[EXOFFI FREELANCE] SECRET WIFE (Chapter 18)

Poster Secret Wife6

 

Tittle : SECRET WIFE

Author : Dwi Lestari

Genre : Romance, Friendship, Marriage Life

Length : Chaptered

Rating : PG 17+

Main Cast :
Park Chan Yeol (Chanyeol), Kim Jung Hae (Junghae)

Support Cast :

Kim Jung Ra (Jungra), Oh Se Hun (Mickle Oh/Sehun), Kim Jong In (Kai), Kim Jong Dae (Chen), Cho Young Rin (Youngrin), and other cast. Cast dapat bertambah atau menghilang seiring berjalannya cerita.

 

Summary:

Junghae adalah putri terakhir dari pemilik Jeguk Group. Karena dijebak oleh seseorang, terpaksa dia harus menikah secara diam-diam dengan sesorang yang baru dikenalnya.

Disclaimer : Cerita ini murni buatan saya, jika ada kesamaan nama, tokoh, dan lainnya itu adalah unsur ketidak sengajaan. Juga saya share di wattpad pribadiku: @dwi_lestari22

Author’s note : Mian jika alurnya gj. No kopas, no plagiat. Jangan lupa komennya. Gomawoyo. Sorry for Typo. Happy Reading.

Chapter 18 (Confession)

“Iya Junghae. Ada apa?”, tanya Jungra yang kini tengah menikmati waktu istirahatnya. Dia yang tiba-tiba mendapat telfon dari adiknya merasa sedikit khawatir. Karena memang ini tak seperti biasanya.

Eonni, bisakah kau membantuku?”, terdengar suara dari adiknya di seberang sana.

“Kau perlu bantuan apa?”, tepat seperti yang ia duga. Adiknya pasti mendapat masalah, itulah mengapa adiknya  menelfonnya.

“Kau tahukan jika Sehun oppa akan kembali ke Amerika. Sebenarnya dia memintaku mengantarnya sampai bandara. Hanya saja tiba-tiba Jongdae oppa memintaku menghandiri meeting penting yang tak bisa ditinggal. Bisakah eonni menggantikanku?”, jelas Junghae dengan nada memohon.

Jungra terlihat berfikir. Hari ini memang Sehun akan kembali ke Amerika. Dia hampir lupa jika adiknya tak meminta bantuannya tadi. Sepertinya dia memang harus menggantikan adiknya. Setidaknya dia punya alasan untuk mengantar pria itu sampai bandara. Jadi dia tak perlu malu jika nanti pria itu mengejeknya.

Sebenarnya dia memang ingin sekali mengantar pria itu. Bahkan jika bisa, dia akan mencegah pria itu kembali ke negri paman Sam tersebut. Hanya saja dia masih meninggikan egonya. Dia masih belum mau mengakui perasaannya yang sebenarnya diam-diam merindukan pria itu jika lama tak melihat.

Jungra mengambil nafas dalam. “Iya, baiklah! Aku akan mengantarnya, kau tak perlu khawatir”, jawabnya akhirnya.

“Terima kasih eonni. Sampai nanti”.

Belum sempat ia berkata ya, Junghae sudah lebih dulu mengakhiri panggilannya. Dia hanya bisa membuang pasrah nafasnya. Adiknya pasti benar-benar sibuk, pikirnya.

Baiklah! Sepertinya dia harus segera berangkat. Setelah mengambil ponsel dan tasnya, Jungra meninggalkan ruang kerjanya. Melajukan mobil menuju kediaman keluarga Park.

Sekitar 20 menit Jungra sampai di rumah tersebut. Dia dapat melihat Sehun menarik kopernya, yang diikuti oleh bibinya keluar dari rumah. Mereka terlihat tengah mendiskusikan sesuatu. Setelah menutup pintu mobilnya, dia berjalan menuju tempat kedua orang tersebut. Dia membungkuk hormat memberi salam.

“Ra-ya. Kau datang! Dimana Junghae?”, tanya Sehun yang melihatnya.

“Dia tak bisa datang. Katanya ada meeting penting yang tak bisa ditinggal. Jadi dia memintaku datang kesini”, jelas Jungra.

“Ah, jadi kau datang karena Junghae. Dan bukan karena keinginanmu sendiri? Ck ck ck”, Sehun berkata sambil menggelengkan kepalanya.

Bagaimana ini! Jungra terlihat seperti teman yang buruk. Dia hanya bisa diam. Ingin sekali dia membantah, tapi pria itu pasti akan mengejeknya nanti.

“Aku hanya bercanda”, lanjut Sehun yang melihat perubahan raut wajah Jungra. “Aku akan terlambat jika tidak segera berangkat”. Sehun beralih menatap bibinya. “Ommonim, aku berangkat dulu. Kau tak perlu mengantarku sampai bandara. Istirahatlah! Kau masih belum pulih benar”, Sehun kini memeluk bibinya.

“Iya”, bibinya mengangguk sambil membalas pelukan itu. “Kau sudah pamit pada Chanyeol”, lanjut bibinya. Mereka juga melepaskan pelukan itu.

“Emh. Aku sudah memberitahu Chanyeol hyung semalam. Katanya dia tak bisa mengantarku”, jawab Sehun.

“Ya sudah. Hati-hati”, ucap bibinya kembali.

“Aku pergi dulu ommonim”.

“Kami pamit dulu ahjumma”, Jungra yang sedari tadi diam melihat mereka, kembali bersuara.

“Iya”. Bibinya melambaikan tangan melihat kepergian mobil Jungra.

Sepanjang perjalanannya, mereka hanya saling diam. Jungra memilih fokus pada mengemudinya, sedang Sehun juga sibuk dengan ponselnya. Dia tengah mengirim pesan protes pada Junghae. Dan gadis itu tak kunjung membalasnya. Mungkin memang seperti yang kakaknya bilang, gadis itu pasti masih meeting. Tapi jika memang demikian, kenapa semalam gadis itu dengan antusias menyanggupi permintaannya?

Dan kini Sehun beralih menatap gadis yang tengan sibuk di kursi kemudi. Dia menatapnya dengan pandangan penuh arti. Jangan-jangan ini hanya alasan yang dibuat Junghae untuk kakaknya? Dia berniat membuat mereka dekat. Junghae memang pernah berjanji padanya untuk membantu hubungan asmaranya. Apa ini salah satu triknya? Sehun hanya bisa bertanya-tanya.

“Kenapa menatapku seperti itu?”, tanya Jungra. Dia merasa sedikit terganggu dengan pandangan Sehun padanya.

“Apa aku tak boleh menatapmu?”, bukannya manjawab, Sehun justru memberinya pertanyaan.

“Terserah padamu lah!”, hanya itu yang bisa Jungra katakan. Dia sedang tak ingin berdebat dengan pria ini. Dia memilih kembali fokus dengan jalan yang ada di depannya.

