Rooftop Romance (Chapter 27) – Shaekiran

rooftopromancesad

Rooftop Romance

By: Shaekiran

 

Main Cast

Wendy (RV), Chanyeol, Sehun (EXO)

 

Other Cast

Baekhyun (EXO), Kim Saeron, Irene (RV), Taeil, Taeyong (NCT), Jinwoo (WINNER), and others.

Genres

Romance? Family? Friendship? AU? Angst? Sad? School Life?

Length Chapter | Rating PG-15

Disclaimer

Idenya cerita ini murni datang dari otak author yang otaknya rada senglek banyak (?). Maaf untuk idenya yang mungkin pasaran dan cast yang itu-itu aja. Nama cast disini hanya minjam dari nama-nama member boy band dan girl band korea. Happy reading!

.

Poster by ByunHyunji @ Poster Channel

Previous Chapter

Teaser 1 | Teaser 2 | Teaser 3 | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Chapter 8 | Chapter 9 | Chapter 10 | Chapter 11 | Chapter 12 | Chapter 13 |Chapter 14 | Chapter 15 | Chapter 16 |Chapter 17 | Chapter 18 | Chapter 19 | Chapter 20 | Chapter 21 | Chapter 22 |Chapter 23 |Chapter 24 | Chapter 25 |Chapter 26 | [NOW] Chapter 27 |

“I’m not yours.”

 

 

 

-Chapter 27-

 

In Author’s Eyes

 

“Sesuatu yang penting, dan aku ingin kau menjawab ini dengan jujur, sunbae.”

Chanyeol nampak mengangguk menanggapi permintaan Wendy. Dengan gaya santai lelaki itu berucap sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. “Baiklah, kau ingin bicara apa?” tanyanya untuk kesekian kalinya.

Wendy nampak menghela nafasnya sebentar, ia tersenyum sangat tipis. “Pidato sunbae tadi, eum….aku tidak mau percaya diri, tapi…..kenapa kau menatapku saat mengucapkannya?”

Sebenarnya Wendy ingin merutuk dirinya sendiri, tapi rasa penasarannya lebih mendominasi. Terserah ia akan dicap apa oleh Chanyeol setelah ini, yang pasti gadis itu ingin jawaban langsung dari mulut lelaki bermarga Park itu.

“Memang untukmu.”

DEG.

Wendy merasa degup jantungnya mulai susah diatur, rasanya menyesakkan, namun sekaligus membuat pipinya bersemu merah kegirangan.

Namun Wendy mengingat sesuatu. Terlepas dari bagaimana Chanyeol menatapnya tadi, gadis itu mencerna kembali kalimat-kalimat yang dilontarkan Chanyeol ketika berbicara dari depan podium sekolah; tentang perpisahan.

“Jadi sunbae —“

“Ya, seperti dugaanmu. Itu salam perpisahan dariku, hoobae.”

Rasanya Wendy tertohok ketika Chanyeol memanggilnya seperti itu. Ah, apa sekarang Wendy hanya sebatas junior di mata lelaki yang dinyatakan lulus masuk akademi polisi itu?

“Itu… sunbae…. Kau bilang kata good bye itu….”

Puk.

Wendy merasakan sentuhan ringan di kepalanya hingga otomatis ucapan gagapnya terhenti. Chanyeol menyentuh kepalanya lagi setelah sekian lama lalu membelainya pelan meski hanya sekali elusan karena Chanyeol segera menyingkirkan jemarinya dari surai gadis itu.

“Tapi aku berbohong tentang definisi good bye itu. Sayang sekali hoobae, padahal aku tidak mau membuatmu berharap.”

Kalian tau apa yang ingin dilakukan Wendy sekarang? Dia jelas ingin mengumpat. Kenapa Chanyeol selalu mengangkatnya tinggi-tinggi ke atas awan lalu menghempaskannya begitu saja hingga membentur dasar bumi dengan cara yang sangat menyakitkan?

“Sebenarnya itu hanya kata-kata manis di podium dan aku tidak mau kau salah paham. Kau tau bagaimana aku kan? Bagiku good bye itu tetap saja selamat tinggal tanpa ada arti lainnya. Jadi, mari berpisah dengan sempurna di sini. Selamat tinggal, dan ku pastikan aku tidak akan merindukanmu atau berharap kita akan bertemu suatu saat nanti karena takdir.”

“Dan itu semua bohong Wendy.” —Chanyeol

“Kau jahat.”

“Memang, jadi tolong maafkan aku.”

Wendy meremas dadanya yang terasa sakit. Dia sudah menduga sejak lama dan tidak pernah mau berharap lagi, tapi entah kenapa kata-kata itu masih terasa begitu menusuk. Sakit tapi tidak berdarah.

Gwenchana, aku baik-baik saja.” jawab Wendy sok tegar. Gadis itu pun perlahan membuka tas ranselnya, lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam sana.

“Aku harap sunbae datang.” Wendy merasa dirinya benar-benar jahat ketika menyodorkan benda berwarna putih itu, bahkan ia sampai menggigit bibirnya karena meringis. Namun, ekspresi Chanyeol yang sama sekali tidak berubah ketika menerima sodoran dari tangannya dan malah tersenyum sangat lebar membuat Wendy seketika mencelos.

Congratulation Son Wendy, terima kasih atas undanganmu. Tenang saja, aku pasti hadir dan memberikanmu ucapan selamat di hari pertunanganmu nanti.”

