[EXOFFI FREELANCE] ENDING SCENE (Chapter 1)

PicsArt_05-19-08.11.47

 

ENDING SCENE

Author :

Angeline

Main Cast :

Park Chanyeol x Wendy Son

Additional Cast :

Kim Saejong| Do Kyungsoo|Myoui Mina a.k.a Yoon Rae Na| Yook Sungjae a.k.a Park Sungjae|Amber Liu| Etc~

Rating : PG-17 |Length : Series Fic

Genre : Romance|AU|Angst|Sad

Disclaimer :

Ff ini murni karya tulis author. Jika ada kesamaan dalam cerita, tokoh atau apa pun, Itu semua bukan unsur plagiat melainkan ketidaksengajaan. Don’t copas without permission. Thankyou

Summary :

Bagaimana perasaanmu jika kekasihmu bukan hanya untukmu? Melainkan kau harus rela membaginya dengan seorang gadis lumpuh?. Dan peranmu yang tadinya sebagai korban harus terganti menjadi peran penjahat yang seakan-akan telah merebut kebahagiaan seseorang.

-Chapter 1-

Seorang pria tinggi dengan kaos hitam polos yang dilapisi jaket berwarna senada dengan kaosnya terlihat sedang memasuki bandara. Wajah pria itu tidak berhenti mengembangkan senyuman sambil terkadang menatap layar ponselnya yang memeperlihatkan walpaper seorang gadis yang tengah ia rindukan selama 4 tahun terakhir ini. Kini pria itu memposisikan dirinya didekat kerumunan para penjemput lainnya. Tatapannya juga tidak berhenti melihat arah pintu keluar menunggu seseorang keluar dari balik pintu itu.

Tidak lagi menunggu waktu lama wajah pria itu memperlihatkan senyuman lebar dikala matanya melihat gadis dengan jeans panjang berwarna hitam dan kemeja berwarna biru donker yang keluar dari balik pintu itu dengan menarik kopernya. Kedua orang itu saling memandang cukup lama dengan sang gadis yang belum beranjak dari posisinya. Malah sang pria mengkerutkan keningnya saat melihat wajah cemberut dari gadis itu, apa yang salah darinya? Ia tidak telat menjemput gadis itu  dan juga menyambutnya dengan manis. Tapi ada apa dengan raut wajah kesalnya?.

Hingga tidak lama kemudian sang gadis berjalan dengan lesunya kearah pria itu. Dan saat sampai didepan pria tinggi itu sang gadis memicingkan matanya pada pria tampan tersebut. Sang pria menyilangkan tangannya didada dan mulai menatap serius gadis didepannya itu.

“Ada apa dengan wajahmu ini hm?” Ucap pria itu memulai percakapan. Mencoba mencari tahu apa yang terjadi pada gadis ini. Mengapa ia datang dengan wajah cemberut dan tidak terlihat bahaga bertemu dengannya. Bahkan setelah 4 tahun? Oh ayolah ia sangat merindukan gadis itu setengah mati, namun apa ini yang ia dapat? Hanya sebuah tatapan cemberut. Apa ia melakukan kesalahan?

Gadis itu menggeleng kecil untuk menjawab pertanyaan pendek pria didepannya itu, dan ia belum berbicara sepatah kata pun, kini gadis itu melangkah sedikit maju kedepan pria itu dan mendongak menatapnya. Wajahnya masih cemberut seperti tadi dan sang pria semakin penasaran akan hal itu.

“Aku…lapar” ujarnya tertunduk lesuh, sontak mendengar pernyataan dari bibir plum gadis itu membuat sang pria tertawa lepas dan hanya ditatap kesal oleh gadis itu. Pria itu menertawakan orang yang sedang kelaparan, dimana perasaannya? Batin gadis itu.

“Aigoo! Kekasihku benar-benar menggemaskan” ujar pria itu lalu memeluk erat tubuh kecil gadis itu. Namun sang gadis enggan membalas pelukan pria bernama Park Chanyeol itu.

“Aku bersungguh-sunggu yeol. Aku lapar sekali” ucap gadis itu dengan wajah imutnya membuat chanyeol dengan gemas langsung mencuri sebuah ciuman singkat dibibir gadis itu. Ya. Ciuman bersama gadis ini yang ia rindukan. Rasanya sangat tersiksa tidak melihat gadis ini didekapannya selama kurun waktu 4 tahun. Yah salahkan kuliah seni lukisnya di Queen’s University Canada.

“Baiklah, kau mau makan makanan apa? korea? Eropa? Western?” Ujar pria itu.