Suara ponselnya membuat Sehun harus menghentikan tatapannya pada Jungra. Dia kini beralih melihat layar untuk membaca pesan masuknya. Seulas senyum tergambar jelas di wajahnya. Tepat seperti yang diduganya, ini hanya trik Junghae untuk membuat mereka dekat. Dia harus berterima kasih nantinnya. Sehun kembali menyimpan ponselnya.

Mereka telah sampai dengan selamat di bandara. Setelah mesin mobil mati, Sehun turun yang diikuti oleh Jungra. Dia mengambil koper dibagasi mobil tersebut.

“Terima kasih sudah mau repot mengantarku Ra-ya”, kata Sehun.

Jungra mengangguk. “Tak masalah”, jawabnya.

“Aku pergi dulu”. Sehun bermaksud pergi, namun perkataan Jungra menghentikannya.

“Kau benar-benar tak akan kembali?”, ada nada ragu diperkataan Jungra. Itu adalah pertanyaan terbodoh yang pernah dia ucapkan. Kini dia terlihat seperti gadis yang tak rela melepas kepergian kekasihnya. Kekasih, bahkan dia tak pernah memikirkan kata itu ketika bersama pria ini.

Sehun tersenyum. Sepertinya gadis ini mulai menyukainya. Dia kemudian berbalik. Dia dapat melihat raut sedih di wajah Jungra. Meski hanya samar, tapi dia tahu itu. Dia melepas kopernya. Berjalan mendekat ke arah Jungra dan memeluknya. “Aku pasti akan merindukanmu Ra-ya”, sebelum dia mendapat protes dari gadis itu, dia melepaskannya.

Jungra masih terpaku. Dia masih belum bisa memahami situasi yang baru terjadi.

“Aku akan kembali dalam dua minggu. Jaga dirimu baik-baik”, Sehun kini mengacak pelan rambut Jungra. Dia kembali meraih kopernya dan berjalan meninggalkan gadis itu.

Jungra ingin protes, hanya saja pria itu sudah berjalan jauh di depannya. Dia hanya bisa membuang pasrah nafasnya. Ada rasa tak rela melihat punggung pria itu menjauh. Apa mungkin dia mulai menyukai pria itu? Jungra segera menggeleng, menepis semua pemikirannya. Dia harus segera pergi sebelum muncul pemikiran-pemikiran aneh di kepalanya.

***

Junghae terduduk lemas di ranjang kamarnya. Sudah beberapa hari ini dia merasa mual di pagi hari, juga pusing yang kadang datang kadang hilang. Ditambah tubuhnya yang cepat merasa lelah. Dia mengusap pelan wajahnya. Sebenarnya apa yang sedang terjadi padanya? Mungkinkah dia?

Dia segera melihat kalender yang terpajang manis di nakas samping ranjangnya. Ini sudah akhir bulan, tapi belum ada tanda apapun di bulan ini. Satu sudut bibirnya tertarik membentuk senyum. Sepertinya dia harus ke dokter untuk meyakinkan pendapatnya.

Saat dia berusaha berdiri, pusing itu kembali datang. Dia terduduk kembali kala merasa sakitnya semakin menjadi. Wajahnya bertambah pucat dari sebelumnya. Sepertinya dia harus menunda kepergiannya jika tak ingin pingsan di tengah jalan.

Junghae menarik nafas panjang berusaha mengusir rasa pusingnya. Dia mencoba berdiri kembali, dia hampir terjatuh jika kakaknya tak menangkap tubuhnya. Dia bahkan tak sadar sejak kapan kakaknya sudah berada di kamarnya.

“Kau baik-baik saja?”, tanya kakaknya setelah membantunya duduk kembali ke ranjang.

Junghae mengangguk. “Aku baik-baik saja oppa”, jawabnya.

Jongin mengangkat wajah adiknya. Wajah adiknya terlihat begitu pucat. “Bagaimana bisa kau bilang baik-baik saja jika wajahmu sepucat ini?”, bantahnya. Jongin memegang kening adiknya. Panas, itulah yang dirasakannya. Dia tak perlu membandingkannya untuk bisa menyimpulkan. “Kau demam Junghae”, jelasnya kembali. “Istirahatlah! Aku akan memanggil dokter untukmu”. Jongin bermaksud pergi, namun terhalang oleh tangan Junghae yang menarik lengannya.

Junghae menggeleng. “Aku akan istirahat! Kau tak perlu memanggil dokter, oppa”, kata Junghae dengan tatapan memohonnya.

“Kau yakin!”, tanya Jongin kembali. Dia masih belum rela melihat adiknya sakit.

Junghae mengangguk.

Jonging menarik nafasnya sebentar. “Baiklah! Sekarang istirahatlah. Aku akan menghubungi Jongdae hyung untukmu”, jawabnya pasrah. Dia membantu Junghae berbaring, dan menarik selimut untuknya. “Aku akan meminta Song ahjumma membuatkan bubur untukmu”.

Junghae kembali mengangguk.

Jongin bermaksud pergi, namun lagi-lagi langkahnya terhenti. Junghae kembali menarik lengannya. “Ada apa?”, tanya Jongin.

“Bisakah oppa meminta Song ahjumma membuatkanku susu juga?”, pinta Junghae. Suaranya terdengar lirih, namun masih bisa didengar oleh Jongin.

“Iya. Aku akan meminta Song ahjumma membuatkannya”, jawab Jongin disertai anggukan.

“Terima kasih oppa”, kata Junghae yang disertai senyum. Dia kemudian melepas genggamannya, membiarkan kakaknya pergi meninggalkan kamarnya.

Hanya senyuman yang diberikan Jongin sebagai jawaban. Dia segera berlalu meninggalkan kamar adiknya. Setelah menutup pintu, dia merogoh saku celananya. Mengambil ponsel untuk menghubungi kakak tertuanya. “Hyung, ini aku Jongin”, kata Jongin setelah panggilannya dijawab.

“Sepertinya Junghae tak bisa datang. Dia sedang sakit”, katanya kembali. Dia terdiam sebentar, mendengarkan kakaknya berbicara.

“Jangan khawatir, dia hanya deman. Setelah beristirahat dan minum obat, ku rasa dia akan membaik”, Jongin kembali berucap. Dia kini menuruni anak tangga untuk mencari keberadan Song ahjumma.

“Ya, sampai nanti. Salam untuk kakak ipar”, Jongin mengakhiri panggilannya.

Jongin melihat Song ahjumma tengan menata makanan di meja makan. Disana sudah ada ayah dan ibunya. Dia segera menghampirinya.

Ahjumma, tolong buatkan bubur untuk Junghae. Dia juga meminta segelas susu”, jelas Jongin.

“Iya, saya akan membuatkannya tuan muda”, Song ahjumma segera meninggalkan tempat tersebut.

“Kenapa dengannya? Dia tak ikut sarapan bersama?”, tanya ibunya.

