[KEPING 3] Autumn Elegy: That Woman — Joongie

Autumn Elegy

Joongie © 2017

Oh Sehun || Irene Bae || Jackson Wang || Kang Seulgi

Adult, AU, Angst, Romance

Chaptered (PG17)

This is a work of fiction. This is a fictional story about fictional representations of real people. No profit was made from this work. All cast belongs to God, their parents, and their agency. But the storyline is mine. Don’t be silent reader, please.

Start Here: Teaser  => Run With Me => Stuck On Him

Summary :

Dalam perjumpaan klasik, Irene mengenal Sehun. Pria seribu luka, orang-orang menjulukinya. Namun di mata Irene, Sehun seolah memohon disembuhkan dalam kebisuannya. Dan tanpa disadari Irene malah terperangkap oleh kemisteriusan juga teka-teki soal penghuni hati Sehun, ketika hatinya diam-diam berharap jadi wanitanya Oh Sehun.

That Woman

.

One woman loves you

She loves you with all her heart

Everyday she follows you like a shadow

She is smiling but is actually crying

.

Sehun menganjakkan stabilo usai menandai istilah-istilah penting. Dia melahap buku anatomi organ serta prosedur pembedahan berkawan secangkir cappucino tanpa buih. Pemuda itu melewatkan hampir dua jam di bistro; menyesap kopi, memesan salad lalu menikmati seiris carrot cake. Dia menanggalkan kacamata, mengusap pangkal hidungnya yang berbekas dijepit nosepad sambil sedikit meregang. Matanya lelah memindai kata. Dia menyatukan tangan di bawah dagu, mengamati lalu-lalang penduduk Zurich.

Dia mendapat pemandangan jelas ke taman kota. Hari yang lumayan cerah untuk duduk di bawah pepohonan rindang. Pasangan tua yang bergandengan di bangku itu yang paling mencuri atensinya. Menyejukkan sampai ke hati, batinnya kala tersenyum tipis di sela-sela tegukan kopi. Lalu dari arah lain, sepasang remaja mengenakan hoodie dan menenteng papan seluncur asyik berbincang, tertawa lalu berlomba mengayuh papannya lebih dulu. Berbeda dari Seoul, orang-orang di sini sangat ramah. Benar-benar tersenyum dan saling menyapa.

Wendy pasti suka….

Pemikiran itu membuat senyumnya luntur, Sehun trenyuh.Dia merasakannya lagi: seorang gadis duduk di sisinya, bergelayut di lengannya, berbisik, ayo jalan-jalan berdua saja. Perlu usapan berkali-kali di dada untuk menyingkirkan perasaan tidak nyaman. Sehun memicing sebentar, mengembuskan napas perlahan sebelum mengemasi semuanya dan pergi.

Derapnya santai, Sehun menyusuri trotoar dengan pandangan yang tidak lepas dari buku di tangan. Sesekali dia akan membetulkan kacamata yang merosot, menjeda sejenak guna menyesap aroma peralihan. Dingin semakin menggigit, daun-daun menguning sementara jalanan mulai disampahi daun kering. Dia mengamati hadirnya gejala-gejala musim gugur lewat ekor matanya selagi menunggu untuk menyeberang. Musim gugur memang bukan favoritnya, tapi Sehun tahu caranya menikmati.

Sewaktu melintasi zebra cross, dia merasa ada mata yang mengawasi. Milik seorang gadis, anggun dan berwajah Korea. Pandangan mereka berjumpa, gadis itu membelalak saat keningnya justru berkerut. Irene? Sehun mencoba memastikan dengan menatapnya lebih fokus, tetapi desakan gerombolan penyeberang tidak memberinya kesempatan. Mereka berduyun-duyun, menghanyutkan Sehun dalam kerumunan kepala-kepala berambut pirang.

Lalu dia mendengar teriakan, suara yang terlalu akrab bila dilewatkan.

“OH SEHUN!”

Irene bertahan dalam posisinya, berbalik dan menatapnya dengan kalut lalu menghambur seperti kehilangan akal. Dia tidak memerhatikan lampu indikator, ceroboh berlari tanpa memperkirakan situasi. Lampu sudah berwarna hijau, mobil datang dari arah berlawanan, pengemudi telah memperingatkan dengan membunyikan klakson. Hampir saja Irene tertabrak, untungnya dia bisa menghindar tepat waktu. Tetapi di belakang mobil yang berlalu ada kendaraan lain yang melaju, tak bisa mengendalikan kemudi dan… BRUK!

Gadis itu terpelanting jatuh di atas kerasnya aspal. Bunyi berdebuk dari Irene yang menghantam aspal, kontan membuat Sehun mencampakkan segalanya dan bergegas menghampiri. Jantungnya berdetak lebih kencang, Irene tergeletak berdarah-darah nyaris tergilas ban mobil. Orang-orang mulai berkerumun, Sehun di sana memeluk Irene erat-erat.