“Aku mau makan masakan buatanmu” ucapnya lalu bergelayut manja sambil memeluk tubuh pria itu dan dengan senang hati chanyeol membalas pelukan sang gadis dan mengecup puncak kepalanya dengan sayang. Mereka tidak peduli dengan beberapa sorot mata yang tengah memandang iri akan keduanya. Ya, ini adalah hari dimana mereka bebas bermesraan karena sudah terpisah selama 4 tahun.

“Baiklah” kata chanyeol kemudian menggenggam tangan gadis itu keluar dari bandara.

Klik

Suara pintu apartement chanyeol terbuka. Langsung saja chanyeol dan kekasihnya itu masuk, sang gadis dengan anggunnya mendaratkan bokongnya pada sofa empuk diruang tengah itu sedang pandangannya menatap chanyeol yang tengah menaruh koper gadis itu dikamar miliknya. Detik selanjutnya chanyeol menuju dapur untuk menyiapkan makanan bagi kekasih tercintanya itu. Sang gadis tersenyum sambil melihat ketampanan chanyeol yang akan selalu bertambah tampan saat sedang memasak. Sang gadis pun berdiri dan menuju kitchen chanyeol itu lalu tanpa meminta ijin terlebih dahulu.

Greb

Tangan mungil gadis itu melingkar sempurna pada perut chanyeol dan chanyeol hanya tersenyum tanpa menghentikan kegiatan memasaknya. Sang gadis kemudian memposisikan kepalanya dibawah lengan chanyeol sehingga terlihat chanyeol seperti merangkulnya. Gadis itu hanya berniat melihat tangan lihai chanyeol dalam memasak. Bagaimana kekasihnya itu memotong bawang bombai menjadi irisan tipis-tipis, tapi sepertinya hal kecil itu sedikit menganggu kegiatan chanyeol dalam urusan memasak.

“Sayang ayolah, aku tidak bisa memasak jika kau terus menggodaku seperti ini. Hm?” ucap chanyeol sambil menatap kekasihnya itu dengan senyuman lalu mencium pelipis gadis itu

“Iya iya” ucap gadis itu kemudian menjauh dari area kitchen itu. Chanyeol tersenyum kecil. Gadisnya tidak pernah berubah meski sudah 4 tahun terlewati. Gadis itu masih sama, sifat manja yang tidak pernah hilang dan juga kecantikannya yang membuat chanyeol tidak bisa berpaling pada gadis lain. Tunggu! Tidak bisa berpaling pada gadis lain? Benarkah itu

Kini kaki kecil gadis itu melangkah menuju kamar chanyeol, atu mungkin kamar yang akan ia tempati bersama chanyeol tepatnya. Ya mulai saat ini gadis itu akan tinggal bersama chanyeol diapartement pria itu.

Krieet

Dorongan pelan dari tangan gadis itu membuat pintu kamar itu terbuka dan langsung menampilkan isi kamar chanyeol yang tertata rapih sekali. Gadis itu menghirup dalam-dalam aroma prianya itu, sebuah aroma yang tidak bisa ia lupakan meski selama 4 tahun. Aroma yang membuat hatinya nyaman dan tenang, sungguh ia sangat sedih selama 4 tahun tidak bertemu dengan pangerannya. Rasanya ia mau berhenti dari sekolah melukisnya saja karena merindukan pria jangkung itu.

Tangan gadis itu menyentuh ranjang king zise itu, lalu barang-barang kecil yang menjadi pajangan  pada meja chanyeol tidak luput dari sentuhannya. Ia tahu semua itu tidak berubah sejak 4 tahun lalu ia pergi meninggalkan chanyeol ke canada. Gadis itu bernama Wendy Son. Seorang gadis cantik yang mengawali hubungan dengan chanyeol sewaktu gadis itu menginjakkan Kaki di SMA kelas XI dan saat itu chanyeol tengah kuliah. Bagaimana bisa mereka bertemu?.

Jika mau diingat, itu pertemuan yang konyol. Saat itu wendy sedang berbelanja, gadis itu kemudian melihat scarf yang sangat bagus menurut pandangannya. Berwarna biru navy dan hanya tinggal satu jadi wendy memutuskan mengambilnya namun saat ia hendak mengambilnya seseorang mengambil scarf itu duluan. Wendy menatap dan melihat itu pria itu yang notabene adalah chanyeol. Berakhirlah mereka beradu mulut untuk mendapatkan scarf, bahkan pegawai toko itu sampai dibuat kewalahan dengan aksi ribut keduanya karena sebuah scarf dan akhirnya chanyeol yang mengalah lalu memberikannya pada wendy. Memang terdengar sederhana awal pertemuan mereka, namun siapa sangka lewat perdebatan kecil itu malah menjadi sebuah awal hubungan sepasang kekasih?. Tapi tidak, itu bukanlah masalah sebenarnya dari cerita ini.

