Rooftop Romance (Chapter 26) – Shaekiran

rooftopromancesad.png

Rooftop Romance

By: Shaekiran

 

Main Cast

Wendy (RV), Chanyeol, Sehun (EXO)

 

Other Cast

Baekhyun (EXO), Kim Saeron, Irene (RV), Taeil, Taeyong (NCT), Jinwoo (WINNER), and others.

Genres

Romance? Family? Friendship? AU? Angst? Sad? School Life?

Length Chapter | Rating PG-15

Disclaimer

Idenya cerita ini murni datang dari otak author yang otaknya rada senglek banyak (?). Maaf untuk idenya yang mungkin pasaran dan cast yang itu-itu aja. Nama cast disini hanya minjam dari nama-nama member boy band dan girl band korea. Happy reading!

.

Poster by ByunHyunji @ Poster Channel

Previous Chapter

Teaser 1 | Teaser 2 | Teaser 3 | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Chapter 8 | Chapter 9 | Chapter 10 | Chapter 11 | Chapter 12 | Chapter 13 |Chapter 14 | Chapter 15 | Chapter 16 |Chapter 17 | Chapter 18 | Chapter 19 | Chapter 20 | Chapter 21 | Chapter 22 |Chapter 23 |Chapter 24 | Chapter 25 | [NOW] Chapter 26 |

“Still a goodbye (?)”

 

  

-Chapter 26-

 

In Author’s Eyes

“Pertunangan kalian akan dipercepat.”

Wendy sudah mengumpat dalam hati, sedang Sehun kini menggumam dengan santainya. “Baiklah, terserah appa saja.”

What? Astaga, apa Sehun benar-benar mau tunangan denganku?!” batin Wendy menatap Sehun tidak percaya. Yah, meski di depan Wendy sudah dalam mode ‘mau ditunangkan’ dengan teman sebangkunya itu, tapi tentu saja masih ada secuil hati Wendy yang tidak rela dan masih mengharapkan lelaki lain yang akan menjadi tunangannya. Bukannya Wendy tidak menyukai Sehun ―Sehun orang yang baik dan Wendy menyukainya sebagai teman― hanya saja hati Wendy masih tidak rela.

“Wendy, bagaimana menurutmu?” Wendy menelan saliva-nya cukup kaget. “Tumben appa menanyai pendapatku,” batinnya lagi dalam hati.

“Eumm, menurutku….err….bukankah ini sedikit terlalu cepat appa? Aku, masih kelas 1 SMA dan akan menghadapi ujian akhir sekolah, bukannya harusnya kami berdua fokus belajar saja dulu?”

Son Michael tertawa, berikut juga dengan ayahnya Sehun, membuat Wendy kini harus menelan saliva-nya lagi.

“Justru itu, hari kau bertunangan akan menjadi hari terakhir kau di Korea. Setelah bertunangan kau dan Sehun akan kembali ke Kanada.”

“Ap-APA?!”

“Maaf Wendy, tapi appa lupa mengatakan ini sebelumnya. Menurut appa, Kanada adalah tempat yang terbaik untuk kalian berdua, dan orangtua Sehun pun sudah setuju kalau Sehun pindah ke Kanada. Kami tidak ingin kalian berhubungan jarak jauh, jadi kami sudah mendaftarkan kalian di sebuah sekolah ternama di Kanada. Di sana kalian bisa belajar bisnis dan juga belajar saling mencintai. Benar kan?”

“Mencintai bokongku! Appa, ah, sialan!” umpat Wendy tanpa henti, tentunya masih dalam hati.

“Sehun, kau setuju kan nak?” Wendy menatap harap ke arah Sehun, “semoga dia menggeleng,” batinnya dalam hati.

“Ya, terserah appa saja.” sialnya, bukan menggeleng, Sehun malah menggangguk, membuat Wendy harus membulatkan matanya hingga maniknya hampir saja meloncat keluar. “Dasar Oh Sehun!”

^^

“Apa kau tidak punya perasaan sama sekali? Kau mau-mau saja hidupmu dikekang begitu? Kenapa tadi kau tidak melawan sama sekali?!”

Wendy mengeluarkan semua keluh kesahnya kepada Sehun yang kini tengah fokus berada di balik kemudi mobil Audi hitam miliknya. Sehun memang sudah diwajibkan untuk semobil dengan Wendy dan mengantar gadis itu pulang. Gadis bermarga Son itu pun mendengus lagi karena Sehun rupanya tidak terlalu menggubris dirinya sedari tadi.

“Oh Sehun, jawab aku. Kita tidak akan kecelakaan meski kau berbicara!”

“Kata siapa? Itu melanggar peraturan lalu lintas.” Wendy berdecak malas. “jawab saja pertanyaanku sialan!”

Sehun terbatuk sebentar, mengetes suaranya. “Memangnya kenapa?” tanyanya pura-pura bodoh, membuat Wendy lagi-lagi mendengus sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

Ya! Kau ini sebenarnya menyukaiku kan? Kenapa kau mau-mau saja bertunangan dan bahkan pindah ke Kanada bersamaku, eoh?!” cerca Wendy lagi yang membuat Sehun tiba-tiba tertawa kecil.

“Menyukaimu? Ah, mungkinkah?”

“Sehun!”

“Baiklah, baiklah. Aku tidak menyukaimu, kau tau itu kan? Aku hanya mengikuti perintah appa-ku saja.” wajah jenaka Sehun tiba-tiba berubah menjadi serius. Wendy menatap profil samping Sehun yang sempurna, lalu menghela nafasnya perlahan.

“Kau benar-benar anak yang penurut.”

“Setengahnya iya, setengahnya lagi karena aku mau kau berpisah dengan Chanyeol agar Irene bahagia.”

“Ya, aku mau masuk surga, jadi aku menuruti orangtuaku. Tidak seperti seseorang yang ku kenal kabur dari rumah karena memberontak.” Wendy mengatupkan bibirnya, merasa tersindir.

“Baiklah, anggap tunangan itu gampang karena itu hanya status saja. Kita bisa bertunangan, tapi bagaimana dengan Kanada? Kau serius mau pindah ke sana begitu saja? Itu gila bung!”

