktikannya kalau selama ini orang salah menganggap Kakak sepele. Mendengar cerita Kakak kalau Kakak selalu belajar, aku yakin Kakak orang yang pintar. Kalau begitu, manfaatkan hal itu. Jangan membolos kelas, jawab pertanyaan guru di saat orang lain tak tahu jawabannya, dan mulailah menahan emosimu. Memang sih, menyebalkan saat orang lain mengatai kita. Tapi kalau kita balas, mereka akan lebih kencang lagi menginjak kita.”

Zitao diam. Matanya masih terpancang pada Aoi yang tersenyum meyakinkan. Zitao berdeham, lalu mengalihkan tatapannya pada tuts piano. Ia menarikan jari panjangnya di sana, menciptakan nada pendek namun manis.

“Baiklah, aku janji akan melakukannya.”

Aoi terkekeh kecil. “Aku tahu Kakak mampu.”

Zitao tersenyum kecil, tapi wajahnya yang menunduk membuat Aoi tak melihat senyumnya itu. Tapi memang itu tujuannya. Saat ini perasaannya sedikit membaik dan terasa ringan. Menyenangkan rasanya saat beban yang menghimpit dadanya mulai terangkat perlahan. Dan semua ini karena gadis itu.

Zitao mengangkat kedua tangannya, mulai memainkan piano itu dengan sesungguhnya. Nada indah berdenting keluar, membuat Aoi menatap Zitao tak percaya. Laki-laki itu memejamkan matanya, badannya bergerak maju mundur sesuai dengan nada yang ia mainkan. Lalu perlahan, suara merdunya keluar, membuat Aoi menatap Zitao takjub. Tangan laki-laki itu bergerak dengan ringannya di atas tuts piano, sementara suara indahnya mengikuti. Lagu yang ia mainkan penuh perasaan. Aoi tersenyum saat nada indah nan menakjubkan itu membahana. Ia bahkan sudah memejamkan matanya dan meresapi setiap lirik yang keluar. Lirik yang indah… sampai Aoi sadar bahwa lagu itu bercerita tentang cinta pertama.

🎶

Malhaji anado uri maju bon du nune gadeuk cha itjyo

Ijen geudae apeul ttae naega ima jipeojul geoyeyo

Geomnaeji marayo uri kkumcheoreom seolleneun cheossarangijyo

Josimseureopge tto haruharu neul chagokchagok saranghalgeyo

🎶

Bahkan tanpa mengatakan, saling berhadapan, mata kita dipenuhi dengan yang lainnya

Sekarang ketika kau sakit, aku akan ke sana untuk merasakan dahimu

Jangan takut, seperti mimpi yang menyenangkan, ini adalah cinta pertama kita

Dengan hati-hati, hari demi hari, langkah demi langkah, kita akan selalu mencintai

🎶

Zitao menyudahi permainannya. Ia lalu menoleh menatap Aoi yang hanya diam memandanginya. Ya, seperti lirik lagu yang ia mainkan, ia sudah mengatakannya. Entah gadis itu sadar atau tidak, yang penting dirinya sudah mengutarakannya.

Zitao mengangkat satu alisnya. “Kau tidak mau bilang apa-apa?”

Aoi sepertinya tersadar karena sekarang ia mengerjap-ngerjapkan matanya. “Eh? Kenapa?”

Zitao menarik nafas perlahan lalu menghembuskannya. Ia tak menjawab pertanyaan Aoi dan malah menarikan kembali jarinya.

“Permainan Kakak… bagus,” kata Aoi sambil tersenyum. Zitao meliriknya. “Dan lagunya juga bagus.”

Nada yang ia mainkan terhenti. Sekarang mata tajam itu menatap mata lembut milik Aoi. Gadis itu sadar juga. Ya, memang. Ini terlalu terlihat. Bukan lagi tersirat.

Zitao berdeham. “Tentu saja bagus.”

Aoi kembali melengkungkan bibirnya. “Kapan-kapan, aku boleh dengar lagi?”

Zitao mengangguk kecil tanpa memandang Aoi. “Terserah kau saja.”

“Terima kasih,” kata Aoi pelan. “Kakak sudah mempercayaiku.”

