[EXOFFI FREELANCE] My Healer – (Oneshot)

My Healer.jpg

My Healer – FireWind924

Oneshot || Cast : Kim Min-seok (Xiumin), Lee Ah-young (OC) || Romance || PG-15 || Other Cast : Shin Ye-jin (OC), In Ah-rin (OC)

 

 

 

Summary:

Aku menemukan cinta pertamaku di antara rak-rak buku yang menjulang. Creamy latte pemberiannya ketika hujan waktu itu membuatku meleleh. Meski bukan di tempat yang romantis, dia bisa membuatku terpesona dengan caranya. Dan pelukannya adalah obat paling ampuh untuk tangis dan lelahku.

 

 

 

Disclaimer:

Aku sangat menyukai Oh Se-hun dan Park Chan-yeol, tapi EXO adalah inspirasi terbesarku. Aku hanya ingin berbagi imajinasi. Silakan diapresiasi dengan bijak ….

 

***

Aku tidak tahu bagaimana cara mendeskripsikan diriku. Tapi yang kutahu, aku selalu sendiri, lebih suka di rumah dan tidak pernah memulai obrolan dengan teman. Tentu saja bukan berarti aku adalah seorang penderita socialphobia atau semacamnya. Aku suka bergaul, aku juga memiliki banyak teman. Terkadang aku pergi bersama teman-temanku. Hanya saja, ada waktu dimana sendirian itu menyenangkan. Ya, itulah aku, Lee Ah-young.

 

 

 

Meski memiliki dua teman dekat, aku masih merasa hampa. Mereka semua memiliki kekasih. Dan aku, masih sendiri. Terkadang sebagai wanita aku juga membutuhkan sandaran. Aku membutuhkan bahu untuk menangis, membutuhkan dada untuk membenamkan kepala. Aku membutuhkan kekasih yang akan berkata padaku, “Tidak apa-apa, semuanya akan baik-baik saja. Kau pasti bisa” atau “Tidak apa-apa, kau sudah melakukan yang terbaik” dan kata-kata lain yang memberikanku semangat untuk hidup. Aku membutuhkan pria yang kusuka dan juga menyukaiku. Aku membutuhkannya.

 

 

 

Dan Tuhan mendengarkan harapanku. Aku sudah menemukannya. Dan inilah ceritaku tentang bagaimana aku bertemu dengannya,… My Healer.

***

Di sinilah aku, berdiri di antara rak-rak menjulang yang dipenuhi buku. Aku sedang mencari referensi untuk tugas yang harus dikumpulkan lusa. Jemariku memindai setiap judul buku yang berderet di rak itu, tetapi mata ini belum juga menemukan judul yang tepat. Aku mulai pusing. Aku berhenti sejenak untuk berpikir, menimbang apakah ada buku yang bisa kujadikan sebagai referensi atau tidak. Ah, kurasa tidak. Aku berjongkok. Barangkali ada buku yang kumaksud di barisan bagian bawah.

 

 

 

Ada seseorang melangkah di belakangku. Aku bersikap tak acuh dan tetap fokus pada tujuanku. Aku terus mencari buku yang kuinginkan. Aku sedikit melirik sepasang kaki yang berdiri di sampingku. Aku tidak tahu apakah orang itu lelaki atau perempuan. Kakinya kecil dan sangat putih dan terbalut celana jeans sebatas lutut. Tapi dilihat dari otot betisnya, aku bisa menebak bahwa orang itu berjenis kelamin laki-laki. Aku kembali mencari buku sialan itu. Ah, ketemu!

 

 

 

Aku mengambil buku itu, membuka halaman secara asal. Ya, memang buku ini yang kucari. Aku berdiri. Lelaki itu menatapku dengan ekspresi datar. Aku tidak mengenalnya tapi aku pernah melihatnya beberapa kali. Tentu saja karena berada di fakultas yang sama. Aku membalas tatapannya selama beberapa detik. Orang itu memiliki mata yang besar. Dagunya tidak terlalu lancip. Wajahnya bulat. Penampilannya lumayan tampan, meski terkesan imut, menurutku. Ia kembali fokus pada deretan buku di rak. Aku juga mengalihkan perhatianku pada buku yang kupegang.