“Memangnya apa salahnya pindah? Aku pernah ke Kanada sekali, dan menurutku Kanada itu cantik dan menarik.” Wendy berdecak untuk kesekian kalinya mendengar jawaban Sehun.

“Ayolah Oh Sehun, apa kau tidak sedih meninggalkan Korea? Apa tidak ada orang yang tidak ingin kau tinggalkan pergi jauh? Ah, kenapa kau mudah sekali memutuskan pergi, eoh? Kau membuatku frustasi saja!”

“Irene, tapi sepertinya dia tidak terlalu peduli padaku.”

“Tidak, tidak ada yang benar-benar mengharapkanku di sini. Jadi bukankah bagus? Ibu tiriku pasti bersorak karena sebentar lagi aku akan pindah dari rumah besarnya.”

Wendy kali ini diam, tidak tau harus berbicara apa lagi. Akhirnya gadis itu hanya duduk di bangku penumpang, menyenderkan kepalanya ke arah jendela mobil sambil memegangi safety belt-nya dengan wajah ditekuk.

“Kenapa? Sepertinya kau yang tidak rela kembali ke Kanada, bukannya aku.”

Memang.” jawab Wendy dalam hati.

“Kau belum bisa melupakan sunbae itu, huh?” Wendy mengerlingkan matanya malas mendengar pertanyaan random tepat sasaran milik Sehun itu.

“Sehun, dengar ya, aku tidak keberatan kembali ke Kanada, toh Seoul juga hanya memberikan kenangan buruk kepadaku. Hanya saja, aku tidak mau kau juga ikut-ikutan tersiksa karenaku. Kau harusnya bisa menikmati hidup tenang dengan teman-teman lamamu di Korea. Kau punya kenalan di Kanada? Aku rasa tidak. Jadi, jangan menyiksa diri dengan pindah ke tempat yang bahkan tidak kau kenal di saat kau punya rumah dan teman yang nyaman di sini. Jangan buat dirimu bodoh Sehun, aku tidak mau kau menyesal ketika kau sudah menginjakkan kaki di Kanada.”

“Kembali ke Kanada artinya aku tidak perlu bertemu Chanyeol sunbae lagi kan? Menyakitkan, tapi setelah ku pikir-pikir lagi itu bagus juga. Setidaknya jarak dan waktu mungkin bisa membantuku melupakan Chanyeol. Hanya saja, aku tidak mau kau terjerat Sehun. Kau harusnya bahagia dan bukannya terjebak bersamaku.”

“Kita sudah sampai di rumahmu.” Sehun menghentikan mesin kendaraan roda empatnya, memilih mengabaikan penjelasan panjang Wendy yang mau tidak mau membuat si gadis enggan meninggalkan mobil Sehun sebelum lelaki itu berbicara.

“Aku tidak akan menyesal. Sudahlah, masuk ke dalam. Udaranya sangat dingin, jadi tidurlah dengan cepat menggunakan selimut tebal.”

“Sehun.”

“Aku serius. Aku tidak akan menyesal. Kanada akan menyambutku dengan baik.”

Wendy akhirnya menghela nafasnya super panjang. Dengan perlahan gadis itu pun membuka pintu mobil Sehun, lalu keluar dari dalam kendaraan pribadi milik calon tunangannya itu.

“Hati-hati di jalan.”

Sehun mengganguk, lalu melambai ringan ke arah Wendy yang sekarang sudah berjalan memasuki rumah mewahnya. Di dalam hati Sehun tertawa sendiri, ya, menertawai diri sendiri.

“Setidaknya melarikan diri dari Korea adalah keputusan yang terbaik. Setidaknya, terbiasa tidak melihat wajah Irene nantinya akan membuatku lupa bagaimana aku begitu memuja gadis cantik itu. Ya, Kanada akan membantuku move on. Pindah ke Kanada bukan keputusan yang buruk sama sekali, tapi menguntungkan.”

Ya, alasan sebenarnya Sehun setuju untuk bertunangan; melarikan diri.

^^

Siapa yang tau bagaimana cepatnya waktu bergerak? Ya, ternyata sudah seminggu berlalu dan sekarang adalah waktunya ujian kelulusan bagi siswa kelas 3 SMA.

Wendy terbangun di pagi hari yang cerah, eumm, pukul 9 pagi, tapi itu masih termasuk golongan pagi kan? Gadis itu pun segera turun dari tempat tidurnya, masuk ke kamar mandi untuk sekedar membasuh muka lalu turun ke lantai 1 untuk memakan sesuatu yang bisa mengganjal lapar. Singkat saja, karena perutnya berbunyilah makanya Wendy terbangun dari tidur cantiknya.

Omo! Ya! Kenapa kau ada di sini?” otomatis Wendy berteriak ketika ia menemukan pemandangan ganjil di meja makan rumahnya. Nampak kedua orang itu segera berbalik, kemudian salah satunya tersenyum miring ke arah si gadis.

“Sudah bangun tunangan?”

Ya! Oh Sehun!”

Jinwoo yang melihat interaksi sang adik dan calon tunangannya itu hanya bisa mengulum senyumnya. “Kalian terlihat cocok bersama.” ceplosnya yang segera membuat Wendy melotot, sedang Sehun tidak bereaksi apa-apa, bahkan lelaki Oh itu lebih memilih mengecek ponselnya yang baru saja berbunyi.

Oppa, kenapa manusia ini ada di rumah?!” Jinwoo hanya mengangkat bahunya acuh tak acuh. “Kencan?” katanya super enteng, namun segera ia ralat karena Wendy nampaknya tidak sedang dalam mode ingin bercanda.

Appa memerintahkan kalian untuk fitting baju dan mengurus undangan.”

“Demi Neptunus, memangnya appa kira aku akan menikah apa? Kenapa fitting baju segala?!” respon Wendy yang hanya disambut tatapan teduh seorang Oh Sehun, tidak merasa tersindir sama sekali meski Wendy sudah jelas-jelas menolak dengan tegas.

“Supir keluargaku sudah menunggu di luar. Pemilik butiknya juga sudah menghubungiku, katanya kita bisa pergi sekarang.”