“Kalian tidak lihat ada korban di sini? Siapa saja cepat panggilkan ambulans!” desaknya sambil membopong si gadis, panik sekaligus memohon. Lantas dengan gemetar dia menyeka kucuran darah dari robekan di dahi Irene. “Respons aku Irene. Kalau kau bisa dengar aku, gerakkan saja jarimu.”

Dan jemari yang semula terkulai di punggung Sehun mencengkeram lemah.

—o0o—


Sambil bersedekap, Sehun mengamati Irene yang terbaring di ranjang UGD. Keningnya dapat tujuh jahitan, beruntung tidak terjadi fraktur dan sisanya cuma lecet. Padahal sebelumnya dia benar-benar panik, gadis itu begitu lemah saat didekap lantaran mengeluarkan banyak darah. Sehun memerhatikan cipratan darah yang mengering dan berubah cokelat pada lengan kemeja. Refleks bersyukur tidak ada yang perlu dikhawatirkan perihal kondisi Irene.

Tidurnya nyenyak, tidak seperti menahan sakit. Sehun diliputi rasa lega, dia menyandarkan punggung pada kursi tunggu sedikit lebih rileks. Kendati dia masih bertanya-tanya, apa yang sebenarnya membawa Irene kemari? Bertemu suster cerewet dari Seoul lumayan mengejutkan. Masih segar dalam ingatan soal malam itu, Irene yang berhasil membuatnya tergerak oleh sikapnya yang hangat. Padahal dia telah memasang dinding pelindung yang membuat sebagian orang langsung menyingkir, tapi Irene menembusnya begitu saja dan itu membingungkan.

Senyum terulas di bibir Sehun.

“Apa Anda wali pasien?” sapaan itu mencuri atensinya.

Dia mengangguk, segera bangkit menghampiri perawat berseragam keunguan yang mencogok dari balik tirai hijau. “Ya, ada apa?”

“Bisa ikut saya sebentar? Anda perlu mengurus administrasi, karena pasien akan segera dipindahkan ke ruang perawatan,” terangnya santun sambil menyodorkan berkas.

“Aku akan segera ke sana.” Sehun mengamini, tetapi sebelum menyusul ke meja administrasi dia berbalik membetulkan posisi selimut Irene. Memastikan infus tidak macet, lalu memasukkan tangan Irene yang dipasangi oximeter ke dalam selimut—membungkusnya dengan sangat rapat.

Memandang Irene yang terbaring dengan kepala terkulai ke satu sisi membuatnya tersentuh karena suatu alasan. Dia menatapnya sekian detik, kemudian mengusap serta merapikan helaian-helaian rambut Irene yang sedikit berantakan.

“Kenapa ceroboh sekali, sih?” desahnya, memandang perban di dahi Irene.

—o0o—


Irene mengernyit, kelopak matanya bergetar pelan. Matanya terbuka sebentar kemudian terpejam lagi. Dia menarik napas panjang, mencoba mengerjap perlahan-lahan sembari menetralkan gradasi yang semula blur sampai terlihat jelas. Plafon, putih dan terang ditancapi lampu yang cahayanya menyengat. Pandangannya bergeser pada siku yang terasa nyeri, pindah ke punggung tangan yang dipasangi infus. Benaknya dikerubungi pertanyaan: bagaimana dia bisa sampai di tempat ini? Segera setelahnya, Irene ingat kalau dia berusaha mengejar Sehun saat tiba-tiba dia merasa dihantam dengan keras hingga semua jadi samar-samar.

Kejadian itu berlangsung cepat, terkesan bagai mimpi yang sial.

Yang terakhir diingatnya adalah wajah Sehun. Menatapnya cemas, memanggil-manggil namanya dengan sangat dekat sebelum hilang kesadaran. Irene sontak melongok ke sekeliling. Dia sendirian. Secepat itu dia kecewa, semua bayangan tentang Sehun lagi-lagi cuma ilusi. Tepat ketika Irene mencoba duduk dengan kedua tangan menarik pembatas ranjang kuat-kuat, dia mendengar suara pintu terbuka. Sambil mengedip tidak yakin, dia menyangka matanya melihat sesuatu yang tidak ada—halusinasi lanjutan karena gegar otak.

Sehun. Laki-laki itu muncul, merapatkan pintu juga balik menatapnya. Napas Irene tertahan, memerhatikan Sehun bergegas menyisipkan lengan ke punggungnya lantas memandunya bersandar ke bantal. Irene tidak bisa melepaskan pandangannya, bahkan ketika Sehun mengibas-ngibaskan tangan persis di mukanya.

“Bagaimana keadaanmu?” tanya Sehun seraya meletakkan gaun serta mantel Irene—yang didapat dari meja perawat—ke nakas. “Gaun dan korsetmu terpaksa dirobek, karena kau mengalami gejala sesak napas dan mantelmu… kurasa tidak bisa digunakan lagi. Aku tidak yakin noda darah sebanyak itu bisa dihilangkan.”