Wendy tersenyum mengingat masa itu. Oh benar-benar indah sekali namun semua berubah saat 4 tahun yang lalu wendy hendak pergi kecanada. Sebuah hal yang benar-benar membuatnya merasa chanyeol bukan lagi miliknya meski memang benar pria itu masih disisinya hingga saat ini. Tapi ia merasa jika chanyeol terasa jauh sekarang. Tidak seperti dulu pria itu terasa begitu dekat.

Tanpa sengaja mata wendy terpaku pada sebuah scarf berwarna violet yang berada diatas meja kecil chanyeol. Jelas wendy tahu itu bukan miliknya, dadanya sedikit terasa sesak saat memikirkan siapa pemilik scarf ini. Apakah scarf ini milik gadis yang berada dalam pikirannya? Wendy tentu sedikit shock melihat scarf seorang wanita berada dikamar chanyeol, mengingat kekasihnya tidak memiliki scarf sepert ini, hingga wendy merasakan kehadiran chanyeol yang kini sudah masuk kekamarnya untuk mengatakan jika makanan telah siap. Namun chanyeol sedikit tertegun melihat ekspresi wendy yang terlihat gelisah. Dan chanyeol sudah menerka-nerka hal apa yang wendy lihat hingga membuat ekspresi gadis itu berubah seperti ini.

“scarff milik siapa ini?” Tanya wendy menatap chanyeol dengan manik mata yang sedikit memerah. Oh jangan sampai air mata gadis itu kembali menetes seperti 4 tahun lalu dan membuat sebuah adu mulut panjang yang berakhir dengan diam satu sama lain selama berminggu-minggu. Chanyeol tidak mau mengulang hal menyaktitkan itu.

“Itu..” ujar chanyeol tertahan. Ia tidak yakin apa yang akan ia bilang ini akan disukai oleh kekasihnya. Dilihat dari ekspresi wendy pun chanyeol sadar betul wendy mengetahui apa yang berusaha ditahan oleh chanyeol.

“Yeol?” ujar wendy pelan membuat chanyeol langsung menatapnya.

“Milik rae na” ucap chanyeol cepat membuat wendy lolos mengeluarkan air matanya namun ia mengusapnya secepat mungkin. Jangan tanya mengapa ia menangis hanya gara-gara sebuah sacrf. Tidak sesederhana itu, ini bukan hanya karena scarf violet ini. Melainkan karena pemilik scarf ini yang membuat wendy meloloskan air matanya begitu saja.

“Sayang aku bisa jelaskan” ucap chanyeol mendekat namun wendy memundurkan langkahnya.

“Ia berada diapartementmu” Wendy menatap chanyeol yang kini sedang merangkai kalimat untuk menjelaskan kejadian sesungguhnya.

“Benar tapi-“

“Kalian tidur bersama?” Sela wendy menangis dengan rasa sesak yang begitu menyakitkan dadanya.

“Demi Tuhan tidak seperti itu sayang. Aku mohon dengarkan aku” kata chanyeol mendekati wendy dan memeluknya dengan erat. Tidak peduli tangis wendy yang semakin memecah, yang jelas chanyeol hanya ingin gadis itu tahu satu hal. “Aku tidak mungkin melakukan hal itu. Rae na memang berada diapartementku tapi tidak terjadi apa-apa. Dan ya, rae na tidur disini tapi dikamar depan itu juga karena ia memohon padaku, kau tahu aku tidak bisa menolak keinginannya” jelas chanyeol agar kekasihnya itu mengerti. Wendy menahan sakit itu, Sedikit lebih baik mereka tidak tidur bersama namun tetap saja chanyeol kekasihnya dan seorang gadis tidur diapartementnya. Tidak! Mungkin wendy lupa jika chanyeol sekarang bukan hanya untuknya. Wendy harus tahu jika saat ini chanyeol tengah berada diantara ia dan gadis bernama rae na itu. Namun tetap saja rasanya masih begitu perih didalam hatinya.

“Jangan menangis. Kau tahu aku sangat benci melihat kau menangis, apalagi karenaku” ujar chanyeol lembut kemudian mengecup puncak kepala wendy agar gadis itu tenang.

“Kenapa hanya aku yang harus mengalah?!. Mengapa hanya aku yang merasa menjadi penjahatnya?” Tanya wendy sedih dan mengeratkan pelukannya pada chanyeol. Jangan bilang jika chanyeol tidak mengerti perasaan rapuh gadis itu, sungguh chanyeol sangat paham akan apa yang wendy rasakan. Namun ia juga berada dalam pilihan yang sangat rumit. Ia kadang berfikir untuk menghilang ke antah berantah karena sulitnya hidup yang ia jalani.