Oppa, kau ikut kan?” mengabaikan ucapan Sehun, Wendy malah menohok kakaknya dengan pertanyaan memaksa. Tatapannya sudah membrondol Jinwoo seakan berkata kau-harus-ikut.

“Kau pikir aku mau jadi pengusir serangga? Tentu saja tidak. Aku punya tugas sendiri Wen, aku ada rapat jam 10 nanti.” Jinwoo nampak melirik jam tangannya, sedikit berdecak lalu bangkit berdiri dari duduknya. “Ah, aku sudah terlambat. Kalau begitu aku pergi dulu, appa mungkin sudah menungguku di ruang rapat. Nikmati kencan kalian berdua ya? Aku sangat mendukung kalian.”

Oppa!”

Namun naas, Jinwoo tidak memperdulikan Wendy yang berteriak sambil menghentak-hentakkan kakinya. Setelah melambai sebentar ke arah Wendy dan menepuk bahu Sehun ringan sambil berkata, “jaga adikku,” toh nyatanya Jinwoo sudah pergi keluar rumah dan meninggalkan kedua manusia itu berdua saja di ruang makan.

“Tunggu apa lagi? Kau tidak ada inisiatif untuk mandi, tunangan?”

“Kau tau Sehun, kadang kau menjadi sangat menyebalkan!” pekik gadis itu lagi sambil berkacak pinggang. Sehun hanya mengangkat bahunya masa bodoh.

“Terserah, yang penting sekarang kau mandi. Aku tidak mau mobilku menjadi bau karenamu.”

Aish!”

^^

Berbeda dengan siswa lainnya yang libur, hari ini mungkin menjadi hari paling bersejarah bagi siswa kelas 3. Setelah hampir 3 tahun menuntut ilmu, ujian ini tentunya menjadi penentu kelulusan mereka di SMA dan melanjut ke universitas ternama.

Dengan pemikiran seperti itu, Chanyeol tentunya bekerja keras untuk fokus dengan ujiannya, meski nyatanya ia tidak sepenuhnya fokus.

“Waktu tinggal 5 menit lagi.”

Chanyeol yang sedari tadi menumpukan kepalanya di tangan lantas mengerjap sebentar, cukup kaget karena ternyata waktu cepat sekali bergulir. Dengan kecepatan kilat Chanyeol mengecek lembar jawabannya, lalu mengelus dada karena ternyata ia sudah menjawab 49 soal dari 50 soal.

“Umm, hukum Gay Lussac, ah….aku ingat.” Chanyeol membatin dalam hati sembari menghitamkan jawaban yang benar di lembar jawabannya. Sekarang semua soal sudah terjawab oleh Chanyeol.

Ting Tong!

“Ya, waktu selesai. Silahkan kumpulkan lembar jawabannya ke depan.”

Suara pengawas ujian yang sudah seperti suara malaikat maut itu seketika membuat kelas menjadi krasak-krusuk. Chanyeol yang sudah selesai memeriksa data-nya pun dengan santainya bangkit berdiri, lalu melenggang santai ke depan kelas dan meletakkan lembar jawabannya.

Meninggalkan aktifitas ruang ujiannya yang masih ribut, Chanyeol melenggang begitu saja keluar kelas. Ia melirik jam tangannya, masih ada setengah jam lagi sebelum materi ujian berikutnya. Ia menghela nafas panjang. “Aku butuh hiburan,” batinnya sambil melenggangkan diri menuju taman belakang sekolah.

Chanyeol duduk di kursi panjang taman, memangku kaki lalu mengelurkan ponselnya dari dalam saku celana. Dengan cepat Chanyeol mengeluarkan headshet putihnya dari kantong saku celananya yang satu lagi, lalu menyambungkan kabel itu dengan ponselnya.

Lantunan instumental piano klasik kini memenuhi setiap rungu pendengaran Chanyeol. Ia memejamkan matanya, merasa benar-benar damai dan terhibur.

Ting!

Chanyeol mengerjap, lantas membuka mata paksa karena kedamaian musik klasik itu terganggu dengan suara dentingan lain. Dengan cepat Chanyeol membuka ponselnya, lalu mengecek siapa gerangan yang sudah menghancurkan suasana hatinya itu.

 

From. MoonTaeil : Hari ini Nona Wendy fitting baju dengan Tuan Oh Sehun. Pertunangan mereka dipercepat. Maaf, aku tau kau sedang ujian, tapi aku tidak tahan kalau tidak memberitahu informasi ini padamu.

 

Chanyeol memejit keningnya pelan sembari menatap pesan dari Taeil yang masuk ke ponselnya. Dengan cepat ia mulai mengetikkan pesan balasan kepada Taeil.

 

To. MoonTaeil : Terimakasih, tapi aku sudah tidak peduli.

 

“Sebenarnya berusaha tidak peduli.” —Chanyeol.

 

^^

“Belahan dada-nya terlalu rendah, aku tidak suka.”

Sehun berdecak. Ini adalah gaun ke-5 yang dipakai Wendy, tapi gadis itu masih saja berkomentar tentang gaun-gaun cantik itu sehingga mereka belum mendapatkan gaun yang cocok padahal sudah hampir satu setengah jam mereka berada di dalam butik yang sudah khusus disewa full sehari untuk melayani mereka berdua.

“Kenapa? Itu akan terlihat seksi kan? Ah, atau kau tidak percaya diri memperlihatkan belahan karena dada-mu datar?”

Plakk.

Baiklah, Sehun sendiri tidak tau darimana ia mendapatkan kalimat semacam itu untuk menjawab keluh kesah Wendy mengenai mode gaun yang tengah ia pakai. Yang pasti kepalanya baru saja dipukul oleh gadis itu dengan tangan kanan, sementara tangan kiri Wendy masih berada di depan bagian dadanya.

“Aku tidak tau kalau kau secabul ini Oh Sehun. Ku pikir kau itu lelaki polos.”

“Polos? Semua laki-laki itu sama Wendy, pervert.”

