GAME OVER – Lv. 3 [Time Paused] — IRISH

G    A   M   E       O   V   E   R

‘ Baekhyun x Jiho (known as HongJoo) ’

‘ AU x Adventure x Fantasy x Romance x Science Fiction ’

‘ Chapterred x Teenagers ’

‘ prompt from EXO`s — Can`t Bring Me Down & EXO CBX`s — Crush U

Game Level(s):

ForewordPrologue A SidePrologue B Side — Level 1 — Level 2 — [PLAYING] Level 3

Wings drenched in arrogance

The sky that you choose falls

2017 © GAME OVER created by IRISH

♫ ♪ ♫ ♪

Level 3 — Time Paused

In Jiho’s Eyes…

Ancaman bodoh tidak berdasar yang Baek-Hyun berikan nyatanya berhasil membuatku masuk ke dalam survival mode1—meski sebenarnya aku enggan. Jam masih menunjukkan pukul empat saat aku masuk ke dalam mode ini, dan sekarang, sudah hampir tiga jam kuhabiskan dengan berputar dari satu Town ke Town lain—untuk informasi, ada satu Town di tiap stage yang berisikan sekitar lima sampai tujuh level—aku bahkan mencarinya di tempat-tempat bonus.

Tapi ia tidak ada dimanapun. Ia masih online tapi pesanku diabaikannya. Lalu sekarang mengapa aku berputar-putar seperti orang bodoh?

Hah. Ia pasti sudah mempermainkanku. Kupastikan sekarang ia tengah menertawaiku, menganggapku seorang player idiot yang dengan mudahnya bisa ia bohongi hanya karena ancaman kecil dan keingin tahuan.

Akhirnya, aku duduk di salah satu sudut Town yang ada di Spring Stage. Membiarkan diriku larut dalam indahnya pemandangan musim semi virtual yang WorldWare sajikan sementara aku berpikir.

Kenapa ia memintaku untuk menemukannya? Apa ia sedang mempermainkanku? Hah. Konyol sekali. Kurang dari satu jam lagi, aku akan berhadapan dengannya di turbulence2 dan sekarang aku sudah menghabiskan human wealth3 yang seharusnya kugunakan saat battle4 nanti.

Aku kelelahan.

Setidaknya keluar dari survival mode dan beristirahat sampai jam delapan akan memberiku waktu untuk mengumpulkan kembali human wealth dan membuatku sanggup memberi perlawanan saat battle nanti.

Lagipula, aku tak mungkin membiarkan Countryku hancur bukan? Meski aku bukanlah seorang player master, atau terkenal di kalangan player lainnya, setidaknya aku bisa berusaha.

Well, aku memang hanya satu dari ribuan pemain yang ada di dalam WorldWare. Meski aku sudah pernah memainkan WorldWare dalam versi trial selama setengah tahun, hal itu tidak lantas membuatku menjadi seorang master.

Aku punya keterlambatan yang cukup fatal di normal mode saat versi full dari WorldWare dirilis. Sebuah kecelakaan terjadi dua tahun lalu dan membuatku sekarang tidak bisa dengan bebas menggunakan kesepuluh jemariku.

Terkadang, akan ada kalanya jemariku kaku dan tidak bisa digerakkan. Karena hal itu sering terjadi ditengah-tengah PK atau battle melawan Villain5, levelku juga naik dengan cukup lambat, dan namaku secara otomatis berada di bawah belasan player lain yang bisa bermain dengan handal—

—Ah, sudahlah. Untuk apa mengenang masa lalu?

Meski aku berhasil menyelesaikan survival mode dengan cepat dan naik level dengan cepat juga, tetap saja mereka tidak menganggapku ada. Ya, setidaknya survival mode tidak membutuhkan kerja jemari dan hanya membutuhkan kecerdasan berpikir saja.

Akhirnya, aku hanya bisa menghela nafas panjang. Merasa menyesal pada apa yang sudah terjadi jelas tidak akan berbuah apapun, dan menginginkan sebuah ketenaran di saat yang tidak tepat juga bukanlah hal yang benar.

“Kurang ajar! Kau sudah bermain-main denganku!” kusadari aku berseru sendiri, penuh kekesalan saat sadar jika dalam nasib yang menyedihkan ini aku kembali diberi sebuah alasan untuk kesal lantaran seorang player yang bahkan tidak kukenal.

Tanpa pikir panjang, aku keluar dari survival mode, terbangun dalam sebuah tabung yang ada di dalam kamar—tabung yang setiap harinya menjadi tempatku berbaring selama beberapa jam dan masuk ke dalam survival mode.

Lapar segera menyerangku, selalu seperti itu. Rasa lapar dan haus adalah dua hal yang menyerang ketika aku kembali dari survival mode. Apa karena saat berada di survival mode aku tidak bergerak dan hanya menghabiskan waktu dengan berpikir dalam tidur?