“kau bukan penjahat tapi akulah penjahatnya disini, aku mohon jangan katakan seperti itu. Kau tahu aku hanya mencintaimu. Maaf membuatmu merasa seperti ini, tapi aku mohon tetaplah disisiku karena aku membutuhkanmu sayang” ucap chanyeol dan membenamkan ciumannya pada kepala wendy.

Gadis dikursi roda itu menggiring kursi rodanya menuju taman belakang. Tangan kecil itu mengambil selang yang sudah terpasang dikeran air lalu menyiram bunga-bunga indah ditaman belakang rumah itu. Terkadang ia tersenyum melihat indahnya warna-warni bunga rasanya hatinya ikut menghangat. Gadis bernama Rae na itu sangat asik hingga tidak menyadari ada sorot mata yang melihatnya dari balik pintu. Rae na asik dengan dunianya menyiram bunga-bunga, karena memang ia begitu menyukai bunga, hingga saat orang yang melihatnya itu berada dibelakangnya pun ia belum menyadarinya.

Sosok pria yang tengah tersenyum menatap rae na pun memilih memeluk tubuh mungil rae na dari belakang membuat rae na terkejut akan hal tiba-tiba itu. Namun rae na langsung tersenyum dikala mencium aroma tubuh pria itu. Saat ini pria itu mendaratkan sebuah kecupan manis dipelipis rae na membuat kehangatan untuk tubuh mungil gadis itu.

“Kau tidak merasa dingin diluar sini?. Ini sudah hampir malam dan udaranya semakin dingin” ujar sang pria sembari memperbaiki scarf milik rae na untuk lebih menghangatkannya.

“tidak jika ada kau yang memelukku” ucap rae na tersenyum.

“Ayo masuk” ujar pria itu sembari mendorong kursi roda rae na untuk memasuki rumah. Dan rae na menurut

Pria itu mendorong kursi roda itu hingga menuju ruang tengah. Lalu pria itu mengambil posisi duduk disofa dan membalikkan kursi roda rae na untuk menghadapnya, karena ia ingin menatap wajah cantik gadis itu sedikit lama.

“Kau sudah dengar jika wendy sudah pulang dari canada?” Tanya lelaki bernama Sungjae itu dan rae na mengangguk kecil.

“Eommanim memberitahuku” ujar rae na lalu menghela nafasnya. Lelaki itu tahu meski rae na tersenyum dalam hati kecil gadis itu ia memiliki sejuta rasa sakit mengetahui sang puteri telah kembali dan akan mengambil kembali sesuatu yang rae na miliki.

“Rae na-ah..” panggil Sungjae menggenggam tangan rae na.

“Aku baik-baik saja sungjae-ah” rae na berusaha berbohong namun Sungjae tahu kebohongan itu. Karena rae na tidak bisa berbohong didepannya. Sungjae selalu tahu apa pun mengenai rae na, ia menghafal apa pun berbau rae na. Rae na pun tahu setiap kali ia berbohong Sungjae akan selalu tahu. Namun biarlah sungjae menyimpannya dalam hatinya sendiri.

“Baiklah, lebih baik kau bersiap untuk makan malam. Karena mereka akan datang” ujar sungjae tersenyum dan melangkah pergi meninggalkan rae na yang terdiam ditempatnya. Ia tahu betul siapa mereka yang Jin maksud. Siapkah hatinya nanti melihat keduanya datang bebarengan?.

19.00 p.m

Sebuah mobil Audi R8 berwarna merah tengah memasuki pekarangan rumah mewah. Ya, park chanyeol adalah sang pemilik mobil itu dan saat ini ia tengah pulang kerumah aslinya. Kediaman keluarga Park. Chanyeol pun turun dari mobil setelah memberikan kunci mobil itu pada sang seorang securitu lalu membuka pintu untuk seseorang yang tidak lain adalah wendy. Gadis dengan mini dress sepaha berwarna hitam membuatnya semakin terlihat anggun dan elegan. Chanyeol menggenggam jemari wendy untuk memasuki rumah besar itu. Wendy tersenyum menatap rumah yang tidak lagi ia kunjungi selama 4 tahun ini.

Hari ini keluarga park mengadakan makan malam memang dengan perihal menyambut wendy yang sudah kembali. Seorang pelayan membuka pintu besar itu dan chanyeol serta wendy langsung memasuki rumah tanpa berfikir panjang. Para pelayan yang berjejer menunduk saat melihat chanyeol dan wendy memasuki rumah bahkan diantara pelayan-pelayan itu ada yang tengah berbisik-bisik dibelakang saat melihat wendy yang sudah kembali dari Canada.

