[EXOFFI FREELANCE] dream – chapter 29

DREAM - CHAPTER 29.jpg

 

DREAM  –  CHAPTER 29

[ (It’s Not) FINE ~ The Last Chapter]

 
Author: Azalea
Cast : Bae Suzy (Miss A), Byun Baekhyun (EXO), Kim Sejeong (IOI), Kim Myungsoo (Infinite)
Genre : Romance, Sadness.
Rating : PG-17
Length : Chapter
Disclaimer : Cerita ini murni dari otakku sendiri. Kalian juga bisa baca ff ku ini di wattpad. Nama id ku mongmongngi_b, dengan judul cerita DREAM. Jangan plagiat, ataupun me re-upload ff ini tanpa sepengetahuanku.

 

Credit poster by RAVENCLAW

 

 

Cerita Sebelumnya : CHAPTER 1 ( DREAM )  ->  CHAPTER 2 (REAL?)  ->  CHAPTER 3 (DEJA VOO)  ->  CHAPTER 4 (FATE) -> CHAPTER 5 (설레다 [ SEOLLEDA – BERDEBAR ])  – > CHAPTER 6 (LOCKVOGEL – PEMIKAT) -> CHAPTER 7 (SWEET MORNING) -> CHAPTER 8 (VERWIRRT) -> CHAPTER 9 (LÜGE – KEBOHONGAN) -> CHAPTER 10 (INSTINKT – INSTING) -> CHAPTER 11 (DINNER) -> CHAPTER 12 (BAEKHYUN STORY)  -> CHAPTER 13 (JEJU DO – JEJU ISLAND) -> CHAPTER 14 (GEHEIMNIS – RAHASIA) -> CHAPTER 15 (SUNRISE) -> CHAPTER 16 (BEAUTIFUL LIAR) -> CHAPTER 17 (JEALOUS) -> CHAPTER 18 (KIM YERI) -> CHAPTER 19 (JOURNEY) -> CHAPTER 20 (MISSING YOU) -> CHAPTER 21 (SECOND WOMAN) -> CHAPTER 22 (WEDDING DAY) -> CHAPTER 23 (KIM SEJEONG) -> CHAPTER 24 (HURT) -> CHAPTER 25 (ENGAGEMENT) -> CHAPTER 26 (CONFESSION) -> CHAPTER 27 (SECOND MARRIAGE) -> CHAPTER 28 (IF YOU LOVE ME)

3 tahun kemudian….

Entah harus berapa lama lagi Suzy berpura-pura semuanya baik-baik saja. Setiap hari selama tiga tahun belakangan ini ia habiskan dengan perasaan yang tidak menentu. Kadang ia begitu merindukan Baekhyun, kadang juga ia begitu membenci pria yang sudah menjadi suaminya itu. Satu tahun lebih sudah Baekhyun mengingkari janjinya, dan ia bagaikan hilang ditelan bumi selama ia tinggal dengan Sejeong. Sesekali Suzy hanya bisa melihatnya dari majalah bisnis, dan itu belum bisa mengobati rasa rindu Suzy padanya.

Suzy melangkahkan kakinya keluar dari lobby perusahaan ayahnya. Terpaan angin sore membuat ia menghirupnya dalam-dalam dan membawa kesegaran tersendiri padanya yang selama seharian ini ia habiskan di ruangan tertutup.

Tubuh Suzy tiba-tiba membeku saat ia menatap ke seberang gedung perusahaannya. Jantungnya berpacu dengan sangat cepat tanpa bisa dicegahnya. Suaranya seakan hilang di tenggorokkannya. Dan air matanya tiba-tiba menetes saat melihat senyuman yang begitu dirindukannya itu.

Sosok yang begitu dirindukannya itu saat ini sedang berdiri di samping mobil mewahnya sambil menatap lekat ke arah Suzy dengan senyuman tulus tercetak jelas diwajah tampannya. Pertambahan usia seakan tidak memakan ketampanannya. Wajahnya masih sama seperti terakhir kalinya mereka bertemu. Tidak banyak perubahan, hanya saja semakin dewasa dan matang.

Setelah kesadaran kembali menghantamnya, Suzy melangkahkan kakinya perlahan menuju tempat Baekhyun berdiri. Tatapan mereka tidak pernah terlepas sama sekali. Baekhyun yang sedang memakai celana jeans dengan atasan berupa jas hijau tua yang di dalamnya terdapat kaos putih pendek. Rambut coklat Baekhyun diganti warna dengan hitam, dan dipotong sedikit lebih pendek dari sebelumnya. Ia membelah pinggir rambutnya dengan salah satu dinaikkan ke atas.

Baekhyun menegakkan tubuhnya saat Suzy sudah berdiri tepat di depannya. Tidak disangkanya sambutan yang diberikan Suzy akan kedatangannya adalah sebuah tamparan yang cukup keras di pipi kanannya. Bukan sebuah kecupan di pipi atau pelukan hangat yang diberikan istrinya itu, tapi sebuah tamparan panas, dan Baekhyun menerimanya dengan sukarela karena memang ia pantas mendapatkannya setelah ia melanggar berbagai janji yang pernah diucapkannya pada Suzy tiga tahun lalu.

“Berengsek!!” umpat Suzy menyadarkan Baekhyun dari rasa terkejutnya. Mereka saling pandang, dan Baekhyun dapat melihat jejak air mata di mata indah Suzy. Tanpa berkata-kata lagi, Baekhyun langsung membawa Suzy ke dalam pelukannya. Sungguh ia sangat merindukan wanita yang berada di dalam pelukannya itu.

“Maafkan aku.” bisik Baekhyun tepat di telinga Suzy saat Suzy masih saja meronta meminta untuk dilepaskan pelukan mereka. Tapi sekuat Suzy memberontak, sekuat itu pula Baekhyun mengeratkan pelukannya.

“Buat apa kau kembali? Seharusnya kau tidak usah kembali saja!” ucap Suzy sambil memukul punggung Baekhyun.

“Maafkan aku.” timpal Baekhyun yang membuat Suzy makin menangis kencang di pelukkannya. Suzy terus menangis di pelukkan Baekhyun sampai ia merasa lega dengan menumpahkan segala perasaannya terhadap Baekhyun selama ini lewat tangisan.

Dirasa Suzy sudah lebih baik, Baekhyun meregangkan pelukannya. Ia menatap wajah sembab Suzy yang menunduk. Jari-jemari Baekhyun merangkum wajah Suzy, dan menghapus sisa-sisa air mata di pipi Suzy. Bahkan Baekhyun mengecup sudut-sudut mata Suzy yang tergenang air matanya. Perlakuan Baekhyun yang lembut itu membuat hati Suzy luluh seketika. Melupakan betapa sakit hatinya selama ini.

Baekhyun mengecup kening Suzy lama sebelum mengeluarkan suaranya. “Kita pulang.” Suzy menjawabnya dengan anggukkan kepala karena ia merasa suaranya masih tercekat. Baekhyun menggiring Suzy ke arah pintu penumpang dan membukakan pintunya agar Suzy dapat memasukinya. Lalu ia berjalan ke sisi lain mobilnya, menyalakan mesin mobil, melajukan mobilnya menuju tempat yang menjadi tujuannya.