Jongin menggeleng. “Wajahnya sangat pucat. Badannya juga panas”, jelas Jongin. Dia menarik salah satu kursi untuk bergabung dengan orang tuanya.

“Dia sakit! Kau sudah memanggil dokter untuknya?”, ayahnya yang sejak tadi sibuk membaca koran ikut bersuara.

“Dia tidak mau appa. Dia bilang dia hanya butuh istirahat”, jawab Jongin kembali.

“Ya, mungkin dia memang kelelahan. Aku lihat beberapa hari ini dia sering pulang larut”, kata ibunya.

“Aku tak pernah menyangka dia akan lebih sibuk dari siapapun”, kata ayahnya kembali.

“Ya sudah. Kia sarapan dulu. Bukankah kau akan berangkat bekerja?”, kata ibunya. Pertanyaan itu ditujukan untuk putranya.

“Kau baik-baik saja sayang?”, tanya nyonya Kim yang membawa nampan berisi semangkuk bubur dan juga segelas susu. Dia dapat melihat wajah pucat putrinya.

Junghae yang tadinya berbaring, kini mencoba duduk. Kepalanya masih terasa berat, karena itu dia memilih bersandar pada pinggiran ranjang. “Iya, aku baik-baik saja eomma. Aku hanya sedikit pusing”, jawabnya yang disertai senyum.

“Makanlah meskipun kau tidak ingin”, ucap ibunya kembali. Dia meletakkan nampan tersebut di atas nakas. Mengambil mangkuk bubur dan menyuapkannya pada putrinya.

Junghae membuka mulutnya, menerima suapan bubur ibunya. Mengunyah sebentar sebelum menelannya. Rasa mual langsung menyelimutinya. Dia mencoba menahannya agar makanan yang dimakannya tadi tak memaksa keluar. Dia juga menutup mulutnya dengan telapak tangannya.

“Kenapa sayang? Apa buburnya tak enak?”, tanya ibunya yang melihatnya.

“Bukan eomma. Aku hanya merasa sedikit mual”, jelas Junghae.

“Kau mengingatkanku pada saat aku mengandung Jongin dan Jungra. Itu adalah masa tersulitku saat hamil. Hampir dua minggu aku terbaring lemas di tempat tidur. Saat mengandung Jongdae aku tak selemas itu, juga saat mengandungmu”, tutur ibunya. Dia juga kembali menyuapkan bubur pada Junghae.

Junghae sempat termangu, dia bahkan tak menelan buburnya. Bagaimana bisa ibunya berceloteh ria tentang masa kehamilannya dulu. “Kenapa eomma jadi membahas itu”, protesnya. Dia baru menelan buburnya kemudian.

“Iya, kenapa aku jadi membahas itu!”, ibunya justru kini memberinya pertanyaan. Dia kembali menyuapkan bubur untuk putrinya.

Junghae hanya tersenyum sambil mengunyah buburnya.

“Itu karena karena kau memang terlihat seperti gadis yang sedang hamil”, ucap ibunya kembali.

Junghae terdiam. Mungkin yang dikatakan ibunya benar. Dia memang sedang mengalami gejala wanita hamil sekarang. Dan lagi, dia belum mendapat datang bulan untuk bulan ini.

“Kau sedang tidak hamilkan?”, ibunya kembali memberinya pertanyaan. Sebenarnya dia hanya berniat menggoda putrinya.

Matanya membulat seketika. Apa yang harus dikatakannya pada ibunya. “Eomma jangan bercanda!”, Junghae berkata dengan sedikit berteriak.

Ibunya kini tertawa. Dia berhasil menggoda putrinya. “Aku hanya bercanda sayang. Bagaimana bisa kau hamil jika belum bersuami?”, jelasnya kemudian. Dia memberikan segelas susu yang tadi dibawanya. “Habiskan susumu dan istirahatlah”.

Junghae menerima gelas itu dan meminumnya. Dia memberikan gelas itu kembali. “Terima kasih eomma”.

“Emh”, ibunya mengangguk. Dia mengambil nampannya kembali dan meninggalkan kamar putrinya.

Junghae mengusap kasar wajahnya setelah pintu kamarnya tertutup. Bagaimana jika yang dikatakan ibunya benar? Apa yang harus dilakukannya? Pusing kembali menghinggapinya. Dia hanya perlu memastikannya bukan. Lagipula dia juga memiliki suami, jadi apa yang perlu diakutkan. Dia memilih menenggelamkan dirinya dalam selimut. Dia tak ingin bertambah sakit karena memikirkan hal-hal yang tak berguna.

***

“Selamat pagi sayang”, sapa nyonya Park yang melihat putranya datang. Ya, semenjak Sehun kembali ke Amerika putra tunggalnya itu memilih tinggal di rumahnya.

“Selamat pagi eomma”, jawab putranya.

Nyonya Park dapat melihat gurat lelah di wajah putranya. Sepertinya dia terlihat sibuk akhir-akhir ini. Dia teringat dengan permintaan putranya beberapa bulan lalu. Dengan berani dia meminta restunya untuk menikah. Tapi justru apa yang dilakukannya, dia menolaknya dengan tegas. Hanya karena gadis itu bukan dari golongan yang sama dengannya. Apa harta menjadi ukuran kebahagiaan orang? Tidak bukan! Kenapa dia menjadi seegois itu. Jika saja dia memberinya restu kala itu, mungkin sebentar lagi dia akan menimang cucu. Ah, salahkan dia kenapa dulu dia malah mengusir gadis itu.

Dan sejak saat itu, putranya berubah. Jika dulu dia dapat melihat raut bahagia pada wajah putranya, kali ini berbeda. Dia memang tersenyum, hanya saja senyum itu tak datang dari hatinya. Dan lagi sepertinya putranya menyimpan sesuatu darinya. Apa putranya bahagia? Kenapa dia tak memikirkan hal itu? Bagaimana putranya bisa bahagia jika dia yang menghalangi kebahagiaan itu? Haruskah dia membuang rasa egoisnya dan memberikan kebebasannya? Ya, sepertinya dia memang harus melakukannya.

Eomma, kau baik-baik saja?”, tanya putranya. Semenjak dia datang ke meja makan ibunya menjadi diam. Seperti ada yang tengah difikirkannya. Karena itu, dia memilih bertanya untuk memastikan.

Nyonya Park tersadar dari lamunannya. “Hah”, dia melihat putranya sebentar. Seulas senyum kemudian dia sunggingkan. “Aku baik-baik saja sayang”, jawabnya.

Eomma diam sejak tadi. Ku pikir ada sesuatu yang terjadi”, ucap putranya kembali.

“Aku baik-baik saja sayang, sungguh. Ayo kita sarapan, bukankah kau akan berangkat bekerja”, ucap nyonya Park kembali.

Chanyeol terlihat mengambil nafas dalam. “Eomma, ada yang ingin aku katakan”, ucapnya kemudian.