Irene masih diam, bibirnya berkali-kali terbuka namun urung membentuk kalimat.

“Jangan salah paham. Bukan aku yang mengganti pakaianmu. Aku dapat itu dari perawat,” jelasnya sambil menggoyang-goyangkan tangan. Dia rikuh lantaran menurutnya Irene memandangnya sebagai pria mesum.

“Hun…,” imbau Irene parau. Lalu tahu-tahu air matanya meledak seiring perasaan yang mengharu biru, campur aduk antara marah juga lega. “Ke mana saja kau selama ini? Aku mencarimu, berpikir kalau kau ditangkap dan dihabisi algojo-algojo malam itu. Aku sampai mengira kau terlibat dengan Yakuza, tapi ternyata kau di sini. Baik-baik saja dan aku… aku sangat bersyukur.”

Irene berhenti untuk bernapas, bicaranya terlalu cepat sehingga rusuknya nyeri. Sehun mendengar napas Irene yang pendek dan sesak. Secara refleks dia membawa Irene dalam pelukan, mengusap-usap puncak kepalanya sembari berkata, “Bicara apa, sih? Khawatirkan dulu kepalamu, bukannya aku. Tenang dan bernapas pelan-pelan, biar nyerinya berangsur hilang.”

Tangis Irene mereda, tersisa cegukan-cegukan yang membuat badannya agak berguncang. Dia menyerap hangat tubuh Sehun, mendengar degup jantung mereka yang susul-menyusul dari balik dada yang bidang. Tubuhnya ikut bereaksi, menggelenyar. Hatinya menghangat. Lengannya lantas mengunci punggung Sehun sewaktu jemari pemuda itu bergerak, mengusap dahinya dengan hati-hati.

“Bagaimana ini? Sepertinya akan berbekas.” Sehun menyibak poni Irene, berdecak miris sambil bergumam, “Kuharap tidak sesakit seperti kelihatannya.”

Irene sudah mewanti diri bahwa situasi ini tidak pantas, tapi juga tidak bisa menampik kalau dia menyukai perhatian Sehun. Reaksi yang konyol dan bersifat emosional.

—o0o—


Ruangan itu hening selepas perawat yang menginjeksi antibiotik serta pereda nyeri pada selang infus Irene, menghilang dari balik pintu. Sehun berbaring di sofa tunggu setelah menawarkan untuk menungguinya malam ini. Bukannya tidak berniat mengabari Leslie, tapi ponselnya sudah nyaris seperti kerupuk dan lagi ini malam pengantin mereka. Tidak etis mengacaukannya dengan bilang: lupakan suamimu, datanglah ke rumah sakit dan rawat aku. Irene mendesah keras sampai Sehun ikut-ikutan melirik dan mengerutkan kening.

“Kenapa? Sakitnya mengentak?” Sehun cepat-cepat menegakkan badan, mengamati gerak-gerik Irene dengan serius. Dia paham betul kalau memar karena kecelakaan biasanya akan menyiksa pada malam hari.

Irene menggeleng, meyakinkan Sehun agar tak beranjak. “Aku cuma sedang memikirkan sesuatu saja. Yang sangat-sangat mengherankan.”

“Memikirkan apa?”

“Rasanya seperti bertemu dengan Oh Sehun dari dunia paralel. Beda sekali dari yang kutemui dulu, perkembanganmu pesat dan aku hampir tidak percaya mataku sendiri. Lebih banyak bicara dan memperlakukanku seperti teman, benar-benar seperti orang lain—bukannya tidak bagus, aku cuma tercengang.”

Sambil merebah menghadap Irene, Sehun merespons, “Begitukah?”

Irene mengiakan, “Apa semuanya berjalan baik?”

Sehun baru akan bersuara, ketika tiba-tiba Irene mengangkat tangan lantas memotong dengan bergurau, “Tolong jangan jawab apa pedulimu, lagi.”

“Seperti yang kau lihat sendiri,” kata Sehun, tersenyum lepas. Dia menatap langit-langit, menyatukan tangan menyangga kepala lalu menyambung, “Kau juga kelihatan semakin kurus saja. Apa saking sibuknya jadi perawat sampai tidak sempat makan nasi?”

“Anggap saja begitu.” Irene meringis, menyusut masuk ke selimutnya lebih dalam.

“Hun….”

“Aku….”

Keduanya bicara berbarengan, saling memandang mengisyaratkan supaya bicara lebih dulu. Sebelah alis Irene terjungkit mempersilakan, memaksa Sehun memulai, “Kenapa kau menyeberang dengan sembrono begitu, sih?”

“Kalau kukatakan alasannya kau pasti tidak percaya.” Irene menggigit bibir bawahnya, menolak menatap mata Sehun. Dalam selimut dia mencungkil-cungkil kutikula kuku—kebiasaan saat gugup.

Sehun mengangguk, mengamati Irene. “Tadi mau bilang apa?”

