[EXOFFI FREELANCE] A(+) Class – Poetry (Chapter 2)

Cover

A(+) Class –Vol. 02 (Poetry)

Author : jjehxi

Length : Chaptered

Genre : School life, Family, Slight romance.

Rating : PG-15

Main cast & additional cast : Started by Oh Sehun & OC.

Summary : Dan mungkin, inilah perubahan terbesar yang terjadi hari ini. Si Pewaris Kedua tersenyum padanya.

Disclaimer : Cerita ini murni milik saya, tidak ada unsur kesengajaan apabila ada beberapa adegan yang sama. Dilarang keras untuk mengcopy-paste. Don’t be plagiator! Sorry for typo(s) and happpy reading^^

Previous :

(00) Prologue (01) Change?

-Vol. 01 (Poetry)

    Siang ini bukanlah hari libur, bukan juga akhir pekan. Tetapi hari rabu di minggu kedua di awal tahun pelajaran baru. Harusnya sibuk bukan? Iya Si Pemuda Tampan yang tengah berjalan-jalan tak tentu arah pun berpikir begitu. Tapi lagi-lagi, realita sangat tak sesuai. Nyatanya, satu jam kedepan A-Class  terbebas dari petuah-petuah ilmu sastra korea yang seharusnya disampaikan oleh seorang pria akhir 40-an dengan perawakan tinggi namun memiliki sifat yang sedikit menyebalkan –Jang Seonsaengnim mereka sering memanggilnya.

    Jika dipikir-pikir terbebas satu jam tanpa tugas tidak buruk, namun sangat buruk. Mengingat para penghuni A-Class yang individualis, ditambah Luhan –teman karibnya yang hari ini izin dengan alasan ada urusan mendadak yang harus ia selesaikan, ya katanya seperti itu. Dan setelah beberapa menit berlalu ia habiskan dengan ‘kegiatan individualis’nya, netranya menangkap punggung kecil yang ia rasa cukup tak asing.

    “Tentu saja. Itu kan Si Pewaris Kedua!”  Beonya dalam hati.

    Dan tanpa menunggu lama pun, kedua kaki panjangnya secara otomatis merajut mempersempit jarak antara dirinya dengan gadis yang berdiri memunggunginya. Jika dilihat semakin dekat, gadis itu sepertinya sedang membaca. Heol, dia penghuni A-Class sejati, pikirnya.

    “Hai partner!” sapanya, yang hanya dibalas dengan tatapan datar khas gadis didepannya.

    “Some say the world will the end in fire, Some say in ice. Fire and Ice, by Robert Frost. Kutipan dari puisi yang cukup menarik menurutku. Dan menjadikannya sebagai summary untuk sampul bukunya, itu tidak buruk. Siapa penulisnya?” jackpot! Im Seyoo kini sudah mengalihkan seluruh atensinya kepada pemuda jakung didepannya.

    “Kau bisa membacanya sendiri bukan?”

    “Ya, NYX. Tapi siapa dia?”

    “Penulis.”

    Jawaban yang tepat. Sangat tepat untuk memancing Oh Sehun menyerapahi gadis didepannya. Oh, ayolah kini ia sedang tidak ingin bercanda. Sungguh dia penasaran dengan Si Penulis lokal asal sekolahnya ini.

    “Aku tidak bodoh, Nona Im. Ini buku lokal yang hanya diedarkan di sekolah ini. Itu artinya NYX juga salah satu penghuni disini bukan?”

    “Hm. Sepertinya kau tau.”

    Sumpah, jika tidak ada keributan kecil yang terdengar dari arah lapangan outdoor mungkin ia akan secara terang-terangan menyerapahi gadis didepannya ini. Sayang, pemandangan yang tersuguh didepan sana sepertinya sudah menyita seluruh atensinnya serta gadis didepannya ini, tentu saja.

    Bagaimana tidak? Kini di lapangan outdoor sana, lagi-lagi Kang Ye-na –Si mantan penghuni A-Class secara terang-terangan mendapatkan cemoohan sekaligus cibiran dari 19 teman barunya itu. Oh tentu saja, bukan rahasia umum lagi jika sebagian siswi penghuni A-Class memiliki kemampuan yang pas-pasan dalam bidang olahraga, apalagi itu Kang Ye-na. Dan sialnya, kegiatan olahraga hari ini sepertinya dilaksanakan tanpa adanya Kim Seonsaengnim –guru olahraga mereka.

    “Dia sahabatmu, eh?” cibirnya pada gadis didepannya.

    “Ya.”

    “Jadi, disini kau ini berperan sebagai apa? Fire or Ice?”

    Lagi. Ucapannya kembali diabaikan. Atau gadis didepannya ini tengah memutar otaknya guna mencari jawaban yang dirasa pas. Tapi jika dilihat, gadis didepannya ini tengah memandang lurus kearah depan tanpa minat dan sangat datar, mungkin. Arah depan? Kearahnya? Atau lebih tepatnya kearah koridor menuju ruangan A-Class? Tapi ada apa? Dan karena rasa penasarannya itu, dia pun menolehkan kepalanya ke arah belakang.