“Iya, apa yang ingin kau katakan?”.

“Maaf jika nanti akan membuatmu terkejut”, kata Chanyeol memperingatkan.

“Maksudmu apa sayang?”, nyonya Park bertanya karena tak paham.

“Sebenarnya aku sudah menikah”, Chanyeol berhenti dia kalimat itu. Dia sebenarnya ragu mengatakannya, hanya saja ini sudah terlalu lama dia menyimpan rahasia.

Seperti yang dikatakan putranya, nyonya Park terlihat terkejut. Putranya sudah menikah? Dengan siapa? Apa dengan gadis itu? Dia menikah diam-diam karena tak mendapat restunya. Mungkinkah itu?

Nyonya Park terlihat memejamkan matanya, dia mengambil nafas dalam. Baiklah, dia tak akan bertindak egois kali ini. Dia hanya ingin kebahagiaan putra semata wayangnya itu. “Dengan siapa?”, tanyanya akhirnya.

“Junghae. Kim Junghae. Adik bungsu dari Kim Jongdae”, Chanyeol menjelaskannya dengan detail.

Nyonya Park membulatkan matanya seketika. Putranya menikah dengan gadis yang bahkan tak disangkanya. Ya, dia juga sempat berfikir untuk menikahkan putranya dengan gadis itu. Tapi dia ragu karena mungkin putranya tak menyukai gadis itu. Dan sekarang, putranya berkata jika dia telah menikahi gadis itu. Suatu kebetulan yang tak pernah dibayangkannya. “Bagaimana bisa?”, nyonya Park kembali bersuara. Tak ada nada marah di perkataannya. Dia hanya ingin tahu alasan putranya menikahi gadis itu.

“Maafkan aku eomma. Ini terjadi begitu saja. Aku hanya ingin bertanggung jawab dengan apa yang sudah aku perbuat”, Chanyeol mengambil nafas dalam. “Beberapa hari setelah eomma memintaku meninggalkan Youngrin, aku mabuk di bar hotel Baekhyun. Aku benar-benar tak mengingatnya apa yang sudah aku lakukan saat itu. Saat aku terbangun, aku sudah berada di ranjang yang sama dengan Junghae. Tanpa busana. Aku tak yakin apa aku sudah melakukannya atau tidak. Hanya saja, apa yang eomma fikirkan jika ada sepasang anak manusia berbeda jenis kelamin dalam satu ranjang tanpa busana. Eomma pasti akan berfikir yang sama denganku bukan!”, lanjutnya.

Nyonya Park menggenggam tangan putranya. Putranya begitu tegas menjelaskan semua perbuatannya. “Kenapa kau tak mengatakannya sejak awal?”, tanya nyonya Park kembali.

Chanyeol membalas genggaman tangan ibunya. “Aku hanya tak ingin membuat eomma kambuh. Eomma baru saja pulang dari rumah sakit saat itu. Bagaimana bisa aku memberitahukan perbuatan brengsekku setelah apa yang aku lakukan pada eomma sebelumnya?”, jelasnya.

Bahkan putranya memikirkan kondisinya. Bagaimana bisa dia tak memikirkan putranya? Ibu macam apa dia? “Sayang, maafkan eomma. Kau harus mengalami ini semua karena eomma”, nada tulus terdengar dari setiap kata yang diucapkannya.

“Tidak, eomma tidak bersalah. Akulah yang bersalah. Aku tak menjadi putra membanggakan untukmu, maafkan aku eomma”.

“Kau tidak salah sayang. Perbuatanmu sudah benar. Apa keluarganya tahu?”.

“Belum”, Chanyeol menggeleng.

“Nanti malam kita ke rumahnya. Kau harus memberitahu keluarganya. Bagaimana mungkin kau menikahi putri orang tanpa meminta restu orang tuanya?”, ibunya berkata sambil tersenyum.

Chanyeol ikut tertawa. “Iya. Kita akan kesana nanti malam”, jawabnya kemudian.

***

“Sayang, kau sudah baikan!”, tanya ibunya yang melihat putrinya sudah duduk di ruang makan.

Junghae mengangguk. Dia sudah merasa lebih baik dari kemarin. Meski dia masih merasa pegal saat terbangun tadi. “Iya, ini sudah lebih baik dari kemarin”, jawabnya.

“Syukurlah!”, terdengar nafas lega dari ibunya.ibunya menarik salah satu kursi sebelum mendudukinya.

“Pagi sayang!”, sapa ayahnya yang baru datang.

“Selamat pagi appa. Apa tidurmu nyenyak?”, tanya Junghae kembali.

“Iya, bagaimana denganmu? Kau sudah merasa baikan?”, ayahnya kembali bersuara.

“Emmh”, Junghae mengangguk.

“Kau sudah baikan?”, tanya Jongin yang tiba-tiba datang. Dia juga menepuk pundak adiknya.

Junghae menoleh ke arah Jongin. Senyum dan anggukan ia tunjukan sebagai jawaban. “Apa eonni belum pulang?”, tanyanya kemudian.

“Mungkin siang nanti. Dia kehabisan tiket pesawat kemarin?”, jelas Jongin. Dia ikut duduk di sebelah adiknya.

“Ayo kita sarapan!”, ajak ibunya yang melihat Song ahjumma telah selesai menata makanan di meja.

“Kau akan berangkat bekerja hari ini?”, tanya Jongin di sela-sela makannya.

“Iya, ada banyak pekerjaan yang aku tinggal kemarin”, jawab Junghae. Dia tahu jika pertanyaan Jongin tadi ditunjukan untuknya.

“Jangan memaksakan diri”, ucap Jongin kembali.

“Iya, benar apa yang dikatakan oppamu. Jangan memaksakan diri. Pekerjaanmu memang tak akan ada habisnya sayang”, ayahnya kini ikut bersuara.

“Aku tahu appa. Aku juga tak memaksakan diri. Aku memang sudah baik-baik saja sekarang”, Junghae mencoba meyakinkan ayah dan juga kakaknya.

“Kalian ini, kenapa ribut sekali. Junghae bukan lagi anak kecil yang harus selalu diingatkan. Dia pasti tahu apa saja yang terbaik untuk dirinya”, ibunya kini juga ikut menyela.

“Iya, kau memang benar”, ayahnya kini mengangguk setuju. Begitu juga dengan Jongin. Mereka kembali menikmati sarapannya.

.

.

“Aku akan mengantarmu”, tawar Jongin yang sudah selesai makan.

Junghae hanya mengangguk. “Ayo”, ajaknya kemudian.

“Junghae”, ibunya memanggil saat dia baru berjalan tiga langkah.

“Iya eomma. Ada apa?”, jawab Junghae. dia kembali menoleh ke arah ibunya.

“Suruh Jongdae dan istrinya datang kemari nanti malam. Kita makan malam bersama. Dia belum kemarikan sejak menikah!”.