 

 

 

 

“Min-seok!” Seorang pria menghampirinya. Mereka memiliki tinggi yang sejajar.

 

 

 

Ah, jadi namanya Min-seok. Kedua orang itu membicarakan sesuatu, tetapi aku tidak terlalu mendengarkan karena fokus pada huruf-huruf dalam buku. Lagipula, mendengarkan pembicaraan orang secara diam-diam bukanlah tujuanku sekarang. Kedua pria itu pergi. Aku masih di sini. Mungkin satu buku lagi bisa sedikit membantuku dalam mengerjakan tugas. Dan perpustakaan masih dipenuhi mahasiswa meski waktu sudah memasuki jam makan siang. Aku mulai merasa lapar. Sepertinya makan bisa membuatku berpikir lebih jernih.

 

 

 

Aku berjalan menuju kursi tempatku menaruh tas. Aku sudah mendapatkan buku yang akan dipinjam. Pandanganku tertarik pada buku catatan bersampul cokelat tua. Kupikir ada orang yang duduk di kursi sebelahku. Tapi tidak ada tas di kursi ataupun di dekat buku itu. Aku membuka halaman pertama buku itu. Hanya ada sebuah nama yang tertulis di lembar putih itu. Kim Min-seok. Oh, ada nomor induknya juga. Jika dilihat dari nomor induknya, dia dua tingkat di atasku. Aku tidak begitu mengenal orang dengan nama itu. Dan tanpa sadar ada seseorang berdiri di dekatku.

 

 

 

Aku menutup buku itu lalu menoleh. Dia, pria yang tadi. Diakah Kim Min-seok? Pria itu melihat buku yang masih tergeletak di meja. Lalu dia menatapku. Entahlah, mungkin dia merasa tidak suka karena aku membuka bukunya atau mungkin dia … marah?

 

 

 

“Ah, maafkan aku. Aku hanya ingin melihat siapa pemilik buku ini. Siapa tahu aku mengenalnya, jadi aku bisa mengembalikannya.” Ucapku meminta maaf panjang lebar.

 

 

 

“Ya, ini milikku.” Tangan kekarnya mengambil buku itu. “Terima kasih karena tidak membacanya.” Dia masih menatapku dengan raut wajah yang datar. Dia berbalik pergi. Aku menghela napas dan mengembuskannya perlahan. Jantungku berdetak tak karuan. Rasanya seperti pencuri yang tertangkap tangan.

***

Dan aku terus melihatnya di hari-hari kemudian. Di ruang dosen, di taman, berpapasan ketika berjalan di koridor, dan bahkan aku pernah melihatnya menaiki bus yang sama denganku. Hari ini aku ke perpustakaan untuk mengembalikan buku yang kupinjam. Dan aku juga akan meminjam buku lagi untuk mengerjakan tugas yang baru saja diberikan hari ini. Aku cukup beruntung karena masih mendapat tempat duduk, mengingat perpustakaan ini selalu saja penuh. Dan aku melihatnya lagi hari ini. Dia baru datang dan duduk di hadapanku. Setelah aku mengamatinya beberapa kali, aku menyimpulkan bahwa dia adalah orang yang tidak terlalu banyak bicara.

 

 

 

Aku sedang membaca bagian penting dari buku yang kupegang ketika pria itu mengetuk meja di depanku. Dia mengetuknya beberapa kali dengan ujung telunjuk. Aku mengarahkan pandang kepadanya. Dan dia berkata dengan suara pelan.

 

 

 

“Boleh aku pinjam pulpenmu?”

 

 

 

“Ah, ya.” Aku membuka tempat pensil dan menyerahkan satu pulpenku padanya. Dia tersenyum, dan mulai menggunakannya untuk menulis sesuatu di buku bersampul cokelat yang kulihat beberapa waktu lalu.

 

 

 

Dan tanpa sadar aku terus menatapnya, memperhatikan wajah seriusnya, dan sedikit melihat apa yang ditulis olehnya. Dan entah mengapa aku ingin tersenyum ketika melihatnya seperti itu. Ada apa ini?

