[EXOFFI FREELANCE] Love in Time (Chapter 9-A)

Title                 : Love in Time [Chapter 9-A]

Author             : Ariana Kim

Cast                 :

  • Kim Ara
  • Kim Jongin
  • Oh Sehun
  • Park Hana
  • etc

Genre              : Family, Romance, Sad, School Life

Rating             : PG

Length             : Chaptered

Summary         : Hal yang paling mengesalkan bagi Jongin adalah menjadi saudara kembar Ara. Bagaimana bisa mereka yang tidak mirip satu sama lain bisa menjadi saudara kembar? Berawal dari harapan aneh yang Jongin buat, hidup mereka menjadi semakin rumit saja.

Disclaimer       : FF ini murni hasil pemikiranku. Ide cerita berasal dari kehidupan seseorang yang aku kenal dengan penyesuaian pada semua isi cerita. Apabila ada kesamaan tokoh dan jalan cerita mungkin itu hanya ketidaksengajaan. Don’t bash and don’t copast. FF ini pernah dipublish di blog pribadi author.

HAPPY READING

.

***

.

“Bagiku cinta hanyalah delusi indah yang tak pernah nyata…”

.

***

.

Chapter 9A

Jongin tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Setelah ia melewati kegelapan yang tak berujung, Jongin merasakan semilir angin dingin yang menggelitik kulitnya. Refleks ia mengeratkan jaket kuning tipis yang dikenakannya dan melepaskan ikatan pada rambut panjangnya agar telinganya tetap hangat. Jongin menghentikan pergerakannya. Ia membeku. Sejak kapan ia mempunyai rambut panjang?

Dengan ragu ia melangkah mendekati jendela sebuah toko di dekatnya. Ia berdiri di sana dan melihat pantulan dirinya di depan kaca tersebut. Hampir saja dagunya merosot ke bawah jika ia tidak segera mengontrol dirinya. Ia melihat Ara di sana, dalam pantulan kaca hitam tersebut. Dan di situlah ia mengetahui jika ia berada dalam tubuh Ara kembali. Sial, ini sebuah malapetaka!

Namun Jongin dengan cepat mengembalikan kesadaran dirinya. Ia tidak boleh merutuk lagi. Mungkin ada sesuatu yang salah atau barangkali dirinya tengah bermimpi untuk saat ini. Jongin mengedarkan pandangannya pada sekelilingnya. Keningnya berkerut, menandakan dirinya kebingungan. Dimana ia tengah berada saat ini? Sebuah lingkungan yang asing baginya. Ia tidak merasa pernah kesana sebelumnya.

Kebingungannya teralihkan saat matanya menangkap sebuah mobil hitam melaju di dekatnya. Jongin menoleh dan menatapnya, ia sangat mengenal mobil hitam itu. Dilihatnya plat nomor di bagian belakang mobil. Senyum Jongin terbit di wajahnya. Itu adalah mobil Ayahnya.

Jongin berlari mengejar mobil itu walaupun jelas sekali jika mobil itu sudah melaju jauh di depannya dan menghilang di tikungan. Jongin tetap berlari, nafasnya hampir saja habis namun saat ia tiba di tikungan, Jongin bisa melihat mobil hitam itu berhenti di depan sebuah rumah mewah bercat cokelat. Senyum Jongin masih bertengger manis di bibirnya. Ia nampak seperti seorang gadis kecil yang bahagia hanya karena melihat mobil Ayahnya. Yah, andai saja ia menjadi dirinya untuk saat ini dan bukan berada dalam tubuh Ara, Jongin pasti akan lebih bahagia.

“Ayah..”

Panggilannya menggantung di udara dan tersapu oleh semilir angin musim dingin yang berhembus. Jongin mengatur nafasnya yang putus-putus. Senyuman masih terus bertengger di bibirnya terlebih saat mobil itu terbuka, menampilkan seorang pria berjas hitam yang begitu ia kenal. Nyaris Jongin hampir berlari jika saja matanya tidak menangkap seorang wanita yang ikut keluar dari mobil itu.

“Masuklah.. Aku harus pergi ke suatu tempat terlebih dahulu.”