Selama diperjalan, mereka tidak bersuara sama sekali. Baekhyun dan Suzy fokus dengan pikiran masing-masing sampa mereka tidak menyadari jika sudah sampai di depan sebuah rumah mewah tapi tidak terlalu besar.

Suzy menatap ke sekeliling, lalu ia beralih untuk menatap Baekhyun dengan kening mengerut seakan meminta penjelasan tentang rumah siapa ini. Baekhyun tersenyum simpul, lalu mengusapkan jemarinya pada tangan Suzy yang berada di pangkuan wanita itu.

“Aku akan menjelaskannya di dalam. Ayo keluar.” Ucapnya sebelum keluar dari dalam mobil dan disusul oleh Suzy. Baekhyun mengulurkan tangannya yang disambut ragu-ragu oleh Suzy. Mereka berjalan memasuki rumah tersebut dengan pikiran Suzy masih bertanya-tanya rumah siapa ini. Begitu pintu rumah Baekhyun buka, tubuh Suzy terkesiap saat mendengar ucapan Baekhyun. “Selamat datang di rumah kita.”

Suzy menatap bingung Baekhyun, lalu beralih ke sekeliling ruangan yang sedang dipijaknya. Baekhyun membawa Suzy untuk duduk di salah satu sofa di ruang tamu tersebut, lalu mendudukkan dirinya sendiri di samping Suzy. Baekhyun mempelajari ekspresi Suzy saat istrinya itu belum mengucapkan apapun dari mulutnya mengenai rumah baru mereka ini.

“Katakanlah sesuatu.” Pinta Baekhyun sambil mengelus lembut pipi Suzy membuatnya mengalihkan perhatiannya pada Baekhyun. “Kau menyukainya?”

“Ini rumah siapa?”

Baekhyun semakin tersenyum lebar saat Suzy masih saja menanyakan kepemilikan rumah ini. “Rumah kita. Rumah masa depan kita.”

“Benarkah?” Baekhyun menganggukkan kepalanya. “Tapi bagaimana dengan penthousemu?”

“Penthouseku masih ada. Aku hanya ingin memulai sesuatu yang baru denganmu dari sesuatu yang baru juga.” Jelas Baekhyun sambil mengecup punggung tangan Suzy. “Kau suka?”

Suzy melengkungkan bibirnya sebagai jawaban, dan Baekhyun pun ikut tersenyum ke arahnya. “Rumahnya indah, tidak terlalu besar tapi tidak terlalu kecil juga. Aku menyukainya. Terima kasih.” Balas Suzy.

“Syukurlah.” Ucap Baekhyun penuh kelegaan. “Aku akan menunjukkan kamar utamanya. Ikut aku.” Baekhyun membawa Suzy semakin masuk ke dalam rumah. Menaiki anak tangga menuju lantai dua tempat di mana kamar utama berada. Di lantai dua hanya ada dua kamar, dan salah satunya merupakan kamar utama yang pintunya Baekhyun buka.

Sebuah kamar tidak terlalu besar dengan ranjang king sizenya terpampang jelas di mata Suzy. Kamar mandi dalam lengkap dengan jaccuzi dan walk in closetnya berada di sudut ruangan. Dua buah pintu kaca besar menghubungkan kamar dengan balkon yang apabila dibuka langsung menuju tangga ke arah kolam renang yang ada di bawah.

“Kapan kau mempersiapkan rumah ini?”

“Tidak lama. Mungkin tiga tahun yang lalu.”

Suzy terdiam saat mendengar kata tiga tahun yang lalu, karena baginya tiga tahun belakangan ini seperti hidup di dalam neraka. Sungguh mengerikan dan menyakitkan walau sekedar untuk mengingatnya.

“Kau baik-baik saja?” tanya Baekhyun saat ia merasakan ada yang salah dengan Suzy. Bukannya menjawab pertanyaan Baekhyun, Suzy malah melangkah mendekati pintu kaca dengan pikiran yang melayang ke mana-mana.

“Berbicara tiga tahun lalu, ke mana saja kau selama itu?” tanya Suzy dengan lirihnya membuat Baekhyun semakin merasa bersalah.

Baekhyun berdeham untuk melancarkan tenggorokkannya yang tiba-tiba terasa kering. “Maafkan aku tidak menghubungimu selama tiga tahun belakangan ini.” Suzy masih tidak membalikkan badannya, menunggu Baekhyun melanjutkan ucapannya. “Aku takut jika sekali saja aku mendengar suaramu, maka pada detik itu juga aku akan langsung menghampirimu.”

“Sebegitu berharganyakah Sejeong di matamu sampai kau tidak bisa meninggalkannya demi diriku?”

“Kau tahu jawabanku mengenai arti Sejeong dihidupku.”

Suzy membalikkan badannya dan menatap kesal Baekhyun karena lelaki itu selalu saja menjawab dengan alasan klasik yang tidak memuaskan rasa penasarannya. “Tapi aku perlu penjelasan langsung dari dirimu.”

Baekhyun menghembuskan napasnya dalam sebelum ia menjawab pertanyaan Suzy. “Sejeong tidak mau bercerai denganku jadi proses perceraian kami sangat alot. Makanya aku kembali melanggar janjiku padamu.”

“Kau yakin hanya itu?”

“Tentu saja. Aku tidak menutupi apapun lagi dari dirimu. Sekarang aku sepenuhnya milikmu. Tidak terbagi dengan wanita lainnya lagi.” Jelas Baekhyun mencoba menyakinkan Suzy yang sedang menatapnya. Mengukur sejauh mana kebenaran dalam perkataannya.

“Jangan tinggalkan aku lagi. Aku sungguh tidak sanggup jika harus membagimu untuk kedua kalinya. Cukup sekali saja aku membagimu.”

Baekhyun membawa Suzy ke dalam pelukkannya. Mengecup puncak kepalanya untuk menenangkan Suzy. “Ini yang terakhir.” Ucap Baekhyun tulus. Tapi di dalam hatinya ia merasa sangat bersalah pada Suzy karena masih ada satu fakta yang ia sembunyikan dari istrinya itu. Dan Baekhyun berencana untuk tidak mengungkapkannya sampai kapanpun.

~ Flasback ~

“Aku ingin kita bercerai.”

“Tidak. Sebelum kau memberiku keturunan,” tolak Sejeong yang membuat Baekhyun geram. Selalu saja seperti ini jika mereka membicarakan tentang perceraian.

“Kau tahu aku tidak akan pernah memberikanmu anak.”

“Maka kau juga tidak akan mendapatkan tanda tanganku di surat cerai kita.”

“Tidak akan ada anak dalam pernikahan kita karena dalam perjanjian kita sudah sepakat untuk tidak memiliki anak. Jadi berhentilah merengek untuk meminta anak.”

“Kalau begitu kau juga berhentilah meminta cerai padaku.”

Baekhyun dan Sejeong saling menatap tajam berusaha mengintimidasi lawan agar luluh dan mengabulkan permintaan salah satunya. Keheningan sangat mencekam tercipta di antara mereka. Baekhyun adalah orang pertama yang menghembuskan napas dalam sebelum berkata.