Awalnya Wendy berharap Chanyeol akan membuang undangan itu ke tong sampah, meremasnya dengan marah, atau bahkan mengumpat kesal ke arah Wendy, tapi melihat bagaimana Chanyeol mengucapkan selamat padanya, tiba-tiba Wendy merasa benar-benar tidak punya arti sama sekali di mata lelaki itu. Rasanya, Wendy ingin menarik ucapannya kembali dan mengambil paksa undangan itu —undangan pertunangannya dengan Sehun— dari tangan Chanyeol agar lelaki Park itu tidak hadir saja besok lusa. Wendy sadar kalau justru ialah yang tidak akan pernah sanggup menyematkan cincin ke jari manis Sehun jika ada Chanyeol yang menyaksikannya sebagai tamu undangan. Wendy tidak akan pernah bisa.

“Ya, aku pasti akan menunggumu datang,” Wendy tertawa renyah, sementara kini Chanyeol ikut tertawa sambil menyodorkan tangan kanannya ke arah Wendy dan segera menjabat tangan gadis itu tanpa aba-aba.

“Dan hmm, ku dengar kau akan kembali ke Kanada setelah bertunangan kan?” Wendy membulatkan matanya, “Darimana Chanyeol bisa tau?” pekiknya dalam hati.

“One more, good bye Son Wendy. Let’s don’t meet again in the future. Keep healthy in Canada and also hope you always happy with your love, Oh Sehun.”

 

“Aku mencintaimu, setidaknya untuk sekali saja aku benar-benar ingin jujur tentang perasaanku sendiri.”

Irene menggeleng-gelengkan kepalanya ketika kembali mengingat pengakuan Sehun beberapa minggu yang lalu. “Tidak, Sehun pasti berbohong.” ucapnya pada diri sendiri sambil memandangi gedung aula yang makin lama makin kosong. Irene sendiri tidak sadar kapan aula yang dipenuhi ratusan manusia itu kini berubah menjadi kosong melompong. Ah, sepertinya ia melamun terlalu lama.

“Jadi, noona pilih apa? Menahanku, atau membiarkanku begitu saja?”

“Sial, kenapa dia selalu berkeliaran di dalam otakku? Dasar hoobae brengsek!” tanpa sadar, Irene pun memekik sangat keras untuk mengenyahkan Sehun dari dalam pikirannya.

Noona memikirkanku?”

“Astaga! Kau mengejutkannku!” Irene memegangi jantungnya yang serasa hampir jatuh ke perut, lalu memandang Sehun yang entah kenapa sudah berada di depannya.

“Kenapa kaget begitu noona? Aku bukan hantu.”

Irene berdecak, rasanya ingin membuang Sehun ke Sungai Han sekarang juga. “Hampir saja ketahuan,” batinnya dalam hati karena nyaris terpergok sedang memikirkan Sehun.

Noona memikirkanku kan? Menyesal menolakku, eoh?” Sehun tersenyum miring, membuat Irene rasanya ingin menceburkan dirinya saja ke Sungai Han ketimbang membuang Sehun ke tempat itu. Dia tidak punya muka lagi sekarang, Irene benar-benar malu.

“Menyesal kan?” ulang Sehun untuk kedua kalinya, membuat Irene makin merasa ada beton yang menjatuhinya sekarang ini karena mengingat bagaimana ia menolak menahan Sehun dan membiarkan saja lelaki itu saat menyodorkan sebuah undangan pertunangan kepadanya; pertunangan Sehun dengan Wendy.

“Sehun, jangan membuatku menjadi seperti orang jahat.” cicit Irene akhirnya, takut ia malah makin melukai Sehun.

Sebenarnya Irene sudah menduga sejak lama kalau Sehun menyukainya mengingat lelaki bermarga Oh itu sangat sering mengikutinya kemana pun, bahkan Sehun bisa dikatakan ‘stalker’ ketika Irene berada di sekolah. Jadi ketika Sehun menceritakan bahwa ia menyukai Wendy, Irene pun segera bahagia dan berpikir Sehun sudah move on darinya. Irene mempercayai itu sampai Sehun berkata jujur kepadanya beberapa minggu yang lalu. Kejujuran yang makin membuat Irene bimbang karena Sehun nampak begitu terluka.

Gwenchana, aku baik-baik saja noona. Jangan merasa menjadi orang jahat, kau adalah gadis terbaik yang pernah aku kenal.” Irene menyerngitkan alisnya, “Baik?” ceplosnya bingung. Padahal seingat Irene dia sangat sering mengusir Sehun karena lelaki itu selalu mengikutinya kemanapun, dan ia dekat dengan Sehun pun karena rencana awal ingin memisahkan Chanyeol dan Wendy. Itu yang namanya baik?

“Ingat saat kau masih kelas 3 SMP kau pernah menolong murid kelas 1 SMP Star Culture yang berkelahi dengan teman sekelasnya?”

Irene mengedip-kedipkan matanya bingung dengan pertanyaan Sehun. “Memangnya aku pernah menolong seseorang saat SMP?” pikirnya dalam hati karena tidak mengingat sama sekali kalau ia pernah menjadi gadis pemberani semacam itu.

“Ah lupakan saja. aku hanya bicara melantur.” kata Sehun akhirnya karena melihat reaksi Irene yang seperti orang bodoh alias tidak paham apa maksud ucapannya. Sehun pun bergerak meletakkan tangannya di atas kepala Irene, menepuknya pelan.

“Ku pikir kau akan ingat dan mempertimbangkannya kembali, tapi rupanya kau tidak mengingatku noona. Padahal, siang malam aku selalu mengingat gadis berambut sepunggung yang dengan berani membelaku itu. Sayang sekali, sepertinya kita memang tidak ditakdirkan bersama.”

