[EXOFFI FREELANCE] Be With You (Chapter 3)

Be With You (Chapter 3)

Author: Sháo Xī

Length: Chaptered

Genre: Age manipulation, love, school life, drama

Rating: PG-15

Main Cast: Oh Sehun [EXO], Seo Nari [OC], Zhang Yixing [EXO]

Additional Cast: Byun Baekhyun [EXO], Im Yoona [SNSD], Park Chanyeol [EXO], Kim Jong In/ Kai [EXO]

Summary:

Rasanya sungguh menyakitkan saat ia tak ada bersamaku. Apa aku terlalu berlebihan kalau aku mengatakan aku membutuhkannya dan berharap ia tak pergi? Apakah terlihat aneh kalau kukatakan bahwa aku membutuhkannya untuk menjalani hidup?

Disclaimer:

Cerita ini hanya fiksi belaka. Ide murni milik Tuhan Yang Maha Esa dan penulis. Genre bisa berubah seiring berjalannya waktu. Penambahan tokoh bisa berubah di setiap chapter. Don’t be plagiat dan hargai karya penulis. Jangan lupa untuk meninggalkan komentar demi membangun karya yang lebih baik di kemudian hari.

☺☺ Happy Reading! ☺☺

.

.

.

Hanya mendengarnya bicara, bisa membuatku merasa lebih hidup. Apa yang harus kulakukan kalau gadis itu tak ada di sampingku?

.

.

.

Alunan lagu nge-beat berkumandang di ruangan dengan luas sekitar 144 m2. Dua orang sedang asyik berlatih dance sambil menatap kaca, terkadang mereka berhenti sebentar untuk memperbaiki gerakannya yang salah. Satu orang lagi malah memilih untuk duduk di belakang kedua temannya sambil menenggak air putih hingga setengah botol. Orang itu, Oh Sehun, kembali menenggak minumnya tanpa melepas pandangannya ke depan.

Alunan lagu berhenti. Demikian juga dengan dua orang tadi. Salah satunya, Park Chanyeol, berjalan menghampiri Sehun dengan keringat membanjiri wajahnya. Diraihnya air minum Sehun, lalu meminumnya sampai habis.

“Oke, aku enggak punya tenaga lagi,” kata Chanyeol sambil menyandarkan kepalanya ke dinding dan memejamkan mata.

Sehun tersenyum kecil. “Ini masih belum seberapa, loh.”

Ara yo…

Kai menghampiri mereka dengan handuk kecil tersampir di bahunya. Beberapa kali disekanya keringat yang membanjiri wajah serta lehernya. Wajahnya kelihatan lelah.

“Hai, ‘Dancing Machine’, apa kabarmu?” tanya Sehun.

Kai menghela nafas. “Berikan aku minum,”

Sehun melempar asal botol air baru di sebelahnya. “Bahkan dia juga kelelahan. Bagaimana dengan kita?”

Chanyeol hanya tertawa kecil tanpa membuka matanya. Sepertinya ‘Happy Virus’ itu benar- benar tidak punya tenaga lagi. Biasanya dia akan pecicilan ke sana kemari tanpa mempedulikan tatapan sebal semua orang.

“Hoi, jam berapa sekarang? Aku rasanya mau tidur,” kata Chanyeol.

Kai melirik jam hitam yang melingkari lengan kirinya lalu berkata santai. “Jam setengah enam. Lebih baik kau—“

Byurrr

Kai dan Chanyeol menatap Sehun kaget. Sehun baru saja menyemburkan air yang tengah diminumnya saat mendengar Kai berbicara. Astaga, sekarang sudah hampir jam enam?

“Jam setengah enam?!” ulang Sehun kaget.

Kai mengangguk walau dia tak mengerti. “Iya, memangnya kenapa?”

“Kau kenapa sih, Sehun?! Cepat bersihkan!” kata Chanyeol sambil mendorong Sehun menjauh.

“Astaga, kenapa aku—argh!” Sehun menjambak rambutnya sendiri lalu mengeluarkan ponselnya dengan cepat.

“Ada apa, sih? Kok kayak orang kesetanan?” tanya Kai aneh.

Sehun menatap ponselnya, tak tahu harus bagaimana. “Kai… aku harus bilang apa?”

“Bilang apa, sih?” tanya Kai tak mengerti.

“Nari… aku janji akan menjemputnya…”

“Memangnya dia pulang jam berapa?” tanya Chanyeol. “Kalau masih sempat, kau pergi saja sana. Dan jangan lupa untuk membereskan lantainya.”

“Dia pulang jam… tiga,”

“Hah?!” Kai dan Chanyeol berteriak kaget, menatap Sehun yang sudah mengutuki dirinya sendiri.

“Yak! Kau gila?! Dia sudah menunggu dua jam lebih tahu! Astaga… pacar macam apa kau ini?!” tanya Chanyeol tak habis pikir.

Sehun mengerang. “Berhenti merutukiku dan bantu aku mengatakan sesuatu padanya!”