Zitao mengangkat pandangannya dan dihadapkan pada Aoi yang tersenyum manis di depannya. Belum pernah ada orang yang begini padanya. Tersenyum begitu tulus hanya untuknya.

“Kakak mau pulang sekarang? Langitnya makin gelap. Aku ada bawa payung, tapi hanya satu. Apa Kakak mau naik bus? Aku bisa antar Kakak ke halte.”

“Aku… boleh pulang bersamamu?”

Aoi mengangkat satu alisnya. Wajahnya terlihat bingung. “Kenapa memangnya? Tentu saja boleh,” Aoi lantas tersenyum. “Malah harusnya aku yang tanya, Kakak mau pulang bersamaku?”

Tanpa perlu Aoi ketahui, pulang bersama dengannya adalah sebuah anugrah bagi seorang Zitao.

.

.

Mereka berjalan beriringan di bawah payung merah besar Aoi. Sepanjang jalan, mereka bicara banyak hal. Lebih tepatnya Aoi yang bercerita. Sedangkan Zitao, ia hanya bertanya apa yang perlu ditanyakan dan menjawab apa yang perlu dijawab.

Aoi mendongak dan menatap langit muram di atasnya. Pandangannya lalu teralih pada Zitao yang masih fokus ke depan. “Kak, kalau sudah besar nanti, Kakak mau jadi apa?”

Zitao meliriknya. “Kau sendiri?”

“Aku… mau jadi penyanyi,” kata Aoi ringan. “Karena aku suka musik dan aku juga suka nyanyi. Rasanya sungguh menyenangkan jika bisa memiliki lagu yang sesuai dengan diri kita. Kalau Kakak?”

“Aku…” Zitao memandang langit yang jauh di sana. “Mau jadi pilot.”

Hening. Zitao menoleh menatap Aoi yang menatapnya dengan mata membesar. “Kenapa? Semustahil itukah?”

Aoi menggeleng. “Iie. Aku hanya membayangkan betapa kerennya Kakak saat memakai baju pilot nanti.”

Zitao diam. Apa gadis itu baru saja memujinya?

Aoi tertawa kecil. “Asal Kakak tahu, semua teman cewek sekelasku mengagumi Kakak, loh. Setiap hari, kalau Kakak lewat kelas kami, mereka akan ribut melihat Kakak dari balik jendela.”

“Oh ya? Aku tak tahu akan hal itu.”

“Tentu saja tidak tahu, Kakak selalu fokus ke depan tanpa melihat kanan kiri.”

“Kalau kau,” kata Zitao. “Apa kau juga mengagumiku?”

Aoi terdiam. Ia berhenti melangkah, membuat Zitao juga menghentikan langkahnya. Perlahan, Aoi mengangkat pandangannya. Ia mengurai senyum, menutupi kegugupannya. “Permainan musik Kakak bagus, jadi aku sungguh mengagumi Kakak.”

“Hanya itu?”

Aoi menenggak ludahnya sendiri lalu terkekeh pelan. “Kenapa jadi serius? Ayo, lanjut jalan lagi!”

Zitao meraih bahu Aoi, menarik gadis itu kembali ke tempatnya. “Lulus dari sini, aku akan pulang ke China.”

Mata Aoi membesar. “China?”

“Aku akan ambil sekolah penerbangan di sana dan mungkin tak akan kembali lagi ke sini. Aku bicara begini, karena ujian kelulusan hanya berjarak dua bulan dari sekarang. Setelah itu, aku tak akan bisa menemuimu lagi. Makanya aku bicara sekarang.”

Aoi diam. Ia tak tahu harus bicara dan berkomentar apa. Ini… terlalu mengejutkan.

“Aku mau mengucapkan terima kasih karena kau sudah peduli padaku walau kita baru saling kenal beberapa hari. Kau orang pertama yang tersenyum padaku dan orang pertama yang yakin bahwa aku benar. Kau tak tahu betapa itu sungguh berarti bagiku,” Zitao menarik nafasnya. “Bahkan kau juga sungguh berarti bagiku.”

Mata Aoi terasa panas.