 

 

 

Dia menutup buku bacaan dan buku sampul cokelat itu. Aku langsung berpura-pura fokus pada buku yang kupegang. Lagi, aku merasa seperti orang yang ketahuan mencuri sesuatu. Dia memasukkan buku cokelat itu ke dalam tas ranselnya.

 

 

 

“Hei,” Aku merasa terpanggil meski dia tak menyebutkan namaku. Aku tahu dia ingin mengembalikan pulpen. “Ini.” Dia memberikan benda itu padaku. “O, ya, siapa namamu?”

 

 

 

Oh, dia menanyakan namaku. “Ah-young. Lee Ah-young, Sunbaenim.” Aku tahu dia adalah seniorku setelah melihat nomor induknya waktu itu.

 

 

 

Sunbae? Jadi kau adik angkatan ternyata.” Tiba-tiba suaranya terdengar lembut dan menyenangkan di telingaku. “Terima kasih, Ah-young.” Dia tersenyum.

 

 

 

Aku tidak menyangka senyumnya akan semanis itu. Dan aku membalas senyumannya. Dia berdiri, membawa tasnya dan pergi. Tanganku mulai dingin dan jantungku kembali berdetak tak karuan. Kali ini aku tidak merasa seperti pencuri yang tertangkap tapi … entahlah. Mungkinkah aku jatuh cinta?

***

Shin Ye-jin, temanku mengajak minum kopi di sebuah kafe tak jauh dari kampus sore ini. Aku tidak tahu mengapa tiba-tiba dia mengajakku. Tapi aku tahu pasti dia membutuhkan bantuan untuk mengerjakan tugas. Aku tiba lebih dulu daripada Ye-jin. Aku memutuskan untuk minum kopi sambil menunggunya. Tanpa ragu, aku berjalan menuju counter untuk memesan.

 

 

 

“Apa yang ingin Anda pesan?”

 

 

 

Aku baru menyadari kalau orang yang berdiri di depanku adalah Kim Min-seok. Pria itu lebih tampan dengan kemeja putih dan apron cokelat tua yang dikenakan saat ini. Rambut hitamnya tersisir rapi. Dia tersenyum ramah padaku. Tentu saja, karena aku adalah pelanggan. Seketika aku hampir melupakan minuman yang ingin kupesan. Dari gelagatnya, sepertinya dia tidak mengingatku. Dan inilah salah satu hal yang kubenci. Aku selalu mengingat orang lain, tapi orang lain tak pernah mengingatku.

 

 

 

“Aku pesan creamy latte.”

 

 

 

“Ya. Silakan dibayar.”

 

 

 

Aku memberinya uang pas. Dan tanpa menunggu lama dia memberikan minuman pesananku. Aku pergi mencari tempat duduk. Kursi dekat jendela adalah tempat yang kupilih. Aku melihat arlojiku. Seharusnya Ye-jin sudah sampai. Dan lonceng kecil di pintu masuk itu berbunyi. Itu dia Shin Ye-jin. Gadis berambut panjang sepunggung itu berjalan ke arahku. Dia cantik dan juga imut. Dia sangat feminin, berbanding terbalik denganku. Ye-jin suka memakai rok ataupun hot pants, sedangkan aku lebih suka mengenakan kaos yang dirangkap kemeja besar dan celana jeans. Aku tidak suka memakai rok. Dia lebih sering menggerai rambutnya, sedangkan rambutku selalu terikat ke belakang seperti buntut kuda.

 

 

 

“Ah-young, maafkan aku. Kau sudah lama menungguku?”

 

 

 

“Tidak, aku juga baru sampai.”

 

 

 

“Kau sudah memesan minuman? Kalau begitu, aku akan memesan minumanku dulu.” Dia berjalan menuju tempat pemesanan.

 

 

 

Aku menoleh melihat pemandangan melalui jendela besar ini. Langitnya agak mendung. Mungkin akan turun hujan hari ini. Jingganya langit tak terlihat sore ini. Aku meminum minumanku, merasakan lembut dan manisnya. Lalu kembali memandang langit dan memperhatikan beberapa orang berlalu-lalang. Kemudian aku membuka komputer jinjingku. Tepat ketika Ye-jin kembali dengan segelas minuman di tangannya. Dia duduk di hadapanku.

