TOY – [01]Who is Irene? – Shaekiran

toycoverr

TOY

A Fanfiction By Shaekiran

Chanyeol x Irene

romance | hurt | campus life

chapter | PG-15

Disclaimer

standard disclaimer applied. Don’t copy  or plagiarism without permisson. Happy reading.

.

Previous Chapter

Prolog | [NOW] Chapter 1

.

[PLAY]

—CHAPTER 01—

“Irene, jadilah pacarku.”

“Baiklah, tapi kau mau menjadi yang kesekian?”

 

Rasanya, jika kau berada di dekat gadis cantik bak dewi itu, telingamu mungkin sudah kebal mendengar isi percakapan yang sama setiap harinya. Ya, setiap hari mungkin Irene bisa menambah stok lelaki yang menjabat sebagai kekasihnya. Gila? Tentu saja tidak. Itu hanya karena Irene ingin berbaik hati menerima mereka semua yang sudah meluangkan waktu menyukainya. Sederhana? Memang, karena Irene tidak butuh sesuatu yang disebut rumit.

“Kau menambah pacarmu lagi?” Irene meneguk jus jeruk-nya yang masih tersisa setengah, lalu menatap Suho yang nampak merapatkan kedua alisnya sambil memijit kening; pusing dengan semua tingkah Irene.

“Ya, tadi aku menambah satu stok lagi.”

Suho tertawa terkekeh, buku jarinya mengepal, namun ia masih berusaha tersenyum meski Irene baru saja nampak seperti melecehkannya. Ah, bukankah kalimat Irene tadi secara tidak langsung menyebutkan kalau Suho juga hanya salah satu dari stok-nya Irene?

“Siapa?”

Irene nampak berpikir sebentar, “Chanyeol, teman sefakultasku. Ah, aku sudah menduga dia menyukaiku sejak dulu, dan benar saja, hari ini dia memintaku menjadi kekasihnya.”

“Kenapa kau menerimanya?”

Hm, kasihan? Kan aku menerima kalian semua karena aku kasihan sih, kalian sudah capek-capek menyukai gadis semacam aku, lagipula aku ingin menjadi gadis cantik nan baik hati dengan membiarkan kalian setidaknya pernah memiliki status sebagai kekasih seorang Bae Irene.”

Kasihan? Ingin menjadi baik hati? Astaga, Irene!

“Kau juga kasihan kepadaku?” Irene nampak menatap Suho malas. Rasanya Suho sudah bertanya terlalu banyak hari ini. Dengan perlahan Irene pun melepaskan tautan jarinya di atas meja dengan lelaki itu.

“Itu pertanyaan retorik, kau tau kan, sayang?”

“Tentu saja kau hanya salah satu stok mainanku, sayang.”

Suho tertawa terbahak, lantas ia menyisir rambutnya ke belakang sebentar, lalu mulai menggaruk tengkuknya tidak nyaman.

“Aku masih menjadi mainanmu selama 3 bulan ini?” Irene lupa-lupa ingat. Ya, setaunya Suho dulu menjadi pacarnya yang kelima, dan perlahan merengsek naik hingga menjadi peringkat kedua. Suho cukup tahan banting menghadapi tingkah Irene sejauh ini.

“Tentu saja, kau mainan yang berharga sayang. Kau itu mahal seperti tas gucci yang hari ini kau beli untukku.” Irene tersenyum lebar, namun tidak dengan Suho yang kini wajahnya sudah mulai merah padam. Orang bilang kesabaran itu ada batasnya, dan Suho rasa, hari ini adalah batas kesabarannya menghadapi Irene.

“Bisa kita putus?” Irene menatap Suho datar, tidak terganggu sama sekali dengan pertanyaan mendadak itu. Lantas gadis itu tersenyum sambil sesekali memainkan surai coklat panjangnya yang digerai cantik hari ini.

“Tentu saja. kalau kau mau berakhir, aku akan mengijinkannya. Hm, kalau boleh jujur pun rasanya aku mulai bosan denganmu say-eh, bekas sayang. Kadang orang akan jenuh dengan mainan yang sama kan? Jadi aku sangat berterimakasih kau mengajakku putus.”

Sudah, Suho sudah kehabisan kata-kata.

 

-TOY-

 

Irene bangkit dari duduknya. Di depannya masih duduk Suho yang resmi menjadi mantan kekasih keseratus sekian. Jajaran para mantan-eh mainan Irene kini sudah bertambah satu anggota rupanya.

Suho nampak menunduk, sementara Irene masih tersenyum biasa saja. Irene menyampirkan tas gucci-nya, lalu dengan high heels putihnya ia berjalan melewati Suho.

Puk.

Irene menepuk bahu Suho yang menunduk dengan cukup pelan. Ia sedikit menunduk, lalu berbisik ke arah mantan mainannya itu.

“Selamat tinggal mainan bekasku, maaf karena aku jenuh dan membuangmu, oke?”

Tanpa repot-repot menunggu respon Suho, dengan langkah santai Irene sudah melenggangkan kaki jenjangnya keluar dari café mewah itu, meninggalkan Suho yang hanya bisa mematung di tempat.