Kini chanyeol dan wendy sampai diruang tengah dimana tn. Dan ny. Park berada. Ny. Park langsung tersenyum senang saat melihat wendy bersama chanyeol datang. Ibu chanyeol itu sontak berdiri dan segera memeluk gadis bermarga Son itu layaknya wendy anak perempuannya yang tengah kembali pulang. Tapi memang benar wendy sudah dianggap sebagai anak oleh kedua orang tua chanyeol.

“Anyeonghaseyo eommanim” seru wendy pada ny. Park sambil menunduk dan memperlihatkan senyum terbaiknya.

“Omo.. puteriku semakin cantik saja. Bagaimana kabarmu sayang? Dan keluargamu dicanada?” Tanya ny. Park sambil memegang tangan wendy.

“Seperti yang eommanim lihat, aku baik-baik saja dan keluargaku juga baik-baik saja, bahkan appa dan eomma menitip salam untuk kalian. Dan ah ini untuk eommanim” kata wendy sembari menyerahkan sebuah bingkisan kecil pada ny. Park. Penasaran akan isinya segera ny. Park membuka isi tas kecil itu dengan wajah yang penuh tanda tanya. Ny. Park terkejut bukan main saat melihat didalam tas itu berisi sebuah kalung emas putih dengan bandul permata berwarna merah. Dan itu sangat indah.

“Astaga kau tidak perlu memberiku ini sayang” ucap ny. Park menolak

“Ania, eommanim harus menerimanya karena aku membelinya dari hasil penjualan lukisanku selama 4 tahun” kata wendy sambil memicingkan matanya pada ny. Park membuat ny. Park tertawa. Meski wendy berasal dari keluarga berada. Namun gadis itu juga mandiri dan tidak mau bekerja keras, itulah yang membuat chanyeol tergila-gila padanya. Ia bahkan juga bekerja dicanada meski sedang sekolah, wendy melukis dan menjual hasil lukisan itu pada sebuah pameran.

“Lalu kau tidak membawa apa pun untuk abeonimmu ini?” Seru seorang pria paru baya yang kini sudah memposisikan tubuhnya disamping ny. Park lalu menjewer telinga wendy membuat gadis itu meringis kesakitan

“appa hentikan” ucap chanyeol berusaha melepaskan tangan ayahnya itu dari telinga wendy.

“maafkan aku abeonim. Tapi aku hanya membelikan untuk eommanim, namun jangan khawatir karena lain kali aku pasti akan membelikan sesuatu untuk abeonim” janji wendy sembari tersenyum.

“Ck! Menyebalkan!” Cibir tn. Park pada wendy membuat wendy mempoutkan bibirnya dan terlihat menggemaskan. Sontak itu membuat mereka tertawa bersama.

Keceriaan itu berakhir saat mata wendy melihat sungjae dan Rae na yang menghampiri mereka. Sungjae tersenyum pada wendy dan wendy membalas senyuman itu. Hingga saat mata wendy beradu pandang dengan netra milik rae na dengan sebuah senyuman yang wendy utarakan begitu tulus untuk rae na namun gadis lumpuh itu memalingkan wajahnya dan tidak membalas senyuman wendy. Seperti menahan air mata yang ingin terjatuh saat melihat wendy. Bahkan setelah 4 tahun wendy memberikan kebebasan padanya sikap gadis itu masih sangat dingin padanya. Chanyeol menatap hal itu ikut berfikir, mengapa semua menjadi sesulit ini?. Kini atmosfir yang terjadi diantara keduanya sangat canggung.

“Apa kabar nona wendy?” Ucap sungjae sembari merangkul kekasih chanyeol itu lalu mengusap kepalanya dengan pelan. Sungjae berusaha mencairkan suasana canggung itu. Semua orang tahu hal tersebut.

“Ah sakit sungjae!!” Ucap wendy berusaha melepaskan tangan sungjae dari lehernya.

“Park sungjae! Lepaskan wendy, kau tidak lihat dia kesakitan?” Seru ny. Park pada putera bungsunya itu dan sungjae hanya mendengus kesal lalu melepaskan rangkulannya. Wendy memperbaiki rambutnya yang berantakan lalu memukul kepala sungjae dengan keras. Wendy kemudian kembali menatap rae na yang dari tadi diam tidak mengucapkan apa pun padanya, meski hanya ucapan selamat datang, wendy pun mengalah dan memilih mendekati rae na lalu memberikan sebuah tas kecil untuk gadis itu, semacam oleh-oleh kecil darinya. Rae na menerimanya namun mengapa bagi  wendy pemberiannya itu terasa ingin dibuang oleh rae na? Atau hanya perasaannya saja? Ya, itu hanya perasaanmu saja wendy.