Suara Sehun menggema semakin jauh. Irene mengerjap beberapa kali, kelopak matanya mendadak saja terasa berat dan pandangannya berkunang-kunang. Disambung kuap yang tidak tertahankan saat kepalanya ikut terasa berat, dia dibuai kantuk. Obatnya mulai bekerja, Irene bisa tahu dari sensasi kebas yang menggelenyar di sekitar luka jahitan.

Irene melirik jam dinding—tepat pukul dua belas—lalu beralih kepada Sehun yang balik menatap matanya yang nyaris terpejam. Dia menarik napas panjang, penglihatannya semakin buram. “Hun… bisa kita bertemu lagi? Ada yang mau kuberikan pada….”

Dan Irene gagal bertahan, tenggelam dalam kubangan mimpi. Dia menyusuri istana yang pilar-pilarnya berenang dalam genangan cahaya sendu rembulan. Orang-orang berkumpul di aula kerajaan, mengenakan gaun-gaun mahal serta setelan necis dan wajah mereka ditutupi topeng pesta. Berbincang, merayu, menikmati wine atau sekadar berbasa-basi sebelum dansa dimulai.

Kemunculan sosok pemuda berkostum pangeran meraup atensi seisi aula. Menebar senyum menawan seraya berderap menghampiri Irene. Manik matanya yang serupa aswad bergulir menelanjangi Irene di bawah tatapannya yang kian intim. Dalam dirinya. Dalam hatinya. Dia berharap bahwa lelaki yang menanti tangannya disambut itu adalah Sehun.

Dengan keyakinan sedemikian besar, Irene meraih tangan yang terulur. Jemari hangat itu melingkar di pinggulnya sewaktu tubuh mereka berayun, berputar beberapa kali juga berbagi irama napas yang sama. Ada celah di antara mimpi dan kenyataan, biasa disebut harapan. Pada momen ini Irene berharap bisa menumpahkan isi hati serta pemikirannya sebebas-bebasnya. Melalui tatapan mata. Melalui kontak fisik tanpa jeda.

Teng!

Jam besar yang terpasang angkuh di menara istana berdentang keras. Jarak bibir mereka kurang dari seinci sewaktu Sehun menoleh dan mimiknya berubah panik. Irene hafal kisah klasik ini, waktu telah berakhir untuknya. Sihir akan segera sirna, sehingga Sehun bergegas melarikan diri. Irene menyusul di belakang, tergopoh-gopoh disulitkan petticoat dalam gaun yang membuat langkahnya tidak efisien.

Terjebak di tengah labirin, Irene memandang berkeliling. Mencari sosok yang paling ingin ditangkap matanya. Sia-sia, sedetail apa pun matanya menyisir sekitar, cuma semilir angin yang bergantian lewat. Perasaan letih itu kembali datang, dia termenung menyedihkan memandang ponsel yang tertelungkup di tanah. Berpikir soal Hunrella yang menghilang tepat tengah malam, pergi begitu saja setelah meninggalkan sesuatu. Kendati demikian, Irene tidak serta merta jadi Princess Charming dalam dongeng ini. Sebab Sehun cuma meninggalkan ponselnya, bukan hatinya.

—o0o—


“YA TUHAN, IRENE!”

Dia tidak kuasa meredam jerit histeris Leslie saat mencogok di ambang pintu dalam kondisi—nyaris—babak belur. Irene sudah coba mengatakan kalau lukanya tidak separah itu sampai Leslie perlu memperlakukannya seperti bayi besar. Perempuan berambut gelap dan bermata biru itu memapahnya mendaki tangga, juga menuntunnya berbaring ke ranjang.

“Kau berhutang penjelasan padaku, Nona,” tandasnya, tegak bersedekap memulai interogasi. “Aku coba menghubungimu seharian kemarin, tapi nomormu tidak aktif. Dan sekarang kau pulang dengan keadaan begini.”

Um, yah….” Irene mengeluarkan ponsel dari saku; baterainya terbelah dua dan retakan di layarnya mirip jaring laba-laba. Tanpa dipaparkan pun sangat jelas alasannya.

Mata Leslie terbeliak, sebelah tangannya membekap mulut lantaran syok. “Demi Tuhan, bajingan mana yang membuatmu jadi begini? Katakan, biar kubuat kepalanya jadi kaki,” kecamnya, meraih dagu Irene, memerhatikan tiap goresan yang masih memerah.

“Sudahlah. Ini murni salahku,” terang Irene, menganjakkan tangan Leslie. Dia menanggalkan mantel, berhati-hati agar tak menyenggol memar di siku. “Lagi pula, aku diselamatkan tepat waktu olehnya. Rasanya jadi tidak seburuk itu.”

“Siapa?” Leslie menatap sangsi pada rona ganjil sang sahabat.

“Orang yang menungguiku semalaman, juga membelikan pakaian baru.” Irene sedikit mengedikkan bahu, memamerkan sweter rajut berwarna moka pemberian Sehun. “Susah untuk dijelaskan, yang penting aku sudah jauh lebih baik.”