“Janji yang aku buat padamu, di mana aku akan membuktikan diriku, akan aku penuhi dan suatu saat akan kutunjukkan padamu. Dan kau adalah orang pertama yang akan kucari saat itu tiba,” Zitao menatap Aoi sungguh-sungguh. “Karena itu, maukah kau menungguku?”

Pandangan Aoi memburam. Laki-laki ini ingin pergi untuk waktu yang lama. Hal itu membuat Aoi sedikit merasa sakit. Entah kapan ia akan melihat laki-laki itu lagi. Tapi Aoi mengangguk. Ia akan menunggu.

Zitao tersenyum. Benar-benar tersenyum. Ia menepuk-nepuk pundak Aoi. “Kalau begitu, aku pergi,”

Zitao menaungi kepalanya dengan tasnya lalu mulai berlari. Ia tak tahan menatap gadis itu lama-lama sementara dirinya tahu kalau gadis itu ingin menangis. Tapi di satu sisi, ia merasa sakit saat tahu kalau sebentar lagi, gadis itu tak akan bisa ia lihat lagi.

Zitao menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan menatap Aoi yang masih diam di tempatnya, menatap langsung ke arah Zitao. Gadis itu perlahan menarik sudut bibirnya, berusaha membentuk senyum. Namun senyum itu malah membuat Zitao semakin merasa sakit. Jadi ia kembali menarik kakinya berbalik, berlari ke arah gadis itu.

Aoi menatapnya bingung saat Zitao kembali berdiri di depannya. Tiba-tiba laki-laki itu menarik dirinya, menempelkan bibirnya di bibir Aoi. Aoi yang kaget hanya bisa diam, tapi kemudian ia malah menangis. Air matanya mengalir saat ia berusaha memejamkan matanya, merasakan rasa hangat yang diberikan laki-laki itu. Air mata itu bukan hanya keluar dari Aoi, namun juga dari Zitao. Sakit, itu yang ia rasakan. Satu-satunya orang yang bisa ia percayai, kini harus ia tinggalkan.

Zitao menarik dirinya lalu menatap Aoi yang sudah sesegukan di depannya. Ia meraih pipi gadis itu, menghapus tangis dari wajahnya. “Tiga belas tahun lagi, aku akan datang ke hadapanmu sebagai orang yang bisa kau percaya, orang yang bisa kau gunakan untuk tempatmu bersandar, dan orang yang bisa kau cintai. Kau mau menungguku selama itu, kan?”

Tanpa ragu, Aoi mengangguk dan tangisnya kembali keluar. Zitao meraih gadis itu lalu memeluknya. Tidak apa-apa, semuanya akan baik-baik saja. Ia akan berjuang sekuat tenaga selama tiga belas tahun ke depan lalu muncul ke hadapan Aoi sebagai orang yang pantas untuknya.

Tenang saja, janji itu pasti akan ia tepati.

.

.

Beijing, tiga belas tahun kemudian, saat aku tengah menunggu janjinya…

Aoi menatap pantulan dirinya di cermin lalu tersenyum. Sebentar lagi waktunya tampil dan ia sudah siap akan hal itu. Ia siap menghibur China dengan lagu barunya, mengingat tour yang ia lakukan di sini sebagai comeback album barunya. Aoi sedikit membenarkan rambutnya yang menjuntai indah sampai ke pundaknya saat tiba-tiba pundaknya dicolek. Managernya.

“Kau sudah siap sepertinya,” kata managernya—Choi Min A—sambil tersenyum.

Aoi balas tersenyum. “Tentu saja. Tapi aku sedikit gugup.”

“Seorang Aoi Ryūzaki gugup? Yang benar saja,”

Aoi mengibaskan tangannya. “Jangan bicara begitu! Aku jadi tambah gugup,” katanya sambil terkekeh pelan.

Min A ikut tertawa lalu kemudian menatap jam tangannya. “Kau masih punya waktu sekitar lima belas menit lagi. Ngomong-ngomong… ada yang ingin bertemu denganmu.”

Aoi menaikkan alisnya. “Siapa?”

Min A tersenyum misterius. “Dia ada di masa lalumu, tepatnya tiga belas tahun yang lalu.”