“Apa yang memotivasimu untuk memiliki anak dariku?”

“Setelah bercerai denganmu, aku tidak berencana untuk menikah dengan orang lain lagi. Aku terlalu mencintaimu hingga aku tidak sanggup untuk bersama orang lain selain dirimu.”

Baekhyun memperhatikan wajah Sejeong yang sangat serius saat mengatakannya. Inilah jawaban yang menohok hatinya setiap kali mereka sedang berdebat tentang anak. Jika ada yang bertanya apakah Baekhyun mencintai Sejeong? Maka jawabannya adalah iya, ia mencintai Sejeong. Tapi rasa cintanya masih kalah besar dari rasa cintanya terhadap Suzy.

“Aku akan melepaskanmu jika kau mau memberikanmu seorang anak dari hasil pernikahan kita. Aku mohon,” Baekhyun tetap diam masih menunggu penjelasan Sejeong masih keras kepala seperti dulu, “Setidaknya saat kau meninggalkan aku, rasa cintamu tertinggal pada anak kita.”

“Sejeong…”

“Aku tidak ingin kau tinggalkan aku secara keseluruhan.”

“Sejeong…”

“Biarkan aku benar-benar memiliki hatimu yang telah kau berikan padaku. Jangan membawa semuanya,” pinta Sejeong sambil berurai air mata. sesungguhnya ia tidak ingin bercerai dengan Baekhyun, tapi perjanjian tetaplah perjanjian. Walaupun hatinya sakit harus kehilangan Baekhyun, setidaknya ia ingin memiliki sekeping hati yang telah Baekhyun berikan padanya.

“Biarkan aku memilikinya.”

Baekhyun yang sudah tidak tahan pun akhirnya berjalan mendekati Sejeong. Membawanya ke dalam pelukannya, lalu menciumnya mesra seperti biasa yang mereka lakukan. Baekhyun sadar jika hanya inilah yang bisa ia berikan untuk Sejeong sebelum mereka berpisah selamanya. Mereka memadu kasih seperti pasangan yang sedang dimabuk cinta pada umumnya.

Dua bulan kemudian, Sejeong dinyatakan hamil dan itu semua bertepatan dengan dua tahun ulang tahun pernikahan mereka. Baekhyun yang baru tahu jika Sejeong sedang mengandung menjadi tidak tega jika istrinya itu melewati masa kehamilannya seorang diri. Baekhyun pun memutuskan untuk mendampingi Sejeong sampai ia melahirkan dan menyebabkan ia harus melanggar janjinya pada Suzy.

~ Flashback End ~

Baekhyun dan Suzy sedang berbaring di atas ranjang mereka setelah melepas rindu selama tiga tahun tidak bertemu. Baekhyun membelai lembut rambut Suzy dengan pikiran menerawang kemana-mana.

“Kau tidak mendengarkanku?” tanya Suzy menengadahkan kepalanya yang sedang berbaring di dada Baekhyun untuk menatap suaminya itu. Baekhyun hanya tersenyum masam melihat Suzy cemberut padanya.

“Maafkan aku.”

“Sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan?”

Baekhyun mengeratkan pelukannya pada Suzy dan membawanya semakin merapat pada tubuh Baekhyun, “Aku hanya sedang berpikir apa yang harus aku lakukan besok saat bertemu dengan kedua orang tuamu.”

“Mereka sangat marah padamu.”

“Aku tahu.”

“Kau harus bisa meluluhkan hati mereka sebelum bisa membawaku selamanya.”

“Maka dari itu aku sedang menyusun strateginya.”

Suzy tersenyum simpul melihat Baekhyun yang sedang berpikir keras. Lalu ia mengecup dagu Baekhyun karena terlalu gemas melihat wajah seriusnya itu, “Jangan terlalu berpikir keras. Kau seperti pria tua yang punya banyak utang.”

Baekhyun menyipitkan matanya mendengar lelucon Suzy. Bukannya takut, Suzy malah semakin mengeraskan tawanya. Baekhyun yang rindu dengan tawa Suzy pun, tiba-tiba terbesit ide jahil untuk mengerjai istrinya itu. Ia pun menggelitik pinggang Suzy tanpa ampun sampai Suzy tertawa terpingkal-pingkal karena geli. Malam itu, mereka lewati dengan canda tawa yang sempat hilang di keluarga kecil mereka dulu.

Esok harinya Baekhyun dan Suzy berangkat menuju rumah Suzy untuk meminta restu atas pernikahan mereka. Perjalanan selama empat puluh lima menit dilalui dengan canda tawa. Hal ini dilakukan untuk mengurangi ketegangan di antara mereka.

Saat ini Suzy dan Baekhyun sudah berdiri di depan pintu gerbang rumah Suzy. Tangan mereka saling bertautan untuk menguatkan satu sama lain. Beberapa menit kemudian Baekhyun dan Suzy pun mengetuk pintu rumah dan sekarang mereka sedang duduk berhadapan dengan kedua orang tua Suzy yang tengah menatap tajam ke arah Baekhyun.

“Mau apa lagi kau ke sini?”

“Seperti janji saya dulu, setelah saya bercerai dengan Sejeong, saya akan membawa Suzy pergi.”

“Kau pikir bisa semudah itu untuk membawa putriku pergi dari rumah ini?”

“Appa.”

“Diamlah. Biarkan pria yang mengaku sebagai suamimu ini menjelaskan semuanya pada, appa.”

Baekhyun tersenyum menenangkan ke arah Suzy yang terlihat sedikit tegang daripada dirinya. “Saya tahu ini tidak akan mudah. Tapi saya mohon untuk membiarkan saya membahagiakan Suzy setelah selama ini saya menyakitinya.”

“Baguslah jika kau sadar telah menyakiti putriku. Apa yang akan kau lakukan untuk membahagiakannya?”

“Saya akan menjadikannya satu-satunya wanita dalam hidup saya.”

“Hanya itu?”

“Saya tidak punya sesuatu yang istimewa yang akan saya tawarkan dan saya juga tidak ingin berjanji-janji manis lagi jika pada akhirnya saya tetap menyakitinya. Maka dari itu saya hanya bisa mengungkapkan itu.”

“Aku juga tidak suka dengan laki-laki yang hanya bisa mengumbar janji.”

“Apakah anda mengizinkan saya untuk memilikinya?”

“Aku tidak akan menghalangi sesuatu yang membuat putriku bahagia walaupun itu tidak membuatku bahagia sama sekali. Jika memang hatinya ingin kembali padamu, maka aku juga akan memberikan satu kali lagi kesempatan padamu untuk menjaga dan membahagiakannya.”

Suzy dan Baekhyun seketika tersenyum bahagia karena ayahnya tidak mempersulit hubungan mereka.

“Tapi ingat, aku mengizinkanmu bersama dengan Suzy kembali bukan berarti aku telah memaafkan kesalahanmu pada putri dulu.”

“Nde, saya mengerti.”

“Lalu apa rencana kalian selanjutnya?”