Okay, whatever.” Leslie memutar bola mata, jengah oleh perangai Irene. “Tapi tetap saja kau penuh luka, Ire—”

Um, Leslie… apa pendapatmu soal wanita kedua?” potong Irene, disuarakan dengan gundah sembari mengusap plester yang melekat di punggung tangan. Kepalanya tertunduk sampai dagunya hampir menyentuh dada.

“Wanita kedua? Maksudmu si Jalang yang kerjanya merebut kekasih orang?” Respons Leslie sungguh heboh, intonasinya naik dua oktaf—geram teringat bila David pernah hampir dipikat wanita penggoda. “Spesies Jalang seperti mereka harusnya dibinasakan. Kalau sampai aku bertemu salah seorang dari mereka—ugh, akan kugunduli kepalanya dan pastikan tidak sehelai pun rambut akan tumbuh kembali. Bahkan semua itu masih tidak sebanding dengan sakit hati perempuan yang direbut kekasihnya.”

Napas Irene spontan tertahan, jantungnya bak mencelus. Ketidaktenangan mencengkeram dadanya dari dalam, sesuatu mendesak ingin dimuntahkan, “Bagaimana, ya? Kupikir aku sudah hilang akal, sampai bersedia mengorbankan harga diri dan berharap jadi wanita kedua baginya. Apa yang harus kulakukan, Leslie?”

Dia menggosok matanya secara cepat, sadar bila itu mulai berair. Irene mengeluarkan suara tawa yang dibuat-buat, sementara kata-katanya mengambang dalam kepekatan suasana di antara mereka. Ekspresi yang terpancar di wajahnya mendorong Leslie duduk di tepi ranjang, mengusap lengannya lalu membawanya dalam pelukan.

Dear, I’m sorry. Tidak seharusnya aku bicara begitu,” sesal Leslie, “Apa dia pria tempo hari yang kauceritakan? Bagaimana mungkin dia ada di sini?”

No, it’s okay. Don’t tell me you’re sorry.” Irene menggosok mata, enggan membiarkan Leslie mendengarnya menangis. Dia berusaha mati-matian mencegah suaranya bergetar. “Kami cuma terlibat takdir yang tidak terelakkan. Dan cuma aku yang terlalu terbawa perasaan. Seandainya ibu masih ada, mungkin aku sudah dihajar.”

“Tumpahkan saja semua padaku,” pinta Leslie lepas pelukan berakhir. Dia meremas tangan Irene, memperlihatkan sikap siap jadi pendengar. “Kita sudah janji untuk berbagi semuanya, ingat?”

Irene menggeleng, tersenyum meyakinkan kalau dia baik-baik saja. “Penerbanganmu malam ini, ‘kan? Kenapa masih berleha-leha, sih? Sudah sana kemasi barang-barang kalian, sebentar lagi David pasti akan kembali dari swalayan.”

“Tapi, aku—”

“Aku bisa mengurus diri sendiri, kok.” Irene bangkit, menarik lengan Leslie dan menyeretnya ke arah pintu. “Aku tahu kalian sudah menyiapkan ini dari jauh-jauh hari. Tolong jangan biarkan aku jadi pengacau. Pergilah, Bali pasti sudah menanti kalian dengan iklim tropis.”

“Dan jangan lupa, kenakan bikini yang kubelikan untukmu. Menurut pegawainya, model jaring-jaring paling tokcer untuk merangsang laki-laki,” bisik Irene menggoda dengan menjalankan jari di pundaknya, membuat Leslie bergidik kegelian.

Tapi sekon kemudian, kepala Leslie kembali menyembul dari celah pintu. “Kau yakin semua akan aman?” Keningnya berkerut, keraguan terpatri jelas.

Irene berdecak keras, mengusir Leslie menuruni tangga. “Sudah sana, cepat siap-siap! Pulang nanti jangan lupa oleh-olehi aku testpack dua garis!” serunya sambil berkacak pinggang. “Oh ya, soal keamanan rumah ini percayakan saja padaku. Selama Irene ada di sini, kecoa pun akan segan.”

Mereka terkekeh-kekeh.

Dia mendengar derap Leslie menuruni tangga, waktu bagi keceriaan imitatif disudahi. Tubuhnya mendarat di ranjang, sementara tangannya menggapai laci, meraba-raba letak ponsel Sehun yang agak tersuruk. Irene kemudian mengangkatnya di atas kepala, memandang refleksi wajahnya pada layar ponsel. Dia teringat perlakuan lembut Sehun saat di rumah sakit, jemarinya refleks menyentuh dahi.

Sebenarnya orang seperti apa Sehun? Dari insecure mendadak jadi pria paling welcome. Perasaan hangat segera datang bersamaan dengan gelombang ingatan manis malam itu. Oh tidak, jangan lagi. Harapan terkutuk harusnya segera dienyahkan, sebelum berkembang bak jamur di musim penghujan. Kenyataan harus ditegakkan dan akal sehat mesti dijalankan.