Ya, survival mode serupa dengan mode tertidur. Itulah mengapa kukatakan jika serangan apapun di dalam survival mode tidak akan berefek apapun pada tubuh tapi terasa nyata.

“Kau masih di sini?”

“Oh Tuhan! Taehyung!” aku berseru saat sadar jika—entah sejak kapan—Taehyung ada di ruang tengah kediamanku. Well, ini bukan rumahku, dan bukan rumah Taehyung juga.

Tempat ini adalah sebuah mess dimana semua player WorldWare diizinkan untuk tinggal dan menggunakan satu kamar mungilnya untuk masuk ke dalam survival mode. Dan Kim Taehyung adalah seorang yang bisa muncul lalu hilang seenaknya.

“Kupikir kau bersiap-siap di Town.” ia mengabaikan ungkapan kekesalanku dan meneguk susu vanilla dari gelas yang ada di tangannya.

“Aku akan bersiap-siap.” sahutku, melewatinya untuk meraih beberapa potong sandwich yang ia buat dan dibiarkannya ada di hadapan. Membiarkanku mengambil alih beberapa potong sandwichnya dan menjadikan benda itu menjadi pengganjal perut, Taehyung memperhatikanku dalam diam.

“Apa kau baru kembali dari survival mode?”

“Bagaimana kau tahu?”

Taehyung mengangkat bahu acuh. “Kau selalu terlihat kelaparan seperti ini tiap kali kembali dari survival mode. Ada apa? Kulihat Countrymu berkeliling di Hanyang Town tanpa adanya dirimu. Dan juga, aku baru sadar kau turun beberapa level. Apa yang terjadi?”

Nah, tentu Taehyung sadar jika ada yang salah denganku. Berkeliaran tidak tentu arah di dalam survival mode dan kehilangan beberapa level. Bukankah aku juga akan terlihat mencurigakan di depan Countryku nanti?

“Aku kalah saat PK6 dengan salah satu Country. Dan aku mengelana di dalam survival mode untuk mengejar kekalahanku.”

“Kau kalah dalam survival mode?” Taehyung mengulang, ia memicingkan matanya menatapku, seolah tidak percaya jika aku bisa dengan mudah dikalahkan oleh seseorang di dalam survival mode dan berhasil kehilangan dua level yang begitu susah payah kudapatkan.

“Memangnya apa yang salah?” aku balik bertanya pada Taehyung.

Tidak lantas menjawab, Taehyung hanya menggeleng pelan. Masih tampak enggan menerima alasanku yang mengatasnamakan PK sebagai alasan di balik hilangnya dua level yang sudah kumiliki.

“Aku tidak akan online malam ini.” ucap Taehyung kemudian.

“Mengapa?” tanyaku.

Ia terkekeh pelan. “Untuk apa aku online jika hanya untuk menonton kekalahanmu? Omong-omong, amulet apa yang hilang saat kau kehilangan levelmu?” Taehyung menatapku penuh tanya.

Diam-diam, aku sadar jika aku sudah melupakan hilangnya salah satu amulet yang kumiliki karena turun level. Kemungkinan, ada satu atau dua amulet yang hilang. Karena Red Tie dikembalikan oleh Baek-Hyun padaku, maka kuyakini Red Tie milikku masih aman.

Setidaknya aku tahu bagaimana cara menggunakan Red Tie sekarang. Hey, bukankah dalam turbulence nanti aku bisa menggunakannya untuk melawan Baek-Hyun? Ugh, membayangkan deretan weapon miliknya yang sempat kuintip kemarin saja sudah membuatku berpikir tentang berapa menit yang bisa kuhabiskan dengan bertahan dari serangannya.

Ugh, menurutmu aku akan kehilangan berapa level jika melawannya?” alih-alih memikirkan amulet apa yang hilang, aku justru mempertanyakan kelanjutan levelku nanti. Selain ancaman dari Baek-Hyun, kukhawatirkan aku sendiri akan menghabiskan puluhan pouch untuk membeli survival charge7 jika Baek-Hyun melumpuhkanku.

“Jangan membeli survival charge jika kau tidak ingin kehilangan lebih banyak level lagi, itu saranku.” Taehyung bersuara, well memang benar, keadaanku akan lebih aman jika saja aku keluar setelah Baek-Hyun membunuhku satu kali.

Tapi mengapa melarikan diri sekarang membuatku merasa seolah Enterprise akan menilaiku sebagai seorang pengkhianat? Ugh, connection yang down akan lebih baik daripada berlari setelah game over satu kali.

“Kau gila? Aku tidak akan berlari seperti pengecut.” ucapku, tak ingin menanggung malu karena baru saja mempertimbangkan saran yang Taehyung berikan.

Mengabaikan sikap angkuhku, Taehyung akhirnya hanya menghela nafas panjang.

“Kalau begitu terserah. Bukan aku yang dirugikan turbulence ini. Tapi dari apa yang kulihat, meski kau membeli survival charge sampai ratusan kali, Enterprise akan hancur. Kau sedang menghadapi turbulence yang jelas kau ketahui bagaimana akhirnya, Jiho-ya.”