“Kami akan mendaftarkan pernikahan kami secara hukum. Setelah itu kami akan melakukan resepsi pernikahan yang sempat tertunda. Saya juga sudah menyiapkan sebuah rumah sebagai rumah masa depan kami.”

“Ternyata kau sudah mempersiapkan semuanya matang-matang. Aku ingin mendengarkan secara detail rencana masa depanmu.”

Setelah mengatakan hal itu pembicaraanmu kembali dilanjutkan. Baekhyun mengungkapkan semua rencana-rencananya di masa depan. Suzy dan kedua orangtunya begitu kagum saat menyimak Baekhyun dengan percaya dirinya mengungkapkan rencana masa depannya dengan begitu detail.

Pembicaraan mereka berlangsung cukup lama, kedua orang tua Suzy sangat puas dengan kemampuan melobi Baekhyun hingga mereka dengan ringannya mengizinkan Suzy untuk pindah hari itu juga. Awalnya Suzy kaget dengan keputusan orang tuanya itu, tapi di sisi lain ia juga bahagia, karena tidak ada lagi yang menjadi penghalang kebahagiaannya saat ini.

Dengan dibantu Baekhyun, Suzy merapikan pakaiannya. Tidak banyak pakaian yang bisa ia bawa saat ini karena semua terlalu mendadak. Suzy hanya membawa barang-barang penting yang sering gunakan saja. Selebihnya ia tinggalkan begitu saja. Setelah selesai makan malam, mereka pamit untuk pulang ke rumah baru mereka. Memulai semuanya dari awal lagi.

Dua tahun kemudian….

Suzy memegang benda di genggamannya dengan perasaan cemas luar biasa. Ia masih belum berani membuka matanya untuk melihat hasil yang akan terlihat di alat tersebut. Setelah cukup tenang, Suzy pun membuka matanya dengan perlahan. Tanpa sadar menghembuskan napas kecewa kala ia masih melihat hasil yang sama yang ia lihat selama dua tahun belakangan ini.

Tuhan masih belum memberi kepercayaan.

Sesalnya dalam hati. Setetes air mata turun dari pelupuk matanya. Hati kecilnya sungguh sedih. Biarpun Baekhyun tidak menekannya untuk segera memiliki keturunan, tapi Suzy tahu, Baekhyun begitu mengharapkannya.

Hatinya bertambah sakit saat dokter selalu mengatakan jika ia wanita normal pada umumnya. Tidak ada tanda-tanda kemandulan dalam dirinya maupun Baekhyun. Semuanya normal. Tapi Tuhan masih saja belum mempercayainya untuk menjadi seorang ibu.

Suara ketukan di pintu menyadarkan Suzy dari lamunannya. Ia buru-buru mengusap sisa air matanya. Membasuh wajahnya untuk menyamarkan jejak tangisannya. Lalu setelah dirasa semuanya normal, ia pun membuka pintu kamar mandinya.

Suzy berusaha tersenyum senormal mungkin kala melihat Baekhyun sedang berdiri di ambang pintu dengan tangan terlipat di dada dan tatapan menilainya. Hembusan napas dalam terdengar keluar dari mulutnya.

“Kau melakukannya lagi?” tanya Baekhyun saat Suzy masih diam mematung seperti tidak ingin membuka suaranya. Sebenarnya tanpa dijawa pun Baekhyun sudah tahu apa yang dilakukan istrinya itu di dalam kamar mandi mereka hampir setiap paginya itu. “Kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri, Suzy-ya.”

Suzy menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju dengan perkataan Baekhyun. “Aku hanya sedang berusaha mencari keajaiban.”

“Sudah kubilang jika aku bisa menunggu lebih lama lagi.  Aku bahkan bisa bersabar menunggu  sepuluh tahun lagi.”

Suzy kembali menggelengkan kepalanya. “Tapi aku tidak bisa. Aku punya masanya, dan jika itu terlewat maka selamanya kita tidak akan mempunyai malaikat kecil di kelurga kita.”

“Aku tidak akan mempermasalahkan hal itu jika memang Tuhan tidak memberikan anak dalam keluarga kita selamanya sekalipun.  Kita bisa mengadopsi seorang bayi untuk mengganti kekosongan itu jika kau sangat mengharapkan seorang bayi.”

“Aku hanya ingin menjadi wanita sempurna pada umumnya,” lirih Suzy karena sikap Baekhyun yang selalu seperti ini membuat hatinya sakit walaupun seharurnya ia bahagia.

Baekhyun merangkum wajah Suzy. Menghapus air mata yang keluar dari mata istrinya itu jika mereka sedang membicarakan topik yang begitu sensitif ini. “Aku hanya tidak ingin kau menyakiti dirimu sendiri dengan terus mengeceknya hampir setiap minggunya. Aku sangat mengkhawatirkanmu.”

Suzy yang sudah tidak kuasanya pun akhirnya berhambur ke dalam pelukan Baekhyun. Menangis sekencangnya guna meredakan kegelisahan hatinya selama ini. Ia memeluk Baekhyun semakin erat kala ia merasakan kecupan, dan belaian lembut ia rasakan saat Baekhyun menyentuhnya.

Setelah cukup baikan, Suzy melepaskan pelukan mereka. Beban hatinya sedikit terangkat setelah mencurahkan segalanya pada Baekhyun. Rutinitas pagi mereka berjalan seperti biasanya guna mengalihkan pikiran mereka yang sedang berkecamuk. Suzy yang menyiapkan sarapan, sampai pakaian kantor Baekhyun, dan setelahnya Baekhyun pun pergi ke kantor seperti biasanya.

Suzy berhenti bekerja setelah ia resmi menjadi istri Baekhyun, dan hampir setiap harinya ia habiskan di rumah sendirian. Ia memutuskan untuk melakukan pekerjaan rumah tangga sendirian tanpa dibantu oleh asisten rumah tangga karena ia beranggapan masih mampu untuk melakukannya sendirian, sekalian mengisi waktu kosongnya.

Saat hari menjelang siang, Suzy pun memutuskan untuk pergi ke rumah sakit. Ia berencana untuk berkonsultasi dengan dokter kandungan yang telah menjadi sahabat barunya karena hampir setiap bulannya ia selalu ke sana untuk konsultasi. Segala terapi telah ia dan Baekhyun lakukan agar secepatnya memiliki anak, tapi Tuhan berkehendak lain. Semua usahanya belum membuahkan hasil yang diinginkan.

“Mau apa lagi kau ke sini?” tanya Seulgi dengan malas saat melihat wajah Suzy muncul di ambang pintunya. Suzy mengerucutkan bibirnya kesal dengan ucapan selamat datang diucapkan Seulgi padanya. “Kau sudah meminum vitamin dariku?”

Suzy menganggukkan kepalanya.”Aku sudah meminum vitamin, obat pesubur, bahkan obat perangsang pun sudah aku minum, tapi hasilnya masih sama,” keluh Suzy yang dijawab dengusan jengkel oleh Seulgi.

“Kau hanya harus bersabar lebih lama lagi.”

“Tapi kau tahu sendiri umurku tidak muda lagi.”

“Walaupun begitu, kau harus rileks saat melakukannya. Jangan terlalu banyak pikiran karena itu akan menghambat proses pembuahannya jika kau dan Baekhyun sama-sama stress saat melakukannya.”