Sehun punya orang lain. Yang dirasakan Irene bukan cinta, melainkan perasaan ingin tahu yang salah ditafsirkan. Kesimpulan paling masuk akal untuk sementara waktu.

—o0o—


Langkah-langkah yang lebar menghasilkan bunyi entakan keras dari tapak sepatu, berakhir tepat di belakang punggung Irene. Dia menoleh, menemukan Sehun terbungkuk memegang lutut, terengah-engah dengan peluh berjatuhan dari pelipis. Irene mengernyit, spontan berdiri menawarkan bantuan. Tapi Sehun mengisyaratkan bila dirinya masih bisa mengatasi semuanya sendiri, walau butuh waktu agar paru-parunya bisa bekerja normal.

“Maaf, aku—sangat, sangat—terlambat,” katanya susah payah, berjuang bicara melalui napas yang pendek-pendek, “Kau… pasti sudah menunggu lama, ‘kan?”

Um, tidak juga. Aku juga baru sampai,” Irene berdalih, menelengkan kepala sambil mengangkat bahu—baru yang dimaksud adalah dua jam sepuluh menit dan tujuh detik penantian. “Aku mengerti kalau kau sibuk.”

Sehun buru-buru menampik, “Tidak, bukan begitu. Aku lembur semalaman, ketiduran dan saat bangun tahu-tahu sudah senja. Sudah pasang alarm, tapi begitulah. Dalam kondisi tertentu, kadang teknologi tidak benar-benar membantu.”

Irene mengulum senyum, ini pertama kalinya dia dengar Sehun bicara secepat dan sesemangat itu. Lucu. Lalu sambil mengulurkan sapu tangan dia berujar, “Mungkin kau butuh ini. Omong-omong, kau pasti belum makan, ‘kan?”

“Sepertinya belum,” sahutnya, menyeka keringat seraya menengok berkeliling. “Bagaimana dengan bistro Asia yang baru buka di simpang taman kota?”

Dehaman Irene menyetujui.

Sehun bertopang dagu, menyaksikan tingkah konyol Irene yang sibuk menyingkirkan potongan-potongan kecil wortel dalam gyoza. Usai menyeruput iced vanilla latte, dia mencari tahu, “Apa wortel semengerikan itu bagimu? Pantas saja kurus begitu, rupanya kau tipe orang yang suka pilih-pilih makanan.”

Irene menyeringai, selesai dengan gyoza yang jadi tak keruan bentuknya. “Buatku, iya. Sebenarnya agak memalukan kalau diceritakan. Dulu sekali waktu aku masih kecil, ibuku menyuap paksa sesendok penuh wortel sampai aku tersedak dan ada potongan wortel yang masuk ke hidung hingga aku sesak napas. Sejak itu hubunganku dengan wortel semakin tidak baik.”

Tawa Sehun pecah, dia terkikik menutupi mulut dengan punggung tangan. Lagi-lagi pemuda itu menampilkan sesuatu yang tidak pernah dilihat Irene. Dia merasakan kehangatan baru, menjalari meja bundar yang memisahkan mereka untuk duduk berhadapan. Irene memasukkan sepotong besar gyoza ke mulut, berkonsentrasi mencerna pangsit gurih sekaligus menenangkan keterpanaannya. Matanya mengamati Sehun menjepit sedotan di antara bibir yang terkesan kenyal dan halus, rahangnya tergaris tegas, jakunnya turun naik. Maskulin.

“Dan kau sendiri, kenapa pesan vanilla latte bukannya ocha atau robusta? Kupikir pria cenderung tidak suka sesuatu yang manis seperti vanilla, karena kebanyakan temanku lebih sering pesan Americano,” tutur Irene, menghanyutkan pikiran merayu bersama gelombang keingintahuan.

“Bukan berarti vanilla diharamkan bagi pria, ‘kan?” Sehun menaikkan sebelah alis.

“Wow,” sahut Irene. “Kau membuatku kehabisan kata-kata.”

Sehun tersenyum mafhum, kemudian sembari menyatukan tangan di depan mulut dia menuju inti, “Jadi, apa yang sebenarnya ingin kaukatakan atau kauberikan padaku hari ini? Kalau itu ucapan terima kasih, sebaiknya tidak perlu.”

Irene berhenti makan, menyilangkan sumpit di piring lantas merogoh tas kertas di bawah meja. Dia menyodorkan ponsel Sehun, membuat laki-laki itu terbengong beberapa saat. Tidak percaya kalau Irene masih saja menyimpan ponselnya selama ini. Sementara Irene mempelajari reaksi Sehun, ponsel itu disentuhnya dan ada sedikit sorot geli dalam matanya.

“Kau masih menyimpannya?” cuapnya, masih dilanda ketidakpercayaan.