“Iya, nanti akan Junghae sampaikan. Kami pergi dulu eomma”, Junghae kembali berpamitan.

“Hati-hati sayang”.

                                                                          ***

Junghae terduduk lemas di loby rumah sakit setelah mendengar pernyataan dokter tadi. Tepat seperti perkiraannya, dia benar-benar sedang mengandung. Dan ini sudah berjalan empat minggu. Ada rasa bahagia sekaligus khawatir. Bahagia karena sebentar lagi dia akan menjadi seorang ibu. Dan khawatir karena hubungan rahasia mereka.

Seharusnya dia memberitahu suaminya, tapi tangannya seolah terpaku tak bisa diajak kompromi. Sedari tadi dia hanya bisa menggenggam erat ponselnya. Seharusnya ini mudah, tinggal mencari nomor di kontak ponselnya lalu menghubunginya. Atau jika tak ingin mendengar suaranya, mengetikan beberapa kata lalu mengirimnya. Tapi kenapa dia tak bisa melakukannya.

Dia masih terfikirkan kejadian siang tadi. Kejadian dimana dia harus berfikir ulang untuk mempertahankan hubungannya.

Flashback

Junghae berjalan tergesa menuju ruang kerja suaminya. Dia ingin mengajaknya makan siang. Dia memang belum membuat janji sebelumnya. Dia hanya ingin memberinya kejutan. Dan lagi dia merindukan pria itu, meski baru beberapa hari tak ditemuinya.

Sekretarisnya tak ada di meja kerjanya. Junghae langsung menuju ruang kerja suaminya. Dia melihat pintu yang setengah terbuka. Dia juga mendengar suara gadis yang sedang berbicara. Junghae mengintip di balik celah pintu yang terbuka. Dia bisa melihat suaminya tengah duduk bersama seorang gadis di sofa.

“Bagaimana kabarmu oppa!”, gadis itu bersuara.

“Aku baik seperti yang kau lihat. Kau sendiri!”, suara khas suamiya terdengar.

Kenapa gadis itu memanggilnya dengan sebutan oppa. Siapa dia sebenarnya? Junghae bertanya dalam hatinya. Dia terus mengamati mereka tanpa berfikir untuk masuk ke ruangan tersebut.

“Tidak lebih baik saat bersamamu”, gadis itu menjawabnya.

“Maafkan aku”, suaminya kembali bersuara.

Sekarang Junghae tahu siapa gadis yang bersama suaminya. Gadis itu pastilah mantan kekasih suaminya. Dia tahu jika mereka terpaksa berpisah karena tak mendapat restu dari ibunya.

“Aku mengerti! Aku hanya ingin berpamitan padamu. Aku akan berangkat ke London besok. Aku ingin meneruskan studiku disana. Aku sudah tak punya alasan lagi tinggal disini”, gadis itu kembali berucap.

Chanyeol berdiri. Dia berjalan pelan menuju meja kerjanya. Tak ada kata yang tepat untuk diucapkannya. Ya, dia tahu jika sejak dulu gadis itu ingin meneruskan studinya disana. Tapi dialah yang memintanya tinggal. Dan sekarang, gadis itu benar. Gadis itu memang sudah tak punya alasan untuk tetap tinggal disini.

Ingin sekali dia mencegahnya, tapi dia sudah tak memiliki hak itu. Hubungan mereka sudah berakhir beberapa bulan yang lalu. Meskipun itu bukan keinginannya, tetap saja dia tak memiliki hak tersebut. Ditambah lagi kini dia sudah memiliki istri.

Junghae dapat melihat raut bersalah di wajah suaminya. Dia tahu jika pria itu sedang menahan sesuatu. Dia juga tahu jika pria itu sebenarnya tak rela melepas kepergian gadis itu. Kalau saja pria itu tak memiliki hubungan apapun dengannya, dia yakin jika pria itu akan mencegah gadis itu pergi.

Chanyeol membuang kasar nafasnya. Dia sudah tak punya pilihan selain membiarkan gadis itu pergi. Ya, hanya itu yang bisa dilakukannya. “Aku mengerti! Aku selalu mendo’akan kebahagiaanmu”, setelah berkata demikian dia berbalik. Dia tak pernah menyangka jika gadis itu sudah berdiri tepat di belakangnya. Dan perlahan gadis itu mulai mendekat, menghapus jarak diantara mereka. Semakin dekat, hingga ia tak sadar jika bibir gadis itu telah menempel sempurna di bibirnya. Dia memejamkan matanya, membiarkan gadis itu melakukan apapun padanya.

Junghae yang melihat hal itu, hanya bisa menggenggam erat ujung dressnya. Dia ingin sekali menghampiri mereka dan memisahkan kegiatan itu. Tapi kakinya seolah lumpuh tak mau bergerak. Sesak datang menghampirinya. Seolah tak ada oksigen yang memasok paru-parunya. Rasa sakit juga datang menyelimutinya.

Seharusnya dia bisa mengerti, seperti pria itu mengerti dirinya. Tapi ini berbeda, pria itu bisa mengerti karena tak melihatnya secara langsung. Dan dia, dia melihatnya secara langsung tepat di depan kedua matanya, tentu rasanya berbeda.

Junghae segera berbalik, meninggalkan tempat itu sebelum dia tak bisa mengendalikan dirinya.

Flashback end

Junghae kembali membuang pasrah nafasnya. Dia kembali menatap layar ponselnya. Ada panggilan masuk dari pria itu. Dia membiarkannya, tak berniat menjawab panggilan tersebut. Cukup lama ponselnya berdering, hingga deringan itu mati. Setelahnya ada dering pendek menadakan pesan masuk. Dia juga membiarkannya. Tak ada niatan untuk membaca pesan tersebut. Dia justru memasukan ponselnya dalam tas setelah sebelumnya membuat ponsel tersebut dalam mode silent.

Dia segera beranjak. Dia ingat jika dia ada janji makan malam dengan keluarganya. Dia berjalan pelan meninggalkan tempat duduknya. Dia berjalan dengan merunduk. Banyak hal yang sedang difikirkannya. Tentang bagaimana kelanjutan hubungannya. Tentang bagaimana perasaan pria itu padanya. Apa semua itu tulus? Atau itu hanyalah bentuk tanggungjawabnya.

***

 Chanyeol berjalan mondar mandir tak jelas di dalam kamarnya. Ini sudaah kali sepuluh dia menghubungi Junghae, namun tak satupun dari panggilannya yang dijawab. Dia juga sudah berkali-kali mengirim pesan, juga tak ada balasan. Sebenarnya kemana gadis itu? Perasaannya menjadi tak enak. Apa dia marah? Tapi kenapa? Seingatnya mereka tak memiliki masalah. Ditambah beberapa hari ini mereka belum bertemu.