“Benarkah begitu?”

“Tentu saja. Stres bisa mempengaruhi fungsihipotalamus wanita, yaitu salah satu bagian dari otak yang berfungsi untuk mengatur suhu tubuh, tekanan darah, denyut jantung, perilaku konsumsi, emosi, bahkan hormon yang mengatur proses terjadinya ovulasi. Sehingga efek buruknya adalah ovolasi sulit terjadi, maka pembuahan pun sulit terjadi. Jika sudah seperti itu, maka kehamilan pun sulit terjadi.”

Suzy terdiam mendengar penjelasan Seulgi mengenai dirinya yang stres. Walaupun ia tidak bekerja, pikirannya mengenai memiliki seorang anak cukup membuatnya stres. Dan Suzy bertekad untuk lebih merilekskan pikirannya mulai dari saat ini.

“Apakah Baekhyun begitu menekanmu untuk segera memiliki bayi?”

“Tidak.”

“Lalu kenapa kau menjadi begitu stres disaat pasanganmu sendiri tidak terlalu menuntutmu?”

“Mungkin aku sedikit khawatir karena sikap Baekhyun yang tidak menuntutku untuk segera memiliki anak.”

“Dan itu sedikit khawatir yang sangat berlebihan.”

“Ya, aku tahu.” Suzy beranjak dari kursi setelah mengatakan hal itu. “Terima kasih atas waktu luangmu.”

“Aku selalu mendo’akan yang terbaik untukmu.”

Suzy tersenyum lagi sebelum meninggalkan ruangan Seulgi. Ia menarik napas dalam setelah berada di luar. Menyemangati dirinya sendiir untuk tidak putus asa akan takdirnya ini. Lalu ia melangkahkan kakinya menjauh dari ruangan itu.

Hari masih siang dan ia berencana untuk mengajak Baekhyun makan siang. Tapi langkahnya tiba-tiba terhenti saat ia melihat sosok yang ada di pikirannya beberapa saat yang lalu. Keningnya mengerut saat Baekhyun tidak menyadari keberadaannya di lobi rumah sakit itu. Karena terlalu penasaran siapa yang sakit hingga Baekhyun tidak menyadarinya, Suzy pun memutuskan untuk mengikutinya.

Rasa penasaran Suzy semakin membuncah kala ia membaca plang bertuliskan ruang rawat khusus anak-anak. Dari kejauhan Suzy dapat melihat Baekhyun memasuki salah satu kamar rawat inap itu. Dengan jantung yang berdetak kencang, Suzy pun meneruskan langkahnya. Perutnya serasa dililit sesuatu dengan kencangnya kala ia semakin mendekati tempat menghilangnya Baekhyun.

Tatapan matanya beralih ke arah papan nama siapa yang di rawat inap di balik pintu itu. Kim Jeonghyun. Sena mengeja satu per satu kata yang tertulis di sana, dan tanpa sadar tubuhnya sudah dibanjiri keringat dingin. Tangannya begitu gemetar tapi masih mempunyai tenaga untuk membuka pintu di depannya.

Perlahan ia menggeser pintu kamar rawat inap tersebut. Begitu pintu terbuka, hatinya langsung sakit luar biasa dan ia merutuki rasa penasarannya yang mengakibatkan hatinya sakit seperti saat ini. Bukannya wanita bodoh yang bisa dibodohi dengan begitu mudahnya. Tanpa dijelaskan pun ia tahu siapa anak yang ada di dalam gendongan Baekhyun saat ini.

Pandangan matanya bertemu dengan manik mata Baekhyun tanpa sengaja, dan saat itu Suzy dapat melihat raut terkejut yang begitu kentara tercetak jelas di wajah Baekhyun. Senyum bahagia yang terlihat di wajah tampannya lenyap tanpa berbekas. Ia dan Suzy masih saling pandang dengan tubuh yang membeku di tempat.

Di sudut ruangan, Sejeong hanya bisa terdiam karena sesungguhnya ia juga terkejut dengan kedatangan Suzy yang begitu tiba-tiba. Ia tidak bermaksud untuk menghancurkan rumah tangga mantan suaminya dengan kehadirannya dan Jeonghyun di tengah-tengah mereka saat ini. Ia hanya ingin memberitahu Baekhyun jika Jeonghyun sedang sakit dan berharap untuk bertemu dengan ayahnya. Keberadaan Jeonghyun juga sengaja ditutupi oleh Sejeong karena ia mempunyai perjanjian dengan Baekhyun untuk merahasiakannya dari Suzy, dan kedatangan Suzy yang melihat semuanya berada di luar rencananya.

“Daddy…”

Suara panggilan Jeonghyun pada Baekhyun memecahkan keheningan di ruangan itu. Semua orang seakan tertarik kembali ke kenyataan setelah berkubang di dalam lamunan. Sejeong yang pertama kali sadar langsung merebut Jeonghyun dan gendongan Baekhyun, dan Baekhyun membiarkannya begitu saja karena detik selanjutnya ia sudah berlari untuk mengejar Suzy.

Suzy berlari dengan perasaan yang tidak menentu. Di saat hatinya sedang berbenah dan mempersiapkan untuk kehamilannya, ia kembali harus merasakan sakit yang begitu dalam. bagiakan luka yang belum kering, luka tersebut sudah tersiram oleh air garam yang membuatnya semakin perih.

Suara panggilan Baekhyun diabaikannya. Ia ingin sendirian saat ini tanpa ditemani oleh siapa pun, terutama oleh orang yang selalu saja menyakitinya. Jika dulu ia masih baik-baik saja saat Baekhyun memutuskan untuk menikah dengan wanita lain, maka sekarang ia merasa sudah mati rasa kala ada orang lain yang memanggil suaminya ayah.

Suzy terus saja berlari dengan mengabaikan teriakan orang-orang yang menyuruhnya untuk berhenti. Ia sungguh hanya ingin berlari saat ini, karena ia tidak bisa lari kenyataan pahit yang ada di depan matanya. Makanya ia ingin berlari sejauh mungkin, dengan mengabaikan lingkungannya.

Sampai sebuah suara decitan ban yang beradu dengan aspal ditambah bunyi klakson yang memekakan telinga terdengar oleh indera pendengaran Suzy, barulah ia berhenti. Namun semuanya terlambat. Belum sempat ia menghindar, tubuhnya sudah terpelanting sangat jauh dari tempatnya berdiri.

Tapi entah kenapa, saat tubuhnya jatuh menubruk tanah, ia tidak terlalu merasakan sakit yang luar biasa. Malah sebaliknya, tubuhnya terasa hangat dan sesuatu terasa memeluknya begitu erat. Suzy berusaha membuka matanya. Mata bulatnya semakin membulat saat ia melihat wajah di depannya sudah berlumuran darah. Sekarang ia tahu, apa yang menyebakan tubuhnya terasa hangat. Selain karena suhu tubuh, tapi juga karena cairan hangat itu merembes dengan derasnya keluar dari tubuh di depannya.