Benar juga ucapan Taehyung. Baek-Hyun bukanlah seorang pemain yang bisa kuremehkan. Strategi yang ia gunakan sangatlah menguntungkan. Menantang sebuah Country dalam turbulence terbuka di tengah Town. Mempermalukan mereka sekaligus menghancurkan mereka dan membuat anggota Country tersebut kehilangan beberapa level adalah sebuah capaian menakjubkan untuknya.

Belum lagi, aku tidak tahu apa yang ia dapatkan dari turbulence ini. WorldWare pasti memberinya throwing8 sebagai hasil dari turbulence terbuka yang telah ia ciptakan.

“Ah, haruskah aku online malam ini, kupikir menontonmu game over berulang kali akan sangat menyenangkan.”

“Sialan kau, Kim Taehyung. Aku tidak akan mati menyedihkan seperti itu.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Jam baru menunjukkan angka tujuh ketika kuputuskan untuk masuk ke dalam survival mode. Meski aku tergolong sebagai seorang player tertutup yang tidak begitu sering ikut dalam pembicaraan Country, kali ini kupikir tidak ada salahnya mengikuti percakapan mereka di Country.

Mungkin, Enterprise sedang menyusun strategi untuk melawan Baek-Hyun nanti. Meski bagaimanapun kupikirkan, kami akan tetap kalah. Tidak ada salahnya jika aku bisa memberi masukan-masukan kecil yang tidak akan membuat kami kalah dengan memalukan seperti yang terjadi pada WhiteTown.

Saat masuk ke survival mode, aku sedikit berjalan-jalan ke martial box9 untuk melakukan upgrade-upgrade dan repair kecil pada weapon dan atribut lain yang kumiliki. Aku bahkan merelakan dua ratus pouch10 untuk membeli satu set equipment dengan rank yang lebih tinggi daripada equipment yang kugunakan sekarang.

Kudapatkan warna biru tua untuk semua perlengkapan yang ada di dalam equipment set baruku. Dengan melakukan rank-up11 pada perlengkapan-perlengkapan tersebut, kulihat equipment rank milikku sekarang sudah setara untuk melawan seorang Villain di level hard.

“Menurutmu kita harus melakukan hal seperti itu?”

Sebuah pembicaraan agaknya kulewatkan saat aku tidak online dalam survival mode. Dengan sedikit tidak mengerti, aku menyelipkan diri di antara QianYuan dan Wuxi Lian, dua orang player dari Countryku.

“Mengapa White Lion ada di sini?” aku bertanya pada keduanya.

Qian Yuan menoleh, menatapku dengan alis terangkat. “Kemana saja kau?” ia mencicit. “Kami sedang merencanakan strategi untuk menyerang Invisible Black.” sambungnya sambil tersenyum girang.

Well, aku tahu ia menaruh perhatian berlebih pada White Lion, tapi tidak kusangka ia akan bereaksi seperti ini.

Menyerang?” tanyaku makin tidak mengerti.

“Ya, WhiteTown dan Clown akan datang di battle nanti. Kudengar Womanizer juga ikut. Kau tahu sendiri kan, turbulence bisa diikuti oleh player manapun yang tertarik. Invisible Black tidak akan tahu kalau nanti ia akan menghadapi empat Country sekaligus.”

Aku mengerjap cepat, terkejut. Setahuku, Womanizer bukanlah Country yang terbuka untuk pertunjukan semacam ini. Keenam player yang ada di Womanizer tidak pernah ingin bergabung dengan kami.

Setidaknya aku tahu gadis-gadis Gangnam merasa kami bukanlah level mereka.

“Imbalan apa yang akan mereka dapat?” tanyaku.

WuXi Lian menatapku tidak mengerti. “Ah, kau pasti tidak tahu, ya? Royal Thrope dan Higheels adalah saudara sepupu. Lagipula, Royal Thrope berjanji dia akan memberikan masing-masing seribu pouch untuk tiap player yang ikut.”

“Dan darimana Thrope punya jutaan pouch untuk dibagi-bagikan?” aku semakin merasa bodoh. Pasalnya, jika Royal Thrope punya pouch sebanyak itu, mengapa ia tidak gunakan untuk hal yang lebih berguna?

“Siapa bilang Leader kita punya pouch itu? Kita yang akan mencarinya nanti.”

“Kita?”

“Hmm. Kau tahu, menarik paksa player pemula ke dalam sebuah PK dan mengambil pouch mereka.”

Aku terkesiap. Apa selama ini mereka sering melakukan hal yang sama? Mengambil pouch dari player pemula dan menipu mereka? Dan… apa ini alasan yang membuat Enterprise ada di list kedua milik Baek-Hyun?

“Qian Yuan. Aku rasa—”

“Enterprise! Cepat berkumpul di Town! Lima menit lagi battle dimulai!”