“Se—Sehun, kau kenapa?” tanya Irene gugup akhirnya karena Sehun sedari tadi hanya meletakkan tangannya di atas kepala Irene dan memandangi gadis itu sangat intens hingga membuat detak jantung Irene menyalahi aturan kecepatan berdetak.

“Aku akan berhenti berharap. Hari ini, Oh Sehun akan mulai melupakan Bae Irene.”

Sehun mengacak-acak rambut Irene dengan gemas dan tertawa lebar, merasa sangat beruntung bisa melihat ekspresi jenaka Irene ketika ia mengacak-acak surai gadis itu.

“Selamat atas kelulusanmu noona, dan aku harap kau akan hadir di acara pertunanganku nanti.” lanjut Sehun sembari menghentikan aksinya mengacak surai Irene. Kali ini dia malah merapikan rambut gadis itu yang sudah cukup berantakan akibat ulahnya, kemudian Sehun tersenyum lebar.

Cup~

Irene kaget bukan main saat Sehun tiba-tiba mengecup pipinya dengan kecepatan kilat.

“Maaf noona, tapi ini yang pertama dan terakhir aku akan berbuat kurang ajar kepadamu.” jelas Sehun cepat ketika mendapati raut terkejut di mata Irene.

“Terakhir, selamat tinggal noona. Seperti janjiku, aku akan melupakan Bae Irene mulai sekarang. Maaf kalau aku sudah membuat noona tidak nyaman karena perasaan sepihak ini. Sekarang noona bisa bebas karena Oh Sehun sudah tidak akan menggangumu lagi. Selamat tinggal.”

Dan tanpa sempat si gadis berkomentar, Sehun sudah melenggang pergi meninggalkan Irene yang hanya bisa terdiam di tempat.

 

Wendy menghela nafasnya panjang sembari menatap pantulan dirinya di depan cermin. Sekarang rambutnya digelung rapi, terlihat sangat cantik terlebih tubuh langsingnya kini dibalut gaun cantik yang dulu dipilihnya bersama dengan Sehun. Wajah Wendy pun dipoles pula dengan make up tipis, sederhana namun membuat Wendy terlihat sangat elegan.

“Adikku cantik sekali.” Wendy merasakan gestur Jinwoo yang mencolek dagunya dengan sengaja, berniat menggoda Wendy yang memang terlihat sangat cantik hari ini.

Oppa, bukankah ini berlebihan? Aku hanya akan bertunangan, tapi appa membuatnya seolah-olah aku akan menikah saja!” pekik Wendy merengek, membuat Jinwoo tak tahan untuk tidak tertawa.

“Kau tau bagaimana appa kan? Sudahlah, lagipula acara pertunanganmu jadi nampak sangat indah ‘kan karena dibuat super mewah seperti ini?” Wendy mengerucutkan bibirnya, membuat Jinwoo makin tertawa sejadi-jadinya.

Perlahan, setelah merasa tawanya mereda, Jinwoo pun menggenggam tangan Wendy erat. “Kau yakin bertunangan dengan Sehun?” tanya Jinwoo serius, dan mau tidak mau Wendy menghela nafasnya berat. “Ya, aku yakin oppa.” jawabnya kemudian dengan mantap.

Ekhm.”

Keduanya otomatis memalingkan muka ke arah pintu ruang ganti yang terbuka, nampak di sana Sehun yang sudah menggunakan tuxedo hitamnya berdehem sementara tangan kirinya menggenggam sebuah buket bunga.

“Sepertinya aku mengganggu kalian.” canda Jinwoo sambil menarik Sehun masuk ke dalam hingga sekarang Sehun berhadapan langsung dengan Wendy; hanya berjarak kurang dari satu meter.

“Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu. Aku harus duduk di bangku paling depan dan menonton kalian berdua nanti.” pamit Jinwoo sambil melambai ke arah keduanya yang hanya tersenyum canggung. Tak lama kemudian, badan kakak tiri Wendy itu pun nampak sudah menghilang di balik pintu.

Hening kini menemani diantara Sehun dan Wendy. Keduanya tidak berbicara sama sekali hingga membuat keadaan menjadi canggung. Biasanya mereka hanya akan berceloteh seperti sudah saling mengenal sangat lama, tapi hari ini keduanya sama-sama bisu.

“Kita benar akan bertunangan?” tanya Sehun akhirnya memecah konversasi diantara mereka berdua yang hanya dijawab decakan ringan dari Wendy. “Iya bodoh, sekarang kita akan bertunangan.” jawab Wendy pura-pura kesal yang disambut tawa kecil dari bibir Sehun.

“Aku hanya tidak pernah menyangka.” kata Sehun lagi sambil menyodorkan buket bunga di tangannya kepada Wendy.

“Harusnya kau yang memegangnya kan? Buketnya terlihat cocok dengan gaunmu. Terlihat cantik.” Puji Sehun kemudian dengan tulus hingga Wendy pun mau tak mau menerima sodoran bunga itu sambil tersenyum tulus.

“Terima kasih.” ucap Wendy kemudian sambil mencium buket di tangannya, bunga yang benar-benar cantik dan wangi.

“E—ehh…Sehun, apa yang kau lakukan?” tanya Wendy kemudian dengan panik saat Sehun tiba-tiba saja memegang kedua bahunya dan mendorong Wendy hingga akhirnya gadis itu berakhir dengan posisi duduk di atas kursi.