Apa dia melihatnya tadi? Itu tidak mungkin, gadis itu bahkan tak… Apa jangan-jangan memang karena itu? Apa gadis itu datang tanpa sepengetahuannya? Hanya itu alasan yang masuk akal. Gadis itu tak pernah seperti ini sebelumnya. Sesibuk apapun dia, pasti dia punya waktu untuk menjawab panggilan atau membalas pesannya.

Dia akan merasa sangat bersalah jika memang gadis itu mengabaikannya karena kejadian siang tadi. Dia begitu terbawa suasana hingga membiarkannya terjadi begitu saja. Owh, apa yang harus dilakukannya jika memang semua itu benar? Dia mengacak-acak rambutnya.

“Kau kenapa sayang?”, terdengar suara ibunya dari arah pintu.

“Bukan apa-apa eomma. Aku mencoba menghubungi Junghae, tapi dia tak menjawabnya”, jelasnya.

“Mungkin dia sedang sibuk sayang. Jadi kau terlihat frustasi hanya karena dia tak menjawab panggilanmu?”, ucap ibunya kembali, entah itu berupa pertanyaan atau sindiran.

“Dia tak pernah seperti ini sebelumnya”, bantah Chanyeol. Yang dikatakannya benar, istrinya tak pernah seperti ini sebelumnya. Gadis itu terlalu ceria, dia bahkan belum pernah melihatnya marah.

“Apa kalian bertengkar?”.

“Tidak. Kami baik-baik saja. Bahkan kami beberapa hari ini belum bertemu”, Chanyeol mencoba menjelaskan.

“Ya sudah. Kau jadi pergi ke rumahnya?”.

“Iya, aku ganti baju dulu”.

Eomma tunggu di depan”.

***

Chanyeol turun dari mobilnya yang diikuti oleh ibunya. Seperti rencananya tadi pagi, mereka datang ke kediaman keluarga Kim, untuk memberitahukan hubungannya dengan Junghae. Dia ingin mengakhiri kebohongan yang selama ini dilakukannya. Dia melihat Jongdae dan istrinya juga turun dari mobil.

“Chanyeol”, sapa Jongdae.

“Owh, Jongdae-ya. Lama tak jumpa. Bagaimana kabarmu?”, jawabnya.

“Aku baik. Kau sendiri?”.

“Seperti yang kau lihat, aku baik”, jelasnya.

“Halo ahjumma, bagaimana kabar anda?”, sapa Jongdae.

“Baik”, jawab nyonya Park.

“Apa kalian juga diundang makan malam?”, tanya Jongdae lagi.

“Tidak, kami hanya ingin berkunjung”, jawab Chanyeol.

Pintu utama rumah tersebut terbuka menampakan seorang gadis dengan busana santainya. Dia berjalan mendekat k arah mereka.

Oppa, kau sudah sampai”, ucap gadis itu yang tak lain adalah Jungra.

Mereka semua menoleh.

“Ra-ya. Ya, kami baru sampai”, jawab Jongdae.

“Park ahjumma datang, Chanyeol oppa juga”, Jungra sedikit terkejut dengan kedatangan mereka. Karena memang sebenarnya hari ini mereka ada makan malam keluarga. Hanya keluarga seingatnya. Dia tak mengundang orang lain.

“Apa kami mengganggu?”, nyonya Park bertanya. Dia takut kedatangannya akan mengganggu mereka.

“Tentu saja tidak. Ayo kita masuk”, ajak Jungra. Dia segera berjalan memasuki  rumah, yang diikuti oleh semua orang di tempat itu.

Eomma, kita punya tamu”, kata Jungra saat sampai di ruang keluarga. Disana ada ibu, ayah serta saudara kembarnya.

Ibunya menoleh. Dia tersenyum setelah tahu siapa tamu yang di maksud putrinya. “Jinsoo-ya”, sapa nyonya Kim. “Park Chanyeol”, lanjut ibunya.

Chanyeol membungkuk memberi salam.

Mereka dipersilahkan duduk. Nyonya Kim meminta Song ahjumma membuatkan minuman untuk mereka. Mereka berbasa-basi sebentar.

“Jadi apa yang membawa kalian datang kemari?”, nyonya Kim kini bersuara setelah minuman untuk tamunya datang.

“Apa kami mengganggu? Seharusnya kami menelfon dulu sebelum datang”, tanya nyonya Park hati-hati.

Nyonya Kim melihat raut tak enak di wajah sahabatnya. “Tidak. Tidak sama sekali. Kami hanya akan malam bersama, ini sudah lama sejak Jongdae menikah. Karena kalian sudah datang kalian bisa ikut”, nyonya Kim mencoba menjelaskan. Dia dapat melihat raut senang setelahnya.

“Syukurlah!”, ucap nyonya Park. Terdengar nada lega di perkataannya. “Ada yang ingin disampaikan putraku”, lanjutnya.

Semua orang kini menoleh pada Chanyeol. Termasuk Jungra, dia tersenyum melihatnya. Sepertinya dia akan mendengarkan pengakuan atau mungkin pria itu akan melamar adiknya. Sepertinya iya, tidak mungkin  mereka mau repot datang kemari kalau bukan untuk urusan penting.

“Apa itu?”, nyonya Kim kembali bersuara. Ada raut penasaran di wajahnya. Bukan hanya dia, semua orang di ruang itu juga sama penasarannya.

Chanyeol menghela membuang nafas panjangnya. Dia mencoba menyiapkan dirinya sebaik mungkin sebelum berkata. Dia tak akan tahu kemungkinan apa yang akan terjadi jika dia mengatakannya.

“Kalian mungkin akan terkejut mendengarnya”, nyonya Park kembali bersuara. Dia meminum minumannya setelahnya.

‘Tentu saja. Aku juga terkejut saat Junghae menjelaskan’, Jungra berbicara dalam hatinya. Dia ingin sekali menyela, hanya saja ini bukan waktu yang tepat untuknya sekarang. Lebih baik jika dia diam dan mendengarkannya.

“Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan?”, kini Jongdae yang besuara.

“Diam dan dengarkanlah!”, istrinya kini bersuara.

Chanyeol mengedarkan pandangannya sebelum berbicara. “Aku hanya ingin membuat pengakuan. Sebelumnya, aku minta maaf karena sudah menyembunyikannya selama ini”, ucapnya. Dia kembali mengambil nafas panjang. “Sebenarnya aku dan Junghae sudah menikah”. Tak ada kata lagi yang terucapa setelahnya. Dia ingin melihat reaksi mereka semua.

Semuanya terlihat terkejut, kecuali ibunya tentunya. Tentu saja, tidak angin tak ada hujan dan tak ada apapun tiba-tiba pria ini mengatakan jika dia telah menikahi salah satu putri dalam keluarga mereka, apalagi ini putri bungsu. Jungra yang tahu jika pria ini berkencan dengan adiknya juga terkejut. Ya, adiknya bilang jika mereka berkencan dan pria ini bilan jika mereka sudah menikah.

Jongdae sampai tersedak minumannya saking terkejutnya. “Apa?”, ucapnya setelah tenang.