Tidak lantas mengikuti arahan dari Royal Thrope, aku justru mengobrak-abrik private chat milikku. Kutemukan Baek-Hyun sedang online—apa sejak tadi ia online?—dan kuputuskan untuk mengirimkan pesan padanya meski ia mengabaikannya.

‘Baekhyun-ssi.’

‘Aku tahu kau mendengar pesan ini. Aku tidak bisa menemukanmu, tapi aku menemukan alasan yang membuat Enterprise ada di list keduamu.’

‘Bisa kita bicara?’

‘Kumohon. Masih ada lima menit sebelum jam delapan.’

Aku terdiam saat tidak mendapatkan balasan apapun dari Baek-Hyun. Pesanku tidak menunggu moderasi, itu artinya ia sudah mengizinkanku untuk seenaknya mengirim pesan padanya. Tapi ia masih tidak membalas pesanku.

“HongJoo! Ayo bersiap!” teriakan dari Royal Thrope menyadarkanku. Kupandangi jam raksasa yang menjulang di tengah Town. Tiga menit lagi. Dan aku sudah tidak punya harapan untuk bicara dengan—

‘Temui aku di arena, HongJoo-ssi.’

ugh. Tentu saja. Dia akan menghabisiku di arena tanpa memberiku kesempatan untuk bicara.

Aku akhirnya membawa diriku ke tengah Town, melihat sudah ada banyak player yang menonton, sementara anggota WhiteTown, Clown dan Womanizer sudah berbaur di antara player lainnya.

Kurasa aku sudah meninggalkan timing ketika mereka benar-benar membicarakan strategi. Tapi apa boleh buat, memang apa untungnya bagiku jika aku tahu strategi mereka?

Kulihat Baek-Hyun sudah berdiri di tengah arena, dengan setelan gelap miliknya dan weapon lain yang tidak pernah kulihat. Apa ia juga sudah melakukan upgrade pada persenjataannya?

TENG! TENG!

Suara nyaring terdengar, tanda bahwa jam sudah menunjukkan angka delapan, waktu yang sesuai dengan perjanjian turbulence kami. Hatiku merasa was-was saat melihat bagaimana masing-masing anggota Enterprise memamerkan weapon juga amulet milik mereka.

Aku sendiri memutuskan untuk mengeluarkan ministry sword milikku, juga menggenggam erat Red Tie—hal yang kemudian membuat Baek-Hyun mengalihkan pandangnya ke arahku.

Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum samar, senyum meledek—dalam pandanganku. Karena ia jelas sudah tahu kelebihan dan kekurangan dua senjata yang kubawa. Tentu ia tidak akan butuh waktu lama untuk melumpuhkanku.

“Aturannya sangat mudah, Enterprise Country. Karena turbulence ini telah menjadi pertunjukan menarik bagi player lain, jika kalian tidak ingin tereleminasi jangan mencoba melukai player lain yang ada di luar arena.”

Apa ia sudah menulis rules itu dalam aturan turbulence miliknya? Sehingga secara otomatis siapa pun yang melanggar peraturan tersebut akan dikeluarkan dari turbulence?

“Sudahi saja omong kosongmu dan lawanlah kami.” Royal Thrope berucap dengan nada muak. Ia sendiri sudah mempersenjatai diri dengan sepasang devil wings yang membuatnya bisa berpindah-pindah dengan tempo waktu lebih cepat daripada kami.

Tidak lagi menunggu aba-aba apapun, pertarungan yang sengit pun dimulai. Royal Thrope berusaha menyerang Baek-Hyun dengan legendary storm miliknya, sementara WuXi Lian dan Qian Yuan ada di belakang Baek-Hyun, menyerangnya dari belakang.

Semua serangan itu bagai sebuah ejekan bagi Baek-Hyun. Karena dengan mudah ia bisa menangkisnya. Gerakannya juga lebih cepat dari kemarin, ia hampir tidak terlihat.

Tapi ia menerima serangan dariku.

Bisa kukatakan, seranganku yang memiliki efek pada health bar12nya. Tapi kenapa? Mengapa ia menghempaskan Qian Yuan, Amethyst, Dollyana, tapi ia tidak memberikan serangan apapun padaku?

‘Apa kau sengaja melakukannya? Mengapa kau tidak menyerangku?’

Sempat kuberikan pertanyaan itu padanya, aku tidak bisa menahan rasa ingin tahuku tentang pemikirannya sekarang.

‘Aku tidak ingin membuatmu terbunuh dengan mudah, HongJoo-ssi. Akan kubiarkan kau bersenang-senang dengan health barku sampai aku selesai dengan keluargamu.’

Aku terkesiap saat sadar jika ia berencana membunuhku terakhir kali. Seolah menyimpan tikus percobaannya untuk kemudian ia bunuh dengan keji di saat terakhir. Seperti saat ketika ia menginjak-injak White Lion kemarin.

‘Mengapa?’