Dari tempatnya berdiri, Jongin bisa mendengar suara berat pria itu yang menyuruh wanita paruh baya dengan bayi dalam gendongannya itu untuk masuk ke dalam rumah. Jongin terpaku. Hampir-hampir tidak mengerti. Namun belum bisa sepenuhnya mengerti, keadaan semakin membuatnya kebingungan kala seorang gadis kecil yang kira-kira seusia dengannya turun dari mobil dan nampak memegangi ujung jas milik pria itu.

“Ayah, Jihyun mau ikut…”

Gadis kecil itu merengek dengan suara cemprengnya. Hampir menangis dengan wajah yang memerah. Pria itu, yang Jongin ketahui sebagai Ayahnya, merengkuh gadis itu kecil dalam dekapannya. Jongin menggosok lengannya yang terasa dingin. Rasanya pasti hangat berada dalam pelukan Ayah yang begitu ia rindukan.

“Sayang, Ayah tidak akan lama.” Ujar pria itu lembut. Jongin merasa telinganya tidak berfungsi dengan baik. Sejak kapan Ayahnya bisa selembut itu? Terakhir kali ia ingat, Ayah memarahinya karena ia merebut boneka milik Ara.

“Jihyun mau ikut…”

Gadis kecil itu terus merengek. Jongin sudah tidak bisa menahan dirinya. Ia marah. Kenapa Ayahnya meninggalkan dirinya dan malah bersama dengan orang-orang itu? Jongin iri pada gadis itu yang bisa bermanja ria dengan Ayahnya. Jongin juga ingin merasakan hal sama.

Perlahan tapi pasti, Jongin merasakan kakinya yang diselimuti sepatu boot berwarna pink itu melangkah selangkah demi selangkah. Rasanya begitu berat. Waktu seakan ditarik mundur dan berjalan dengan begitu lambat. Jongin merasa langkahnya begitu berat. Jarak diantara dirinya dan orang-orang itu tidak terlalu jauh namun rasanya seperti bermil-mil jauhnya. Hampir-hampir Jongin menyerah. Namun ia menguatkan dirinya. Ia harus kesana, dan bertanya pada Ayah kenapa ia meninggalkan dirinya, Ara dan Ibu. Ia harus meminta penjelasan dan memberitahukan bahwa keadaan mereka begitu buruk. Jongin hampir sampai ke tempat itu hingga sebuah sinar yang menyilaukan mengenai matanya dan menariknya kembali ke dalam dunianya.

Sekali lagi itu hanya mimpi!

Matanya mengerjap beberapa kali berusaha menyesuaikan dengan pencahayaan yang terang benderang dalam ruangan bercat putih gading ini. Jongin merasakan kepalanya ngilu. Refleks tangannya bergerak untuk menyentuh kepalanya, dan ia merasakan sesuatu yang lembut melilit kepalanya. Jongin melihat pergelangan tangannya yang terpasang selang infus. Disampingnya terdapat sebuah alat pengontrol detak jantung yang berbunyi seirama dengan detak jantungnya. Otaknya bergerak cepat. Ia tengah berada di rumah sakit.

Jongin mencoba bangkit dan merasa seluruh tubuhnya kaku seolah mati rasa. Ia menatap sekelilingnya, dalam ruangan yang cukup luas itu ia hanya seorang diri. Tak jauh dari ranjang tempatnya berada terdapat sebuah cermin kecil yang menggantung pada dinding, Jongin bisa melihat seorang gadis berambut hitam panjang pada pantulannya. Jongin mengernyit. Ia menatap pantulan dalam cermin itu lamat-lamat. Tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, ia bangkit dan berkaca lebih dekat lagi, melupakan fakta bahwa selang infus itu terlepas dari tubuhnya.

Hampir saja ia jatuh ke lantai jika tak mampu menguasai dirinya. Jongin terkejut dan heran di saat yang bersamaan. Kenapa ia bisa berada di dalam tubuh Ara kembali? Apa yang sebenarnya telah terjadi pada mereka? Jongin pikir mereka tidak akan pernah bertukar lagi. Namun nyatanya mereka kembali seperti beberapa hari yang lalu. Rasanya ia seperti dipermainkan oleh takdir. Sebuah takdir buruk.