Oh, tolong ingatkan Wendy kalau mungkin saja Sehun mabuk rumus matematika atau fisika karena terlalu banyak les belakangan ini. Dimana Sehun yang irit bicara dan sering mengucapkan kata-kata dewasa itu? Sehun yang menenangkannya dengan cara-cara dingin? Kenapa yang ada di mata Wendy sekarang adalah Sehun yang kekanakan, suka asal bicara, cerewet, dan sedikit mesum?

Dalam hati Wendy kadang berpikir, “Ini Sehun atau Chanyeol?”

Sederhana, makin lama Wendy makin merasa kalau Sehun dan Chanyeol itu mirip dalam hal sifat. Yah, kecuali Sehun belum pernah menggombal kepadanya seperti Chanyeol mengucapkan larik-larik romantis nan puitis yang berakhir sadis; putus.

“Kau ini lama tinggal di Kanada kan? Pastinya gaun semacam itu biasa saja di sana. Kenapa mempermasalahkan belahan dada?” Sehun berucap beruntun saat Wendy berbicara kepada pegawai butik untuk mengganti gaun itu dengan gaun lainnya. Ayolah, Sehun tidak mau menunggu untuk gaun ke-6 dan komentar-komentar Wendy lagi tentang gaunnya nanti. Lagipula, Sehun merasa gaun ke-5 itu cantik dan cocok di badan mungil Wendy. Tambahan, jika Wendy mengganti gaun itu artinya Sehun harus berganti tuxedo juga karena gaun-gaun sialan itu sepasang dengan tuxedo-nya. Ayolah, Sehun sudah cukup lelah keluar masuk ruang ganti!

Menunggu selama 20 menit —ya, Sehun sendiri tidak tau kenapa saat ia keluar dari ruang ganti dengan tuxedo putih Wendy belum keluar juga dari ruang ganti dan ini sudah masuk menit yang ke-20— cukup membuat Sehun bosan. Akhirnya lelaki bermarga Oh itu memilih duduk di sofa sambil memainkan ponselnya, entah itu membuka album foto, memeriksa SNS atau sekedar berbalas pesan dengan sahabat-sahabat lamanya yang mengajak liburan.

“Tuan, nona Son sudah selesai.” Sehun mendongak, melepaskan atensinya dari layar ponsel dan menatap pelayan yang masih saja tersenyum meski Sehun tau pelayan itu sudah gondok setengah mati.

“Ini aneh kan? Aku rasa gaunnya terlalu pendek.”

Sehun mengerjapkan matanya dua kali kedipan, lalu menutup paksa mulutnya yang sedikit terbuka karena melongo. Wendy sekarang menggunakan gaun cantik berwarna putih dengan bagian depan berada di atas lutut, sementara di bagian belakangnya mengekor panjang. Sebuah pita kecil nan manis berbentuk bunga-bunga kecil melingkari pinggang ramping Wendy, sedang tangan gadis itu kini menggenggam sebuah buket bunga khas pengantin —ah, maksudnya tunangan. Pun model bagian atas yang terbuka dan menampakkan bahu mulus Wendy sedikit membuat Sehun harus meneguk salivanya sekali.

“Sehun?”

Sehun mendapat kesadarannya sesekali. Ia berdehem sebentar. “Itu tidak aneh, itu sudah bagus. Hm, cantik. Sudah, kita ambil gaun yang ini saja, aku sudah lelah berganti pakaian sedari tadi.”

“—tapi Sehun, dadanya,”

“—kita ambil yang ini Wendy, titik.”

Dan akhirnya, masalah gaun untuk acara tunangan itu selesai juga. Sehun menghela nafasnya lega. Akhirnya ia akan terbebas dari tuxedo panas itu.

“Baiklah, silahkan berpose di sana. Kami akan memfoto kalian berdua.”

“Eh? Kami tidak—“

“—Ini perintah Tuan Son dan Tuan Kim nona, kami harus menuruti perintah.”

Akhirnya, mau tidak mau Wendy dan Sehun pun berfoto juga dengan pose Sehun yang menggandeng gadis Son itu—catat, pelayannya yang memerintahkan gaya semacam itu jadi Wendy mau pun Sehun tidak bisa melawan apa-apa.

“Sudah selesai?” tanya Sehun, dan Wendy pun dengan cepat mengangguk.

“Baiklah, masuk ke mobil, aku akan mengantarmu pulang.”

^^

“Ujianmu baik-baik saja?” Sehun berucap dengan sangat terpaksa, takut disebut pengecut jika a tidak menyapa gadis cantik yang entah kenapa bisa ada di tempat bimbingan belajar itu. Ya, Sehun memang tau kalau Irene adalah siswa di bimbingan belajar yang sama dengannya, Sehun tau karena ia sering menyapa Irene di sana, pun Sehun sering mengantar Irene ke halte sebelum akhirnya ia pamit karena melihat sudah ada Chanyeol yang menunggu Irene di halte.

Irene menatap Sehun canggung. Selama seminggu terakhir mereka berdua tidak berbicara sama sekali. Selain faktor Irene yang semakin jarang bertemu Sehun, lelaki itu pun agaknya menghindar dari Irene. Namun naasnya, Sehun kali ini tidak bisa mengelak karena sudah bersitatap mata secara tidak sengaja dengan Irene. Oh, siapa yang pikir Irene akan berada di kelas bimbingan lagi padahal gadis itu tengah mengikuti ujian kelulusan? Sehun pikir malam ini ia akan les tanpa melihat Irene seperti seminggu belakangan ini, tapi nyatanya saat ia pulang ia malah berpapasan dengan Irene.

Errrr, baik. Ujianku baik-baik saja.” jawab Irene ikut canggung, ah, mereka tidak bisa dibilang akrab sekarang kan? Bahkan mereka berdua berusaha saling membuang muka agar tidak bersitatap mata.

“Oh begitu rupanya.” Sehun terdiam sebentar, mencuri-curi pandang ke arah Irene yang menggengam buku di tangannya sambil menggigit kecil bibirnya.