Jantung Wendy berdegup kencang ketika dengan santai dan telaten Sehun meraih kaki telanjangnya dan memakaikan satu per satu sepatu high heels berwarna putih yang memang belum Wendy pasang sejak tadi dengan alasan takut kakinya kesakitan.

“Kita hampir terlambat Wen, kenapa kau belum memasang sepatumu, huh?” cerewet Sehun yang hanya dibalas diam oleh Wendy. Tak menunggu lama, kini sepasang sepatu itu sudah terpasang sempurna di kedua kaki si gadis. Satu uluran tangan Sehun julurkan ke arah Wendy, lalu dengan senyum mengukir lelaki bermarga Oh itu menggenggam tangan Wendy erat ketika si gadis akhirnya menerima uluran tangannya.

Kajja, mereka sudah menunggu kita, Wendy.”

 

Suara derit pintu yang terbuka segera mengalihkan atensi seluruh undangan yang hadir di acara berbahagia itu. Nampak di sana Sehun yang berpenampilan sangat tampan dengan tuxedonya menggandeng Wendy yang elegan dengan buket bunga cantik di tangan. Semuanya bertepuk tangan meriah ketika kedua orang yang akan segera bertukar cincin itu memasuki gereja secara perlahan.

Ya, acara pertunangan Sehun maupun Wendy dilaksanakan di sebuah gereja megah di pusat kota Seoul. Awalnya Wendy tentu saja menolak, aku hanya bertunangan, bukannya menikah, jadi kenapa harus dilaksanakan di rumah Tuhan? Begitu tolaknya waktu itu, namun sang ayah yang sangat realistis itu hanya menjelaskan agar pertunangan putrinya di berkati dan supaya pertunangan itu berjalan sakral. Itu juga menunjukkan bagaimana seriusnya keluarga Wendy dan Sehun menjodohkan putra dan putri mereka.

Jangan tanya bagaiman bersikerasnya Wendy agar gereja itu hanya dihias sederhana dan tidak berlebihan karena ia tidak mau dianggap menikah muda dengan Sehun. Sekali lagi dia menekankan, dia hanya bertunangan, bukannya menikah. Bahkan teman-teman sekelasnya dibuat gempar ketika Sehun dan Wendy membagikan undangan pertunangan mereka kepada hampir seluruh siswa SMA Star Culture.

Siapa yang menduga bahwa teman semeja itu akan bertunangan hari ini? Jangan lupakan pula ucapan nyir-nyir para fans Chanyeol saat tau Wendy akan bertunangan dengan Sehun yang masuk golongan chaebol setelah putus dengan Chanyeol. Namun setelah terungkap sudah identitas Wendy sebagai putri Son Michael sekaligus calon pewaris tunggal perusahan multinasional milik ayahnya itu —yang dengan kata lain Wendy bisa disebut chaebol dari para chaebol— siapa lagi yang berani mengatai Wendy di belakang?

“Kau siap?” bisik Sehun sambil mempererat gandengan tangan Wendy di lengannya. Gadis bermarga Son itu hanya mengangguk perlahan. “Ya, aku siap.” akuinya dengan mantap.

Akhirnya secara perlahan keduanya mulai berjalan beriringan. Wendy menyapu pandang ke seluruh tamu yang hadir hari itu. Kebanyakan adalah para rekan bisnis ayahnya dan ayah Sehun, keluarga, dan juga teman-teman Sehun maupun Wendy.

Manik Wendy segera menangkap sosok tegap Taeil dengan setelan serba hitam dan ear phone yang tersambung dengan telinga nampak berdiri di sudut gereja. Taeil sedang bekerja seperti biasanya, menjadi bodyguard keluarga Son meski Wendy sendiri yakin tidak akan ada hal berbahaya yang mungkin bisa terjadi di acara pertunangannya ini.

Mengalihkan atensinya dari Taeil, mata si gadis pun langsung menangkap sosok teman-teman sekelasnya yang melambai ke arahnya dengan semangat, membuat Wendy mau tak mau senyum lebar sebagai balasan. Ketika melihat Taeyong berada di antara teman sekelasnya dan tidak berada di sebelah kedua orangtuanya yang turut hadir di acara pertunangan itu, Wendy tiba-tiba merasa jahat. Dia masih ingat bagaimana marahnya Taeyong ketika ia memberikan undangan padanya beberapa hari lalu, dan bahkan lelaki itu mengancam akan memberontak dan menghancurkan acara pertunangan Wendy. Untunglah Wendy bisa menenangkan Taeyong dengan baik.

Wendy menatap langsung ke mata Taeyong yang tak berkedip memandangnya, lalu seakan bertelepati Wendy berkata kepada Taeyong, “terima kasih karena sudah melepasku, chingu, terima kasih sudah menepati janjimu sebagai teman masa kecilku.” Ya, dia dan Taeyong berpisah dengan sangat baik-baik, sebagai teman masa kecil, sebagai sahabat yang saling melindungi.

Mata Wendy kembali menyusuri para tamu undangan. Nampak di sana guru-gurunya di sekolah, keluarganya di Korea juga sanak keluarga lain yang datang jauh-jauh dari Kanada, juga Jinwoo yang melambai heboh ke arahnya yang segera dibalas kekehan ringan karena kakaknya itu terlihat hampir menangis haru. Sungguh, Jinwoo nampak seperti benar-benar kakak kandung di mata Wendy.