Sekelebat bayangan tentang apa yang barusan ia alami terlintas dalam kepalanya. Jongin terdiam dan mencoba mencernanya. Aneh. Kenapa ia selalu bermimpi hal-hal aneh yang tidak masuk akal saat berada dalam tubuh Ara? Ia masih ingat bagaimana dirinya kembali ke masa kecil dulu, ia ingat pertengkaran antara Ibu dan Ayahnya.. dan ia ingat bagaimana wajah sendu Ara saat ia pertama kali menginjakkan kaki di rumahnya setelah pulang dari Kanada. Jongin ingat dengan jelas. Dan kini, ia kembali melihat hal itu, seolah itu adalah sebuah memori yang saling terhubung satu sama lain. Jongin pusing. Ia tidak tahu apapun.

Setengah berlari, Jongin membuka pintu kamar inapnya. Tepat di depannya, sebuah pintu terbuka lebar. Di depannya terdapat tulisan ‘Kim Jongin’. Segera Jongin masuk ke dalamnya dan alangkah terkejutnya ia mendapati ruangan itu begitu ramai. Jongin terhenti di daun pintu, melihat beberapa orang yang begitu ia kenal. Lee Yian, Byun Baekhyun, Park Chanyeol dan Do Kyungsoo. Itu adalah teman-teman Jongin dan bisa ia lihat bahwa tubuhnya berada di atas ranjang itu. Dengan tatapan yang sama terkejutnya seperti dirinya, Jongin langsung tahu jika yang berada dalam tubuhnya adalah Kim Ara.

Sial!

Kenapa mereka bisa bertukar tubuh lagi?

Ara nampak memelototkan matanya melihat Jongin yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangannya seperti seorang yang tak diundang. Jongin menyadari hal itu dan buru-buru ia keluar dari sana. Walaupun ia sangat ingin meminta penjelasan pada Ara mengenai hal yang terjadi kembali pada mereka, Jongin mengurungkan niatnya. Kepalanya juga terasa sangat pusing.

.

.

***

.

.

“Kenapa sembarangan masuk ke kamarku?”

Ara yang tiba-tiba menerobos masuk ke dalam kamar inap Jongin, bersuara cukup keras, menyebabkan Jongin yang tengah berbaring di ranjang langsung bangkit. Ia menatap Ara tidak suka.

“Aku pikir tidak ada siapapun di sana.” Jawab Jongin singkat. Ia memijit kepalanya yang terasa sakit.

“Kenapa kita bertukar tubuh lagi?”

Jongin menoleh mendengar pertanyaan Ara. Gadis yang kini berada dalam tubuhnya itu mendekat dan duduk di ranjangnya, berhadapan dengan dirinya.

“Aku tidak tahu.” Jongin hampir-hampir tidak mendengar suaranya. Begitu lirih dan tak ada kekuatan di dalamnya.

“Kupikir aku sudah mati saat itu.” Ara kembali bersuara, matanya menatap langit-langit. Seperti menerawang.

“Tidak. Kita tidak akan mati semudah itu.” Ujar Jongin yakin, “Kenapa aku selalu melihat hal yang tak kuketahui saat berada dalam tubuhmu? Seperti sebuah ingatan yang saling terhubung.”

Ara menatap Jongin dengan mata cokelat gelap lelaki itu, “Maksudmu?”

“Barusan aku bermimpi, dalam mimpiku aku adalah kau. Aku berada dalam tubuhmu. Namun sepertinya saat itu kita masih kecil, tiga belas tahun mungkin – aku tidak yakin. Aku sedang berjalan dan melihat Ayah. Namun ia bersama dengan seorang wanita yang menggendong bayi dan gadis yang seumuran dengan kita. Aku ingin mendekatinya, namun aku tersadar.” Jongin menjelaskan, Ara menyimaknya dengan ekspresi yang sulit diartikan.