Noona kenapa ada di sini? Bukannya les noona sudah selesai minggu lalu?” Irene nampak merapikan rambutnya sedikit, lalu tersenyum kaku. “Ah, ada yang ketinggalan di lokerku. Hm, buku ini.” Irene menunjukkan buku bersampul kuning tebal yang masih ia pegang. “Aku lupa kalau aku meninggalkannya di sini, hehe, padahal ada materi yang harus ku baca dari buku ini untuk ujian besok.”

Sehun nampak mengangguk-angguk paham.

“Kau sendiri bagaimana? Les-mu lancar? Setelah kami ujian kalian juga melaksanakan ujian kenaikan kelas kan?” tanya Irene lagi basa-basi. Sungguh, kalau bisa ia ingin lari saja sekarang karena suasananya benar-benar kaku dan canggung.

“Yah, begitulah, masih seperti biasa noona. Lancar-lancar saja.”

Irene menggangguk lagi, lalu ia terdiam. Sehun pun begitu, jadi sekarang yang ada hanya sunyi yang melingkupi kedua manusia itu.

“Se-sehun, aku pulang dulu ya? Aku harus belajar, hehe…”

Grep!

“Kau mau pulang sekarang? Hujannya cukup deras.”

Sehun menahan tangan Irene yang hendak keluar dari pintu ruang bimbingan.

Irene mengamati keadaan malam di luar sana; memang hujan deras. Ah, Irene bahkan sampai lupa kenapa ia hanya berdiam diri di ruangan itu tadi padahal urusannya sudah selesai sejak setengah jam lalu. Ia benar-benar lupa kalau karena hujanlah sehingga ia terjebak dengan dalih berteduh tapi malah bertemu dengan Sehun.

“Kau benar, ah, aku sampai lupa kalau hujan.” Irene menepuk kepalanya sendiri, lalu tersenyum tipis.

“Kau tidak menghubungi Chan-ah, maafkan aku.” Sehun merutuk mulutnya sendiri yang lancang dan hampir menyebut nama Chanyeol di depan Irene. Ah, bagaimana bisa ia lupa kalau Irene sudah putus dengan Chanyeol?

Gwenchana, aku tidak apa-apa. Chanyeol bilang kalau aku butuh bantuannya dia akan membantuku kapan saja, tapi sepertinya sekarang aku tidak bisa menghubunginya.” Irene nampak menatap hujan di depan sana dengan tatapan sendu.

“Dia pasti sedang sibuk belajar sekarang, tidak mungkin aku menghubunginya untuk menjemputku.” lanjut Irene lagi sambil tertawa kecil, tengah membohongi diri sendiri.

“Akan sangat tidak tau diri kalau sampai aku menghubungi Chanyeol dan merengek minta dijemput padanya. Ah Irene, memangnya kau ini siapanya Chanyeol?” lanjut Irene dalam hati; setengah meringis.

“Mau ku antar pulang?”

“Eh?”

“Mau pulang bersamaku noona? Kebetulan hari ini aku membawa mobil. Bagaimana?”

^^

“Chanyeol, kau benar-benar mau masuk akademi kepolisian?” hari kedua ujian seharusnya dihabiskan Chanyeol dengan istirahat di taman belakang, tapi kali ini waktu istirahatnya direbut paksa oleh saudara tirinya; Byun Baekhyun.

Chanyeol memutar kedua bola matanya, memangnya apa yang salah dengan pilihannya sehingga Baekhyun harus menanyakan itu?

“Menurutmu?”

Baekhyun berdehem sebentar. “Aku tidak sengaja melihatmu mendaftar ke tata usaha kemarin, kau sungguh-sungguh?”

Chanyeol mengangguk pelan sambil memasukkan jemarinya di dalam saku.

Appa sudah tau?”

Chanyeol menggeleng dengan cepat. “Ini keputusanku sendiri, appa tidak tau apa-apa.”

“Tapi kenapa, eoh? Ku pikir kau membenci pekerjaan itu. Kau pernah bilang satu-satunya yang kau benci dari appa adalah dia jarang pulang melihat istri dan anak-anaknya.”

Chanyeol tertawa kecil, bingung menjawab apa. “Entahlah, aku hanya bingung. Aku memang membenci pekerjaan sialan itu, tapi mau tidak mau aku sudah terlena juga. Appa terlihat sangat keren saat menjadi detektif polisi, dan aku ingin menjadi seperti appa. Caranya mengatupkan rahang dan menarik pelatuk pistol benar-benar membuatku kagum. Aku benci, tapi aku juga menyukainya. Jadi tidak salah kan kalau aku ingin masuk akademi kepolisian?”

“Bukan karena akademi kepolisian mengharuskan sekolah asrama jika lulus tes masuk? Aku hanya khawatir kau sedang berusaha melarikan diri, Chanyeol.”

“Baiklah, terserahmu saja. Aku pasti akan mendukung semua keputusanmu. Dan eoh, pastikan kau memberitahu appa dan eomma tentang keputusanmu ini.”

“Ya, aku tau hyung.”

^^

“Aku bersungguh-sungguh.”

“Jangan berbohong kepadaku!” pekik Irene, namun Sehun hanya bisa terkekeh, menertawai dirinya sendiri. Kenapa saat ia jujur, Irene tidak pernah percaya kepadanya? Tapi saat ia berbohong gadis itu benar-benar menganggapnya nyata?

“Aku ingin pulang!”

“Ya, kita sudah dalam perjalanan pulang.” jawab Sehun datar sembari menaruh fokus pada jalan raya di depannya. Dibalik kemudi, Sehun sebenarnya terlihat sangat dewasa dan jauh dari kata kekanakan, namun bagaimanapun juga, Sehun tetaplah hanya sebatas adik kelas di mata Irene.

“Tidak, turunkan aku di sini!”

“Tidak mungkin noona. Di luar hujan, dan aku tidak mau orangtuamu besok menuntutku karena aku membuat putrinya sakit sehingga tidak bisa mengikuti ujian kelulusan dengan baik.”

Irene mengerlingkan matanya, antara muak dan bingung dengan sikap Sehun hari ini. Ya, Sehun bagaikan seorang labil aneh di matanya, selalu berubah-ubah dan membuat Irene harus memutar otak hingga mengerti apa yang sedang Sehun utarakan padanya.

“Harusnya aku tidak menerima ajakanmu pulang.”