Namun kekehan Wendy terhenti ketika matanya menyusuri bangku selanjutnya dimana ada Baekhyun yang tersenyum tipis kepadanya dengan posisi Sae Ron di sebelah lelaki bermarga Byun itu. Tuan dan Nyonya Park ada di sana, tentunya juga dengan kehadiran Chanyeol yang sudah berjanji akan hadir di acara berbahagia ini.

Wendy merasa hatinya remuk ketika Chanyeol benar-benar datang. Rasanya ia ingin berontak sekarang juga dan mengusir Chanyeol keluar jika saja ia tidak mengingat ada keluarganya dan keluarga Sehun yang mengawasi gerak-geriknya dan Sehun sedari tadi.

Chanyeol tersenyum, nampak tidak punya penyesalan sama sekali ketika melihat Wendy berjalan menuju altar pertunangan itu dengan menggandeng tangan Sehun. Rasanya detik perlahan melambat, seperti slow motion waktu terasa sangat menyesakkan ketika Wendy perlahan melewati raga Chanyeol yang duduk di bangku undangan. Setetes air mata tanpa aba-aba jatuh di pelupuk mata Wendy, namun dengan cepat gadis itu segera menyekanya dan mengalihkan pandang dari Chanyeol yang masih menatapnya yang kian menjauh, menyisakan punggung Wendy yang dibalut gaun putih yang memenuhi tiap sudut manik sang mantan kekasih pura-pura.

Jika Wendy membuang muka karena takut bersitatap dengan Chanyeol dan menghancurkan tembok pertahanan dirinya, maka Sehun hanya menatap kepada satu sosok yang paling ia tunggu kehadirannya saat ini, sosok yang selalu mencuri atensinya diantara ratusan manusia. Irene ada di sana, duduk menggunakan dress selutut berwarna merah muda dan rambut yang digerai cantik. Sehun tersenyum ke arah Irene yang masih saja sempurna di matanya, senyum yang segera di balas Irene dengan senyum nanar miliknya.

Apa akan berakhir seperti ini?

Sehun mau pun Wendy yang tiba di depan altar segera di sambut oleh seorang pendeta yang sudah memegang buku janji di tangannya. Kedua insan itu pun segera berhadapan atas perintah pendeta, lalu mulai saling mengulangi janji pertunangan dengan bimbingan sang pendeta sebelum nantinya mereka akan saling bertukar cincin.

“Saya Oh Sehun akan—“

“BERHENTI!”

 

 

Irene tidak pernah berpikir bagaimana bisa ia uring-uringan seperti ini. Gadis itu mengacak surainya dengan kasar sambil berguling di atas tempat tidurnya. Awalnya ia pikir dirinya uring-uringan seperti ini karena menunggu hasil pengumuman universitas, namun nyatanya tidak. Meski sudah dinyatakan lulus jurusan arsitektur di Univeristas Seoul seperti cita-citanya, Irene nyatanya masih saja uring-uringan.

“Sehun brengsek!” gumam Irene akhirnya sambil mencampakkan ponselnya asal, tidak peduli meski benda elektronik itu kini membentur lantai kamarnya cukup keras. Ia baru saja mengecek pesan yang ia kirim kemarin kepada Sehun, dan kalian tau apa yang ia dapati? Sehun hanya membaca pesan itu tanpa membalasnya yang tiba-tiba saja membuat urat emosi Irene naik ke permukaan. Biasanya tidak butuh waktu lama bagi Sehun untuk membalas pesan gadis itu, namun seperti janjinya, Sehun sekarang benar-benar menghidar dari seorang Bae Irene.

Merasakan akal sehatnya kembali, Irene pun mulai berdiri dari posisi tidurnya dan mulai memungut ponselnya yang untungnya tidak rusak —hanya beberapa lecet kecil di bagian permukaan ponselnya saja. Dengan kecepatan kilat Irene kembali mengetikkan pesan kepada Sehun.

 

To Sehun : Aku sudah mengingatnya. Ya, aku pernah menolong seseorang saat SMP. Aku baru ingat kalau itu adalah kau karena orang yang ku tolong itu tidak menyebutkan namanya sama sekali.

(Dibaca)

 

Irene bahagia bukan main saat pesannya ditandai ‘dibaca’ oleh Oh Sehun. Gadis itu pun menunggu dengan harap, namun sudah setengah jam berlalu belum ada juga balasan dari Sehun.

“Dia mengabaikanku lagi, aish!” marah Irene lalu kembali mencampakkan ponselnya asal ke atas tempat tidur. Gadis itu mendengus untuk kesekian kalinya.

“Sebenarnya kau ini kenapa sih Bae Irene?” tanyanya kepada diri sendiri sambil mengacak rambutnya lagi.

Ya, dua hari ini Irene bertingkah aneh. Dia akan selalu mengingat Sehun dalam tiap kesempatan, pun kalimat-kalimat Sehun terputar otomatis di otak gadis itu setiap saat. Bahkan Irene lupa kapan ia berhenti menangis karena memikirkan Chanyeol karena terlalu sibuk membayangkan seorang hoobae bernama Oh Sehun.

Karena itu pula kemarin Irene mengingat apa maksud Sehun. Ya, akhirnya gadis itu ingat kalau dulu ia pernah menolong seorang anak SMP yang dihajar oleh teman-teman sekelas anak SMP itu. Irene sendiri bingung bagaimana bisa dia begitu berani, namun melihat bagaimana anak SMP itu butuh bantuannya, Irene pun dengan segera maju untuk menghentikan perkelahian dan membela si anak SMP.