“Itu bukan mimpi, Jong.” Ucap Ara lirih, matanya berkaca-kaca, “Aku benar-benar mengalaminya. Itu adalah ingatanku.”

Jongin tertegun, ia menatap Ara seolah tak percaya, “Kau bertemu dengan Ayah? Kapan?” Tanyanya, menuntut penjelasan.

“Mungkin beberapa bulan setelah kematian Ibu. Aku tidak yakin.” Ara menundukkan kepalanya. Terlihat sekali seperti mengingat-ingat, “Waktu itu aku baru pulang terapi dan tidak sengaja melihatnya. Itu bukan mimpi. Ayah memang hidup dengan orang-orang itu hingga kini.” Sambungnya.

“Maksudmu?” Jongin masih meminta penjelasan pada Ara, ia tidak percaya sedikitpun.

“Ayah menikah lagi setelah bercerai dengan Ibu.” Ucap Ara, kini nada bicaranya terdengar begitu dingin seperti ekspresi wajahnya, “Tidak. Mereka memang memiliki hubungan bahkan jauh sebelum perceraian itu. Dia meninggalkan Ibu dan kita, demi mereka.”

“Apa maksudmu? Bicara dengan benar, Kim Ara!!!” Tuntut Jongin. Ia memegang kedua bahu Ara yang berada dalam tubuhnya, jelas sekali bahwa tenaga mereka berbanding terbalik.

“Sudah kubilang jika Ayah meninggalkan kita!! Dia sudah tidak membutuhkan kita, jadi dia membuang kita!! Kau mengerti, Jong??!!” Ara bicara tak kalah kerasnya. Emosinya meluap-luap. Suaranya yang berat terdengar menggema dalam ruangan itu.

“Tidak. Ayah tidak mungkin membuang kita!!” Jongin masih mengelak. Ara pasti membohonginya. Tidak mungkin Ayahnya yang begitu ia sayangi itu membuang mereka. Ayah sangat menyayangi dirinya dan Ara, dan tak mungkin beliau melakukan itu. Ara pasti tengah mengerjainya dan akan tertawa begitu keras jika Jongin dengan bodohnya percaya begitu saja.

“Jika kau tidak percaya, telepon saja dia!!” Kata Ara, menunjuk ponselnya yang tergeletak di atas nakas.

Ragu-ragu Jongin meraihnya namun segera direbut oleh Ara. Gadis itu nampak mencari-cari sesuatu dalam ponselnya. Begitu ia menemukannya, segera ia menekan tombol hijau untuk meneleponnya.

“Kau punya nomor Ayah?” Jongin menatap Ara tidak percaya saat melihat ID nomor yang ditelepon.

“Kau yang memintanya pada Jang Ahjussi. Ingat?”

Jongin mengangguk. Ia ingat jika dirinya meminta Jang Ahjussi untuk mencari nomor telepon Ayahnya saat ia masih berada dalam tubuh Ara. Dan ternyata Ara-lah yang menerimanya.

Tak beberapa lama sambungan teleponpun terhubung.

“Halo..”

Terdengar suara perempuan di ujung telepon, Ara dan Jongin saling berpandangan dengan penuh tanda tanya.

“Halo.. ini ponsel milik Kim Jonghoon, ada yang bisa saya bantu?”

Perempuan itu kembali bersuara saat tak ada yang menjawab.

“H-halo.” Dengan ragu, Jongin bersuara. Suaranya terdengar kecil dan khas seorang gadis.

“Ya?” Perempuan itu menunggu Jongin meneruskan kalimatnya.

“Aku ingin bicara dengan Ay – maksudku Kim Jonghoon.”

Susah payah Jongin menyelesaikan kalimatnya, rasanya benar-benar gugup.

“Sebentar ya…” Perempuan itu menjauhkan telepon dari telinganya, Jongin dan Ara bisa tahu saat mendengar perempuan itu berteriak, “Ayah, ada yang mencarimu..”

“Siapa, Jihyun?”

“Entahlah.”

Jongin langsung menoleh pada Ara saat mendengar suara Ayahnya di ujung sana yang menyebut nama perempuan yang tadi mengangkat telepon. Seketika otaknya langsung berjalan.