“Mungkin itu tidak berarti bagimu, tapi menurutku dia menunggu untuk dikembalikan. Ponselmu masih berfungsi dengan baik, sebelum ke sini aku mengisi ulang dayanya. Kalau mau periksa datamu juga silakan,” papar Irene, menatap tidak pasti dari kursinya yang seakan-akan terperosok semakin dalam.

Setelah ini, tidak akan ada alasan baginya untuk menemui Sehun.

Sehun sendiri tampak cuek, berfokus pada layar ponsel yang mengeluarkan irama tik-tik-tik sewaktu jempolnya bergoyang lincah di atasnya. Ponsel itu berbunyi, lanjut diserahkan kepada Irene dan Sehun mengisyaratkan agar panggilan lekas dijawab.

“Simpan kontakku jadi nomor satu,” kelakarnya, ikut menempelkan ponsel ke telinga sambil menyorot Irene dengan pandangan jenaka. “Datanya sudah kuformat, nomornya juga sudah kudaftarkan dengan namamu. Kurasa kau lebih memerlukannya, ponselmu setengah hancur.”

Senyuman serta suaranya yang tenang tidak mampu dielak, hati Irene berdesir. Sejenak amnesia menyerangnya, dia lupa pakem berbahasa. Bak tersihir  di sana, diam mematut Sehun sebagaimana wanita yang diluluhkan.

Jadi, apa tujuanmu memperlakukanku sehangat ini?

.

How much more, just how much more

Must I gaze at you like this alone

.

To be continued…


Dasar cinta terpendam, suka bikin remuk redam. Cih, baper atuh ah :’C

Dear kesayanganku, I know kalau beberapa dari kalian bingung akan cerita ini. Aku peka kok peka pake banget. Jadi gini—bukan spoiler loh ya—setting di cerita ini ada tiga lokasi, Seoul (Korea Selatan), Hamburg (Jerman) dan Zurich (Swiss). Seperti di teaser itu Rumah Sakit Hamburg, Seoul yang mulai nunjukin sekelumit permasalahannya Irene, dan Zurich yang jadi pembuka segalanya. Jadi tiap latar itu punya cerita sendiri, bukan sekedar asal kupilih biar keren aja. No, honey, no 😗

Kedua, ada yang bingung dan nanya gini, “Lah di teaser nyebut-nyebut Wendy. Kok sekarang jadi Seulgi yang ikut-ikutan, sih? Trus Irene fungsinya apaan? Wendy tuh kemana sih?” Wahai cintaku, ketahuilah kalau semua konflik dibuka dalam sekali duduk maka berubahlah cerita ini jadi oneshot. 😂😂😂😂

Ketiga, “Mereka kan pernah ketemu pas Sehun bangun dari koma, kok pada ga saling kenal?” Nah ini nih, ada eng ing eng dong masa iya bisa begitu tanpa alasan buahaha. Sekilas semuanya ringan, tapi percayalah bakal ada waktunya kita bedah semuanya. Sebab teaser ga menggambarkan seluruh cerita, itu cuma potongan. Step by step, darling 😘

Keempat, aku cinta kalian. Istirahat yang cukup & jaga kesehatan! ❤ #plak

Hmmz, key kubaper. OOT pula astogeh Ra Im x Joo Won :’C

 

Buat yang sudah baca sempatkan ninggalin feedback ya, luv luv luv ❤

XOXO,

Joongie

Iklan

30 pemikiran pada “[KEPING 3] Autumn Elegy: That Woman — Joongie

  1. Huhuhu itu leslie nya bawel banget😭 sehun kenapa…. kenapa kamu berubah sebegitu lucunya😭 AAAH AKU BERASA JADI IRENE PAS BACA INI😭 IYA IYA AKU TAU INI OVERACT😭 maaf ya aku baru banget baca bener bener baru baca;( kamu kapan update lagi;( aku kangen fanfictnya ekekekek kangen kamu juga loh /plak/ maafin ya ini panjang tapi gak guna comment nya;( yaudah gitu aja;(

  2. Sehun kenapa coba siapa juga yang ngga baper kalo digituin
    Irene aja baper apalagi gue wkwkw
    #fansmulainggasadardiri
    Makin penasaran sama ceritanya
    Ditunggu kelanjutannya^^

  3. Setelah baca penjelasan pertama kedua ketiga keempat authornya jadi makin penasarannn😭😭
    Ditunggu chapter selanjutnyaa^^

  4. Ini nih yang di tunggu dari jaman kapan coba kak wkwk. gaya bahasa nya terbaik deee emang, satu dari kesekian favoritku💕
    mungkin banyak yang sulit nge pahamin gaya bahasa kek gini, saranku lebih diperjelas ajaa ka, satu paragraf harus bener2 saling berhubungan biar kitanya juga paham sama yg dia lakuin. Dan hal2 lain yang pasti sudah dicantumin di note yang terakhir.
    힘내!!