“Apa kabar rae na-ah?” Ujar wendy sembari melemparkan senyuman paling tulus yang ia bisa berikan untuk gadis cantik didepannya itu.

“Aku baik-baik saja, bagaimana denganmu?” Kini rae na mencoba memperlihatkan senyumannya meski didalam hatinya berteriak agar suasana ini cepat berlalu. Karena sejujurnya ia sangat tidak bisa menghadapi wendy, rae na merasa ia semakin tersudutkan jika seperti ini.

“Aku sangat baik. Kudengar kau sedang mencoba-” ucapan wendy terpotong kala gadis bernama rae na itu langsung pergi begitu saja. Wendy menghela nafasnya, apa sebenarnya yang salah dari wendy? Jika bisa dibilang wendylah disini yang banyak berkorban. Tapi mengapa wendy merasa menjadi gadis yang merenggut kebahagiaan rae na?

sungjae pun mencoba menyusul rae na namun chanyeol menahan tangan sungjae membuat adik lelaki chanyeol itu menatap pada hyungnya. Seperti mengerti maksud pandangan chanyeol yang ingin menyusul rae na, sungjae hanya mengangguk paham. Chanyeol kemudian berjalan melewati wendy. Tidak ada niatan wendy menahan tangan chanyeol karena ia tahu chanyeol hanya mencoba menenangkan rae na, wendy tahu itu. Ny. Park mendesah dan mengajak wendy untuk duduk dimeja makan agar melupakan kejadian ini.

Chanyeol pun menyusul rae na yang kini berada dikamarnya, perlahan chanyeol membuka pintu kamar rae na dan melihat gadis yang tengah mengarahkan kursi rodanya pada arah jendela kamarnya. Pandangan yang lurus kedepan dengan tatapan kosong tidak berarti. Chanyeol mendekatinya dan memposisikan tubuhnya berlutut didepan rae na sembari meraih tangan rae na dan mengelusnya sayang.

“kau tahu? Apa yang paling aku sukai saat menatapmu seperti ini?” ujar chanyeol kemudian menatap lekat manik mata rae na yang kini juga beradu pandang dengan netra chanyeol. Saling berpandangan cukup lama hingga rae na menjatuhkan cairan bening dari Sudut matanya. Tangan besar chanyeol terulur menghapus air mata rae na.

“aku paling suka dengan senyummu” kata chanyeol lalu mencium kening rae na dengan sayang. Meski chanyeol tidak yakin apa memang ia tulus melakukan hal ini? Namun ia hanya mau rae na tahu jika chanyeol berusaha semaksimal mungkin agar gadis itu tidak bersedih. Mungkin ia melakukan semua dalam kebohongan. Tapi setiap kata yang keluar dari bibir chanyeol adalah benar. Ia tidak pernah berbohong saat mengatakan menyukai senyuman rae na. Kebohongannya adalah perasaannya sendiri.

“aku tidak bisa melihatmu bersamanya yeol. Sungguh itu menyakitkan” kini rae na terisak dengan air matanya yang terus mengalir. Segera chanyeol menghapus air mata gadis itu.

“kau pun tahu aku tidak akan pernah melepasnya bahkan untuk berfikir melepaskannya pun aku tidak mampu, jadi kumohon mengertilah jika aku tidak bisa memilih” ujar chanyeol menunduk rasanya ia lelaki brengsek yang pernah ada. Ia tidak bisa memilih dan memang itu benar adanya, baginya lebih baik ia lenyap dari dunia ini dari pada diposisikan untuk memilih sesuatu yang membuatnya merasa sangat lemah dan rapuh.

“kenapa? Apa karena ia sempurna dan aku cacat?” tanya rae na cepat membuat chanyeol mendongak dan langsung menggeleng dengan cepat. Astaga apa yang rae na pikirkan hingga chanyeol bisa berfikir begitu?