“Permisi, kau Jihyun?”

Tiba-tiba Jongin bertanya, menyuarakan isi hatinya. Ia pasti salah dengar.

“Ne, kau siapa?” Perempuan itu terdengar bingung mendengar pertanyaan dari Jongin.

“Kau H-Han Jihyun?” Tanya Jongin hati-hati. Perlu keyakinan baginya untuk mengucapkan nama itu. Ini pasti salah.

“Eng – aku Han Jihyun. Kau siapa?”

Saat Jongin hendak bersuara kembali, Ara langsung merebut ponselnya dan melemparnya entah kemana. Jongin terdiam di tempatnya.

“Bagaimana? Kau percaya padaku?” Tanya Ara dengan nada sedikit meremehkan. Ia bangkit berdiri dan melipat kedua tangannya di depan dada.

Jongin menatap Ara, matanya kini berkaca-kaca, “Han Jihyun.. tidak mungkin!”

Masih berusaha mengelak, namun apa yang ia dengar tidak bisa menampik kenyataan tersebut. Ia mengenal suara perempuan itu dan ia sempat berpikir jika itu adalah Jihyun. Namun saat mengetahui kenyataannya, ia hampir-hampir tidak percaya. Bagaimana bisa Han Jihyun? Maksudnya, Han Jihyun, gadis yang ia kenal, satu sekolah dengannya sejak SMP, mantan pacar Sehun.. Bagaimana bisa gadis itu dan Ayahnya – ini pasti hanyalah lelucon kuno yang tidak lucu! Siapapun tolong hentikan kekonyolan yang tidak masuk akal ini!

“Wae? Kau masih belum percaya?” Ara menatap Jongin penuh selidik, “Asal kau tahu. Han Jihyun adalah anak dari jalang yang sudah merebut Ayah kita. Itu adalah fakta yang tidak bisa kau ingkari, Jong!”

Dan Jongin ingin mati mendengarnya.

.

.

***

.

.

Susah payah Jongin berjalan keluar dari kamarnya. Tenggorokannya terasa kering dan ia ingin minum sesuatu yang dingin dan segar. Jongin berjalan tertatih-tatih. Walaupun kakinya baik-baik saja – saat mereka jatuh, tidak ada satupun tulang yang patah, untungnya – karena kepala mereka yang lebih dulu membentur lantai dengan cukup keras. Dan untungnya lagi, mereka hanya mengalami gegar otak ringan, tidak parah. Mereka tidak akan kehilangan ingatan semudah itu. Kalian mengerti maksudku? Namun sesuatu yang baru didapati oleh Jongin membuat tenaganya seakan lenyap dari tubuhnya. Ia tidak memiliki kekuatan apapun. Terlebih, kaki Ara yang pendek membuat langkahnya semakin terasa lambat saja, padahal mesin minuman hanya ada di ujung koridor itu.

Tak mudah untuk sampai ke sana, begitu Jongin berdiri di depan mesin itu, ia merogoh saku bajunya – ia tengah mengenakan pakaian dari rumah sakit itu – setelah sebelumnya ia mengambil beberapa koin yang ia temukan di dalam dompet milik Ara. Omong-omong soal Ara, gadis itu menghilang setelah mengatakan fakta yang begitu mengejutkan bagi Jongin. Entah kemana, Jongin sendiri tidak mau tahu. Ia masih ingin menenangkan dirinya, dan rasanya amat sangat tidak mungkin untuk bisa mempercayai perkataan Ara semudah itu. Yah, walaupun Ara bukanlah seorang pembohong. Namun mengingat betapa tidak labilnya pikiran gadis itu, membuat Jongin gamang. Ia tidak percaya sebelum melihatnya sendiri.

Jongin menggelengkan kepalanya, berusaha menghilangkan ingatan akan hal yang baru saja ia alami. Telinganya masih berdengung, seolah memutar kembali suara Jihyun yang ia dengar di seberang telepon. Jongin menutup telinganya dengan kedua tangan Ara yang kecil. Ia tidak ingin mendengar semua itu lagi. Bangunlah, Jong. Ini pasti hanya mimpi. Batinnya.