“Bagaimana bisa! Junghae tak mengatakan apapun pada kami”, kini nyonya Park yang bertanya.

***

“Junghae-ya”.

Junghae menoleh ketika namanya dipanggil. Dia baru keluar dari rumah sakit setelah memeriksakan dirinya tadi. Dia tersenyum melihat siapa yang memanggilnya. “Baekhyun oppa”, sapanya.

“Sedang apa kau disini?”, pria yang dipanggil Baekhyun itu kembali bersuara.

Oppa sendiri sedang apa kemari?”, Junghae justru balik bertanya.

“Kau ini. Ditanya malah balik nanya. Dasar”.

Junghae hanya tersenyum menanggapinya.

“Kau sedang tidak sakitkan! Wajahmu sedikit pucat”, tanya Baekhyun kembali. Ada nada khawatir di ucapannya.

“Aku baik-baik saja oppa. Jangan khawatir”, jelas Junghae. Dia tahu jika pria dihadapannya ini sedang mengkhawatirkannya.

“Lalu kenapa kau datang kemari?”.

“Aku hanya memeriksakan diri tadi”.

Baekhyun mengangkat alisnya tak paham. Dia bilang jika dia tak sakit, jadi untuk apa dia memeriksakan diri. Apa jangan-jangan! “Junghae, apa kau sedang hamil?”, tanyanya kembali.

Junghae terdiam. Bagaimana pria ini bisa tahu!

“Jadi benar!”, Baekhyun kembali bersuara karena Junghae hanya diam.

Junghae mengangguk kecil akhirnya.

Baekhyun kini tersenyum. “Selamat ya. Apa kau sudah memberitahunya?”.

Junghae menggeleng.

“Kenapa kau belum memberitahunya? Apa kalian bertengkar?”, Baekhyun kini terlihat cemas. Ya, jika ini menyangkut Junghae dia akan melakukan apapun untuk gadis itu. Dan akan mengutuk siapapun yang sudah menyakiti gadis itu. Bahkan jika itu adalah teman baiknya. Dia teramat menyayangi gadis itu sejak adiknya tiada. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk memastikan gadis itu bahagia dan juga aman.

Junghae masih terdiam. Dia kini justru memeluk pria itu. Pria yang sudah dianggap sebagai kakak kandungnya. Air matanya mengalir begitu saja. Tak terdengar isakan, karena memang Junghae suka menangis dalam diam.

Baekhyun mengusap lembut rambut panjang Junghae. Dia tahu jika gadis itu sedang menangis. Karena dia merasa jika baju yang dipakainya terasa lembab. “Apa yang sudah dilakukannya padamu? Jawab aku Junghae?”, Baekhyun kembali bersuara.

Junghae menggeleng. “Seharusnya aku bisa mengerti. Tapi kenapa rasanya sangat sakit”, Junghae akhirnya bersuara.

Baekhyun tak paham dengan ucapan gadis itu. “Apa maksudmu?”, dia bertanya untuk menjawab rasa tak pahamnya.

“Bukan apa-apa”. Junghae melepaskan pelukannya. Dia mengusap sisa air mata di wajahnya. “Aku harus pulang, aku ada makan malam keluarga. Selamat tinggal oppa”. Junghae berjalan menjauh.

“Tunggu”, Baekhyun menarik lengan Junghae, otomatis dia menoleh.

“Ada apa?”, tanyanya.

“Apa dia sudah memberitahu orang tuanya?”, tanya Baekhyun. Dia melepas genggamannya.

Junghae paham apa yang dimaksud pria itu, yang tak lain adalah pernikahannya. “Belum saatnya”, hanya itu yang bisa Junghae katakan.

“Beluma saatnya”, Baekhyun menirukan perkataan Junghae. “Lalu kapan saat itu tiba? Ini sudah lama sejak kalian menikah. Aku tak mengerti dengan jalan fikiran kalian. Bagaimana kalian bisa tenang menjalani hubungan ini”, Baekhyun terlihat marah. Siapapun yang berada dalam posisinya juga akan merasakan hal yang sama.

Adiknya dinikahi sahabatnya tanpa memberitahu orang tuanya. Meskipun itu sahabat terbaiknya, tapi tetap saja itu menyebalkan. Ditambah kini adiknya sudah mengandung anaknya. Dan dia juga terlihat menderita. Sebagai kakak, Baekhyun tak bisa menerimanya.

Junghae hanya terdiam. Dia paham apa yang dirasakan Baekhyun. Ini memang salah mereka berdua, kenapa mereka merahasiakan pernikahannya bahkan dengan alasan yang tak masuk akal.

“Jika memang dia tak bisa mengatakannya, maka aku yang akan mengatakannya. Aku sudah menunggu terlalu lama, aku tak bisa menunggu lagi sekarang. Park Chanyeol terlalu pengecut. Dia hanya memikirkan dirinya sendiri, tak memikirkan bagaiman perasaanmu. Aku tahu kau hanya bisa bohong pada keluargamu selama ini. Aku akan memberitahu Park ahjumma sekarang”, Baekhyun menepuk pundak Junghae. “Kau pulanglah! Jaga dirimu baik-baik”, lanjutnya. Baekhyun segera berbalik meninggalkan Junghae.

Junghae masih termangu. Sedetik kemudian dia baru tersadar. Jika benar Baekhyun akan memberitahukan hal ini pada nyonya Park, dia takut sesuatu yang buruk akan menimpanya. dia harus mencegahnya sebelum terjadi.

Oppa, tunggu. Jangan sekarang”, kata Junghae sambil berteriak. Dia sudah melihat Baekhyun berjalan terlalu jauh.

Baekhyun mendengar teriakan Junghae, tapi dia terus berjalan menjauh. Dia tak menghiraukan teriakan itu. Dia tahu jika Junghae akan mencegahnya, karena itu dia membiarkan gadis itu terus berteriak memanggilnya. Dia kini menyeberang jalan, terus melangkah dan tak memperdulikan teriakan memohon adiknya. Sampai akhirnya dia mendengarkan suara yang membuatnya terpaksa berhenti.

BRAK

..

..

..

PRANG

to be continue

Apa kira-kira yang terjadi pemirsa?

.

.

.

Hai hai, saya kembali lagi dengan chapter 18. Setelah chapter ini, mungkin akan selesai. Kita lihat saja nanti ya. Sudah tak ada ide lagi. Semoga nanti tak mengecewakan endingnya.

Kalian lebih suka happy ending atau sad ending?

Komennya jangan lupa ya.

Terima kasih banyak.