Mendengar itu, Aoi mematung. Lalu tanpa ia sadari, ia langsung beranjak dan berlari sekuat yang ia bisa. Ia bahkan tak tahu harus ke mana mencari dan bodohnya ia tak bertanya pada managernya itu. Tapi tak apa, Aoi pasti bisa menemukannya.

Aoi berlari hingga ia sampai ke taman gedung pertunjukannya. Taman itu begitu manis, penuh dengan lampu-lampu karena nantinya taman ini akan digunakan Aoi dan para staff untuk merayakan acara konser ini. Nafas Aoi tersengal dan tenggorokannya terasa tercekat. Ia ingin memanggil orang itu… ia ingin menyebut namanya…

“Kenapa kau berlari?”

Suara berat itu menusuk pendengaran Aoi. Suara yang sudah tak pernah ia dengar sejak tiga belas tahun yang lalu. Aoi berbalik dan matanya langsung menangkap pria jangkung dengan kemeja putih yang melekat sempurna di badannya dan topi khas maskapai penerbangan.

Laki-laki itu—Huang Zitao—berjalan mendekat lalu menatap Aoi bingung. “Kau mau nampil, tapi kenapa berlari seperti itu?”

Mata Aoi terasa panas dan tanpa bisa ia cegah, air matanya mengalir turun. Ia mendekap mulutnya karena tak bisa mempercayai matanya. Laki-laki itu ada di sini. Laki-laki itu menepati janjinya.

“Kakak…”

Hanya itu yang bisa keluar dari mulut mungil Aoi. Badannya berguncang dan Aoi tak melepas pandangannya pada Zitao, laki-laki yang paling ia rindukan selama tiga belas tahun.

Zitao meraih wajah Aoi, menghapus air mata gadis itu, lalu perlahan tersenyum. “Kau tidak suka aku datang? Lalu kenapa menangis?”

“Aku… merindukanmu…”

Senyum di wajah Zitao memudar. Tapi kemudian ia berdeham lalu kembali merangkai senyumnya. “Aku datang kembali padamu sesuai janjiku. Aku bisa menepatinya, kan?”

Aoi mengangguk sementara tangisnya masih keluar.

Zitao menghela nafas berat. “Saat dalam perjalanan ke sini, banyak sekali yang ingin aku katakan padamu. Banyak sekali yang ingin aku bagi denganmu. Tapi saat melihat wajahmu… aku mendadak lupa ingin mengatakan apa.”

Aoi menghapus tangisnya. “Banyak juga yang ingin kuceritakan padamu, tapi aku tak tahu harus mulai darimana.”

Zitao tersenyum. “Kalau begitu, boleh aku memelukmu? Aku sangat merindukanmu sejak terakhir kali aku bicara denganmu.”

Tanpa menunggu jawaban Aoi, Zitao merengkuh badan mungil itu dan menenggelamkan wajahnya di bahu Aoi. Gadis itu sendiri balas memeluk dan menghirup dalam-dalam aroma Zitao. Laki-laki ini memeluknya, laki-laki ini nyata ada bersamanya.

“Bagaimana kabarmu? Sepertinya kau sungguh baik-baik saja selama ini,” mulai Zitao.

“Uhm, aku baik selama tiga belas tahun terakhir. Karena aku berjuang selama ini, agar bisa menunjukkannya padamu jika kita kembali bertemu.”

“Dan sepertinya kau berhasil melakukannya,” kata Zitao sambil mengelus kepala Aoi dan tersenyum walau gadis itu tak bisa melihatnya.

Aoi sendiri juga tersenyum. “Kau juga berhasil melakukannya.”

“Saat itu, aku tahu bahwa aku tak bisa menjanjikan apa-apa padamu jika nanti aku kembali bertemu denganmu. Karena itu, sama sepertimu, aku juga berjuang untukmu.”

Aoi mendorong kepalanya sedikit ke belakang, berusaha menatap laki-laki ini dari dekat tanpa melepas pelukannya. Ia lalu menggeleng. “Kakak berjuang bukan hanya untukku, tapi juga untuk diri Kakak sendiri. Seperti janjimu saat itu, Kakak akan berjuang agar bisa menjadi orang yang layak diperhitungkan. Dan aku tahu Kakak bisa. Aku sama sekali tak menyesal harus menunggu Kakak selama tiga belas tahun.”