“Kau selalu murung setiap kali kita bertemu.”

Dari telinganya, samar-samar Jongin mendengar suara berat di dekatnya. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, dan ia hampir terjungkal melihat Sehun berada tepat di belakangnya. Jongin memutar tubuhnya hingga ia berhadapan dengan Sehun.

“Oh Sehun…” Ucapnya, agak ragu kedengarannya. Ia bisa mendengar suara Ara yang keluar dari bibirnya. Sial, ia tengah berada dalam tubuh Ara.

“Sebenarnya kau ini sakit apa?” Sehun kembali bersuara, nadanya penuh selidik, “Ini kedua kalinya kita bertemu di rumah sakit yang sama.” Sambungnya.

“Benarkah?”

Jongin ingin menampar dirinya sendiri. Kenapa ia bisa mengeluarkan kata itu? Sehun pasti akan curiga padanya. Oke, mungkin Jongin harus berpura-pura menjadi Ara. Jadi, bagaimana Ara bersikap pada Sehun? Sebentar, Jongin harus berpikir. Dinginkah? Maniskah? Atau, ia menjadi gadis penggoda jika di depan Sehun? Oh, ia jadi ingat mereka berciuman di laboratorium tempo hari. Jongin penasaran, siapa yang lebih dulu memulainya? Sehun? Memangnya apa yang membuat lelaki itu tertarik pada saudara kembarnya? Ara memang cantik, sih. Hanya saja, jika Jongin adalah lelaki – faktanya memang begitu, ia tidak pernah berpikir untuk menyukai Ara. Terlepas dari mereka saudara atau bukan, Jongin tidak pernah memikirkan itu. Oh, memikirkannya saja membuat Jongin ingin segera ke toilet sekarang juga.

“Hei, jangan melamun!”

Gelagapan, Jongin seolah kembali ditarik ke dalam dunia nyata. Ia menatap Sehun yang berdiri satu meter di depannya, yang juga tengah menatapnya. Jongin merasa gugup. Apa yang ada barusan ia pikirkan, sih?

“Kau belum menjawab pertanyaanku, Ara.” Sehun kembali berkata.

Sepertinya ia menjadi orang yang tidak sabaran jika di depan Ara, batin Jongin.

“Ehmmm,” Jongin nampak berpikir. Ia harus menjawab apa? Apakah ia harus mengatakan jika dirinya dirawat di rumah sakit karena jatuh dari tangga bersama Ara – maksudnya Jongin, atau entahlah – itu akan sangat buruk. Sehun tidak tahu apapun mengenai dirinya dan Ara, dan ia tidak mau sahabatnya itu tahu. Tapi, teman-temannya sudah menengok dirinya – Ara – tadi, dan bagaimana Ara menjelaskan kronologinya? Bodohnya, ia lupa menanyakan itu. Setidaknya mereka harus memberikan jawaban yang berbeda. Jangan sampai ada yang curiga.

“Hanya sebuah kecelakaan kecil, tidak lebih.” Akhirnya Jongin berhasil menjawab, walaupun nadanya terdengar ragu. Ia tersenyum lebar, menunjukkan deretan gigi-giginya yang putih. Wajahnya terlihat seperti orang bodoh dan Sehun berani bersumpah jika itu pertama kalinya ia melihat Ara bertingkah begitu bodoh. Seingatnya, gadis itu memiliki harga diri yang begitu tinggi.

“Sampai kepalamu diperban?” Sehun menunjukkan perban yang melingkari kepala gadis itu, Jongin menyentuhnya.

“Ya. Bukan sesuatu yang buruk. Aku baik-baik saja.” Kata Jongin, nada riangnya terdengar begitu dibuat-buat dan Sehun tidak menyukai itu.

“Aku tidak bertanya mengenai keadaanmu,” Sehun menjawab, matanya masih terus menatap gadis yang hanya setinggi bahunya itu, “Tapi ada baiknya jika kau memeriksa kepalamu kembali. Kau terlihat aneh.”