“Ternyata noona cerewet juga.”

“Sehun!”

“Maafkan aku.”

Bisu tiba-tiba memenuhi ruang sempit di mobil Audi milik Sehun. Suara pemanas yang dipasang di mobil itu bahkan terdengar sangat jelas karena hening di dalam sana. Ditemani rintik hujan yang menerpa kaca mobil berlomba-lomba, Sehun menatap Irene super teduh.

“Aku hanya ragu, noona.” jelasnya kemudian dengan sendu.

“Kenapa?”

Ingin rasanya Irene menyuarakan kebingungannya kepada adik kelasnya itu, namun urung si gadis lakukan karena tatapan Sehun yang perlahan meredup.

“Kita sudah sampai.” vokal Sehun kemudian sambil menginjak rem, memilih mengabaikan pertanyaan Irene. Dengan gerakan cekatan Sehun mengambil sebuah payung di dalam tas di bangku belakang mobil.

“Pakai, nanti kau sakit.” ujarnya sembari menyodorkan sebuah payung berwarna kuning cerah, sungguh berbeda dengan kepribadian Sehun.

“Bisa kau jelaskan kenapa kau berubah lebih dulu Sehun? Takutnya kau membuatku tidak fokus belajar malam ini. Sekali saja, bisa kau buat aku fokus?” tolak Irene ketika Sehun bergerak membuka safety belt yang tersampir di badan Irene. Mungkin Sehun tidak tau kalau sekarang Irene tengah menahan nafas dalam-dalam karena badan Sehun begitu dekat dengan tubuhnya. Oh, bahkan Irene bisa merasakan deru nafas perlahan milik lelaki itu yang berbaur dengan aroma parfum maskulin dari badan Sehun.

“Tapi berjanjilah, kalau kau mendengarnya, kau harus memberikan satu dari 2 respon ini.”

“Apa?”

“Kau harus berjanji.”

Irene memutar mata untuk kesekian kalinya. “Baiklah, aku berjanji.”

Sehun mengulum senyumnya samar.

“Kalau aku mengatakan yang sebenarnya, apa yang akan kau lakukan?” Sehun menggantung kalimatnya, lalu menatap Irene intens hingga rasanya jantung gadis itu hampir jatuh ke perut. “Noona, kau akan menahanku, atau membiarkannya saja?”

“Maksudmu? Aku tidak mengerti sama sekali Sehun. Kau benar-benar membuatku bingung.”

Irene nampak menutup matanya sebentar, merasakan bau hujan yang masuk samar dalam indera penciumannya. Dengan gerak telaten Sehun mengeluarkan sebuah benda persegi panjang dari dalam saku jaket yang ia pakai.

“Menahanku, atau membiarkanku saja?” tanya Sehun untuk kesekian kalinya sambil menyodorkan benda di tangannya kepada Irene, benda yang segera membuat gadis itu membulatkan matanya.

“Sehun, ini……kau serius?”

^^

Jika kemarin siswa kelas 3 yang berpikir keras bagaimana caranya menyelesaikan sebuah soal demi masa depan mereka, maka sekarang giliran kelas 1 dan 2 yang harus berpusing-pusing ria. Ujian kelulusan sudah selesai 2 hari yang lalu, dan sekarang kelas 3 sedang dalam masa deg-degan karena melakukan tes untuk masuk ke universitas tujuan mereka.

Pagi hari, pukul 7 pagi, Chanyeol sudah bersiap pergi ke akademi polisi untuk melakukan tes wawancara karena kemarin ia sudah menyelesaikan tes akademik dan dinyatakan lolos untuk babak tes selanjutnya. Masuk akademi polisi dengan seleksi sangat ketat rupanya tidak terlalu berat bagi Chanyeol yang katanya punya otak jenius itu. Orang tua Chanyeol pun mendukung keputusan Chanyeol masuk akademi polisi meski sang ayah sebenarnya menyayangkan putranya memilih sekolah dengan resiko tinggi seperti itu.

Kalau Chanyeol sibuk bergulat dengan akademi polisinya, maka Baekhyun kini tengah menenteng tasnya yang berisikan buku-buku hukum, sementara mulutnya sedari tadi menggumamkan sesuatu seperti menghafal. Katanya Baekhyun ingin menjadi jaksa, dan dia ingin masuk ke fakultas hukum Universitas Seoul.

Oppa!” Baekhyun hanya menoleh sekilas ke arah Sae Ron yang kini berlari kencang ke arahnya. Oh, Baekhyun sampai lupa kapan terakhir kali ia dan kekasihnya itu berangkat bersama ke sekolah.

“Hm, Sae Ron-ah. Tidurmu nyenyak? Sudah belajar materi ujianmu hari ini?” Sae Ron mengangguk dengan cepat yang hanya dibalas dengan ber-oh ria oleh Baekhyun.

Oppa, terimalah ini. Aku membuatkan bekal makan siang untukmu. Aku tau tesnya sangat lama dan menjengkelkan, dan aku yakin kau pasti malas pergi ke cafetaria universitas untuk sekedar makan siang. Ini, untukmu, ganjal perutmu agar kau semakin mudah menghafal.” Baekhyun menatap kotak bekal yang disodorkan kekasihnya itu sambil tersenyum lebar. Bukannya meraih kotak bekalnya, Baekhyun malah mengelus puncak kepala Sae Ron dan menarik gadis itu ke pelukannya dengan cepat.

“Terima kasih Sae Ron-ah, aku tidak tau harus berkata apa lagi setelah semua yang kau lakukan. Padahal akhir-akhir ini aku mengacuhkanmu karena terlalu sibuk belajar, tapi kau masih saja peduli padaku. Aku akan makan bekalnya nanti. Terimakasih. Dan eoh, kau tetap belajar kan meski sibuk membuat bekal?” bisik Baekhyun sambil memeluk erat Sae Ron yang kini pipinya sudah bersemu merah.

“Aku belajar. Tenang saja.” cicit Sae Ron sambil membalas pelukan Baekhyun.

“Baiklah, kalau begitu ayo berangkat. Aku tidak mau kau ketinggalan bis dan terlambat untuk ujian. Kajja!”