“Maafkan aku,” ucap Baekhyun sebelum tersedak oleh darahnya sendiri. Air mata kembali menetes dari mata Suzy melihat wajah Baekhyun yang semakin pucat di antara warna merah pekat itu.”Kita akan baik-baik saja,” tambah Baekhyun berusaha menenangkan Suzy yang terus menangis.

Suzy tahu tubuhnya juga terluka, tapi ia juga sadar, Baekhyun lebih terluka. Dan itu karena dirinya. “J-jangan tinggalkan aku,” pinta Suzy di sela isak tangisnya saat melihat mata Baekhyun yang semakin sayu setiap detiknya. Sebuah senyuman tulus tercetak di bibirnya sebelum ia menutup matanya.

“A-aku a-akan be-berada di sisimu…se-lamanya.”

Itu adalah ucapan terakhir Baekhyun yang dapat Suzy dengar sebelum ia juga menyusulnya ke dalam kegelapan. Suzy yang berada di dalam kegelapan, merasa tidak asing dengan keadaannya saat ini. Ia merasa pernah mengalaminya. Kegelapan yang begitu pekat membuatnya tidak bisa merasakan sakit, dan apapun yang terjadi di sekitarnya. Tubuhnya seakan mati rasa, dan Suzy tidak menyukainya.

Tubuhnya terasa berat untuk digerakkan. Tapi sayup-sayup Suzy bisa mendengar suara orang-orang sedang berbicara di sekitarnya. Usahanya untuk menggerakkan tubuhnya tidak sia-sia. Dengan perlahan ia bisa membuka kelopak matanya. Kilau cahaya lampu membuatnya menyipitkan matanya.

Walaupun pandangannya masih buram, tapi Suzy bisa memperkirakan di mana ia saat ini. Suzy mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menormalkan penglihatannya. Hal pertama yang dilihatnya adalah wajah lega ibunya.

“Eo – mma….” lirihnya karena ia merasa tenggorokkannya seperti tercekik. Ia butuh air untuk menormalkan suaranya. Usapan lembut ia rasakan di kepalanya.

“Jangan banyak bicara dulu. Eomma panggilkan dokter untuk memeriksamu.”  Suzy dapat melihat ibunya memencet sebuah tombol merah di atas ranjang pasiennya. “Syukurlah akhirnya kau sadar juga,” ucap ibu Suzy penuh syukur yang dijawab dengan sebuah senyuman lemah oleh Suzy.

Tidak berapa lama kemudian, seorang dokter yang ditemani dengan dua orang perawat masuk. Mereka berjalan ke arah ranjang Suzy, dan otomatis ibu Suzy mundur ke bekalang untuk memberi ruang pada para tenaga medis tersebut. Dokter tersebut memeriksa keadaan Suzy. Senyuman lega terbit di wajah dokter yang masih kelihatan muda tersebut.

“Apa yang anda rasakan saat ini?”

“Ha-us”

Dokter tersebut tersenyum mendengar jawaban Suzy yang terputus-putus. “Anda sudah bisa minum air putih sedikit demi sedikit. Apakah ada bagian tubuh anda yang sakit?”

“Se-mua-nya.”

Lagi-lagi dokter tersebut tersenyum ke arah Suzy. “Hal ini wajar karena anda baru saja bangun dari koma anda selama hampir lima bulan lamanya. Otot-otot tubuh anda menjadi kaku karena tidak pernah digerakkan. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, anda akan bisa menggerakkannya kembali. Apakah kepala anda sakit?”

Suzy menganggukkan kepalanya karena ia sudah tidak mampu untuk bersuara lagi.

“Itu juga hal yang wajar karena anda mengalami benturan yang cukup hebat. Sebuah keajaiban anda bisa selamat dari kecelakaan mengerikan itu. Nanti saya akan meresepkan obat penghilang rasa sakit untuk meminimalisir rasa sakit yang anda rasakan. Tapi anda harus berhenti mengkonsumsinya jika anda sudah tidak merasakan sakit lagi.”

Dokter tersebut terlihat menuliskan sesuatu pada sebuah kertas yang disodorkan oleh seorang perawat, lalu ia kembali menyerahkannya pada perawat tersebut. “Sebaiknya anda kembali istirahat. Beberapa jam lagi saya akan mengecek kondisi anda.” Dokter itu berbalik untuk menghadap ke arah ibu Suzy yang masih berdiri dan mendengarkan semua percakapan dokter tersebut dengan Suzy dengan seksama.

“Kondisi puteri anda baik-baik saja. Anda tidak usah khawatir. Jika sesuatu terjadi, anda bisa memencet tombol darurat yang ada di atas kepala ranjang. Saya pamit undur diri.”

“Terima kasih, dokter.”

Ibu Suzy mengantar rombongan dokter tersebut sampai di ambang pintu. Lalu menutupnya setelah sedikit membungkukkan badannya ke arah pergi rombongan itu. Ia membalikkan badannya untuk menghadap Suzy yang tengah menatapnya lewat ekor matanya. Ibu Suzy berjalan mendekat ke samping ranjang. Ia membelai kepala Suzy sayang.

“Tidurlah. Eomma akan menjagamu dan eomma akan menghubungi ayahmu juga Myungsoo mengabari mereka jika kau sudah sadar,” ucapnya sambil mengecup kening Suzy sayang.

Belum sempat Suzy mengeluarkan suaranya untuk bertanya, ibunya sudah beranjak dari sana menuju sofa. Suzy yang belum bisa leluasa menggerakkan tubuhnya hanya bisa diam dengan pikiran melayang ke mana-mana. Kenapa ibu harus menghubungi Myungsoo disaat hubungan mereka sudah usai? Bagaimana dengan keadaan Baekhyun? Karena seingatnya tubuh Baekhyun juga berlumuran darah seperti dirinya.

Pertanyaan-pertanyaan itu hanya bisa bersarang di benak Suzy tanpa bisa ia keluarkan, karena rasa lelah yang amat sangat tiba-tiba dirasakannya. Ia pun jatuh tertidur kembali dengan membawa pertanyaan itu ikut serta bersamanya. Biarlah nanti ia akan bertanya pada ibunya setelah ia bangun tidurnya kali ini.

Sebuah kecupan hangat bisa Suzy rasakan di kedua pipinya, membuat ia harus terbangun dari mimpinya. Perlahan ia mengerjapkan matanya guna menyesuaikan dengan pencahayaan yang berasal dari lampu di tengah ruangan.

“Apakah aku membangunkanmu?” tanya sebuah suara yang membuat Suzy mengernyit saat melihat wajah yang tengah tersenyum itu. Myungsoo menjadi serba salah karena Suzy hanya diam saja dengan pancaran mata yang menatapnya berbeda. Entahlah, ia merasa Suzy tengah menatapnya dengan arti yang berbeda dari sebelumnya.

“Kalau kau merasa terganggu, kau bisa tidur kembali. Aku akan menjagamu  di sofa itu,” lanjut Myungsoo seraya menunjuk ke arah sofa. Myungsoo yang hendak beranjak pun segera di tahan oleh Suzy membuatnya kembali menghadap Suzy yang menatapnya intens. “Apakah ada hal yang kau perlukan?”

Suzy masih menatap Myungsoo dalam diam.