“tidak! Astaga tidak seperti itu sayang. Aku bahkan tidak memperdulikan bagaimana pun fisikmu, bagiku kau tetaplah gadisku yang sempurna. Tapi bisakah kau mengerti posisiku?. Baik kau atau pun wendy adalah hal terpenting dalam hidupku. Bisakah semuanya mengalir seperti ini? Kau pun tahu aku tidak akan meninggalkanmu” kata chanyeol mengusap pipi rae na dengan lembut. Rae na merasa bodoh, bagaimana mungkin ia semakin mempersulit chanyeol? Ia hanya bisa memberikan beban untuk chanyeol, ia tidak berguna. Chanyeol yang melihat gadis itu menangis langsung menarik tubuh gadis itu dalam dekapannya. Hingga dirasanya rae na tidak lagi menangis chanyeol melepaskannya dan menatap wajah sembab habis menangis milik rae na dan detik selanjutnya chanyeol mendekatkan bibirnya pada bibir rae na. Mereka berciuman, chanyeol melumat lembut bibir rae na dan dibalas oleh gadis itu. Namun tahukah jika saat ini chanyeol sangat tertekan mecium rae na? tidak! Rae na tidak tahu akan hal itu.

Sungjae berjalan menuju kamar rae na karena orang tuanya mneyuruh memanggil chanyeol dan rae na kemeja makan karena makan malam akan segera dimulai. Tangan sungjae terulur membuka pintu itu namun baru separuh memasukkan tubuhnya melihat kedalam kamar itu, sungjae terbelalak kaget melihat chanyeol dan rae na yang sedang berciuman. sungjae merasa seperti orang bodoh melihat keduanya. Bahkan ciuman itu berangsung lama membuat jantung sungjae memompa lebih cepat, mengapa ia yang gugup?.

“apa yang kau lakukan didepan pintu? Mengapa tidak memanggil mereka?” seru seseorang membuat sungjae langsung melonjak kaget dan menoleh kebelakang. Matanya lebih melebar melihat wendy disana dan terlihat penasaran dengan tingkah aneh sungjae. Demi Tuhan untuk apa lagi wendy menyusul sungjae kekamar rae na? Jika seperti ini bukankah keadaan akan semakin sulit? Bagaimana jika wendy memaksa masuk melihat kedalam. Wendy pasti akan pingsan melihat keduanya tengah hanyut dalam ciuman memabukkan. Oh membayangkannya saja sungjae sangat takut.

“o.oh?. Ah aku sudah memanggil mereka dan mereka sedikit lagi keluar jadi ayo kita kembali” bohong sungjae pada wendy dan berharap gadis itu menurut padanya dan ikut kembali kemeja makan bersamanya. Bisakah sungjae berharap ia tidak berada dikamar rae na tadi? agar ia tidak pusing merangkai kebohoongan pada wendy. Jujur tatapan wendy sangat mencurigainya saat ini dan membuatnya sulit mengubah raut wajah gugupnya. Oh bumi tolong telan dia sekarang.

“kau sangat aneh. Apa yang kau sembunyikan hm?” ujar wendy kemudian hendak masuk kedalam namun sungjae menahan tangan wendy dengan cepat lalu menariknya sedikit menjauh dari kamar itu. Namun wendy yang merasa aneh dengan sikap sungjae melepaskan tangan sungjae dengan paksa dan melangkahkan kaki untuk memasuki kamar rae na karena penasaran apa yang coba disembunyikan darinya. Namun saat tangan wendy memegang gagang pintu sungjae langsung membalikkan tubuh wendy menatapnya lalu menarik gadis itu dalam pelukannya. Wendy terkejut dan hendak meronta melepaskan dekapan sungjae. Sungguh sungjae tidak tahu apa yang harus ia lakukan lagi untuk menahan wendy masuk. Ia pun memeluk wendy juga tidak dengan perencanaan, semua terjadi begitu saja karena ketakutannya.

“yak! Apa yang kau lakukan Park sungjae! Lepaskan aku!” bentak wendy mendorong tubuh sungjae menjauh namun sungjae tidak bergeming dari tempatnya dan tetap mendekap tubuh wendy. Bahkan ia semakin mengeratkan pelukan ditubuh gadis itu. Menyalurkan ketakutannya. Entah mengapa ia begitu takut saat ini?

“aku mohon jangan lepaskan pelukanku. Aku tidak mau kau menangis, bahkan jika bisa eratkan pelukanmu padaku” bisik sungjae membuat wendy sadar apa yang dimaksud namja itu padanya. Ia pun bisa menebak apa yang berusaha disembunyikan sungjae darinya, kini air mata wendy lolos membasahi kaos putih milik sungjae. Dan sunjae bisa merasakan kaosnya yang basah karena air mata gadis itu.

“bisakah kau memelukku lebih erat dari ini? Aku takut akan berusaha berbalik dan masuk kedalam” bisa didengar sungjae suara getar wendy yang terasa sangat pelan bahkan hampir tidak terdengar. Namun sungjae mendengarnya dengan jelas, ia selalu bisa mendengar suara wendy. Dan akhirnya sungjae mengeratkan pelukannya pada wendy dan wendy ikut memeluk sungjae dengan erat.