‘Karena aku adalah seorang yang kejam. Kau sendiri yang mengatakan itu padaku bukan? Aku sedang membuktikan ucapanmu.’

Tidak. Maksudku, aku berpikir ia kejam karena menyerang sebuah Country tanpa alasan. Tapi mengetahui tentang apa yang terjadi di dalam Countryku selama ini, aku pikir aku tahu alasan yang membuatnya merasa telah melakukan hal yang benar.

Ia hanya berusaha menegakkan keadilan, seperti yang Taehyung ucapkan.

Dan aku sudah menuduhnya tanpa melihat alasan di balik sikapnya. Kurasa sudah sepantasnya ia merasa marah padaku—yang ia pikir sebagai rekannya karena sudah memberikan bantuan kemarin—dan akhirnya membiarkanku hidup sampai nanti ia menghancurkanku di akhir battle ini.

Lagi-lagi, Baek-Hyun mengulur waktu. Sudah hampir lima belas menit ia bermain-main dengan player Enterprise sementara health barnya masih baik-baik saja. Empat dari delapan belas anggota Enterprise keluar karena diskualifikasi. Mereka pasti secara tidak sengaja melukai player lain.

Sembilan lainnya sudah menghilang, kematian dan hilangnya beberapa level tentu sudah menyambut mereka. Dan mereka tak ingin repot-repot menggunakan survival charge untuk membuang pouch dan level lainnya.

Hanya tinggal lima orang, termasuk aku. Dan keadaan kami semua—kecuali aku—bisa dikatakan kritis.

‘Bagaimana bisa kau mengelak dari semua serangannya?’ kudengar Royal Thrope bertanya. Hell, tentu ia memperhatikan bagaimana aku masih baik-baik saja sementara ia sendiri sudah kepayahan.

Sekarang aku lagi-lagi memahami, kalau tujuan Baek-Hyun membiarkanku menyerangnya adalah untuk membuat seisi Country tahu jika ada yang salah dariku. Secara tidak langsung, spekulasi buruk akan muncul di benak anggota yang lain, dan juga player lain yang menonton.

Ia sudah merencanakannya dengan sempurna.

Oh-oh! Kecuali pengkhianatan yang ia dapat, tentunya.

Tidak jauh dari Baek-Hyun, White Lion tampak akan mengarahkan sebuah serangan plasma dalam skala besar. Sontak, tanpa izin siapapun aku mengeluarkan hurtling fire milikku dan mengarahkannya pada—

Time paused?

Apa-apaan ini?!

Aku berusaha mengedarkan pandangan—karena penglihatan jadi satu-satunya hal yang tidak terpaused ketika mode time paused diaktifkan—dan kutemukan Baek-Hyun tengah menatapku.

‘Apa kau berusaha keluar dengan cara menggelikan?’

Apa ia tahu jika aku tengah berusaha menyerang seseorang? Bukankah ia disibukkan dengan Royal Thrope sedari tadi?

Di saat seperti ini, aku bahkan tidak bisa menjawab pesan private darinya. Meski time paused lebih sering dipikir sebagai freeze13 oleh player lain, tapi sungguh, mengapa ia begitu senang mempermainkan waktu?

Baek-Hyun sekarang melangkah ke arahku, aku terkejut saat jemarinya menyentuh daguku, dan sekon selanjutnya kudapatkan fungsi inderaku kembali.

“Aku tidak membiarkanmu hidup untuk melihatmu didiskualifikasi karena menyerang player lain, HongJoo-ssi.” ia kini bicara padaku, sementara jemarinya masih bertengger di tempat yang sama.

“Kau tengah berusaha membunuhku secara perlahan.” ucapku melawan, segera kutepis jemarinya dari wajahku karena tidak merasa nyaman.

Ia mengerjap pelan. “Apa kau pikir aku tengah melakukan hal seperti itu? Yang aku lakukan hanyalah mencoba membuatmu tidak mati dengan menyedihkan. Aku melakukan sesuatu yang salah?” tanyanya membuatku terdiam.

Tidak, kupikir beberapa sekon yang lalu aku berada dalam keadaan yang sama dengannya. Mempercayai apa yang ia lakukan. Tapi kenapa sikapnya sekarang membuatku merasa seolah ia dengan sengaja membiarkanku hidup untuk membunuhku dengan keji di akhir battle miliknya?

“WhiteTown, Clown dan Womanizer ada di antara penonton. Mereka akan menyerangmu. Kau tidak akan menang dalam battle ini, Baekhyun-ssi. Maaf, oke? Aku sudah salah paham padamu. Kupikir kau hanya ingin memamerkan kekuatan saja tapi sekarang aku tahu kau tengah berusaha menegakkan keadilan.

“Aku bahkan tahu Enterprise sudah bermain kotor dengan memeras player pemula dan mengambil pouch mereka. Tapi melawan empat Country sekaligus? Kau tidak akan menang melawan mereka. Biarkan aku memban—”

“—Membantuku?” Baek-Hyun memotong.