Jongin hampir saja tertawa keras jika ia tidak buru-buru menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ucapan Sehun benar-benar lucu baginya. Bagaimana bisa lelaki itu mengatakan jika Ara itu aneh sedangkan jelas-jelas kemarin ia mendengar sendiri jika Sehun menyukainya. Jadi, apakah Sehun akan berhenti menyukai Ara jika gadis itu bertingkah aneh? Oh, Jongin harus mencobanya. Atau setidaknya ia harus membuat Sehun benar-benar mencintai Ara. Ya, ada baiknya membuat seseorang menyukai saudara kembarnya itu. Ia hanya ingin mengetes saja apakah ada yang menyukai Ara setelah mereka tahu bagaimana Ara yang sesungguhnya.

“Yak, kau mau kemana?”

Suara Jongin terdengar nyaring. Ia baru sadar jika Sehun sudah tidak berada di hadapannya lagi. Lelaki itu sudah melangkah jauh darinya dan langsung berhenti begitu mendengar suara Ara kembali.

“Menjenguk Jongin. Dia juga dirawat di sini.” Jawab Sehun. Ia kembali menatap gadis yang sudah jauh darinya, namun Jongin melangkah mendekat.

“Oh, Jongin. Dia juga dirawat di sini?” Jongin membuat ekspresi terkejut yang begitu kentara sekali jika dibuat-buat. Sepertinya ia tidak ahli berperan sebagai Ara. Gadis itu tidak pernah mengeluarkan ekspresi yang begitu aneh, setidaknya.

“Kalian serumah. Kenapa kau tidak tahu?”

Jongin langsung terkejut begitu mendengar pertanyaan Sehun. Darimana lelaki itu tahu jika ia dan Ara tinggal di rumah yang sama? Sedangkan Sehun, lelaki itu memicingkan matanya. Dari tadi, ia merasa ada yang aneh dengan gadis di hadapannya. Tingkahnya begitu berbeda dan nada suaranya cepat sekali berubah-ubah. Padahal, Sehun yakin jika Ara tidak akan bersikap seperti itu. Gadis itu selalu bersikap dingin padanya, dan itu yang membuatnya tertarik. Sehun sangat penasaran dengan apa yang dipikirkan oleh gadis seperti Ara. Dan itu yang membuatnya ingin mendekati gadis itu lebih jauh. Bisa dikatakan, Sehun menyukai Ara. Memang.

“Oh, darimana kau tahu?” Jongin bertanya, menyuarakan ketidaktahuannya.

Sehun menatap gadis di hadapannya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ia masih sama seperti Ara yang lihat kemarin, hanya sikapnya saja yang aneh. “Aku dan Kakakku mengantarmu ke rumah kemarin, kau tidak ingat?”

Mengantar ke rumah? Sehun dan Kakaknya? Ke rumahnya? Dan, bagaimana bisa Ara tidak mengatakan apapun padanya? Banyak hal yang berkecamuk dalam pikiran Jongin. Oke, setelah ini Jongin ingin sekali melabrak Ara dan menginterogasinya!

Sehun maju beberapa langkah, hingga jarak diantara mereka sangat dekat. Jongin ingin mundur, namun tangan Sehun dengan cepat berada pada kedua bahu Jongin, “Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu. Tapi kau membuatku khawatir, Ara. Sungguh.” Ucapnya, Jongin bisa mendengar ketulusan dalam nada bicaranya.

“A-aku…” Jongin tidak tahu harus berkata. Ia terlalu terkejut mendapati Sehun yang bersikap seperti itu padanya. Selama mengenal Sehun, Jongin tidak pernah tahu jika Sehun memiliki sisi lain dalam dirinya. Jongin mengerti, Sehun benar-benar menganggap ia adalah perempuan – faktanya ia berada dalam tubuh Ara – dan well, Sehun benar-benar menunjukkan pada Jongin jika lelaki itu memiliki perasaan pada adiknya, saudara kembarnya. Jadi, apa yang harus dilakukan Jongin?

“Sebaiknya kau istirahat. Aku akan mengantarmu ke ruanganmu.” Ucap Sehun, merangkul pundak Ara dan menuntun gadis itu berjalan beriringan dengannya, membuat Jongin merasa bahwa mereka seperti pasangan sesama jenis.