Lantas Irene baru sadar kalau anak SMP itu adalah Sehun. Ternyata Oh Sehun yang selalu mengikutinya kemana pun itu adalah anak SMP lemah yang di-bully teman sekelasnya sendiri dan berakhir selalu memikirkan Irene yang menolongnya saat itu.

“Karena aku selalu memperhatikanmu dan memikirkanmu, tanpa sadar perasaan kagum itu berubah menjadi cinta. Aku tidak tau sejak kapan, tapi aku sungguh-sungguh menyukakimu noona. Saranghae.”

AISHHHH!” pekik Irene lagi frustasi karena lagi-lagi kalimat pengakuan Sehun saat lelaki itu mengantarnya pulang dengan mobil Audi-nya kembali terngiang di pikiran Irene.

“Aku mencintaimu noona.”

“Sialan! Kenapa aku terus memikirkanmu Oh Sehun? Aish!” lagi, Irene mulai mengacak-acak rambutnya.

 

Irene menatap pantulan dirinya di cermin. Ia menyentuh sudut matanya yang sedikit bengkak, efek menangis semalaman sambil menatapi surat undangan pertunangan Sehun dan Wendy yang sudah habis ia remuk dan sekarang berakhir terongok di tong sampah rumahnya. Ya, Irene sendiri bingung bagaimana bisa ia berakhir menangis tanpa sebab? Gadis itu benar-benar bingung, “Sebenarnya apa yang terjadi padamu Bae Irene?” tanyanya berulang-ulang pada diri sendiri, namun Irene masih belum menemukan jawabannya.

Akhirnya Irene bergerak mengambil peralatan make up-nya, lalu mulai memoles bedak tipis di permukaan wajahnya yang sebenarnya tanpa dipoles pun sudah cantik alami. Namun Irene segera mendesah panjang ketika mendapati mata bengkaknya masih terlihat begitu kentara. Akhirnya dengan segala keahlian make up-nya, Irene berusaha keras menutupi mata bengkak itu. Ya, tidak mungkin dia datang ke pertunangan Sehun dengan keadaan seperti itu.

Selesai dengan make up-nya, Irene pun berangkat ke gereja tempat acara pertunangan itu dilaksanakan. Dengan cepat Irene mengambil posisi duduk di antara teman-teman sekelasnya ketika sampai di sana, sedikit mengambil jarak dengan Chanyeol yang sudah tiba lebih dulu bersama Baekhyun dan keluarganya yang lain. Anehnya, saat Irene menatap Chanyeol yang asyik melamun itu, Irene tidak merasakan jantungnya berdegup kencang, padahal biasanya Irene akan merasa sesak karena detak jantungnya berlomba-lomba saat melihat cinta pertamanya itu. Tapi hari ini? Entahlah, Irene bingung dengan perasaannya sendiri.

Suara derit pintu yang terbuka segera mengalihkan atensi Irene. Acara akan segera di mulai. Mengikuti arah pandangan tamu yang lainnya, Irene pun segera menolehkan kepalanya guna menatap dua orang yang sudah berdiri di pintu masuk. Di sana, Irene menemukan kenyataan pahit. Jantung Irene berdegup sangat kencang hingga membuatnya sesak. Pun Wendy yang menggandeng Sehun rasanya membuat hati Irene mencelos dan bagai tercabik-cabik.

Irene berusaha mengambil nafas, menetralkan dirinya sendiri agar tidak berbuat gila karena detak sialan itu. Namun naas, saat Sehun memandangnya begitu intens dengan tatapan begitu teduh, nyawa Irene bagai melayang. Ia menginginkan Sehun, hanya Sehun. Tanpa sadar, hatinya ternyata sudah memilih lelaki selain Chanyeol. Irene jatuh cinta kepada Sehun dan Irene sangat terlambat menyadari perasaan sialan itu.

Mata Irene seketika memanas saat Sehun mengalihkan pandang darinya, lalu tersenyum sambil menggandeng Wendy yang terlihat sangat cantik nan elegan dengan gaun putih itu. Irene menangis dalam diam. Menyadari matanya sudah berkhianat, Irene segera menyeka air matanya dengan cepat.

Tanpa diduga, Irene beradu pandang dengan Chanyeol yang hanya diam di tempat tanpa ekspresi. Diam-diam Irene menaruh harap Chanyeol akan berlaku gila dengan menghentikan pertunangan ini dan menarik Wendy kabur, tapi melihat Chanyeol yang hanya diam seperti mayat hidup sedang mata lelaki itu nampak memerah menahan tangis, Irene kian meringis. Ia tidak bisa mengharapkan Chanyeol melakukan hal gila itu. Dia harus melakukannya sendiri, ya, meski ia tidak tau bagaimana perasaan Sehun kepadanya sekarang, setidaknya Irene masih ingin berharap.

 

 

“BERHENTI!”

Suara pekik nyaring milik gadis yang menggunakan dress merah muda itu segera membuyarkan atensi tamu undangan yang ada di dalam gereja. Irene berdiri, lalu segera merengsek masuk menuju jalan celah diantara kedua banjar bangku yang padat tamu undangan itu. Sehun maupun Wendy turut menyaksikan aksi nekat Irene yang berdiri di tengah sana, menatap langsung ke arah Sehun dengan pandangan memburam karena air mata.

“Sehun, aku….aku….menyesal, hiks.”

Satu kalimat yang keluar dari bibir Irene seketika membuat tungkai Sehun lemas. Irene baru saja membalas cintanya!