“Ya.” lirihku.

Ia tersenyum samar. “Aku akan membunuhmu di battle ini, apapun yang terjadi. Apa kau sudah lupa tentang ucapanku? Kau tidak berhasil menemukanku, itu artinya aku harus setidaknya menurunkanmu enam level.”

“Tapi aku—”

“—Apa kau menganggapku benar sekarang?” lagi-lagi ia memotong ucapanku.

“YYa—” akhirnya aku menyerah. “—Kau benar. Aku hanya terlalu bodoh untuk sadar jika selama ini aku berada di Country yang sudah menyakiti player lain.”

Baek-Hyun mengulurkan tangannya padaku, membuatku menyernyit bingung.

“Apa yang akan kau lakukan?” tanyaku, menatap sekeliling dan kembali memandang Baek-Hyun tak mengerti. “Kau masih harus melanjutkan battle ini.” sambungku.

“Tidak akan ada yang sadar tentang menit mereka yang terbuang, HongJoo-ssi. Tapi aku butuh pengakuan darimu, bahwa kau sudah salah mengira tentangku dan aku bukan seorang player kejam seperti yang kau tuduhkan.”

Ugh, apa ia merasa tersinggung karena aku sudah mengatakan bahwa ia kejam? Apa perkataan semacam itu melukai harga dirinya?

“Baiklah. Kau benar. Tentang segalanya. Dan tindakanmu juga benar. Kau bukan player kejam. Kau hanya—”

“—Aku tetap harus membunuhmu dan mengurangi enam level milikmu, HongJoo-ssi. Tapi karena kau sudah memberitahuku tentang rencana buruk mereka, aku menguranginya menjadi lima level. Karena kau tahu alasan di balik tindakanku, aku menguranginya menjadi empat. Kau sudah mengakui bahwa tindakanku benar, jadi aku menguranginya lagi. Dan karena kau sudah menawaran bantuan padaku, aku hanya akan mencuri dua level lagi darimu.”

Dua level? Lagi? Ugh! Dalam dua hari ia sudah membuatku kehilangan empat level. Apa ia tidak ingat itu?

“Akan kutemui kau setelah battle. Aku bisa membantumu untuk mendapatkan empat level yang sudah kau korbankan. Dan terima kasih, karena pada akhirnya bisa mempercayaiku, HongJoo-ssi.”

Tidak menunggu sahutan dariku, Baek-Hyun lantas melangkah kembali ke tempatnya tadi berdiri—tidak. Ralat. Ia tidak berdiri di tempatnya tadi berdiri, melainkan berdiri tepat di hadapan cahaya dari hurtling fire milikku.

“Kudengar hurtling fire bisa mengurangi separuh health bar milik seseorang, dari sekian banyak senjata yang ada di dalam martial box milikmu, mengapa harus hurtling fire?” Baek-Hyun baru saja selesai dengan kalimatnya saat waktu kembali berjalan.

Argh!” tubuh Baek-Hyun terpental karena ia menjadi sasaran dari hurtling fireku. Benar saja, separuh health barnya telah hilang, dan aku adalah orang yang bertanggung jawab atas—

“HongJoo awas!”

“Awas!!”

WHUSH!

Aku terlalu lambat berpikir saat cahaya berwarna hijau kini melingkupiku. Plasma ini milik Baek-Hyun, dan pasti ia lemparkan padaku sebagai balasan serangan. Tapi—ah. Sial. Mengapa aku tidak bisa menembus plasma ini?

Hey! Enterprise curang!”

“Mengapa White Lion ada di sana!?”

Tatapanku membulat ketika kusadari keadaan di hadapanku berubah menjadi situasi yang sudah kuantisipasi sebelumnya. Sebagian anggota WhiteTown yang masih bisa masuk dalam survival mode, anggota Clown dan Womanizer, semuanya mengepung Baek-Hyun.

Sementara aku terkurung dalam plasmanya.

‘Aku akan selesaikan mereka. Loginlah lagi setelah aku membunuhmu nanti, aku akan mengirimkan sebuah map, temui aku di sana, HongJoo-ssi.’

Baekhyun mengirimkan sebuah private chat padaku. Apa ia berencana untuk bertemu denganku setelah battle ini? Tapi mengapa?

‘Kenapa kau mengurungku dalam lapisan plasma seperti ini?’

‘Agar kau tidak terluka.’

‘Apa? Kenapa?’

Baek-Hyun tengah sibuk dengan serangan-serangan yang ia lemparkan pada belasan player yang sekarang menyerangnya. Sementara ia melemparkan sebuah plasma raksasa yang kemudian membatasi arena antara penonton dengan kami.

Rupanya, ia mengurung kami semua dalam kungkungannya, dan ia juga mengantisipasi jika saja ada player lain yang berencana untuk terlibat lagi.

‘Kau tidak suka jika aku melindungimu?’

‘Kau membuatku terlihat seperti pengkhianat.’