Ne oppa, hwaiting!”

^^

Waktu bergulir lagi dengan cepat. Ah, kenapa musim ujian terasa begitu mencekik, tapi ketika selesai nafas rasanya begitu lega?

“Aku tidak menyangka kau mendapat peringkat pertama!” Sehun hanya tersenyum samar sambil memangku tangannya di depan dada, lalu menatap Wendy yang berucap kaget itu dengan ekspresi –sudah-kubilang-aku-ini-sebenarnya-jenius.

“Sekarang kau percaya kan? Cih, sekarang ibu tiriku pasti akan marah-marah ketika melihat nilai raportku.” Jawab Sehun berbangga diri yang hanya diiyakan saja oleh Wendy. Toh dia memang mendukung perubahan Sehun yang mau menunjukan potensinya. Dulu Sehun dikekang oleh ibu tirinya karen Sehun sangat pintar dan membuat ibu tirinya gondok karena takut eksistensi anak kandungnya berkurang di mata CEO Kim; suaminya. Lantas, pemberontakan Sehun untuk menunjukkan kalau dia tidak bisa diatur menjadi bodoh begitu saja dan menunjukkan kalau Sehun memang pintar harusnya memang sudah Sehun lakukan sejak lama.

“Hm, coba ku lihat. Aku peringkat ke 9, Taeyong ke-5? Aish, dia masih pintar saja. Lalu Taeil…….ah, serius? Dia peringkat 3!” Wendy memekik keras ketika melihat daftar peringkat di mading, membuat Sehun harus menutup telinganya karena Wendy nampak sangat bersemangat.

“Tidak, harusnya Taeil tidak hanya menjadi bodyguard. Taeil benar-benar pintar padahal dia murid baru dan sempat putus sekolah. Sehun, sepertinya aku harus meminta appa untuk menyekolahkan Taeil juga di universitas saat lulus SMA nanti!”

Sehun hanya menganguk setuju dengan pendapat Wendy. Taeil memang cenderung pasif di kelas dan jarang hadir karena bertugas sebagi bodyguard Wendy, dan peringkat 3 tentunya sangat menakjubkan untuk seorang Moon Taeil. “Sepertinya dia memang pintar,” komentar Sehun singkat.

“ Sehun, emmmm…….tunggu, sepertinya aku melupakan sesuatu.”

“Apa?” tanya Sehun bingung karena Wendy nampak berpikir sangat keras.

“Oh, kita harus ke aula! Hari ini sekaligus hari pelepasan kan? Upacara kelulusan harusnya dimulai sebentar lagi.” Sehun segera menatap jam tangannya, lalu ber-oh ria.

“Kau benar. Kajja, sepertinya kita memang harus ke aula sekarang.”

^^

Upacara kelulusan kelas 3 Star Culture Senior High School berjalan dengan hikmat dan lancar. Seperti dugaan orang-orang, Chanyeol menjadi lulusan terbaik tahun ini dan membuat lelaki bermarga Park itu harus memberikan pidato kelulusan setelah sebuah medali emas disematkan oleh kepala yayasan di leher Chanyeol atas semua sumbangan prestasi yang sudah Chanyeol berikan selama menjadi siswa di SMA itu.

Semua orang berteriak heboh ketika Chanyeol naik ke atas podium. Semua adik kelas bahkan seangkatannya sendiri berteriak histeris ketika Chanyeol tersenyum dan mulai mengucapkan pidatonya. Ya, tidak mengenal gender, baik laki-laki maupun perempuan semuanya berteriak dengan heboh. Orangtua murid nampak sudah terbiasa dengan teriakan-teriakan kaum muda itu, bahkan Detektif Park yang sengaja mengambil cuti demi menghadiri upacara kelulusan putra kandungnya itu nampak sudah berkaca-kaca karena terharu melihat putranya berdiri dan berbicara di depan sana.

“Aku berterimakasih untuk semua kenangan indah maupun buruk di SMA ini. Banyak hal yang terjadi selama 3 tahun ini, dan yah…itu menyenangkan. Aku sama sekali tidak menyesal sudah menghabiskan masa SMA di sini.” Chanyeol tertawa sebentar, lalu menjauhkan microphone dan melonggarkan sedikit dasinya. Ia berdehem sebentar, lalu meletakkan kertas pidatonya di atas podium.

“Sepertinya formal tidak cocok untukku kan? Aku sudah menulis semuanya di atas kertas ini, tapi aku tidak suka membacanya. Ah, aku ingin berbicara langsung saja. Aku akan mengatakan semua yang muncul di otakku sekarang ini. Apa itu baik-baik saja, kepala sekolah? Aku tidak mau namaku tiba-tiba masuk buku dosa karena mengacaukan upacara kelulusan.”

Mendapat anggukan dari pria tua itu setelah tawa memenuhi aula, Chanyeol segera tersenyum lebar dan kembali melanjutkan pidatonya.

“Maafkan aku.”

Keadaan yang ricuh seketika menjadi diam ketika Chanyeol mulai menggumamkan maaf yang entah atas dasar apa.

“Untuk semua gadis yang pernah kencan sejam denganku, aku benar-benar minta maaf karena bermain-main dengan kalian. Ah, rasanya aku begitu brengsek ketika mencampakkan kalian kan? Maafkan oppa ya? Sekarang oppa ingin bertobat dan tidak mau menjadi pria brengsek yang main perempuan lagi, jadi tolong jangan berharap aku membuka kencan satu jam lagi. Maafkan aku.”

“Dan juga untuk para guru……”

“Dasar narsis.” Komentar Sehun yang duduk di sebelah Wendy. Gadis itu hanya ber-oh ria saja. Sejujurnya dia tidak terlalu mendengarkan apa yang Chanyeol ucapkan dari atas podium itu. Yang menjadi fokus Wendy adalah bagaimana Chanyeol bercanda di atas podium sana. Chanyeol tertawa sangat lebar, pun wajahnya berseri-seri bahagia. Hanya satu yang Wendy pikirkan dalam benaknya sekarang ini; apa Chanyeol benar bahagia atau tidak?

“Dan aku ingin mengucapkan selamat tinggal.”