    Bingo!

    Ia rasa terlambat untuk mengetahui hal apa yang membuat seorang Im Se-yoo tak mengindahkan pemandangan lapangan outdoor tadi. Iya tadi, karena sekarang hanya tersisa dirinya yang masih setia berdiri di koridor yang nampak sepi.

    “Menerima bukan berarti harus dekat’kan? Jadi wajar’kan jika aku diabaikan?” gumamnya pelan.

∩∩∩

    “Pria tampan itu kalau tidak brengsek, ya homo. Kau tau ungkapan itu, Ise?”

    “Tau.”

    “Benarkah? Siapa yang mengatakannya? Aku pikir otakmu itu hanya diisi oleh kumpulan rumus-rumus ‘tak penting’. Kurasa kau mulai sedikit jinak, ya?”

    “Ck, semaumu saja.”

    “Tapi aku serius, siapa yang mengatakannya?”

    “Kau.”

    “Apa?!!”

    Saat itu, dia tak berjalan sendiri seperti sekarang. Dulu, Kang Ye-na akan selalu setia disampingnya tentu tak lepas dari segala ocehannya. Dan biasanya, telinganya akan berakhir dengan mendapat semprotan teriakan melengking dari gadis bernarga Kang itu.

    “Yak Ise! Kelasku sangat membosankan. Hampir seluruh penghuni disana saling berpasangan. Dan aku terabaikan.”

    “Kau’kan supel.”

    “Benar. Harusnya aku rebut saja salah satu kekasih mereka. Aku bosan mendengar decakan-decakan pagutan panas mereka. Kalau aku bisa merebut salah satunya’kan, mungkin namaku yang akan menggema menjadi desahan di ruangan kelas.”

    “Semaumu sajalah.”

    “Tapi ini serius Ise, aku tak betah di kelas. Mereka sering menawarkan video Miyabi yang bertelanjang dada! Aku itu’kan normal, kalau Song Joon-gi yang bertelanjang dada sih aku juga mau.”

    “Ck. Jadi maumu itu apa?”

    “Satu kelas denganmu. Aku akan mengikuti tes masuk A-Class gelombang kedua. Dan kupastikan satu kursi tersisa itu hanya untukku.”

    A-Class tak sesederhana itu, Kayen. Aku takut ada yang berubah diantara kita.”

    “Kau percaya padaku’kan? Tidak akan ada yang berubah. Kita berduakan bukan power ranger.”

    “Semaumu!”

    Dan ia ingat, itu pertama kalinya seorang Kang Ye-na bisa membuatnya begitu ekspresif. Bahkan kala itu, dia sampai bisa berteriak kesal. Kang Ye-na itu hebat bukan?

    Iya, namun sekarang tidak lagi. Tidak ada lagi Kang Ye-na yang sering ia panggil ‘Kayen’, si gadis random yang hebat, dan… hangat? Mungkin.

    Sekali lagi kini ia sendiri. Kesepian, sangat mungkin. Tentu saja sebelum sebuah suara yang ia rasa tak asing di rungunya menginteruspsi kegiatan diamnya.

    “Kau benar-benar mengabaikan ‘sahabatmu’ itu, eh?” –itu Oh Sehun tentu saja.

    “Kau mengikutiku?” sepertinya ‘mengabaikan’ itu Se-yoo’s style sekali, pikir Oh Sehun ketika pertanyaan balik tertuju padanya.

    “Kau mau ke perpustakaan?” Dan kini, Im Se-yoo lah yang merasa diabaikan karena pertanyaan lain yang terlontar dari mulut pemuda jakung didepannya ini. Tak perlu repot menjawab, Se-yoo pun dengan entengnya membalikkan badannya dan melangkah masuk ke ruangan penuh buku itu. Tentu saja diikuti pemuda jakung itu –Sehun.

    Im Se-yoo ke rak 1, Oh Sehun juga. Im se-yoo berjalan ke kiri, Oh Sehun juga. Begitu seterusnya, hingga membuat Im Se-yoo merasa kesal dan sepontan menghentikan langkahnya di lorong rak yang terlihat sepi.

    “Apa yang kau inginkan?”

    “Jawaban. Are you fire or ice?”

    “I would be elegant if I had a crown

    Try be a noble, ignored my groan

    Although I know I have a pain

    But I try walking on

    Then hope get a gain

    “Itu milik NYX? Poetry’nya terdengar tak buruk. Ah, tetapi sepertinya kau tidak berniat menjawab pertanyaanku? Kupikir setidaknya kita bisa berteman, setelah setengah tahun kuhabiskan dengan menikmati tatapan mengintimidasi darimu.”

    “Teman?”