“Katakan saja kau ada acara mendadak dan baru bisa menghubunginya sekarang,” usul Kai.

Chanyeol mengangguk. “Boleh juga, tuh.”

Sehun menghela nafas. “Baiklah,” katanya sambil mulai mengetik pesan.

“Kau hanya mau mengirimkan SMS padanya setelah dua jam ia menunggu?” tanya Chanyeol sambil melirik ponsel Sehun.

“Aku tak bisa bicara padanya setelah melakukan kesalahan ini,” Sehun sibuk mengetikkan sesuatu. Setelah selesai, didorong ponselnya menjauh lalu memejamkan mata.

“Mungkin—tidak—kau harus minta maaf padanya. Dengan sedikit suap, pastinya,” usul Chanyeol.

Sehun membuka matanya. “Hah?”

“Kau bisa ajak dia makan malam hari ini lalu katakan alasannya dan minta maaf. Masalah akan selesai.”

Kai mengangguk setuju. “Mungkin bisa dilakukan. Kau bisa belikan sesuatu yang Nari suka. Terserahlah, apapun itu.”

Sehun merenung sebentar. Ia menghela nafas pasrah, memungut ponselnya lalu menarik hoodienya. “Dia akan membunuhku, pasti.”

“Hei, kau mau ke mana, Oh Sehun?” tanya Chanyeol saat melihat Sehun yang sudah membereskan barang-barangnya.

“Aku mau pergi, tolong bereskan lantainya untukku, ya!” kata Sehun sebelum ia lenyap dari balik pintu.

“Yak! OH SEHUN!!!”

.

.

Nari bersenandung kecil sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Aah… ia sudah mandi dan rasanya segar sekali. Sabun aroma buah yang baru dibelinya sungguh membuat ia merasa lebih baik. Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Nari meliriknya. Nama Sehun terpampang di sana.

Ia memang kesal sekali pada laki-laki itu tadi. Tapi entah kenapa, rasanya tak tega untuk tak mengangkat telepon dari Sehun. Nari meraih ponselnya, menggeser layar, lalu menempelkannya di telinga.

“Apa?”

Aah, syukurlah kau mau mengangkat teleponnya. Kupikir kau marah.

“Memang aku marah, kok. Lagipula, siapa yang tidak marah setelah disuruh menunggu selama dua jam, hah?! Kau pikir aku orang yang tidak punya kerjaan, ya? Ibuku mengomel-ngomel padaku jadinya. Kalau kau memang sibuk, sebaiknya tak usah menjanjikan apapun padaku. Aku bukannya tidak bisa pulang sendiri, kau tahu?”

Aku tahu, aku tahu. Aku benar-benar minta maaf, Nari. Jeongmal mianhae… jangan marah padaku lagi…”

“Kau ini… selalu begitu padaku. Aku tahu kau sibuk dan aku memakluminya, tapi tetap saja…”

Aah, baiklah, baiklah. Supaya kau tidak marah lagi, bagaimana kalau kuajak makan malam? Kau mau?”

“Bagaimana kalau aku bilang tidak?”

Aku sudah di depan rumahmu, loh…

Nari terperanjat. Ia bergerak cepat ke jendela dan menyibaknya. Dilihatnya mobil hitam Sehun di sana. Laki-laki itu melambai pada Nari sambil tersenyum.

Turunlah. Akan kuajak kau ke manapun kau mau, asalkan kau tidak marah lagi padaku.”

“Kenapa kau tidak masuk? Takut aku menghajarmu?”

Iya… tapi aku sudah masuk dan memberi salam pada ayah dan ibumu, bilang kalau aku akan mengajakmu keluar dan menunggumu di luar.

“Baiklah, tunggu di sana.”

Nari meraih hoodienya, sedikit berlari menuruni tangga lalu berpamitan pada kedua orang tuanya. Mereka hanya maklum saat tahu Nari mau keluar bersama Sehun.

Nari membuka pintu pagar. Suara pagar yang terbuka membuat Sehun yang tengah bersandar di mobilnya menoleh. Ia tersenyum ketika melihat Nari mendekat.

“Aku mau pergi. Tapi enggak mau naik mobil.”

Sehun menaikkan alisnya, tangannya yang sudah terulur untuk membuka pintu hanya mengambang di udara. “Oke, baiklah. Tak masalah.”

Nari berjalan mendahului Sehun, sementara laki-laki itu mengambil kacamata dan menutupi kepalanya dengan topi. Mereka berdua berjalan dalam diam. Sehun berjarak beberapa meter di belakang Nari, membuatnya bisa melihat keseluruhan profil gadis itu. Badannya yang begitu mungil tampak tenggelam dalam hoodie ungunya yang sedikit kebesaran. Rambut hitam Nari tampak masih basah, membuat beberapa helainya menempel di hoodie.

“Kau tak mau bercerita padaku? Bagaimana harimu tadi di sekolah?” mulai Sehun.

“Baik,” jawab Nari pendek.

“Tak ada yang bertanya tentang aku?”