‘Tidak. Aku tidak begitu. Jika kau tiba-tiba menghilang dan masuk dalam invisible mode untuk membantuku, justru kau akan terlihat seperti seorang pengkhianat. Anggap saja, kau adalah seorang sandera sekarang.’

‘Seorang sandera yang menonton battle ini sambil duduk santai?’

‘Kau memang harus duduk santai dan menunggu hingga battle ini selesai. Itu adalah perintah, HongJoo-ssi.’

Dan sejak kapan ia punya kuasa untuk memerintahku?

WHUSH!

Aku terkesiap saat sepasang sayap perak berkilau muncul dari punggung Baek-Hyun. Aku tak pernah tahu ia bisa menyembunyikan ability14nya seperti ini. Apa karena ia berada dalam invisible mode sehingga ia bisa melakukannya?

Tetes hujan bahkan mulai membasahi arena, membuat keadaan semakin terkesan dramatis meski dalam sebuah permainan.

Bisa kulihat bagaimana Baek-Hyun memamerkan sayap perak tersebut dalam arogansi. Ekspresinya jelas menggambarkan bagaimana empat Country itu akan kembali hancur karenanya.

Karena dia seorang.

Tentu saja, secara tidak langsung ia tengah memberi pengumuman kepada seluruh player jika ia adalah player nomor satu dalam server. Ia adalah penegak keadilan yang selama ini player harapkan untuk muncul. Ia adalah sosok pelindung yang dibutuhkan dalam WorldWare dan kebebasan yang disuguhkannya.

Baek-Hyun, akan menghancurkan langit yang menaungi para player sombong dan arogan yang sudah merasa bahwa dirinya yang berada dalam strata sosial tertinggi. Baek-Hyun akan menjatuhkan mereka semua, sementara ia tetap menjadi sosok misterius yang tidak diketahui oleh semua orang.

Baek-Hyun akan menjadi langit baru yang sanggup menaungi player WorldWare dari ketakutan dan kekhawatiran mereka. Sekarang, apa aku masih bisa menilainya sebagai seorang yang kejam meski ia menghancurkan Enterprise?

‘Baekhyun?’

‘Ya, HongJoo?’

‘Bisakah kau tidak membunuhku?’

‘Tergantung bagaimana sikapmu, HongJoo-ssi.’

— 계속 —

Footnotes:

Survival mode: sebuah mode dalam WorldWare dimana dengan bantuan gaming-set tertentu, seseorang bisa masuk dalam mode survival dengan cara tertidur di kehidupan nyata namun ‘terbangun’ dalam permainan. Survival mode tidak membutuhkan PC set, tapi semua pergerakan dan kehidupan dalam game dikendalikan oleh sinergi otak.

Turbulence: istilah untuk menyebut suatu battle besar dimana semua player bebas melibatkan diri dalam battle dan turbulence bisa berlangsung berdasarkan rules yang dibuat oleh pemilik turbulence tersebut.

Human wealth: status kesehatan seorang player dinilai dari kesehatan fisiknya.

Battle: istilah untuk menyebut sebuah pertandingan/pertarungan di dalam sebuah game, melibatkan dua sampai sepuluh player dengan rules terikat yang sudah diciptakan oleh game itu sendiri dan tidak bisa melibatkan player lain secara tiba-tiba di tengah battle tersebut.

Villain: NPC antagonis yang diciptakan untuk menjadi karakter musuh/lawan bagi pemain game untuk menyelesaikan suatu level dan/atau mendapatkan bonus tertentu dalam game.

PK: Player Kill adalah sebuah tindakan ‘membunuh’ player lain di dalam sebuah permainan online.

Survival charge: serupa dengan live charge.

Throwing: akibat yang ditimbulkan dari sebuah trading atau exchange.

Martial box: sebuah kotak penyimpanan equipment.

Pouch: satuan ‘uang’ dalam WorldWare, 1 lembar pouch digambarkan dalam bentuk lembar keemasan dengan hiasan sebuah ruby di tengah-tengahnya, dengan bertuliskan WorldWare.

Rank-up: suatu exchange yang dilakukan player untuk menaikkan level equipment miliknya.

Health bar: status kesehatan/kehidupan/daya hidup seorang pemain game di dalam permainan.

Freeze: lost connection, koneksi yang tiba-tiba saja ‘membeku’ tanpa alasan yang jelas.

Ability: kemampuan yang dimiliki player baik kelebihan secara fisik, material, maupun keuntungan lainnya yang membuat seorang player lebih unggul dibandingkan dengan player lain.

— Jiho’s Corner —

Halo semuanya ^^, Jiho di sini. Kali ini, aku akan memberi sedikit penjelasan tentang game online bernama WorldWare yang mungkin belum kalian kenal dengan baik!