“Apakah kau ingin aku memanggil dokter?”

Karena Suzy tetap diam, Myungsoo pun mengartikan jika diamnya Suzy itu adalah jawaban ‘iya’. Kala tangan Myungsoo ingin memencet tombol panggil dokter, Suzy kembali menghentikan gerakannya dengan sedikit mencengkeram tangan Myungsoo yang masih digenggamnya.

“Ke – napa  k – kau  a – da  di – sini?” tanya Suzy membuat Myungsoo menatapnya bingung.

“Tentu saja untuk menjaga tunanganku.”

“T – tunang – an?”

“Kepalamu pasti terbentur keras karena kau sampai melupakan status kita.”

Perasaan tidak enak menyelubungi hati Suzy saat mendengar penjelasan Myungsoo. Bukankah mereka sudah putus? Kenapa Myungsoo berkata yang sebaliknya? Karena tidak tahan dengan rasa penasarannya, akhirnya Suzy pun kembali bertanya, “B-bukankah kita sudah putus?”

Kedua alis Myungsoo saling bertautan. Ia menatap Suzy dengan pandangan bingungnya. “Kenapa kau bisa berkata seperti itu? Seingatku kita tidak pernah putus bahkan sebelum kecelakaan itu terjadi.”

“K – kecelakaan?”

“Kau pasti sangat trauma sampai bisa melupakannya seperti ini,” ucap Myungsoo sambil membelai kepala Suzy yang masih dibungkus perban. “Kita tidak pernah putus, hanya saja pernikahan kita diundur sampai dengan waktu yang tidak ditentukan karena mengingat kau yang masih belum sadar dari komamu.”

“Per – nika – han?”

“Kau kecelakaan saat akan menuju butik untuk mencoba gaun pengantin kita.”

Tubuh Suzy langsung lemas seketika. Keringat dingin mengalir dengan derasnya dari pori-pori kulit Suzy. Kepingan ingatan sebelum kecelakaan itu seakan menamparnya dengan begitu kerasnya hingga Suzy ingin menangis keras saat ini juga.

Semua kilasan akan lima tahun yang ia jalani ternyata hanya bagian dari mimpinya semata. Dan sosok yang membuatnya berpaling dari pria di depannya ini juga hanya bagian dari ilusinya semata. Tapi Suzy masih merasa jika semua itu adalah nyata. Semua kejadian itu adalah nyata, bukan bagian dari bunga tidurnya.

Tanpa sadar sebulir air mata jatuh dari kedua matanya. Entah kenapa hatinya benar-benar terasa sangat sakit. Lebih sakit daripada saat ia diduakan oleh pasangannya di alam mimpi. Byun Baekhyun. Hatinya sudah jatuh terdalam untuk pria asing itu, dan Suzy sangsi jika pria juga itu tidaklah nyata.

Sapuan lembut di pipinya menarik Suzy dari lamunannya. Ia menatap nanar ke arah Myungsoo yang juga tengah menatapnya. “Apa yang menyebabkan kau menangis seperti ini?” tanyanya penuh kelembutan yang mana malah membuat Suzy semakin terisak karenanya.

Mungkin mulut dan tubuhnya bisa membohongi Myungsoo jika ia berdalih mencintai pria itu, tapi hatinya tidak bisa dibohongi begitu saja. Ia telah jatuh cinta pada pria lain yang tidak nyata. Dan hal itu membuat Suzy semakin merasa sakit di hatinya. Karena kebersamaan mereka hanya sebuah delusi.

Suzy tetap menangis tanpa menjawab pertanyaan Myungsoo sama sekali. Melihat Suzy yang sedang bersedih, Myungsoo pun mendekat untuk memeluk Suzy. Ia memeluk Suzy dengan penuh kehati-hatian karena ia takut alat-alat medis yang masih dipasang ditubuh Suzy terganggu fungsinya karenanya.

Malam itu, Suzy menumpahkan segala kesedihannya lewat air matanya tanpa siapa pun tahu apa penyebabnya. Terlalu sakit untuk diingat, bahkan diungkapkan sekalipun. Dan Suzy bertekad untuk mengubur semuanya dalam-dalam. Ia akan menyimpannya untuk dirinya sendiri.

Pagi harinya ibu dan ayah Suzy datang dengan membawa sarapan untuk Myungsoo. Dari arah ranjangnya, Suzy terus memperhatikan percakapan dua orang yang sedang duduk di sofa itu tanpa berniat untuk ikut larut dalam percakapan mereka.

Setelah ayah Suzy dan Myungsoo pergi ke kantor barulah ibu Suzy mendekat ke arah Suzy. Ia mengelap tubuh Suzy dengan menggunakan secarik kain yang sudah dibasahi air hangat sebelumnya agar Suzy lebih nyaman lagi.

“Hampir setiap hari selama lima bulan terakhir ini Myungsoo yang selalu menjagamu ketika malam tiba,” ucap ibu Suzy mengawali ceritanya. “Kami semua sangat khawatir saat mendengar kau mengalami kecelakaan dan jatuh koma setelahnya. Dokter selalu mengatakan tanda-tanda vitalmu baik-baik saja, tapi tetap saja kau tidak pernah bangun dari komamu.”

“Karena kau masih koma dan tidak tahu kapan bangun, Myungsoo pun terpaksa membatalkan semua rencana pernikahan kalian dengan batas waktu yang tidak tentu. Ia sibuk mengurus segala pembatalan itu karena undangan pernikahan sudah terlanjur tersebar. Bahkan selama dua minggu pertamamu, ia jarang tidur sama sekali karena terlalu sibuknya.”

Suzy tetap diam sambil mendengarkan ibunya bercerita.

“Ibu sangat senang karena akhirnya kau bangun. Penantian Myungsoo dan kami selama ini tidak sia-sia. Kedua orang tua Myungsoo yang mendengar kabar jika kau sudah sadar memutuskan untuk mengunjungimu nanti. Dan masalah rencana pernikahan kalian yang tertunda, kita akan membahasnya lagi setelah kau benar-benar sembuh total.”

Setelah mengatakan hal itu mereka terdiam. Suzy masih sibuk dengan pikirannya yang masih belum menerima kenyataan jika semua kejadian yang telah terjadi padanya adalah sebuah mimpi belaka.

“Bolehkah aku bertanya?”

Gerakan ibu Suzy sempat terhenti saat mendengar ucapan Suzy yang bertanya padanya. “Tentu saja,” jawabnya sambil melanjutkan kegiatannya yang sempat terhenti.

“Apakah benar selama ini aku tidak pernah putus dengan Myungsoo?”

Senyuman yang terbit di bibir ibunya membuat Suzy dapat menerka jawaban apa yang akan diberikan oleh ibunya itu. “Setahu eomma, kalian tidak pernah bertengkar hebat sampai kalian putus.”

Suzy kembali terdiam. Mencerna semua perkataan yang terlontar dari mulut ibunya itu. “ Saat kecelakaan itu terjadi, apakah hanya aku seorang yang menjadi korbannya?”