  5. Kereen,,,alurnya gk ketebak,penggambaran tokoh dan latar nya juga jelas,bahasanya rapi enak dibaca,,fighting thor,,maaf baru muncul komen di part ini soal bacanya ngebut karena kepo 😄,,ditunggu sangat😁

  6. langsung melting sama kelakuan sehun, dan masih penasaran sama sosok seulgi, plis dia bukan apa apanya sehun kan kan kan

  7. Ku tercengang sehun, serius.
    Kenapa dirimu tak lagi dingin hun? Kenapa jadi baik sekali dan makin buat hati Irene dan eki/plakk/ meleleh?? :’)
    Yaps, pas banget kak, kalo dikupas semua cepat” jadi oneshot ntaran, wkwkwk. Pelan” tapi pasti aja kak, eki tunggu next chapter bapernya/plakk/😂
    Hwaiting kak ikke.. 😆😆😍

  8. Gitu dong hun, gak usah cuek bebek gak jelas sama Irene. Sana liat Irene pemotretan High Cut bareng Seulgi, nose-bleeding kamu bang 😵 gak pengen lepasin mata dari wajah cantik mbak Irene.

    Btw, kak Keke ini hanya aku atau memang chapter ini lumayan panjang? 😏 Dan aku suka itu 😍😍

    Duh, ngeliat Irene gitu kayak ngerasa dia lagi nyanyi lagu twice yang Signal

    “Trying to let you know, Sign bone signal bone~~”

    Ku kepo sekali apasih yang sudah terjadi diantara mereka semwaa, ini masih misteri dan ku pengen selidiki 😏😏 /eleh sok detektif awak/ pengen tahu siapa itu Wendy, Seulgi dan kenapa Sehun sama Irene sempat saling lupa begini 😆

    Semangat terus kak keke, tingling tingling /ala twice/ kutunggu selalu update-an Autumn Elegy tersayang ini 💕💕 nan joahe, really really~

    • Hhhmmm Irene ama Seulgi hmmm trigger ini wkwkwk 😂😂
      Tydaaa dong emang lebih panjang yang ini soalnya sekalian aja kkk
      Ciyeeee pensnya twice xD

      Hehe nanti kita kupas satu” dan aku sangat menantikan celotehan eh maksudnya komenanku yang comeeeeeel ini muaaah 😘

    • Iya kak aku sampe geraahh ngeliat clip-nya, huh lipstick merah di musim panas 😀

      Tiap chapter gituu terus yee, panjang teruss biar daku baper terusss ><

      wkwkw, enggak kok kak, cuma suka lagu mereka aja, hatiku hanya untuk Red Velvet ❤

      Yok kupas satu-satu, butuh bantuan tyda ini? :V Celotehan eeaaa :V

  9. ngikutin alur yg authornya tulis ajalah .. hehe ga mau cape cape mikir buat mecahin masalah masalah di cerita ini ..
    cha .. sing penting irene sehun bersatu ..
    next lanjutannya ditunggu ..

  10. Dasar cinta terpendam, suka bikin remuk redam. Cih, baper atuh ah :’C

    TRUE STORY!!! 😭😭😭😭
    Huhuhuhu btw I’m so touched.

    Kaka ini cerita inspiring too much!

    Boleh aku minta id line/medsos kaka?
    I want to know you more, dear Author ☺😂

    • Wkwkwk kamu korban cinta terpendam ya :v
      Thank you kalau kamu anggap begitu, membuatku tersanjung kkk
      Bole bole, aku cuma aktif di line : masoniemoo
      Please feel free to contact me at anytime 😄😄😄

  11. ahhh ternyata cukup rumit, irene masih dengan perasaannya, dan sehun masih misteri :v

    maksud irene jadi yang kedua, berarti yang pertamanya itu wendy atau seulgi?

    suka banget sama bahasa yang digunain di ff ini, bikin mikir :v

    endingnya hunrene ya please…..

  12. Berharap Sehun akhirnya bakal sama Irene. Soal masa lalu Sehun, berharap banget cuma masa lalu dan gk akan ngerecokin masa kini dan masa depan Sehun.

  13. Akhirnya fanfic ini update. Aku seneng banget, ni ff aku tunggu2, ya Lord TT

    Aku bacanya sampe pelan2 loh, karna ga mau nemu kata TBC cepet2. Omg~ thank you author.

  14. Gue harap mereka yg sehun sebut hanya bagian dari masa lalu.
    Gue juga berharap flashback akan ada stelah kbahagiaan irene datang.
    Masih mnunggu kmna crita ini bakal bner2 berlabuh.
    Gue suka dan liat kesini tiap hri tunggu update lu.
    Suka sama ff ini. Dn gue oikir email gue error krna gk ada notif dari sini
    Ttp sehat. Dan ditunggu update scepat mgkin. Gk maksa juga ☺😊

    • Hehe thank you, aku jadi terhura ini loh 😘
      Iya masing” dari mereka berhak bahagia but, ga mungkin semua semulus itu kalo dua”nya masih terikat masa lalu
      Diusahakan secepatnya ><

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s