 

 

 

“Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan padamu, Young.”

 

 

 

Aku mengangguk-angguk. Dia mulai mengajukan beberapa pertanyaan. Aku mendengarkannya dengan seksama. Dan aku mencoba menjawab sebisaku. Dan kami mulai berdiskusi. Langit semakin redup. Sore berganti petang.

***

Aku masih betah duduk di sudut ini. Ye-jin telah pergi lebih dulu karena akan berkencan dengan kekasihnya. Langit benar-benar gelap. Satu-satu titik air mulai jatuh. Terlihat jelas di kaca jendela ini. Creamy latte-ku sudah habis tapi aku masih ingin di sini. Iseng, aku melihat Kim Min-seok yang masih berdiri di belakang meja kasir. Sebenarnya, aku selalu memperhatikannya sejak tadi. Setelah melihatnya seperti itu, aku kembali menyimpulkan, bahwa dia adalah orang yang hangat. Mungkin karena dia dituntut untuk ramah pada pelanggan. Entahlah, aku tidak tahu seperti apa dia sebenarnya. Dan mungkin tidak akan tahu.

 

 

 

Kututup laptop-ku pelan lalu memasukkannya ke dalam tas ransel kesayanganku. Hujan tak kunjung reda dan aku sudah lelah. Aku ingin segera pulang, membersihkan diri dan tidur. Tapi kemudian aku sedikit ragu karena ternyata aku lupa membawa payung. Aku kembali melihat ke arah luar jendela. Hujannya memang tidak terlalu deras tapi cukup untuk membuat orang kebasahan. Baiklah, aku akan menerobosnya. Lagipula, halte tidak terlalu jauh dari kafe ini.

 

 

 

Akhirnya aku bangkit dan berjalan keluar. Tapi langkahku berhenti tepat di belakang pintu kaca itu. Hujannya tiba-tiba menjadi lebih deras. Aku kembali menguatkan niatku untuk menerobos hujan. Tapi,… seketika sebuah tangan menepuk pelan bahu kananku membuatku terkejut. Aku berbalik. Kim Min-seok sudah berdiri di dekatku.

 

 

 

“Hujannya masih deras, … lebih baik kau tunggu sebentar lagi.”

 

 

 

“Tapi,…”

 

 

 

“Kau tidak ingin terkena flu `kan? Duduklah kembali.”

 

 

 

Aku menuruti kata-katanya, kembali duduk di tempat tadi. Pria itu menghampiriku dengan secangkir creamy latte lalu meletakkannya di hadapanku. Aku masih bingung dengan sikapnya. Merasa aneh dengan sikap baiknya.

 

 

 

“Ini untukmu, kau tidak perlu membayarnya.”

 

 

 

“Hah? Bagaimana bisa begitu? Aku harus membayarnya.”

 

 

 

“Tidak apa-apa. Segelas creamy latte tidak akan membuat gajiku habis begitu saja.”

 

 

 

“Terima kasih.” Aku membungkuk dengan perasaan sungkan. “Tapi, apa kau mengingatku?” tiba-tiba pertanyaan itu muncul begitu saja.

 

 

 

Tapi dia tertawa, menunjukkan gigi-giginya yang berderet rapi. “Tentu saja aku mengingatmu. Kau ini aneh sekali.”

 

 

 

Dan aku hanya bisa tersenyum seperti orang bodoh.

 

 

 

“Ah, Ah-young, minumlah sambil menunggu hujan reda. Aku harus kembali bekerja.” Dia bahkan mengingat namaku. Aku sedikit merasa bersalah karena menganggapnya tidak ingat padaku.

 

 

 

“Ah, ya, Sunbaenim. Silakan lanjutkan pekerjaanmu, tidak usah mengkhawatirkanku.”

 

 

 

Dia tersenyum lalu berdiri dan berjalan menuju meja kasir. Aku meminum creamy latte yang dia berikan padaku. Hangat, sehangat suara dan senyumnya. Cukup untuk membuatku tersenyum. Tiba-tiba saja aku merasa sangat senang. Sangat senang sampai membuat jantungku menggila. Aku terus mendekapkan telapak tanganku yang dingin pada cangkir hangat ini. Ah, sangat hangat. Dan seketika aku berharap, hujan tidak akan reda malam ini.