Keadaan yang ricuh karena teriakan histeris para murid perempuan itu segera mereda karena kalimat selanjutnya yang dilontarkan Chanyeol.

Goodbye, see you again, terdengar sangat klasik kan? Aku hanya akan mengucapkan goodbye, tapi tidak dengan see you again. Aku tidak mau mengucapkan sampai jumpa lagi karena aku takut berharap dan aku takut menjadi orang yang memberi harapan tapi aku sendiri yang tidak bisa mengabulkannya. Jadi maafkan aku. Bagiku, selamat tinggal artinya bukan perpisahan. Bagiku, selamat tinggal berarti makna merindukan. Selamat tinggal, artinya aku akan merindukanmu sampai kita bertemu lagi di lain kesempatan. Tanpa berharap sesuatu yang mungkin tidak akan terkabul, muluk jika aku ingin takdir yang mempertemukan kita lagi dibanding harapan?”

Baik, itu lebih terdengar seperti gombal daripada sebuah ucapan selamat tinggal karena lulus SMA. Buktinya sekarang semua gadis berteriak histeris lagi karena katanya Chanyeol nampak sangat tampan ketika berucap romantis seperti itu.

Ya, semua berteriak kecuali Wendy. Kecuali gadis itu yang kini merasa air matanya mungkin menyeruak karena tatapan itu. Chanyeol menatap Wendy, tepat ke arah manik cokelat milik gadis itu.

“Apa dia mengatakan itu untukku?” batin Wendy berkecamuk tiba-tiba.

“Ah, sepertinya aku salah bicara. Bukan, aku sedang tidak menggombal. Haha, maksudku, aku ingin takdir yang mempertemukan kita semua lagi nantinya. Teman seangkatanku yang sedang berbahagia karena lulus SMA, mari kita bertemu lagi beberapa tahun kemudian secara kebetulan ketika kita sudah menjadi orang sukses. Bukankah seperti takdir? Kita semua akan menjadi sukses, dan itu adalah takdir kita. Happy congratulations!”

Chanyeol mengakhiri pidatonya yang tidak bisa disebut pidato karena lebih banyak berbicara melantur dan mendapat tepukan riuh ketika turun dari podium dan kembali ke bangkunya. Wendy melihat itu, dan gadis itu yakin bukan itu yang mau Chanyeol sampaikan. Wendy memegangi dadanya yang berdegup cepat. Yang ada di pikiran Wendy sekarang hanya satu; berbicara dengan Chanyeol bagaimana pun caranya itu.

^^

Sunbae!” pekik Wendy nyaring, tidak peduli meski sekarang Chanyeol tengah dikerubungi gadis-gadis yang ingin meminta berfoto bersama dengan pria itu. Hanya dalam hitungan detik, Wendy kini menjadi pusat perhatian fans Chanyeol. Tatapan beragam mulai dilayangkan ke arah gadis bermarga Son itu, terlebih Wendy sekarang menyandang status ‘mantan kekasih oppa’ mereka.

“Kita harus berbicara, ah, tenang saja, hanya 5 menit. Arraseo?”

“Baiklah, kau ingin berbicara tentang apa?” tanya Chanyeol lembut sambil mengalihkan atensinya dari kumpulan fans–nya yang sudah memasang tatapan membunuh ke arah Wendy.

“Sesuatu yang penting, dan aku ingin kau menjawab ini dengan jujur, sunbae.”

 

 

To Be Continued

 

 


 

Author’s Note :

Eki sedang ujian kenaikan kelas gaes, doain eki yaw. 2 minggu ini mungkin eki gak bisa update cerita apapun, mianhae :’) Ujian ini membunuh eki masa :’) Doain gak di her ya, bir selesai ujian eki bisa ngetik sepuasnya lagi :’)

Salam sayang kethcup basyahh,

shaekiran ❤

Iklan

26 pemikiran pada “Rooftop Romance (Chapter 26) – Shaekiran

  1. Ping balik: Rooftop Romance (Special Chapter – When it Rains) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 34) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 33) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  4. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 32) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  5. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 31) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  6. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 30) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  7. Wendy knp kamu mau mau aja sih. Sebel gmn greget gimana gitu. Dan sehun! Demi bokong neptunus kamu kalo suka irene knp gk berjuangggg….aku sebel setengah mati.

  8. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 29) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  9. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 28) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  10. Kira kira apa mau ngomong apa ya si wendy?makin penasaran aja😏
    Aduh gak ngebayangin Chanyeol pidato pasti keren bingo😍😍
    Chanyeol kan dah putus ma Irene berarti si Chan jomblo donk? Kesempatan bagus ni

  11. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 27) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  12. huaaa….. Pidatonya bikin baper,,,
    jadi tambah penasaran endingnya bgaimana?
    Lanjut…. kak, and smg ujiannya Lancar…

  13. Sehunnn jadian aja sama Irene pliss jangan nikah sama Wendyy😭😭😭. Wendy milik Chanyeol seorang😂😂 ㅋㅋㅋㅋㅋ

  14. Kenapa pada mau main melarikan diri semua?😂 salfok tiba2.
    Plissss satukan sehun dan wendy eh mksud mas cy dan wendy.😭 aku tak kuasa menahan kesakitan wendy #alay
    Ditnggu chapt selanjutx
    Semoga ujiannya sukses yah ekii semangat💕

  15. Sehun sudah tertular virus menyebalkan milik Chanyeol.
    For eki, semangat buat ujian kenaikan kelasnya. Berdoalah, semoga otakmu tidak sampai mengepul nak.

  16. Eki,aku baper sampe nangis,kamu keterlaluan ki bikin ceritanya,sumpah nyelekit ki,nusuk sampe ke hati ki,astaga aku nangis beneran sampe aku screenshoot pidatonya mychan,dalam,kapan hubungannya mereka bener2 terwujud plus sling jujur satu sama lain ki,please aku udah gak mau nangis gara2 baper,moga chanwen udah saling jujur di next chapternya,and para tetua itu segera disadarin,udah gedek aku sama sih tetua….
    Next dipercepat ya ki,,,,,
    Love you ff ki…

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s