Dengan segera pemuda Oh itu menatap Wendy yang berdiri kaku di sebelahnya. Rasanya ia brengsek jika meninggalkan Wendy sendirian di sini dan menghadapi malu, namun mengingat Irene ada di sana menunggunya dengan rasa malu juga, Sehun tidak bisa tinggal diam.

“Maafkan aku, Wen.”

Wendy hanya tersenyum kaku ketika Sehun berangsur meninggalkannya sendirian di altar. Lelaki bermarga Oh itu berlari menuju Irene yang kini ditarik paksa oleh para bodyguard karena sudah mengganggu tertib acara pertunangan itu. Secara dramatis Sehun menghajar para bodyguard itu dan menarik Irene ke dalam pelukannya.

“Maafkan aku.” bisikan Irene seketika menenangkan hati Sehun. Akhirnya perasaannya selama sekian tahun itu terbalas meski bukan di saat yang tepat. Sehun mengelus surai Irene dengan sayang, lalu mengecup pucuk kepala Irene menahan tangis harunya.

Saranghae Bae Irene.”

Nado saranghae, Oh Sehun.”

Pekikan riuh para tamu undangan segera terdengar ketika Sehun berangsur menarik Irene untuk kabur dari dalam gedung gereja. CEO Kim, ayah Sehun hanya bisa mengelus dada ketika putra kesayangannya kabur dari acara pertunangan itu. Di sana ada terlalu banyak rekan bisnisnya, dan tentunya itu berdampak buruk bagi relasi perusahaan. Pun raut geram Son Michael yang sudah mengepalkan tangan karena merasa dipermalukan segera membuat CEO Kim tau ada hal buruk yang sudah menunggunya.

Chanyeol hanya bisa diam di tempat menatap Wendy yang tersenyum kaku di depan altar. Dalam bayangan Wendy, Chanyeol akan datang ke padanya dan menariknya pergi juga agar tidak terlalu malu di depan hadapan para relasi bisnis, keluarga juga teman-temannya. Tapi gadis itu sadar, Chanyeol tidak akan pernah melakukan itu.

Perlahan buket bunga yang dipegang Wendy jatuh tanpa diduga, membuat Chanyeol seketika tidak bisa menahan diri. Mata mereka beradu dengan Wendy yang masih tersenyum kaku. Satu kesimpulan yang baru saja ditarik oleh Chanyeol, Sehun baru saja mempermalukan Wendy di depan banyak orang dan dia tidak menyukai itu.

“Chanyeol, kau mau kemana?!” teriakan Baekhyun yang menggema saat menahan adiknya yang mulai berjalan menuju pintu keluar itu segera mengalihkan atensi Wendy.

“Chanyeol!” teriak Wendy, namun lelaki itu nampak tidak terlampau peduli. Chanyeol masih saja berjalan menuju pintu keluar, bahkan sekarang terkesan berlari.

Wendy pun dengan langkah seadanya mulai berlari mengejar Chanyeol. Rasanya Wendy ingin merobek gaun itu saja agar dia bisa berlari lebih cepat lagi.

Grep!

“Lepaskan aku.” ronta Wendy ketika beberapa bodyguard yang tersisa —sebagian besar tengah berlari mengejar Sehun dan Irene— menjegalnya di pintu keluar. Mereka tidak membiarkan Wendy keluar barang selangkah pun. Keadaan di dalam gereja pun kian ricuh hingga pendeta harus menenangkan masa yang mulai berdebat.

“Lepaskan aku!”

Chanyeol yang mendengar rontaan Wendy pun segera menghentikan langkahnya. Ia menatap Wendy yang sudah hampir menangis karena bodyguard itu terus menahannya. Perlahan Chanyeol kembali bergerak mendekat ke arah Wendy, lalu dengan gerak cepat menghajar bodyguard- bodyguard itu.

“Chanyeol!” Wendy berteriak histeris memanggil Chanyeol yang kembali pergi setelah menghajar para bodyguard suruhan ayahnya, hingga membuat gadis itu harus berlari demi menahan pergelangan tangan sunbae-nya itu. Dia harus berbicara dengan Chanyeol bagaimana pun caranya itu.

“Kita harus bicara!”

Chanyeol masih menutup mulut, masih berusaha melepaskan diri dari Wendy.

“Mau kemana kau? Menghajar Sehun, huh?”

“Dia mempermalukanmu!” teriak Chanyeol akhirnya tersulut emosi.

Wendy merasa hatinya menghangat ketika tahu secara tidak langsung Chanyeol baru saja peduli padanya, tapi bukan ini yang Wendy mau. Sehun berhak bahagia, itu yang ada di pikiran Wendy. Dan mengekang Sehun dan Irene hanya demi nama baik keluarganya tidak ada di dalam kamus seorang Wendy yang juga seorang pendamba cinta itu. Wendy tau bagaimana rasanya menjadi Sehun yang mengharapkan cintanya berbalas, dan gadis itu tidak mungkin sanggup menahan Sehun tetap berada di sebelahnya padahal gadis itu juga tidak menaruh rasa pada Sehun.

“Chanyeol!” ronta Wendy lagi ketika Chanyeol dengan paksa melepaskan lengannya dari cekalan si gadis. Bagaimana pun kuatnya Wendy menahan, tetap saja tenaga Chanyeol jauh lebih kuat.

“Chanyeol! Chanyeol! Chanyeol!”