 

 

 

Satu jam telah berlalu. Hujan belum juga reda. Creamy latte ini hampir habis. Dan aku hanya sibuk mengutak-atik ponselku. Dia kembali duduk di hadapanku. Aku menatapnya. Wajahnya tidak terlihat lelah sama sekali. Aku kembali menegakkan tubuhku.

 

 

 

“Bagaimana ini, hujannya belum juga reda.” Katanya.

 

 

 

Sepertinya Tuhan mendengar doaku. Aku ingin tersenyum tapi kutahan. “Iya, sepertinya tidak akan berhenti meski harus menunggu sebentar lagi.”

 

 

 

“Aku akan mengantarmu pulang.”

 

 

 

“Apa?” Sungguh tak terduga. Aku bahkan tak berharap.

 

 

 

“Jam kerjaku hampir selesai. Kau tunggulah sebentar lagi dan kita pulang bersama.”

 

 

 

“Tapi,…”

 

 

 

“Tidak apa-apa, lagipula kita searah.”

 

 

 

Aku benar-benar tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Dia pergi sebelum aku berkata lagi. Aku memperhatikannya. Dia berbicara pada seorang lelaki muda tetapi tampak lebih tua darinya. Lelaki itu melihat ke arahku, lalu kembali menatap Min-seok Sunbae. Mungkinkah mereka sedang membicarakanku? Lelaki itu memasukkan satu tangannya ke dalam saku lalu menepuk pelan bahu Kim Min-seok. Seniorku itu masuk ke sebuah ruangan. Beberapa menit kemudian, dia keluar dengan pakaian biasa. Dia menghampiriku. Ada sebuah payung hijau tua di tangannya.

 

 

 

“Aku hanya menemukan satu payung di gudang. Meski begitu, bukankah ini sebuah keberuntungan? Setidaknya kita tidak basah-basahan.” Dia tersenyum lebar. “Ayo pulang.”

 

 

 

“Ya, Sunbaenim.” Aku berjalan di belakangnya. Kami keluar dari kafe itu.

 

Dia yang memegang payung. Payung yang cukup besar untuk melindungi kami dari hujan. Sebenarnya halte bus tidak terlalu jauh dari kafe, tapi juga tidak terlalu dekat. Aku berusaha menjaga jarak tubuh kami. Tapi kemudian tangan pria itu merangkul bahuku, menarikku lebih dekat, bahkan sangat dekat. Dan seketika jantungku tak karuan iramanya hingga telingaku berdenging tak mendengar apapun. Halte tinggal beberapa langkah di depan mata. Satu, dua, tiga, empat, lima, … sampai. Dia menutup payung itu. Tiba-tiba aku merasa canggung di dekatnya. Dia juga tidak berkata apapun hingga bus berhenti di depan kami.

 

 

 

Dia naik lebih dulu, aku mengikuti di belakangnya. Bus cukup longgar, tidak banyak bangku yang terisi. Dia memilih bangku paling belakang. Aku duduk di sampingnya. Masih belum ada pembicaraan di antara kami. Aku juga tidak tahu harus berkata apa. Hingga detik, menit berlalu begitu saja. Aku menoleh ke arahnya. Dia melihat ke luar jendela. Aku baru melihat wajah lelahnya.

 

 

 

Sunbaenim.” Aku memanggilnya. Dia menoleh ke arahku. “Apa kau lelah? Kau bisa tidur sebentar kalau mau. Akan kubangunkan jika sudah sampai.”

 

 

 

“Baiklah, aku akan tidur sebentar, bangunkan jika sudah sampai.” Dia memposisikan duduknya agar lebih nyaman dan memejamkan mata bulatnya.