    “Ya, setidaknya itu yang aku pikirkan.” Ucap pemuda jakung itu, yang hanya direspon dengan tatapan datar khas Si Pewaris Kedua. Ya, mungkin gadis itu mengerti bahwa Oh Sehun akan melanjutkan kata-katanya setelah ia terlihat menghela nafasnya pelan.

    “Musim gugur, setelah Ujian Tengah Semester pertama aku masuk ke sekolah ini. Tak ada yang spesial menurutku, selain tatapan mencemooh yang mereka semua berikan pada hari kedua. Aku tidak tau siapa dalang dari semua ini. Namun saat jam konseling di minggu kedua setelah ujian, aku tau siapa itu. Itu kau’kan? Kau dalang dari semua yang terjadi padaku di sekolah ini selama 6 bulan terakhir. Aku benar?”

    “Ya.”

    “Kenapa?”

    “A-Class tidak sesederhana itu. Dan kau dengan mudah menjadi bagian dari kami, seolah-olah kau memang layak.”

    “Seolah-olah?”

    “Kau tidak lebih layak dari Kang Ye-na, jika kau ingin tau.”

    “Kenyataannya, kau pun mengakui kelayakanku setelah Greeting Word kemarin. Aku benar?” Dan tatapan tak menyangka sekaligus meremehkan, terpatri jelas di wajah cantik Si Pewaris Kedua itu.

    “Be try again and again

    Like an idiot that you’re”

∩∩∩

412059_7562_s5bigw8typ7V2HpeHplOUbCuM[1]

    Di lain tempat, tepatnya di sebuah ruangan bernuansa putih yang luas, terlihat seorang wanita pertengahan 30-an yang bergaya nyentrik dengan polesan bubuk magic serta red lipstick, yang dilengkapin stileto merah menyala. Itu gayanya sekali jika kalian ingin tau. Dan dia… cantik.

“Nyonya, tidak seharusnya Anda kemari pada waktu-waktu seperti ini.” itu keluar dari mulut seorang wanita awal 30-an dengan stelan khas maid.

    “Aku bilang’kan jangan berbicara formal padaku. Lagipula, aku merindukan putriku, jadi tidak masalah’kan kalau aku mengobati rinduku dengan ‘mempercantik’ ruangan pribadinya.” Ucapnya dengan binar bahagia yang terpancar dari mata bulat indahnya, disertai senyuman lebar khasnya.

    “Tapi, sprei warna merah kan terlalu mencolok dengan warna dominan ruangan ini.”

    “Ck, dia tidak akan setidak nyaman itu kok.”

    “Tapi Nona akan mendesis kasar, pada akhirnya.”

    “Itu kau tau.” Dan setelahnya, tidak ada sahutan lain dari pelayan muda itu. Tentunya, Nyonya nyentriknya itu sekarang tengah semangat ‘mempercantik’ ruangan putrinya itu. Ya, walau dia tau pada akhirnya ruangan ini akan kembali serba putih. Tak ada variasi warna sekali. Monoton, wanita nyentrik itu menyebutnya.

    “Presdir Oh, dari Golden Group menerima tawaran Il Group untuk bergabung, eonni.”

    “Aku tidak peduli dengan mereka.” Ucap wanita nyentrik itu setelah selesai dengan kegiatan ‘mempercantik’ ruangan yang sedari tadi ia geluti. Dan kini kakinya hendak melangkah menuju pintu keluar, sebelum sebuah pernyataan membuatnya berhenti melangkah.

    “Tapi putrimu akan terlibat.” Kini keduanya saling menatap. Ada raut terkejut dari wanita nyentrik itu, dan si pelayan hanya memberikan tatapan sirat kejujuran serta tatapan khawatir.

    Drtt drtt

    My Deer is calling…

    “Aku harus pergi.”

TBC

Please leave comment(s) and/or like juseyo^^

    Maafkeun minggu kemaren ndaa up hehe :v

Iklan

10 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] A(+) Class – Poetry (Chapter 2)

  1. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] A(+) Class -Vol.05 (Little Pieces) | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] A(+) Class – Is it the beginning? (Chapter 4) | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] A(+) Class –Vol. 03 (What if?) | EXO FanFiction Indonesia

  4. Masih bingung 😦 belum ngerti sama skali 😀 but its ok aku rasa ff ini emng bakal keren banget nantinya 🙂 uda nggak sabar, keep W author , next chap nya jngan lama” ya 😉

  5. Lagi lagi belum terlalu paham 😦 tambah penasaran, yaudah ditunggu chapt selanjutnya, semoga lebih memperjelas ceritanya gimana 🙂 🙂

  6. Kok aku kurang paham ya sama ceritanya??Sifat individualisme di A-Class??Si sehun di diamin sama partnernya mungkin karena si sehun ngambil tempat sahabatnya si Im Se-yoo??Kayaknya ceritanya rada mirip sama film the heirs ya??Intinya aku tunggu nextnya chingudeul 🙂 Annyeonghaseyo 🙂 (y)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s