“Kau pasti sangat ketakutan saat itu. Setahu eomma, yang menjadi korban saat itu tidak hanya kau saja karena itu merupakan kecelakaan beruntun.” Ibu Suzy terdiam sejenak seakan mengingat kejadian yang telah berlalu itu. “Ah, ada seorang korban yang mengalami luka parah sepertimu. Ia juga koma, tapi sekarang sudah sadar.”

Entah kenapa jantung Suzy berdetak sangat cepat. Perasaan sesak memenuhi rongga dadanya. Ia tidak sabar menunggu kalimat lanjutan dari ibunya. Tapi semua itu runtuh kala ia mendengar kalimat selanjutnya yang bagaikan kata-kata vonis akan sebuah penyakit mematikan yang menghancurkan harapan hidupnya.

“Eomma sungguh kasihan pada istrinya yang tengah mengandung. Setiap hari hanya ia yang menjaga di tengah kehamilannya. Padahal ini adalah kehamilan pertamanya. Bisa kau bayangkan betapa tegarnya ia saat menjaga suaminya yang tengah berbaring tak sadarkan diri.”

Ingin sekali Suzy menangis saat ini juga. Tapi ia tidak bisa. Hatinya sungguh sakit karena harapannya untuk bertemu dengan pria di mimpinya musnah sudah. Ibu Suzy kembali bercerita mengenai banyak hal yang tidak didengarkan Suzy sama sekali. Ia diam, tapi ia menutup telinganya. Sungguh ia tidak bermaksud untuk bertindak tidak sopan pada ibunya. Pikirannya terlalu sesak jika harus dipaksa untuk menerima informasi lainnya yang akan membuatnya bertambah sesak saja.

Seminggu setelah ia sadar dari komanya, Suzy pun diizinkan untuk keluar dari kamar inapnya. Karena ini hari minggu, Myungsoo pun dengan senang hati menemani Suzy untuk menghirup udara segar di taman rumah sakit. Myungsoo mendorong kursi roda Suzy menuju taman.

Pemandangan taman yang ramai dengan orang-orang yang sedang menghirup udara segar seperti dirinya membuat kenyamanan tersendiri bagi Suzy. Suasana sore yang tidak jauh beda dengan taman di tengah kota. Di sini, semua orang berkumpul melupakan kesakitan yang sedang mereka alami.

Suzy mengedarkan pandangannya ke segala penjuru arah sambil mendengarkan ucapan Myungsoo yang tengah mengeluh akan pekerjaannya yang tiada habisnya. Sesekali Suzy akan tersenyum simpul sebagai respon akan ucapan Myungsoo tersebut, tapi selebihnya ia hanya akan diam mendengarkan.

Tanpa sengaja, pandangan mata Suzy berhenti pada sebuah objek yang membuat tubuhnya membeku seketika. Hatinya kembali terasa diremas dengan begitu kuatnya disamping perasaan bahagia begitu membuncah di hatinya.

Sekuat apapun ia mencoba untuk mengalihkan pandangan matanya, semuanya akan berakhir sia-sia karena pandangan mata Suzy akan berakhir ke arah pasangan yang sedang duduk di salah satu kursi taman tersebut. Setetes air mata kembali jatuh di pipi Suzy tanpa diketahui oleh Myungsoo kala ia melihat tawa bahagia dari dua orang yang menjadi objek penglihatannya saat ini.

Hati Suzy semakin tertohok saat pandangannya melihat jika salah satu dari mereka tengah mengandung. Kembali Suzy merasa telah ditampar dengan sangat kerasnya oleh takdirnya sendiri. Pria yang dicintainya hanya bagian dari mimpinya, dan akan terus seperti itu karena Suzy tidak akan sanggup menghancurkan sebuah keluarga hanya karena ambisi dari mimpi terliarnya sekalipun ia begitu mencintainya.

 

Kau adalah mimpi terindah sekaligus mimpi buruk bagiku. Begitu dalamnya aku jatuh padamu hingga membuatku tidak bisa bangkit lagi meskipun itu hanya dalam mimpi. Kau adalah mimpi terliarku yang tidak akan bisa aku genggam dengan tanganku. Tapi hati ini tidak bisa berbohong, jika ia tetap memilihmu baik itu di mimpi maupun di kehidupan nyataku.

~ Bae Suzy ~

 

The End

 

Haloo semuanya….

Akhirnya bisa update juga. Setelah sekian lama aku bertarung akan dibawa ke mana akhirnya fanfic ini, inilah akhir dari perjalan kisah Baekhyun sama Suzy. Makasih untuk Kyoongie_nee yang udah ngasih saran. Makasih juga pada kalian yang udah mau ngasih saran. Aku sempat bingung mau dibawa kemana ini fanfic, tapi pada akhirnya ya seperti ini…

Maafkan aku pada kalian yang ingin fanfic ini happy ending tapi pada akhirnya ngga seperti itu. awalnya memang ceritanya mau dibuat sampe chapter 4 aja tapi karena aku ngga bisa membendung ide, maka jadilah sampai chapter 29.

Jika kalian masih merasa kurang dalam penyelesaian konfliknya, maafkan aku. ini gara-gara aku yang tiba males nulis saat mendekati klimaks karena aku takut tidak bisa menyampaikan klimaksnya. Dan emang di fanfic ini klimaksnya kurang dapet. Karena itu maafkan aku.

Setelah ini masih ada epilog sama extra part dari sisi Baekhyun.

Sampai jumpa di fanficku yang lainnya.

Bye-bye :*

Regards, Azalea

 

 

 

Iklan

9 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] dream – chapter 29

  1. waeeeee…*nangis meraung raung dipojok kamar :((
    jungkir balik hatikuuuuuuu….sepertinya malam ini nbakal mimpi sedih berlinang air mata :((

  2. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] DREAM (Extra Part) | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] DREAM (Epilog) | EXO FanFiction Indonesia

  4. uluh uluh bngt ceritanya. suka bngt. pokoknya tetep semangat nulis yah kak, bikin cerita-cerita yg menakjubkan lg 🙏

  5. Huhuhu sedih
    Aku nangis pas baekhyun dan suzy kecelakaan
    Yahh cepat bgt the end nyaa
    Pengen suzy sama baekhyun happy ending
    Ceritanya bangus banget thor
    Pertama aku pikir ini kayak renkarnasi berulang antara suzy sama baekhyun mereka gak jodoh tp meraka sama2 cinta sampe akhirnya mereka benar2 bahagia.
    Suskes terus buat athor. Ini ff dibuat film dong pasti bikin baper hahaha

  6. Syudah kudugaaaaaaaaa aakakkkkkkk endingnya its just a dream… padhl aku udah geregetan banget liat baekhyun yg tukang janji doang *hiks tp tenyata cuma mimpi.. aslinya baekhyun setia *hiks

  7. author tersayang!!! sedih krna author bakalan hiatus tapi senang juga krna sebelum hiatus author ngelanjutin my laddy sama deream… awal ny ak kecewa ama baekk dia punya ank ama sejung padahal udh janji ama suzzy kalau tidak ada ank dlm pernikhn mereka. tapi sekarang udah lega kok krn semuany itu cuma mimpi, ending ny keren thor. di tunggu ya ff author yg lain selamat menunaikn ibadah ramadhan author!!!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s