 

 

 

Aku menyandarkan tubuhku. Sebenarnya aku juga merasa lelah, tapi aku tidak boleh tidur sebelum sampai tujuan. Dan seketika aku merasakan sesuatu yang berat di bahuku. Aku membeku. Suara napasnya terdengar teratur di telingaku, terdengar sangat jelas. Aku takut membuatnya terbangun. Ternyata dia benar-benar kelelahan. Tapi sebentar lagi sampai dan aku mulai bingung bagaimana cara yang tepat untuk membangunkannya. Namun kepala itu kembali tegak sebelum aku mendapatkan caranya.

 

 

 

“Sudah sampai?”

 

 

 

“Sebentar lagi.”

 

 

 

Dia mengantarkanku sampai rumah karena masih gerimis. Aku mengucapkan terima kasih padanya. Dan dia mengucapkan selamat malam padaku. Dia menungguku masuk baru setelah itu pergi. Oh, Tuhan, sepertinya aku memang menyukainya. Dialah kehangatan yang kubutuhkan.

***

Aku melihatnya sedang berbincang dengan seorang gadis di perpustakaan. Mereka duduk berdampingan dan tertawa bersama. Bahkan tanpa ragu gadis itu menyangga dagunya di bahu Kim Min-seok. Mungkinkah itu kekasihnya? Kenapa dada ini terasa sangat sesak. Rasanya sulit untuk bernapas dan ingin menangis. Mungkinkah ini yang dinamakan cemburu? Dia memandang ke arahku. Dia hanya diam dan tersenyum tipis, tapi aku tidak bisa membalas senyumnya. Bibirku terlalu berat untuk membentuk lengkungan yang disebut senyum. Aku keluar dari tempat itu.

 

 

 

Di bawah pohon rindang, di atas bangku panjang yang terbuat dari kayu. Di sinilah aku duduk, menenangkan pikiranku. Membiarkan angin menghantam lembut tubuhku, berharap ia bisa membawa rasa sesakku bersamanya. Aku menghela napas sebanyak-banyaknya, lalu mengembuskannya pelan-pelan. Kuulang tiga kali. Inner peace …. Aku mulai berpikir, untuk apa cemburu? Dia memang orang yang kusukai, tapi aku bukan apa-apa untuknya. Kurasa tamparan angin telah membuatku sadar.

 

 

 

Aku berjalan menuju ruangan tempat kelas mata kuliahku selanjutnya. Aku baru hendak masuk ketika seseorang memanggil namaku. Dia, Kim Min-seok. Dia melangkah lebih dekat menghampiriku. Aku hanya tersenyum tipis. Tiba-tiba aku merasa sesak lagi. Dia belum juga berbicara dan hanya menatapku.

 

 

 

“Ada apa, Sunbaenim?”

 

 

 

“Ah, kau akan ada kelas?”

 

 

 

“Ya.”

 

 

 

“Bisa kita bicara sebentar? Kujamin tidak akan lama.”

 

 

 

“Maafkan aku, aku tidak bisa, Sunbaenim. Kelasnya akan dimulai sebentar lagi.”

 

 

 

Aku tidak peduli dengan tanggapannya. Aku hanya masih merasa kesal padanya. Aku membungkuk padanya sebagai tanda kesopanan lalu meneruskan langkahku memasuki ruang kuliah. Dan benar saja, tak lama sejak aku duduk, dosen datang. Mataku tertuju pada pintu. Entah kenapa, tiba-tiba aku menyesal.

***

Aku berdiri menunggu bus di halte depan kampus. Hari hampir senja. Aku ingin pulang lebih cepat. Membersihkan diri, membuat ramyeon dan menonton film-film kesukaanku di kamar tercinta. Aku akan menontonnya semalam suntuk karena besok adalah hari libur. Begitulah caraku menghabiskan malam sebelum hari libur. Bukan dengan berkencan ataupun menonton di bioskop dengan teman. Aku selalu menghabiskannya sendirian.

 

 

 

“Ah-young.”

 

 

 

Aku mendengar suara itu lagi. Aku menoleh dan dia sudah berdiri di sampingku. Aku membungkuk sopan dan menyapanya seperti biasa.

 

 

 

Sunbaenim, tidak bekerja hari ini?” Aku mencoba basa-basi.

 

 

 

“Tidak, hari ini adalah hari liburku.”