Love you all. ❤  ❤  ❤

Iklan

60 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] SECRET WIFE (Chapter 18)

  1. Happy ending..!!!
    Waaahhh…. tambah penasaran sama kelanjutannya… I hope everythings gonna be okay… Semoga semuanya bisa nerima kalo junghae sama chanyeol udah nikah… I hope so…
    Semangat eon ngelanjutin chapt selanjutnya… Chapt selanjutnya jangan dibikin chapt terakhir dong eon… ff ini jadi ff favorite aku…

    • aku gak janji ya…..

      silahkan ditunggu saja ya….
      semoga nanti sesuai dengan harapan…
      jangan bosan menanti….

      terima kasih ya….. 🙂

  2. Akhirnya Chanyeol brani ngungkapin pernikahannya sama Junghae 👏👏👏

    Tapi itu itu kenapa di akhir cerita ada tulisan BRAK…PRANG… jangan bilang yg ketabrak itu Junghae. Jangan dong thor, ntar kalo Junghae kecelakaan gimana dong sama kandungannya?
    jangan sampe sad ending y thor. Soalnya sepanjang baca chap ini udah senyam senyum sendiri, tapi pas nemu akhirnya begitu langsung kaget n takut 😔

    • iya, akhirnya setelah sekian lama dia bisa jujur juga….

      aku belum bisa kasih bocoran, ditunggu saja ya…
      aku juga gak janji bakalan happy ending, kita lihat ntar ya…
      semoga sesuai harapan…….

      terima kasih… 🙂

  3. akhirnya keluarga tahu… tapi endingnya??? semoga junghae dan bayinya baik baik saja.. kasian chanyeol appa belum tahu kehadiran’y..

    • iya, bang CY dah mulai jujur…
      endingnya ditunggu ya…..

      semoga bang Chanyeol beneran jadi appa…..

      terima kasih… 🙂

  4. Seneng akhirnya bisa konfirm hubungan mereka tapi Kok tbc nya,,,
    Junghae kenapa ?? semoga gak papa jangan sampek kenapa napa padahal udah happy mau jadi ibu
    Lanjut ya kaka ditunggu lanjutannya

  5. Belum juga kelar masalahnya,, eh muncul lagi masalah yang lain.. Mungkin kalo dibicarakan berdua dan saling terbuka akan selesai dengan baik dan happy ending..

    Dan apa yang terjadi..?
    Suara apa itu..?
    Semoga bukan hal yang mengerikan..

    Keep fighting buat kakak nya..^^

    • iya, biar tambah rumit ja….
      kira-kira apa yang terjadi?
      ditunggu saja ya….

      terima kasih
      fighthing… 🙂

  6. Itu junghae ketabrak ya thor? 😦 kasian dede bayinya padahal baru aja hamil 😦 ditunggu ya chapter selanjutnyaaa ya thor

  7. ouhhhh tidaaakkk junghae ketabrak?? keguguran kah?? harusnya baekhyun jgn tinggalin junghae sendirian… kelanjutan hubungan chanyeol & junghae gimana? chanyeol dapet restu dari keluarga junghae tidak ya, setelah dia buat pengakuan pernikahannya sama junghae? author cerita akhirnya dibuat happy ending aja saya tidak kuat kalau ceritanya sad ending 😢😢.. tapi itu tergantung author ceritanya mau dibuat happy ending atau sad ending yg penting ceritanya tetap dilanjut 😀😂..
    author fighting…
    di tunggu next chapternya…

    • kita lihat nanti, bakalan ketabrak atau gak….
      aku belum mau kasih bocoran dulu….
      ditunggu saja kelanjutannya,

      terima kasih banyak… 🙂

  8. aaaaaa tidak !!! knp author selalu bisa bikin org penasaran setengah mati !!! keren author !!! tapi jangan lama2 ya author ngelanjutin ny. ak penasaran pakai bgt sma next part ny thor kira-kira apa yg terjadi ama baekki ya?
    Next!!!

    • sengaja memang….
      terima kasih sudah dibilang keren..
      aku gak janji bisa update cepat,
      ditunggu saja ya,
      tebak kira-kira apa yang akan terjadi…

      🙂 🙂 🙂

  9. duh,,,, ada BRAK & PRANG datang.
    Semoga gk terjadi sesuatu dgn junghae. baru hamil. suaminya belum tau juga. jgn terjadi sesuatu dgn junghaee… ㅠㅠ
    cepet pulang aja deh, jgn kecelakaan atau apa.
    untuk BRAK & PRANG itu jgn Junghae ya…
    chanyeol sedang membuat pengumuman tuhh… baekhyun jgn emosi. (klo jd baekhyun, jg gk bisa nahan emosi)

    Harus HAPPY ENDING eonni… jgn Sad ya…..
    detik2 menjelang ending… rasanya greget.

    • suara apa kira-kira?
      kita lihat nanti ya, apa Junghae baik atau gak…
      bisa pulang gak kira-kira?
      aku gak bisa bocorin dulu pokoknya,
      ditunggu saja ya….

      terima kasih.. 🙂

    • suara apa kira-kira?
      semoga junghae gak kenapa-napa ya… berharap saja ya….
      ditunggu pokoknya,
      terima kasih… 🙂

  10. Tbc disaaat ga tepat 😀 .Itu apaan?, junghae ketabrakkah?, pliss junghae hrs baik” aja bru aja tau kbr bahagia hamil sbln. Jugaan si chan kan baru aja ngmg yg sbnrnya. Elahh jan sad ending ya kak author, pokoknya hrs happy ending #maksa 😀

    • TBC disaat gak tepat! memang sengaja ya, biar penasaran, hohoho…
      semoga Junghae gak ketabrak ya, berharap saja lah,

      dan semoga ini akan happy ending, aku usahakan nanti,
      ditunggu saja ya,

      terima kasih banyak… 🙂

  11. kenapa harus ada tbc? huhuhu lagi enak” baca ..
    apakah junghae ketabrak ? atau gimana yang penting mereka gpp ya

    • kenapa harus ada TBC? kan ceritanya belum selesai, jadi harus ada itu, biar jelas gitu, hahaha….

      junghae ketabrak gak kira-kira? bagaimana menurutmu?
      semoga gak ya!
      terima kasih banyak,
      ditunggu saja, 🙂

  12. Junghae gk mati kan ya…demi upil neptunus, dia naru sebulan hamil. Knp tega banget….duh baek, chanyeol udh buat pengumuman di rmh junghae. LANGSUNG pula. Jgn emosi ahhh…knp malah kacau??

    • kita lihat saja nanti ya, semoga saja dia tak mati….
      semoga mendapat ending yang tepat nanti….

      ditunggu saja ya,
      terima kasih… 🙂

  13. Waaa itu suara apaan??
    Junghae ketabrak kah?
    Uuhhh jangan sad ending dong thor,, happy ending ajaa
    Next chapter jgn lama lama ya thor,, penasaran banget nihh

    • suara apa ya????
      Junghae ketabrakkah? ditunggu saja dichapter selanjutnya…..

      tergantung nanti ya, aku gak bisa janji sekarang,
      dan juga aku gak janji bakalan update cepat,
      ditunggu saja,
      terima kasih ya… 🙂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s