“Menyesal karena satu mainan terbuang? Ah, maaf, menyesal? Tentu saja tidak. Aku masih punya banyak stok mainan bagus lainnya. Untuk apa menyesal? Itu hanyala hal merepotkan yang tidak penting sama sekali.”

Dengan gaya elegan bak berjalan di atas catwalk –meski pada kenyataan Irene tengah berjalan di atas trotoar- Irene pun mengeluarkan ponsel canggih edisi terbaru yang Irene ingat adalah hadiah dari Suho; mantan mainan kaya raya-nya itu.

“Hm, sayang? Congratulation.” Ucap Irene ketika nada panggilannya tersambung dan terdengar sebuah suara ceria menyambutnya di seberang sana.

“…………..”

“Kenapa? Hm, kenapa ya?” Irene nampak mengulur-ulur waktu sambil sesekali tertawa centil.

“………”

“Penasaran? Eumm……peringkatmu sudah naik sayang. Sekarang kau bukan yang ketiga lagi, tapi kau sudah menjadi yang kedua. Hebat kan? Congratulation~”

“……….”

“Baiklah, aku tunggu di taman. Jangan lama-lama ya sayang, aku tidak tanggung jawab kalau stok kekasihku bertambah karena ada lelaki tampan yang menggodaku di taman.”

“Stok mainan sih sebenarnya, hehe….”

Bye sayang, muach.”

Irene tersenyum puas sambil mematikan panggilan telfonnya pada Jinwoo-mainan ketiganya yang sekarang naik pangkat menjadi yang kedua. Ya, tidak sulit bagi Irene untuk bersenang-senang kan? Akan selalu ada lelaki yang siap sedia untuk diajak jalan bersama Irene. Pun Irene tidak perlu malu memilih satu dari tujuh-eh enam mainannya itu untuk diajak jalan bersama. Asal pilih pun boleh karena semuanya adalah high quality. Begini-begini Irene tidak asal pilih mainan. Dia ingin mainan yang paling berkualitas tinggi. Tampan dan kaya sudah menjadi syarat dasar untuk menjadi salah satu mainan Irene. Tidak tampan ataupun kaya? Jangan harap bisa menyandang status menjadi mainan-eh kekasih Irene.

Ting!

Irene mengerjap sebentar. Ia sebenarnya sedang menatap sebuah manekin pakaian dress musim panas yang cantik di sebuah toko yang menarik perhatiannya –mungkin ia bisa meminta Jinwoo untuk membeli gaun itu nanti- namun sebuah pesan yang masuk ke dalam ponselnya membuat Irene mengalihkan atensinya sebentar dari gaun cantik itu.

 

From: Pacar 7

Sayang, kau dimana?

 

Irene menatap pesan itu, alisnya nampak berkerut sebentar, barulah senyumnya mengembang ketika mengingat siapa gerangan yang mengirim pesan padanya itu. Dengan cepat Irene pun segera me-rename si pengirim pesan, lalu mulai mengetikkan pesan balasan.

 

To : Pacar 6

Aku sedang menunggu pacar keduaku di taman. Memangnya kenapa?

 

To: Pacar 6

Oh iya, congratulation sayang. Sekarang peringkatmu naik. Kau bukan yang ketujuh lagi, tapi yang keenam. Hehe…^^

 

From: Pacar 6

Benarkah? Itu kabar baik. Oh iya Rene, ada waktu malam ini? Aku ingin mengajakmu kencan, sayang.

 

Irene menatap layar ponselnya sambil terkekeh, “mainan baru memang sering terburu-buru,” batin Irene pada dirinya sendiri.

 

To: pacar 6

Tentu saja, nanti jemput aku pukul 8.

 

“Sayang.”

Irene sedikit terkaget ketika tiba-tiba saja sebuah tangan melingkar di pinggang rampingnya. Dengan cepat Irene memasukkan ponselnya ke dalam tas, lalu mengelus pelan surai hitam lelaki yang tengah menempatkan kepalanya di atas bahu Irene itu. Hm, tolong ingatkan Irene kalau sekarang mereka berdua tengah berada di trotoar yang ramai pejalan kaki.

“Mino? Kenapa di sini?” tanya Irene sambil masih mengelus surai Mino. Nampak lelaki itu melepaskan tangannya dari pinggang Irene, lalu memutar tubuh gadis itu agar menghadap ke arahnya.

“Tadi aku ada urusan sebentar di daerah sini, dan aku secara tidak sengaja melihatmu berdiri sendirian di trotoar.” jelas Mino sambil mengelus surai Irene penuh sayang.

“Benarkah? Oh, sayang sekali. Kau datang terlambat sayang.” respon Irene sambil mengerucutkan bibirnya.

“Kenapa?” tanya Mino penasaran sambil masih mengelus surai Irene yang wangi itu.

“Kalau kau datang beberapa menit lalu, aku tidak mungkin membuat janji dengan Jinwoo.” Mino terkekeh mendengar jawaban Irene yang super jujur itu.