 

 

 

Hening kembali. Aku hanya mendengar suara-suara kebisingan kota yang mulai diterangi lampu-lampu. Aku menatap lurus ke arah depan, memperhatikan mobil-mobil yang lalu-lalang.

 

 

 

“Ah-young, kau …” suaranya kembali membuatku menoleh ke arahnya. “Kau tidak ada rencana untuk pergi ke suatu tempat malam ini?”

 

 

 

“Ya, tidak ada. Aku akan tetap di rumah malam ini.”

 

 

 

“Kalau begitu, apa kau mau ikut denganku?”

 

 

 

“Kemana?”

 

 

 

“Ke tempat, … ya, itu, … tempat yang biasa didatangi orang-orang.” Jawabannya membuat dahiku berkerut. “Ke Hongdae, bagaimana?”

 

 

 

Dan anehnya, aku setuju dengan gagasan itu.

***

Dan inilah jalanan Hongdae. Selalu dipenuhi anak muda, petunjukan musik jalanan, penjaja aksesoris dan makanan di sepanjang jalan. Kami berjalan beriringan. Aku menyibukkan mata dengan melihat-lihat barang-barang yang dijajakan para pedagang.

 

 

 

“Ah-young, apa kau mengenal In Ah-rin?”

 

 

 

Tiba-tiba aku mendengar nama asing dari bibirnya. “In Ah-rin? Tidak, aku tidak mengenalnya. Kenapa?”

 

 

 

“Dia adalah adik tiriku.”

 

 

 

“Oh.” Aku tidak tahu harus bagaimana menjawabnya. Dan sebenarnya aku tidak mengerti arah pembicaraan ini. Aku melihat pedagang yang menjual berbagai macam jepit rambut. Sepertinya cukup bagus untuk mengalihkan topik. Aku mendekati meja dagangannya, mencari jepit rambut yang bagus menurutku.

 

 

 

“Kau ingin membeli jepit rambut?”

 

 

 

“Tidak, aku hanya ingin melihat-lihat. Kurasa benda ini tak cocok untukku.”

 

 

 

Aku melihat tangannya mengambil sebuah jepit rambut berbentuk pita berwarna biru. Aku terdiam ketika dia memasangkannya di rambutku. Aku hanya menatapnya. Aku bisa melihat bibir itu membentuk lengkung senyum.

 

 

 

“Kau cantik. Kau pantas memakai benda-benda yang cantik.” Kata-kata itu membuat jantung ini berulah lagi. “Bibi, aku beli yang ini.” Ia menyerahkan uang pada si penjual.

 

 

 

Sunbae, .

 

 

 

“Karena kau cantik, apa kau mau menjadi milikku? Menjadi kekasihku?”

 

 

 

“Apa?” Baiklah, aku benar-benar terkejut mendengarnya. “Tapi, bukankah Sunbae sudah mempunyai …”

 

 

 

“Dia In Ah-rin. Gadis yang bersamaku waktu itu, In Ah-rin.”

 

 

 

“In Ah-rin? Adik tirimu? Kukira ….”

 

 

 

Dia tersenyum dan sedikit memicingkan matanya menatapku. “Jadi, kau salah paham, rupanya. Makanya tadi kau tidak mau bicara padaku `kan?”

 

 

 

“Tidak, itu memang karena aku harus segera masuk kelas.”

 

 

 

“Ehei~, kau juga menyukaiku `kan?”

 

 

 

“Itu, aku …”

 

 

 

“Tidak usah dijawab. Kau itu sangat mudah dibaca.”

 

 

 

Apa maksudnya? Apakah aku terlihat jelas menyukainya? Benarkah? Ah, memalukan.

 

 

 

“Ah, Sunbae, aku lapar. Aku ingin makan kimbap. Ayo kita ke sana.” Aku berjalan mendahuluinya. Ish, benar-benar malu rasanya, meski sebenarnya aku juga merasa senang. Sangat senang. Aku merasa hari-hari berikutnya bisa kujalani dengan lebih indah.

 

 

 

Dia segera berjalan sejajar denganku. “Baiklah, pacarku.” Dia menggenggam tanganku yang dingin.