Masalahnya telinga Chanyeol sudah terlalu tuli untuk mendengar. Chanyeol sudah kepalang gelap mata. Ia tau, ia menyakiti Wendy selama ini, dan mendapati ada lelaki lain yang sudah berjanji akan membahagiakan Wendy pun kini mengkhianati gadis itu membuatnya makin merasa bersalah dan tidak bisa tinggal diam. Tidak seharusnya ia maupun Sehun menyakiti Wendy.

“Chanyeol awas!”

BRUGHHH!

Dan mungkin sekarang Tuhan memberikan karma kepada Chanyeol; lelaki yang merasa dirinya benar dan berniat menghajar lelaki lain yang sudah membuat gadisnya terluka. Ah, gadisnya? Maksudnya seorang yang ingin ia jadikan gadisnya namun tidak akan pernah bisa.

Wendy meraung ketika menemukan sebuah mobil menabrak Chanyeol begitu keras hingga lelaki itu terpelanting beberapa meter. Tangis gadis itu pecah seperti orang gila, pun kini ia berusaha berlari menghampiri Chanyeol yang sudah bersimbah darah di atas jalanan beraspal.

Cekalan tangan kembali menahan pergerakan Wendy yang ingin menghampiri Chanyeol yang teronggok tidak berdaya itu. Bodyguard-bodyguard tadi rupanya sudah kembali memenjarakan Wendy dalam kukungan badan kekar mereka, tidak peduli meski sekarang Wendy berteriak minta di lepas agar bisa mendekap Chanyeol yang entah masih bernafas atau tidak.

Chanyeol tersenyum semampunya menatap Wendy yang berontak agar bisa berlari ke arahnya. Ingin rasanya lelaki itu bangkit dan berteriak, lalu kembali menghajar bodyguard-bodyguard sialan itu. Namun ia tidak bisa. Rasanya badannya remuk dan ia tidak bisa menggerakkan tangannya barang satu senti pun. Perlahan air mata Chanyeol menetes seiring dengan pandangannya yang memburam.

Yang Chanyeol ingat hanya Wendy yang masih meraung minta di lepas, menatapnya dengan khawatir lengkap dengan tangis yang membanjiri pipi. Chanyeol tersenyum samar, untuk terakhir kalinya ia hanya ingin mendekap Wendy saat ini meski itu tidak mungkin. Makin lama pandangan Chanyeol kian memburam, lelaki itu tersenyum hingga akhirnya perlahan semuanya berubah menjadi hitam

 

“I ‘d like to be yours, but I can’t. I’m not yours.”

 

To Be Continued


 

Note: pas awal buat cerita ini pernah punya pikiran untuk nulis kata ‘FIN’ di chapter ini, tapi gajadi, wkwkw XD. dan fyi egen, eki awalnya pen nyimpen chapter ini buat minggu depan setelah eki selesai ujian, tapi tangan eki gatel pen update, gimana dong? sayang file-nya udah selesai tapi gak di post kan? /Plakkkk/

anggap saja ini sogokan biar para readers yang baik hati mendoakan ujian kenaikan kelas eki berjalan dengan lancar.amin. doain yaw, ku cinta kalian ❤

Iklan

33 pemikiran pada “Rooftop Romance (Chapter 27) – Shaekiran

  1. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 33) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 32) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 31) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  4. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 30) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  5. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 29) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  6. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 28) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  7. Good job irene👍
    Ya ampun tragis banget ya kisah mereka,walaupun kisahnya tragis jangan sampe endingnya tragis juga ya.
    Please buat happy ending ya eki..
    Semoga ujian nya lancar ya

  8. Ya allah semoga ujiannya lancar
    Amiin

    Jangan lupa lanjut ya ???!;
    Duchh kasian chanyeol, gk bisa bersatu kah mereka ??!;

  9. nyesek banget pas sehun mutusin buat ngelupain irene, tapi akhirnyaaaaa……
    seneng banget pas irene ngehentiin acara tunangannya sehun, terus adegan dramatisnya sehun, manis bangetttt….
    hunrene sekarang masalahnya cuma di keluarganya sehun kali ya

    fighting ujiannya!!!! cepet2 lanjutin ff nya!!! yang banyak moment hunrene nya!!! gue sangat menunggu :v

  10. Gila,Ega nangis,padahal lagi puasa ki,kamu bikin saya bper…
    sakit hati ki,kenapa cuman irene sama sehun doang,tolong jangan bikin sad ending buat cintanya chanwen,aku udah terlalu berhrap dari chapter awal,jadi please banget.
    And buat para tetua itu,please lah buat mereka nyadar,kayak gak pernah muda aja dan gak ngerasain cinta aja,,,,
    Biarpun final,please ada sequelnya,aku udah bener2 jadi fansnya fanfic ini,please ki…
    aku udah gak tahu mau coment kayak gimana lagi….
    ChanWen love you,kamu juga ki,thanks buat ceritanya yang slalu bikin baper dari awal,kutunggu next chapternya,moga dipercepat supaya lebih tambah nangis lagi….

  11. astaga baper akut saya thor. btw plis buat nih ff happy ending wkwkwkwk karena aku terlanjur baper ama nih ff bahkan klo bsa bikin nc ver. nya thor (?) hahahahahahah, keep writing thor~

    • thornim jangan sad ending yaa awalnya uda semangat baca sehun sama wendy walaupun wendy dipermalukan entah kenapa aku senang wkwkwk soalnya kan sehun jadinya ama irene terus aku udah bayangin chanyeol kek gitu juga ama wendy eh malah kenak tabrak.

      masak kenak musibah terus jadi gregetkan dan juga thor tolong cepat-cepat yaa postnya soalnya gk sabaran terus nunggu ni ff

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s