Zitao menatap Aoi yang semakin menawan setelah sekian lama tak melihatnya. Ia mendekatkan wajahnya lalu mencium kening gadis itu sedikit lebih lama. “Kau selalu tahu kata yang tepat untuk dikatakan.”

Aoi tersenyum. “Bayangan aku tentang Kakak yang akan menjadi seorang pilot ternyata jadi kenyataan juga. Kakak jauh lebih keren dari pemikiranku saat itu.”

Zitao tertawa kecil. “Aku juga sudah mendengar lagumu. Lagumu benar-benar penuh perasaan.”

“Terima kasih,” kata Aoi sambil tersenyum lebar.

“Ah, aku baru ingat sesuatu.”

Zitao merogoh sesuatu dari kantongnya lalu menyodorkan kotak berwarna biru dongker. Aoi menatapnya bingung sampai Zitao membukanya. Sebuah cincin dengan mata yang terbuat dari batu saphir berwarna biru jernih. Mata Aoi terbelalak dan ia kembali menatap Zitao.

Zitao tersenyum hangat, lalu meraih tangan Aoi dan memasangkannya ke jari manis Aoi. “Aku tak mau menunggu lebih lama lagi untuk ini karena aku rasa, kita sama-sama sudah terlalu lama menunggu. Aku berharap bisa menjadi orang yang kau butuhkan, menjadi tempatmu bersandar, dan menjadi orang yang kau cintai. Apakah kau mau menerima diriku, Aoi Ryūzaki?”

Aoi menatap cincin yang sekarang tersemat di jarinya lalu mengangkat pandangannya dan menatap Zitao yang tengah tersenyum padanya. Entah sejak kapan ia jadi menyukai senyum laki-laki itu. “Aku bisa bilang apa selain iya?”

Zitao tersenyum lebih lebar dan Aoi membalasnya dengan senyum manisnya yang sungguh Zitao rindukan. “Jadi namamu sekarang adalah Huang Aoi?”

Aoi tampak pura-pura berpikir. “Kurasa iya,”

Zitao tertawa lalu melepas topinya dan memasangkannya di kepala Aoi. Gadis itu jadi lebih manis dengan topi itu. Zitao lalu merengkuh Aoi agar lebih dekat dengannya. Ia sedikit menunduk lalu mendaratkan bibirnya di atas bibir Aoi. Gadis itu sendiri mengalungkan tangannya di leher Zitao dan membalas ciuman laki-laki itu.

Sepertinya penantian selama tiga belas tahun itu tidak sia-sia. Mereka berdua tumbuh menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya, berusaha keras agar bisa menjadi layak diperhitungkan. Usaha dan kesabaran selama itu memang membuahkan hasil yang sungguh manis. Sekarang mereka punya satu sama lain dan saling menjaga satu sama lain. Hal apa lagi yang mereka butuhkan?

Selama Aoi memiliki laki-laki ini di sampingnya, ia yakin bisa menghadapi semuanya dengan lebih mudah.

Selama Zitao memiliki gadis ini di sampingnya, ia yakin bisa lebih kuat dari sebelumnya.

Bersama, menghadapi semuanya dengan lebih baik.

.

.

.

Music of IU feat Na Yoon Kwon_ It’s First Love

.

End

P.S: Hai, ketemu lagi di FF non chapterku yang kelimaaa. Terima kasih karena sudah mau membaca atau sekedar melirik FF yang mungkin agak absurd ini, hehehe. Sorry buat idenya mungkin yang agak gaje atau mainstream karena tiba-tiba aja nongol setelah lihat foto Tao Fanart yang sumpah ganteng banget. Dan sorry buat ship mereka yang rada enggak jelas (entah kenapa masangin Tao sama IU, tapi ya sudahlah). Jangan lupa komennya ya, agar aku bisa memperbaiki kesalahanku dan supaya itu enggak terulang lagi. Sampai jumpa di my next fanfiction!!! ☺☺

Salam damai.

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s