(-) Turbulence Rule. Ada beberapa peraturan di dalam turbulence yang membedakannya dengan sebuah battle atau PK. Turbulence diciptakan oleh satu orang player, dengan menyertakan informasi untuk turbulence tersebut (dimana turbulence akan dilakukan, kapan waktunya, berapa banyak jumlah maksimal player yang bisa terlibat, siapa yang diberikan tantangan turbulence) juga beberapa peraturan lain yang bisa disesuaikan. Jadi, jangan merasa bingung ketika aturan dalam turbulence berubah-ubah, ya^^

(-) Jiho’s Fenomena. Ada yang bertanya-tanya tentang kemunculanku di dalam WorldWare. Ingat, Tuan Epic T sudah meretas perusahaan game online beberapa tahun lalu dan mendapatkan versi demo dari WorldWare, aku sempat memainkan versi itu selama beberapa bulan sebelum sebuah kecelakaan terjadi dan akhirnya membuatku tidak bisa menggunakan jemariku dengan baik, fufufu~ tapi, tidak lama setelah itu WorldWare benar-benar diluncurkan ^^ Jadi. Aku bukannya memainkan versi full dari WorldWare saat bersama Taehyung di level sebelumnya, ya^^

(-) Invisible Black’s Women. Duh, istilah ini aku temukan beberapa pekan lalu, saat Invisible Black tiba-tiba saja menjadi trending dalam percakapan global—ingat apa yang terjadi antara Invisible Black dan WhiteTown?—dan ya… sekarang banyak sekali player wanita yang ingin menjadikan Invisible Black sebagai pair mereka, fufu~ padahal dia benar-benar tipeku >s<

Iklan

14 pemikiran pada “GAME OVER – Lv. 3 [Time Paused] — IRISH

  1. Ping balik: GAME OVER – Lv. 7 [Black Label] — IRISH | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: GAME OVER – Lv. 6 [Inside, Tacenda] — IRISH | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping balik: GAME OVER – Lv. 5 [Cosmic, Nebula, and Star] — IRISH | EXO FanFiction Indonesia

  4. Ping balik: GAME OVER – Lv. 4 [Wild Rose] — IRISH | EXO FanFiction Indonesia

  5. Udah lama gg baca ff karna tugas kuliah yg numpuk..
    Aku seneng ff pertama yang aku baca, ff.a irish, dulu pernah baca dan komen ff irish sebelum ini, dan jujur aku suka dengan gaya bahasa irish..
    Suka aja sama ide” cerita yg irish bawakan..
    Pas tau ff kali ini irish membawakan tema tentang game, aku tertarik aja..
    Aku bukan gamer, paling mentok maen game d hp, sesekali lah nimbrung maen ps sm adek, dan sekali lagi aku suka gaya bahasa irish.. Entah kenapa aku nemuin gaya bahasa.a ringan tapi menarik..
    Tetap semangat buat irish..

    • XD alhamdulillah kalo ada yang kecantol lagi di Game Over ini, berhubung ceritanya bertema aneh diriku agak minder juga kalo ceritanya bakal jadi abnormal XD wkwkwkwkwk thanks a lot ~ semoga chapter lainnya engga mengecewakan…

  6. Hua hua hua~
    Kok yoon salah fokus ‘baek lindungin jiho pake plasma ijo’ unchh kok soswiit ya XD /bapersndiri/uhuk
    weh ini cabe nawar turun level kek nurunin harga cabe, cabe jualan cabe? -___- /candamu gak lucu yoon plis/
    inikan baek yg buat game ini kan ya kak? apa dia…

  7. Mana irish’s fingernotenya???
    Arogansi????
    Yokshiiii. . Uri cabeeee ahahaha
    Ak gak sabar nunggu gimana atau apa yg bakal di lakuin baekhyun sama jiho. Dia bilang kan cuma nurunin jiho sampe 2 level aja tapiiiiii. . .
    Tunggu authornya post aja deeeh

    Riiiiiisssh semangat terus nulisnya yaaa. Akikah tunggu kelanjutan levelnyaaaa

    Sarangeeek

  8. Oke, aku udah mulai terbiasa memasuki imajinasi abnormal kak Irish. 😁😂
    Dan yang aku masih bingung adalah survival mode. Playernya tidur, tapi sebenernya dia main game. Gimana koneksinya?


  9. WHUSH!

    Aku terkesiap saat sepasang sayap perak berkilau muncul dari punggung Baek-Hyun. Aku tak pernah tahu ia bisa menyembunyikan abilitynya seperti ini. Apa karena ia berada dalam invisible mode sehingga ia bisa melakukannya?

    Tetes hujan bahkan mulai membasahi arena, membuat keadaan semakin terkesan dramatis meski dalam sebuah permainan.

    Bisa kulihat bagaimana Baek-Hyun memamerkan sayap perak tersebut dalam arogansi. Ekspresinya jelas menggambarkan bagaimana empat Country itu akan kembali hancur karenanya.

    Karena dia seorang.

    OK SIP
    SCENE INI SUKSES BIKIN AKU MERINDING

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s