Jika ia tidak memikirkan Ara, ia pasti akan langsung memukul Sehun dan menyuruhnya untuk tidak dekat-dekat dengannya. Ia memang berada dalam tubuh seorang gadis, namun jiwanya masih tetap seorang lelaki. Dan kau tahu bagaimana rasanya diperlakukan begitu manis oleh seorang lelaki yang notabene sahabatmu sendiri? Rasanya begitu absurd dan sulit untuk dijelaskan. Itulah yang dipikirkan Jongin. Namun Jongin tidak boleh egois, ia ingin tahu sejauh mana Sehun serius dengan ucapannya bahwa ia menyukai Ara. Ia ingin mengetes lelaki itu. Nalurinya sebagai seorang kakak membuatnya merasa harus begitu bertanggung jawab pada adiknya.

“Oh Sehun, kau menyukaiku?”

Sehun terdiam mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Ara, tepatnya Jongin. Ia menatap gadis itu dalam kediamannya. Menatap mata cokelat terang milik gadis itu yang penuh dengan kesedihan. Sehun selalu melihat mata itu memancarkan kesedihan setiap harinya, tak pernah sedikitpun bersinar. Dan Sehun sangat ingin tahu apa yang menyebabkan gadis itu bersedih. Namun, bagaimana bisa Ara mengetahuinya? Apakah perasaannya bisa semudah itu ditebak?

“I-iya. Aku menyukaimu.” Akhirnya Sehun menjawab. Ia masih menatap Ara.

“Kalau begitu, maukah kau berkencan denganku?”

.

.

.

TBC~

Holla~ this is chapter 9-A.

Maaf aku baru sempet ngirim ff ke sini. Minggu ini aku bener-bener sibuk, semua dosen berebut ngasih jam tambahan biar nanti pas bulan ramadhan udah gak ada perkuliahan lagi, jadi pulangnya malem terus deh. Belum lagi siangnya aku harus kerja, rasanya buat ambil nafas aja gak ada waktu *ini apa aku malah curcol*

Aku tahu chapter ini pendek banget karena aku jadiin dua bagian, kalo dijadiin satu nanti malah jadi panjang banget dan pasti bosen bacanya. Maaf ya kalo chapter ini kurang memuaskan dan banyak typonya, hehe. Oh ya, sekadar info aja, ff ini terinspirasi dari kisah nyata temen aku (temen kecil, sih) yang sekarang udah kerja di luar kota. Cerita hidupnya benar-benar membuatku tersentuh dan aku gak bisa bayangin harus hidup seperti itu. Aku bersyukur masih memiliki kedua orang tua yang utuh dan selalu ada untukku. Makanya, hormati dan sayangilah kedua orang tua kita selagi Tuhan masih menginjinkan mereka untuk mendampingi kita ☺

Ditunggu kritik dan sarannya.

Ariana Kim~

Iklan

7 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Love in Time (Chapter 9-A)

  1. kenpa mereka tertukar lagi tapi seru sih..wah jongin yg d tubuh ara ngajakin sehun kencan gimna reaksi ara klo tau yah hihih di tunggu nexsnya thor😊😊

  2. moga aja kkamjong bisa paham ama perasaanny ara dan gk mikir ara gila lagi. dan hunnie ku tersayng bisa jadian sama ara, jadi gk sbr denger jwbn hunnie mengenai pertanyaan ara. dan fiks ak jadi makin benci ama si jihyun PHO (perebut hak orang), mangat terus author!!! di tungggu kelanjutn ny!!! NEXT.

  3. Mereka bertukar tubuh lagi dan selagi jongin berada ditubuh ara, jongin bisa melihat kenangan-kenangan yang menyakitkan menurut ara ? Gimana nanti reaksi ara, kalau jongin yang berada ditubuh ara ngajak sehun kencan ? Terus kenapa mereka bisa bertukar tubuh lagi yh ?
    Kepo dengan kelanjutannya kak dan selalu ditunggu terus. Fighting

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s