“Kau mengharapkannya?”

“Tidak juga,”

Sehun bisa melihat Nari menghela nafas. Ia sedikit mempercepat langkahnya, hingga tepat di belakang Nari. “Kau benar-benar marah, ya?”

Tanpa Sehun sadari, Nari berputar cepat ke belakang, membuat ia tak sempat mengerem. Nari sendiri kaget karena mendapati Sehun yang begitu dekat dengannya hingga kepala gadis itu menabrak dada bidang Sehun. Nari terhuyung ke belakang, tapi Sehun sempat menangkap kedua bahu gadis itu.

“Kau baik-baik saja? Kenapa berputar tanpa bilang-bilang?”

Nari mengelus dahinya. “Kenapa juga aku harus bilang? Memangnya aku harus mengatakan, ‘Jangan terlalu dekat denganku karena aku akan berputar’? Lucu sekali.”

Sehun tertawa. “Tapi sungguh, kepalamu tidak apa-apa?”

Nari sedikit meringis. “Kau ini berlatih terlalu rajin, ya? Aku seperti menabrak beton, tahu!”

“Ya sudah, sini aku obati.”

Sehun menarik bahu Nari lalu mencium kening gadis itu. Nari terperanjat. Nafasnya tertahan saat ia bisa merasakan bibir Sehun di keningnya. Jarak mereka sungguh dekat, membuat Nari bisa melihat kalung yang dikenakan Sehun. Kalung pemberiannya itu tersembunyi manis di balik kaus putih Sehun.

Sehun menarik dirinya, menatap Nari yang terdiam. “Bagaimana? Sudah sembuh, kan?”

Nari mengangkat pandangannya dan bertemu dengan manik hitam Sehun. Ia bisa merasakan pipinya memanas. Oke, sepertinya ia butuh udara juga. “Kau membuat pipiku panas.”

Sehun tertawa. “Astaga, jujur sekali gadisku ini.”

Sehun meraih tangan Nari, menggenggamnya, lalu memasukkan tangan mereka berdua ke saku hoodie. “Nah, sekarang kau mau makan apa? Aku akan belikan apapun yang kau mau.”

“Apapun yang aku mau?” ulang Nari. Sehun mengangguk. “Aku mau es krim!”

“Es krim?”

“Iya! Aku tadi sudah makan malam dan—“ Nari mendongak menatap Sehun. “Kau belum makan malam, ya?”

“Ah, aku—“

“Kalau begitu, kita makan malam dulu. Kau mau makan apa? Kalau aku mau apa saja, sih. Tapi mungkin sebaiknya kita makan yang panas-panas. Sup mungkin bisa. Apa kau mau?”

Sehun menatap Nari yang terus menyerocos sambil tersenyum. Menyenangkan sekali bisa mendengar gadis itu bicara panjang lebar. “Kalau kau yang menentukan bagaimana? Aku akan makan apapun yang kau pesan.”

“Sungguhan? Aah… kalau begitu kita akan pesan apa, ya? Yang pastinya kita harus pesan menu berbeda. Supaya makan malam kita bisa bermacam-macam.”

Sehun mengangguk. “Oke,” Ia berdeham sebentar. “Kau beneran enggak marah lagi, kan?”

Nari tersenyum lebar lalu menggeleng. “Enggak. Sebenarnya dari tadi aku sudah tak marah padamu lagi, sih. Cuma…” Nari menunjukkan jari telunjuknya dan jempolnya yang menyatu. Saling menyatu.

“Itu namanya kau tak marah lagi. Jarimu sama sekali tak ada jaraknya.”

Nari tertawa. “Memang iya.”

“Kalau begitu, aku harus sering-sering membuat pipimu panas dan mengajakmu makan malam, ya.”

“Kalau kau ulangi lagi, aku akan membuat pipimu panas secara harfiah.”

Sehun tergelak. “Wah… galak sekali gadis ini. Siapa yang akan mau bersamamu?”

“Oh Sehun!” kata Nari tanpa beban apapun.

Sehun tertawa lalu mengacak-acak rambut Nari. Gadis itu mengomel karena rambutnya jadi berantakan. Tapi Sehun tak ambil pusing dengan hal itu. Ia semakin menggenggam tangan Nari, sementara gadis itu mulai bercerita tentang harinya tadi. Sehun hanya sesekali menimpali, terkadang balik bertanya atau hanya menanggapi dengan gumaman pendek. Ia tak mau mengganggu gadis itu bercerita. Suara gadis itu terdengar seperti angin halus di telinganya. Membuat ia merasa lebih santai dan bisa berpikir bahwa segalanya akan baik-baik saja. Terkadang, saat ia stress, ia akan pergi menemui Nari dan meminta gadis itu bercerita apapun. Mendengar celotehannya, membuat Sehun bisa kembali menarik nafas lega. Aah… akan jadi apa dirinya tanpa gadis itu di sampingnya?

.

.

To Be Continue

Iklan

Satu pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Be With You (Chapter 3)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s