-TBC-

 

Jeng-jeng, author angeline disini. Bagaimana dengan ff alay, absurd dan kurang bahan ini? Baguskah? Kayakanya sih enggak yah.#plak. Dan ingat raeders, jangan lupa ninggalin jejak kaki yah wkwk. Kalian harus tahu bahwa setiap komenan kalian berharga loh #lebay. Don’t be a silent reader. Komenan kalian itu membuat author lebih baik dalam menulis.

Baiklah sampai jumpa di chapter 2 yah. Anyeong! (dari istri chanyeol)

Iklan

29 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] ENDING SCENE (Chapter 1)

  1. Aku baru offline cerita ini dan baru baca chapter 1 soalnya sinyal lemot jadi bar bisa komentar .
    Aku bingung sama ceritanya..
    Tapi walaupun bikin bingung tapi bikin penasaran…

  2. anjir ceye galau disini mau milih wendy ato rae na dan gua bingung rae na itu sebenernya siapanya ceye dah pacarnya kayaknya bukan deh adeknya apalagi gebetan? bisa jadi. bingung dah. baru baca nih ff seru

  3. Yaampun kebetulan nemu ff yg genrenya sad emang lagi pengen baca nih , btw kenalin ka aku pembaca baru disini baru beberapa hari ngunjungin wordpress ini dan hai hai sekarang aku disini buat baca karya kaka jadi izin baca next chap ya ka

  4. Sedih bgt :’ mereka knpa sih sbnernya?? Knpa bsa chanyeol pnya 2 cewek gtu? Sma” dket ama kluarganya jga, n raena jg kyanya tnggal d rumah chanyeol yaa 😥
    pnasaran bgt gmna sbnernya keadaan mreka :’
    chanyeol cintanya sma wendy kn?? Aq yakin bgt, soalnya dy trtekan wktu nyium raena.. Penasaran bgt >< neexxxtt…..

  5. Baru part awal udah sedih bcanya..
    Gimana part selanjutnya? Pasti tambah seru..
    Sepertinya sangat sakit jadi Wendi.
    Baru awal spertinya udah bnyak yg ia korbankan..
    Ditunggu kelanjutannya author
    Jangan lama* ya
    Heheheeh
    Fighting 💪 berkaryanya

  6. Cerita nya bagus cuma terlalu terburu buru ke konflik nya .. jadi kurang dapet feel nya..
    Seharusnya diceritain dulu gimana kedatengan nya raena di kehidupannya chanyeol dan wendy

    Maaf ya thor bukannya aku sok ngajarin hehe 😅

  7. keren tapi ak takut patah hati tiap kali baca ff yg berlatar perselingkuhan atau apalah yg pokok ny ada org ketiga*abaikan. di sini kaya ny wendy harus jadi pacar yg sabar deh. mangat author ngelanjutin ny…

  8. Baru part awal udah dibkin sedih.. 😭 btw pasti sakiiitt bnget jdi wendy hrus rela mmbagi cintany pdahl yg asli nggk rela..
    Itu knpa jga rae na pake ciuman a chanyeol..kog gue kezell sih thor lihat mreka ciuman diawal part ini..dan sebnarny rae na tuh sakit apa? Dan alasany tuh knpa kig chanyeol mau aja brbgi cinta dngn dia

    • Aduh author juga yg nulis kiss scenenya kezeelll bet😂😂 #plak..
      Ditnggu yah chapter selanjutnya, pasti bakalan keungkap kok satu persatu😂 wkwkwk…
      Terimakasih💕

  9. Mewek kan jadinya…
    Author buat para reader nangis jdinya saking kebawa perasaan baca nya… Padahal baru chapter awal. Sumpaa ga bisa bayangin gimana jadi Wendy😭 aku penasaran sebenarnya Raena itu siapa? Kok bisa tinggal di rumah keluarga Park?

    Ditunggu chap selanjutnya yaa😂

  10. Kok sedih ya bacanya, pdhl baru part awal loh. Gak bs byangin kalo ada diposisi kek gitu, guling” kali ya ane #Lebay 😀 . Okeh ditunggu chap selanjutnya

  11. Summarry nya aja udah bikin gue ngebayangin gimana jadinya ada cerita kek gini? Ya ampun rasanya gue pengen teplak palanya si raena sama chanyeol aja gils. Tp kenapa sih dia gak bs lepas dr raena? Wah penasaran bgt sumpah.
    Ditunggu lanjutannya^^

    Salam kenal ya,
    Rahayk

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s