“Kau mau jalan dengannya?” Irene mengangguk, membuat Mino segera tersenyum sedikit kesal.

“Baiklah, terserahmu saja.”

Tin Tin!

Irene maupun Mino serentak segera menoleh ke belakang, dan benar saja, sebuah Audi putih sudah nampak terpangkir rapi di pinggir jalan tak jauh dari mereka berdua. Jendela kaca yang terbuka hampir seluruhnya itu segera menampakkan sosok Jinwoo yang mengenakan kemeja putih tengah tersenyum ke arah Irene.

“Padahal aku bilang akan menunggunya di taman, tapi sepertinya dia terlalu cepat menyetir.” Irene tertawa kecil, membuat Mino tak tahan untuk tidak menggelitiki Irene.

Cup~

Irene mengecup bibir Mino pelan, tanda agar lelaki itu menghentikan aksinya menggelitiki Irene. Ya, awalnya Irene hanya ingin mengecup saja, tapi oleh Mino kecupan itu berubah menjadi ciuman yang panas.

Dua orang dewasa berumur di atas 20 tahun berciuman panas di tengah trotoar kota yang padat aktifitas. Catat, salah satu saksi ciuman panas itu adalah kekasih kedua dari gadis yang hampir melenguh karena pria yang menciumannya itu benar-benar good kisser.

Oh, benar, kekasih kedua. Irene rupanya hampir melupakan eksistensi Jinwoo yang menonton adegan panas itu.

Jadi dengan cepat Irene menempatkan telapak tangannya di depan dada Mino, lalu melepaskan pagutan itu pelan sambil mundur selangkah ke belakang dan mengambil nafas. Mino nampak tidak terima, tapi senyuman Irene nampak segera memudarkan emosi Mino.

“Kita lanjutkan nanti ya sayang? Aku pergi dulu.” Selesai mengucapkan itu Irene segera melangkahkan kakinya melewati Mino sambil mengelus pinggang Mino sebentar sebagai salam perpisahan.

Tak butuh waktu lama bagi Irene untuk sampai di mobil mewah Jinwoo dan duduk di bangku penumpang. Jinwoo nampak tersenyum lebar ke arah Irene, sedang Irene segera mengecup bibir Jinwoo cepat.

Ya, memangnya siapa yang peduli sudah berapa banyak bibir yang Irene lumat dan berapa kali sehari lidah Irene beradu dengan lidah lawan jenisnya?

“Jadi kita mau kemana sayang?” tanya Irene basa-basi kepada Jinwoo yang sekarang menyetir sambil menggengam tangannya itu.

“Kencan romantis?” jawab Jinwoo sok misterius yang hanya dibalas dengan anggukan singkat dari Irene yang sekarang mulai mengeluarkan ponselnya dari dalam tas karena Jinwoo harus fokus menyetir.

Oh, omong-omong Irene tidak mengucapkan selamat naik peringkat kepada Mino karena lelaki itu adalah kekasih pertamanya sejak 2 minggu yang lalu; sejak hubungan Irene dan Changmin –seorang CEO muda yang ia temui di klub- kandas. Bahkan kekasih pertamanya saja mengijinkan Irene untuk kencan dengan kekasih kedua, bukankah Irene gadis yang hebat dalam mempermainkan lelaki?

Atensi Irene kembali ke layar ponselnya yang tiba-tiba menyala. Irene membulatkan mata ketika menemukan satu pesan teratas yang muncul di layar benda elektronik itu. Dengan cepat Irene pun membuka pesan itu karena penasaran.

 

From: Pacar 6

Kau berciuman dengan 2 lelaki berbeda dalam sehari?

 

Irene terkekeh ketika membaca pesan itu. Ah, mainan baru memang kadang suka protektif, kan?

 

 

-TO BE CONTINUED-


note : tuntaratung eaaaaa, maapkeun eki karena semangat ngetik ini :”) sayang kalo gak di post kan? bukannya eki menduakan ff yang lain lo :”)

Iklan

18 pemikiran pada “TOY – [01]Who is Irene? – Shaekiran

  1. Ping balik: TOY – [05] Him – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: TOY – [04] Sleep – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping balik: TOY – [03] Chanyeol’s – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  4. Yaampun bahkan Mino jugaaaaa????><
    irene ngeri ih, cowok nya holkay smua, ga takut dkerjain ama mreka mbk?.-.
    Itu Yeolie ngikutin Irene toh?
    Nneeexxttt XD #penasaran_mode_on

  5. Ping balik: TOY – [02] Date – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  6. Tuh TBC kog cpet bnget nongolny…
    Ngomong2 pacar 6 itu siapa? CEYE kh? Atau yg laen.😟
    duhh author penasarannnn

    Next..

  7. Waduhh my baechu ku jadi gini banget yakk tapi ko mendadak jd cocok gitu sm konsep pemotretan high cute terbarunya dia yg sm seulgi dia disitu pake konsep seksi cuy. . Tapi mungkin kesimpulannya yg q tebak ntar cowok2nya makin kesini makin menipis terus yg terakhir yaa chanyeol deh

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s