 

 

 

Omo~ Sunbae, …” Aku memperhatikan tangan kami yang bertaut. “Apa-apaan ini? Kenapa kau memegang tanganku? Omo, omo~.”

 

 

 

“Kenapa? Aku hanya memegang tangan pacarku.” Dia tersenyum lebar.

 

 

 

Omo~”

 

 

 

Rasanya aneh tapi benar-benar menyenangkan. Tiba-tiba dia mendekatkan mulutnya ke telingaku. “Aku mencintaimu, Lee Ah-young.”

 

 

 

Dan aku tak bisa berhenti tersenyum. Rasanya ingin sekali berteriak di tengah keramaian jalanan Hongdae. Aku juga mencintaimu, Kim Min-seok. Tapi aku senang karena kau tahu tanpa harus mengatakannya ….

 

 

 

“Tapi, sejak kapan Sunbae menyukaiku? Sejak kau meminjam pulpen padaku? Sejak mengantarku pulang waktu itu?”

 

 

 

“Itu? Ra. Ha. Sia. Aku tidak akan mengatakannya padamu.”

 

 

 

“Ish.”

***

Begitulah jalanku bertemu dengannya. Kurasa ini adalah takdir. Tuhan memang sangat baik padaku. Dan saat ini, aku sedang berdiri menunggu bus. Aku benar-benar lelah hari ini. Sebenarnya aku sedang kesal pada Min-seok Oppa – dia menyuruhku memanggilnya begitu – pria itu terlalu sibuk dengan pekerjaannya dan menyuruhku pulang sendiri. Padahal sebentar lagi jam kerjanya selesai. Aku tidak keberatan jika disuruh menunggu, tapi dia terus menyuruhku pulang.

 

 

 

Aku berjalan sendirian menuju rumah. Di jalanan yang hanya disinari lampu temaram dibantu sinar rembulan. Sebenarnya aku tidak takut, hanya saja merasa was-was. Tapi tiba-tiba … jantungku seakan berhenti ketika merasa ada orang yang menepuk bahuku dari belakang. Aku membatu. Seketika aku merasa sangat takut dan ingin menangis. Aku ingin berlari tapi kaki ini terasa berat. Akankah aku mati malam ini? Eomma~

 

 

 

Dug dug dug dug dug dug dug dug dug … jantungku terus berpacu.

 

 

 

“Ah-young.” Suara Min-seok Oppa terdengar samar di telingaku. Dia menghadapkan tubuhku padanya. Dan air mataku jatuh ketika aku melihat wajahnya. Rasa lelah ini berganti menjadi takut dan berubah lagi menjadi lega. “Kau kenapa? Kenapa menangis?”

 

 

 

“Ini gara-gara Oppa. Kenapa kau mengagetkanku seperti itu?” kataku sambil menangis. “Kau membuatku takut, Oppa.”

 

 

 

Tangannya melingkari tubuhku, menarikku ke dalam dada bidangnya, memelukku. “Maafkan aku, maaf karena membuatmu takut. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Maafkan aku.”

 

 

 

Aku merasa lega dalam pelukannya dan membuatku tak ingin melepasnya. Membuatku betah berlama-lama membenamkan kepala di dadanya, menghirup aromanya yang telah menjadi candu bagiku. Aku ingin tetap seperti ini untuk beberapa saat.

 

 

 

“Kau tidak ingin melepasku?” Suaranya menembus telingaku. Sangat lembut, menenangkan. Tidak, aku ingin terus seperti ini. “Wah, bagaimana ini? Kau benar-benar jatuh padaku.” Dia mengelus rambutku, memelukku lebih erat. “Aish, gemasnya … Kau ingin kita seperti ini sepanjang malam?”

 

 

 

Sudah kubilang, pelukannya selalu membuatku nyaman, aman dan menjadi penyembuh lelahku. Aku tidak butuh ciuman di pipi atau di bibir. Yang penting dia mau memelukku seperti ini. Yang penting, dia ada di sampingku. Dia … My Healer.

***

Iklan

3 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] My Healer – (Oneshot)

  1. Suka sama jalan ceritanya ringan dan bagus bahasanya juga mudah dipahami
    Suka banget
    Baca ini sambil senyum senyum sendiri hehehee

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s